• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKOLOGI SASTRA DALAM MANGA KISEKI NO RINGO

Silvia Damayanti, Ni Luh Ari Sulatri Program Studi Sastra Jepang, Universitas Udayana [email protected], [email protected]

Abstrak

Penelitian ini mengkaji permasalahan lingkungan dalam salah satu karya sastra anak, yaitu komik Jepang berjudul Kiseki no Ringo (2013) karya Takuji Ishikawa. Penelitian ini akan dibahas dengan teori ekologi sastra Endaswara dan teori Abrams (1976) untuk analisis struktural Manga Kiseki no Ringo. Penelitian ini bertujuan mendeskipsikan representasi ekologi dalam unsur pembentuk karya sastra tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengarang Manga Kiseki no Ringo mengangkat kisah nyata perjuangan seorang petani Apel tanpa menggunakan pestisida di daerah Aomori, Jepang. Pengarang menampilkan tokoh, peristiwa, dan keadaan lingkungan secara riil dibalut dengan penyajian yang menarik dalam struktur karyanya. Hal ini dilakukan untuk menggugah para anak muda yang gemar membaca manga agar peduli dan turut berjuang memperbaiki lingkungan.

Kata kunci: ekologi, sastra, manga, kiseki no ringo

PENDAHULUAN

Dewasa ini, untuk meningkatkan produksi pertanian penggunaan pestisida telah dirasakan sangat besar manfaatnya. Petani meyakini penggunaan pestisida dapat terhindar dari kerugian akibat serangan jasad pengganggu tanaman yaitu kelompok hama, penyakit, maupun gulma. Tetapi, dibalik manfaatnya yang besar bagi peningkatan produksi pertanian, terselubung bahaya yang mengerikan.

Kerugian berupa timbulnya dampak buruk penggunaan pestisida, yaitu berpengaruh negatif terhadap kesehatan manusia, terhadap kualitas lingkungan, dan dapat meningkatkan perkembangan populasi jasad penganggu tanaman (Girsang, 2009).

Ekokritik adalah kajian yang menghubungkan karya sastra dengan lingkungan (Endaswara, 2016:viii). Karya sastra merupakan suatu produk ciptaan sestrawan

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

551 yang mengandung pesan ekologis yang ingin disampaikan kepada pembacanya.

Ide, gagasan, pengalaman, dan amanat sastrawan digunakan untuk menyampaikan sebuah kepentingan ekologi untuk mengkritisi ataupun memperbaiki lingkungan agar semakin baik. Oleh sebab itu, melalui karya sastra sangat memungkinkan belajar tentang ekologi dan interaksi antar manusia dan alam.

Salah satu karya sastra di Jepang yang sangat kental diciptakan untuk kepentingan ekologi adalah Manga Kiseki no Ringo. Manga Kiseki no Ringo

‘Apel Ajaib’ karya Tsumoto Fujikawa (2013) merupakan adaptasi dari novel berjudul sama Kiseki no Ringo karya Takuji Ishikawa (2008) yang ditulis setelah melihat kisah perjuangan seorang petani Apel, Akinori Kimura, di Prefektur Aomori melalui program NHK berjudul "Way of Work Profesional" (2015).

Alasan dipilihnya manga ‘komik’ Kiseki no Ringo sebagai objek penelitian karena dalam manga ini hubungan manusia dan alam sangat erat digambarkan. Selain itu, manga merupakan bacaan yang sangat digemari semua kalangan usia, status sosial, dan pekerjaan di masyarakat Jepang.

Penelitian ini membahas representasi alam yang tergambar dalam unsur intrinsik dan usaha tokoh utama membuat apel tanpa pestisida dalam Manga Kiseki Ringo karya Takuji Ishikawa. Penelitian ini dilakukan agar masyarakat memahami dan dapat memperoleh pembelajaran mengenai hubungan manusia dan alam yang tercermin dalam unsure intrinsik Manga Kiseki Ringo karya Takuji Ishikawa.

