23 Metro tv, 16 Juli
4.2 Ejawantah Bhinneka Tunggal Ika
Betapa bangsa ini sudah berpanjang – panjang secara teoritis mengenai persatuan. Pun melalui tataran konflik yang sudah begitu radix (mengakar) hingga sulit menemukan selesainya. Sejak Proklamasi 1945 diikrarkan, mau tidak mau, suka tidak 17suka, masyarakat Indonesia dengan ragam yang
sudah – sudah harus bersatu. Unity in diversity, without uniformity. Inilah slogan – slogan paling mutakhir yang senantiasa tertempel di spanduk – spanduk jalanan (gambar terlampir), kaos anak – anak muda, serta dirasa sudah tervitualisasi dalam kemasan budaya modern, Jember Fasihion Carnival salah satunya. Baik elit hingga grassroots sesungguhnya sadar bahwa pentingnya ‘persatuan’ bangsa adalah demi kemajuan bangsa itu sendiri. terlampau sulit memang mewujudkab integrasi tersebut ditengah bangsa heterogen dibanding bangsa yang homogeny. Karena Indonesia menurut Prof. Ayu Sutarto adalah taman budaya yang paling indah di dunia.26
Ironis, dalam taman indah terdapat penghuni dengan beragam public polecy (kebijakan public) yang tak jarang merugikan rakyat, persoalan justice of law juga patut dipertanyakan kepada elit – elit lain, para penyangga hukum. Di sisi satunya, elit lain di bidang perekonomian, yakni para pebisnis yang ‘lupa’ akan kesejahteraan rakyat, akibat tak terjalin komunikasi yang baik antara ‘raja kecil (baca : pemimpin daerah)’ dengan dirinya. Apa akibat? Eksploitasi lahan terjadi dimana – mana. Otomatis konflik semakin berjalan tanpa penyelesaian tepat. Siapa yang patut disalahkan? Ini tanggung jawab masyarakat Indonesia. Ujar – ujar dibalik makna bersatu dalam keberagaman atau Bhinneka Tunggal Ika, bukan lagi tanpa
1726Ayu Sutarto dalam Universitas Jember Menggagas Indonesia yang
Bermartabat : Demokratisasi di Indonesia, Mengayuh di Antara Dua Karang, 2006 : hlm. 48.
arti, bukan hanya diucap, melainkan menjadi pekerjaan besar bagi bangsa ini untuk tetap survive (bertahan) terhadap tantangan keberagaman (heterogen). Kita tidak boleh ‘gandrung’ akan keseragaman, karena Bhinneka Tunggal Ika adalah ‘nafas’ yang memberikan etos kepada integrasi bangsa.
4.2.1 Reintrepretasi dan Revitalisasi Etos Bhinneka Tunggal Ika
Bila dalam pemahaman setiap warga Negara tentang Sasanti “Bhinneka Tunggal Ika” adalah berbeda – beda tapi tetap satu jua, namun menurut sejumlah pakar tanpa bermaksud meremehkan pemahaman dari saudara – saudara yang lain, tidaklah begitu jelas pemahamannya seperti yang dimaksud oleh semangat pencetusnya secara intrinsic, apalagi penghayatan oleh semua warga Negara kita. Yang tergambar dalam pikiran kita adalah perbedaan dalam suku bangsa tertampung dalam wadah tunggal Negara Kesatuan Republik Indonesia, tanpa kita pernah mencari makna terdalamnya. Pemahaman dan penghayatan yang kurang sempurna inilah, merupakan faktor penyebab dari keterpurukan kita sebagai bangsa dewasa ini.
