• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.2 Tinjauan Pustaka

1.2.6 Eko Wisata (Nature Tourism)

Salah satu varian implementasi dari model pembangunan kepariwisataan berlanjut dan berwawasan lingkungan adalah pengembangan program ekowisata atau sering juga disebut dengan Nature Tourism yang pada hakekatnya merupakan konsep perpaduan antara pendekatan konservasi lingkungan dan pengembangan kepariwisataan

Salah satu prinsis penting yang dituntut untuk selalu konsisten dilaksanakan oleh model pengembangan ekowisata ini adalah adanya kebijakan untuk memungut sejumlah presentase dari pendapatan yang diperoleh dari industri pariwisata yang harus dikembalikan lagi kepada lingkungan yang perlu untuk dilestarikan (dilindungi-dilestarikan-dimanfaatkan) termasuk untuk peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi dan budaya masyarakat di sekitarnya. (Tensie Whelan, 1991)

22 1.3. Rumusan Masalah

Rumusan masalah adalah akar permasalahan dari penelitian. Berdasarkan latarbelakang masalah diatas maka penulis yang menjadi rumusan masalah adalah Bagaimana tehnik daya tarik yang dilakukan pemilik pemandian mengelola pemandian air panas di Kelurahan Sipoholon.

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tehnik daya tarik yang dilakukan oleh pihak pengelola pemandian objek parawisata air panas di Kelurahan Situmeang Habinsaran dan apa saja yang harus dan tidak harus dilakukan dalam pengembangan objek wisata pemandian air panas di Kelurahan Situmeang Habinsaran.

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan penulis sendiri juga pembaca bahwa manfaat yang bisa diperoleh dari data - data yang diperoleh dari data pihak pemerintah setempat, wawancara, dan observasi.

Pembaca juga dapat mengetahui bagaimana tehnik daya tarik dan cara mengelola pemandian yang dilakukan oleh pemilik pemandian air panas.

1.5. Metode Penelitian

Metode penelitian kualitatif adalah sebuah metode riset yang sifatnya deskriptif, menggunakan analisis, mengacu pada data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan pendukung. Pendapat lain mengatakan, pengertian penelitian kualitatif adalah jenis penelitian ilmu sosial yang mengumpulkan dan bekerja dengan data non-numerik dan yang berupaya menafsirkan makna dari data ini

23 sehingga dapat membantu kita memahami kehidupan sosial melalui studi populasi atau tempat yang ditargetkan. Metode penelitian kualitatif bersifat subjektif dari sudut pandang partisipan secara deskriptif sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasikan. Dengan kata lain, metode riset ini lebih bersifat memberikan gambaran secara jelas suatu permasalahan sesuai dengan fakta di lapangan.

Menurut Lexy J. Moleong (2005:6) metode penelitian kualitatif adalah suatu riset yang bermaksud untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian. Misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Menurut Sugiyono (2009:15), pengertian penelitian kualitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat post positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan tri-anggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.

Maka dari itu penulis memilih tipe penelitian kualitatif agar bisa mengembangkan hasil dari apa saja yang telah penulis teliti selama ada di Kelurahan Situmeang Habinsaran Kecamatan Sipoholon Kabupaten Tapanuli Utara

24 1.5.1. Jenis dan Pendekatan

Penelitian ini salah satunya menggunakan pendekatan kualitatif dimana menggunakan pendekatan deskriptif yaitu suatu penelitian yang dimaksud untuk memberikan data seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala lainnya.

Kemudian melakukan observasi terlibat dimana sipeneliti mengamati dan ber-partisipasi dengan keluarganya dan pengusaha pemandian air panas sekaligus mengamati supaya mendapatkan sudut pandang dari si informan.

Mendeskripsikan hasil-hasil wawancara mendalam dan studi kasus.

1.5.2. Instrumen Penelitian A. Alat Penelitian

Instrument penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, selanjutnya setelah focus penelitian menjadi jelas, diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan dengan data yang ditemukan melalui wawancara dan alat bantu yang digunakan dalam proses wawancara adalah smartphone sebagai alat perekam suara dan gambar serta pedoman wawancara.

B. Informan

Informan adalah orang yang memberikan informasi tentang objek penelitian, Dalam penelitian Antropologi terdapat beberama jenis informan, yaitu informan kunci dan informan pangkal dan informan biasa.

