• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Landasan Teori

3. Self Efficacy

a. Pengertian Self Efficacy

Menurut Bandura (2000) dalam Dian Rizki Novian (2016) mendefinisikan

self efficacy adalah rasa kepercayaan seseorang bahwa ia dapat menunjukan

perilaku yang dituntut dalam suatu situasi yang spesifik. Self efficacy lebih mengarah pada penilaian individu akan kemampuannya. Pentingnya self efficacy akan berpengaruh pada usaha yang diperlukan dan pada akhirnya terlihat dari performance kerja.

Self efficacy menurut Santrock JW, (2017) adalah kepercayaan seseorang atas kemampuannya dalam menguasai situasi dan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan.

Self efficacy menurut Risky (2015) dalam Yannik Ariyati, Lelys (2018) mendefinisikan self efficacy adalah kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuan yang dimilikinya,hinga orang tersebut dapat memotivasi dirinya

22

sendiri untuk melakukan tugasnya, mencapai tujuan dan yakin bahwa dirinya dapat melakukan tugas yang sulit sekalipun.

Sementara itu pendapat Baron, R, A. Dan Byrne, D. E (2004) menyatakan self efficacy sebagai evaluasi seseorang mengenai kemampuan atau kompetisi diri untuk melakukan suatu tugas, mencapai tujuan, danmengatasi hambatan.

Berdasarkan beberapa uraian di atas yang dikemukakan oleh para ahli, dapat di Tarik suatu kesimpulan bahwa self efficacy adalah keyakinan seorang karyawan mengenai sejauh mana ia mampu mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan merencanakan tindakan untuk mencapai suatu goal.

b. Faktor faktor yang mempengaruhi self efficacy

Menurut bandura dalam jess feist dan feist, (2010:213-215) self efficacy dapat di tubuhkan dan dipelajari melalui empat hal, yaitu:

1. Pengalaman Menguasai Sesuatu

Pengalaman menguasai sesuatu yaitu performa masa lalu. Secara umum performa yang berhasil akan menaikan Self Efficacyindividu, sedangkan pengalaman pada kegagalan akan menurunkan. Setelah self efficacykuat dan berkembang melalui serangkai keberhasilan, dampak negative dari kegagalan yang umum akan terkurangi secara sendirinya. Bahkan kegagalan-kegagalan tersebut dapat diatasi dengan memperkuat motivasi diri apabila seseorang menemukan hambatan yang tersulit melalui usaha yeng terus menerus.

23

2. Modeling Social

Pengamatan terhadap kebersihan orang lain dengan kemampuanyang sebanding dalam mengerjakan suatu tugas akan menigkatkan self efficacy individu dalam menegerjakan tugas yang sama. Begitu pula sebaliknya, pengamatan terhadap kegagalan orang lain akan menurunkan penilaian individu mengenai kemampuannya dan individu akan mengurangi usaha yang dilakukannya.

3. Persuasi Social

Individu diarahkan berdasarkan saran, nasihat, dan bimbingan sehingga dapat meningkatkan keyakinannya tentang kemampuan-kemampuan yang dimiliki dapat membantu tercapainya tujuan yang diinginkan. Individu yang diyakini secara verbal cenderung akan berusaha akan lebih keras untuk besar, dikarenakan tidak memberikan pengalaman yang dapat langsung dialami atau menurunkan kapasitas pengaruh sugesti dan lenyap disaat mengalami kegagalan yang tidak menyenangkan.

4. Kondisi Fisik Dan Emosional

Emosi yang kuat biasanya akan mengurangi performa, saat seseorang mengalami ketakutan yang kuat, kecemasan akut, atau tingkat stress yang tinggi, kemungkinan akan mempunyai ekspektasi effikasi yang rendah.

Bandura (1997) Tinggi rendahnya Self Efficacy seseorang dalam tiap tugas sangat bervariasi.Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang berpengaruh dalam mempersepsikan kemampuan diriindividu. Ada beberapa yang mempengaruhi Efikasi Diri, antara lain:

24

1. Budaya

Budaya mempengaruhi self efficacymelalui nilai (velue), kepercayaan (beliefs), dan proses pengaturan diri (self-regulation process) yang berfungsi sebagai sumber penilaian self efficacy dan juga sebagai konsekuensi dari keyakinan akanself efficacy.