Perlu adanya pemahaman dan penghayatan yang lebih luas dan mendalam, lebih baik lagi bila dihadapkan pada kemajuan IPTEK yang begitu cepat di era globalisasi. Bhinneka tunggal ika harus diartikan sebagai keragaman dalam yang satu dan kesatuan dalam yang beragam di dalam keseluruhan aspek manusia Indonesia, baik sebagai individu, sebagai anggota masyarakat, ataupun warganegara. Hal ini mengandung suatu pemikiran bahwa kebhinnekatunggalikaan itu harus terwujud dalam tataran berpikir, berwacana dan berbuat, dimana ketiga tataran ini merupakan satu kesatuan aksi tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Pada tataran berpikir bahwa dirinya
“berbeda” dengan saudaranya yang lain, oleh karena itu hanya dirinya saja dapat mencapai kebenaran dan saudaranya yang lain tidak. Hal yang sama juga dapat terjadi dalam tataran berwacana, berdiskusi, berdialog. Dialog harus dimaknai sebagai wujud komunikasi yang setara, sama tinggi, dan tak ada dominasi antaa yang satu dengan yang lain. Bila ini terjadi maka dialog akan berubah menadi monolog dengan prinsip menang – kalah. Dalam tataran aksi, secara adil mendistribusikan kesempatan dan kesejahteraan sehingga secara bersama – sama anak bangsa ini menjadi lebih maju dan berkualitas hidupnya. Tapi ini tak berarti bahwa kita harus seragam dalam segala sesuatu tanpa mempertimbangkan keragaman kita.
Frithjof Schuon dengan tesisnya yang memberikan inspirasi untuk mengintrepretasi ulang sesanti “Bhinneka Tunggal Ika”. Adapun tesisnya sebagai berikut : kemampuan manusia beerkembang secara beragam. Perkembangan kemampuan yang beragam itu dapat diuraikan dari yang terendah sampai tertinggi, dari yang kongkrit hingga abstrak, dari yang jamak hingga yang tunggal, dari yang sementara sampai yang kekal, dari fenomena – fenomena sampai yang hakiki, dari perwujudan sampai hakekat. Semua dua kutub kemampuan manusia yang selalu ada pada setiap orang harus dikelola secara harmonis (Lihat diagram tesis F. Schuon)
Via Media : Frithjof Schuon
Eksoteris /
partikular Imanen
Isoteris / Universal
Hindu Budha Konghucu Katolik Kristen Islam
Walaupun masing – masing kita berbeda secara ras, suku bangsa, agama, budaya, ini merupakan perwujudan yang menurut Schuin masih berada pada tataran eksoteris yang melihat secara kongkrit kekehususan – kekhususan yang tentunya sangat berbeda antara ras yang satu dengan yang lainnya, antara suku bangsa satu dengan lain, dan agama satu dengan yang lain. Apabila kesadaran kita sebagai anak bangsa semakin dpata kita tingkatkan keatas seperti apa yang dimaksud oleh Schuan menuju kearah tataran eksoteris, maka masing – masing kita akan menyadari bahwa jurang perbedaan diantara kita terjembatani, semakin mengecilkan, bahkan menyatu pada satu titik dimana perbedaan diantara kita sudah tidak ada lagi. Suku – suku bangsa Jawa, Batak, padang, Makassar, Sunda, Aceh, Bali, Cina secara bersama – sama berjalan dari perbedaan yang sangat besar menuju ke tataran yang lebih tinggi yang akhirnya berkulminasi pada satu titik persamaan yaitu kita sebagai rakyat Indonesia dalam kerangka atau bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai umat – umat beragama, umat agama Islam, Kristen, katolik, hindu, Budha, Kong Hu Cu, secara bersama – sama berjalan dari perbedaan yang sangat besar dalam ritus dan upacara menuju ketataran yang lebih tinggi berkulminasi pada titik yang sama yaitu hakekat Tuhan Yang Maha Esa yang transenden.
18Bila meminjam istilah para ahli multikulturalisme, apa
yang disebut sebagai Metoda Crossing Over dan Coming Back 27
1827 Budhi Munawar Rahman, Islam Pluralis, 2004 : Hlm. 126
28 Peter Evans, Dependent Development, dalam Miriam Budiardjo “Dasar –