Informan kunci merupakan seseorang yang secara lengkap dan mendalam mengetahui informasi yang menjadi permasalahan dalam penelitian. Untuk itu kita perlu menetapkan informan-informan yang akan diwawancarai atau informan yang akan dijadikan informan kunci. Spradley (1997) mengatakan bahwa ada

25 lima syarat dalam menentukan informan yaitu: (1) enkulturasi penuh, artinya mengetahui budaya miliknya dengan baik, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak dikenal, biasanya akan semakin menerima tindak budaya sebagaimana adanya, dia tidak akan basa-basi, (4) memiliki waktu yang cukup, (5) non analitis.Dalam hal ini yang menjadi informan kunci adalah koordinator dari komunitas Turun tangan Binjai yang mengetahui bagaimana sejarah komunitas ini terbentuk dan informasi lain mengenai komunitas tersebut.Informan pangkal merupakan tokoh masyarakat yang memberikan informasi sebagian besar interaksi sosial dan memberitahukan informan kunci yang akan membantu peneliti dalam mendapatkan informasi yang lebih mendalam.

Dalam hal ini informan yang dipilih adalah pemilik pemandian air panas yang pertama ada di Kelurahan Situmeang Habinsaran Kecamatan Sipoholon Kabupaten Tapanuli Utara. Pemilihan informan ini dipilih secara acak sesuai dengan kebutuhan data. Peneliti juga harus bersikap ramah dan membaur terhadap warga setempat agar bisa mengembangkan rapport terhadap masyarakat dan mendapatkan data-data yang sesuai fakta dilapangan.

Dalam hal ini informan yang dipilih adalah:

1. J situmeang, pemilik pemandian air panas SEGAR, usia 43 Tahun.

2. J. Simorangkir, istri pemilik pemandian SEGAR, usia 39 Tahun.

3. Ekenazer Situmeang, Pemilik pemandian air panas LEHU, usia 32 Tahun.

4. Kristina Aritonang, istri pemilik pemandian air panas LEHU, usia 32 Tahun.

5. Daniel Situmeang, Pemilik pemandian air panas EDELWEIS, usia 40 Tahun.

6. Royansi Situmorang, istri pemilik pemandian air panas EDELWEIS, usia 32 Tahun

26 Informan dipilih berdasarkan kriteria yang memiliki kecocokan dengan latar belakang yang penulis ingin sampaikan, yaitu mengenai tehnik daya tarik yang dilakukan pemilik pemandian mengelola pemandian air panas.

1.5.3. Teknik Pengumpulan Data A. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan sesuatu obyek dengan sistematika fenomena yang diselidiki. Peneliti menggunakan teknik observasi guna memperoleh gambaran penuh tentang segala tindakan, percakapan, tngkah laku dan semua hal yang akan ditangkap oleh panca indera terhadap apa yang dilakukan masyarakat yang diteliti di lapangan. Observasi dapat dilakukan sesaat ataupun dapat diulang. Dalam observasi melibatkan dua komponen yaitu si pelaku observasi yang lebih dikenal sebagai observer dan obyek yang diobservasi yang dikenal sebagai observee (Sukandarrumidi 2002 : 69).

Melalui teknik observasi peneliti mampu memahami permasalahan yang akan diteliti secara lebih mendalam. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan teknik observasi partisipan. Teknik observasi pertisipan, dimana peneliti terlibat langsung dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh subyek yang diamati, seperti saat mewawancarai informan dan pengamatan lokasi penelitian. Pelaku peneliti seolah-olah merupakan bagian dari mereka.

Dimana peneliti akan mengamati kegiatan-kegiatan selama meneliti lokasi, daerah, kebiasaan dan tradisi yang akan dilakukan oleh pihak pengelola pemandian air panas.

27 B. Wawancara

Teknik lain yang digunakan peneliti selain observasi adalah wawancara.

Wawancara adalah proses tanya jawab lisan, dimana 2 orang atau lebih berhadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengar dengan telinga sendiri dari suaranya (Sukandarrumidi 2002 : 88). Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi yang mendalam dari para informan.

Teknik wawancara yang digunakan adalah teknik wawancara mendalam (indepth interview), dimana peneliti akan melakukan tanya jawab dan menggali informasi lebih mendalam, terbuka, tegas, dan terbuka yang menyangkut fokus penelitian.

