PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH
III. KEBIJAKAN BELANJA DAERAH
III.4 Kebijakan Belanja Langsung
3. Efisiensi dan Efektivitas Anggaran
Dana yang tersedia harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin guna meningkatkan kualitas pelayanan dan kesejahteraan yang maksimal untuk kepentingan masyarakat. Terlaksananya pengendalian terhadap efisiensi dan efektifitas anggaran, maka perencanaan anggaran perlu ditetapkan dengan jelas tujuan, sasaran, hasil dan manfaat dari kegiatan/program.
4. Format Anggaran
Pada dasarnya APBD disusun berdasarkan format anggaran defisit (defisit
bugdet). Selisif antara pendapatan dan belanja daerah mengakibatkan surplus
Kebijakan umum akuntansi yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul berpedoman kepada standar akuntansi pemerintahan yang merupakan dasar pengakuan, pengukuran dan pelaporan atas asset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, belanja dan pembiayaan serta laporan keuangan. Kebijakan umum akuntansi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul dengan Peraturan Bupati Bantul Nomor 73 Tahun 2007 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Bantul sebagai pedoman Pemerintah Kabupaten Bantul dalam melaksanakan Kebijakan Umum Akuntansi yang memuat definisi, pengakuan, pengukuran dan pelaporan setiap akun dalam laporan keuangan serta prinsip-prinsip penyusunan dan penyajian pelaporan keuangan oleh entitas pelaporan dan entitas akuntansi menyelenggarakan system akuntansi pemerintah daerah Kabupaten Bantul dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan. Tujuan dari Kebijakan Umum Akuntansi adalah untuk mewujudkan keseragaman pengakuan, pengukuran maupun pelaporan dari semua transaksi yang terjadi pada entitas pelaporan/SKPKD (Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah) dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta entitas akuntansi di Kabupaten Bantul. Selain itu kebijakan akuntansi juga bertujuan untuk menjamin bahwa laporan keuangan pemerintah kabupaten dapat dimengerti oleh pengguna laporan keuangan dengan meminimalkan terjadinya bias terhadap pengungkapan komponen laporan keuangan. Informasi yang disampaikan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bantul harus relevan dan andal mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul selama satu periode laporan. Adapun tujuan secara umum Laporan Keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi
bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenani alokasi sumber daya. Sedangkan tujuan spesifik dari Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bantul adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumberdaya yang dipercaya. Asumsi dasar dari Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul yaitu :
a. Asumsi Kemandirian Entitas
Setiap unit organisasi dianggap sebagai unit yang mandiri dan mempunyai kewajiban untuk menyajikan laporan keuangan sehingga tidak terjadi kekacauan antar unit instansi pemerinyah kabupaten dalam pelaporan keuangan.
b. Asumsi Kesinambungan Entitas
Laporan keuangan disusun dengan asumsi bahwa entitas pelaporan akan berlanjut keberadaannya dengan asumsi tidak bermaksud melakukan likuidasi atas entitas pelaporan jangka pendek.
c. Asumsi Keterukuran dalam Satuan Uang (monetary measurement)
Laporan keuangan entitas pelaporan harus menyajikan setiap kegiatan yang diasumsikan dapat dinilai dengan satuan uang sehingga dapat dilaksanakan analisis dan pengukuran dalam akuntansi.
ukuran-Mempunyai arti bahwa informasi yang disampaikan dalam Laporan Keuangan dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan mengevaluasi peristiwa masa lalu dan memprediksi masa depan. Informasi dalam Laporan Keuangan yang relevan harus :
1. Memiliki manfaat umpan balik (feedback value) artinya laporan keuangan pemerintah kabupaten memuat informasi yang memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau mengoreksi ekspektasinya di masa lalu.
2. Memiliki manfaat prediktif (predictive value) artinya laporan keuangan pemerintah kabupaten memuat informasi yang dapat membantu pengguna untuk memperdiksi masa yang akan datang berdasarkan hasil evaluasi masa lalu dan kejadian masa kini.
3. Tepat waktu, artinya laporan keuangan pemerintah kabupaten dapat memberikan informasi secara tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam pengambilan keputusan.