2. Jenis kelamin

Perbedaan gender juga berpengaruh terhadap self efficacy.Hal ini dapat di lihat dari penelitian bandura (1997) yang menyatakan bahwa wanita efikasinya lebih tinggi dalam mengelola perannya. Wanita yang memiliki peran selain sebagai ibu rumah tangga, juga sebagai wanita karir akan memiliki self

efficacy yang tinggi dibandingkan dengan pria yang bekerja.

3. Sifat dan tugas yang dihadapi

Derajat kompleksitas dari kesulitan tugas yang dihadapi oleh individu akan mempengaruhi penilaian individu tersebut terhadapkemampuan dirinya sendiri semakin kompleks suatu tugas yang dihadapi oleh individu maka akan semaki rendah individu tersebut menilai kemampuannya. Sebaliknya, jika individu dihadapkan pada tugas yang mudah dan sederhana maka akan semakin tinggi individu tersebut menilai kemampuannya.

4. Insentif eksternal

Faktor lain yang mempengaruhi self efficacy individu adalah insentif yang diperolehnya. Dandura menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat meningkatkan self efficacy adalah competent contingens incentive, yaitu

25

insentif yang diberikan oleh orang lain yang merefleksikan keberhasilan seseorang.

5. Status atau peran individu dalam lingkungan

Individu yang memiliki status lebih tinggi akan memperbolehkan derajat control yang lebih besar sehingga self efficacy yang dimilikinya juga tinggi. Sedangkan individu yang memiliki status yang lebih rendah akan memiliki kontrol yang lebih kecil sehingga self efficacy yang dimilikinya juga rendah. 6. Informasi tentang kemampuan diri

Individu akan memiliki self efficacy tinggi, jika ia memperoleh informasi positif mengenai dirinya, sementara individu akan memiliki self efficacy yang rendah, jika ia memperoleh informasi negative mengenai dirinya.

c. Fungsi self efficacy

Effikasi diri yang telah terbentuk akan mempengaruhi dan memberikan fungsi pada aktifasi individu. Bandura (1994:4-7) menjelaskan tentang pengaruh dan fungsi tersebut, yaitu:

1. Fungsi kognitif

Bandura menyebutkan bahwapengaruh effikasi diri pada proses kognitif seseorang sangat bervariasi. Pertama, efikasi diri yang kuat akan mempengaruhi tujuan pribadinya. Semakin kuat efikasi diri, semakin tinggi tujuan yang ditetapkan leh individu bagi dirinya sendiri dan yang memperkuat adalah komitmen individu terhadapncana dan berkomitmen pada dirinya untuk mencapai tujuan tersebut. Individu dengan efikasi diri yang kuat akan mempunyai cita-cita yang tinggi, mengatur rencana dan berkomitmen pada

26

dirinya untuk mencapai tujuan tersebut. Kedua, individu dengan efikasi diri yang kuat akan mempengaruhi bagai mana individu tersebut menyiapkan langkah-langkah antisipasi bila usahanya yang pertama gagal dilakukan. 2. Fungsi motivasi

Efikasi diri memainkan peranan penting dalam pengaturan motivasi diri sebagian besar motivasi manusia dibangkitkan secara kognitif. Individu memotifasi dirinya sendiri dan menurunkan tindakan-tindakannya dengan mengunakan pemikiran-pemikiran tentang masa depan sehingga individu tersebut akan membentuk kepercayaan mengenai apa yang dapat dirinya lakukan. Individu juga akan mengantisipasi hasil-hasil dari tindakan-tindakan yang prospektif, menciptakan tujuan bagi dirinya sendiri dan merencanakan bagian dari tindakan-tindakan untuk merealisasikan masa depan yang berharga. Efikasi diri mendukung motivasi dalam berbagai cara dan menentukan tujuan-tujuan yang diciptakan individu bagi dirinya sendiri dengan seberapa besar ketahanan individu terhadap kegagalan. Ketika menghadapi kesulitan dan kegagalan, individu yang mempunyai keraguan diri terhadap kemampuan dirinya akan lebih cepat dalam mengurangi usaha-usaha yang dilakukan atau menyerah. Individu yang memiliki keyakinan yang memiliki keyakinan yang kuat terhadap kemampuan dirinya akan melakukan usaha yang lebih besar ketika individu tersebut gagal dalam menghadapi tantangan. Kegigihan atau ketekunanyang kuat mendukung bagi mencapaian suatu performansi yang optimal. Efikasi diri akan berpengaruh terhadap

27

aktifitas yang dipilih, keras atau tidaknya dan tekun atau tidaknya individu dalam usaha mengatasi masalah yang dihadapinya.