Dalam melakukan wawancara, peneliti akan mengali informasi mengenai strategi pengembangan yang dilakukan pihak pengelola pemandian air panas.

Informan adalah orang yang akan memberikan informasi mengenai informasi yang akan ditanyakan. Pemilihan dan penetapan informan sangatlah penting dalam melakukan penelitian. Semua orang bisa dijadikan sebagai informan tetapi harus ada yang menjadi informan kunci yaitu informan yang memiliki jawaban-jawaban yang terbaik dan terpercaya. Informan yang baik adalah informan yang mengetahui informasi atau jawaban atas pertanyaan yang diutarakan oleh peneliti.

Pemilik pemandian air panas sipoholon memberikan gagasan gagasan mengenai bagaimana beliau mengelola pemandian air panas ini sejak dulu hingga sekarang, tentang bagaimana beliau bisa menambah jumlah pengunjung dan apa saja gegagalan yang telah diambilnya menjadi pelajaran dalam setiap pengembangan pemandian air panas sipoholon.

28 1.6. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Kelurahan Situmeang Habinsaran Kecamatan Sipoholon Kabupaten Tapanauli Utara Provinsi Sumatera Utara.

Pemandian air panas ini berjarak 283km dari Kota Medan dan dapat ditempuh menggunakan kendaraaan umum maupun pribadi dengan waktu 7 jam. Pemandian air panas ini berjarak 15km dari Kota Tarutung dan dapat ditempuh menggunakan kendaraan umum maupun pribadi dengan waktu 30 menit. Pemandian ini berada di dataran tinggi sehingga memiliki suhu yang dingin. Sumber air panas ini berada dibawah kaki Gunung Martimbang yang berjarak ±3 km dari tempat pemandian air panas.

1.7. Studi Dokumentasi

Analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan data-data yang diperoleh dari lapangan kedalam tema-tema dan kategori-kategori tertentu.

Penelitian melakukan pengecekan ualangan atau check and rehchek terhadap data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Keseluruhan data yang diperoleh dari lapangan kemudian diolah secara sistematis, kemudian diuraikan kedalam bagian-bagian sub judul pada bab sesuai dengan temanya masing-masing, sehingga ditemukan sebuah kesimpulan.

Sesuai dengan metode penelitian, teknik analisa data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif.

Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk menginterpretasikan data melalui paparan, uraian dan gambaran yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan makna terhadap sebuah prestasi subjek penelitian (Mukhtar, 2000:123).

29 1.8 Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data yang terkait dengan pemilik pemandian air panas, wawancara dengan pemilik pemandian air panas dan masyarakat sekitar pemandian air panas.

Data sekunder lebih difokuskan pada buku-buku yang berkaitan dengan wisata dan pariwisata, serta dokumen-dokemen hukum yang terkait dengan pengembangan pariwisata. adapun sumber data penelitian ini mengacu pada hasil penelitian lapang (emperik) dan hasil penelusuran pustaka (literatur). Penelitian lapangan lebih difokuskan pada pemilik pemandian air panas, sedangkan penelitian kepustakaan lebih banyak diarahkan untuk membangun kerangka konseptual dan menganalisis hasil-hasil sejenis yang telah dilakukan sebelumnya.

1.9 Teknik Pengumpulan Data

Dalam melakukan penelitian ini teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi partisipatif. Observasi partisipatif merupakan pengamatan yang dilakukan melibatkan peneliti dalam kegiatan yang diamati. Dalam teknik observasi partisipatif, peneliti mengamati secara langsung kegiatan tehnik daya tarik yang dilakukan pemilik pemandian mengelola pemandian air panas.

Dalam mengumpulkan data peneliti juga menggunakan teknik wawancara.

Wawancara merupakan percakapan antara dua individu dengan maksud tertentu.

Wawancara yang dilakukan adalah wawancara mendalam, ini dilakukan untuk mendapatkan persepsi, opini, dan prediksi dari seseorang individu serta fakta dalam konteks permasalahan tertentu. Wawancara mendalam ini juga untuk

30 memunculkan reaksi perorangan terhadap suatu hal dalam mencari-cari pemecahan masalah tertentu. Untuk itu kita perlu menetapkan informan-informan yang akan diwawancarai atau informan yang akan dijadikan informan kunci.