4. Lengkap dalam arti laporan keuangan pemerintah kabupaten menyajikan informasi akuntansi keuangan pemerintah kabupaten selengkap mungkin yaitu mencakup semua informasi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan.
b. Andal
Informasi yang disampaikan dalam laporan keuangan pemerintah kabupaten tidak memberikan pengertian yang menyesatkan, menyaji setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi. Karakteristik informasi yang andal yaitu sebagai berikut :
3. Netral
c. Dapat diperbandingkan
Informasi yang termuat dalam laporan keuangan pemerintah kabupaten akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau laporan keuangan entitas lain pada umumnya.
d. Dapat dipahami
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah kabupaten harus dapat dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna laporan keuangan kabupaten.
Dalam akuntansi dan pelaporan keuangan terdapat 8 (delapan) prinsip yang harus dipahami dan ditaati oleh pembuat standar, penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan dalam memahami laporan yang disajikan, yaitu sebagai berikut :
a. Basis Akuntansi
Adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran, dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas dana dalam laporan neraca.
b. Nilai Historis (historical cost)
Pendapatan yang tersedia yang telah diotorisasikan melalui anggaran pemerintah kabupaten selama satu tahun fiskal akan dipergunakan untuk membayar hutang dan belanja pada periode tersebut.
d. Substansi mengungguli bentuk formal (substance over form) e. Periodisitas (periodicity)
f. Konsistensi (concistency)
g. Pengungkapan Lengkap (full disclosure) h. Penyajian Wajar (fair presentation)
Dalam Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Bantul khusus yang mengatur aset tetap perlu dilaksanakan kapitalisasi. Kapitalasi merupakan kegiatan menentukan nilai pembukuan terhadap semua pengeluaran untuk memperoleh aset tetap hingga siap pakai, untuk meningkatkan dan atau memperpanjang umur teknisnya dalam rangka menambah nilai-nilai aset tersebut. Tujuan dilaksanakan kapitalisasi guna mewujudkan keseragaman dalam menentukan nilai barang milik daerah yang dikapitalisasi sebagai dasar pencatatan nilai barang milik daerah dalam neraca pemerintah daerah. Oleh karena itu setiap SKPD/Unit Kerja diwajibkan melakukan kapitalisasi terhadap belanja barang dan jasa yang memiliki dampak sebagai berikut :
1. Memperoleh aset tetap hingga siap pakai
2. Meningkatkan kapasitas/efisiensi barang milik daerah dan atau 3. Memperpanjang umur teknis barang milik daerah.
Ruang lingkup pengeluaran pada unit kerja/SKPD yang perlu dilaksanakan kapitalisasi meliputi :
minimun kapitalisasi aset tetap dan dimanfaatkan untuk kegiatan pemerintahan daerah serta tidak untuk dijual meliputi pembelian/pembuatan peralatan, mesin serta bangunan dan pembelian/pembangunan gedung dan bangunan
2. Pengeluaran belanja rehabilitasi/renovasi/restorasi yang berakibat meningkatnya kualitas kapasitas kuantitas dan/atau umur aset yang dimiliki serta memiliki nilai sama dengan/melebihi batasan minimun nilai kapitalisasi aset.
3. Pengeluaran yang digunakan untuk pengadaan tanah,
pembelian/pembangunan jalan/irigasi/jaringan dan pembelian/pembuatan aset tetap lainnya.
VII. KEBIJAKAN PENGELOLAAN ASET DAERAH
Salah satu tolok ukur keberhasilan dari pelaksanaan manajemen keuangan daerah adalah terdapatnya system manajemen aset daerah yang efisiensi dan efektif. Majemen aset daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan manajemen keuangan daerah, serta aset daerah juga merupakan salah satu unsure penting yang diperlukan dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pelayanan public. Dalam melaksanakan manajemen aset/barang daerah dengan mendasarkan pada azas yaitu sebagai berikut :
masing-masing;
2. Azas kepastian hukum yaitu pengelolaan barang milik negara/daerah harus
dilaksanakan berdasarkan hokum dan perturan perundang-undangan yang berlaku;
3. Azas transparansi dan keterbukaan, yaitu penyelenggaraan pengelolaan
barang/asset milik Negara/daerah harus dilaksanakan dengan transparan/terbuka terhadap hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar;
4. Azas efisiensi, yaitu pengelolaan barang milik Negara/daerah diarahkan
dalam upaya barang milik Negara/daerah digunakan berdasarkan batasan-batasan standart terhadap kebutuhan yang diperlukan dalam rangka mendukung terselenggaranya tugas, pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal
5. Azas akuntabilitas, yaitu kegiatan pengelolaan barang milik Negara/daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat/rakyat
6. Azas kepastian nilai, yaitu pengelolaan barang milik Negara/daerah harus didukung adanya ketepatan/kepastian jumlah dan nilai barang dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dan pemindahantanganan barang milik barang Negara/daerah secara optimalisasi.