3. Fungsi afeksi

Efikasi diri akan mempunyai kemampuan coping individu dalam mengatasi besarnya stress dan depresi yang individu alami pada situasi yang sulit dan menekan, dan juga akan mempengaruhi tingkat motivasi individu tersebut. Efikasi diri memegang peran penting dalam kecemasan, yaitu untuk mengontrol stress yang terjadi.Penjelasan tersebut sesuai dengan pernyataan Bandura bahwa efikasi diri mengatur perilaku untuk menghindari suatu kecemasan.Semakin kuat efikasi diri, individu semakin berani menghadapi tindakan yang menekan dan mengancam. Individu yang yakin pada dirinya sendiri dapat mengunakan control pada situasi yang mengancam. Sedangkan bagi individu yang tidak dapat mengatur situasi yang mengancam akan mengalami kecemasanyang tinggi. Individu yang memikirkan ketidakmampuan coping dalam dirinya dan memandang banyaknya aspek dari lingkungan sekeliling sebagai situasi ancaman yang penuh bahaya, akhirnya akan membuat individu membesar-besarkan ancaman yang mungkin terjadi dan khawatir terhadap hal-hal yang sangat jarang terjadi. Melalui pekiran-pikiran tersebut, individu menekan dirinya sendiri dan meremehkan kemampuan dirinya sendiri.

4. Fungsi selektif

Fungsi selektif akan mempengaruhi pemikiran aktivitas atau tujuan yang akan di ambil oleh individu. Individu menghindari aktivitas dan siruasi yang

28

individu percayai telah melampaui batas kemampuan coping dalam dirinya, namun individu tersebut telah siap melakukan aktivitas-aktivitas yang menantang dan memilih situasi yang dinilai mampu untuk diatasi. Perilaku yang individu buat ini akan mempengaruhi kemampuan, minat-minat dan jaringan social yang mempengaruhi kehidupan, dan akhirnya akan mempengaruhi arah perkembangan personal. Hal ini karena pengaruh social berperan dalam pemilihan lingkungan, berlanjut untuk meningkatkan kompetensi, nilai-nilai dan minat-minat ersebut dalam waktu yang lama setelah faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan keyakinan telah memberikan pengaruh awal.

d. Dimensi dan indicator self efficacy

Menurut bandura dalam Fred, C, Lunenburg (2011) terdapat 4 dimensi self efficacy meliputi:

1. Past performance

Meliputi hal-hal baru yang diterima karyawan sebagai hasil akumulasi kinerja sebelumnya. Dalam dimensi past performance ini memiliki beberapa indikatot sebagai berikut:

• Tugas yang menantang • Pelatih

• Kepemimpinan yang mendukung

2. Vicarious experience

Meliputi kesuksesan yang dirasakan baik kesuksesan rekan kerja maupun kesuksesan perusahaan.pengamatan terhadap keberhasilan orang lain dengan

29

kemampuan yang sebanding dalam mengerjakan suatu tugas akan meningkatkan efikasi diri individu dalam mengerjakan tugas yang sama. Dalam dimensi vicarious experience ini memiliki beberapa indikator sebagai berikut:

• Kesuksesan rekan kerja • Kesuksesan perusahaan

3. Verbal persuasion

Meliputi sikap atau gaya komunikasi yang dirasakan dari pemimpin atau atasan. Pada persuasi verbal, individu diarahkan dengan saran, nasihat, dan bimbingan sehingga dapat meningkatkan keyakinan tentang kemampuan-kemampuan yang dimiliki yang dapat membantu mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam dimensi verbal persuasion ini memiliki beberapa indikator sebagai berikut:

• Hubungan atasan dengan pegawai • Peran pemimpin

4. Emotional cues

Meliputi sikap emosional yang dirasakan dalam bekerja.Emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat mengurangi efikasi diri.Namun, bias terjadi, peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan efikasi diri. Dalam dimensi emotional cues ini memiliki indikator sebagai berikut:

30

Dokumen terkait