Spradley (1977) mengatakan bahwa ada lima syarat dalam menentukan informan yaitu: (1) enkulturasi penuh, artinya mengetahui budaya miliknya dengan baik, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak dikenal, biasanya akan semakin menerima tindak budaya sebagaimana adanya, dia tidak akan basa-basi, (4) memiliki waktu yang cukup, (5) non analitis.

1.10 Pengalaman Penelitian

Penelitian ini saya lakukan sendiri pada hari senin 5 November 2018 sampai hari jumat 30 November. Selama saya penelitian saya tinggal dirumah teman saya Feliks Sihoming yang beralamat di PERUMNAS Kelurahan Silakitang, Tapanuli Utara. Saya memakai sepeda motor teman saya sebagai transportasi ke tempat penelitian saya yang berjarak ±4 km dari rumah teman saya. Saya juga disambut dengan baik oleh orangtua teman saya pada saat saya mau tinggal dirumah mereka selama saya penelitian sekripsi ini.

Sebelum saya berangkat menuju lokasi penelitian, saya sudah mempersiapkan pedoman wawancara dan juga perlengkapan yang dibutuhkan.

Saya membawa baju hangat dan jeket karena lokasi penelitan saya jauh lebih dingin dibandingkan Kota Medan. Pada saat saya penelitian saya mengalami kendala dari alam seperti hujan dan cuaca yang dingin. Saya tidak kehabisan akal untuk menghadapi masalah yang ada pada saat dilapangan karena saya sudah membawa perlengkapan berkendara lengkap.

31 Hal yang membuat saya susah pada saat melakukan penetian ini adalah ketika surat lampiran penelitian saya buat Kepala Desa Situmeang Habinsaran.

Sesampainya saya di lapangan ternyata Situmeang Habinsaran bukanlah sebuah Desa melainkan sebuah Kelurahan. Saya mengatasi kendala ini dengan menghubungi abang Hariman alumni Antropologi USU tahun 2004. Ketepatan abang Hariman tinggal di Kota Tarutung, saya menghubungi abang Hariman untuk meminta bantuan bagaimana caranya supaya saya mendapatkan data dan informasi yang saya perlukan. Setelah saya menghubungi abang Hariman ternyata abang ini memiliki tingkat emosi kedekatan kepada pihak pemerintah Kabupaten Tapanauli Utara. Tidak lama setelah saya menghubungi abang Hariman, abang ini langsung datang menjumpain saya disalah satu warung yang ada di Kota Tarutung. Saya diberikan masukan maupun arahan dari abang Hariman mengenai bagaimana supaya skripsi yang saya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan juga pembaca. Pengalaman yang paling berkesan adalah pada saat saya melakukan wawancara saya harus melakukan pendekatan emosional agar saya mendapatkan informasi.

Pada saat saya mau menjumpain Ibu Lurah di kantor Kelurahan untuk mengantarkan surat izin penelitian ternyata sedang diadakan musyawarah kelurahan yang membahas tentang kesehatan. Pihak Kelurahan membuat suatu program olahraga (senam) bagi ibu rumah tangga dan juga wanita lanjut usia.

Setelah selesai rapat saya langsung menjumpain Ibu Lurah yang bernama Ariska.

Saya memperkenalkan diri saya dan memberitahukan tujuan saya datang di Kecamatan Situmeang Habinsaran ini untuk melakukan penelitian sebagai data skripsi saya. Ibu lurah langsung dengan ramah menanyakan “apa saja yang bisa

32 saya bantu untuk data penelitian kamu”. Sayapun menanyakan data-data apa saja yang saya perlukan buat penelitian saya.

Hubungan emosional sangat mempengaruhi untuk mendapatkan informasi yang ingin kita ketahui dari pemilik usaha pemandian air panas. Saya juga sering di temani oleh teman saya Feliks ke lokasi penelitian karena dia lebih lancar berbahasa Batak Toba dan kebanyakan pemilik pemandian air panas mengenal orangtuanya. Saya juga memberitahu kalau kampung halaman orangtua saya berada di Kelurahan Si Walu Opu yang berada ±6 km dari lokasi penelitian saya.