Terlaksananya pengelolaan barang/aset milik daerah diharapkan akan mengamankan barang milik daerah, menyeragamkan langkah-langkah dan tindakan dalam pengelolaan barang milik daerah/negara dan memberikan jaminan kepastian hukum dalam pengelolaan barang milik daerah. Dasar hukum yang
barang/asset milik daerah yaitu sebagai berikut :
1. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintahan Nomor 38 Tahun 2008;
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah;
3. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 30 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah;
4. Peraturan Bupati Bantul Nomor 55 Tahun 2008 tentang Sistem Dan Prosedur Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Pengelolaan barang/aset milik Negara/daerah mempunyai ruang lingkup yang melputi (1) perencanaan kebutuhan dan penganggaran, (2) pengadaan, (3) penerimaan, penyimpanan dan penyaluran, (3) penggunaan, (4) penatausahaan, (5) pemanfaatan, (6) pengamanan dan pemeliharaan, (7) penilaian, (8) penghapusan, (9) pemindahtanganan, (10) pembinaan, pengawasan dan pengendalian, (11) pembiayaan dan (12) tuntutan ganti rugi.
Pengelolaan barang/aset milik daerah/Negara yang dilaksanakan mempunyai tujuan yaitu sebagai berikut :
1. Menunjang kelancaran pelaksanaan penyelenggaraan Pemerintah Daerah; 2. Mewujudkan akuntabilitas dalam pengelolaan barang milik daerah; dan
sampai saat ini belum dapat mendukung meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan. Salah satu penyebab yang menjadi kendala Pemerintah Kabupaten Bantul dalam meraih opini tersebut adalah nilai aset/barang milik daerah yang ditampilkan dalam neraca pada sisi aset atau aktiva belum menunjukkan angka/jumlah yang valid dan apabila dicermati belum terdapat kejelasan asal usul/historis aset maupun status kepemilikannya serta teradapat secara fisik aset ada tetapi tidak tercatat dalam daftar aset daerah. Kendala tersebut disebabkan adanya kondisi yaitu sebagai berikut :
4. Belum dipamahami oleh pengelola barang terhadap definisi aset/barang daerah dan barang inventaris yang berdampak kesalahan dalam menyajikan aset/barang daerah dan barang inventaris dalam neraca;
5. Orientasi pengadaan barang masih hanya membeli bukan mengelola sehingga belum dilaksanakan pengadministrasian dan pengendalian terhadap barang yang diadakan misalnya belum pernah diadakan pengecekan atau inventarisasi secara periodik;
6. Terdapat perbedaan konsep dalam menyajikan asset/barang daerah dalam laporan keuangan dan laporan inventarisasi barang/asset daerah. Nilai asset/barang daerah yang disajikan dalam neraca berdasarkan harga perolehan sedangkan nilai barang/asset yang disajikan dalam laporan inventarisasi berdasarkan nilai beli.
7. Sering terdapat kesalahan pembebanan belanja modal dengan kode rekening pada APBD, yang disebabkan pada saat dilaksanakan perencanaan anggaran belum dilaksanakan verifikasi terhadap belanja modal sesuai dengan beban kode rekening. Akibat yang timbul seharusnya menambah belanja modal
belanja modal.
Kebijakan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul dalam mengoptimalkan pelaksanaan pengelolaan barang daerah dalam rangka mendukung terwujudnya opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bantul yaitu dengan melaksanakan kegiatan : 1. Penataan asset;
2. Penghapusan barang daerah;
3. Instalasi program SIMBADA (Sistem Informasi Manajemen Barang Daerah) di seluruh SKPD atau unit kerja;
4. Mengikutsertakan pengelola aset SKPD dalam Diklat Aset Daerah; 5. Meningkatkan insentif pengurus barang daerah;
6. Melakukan inventarisasi dan verifikasi serta penilaian kembali aset daerah sebagai tindak lanjut atas hasil temuan BPK.
Kebijakan seperti tersebut diatas diharapkan pengelolaan barang milik daerah Pemerintah Kabupaten Bantul dapat terlaksana dengan tertib administrasi, professional, transparan, akuntabel, efisien, dan efektif mulai dari perencanaan, pengelolaan/pemanfaatan, serta pengawasan.