Adapun kendala yang saya alami selama penelitian ini adalah hujan, karena hampir setiap hari hujan pada saat akhir tahun.Hampir setiap hari saya mandi air panas pada saat melakukan penelitian karena membantu menyegarkan badan dan pikiran saya saat melakukan penelitian ini.

33 BAB II

GAMBARAN UMUM

1.1. Letak Geografis

Aek Rangat Sipoholon adalah salah satu tempat wisata pemandian air panas yang terletak tidak jauh dari ibu kota Tarutung, tepatnya di Kelurahan Situmeang Habinsaran, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara.

Menurut masyarakat setempat, pemandian air panas ini merupakan air panas yang keluar dengan sendirinya dari perut bumi. Pemandian ini juga sudah menjadi ikon tersendiri bagi daerah Kecamatan Sipoholon, dan menjadi salah satu kantong pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Tapanuli Utara.

Air panas yang meluap keluar dari dalam tanah menjadikan pengunjung yang datang tertarik untuk melihatnya secara langsung tentunya. Untuk itu wisatawan akan bisa melihat lokasi-lokasi tempat keluarnya air panas tersebut.

Sumber air panas itu sendiri merupakan tanah milik masyarakat Kelurahan Situmeang Habinsaran. Namun tempat pemandian air panas itu dei buka oleh perorangan, ada yang milik pribadi dan ada juga yang menyewa. Luas wilayah Klurahan Situmeang Habinsaran 17,49 Km2 dengan batas wilayah sebagai berikut1 :

SebelahUtara : Kelurahan Sipahutar KecamatanSipoholon SebelahSelatan : Kelurahan Hutauruk KecamatanSipoholon SebelahTimur : KecamatanTarutung

Sebelah Barat : Kelurahan Simanungkalit

1Data Kantor Kelurahan Situmeang Habinsaran

34 1.2. Keadaan Iklim

Di daerah Kelurahan Situmeang Habinsaran ini hanya dikenal dua musim yaitu: musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober hingga April, dan musim kemarau terjadi pada bulan April hingga Oktober. Hal ini dipengaruhi oleh letak wilayah Indonesia yang terletak antara dua benua dan dua samudera yang mengakibatkan pergantian arah angin setiap enam bulan sekali, yakni angin musom barat dan angin musomtimur2. Namun, pada akhir-akhir ini musim di daerah Kabupaten Tapanuli Utara sudah tidak dapat diperkirakan lagi, sebab hujan yang berkepanjangan dapat terjadi pada musim kemarau, dan kondisi kekeringat juga dapat terjadi pada saat seharusnya musim sudah memasuki musim hujan.

Kelurahan Situmeang Habinsaran berada pada ketinggian tanah dari permukaan laut 950 m, banyaknya curah hujan 8,8 mm dan suhu udara Kelurahan Situmeang Habinsaran ini rata-rata 22◦C dengan luas wilayah seluruhnya adalah 1656 Ha3. Kelurahan Situmeang Habinsaran Kecamatan Sipoholon Kabupaten Tapanuli Utara memiliki temperatur yang dingin karena banyak mengandung uap air dan dipengaruhi oleh topografi yang berbukit-bukit, yang mana sangat mendukung kegiatan masyarakat untuk menikmati pemandian air panas yang muncul ke permukaan daerah Kelurahan Situmeang Habinsaran Kecamatan Sipoholon.

35 2.3. Kondisi Penduduk

2.3.1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Tingkat perkembangan dan potensi suatu daerah dapat di ketahui dari komposisi penduduk berdasarkan umur dan untuk mengetahui ratio atau perbandingan antara penduduk laki-laki dan pendudukperempuan.

Tabel I

Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin Jumlah

1 Laki-Laki 1415

2 Perempuan 1359

Total 2774

Sumber: Kantor Kelurahan Situmeang Habinsaran

Berdasarkan dari Kantor Lurah jumlah kepadatan penduduk Kelurahan Situmeang Habinsaran tahun 2003 adalah 2774 orang dengan jumlah kepala keluarga sebesar 639 KK. Jumlah penduduk laki-laki 1415 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebesar1359 jiwa. Dari data diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan jumlah perempuan.

2.3.2. Komposisi Penduduk Menurut Umur

Tingkat perkembangan dan potensi suatu daerah dapat diketahui dari komposisi penduduk berdasarkan umur dan untuk mengetahui ratio atau perbandingan antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan. (dapat dilihat

36 pada tabel dibawah ini).

Tabel II

Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur

No Kelompok umur Jumlah

1 0-3 tahun 336 jiwa

2 4-6 tahun 311 jiwa

3 7-12 tahun 487 jiwa

4 13-15 tahun 281 jiwa

5 16-19 tahun 270 jiwa

6 19 tahun keatas 1089 jiwa

Jumlah 2774jiwa

Sumber: Kantor Kelurahan Situmeang Habinsaran

Berdasarkan data dari Kantor Lurah Kelurahan Situmeang Habinsaran Tahun 2015 menunjukkan bahwa jumlah penduduk seluruhnya 2774 jiwa, masing-masing laki-laki 1415 jiwa dan perempuan 1359 jiwa. Pengelompokan penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin dapat memberikan gambaran mengenai besarnya penduduk usia kerja, rasio jenis kelamin (sex rasio) dan rasio beban tanggungan komposisi penduduk berdasarkan umur di Kelurahan Situmeang Habinsaran Sipoholon.

2.3.3. Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama

Indonesia adalah negara yang menjamin kebebassan beragama dan menjalankan ibadah agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk mengetahui

37 komposisi penduduk menurut agama di Kelurahan Situmeang habinsaran dapat di lihat pada tabel berikut:

Tabel III

Distribusi Penduduk Menurut Agama Yang dianut

No Agama yang diantut Jumlah

1 Islam -

2 Kristen protestan 2567 orang

3 Kristen katolik 207 orang

4 Hindu -

5 Budha -

Sumber: Kantor Kelurahan Situmeang Habinsaran Tahun 2015

Penduduk di Kelurahan Situmeang Habinsaran secara umum menganut agama Kristen Protestan yakni Kristen Protestan sebanyak 2567 jiwa dan sebanyak 207 jiwa yang beragama Khatolik

2.4. Sistem Mata Pencaharian

Secara kuantitatif, distribusi penduduk Kelurahan Situmeang Habinsaran menurut jenis mata pencaharian dapat dilihat dari tabel berikut ini:

38 Tabel IV

Distribusi Penduduk Menurut Mata Pencaharian

No. Pekerjaan Jumlah (Jiwa)

1 PNS 213

2 TNI/POLRI 3

3 Swasta 8

4 Wiraswasta 1093

5 Tani 1193

6 Pertukangan 55

7 Buruh Tani 75

8 Pensiunan 126

9 Jasa 8

Sumber: Kantor Kelurahan Situmeang Habinsaran Tahun 2015

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat wisata objek pemandian air panas Sipoholon dominan bertani, hingga mencapai 693 . Dan setelah dominan bertani adalah PNS sekitar 113 .

Masyarakat di Kelurahan Situmeang Habinsaran rata-rata bekerja sebagai petani padi, sayuran, dan tanaman palawija. Disamping sebagai petani, masyarakat sebagian juga ada yang bekerja sebagai penambang batu kapur dan belerang. Dalam bidang pertanian, mereka memfokuskan pada bidang penanaman padi. Akan tetapi, setelah terbuka gerbang pariwisata ke daerah ini, secara perlahan mereka mulai mengubah pola mata pencaharian mereka, dari pertanian ke berdagangan oleh-oleh khas Tapanuli Utara seperti Kacang Sihobuk, Syal

39 motif ulos, dan baju-baju motif etnik Batak Toba.

Masyarakat di Kelurahan Situmeang Habinsaran banyak yang mulai membuka usaha sendiri seperti kios- kios makanan, sembako, restoran, rumah makan, penginapan, penjualan souvenir-souvenir, termasuk juga membuka usaha pemandian air panas dan kolam renang air panas. Sementara itu mata pencaharian lainnya yang telah lama digeluti oleh masyarakat adalah usaha

Masyarakat di Kelurahan Situmeang Habinsaran banyak yang mulai membuka usaha sendiri seperti kios- kios makanan, sembako, restoran, rumah makan, penginapan, penjualan souvenir-souvenir, termasuk juga membuka usaha pemandian air panas dan kolam renang air panas. Sementara itu mata pencaharian lainnya yang telah lama digeluti oleh masyarakat adalah usaha

Dokumen terkait