METODOLOGI

Pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka (library research) dengan teknik catat, yaitu mencatat hal atau temuan data yang dijadikan model analisis data dalam objek kajian (Ratna, 2009: 39). Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan deskriptif analitik yaitu, (Ratna, 2009: 46). Sementara itu, teknik analisis data yang digunakan penelitian ini adalah teknik analisis konten (content analysis). Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori formal Russel (1997) digunakan demi menemukan jawab atas pertanyaan-pertanyaan tentang seluk beluk konflik, plot, tema, latar, bahasa, makna figurative, kesatuan

Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

552

waktu, dan lain sebagainya (Russel dalam Sarumpeat, 2010: 39). Sedangkan Teori Ekologi Sastra oleh Endaswara digunakan untuk mencari representasi alam yang tercermin dalam unsur intrinsik karya sastra dalam dalam Manga Kiseki Ringo karya Takuji Ishikawa.

PEMBAHASAN

Tema Manga Kiseki no Ringo

Tema manga Kiseki no Ringo (Apel Ajaib) adalah perjuangan melawan kemustahilan bertanam apel dengan pestisida alami. Berkat tekad yang kuat Akinori berhasil melawan kemustahilan menghasilkan buah apel dengan pestisida alami memerlukan bukanlah hal yang mudah, mereka harus hidup dalam penderitaan dan kemiskinan dalam jangka waktu yang panjang. Hubungan antara manusia dan alam yang erat digambarkan melalui perjuangan tokoh utama, Akinori Kimura, dan keluarga berkebun apel dengan pestisida alami disebabkan reaksi alergi Meiko, Istri Akinori, terhadap pestisida sintetis atau buatan.

Alur Manga Kiseki no Ringo

Manga “Kiseki no Ringo” merupakan manga untuk anak-anak. Deretan gambar-gambar pada komik menampilkan alur cerita. Agar mudah dipahami anak maka penulis menggunakan alur linier dengan teknik sorot balik hanya di awal cerita. Sepanjang perkembangan alur banyak aksi dan peristiwa yang dilakukan dan ditimpakan kepada tokoh yang ditampilkan secara berurutan dan enak diikuti hubungan sebab akibatnya. Cerita diawali dengan perkenalan tokoh utama, Akinori Kimura, yang telah berhasil berkebun apel tanpa pestisida. Di awal cerita diterangkan pula bahwa cerita manga ditulis berdasarkan buku catatan Akinori Kimura. Kemudian, alur sorot balik menceritakan kembali mengisahkan kehidupan masa kecil tokoh utama untuk menunjukkan karakter tokoh utama yang sejak kecil bercita-cita bekerja di kota dan tidak mau menjadi petani. Di pertengahan cerita dikisahkan alasan tokoh utama kembali ke desa untuk menjadi seorang petani dan berkebun apel tanpa pestisida. Konflik-konflik dalam manga

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

553 terjadi saat tokoh utama berjuang mewujudkan cita-cita berkebun tanpa pestisida.

Konflik batin para tokoh digambarkan ketika Akinori dan keluarga berulang kali mengalami kegagalan saat percobaan menggunakan pestisida dari berbagai bahan-bahan alami. Klimaks dalam manga dikisahkan saat Akinori merasa telah menyakiti keluarganya karena cita-citanya, ia bermaksud bunuh diri, tetapi saat itulah ia menemukan formula berkebun apel tanpa pestisida. Anti klimaks terjadi diakhir cerita saat Akinori berhasil memanen apel yang manis tanpa pestisida.

Hubungan manusia dengan alam dalam alur digambarkan melalui peristiwa-peristiwa kecil namun bermakna yang dialami tokoh utama secara tidak sengaja saat berkebun. Seperti, peristiwa rusaknya perkebunan apel milik para petani akibat taifu menyadarkan Akinori akan ketergantungann pertanian dengan alam (Kiseki no Rongo, 2013:29-30); Kesadaran bahwa dengan membuka lahan pertanian manusia telah merusak lingkungan hidup rakun digambarkan saat rakun mencuri hasil tanaman jagung Akinori (Kiseki no Rongo, 2013:49-50); Peristiwa bunuh diri yang akan dilakukan Akinori digagalkan oleh alam dengan patahnya ranting tempat ia mengikatkan tali (Kiseki no Rongo, 2013:118-110).

Latar Manga Kiseki no Ringo

Manga “Kiseki no Ringo” mengisahkan kehidupan Akinori pada tahun 1949 sampai pada tahun 2007. Latar waktu ditunjukkan pula dengan potongan-potongan gambar dalam manga yang melukiskan secara jelas peristiwa-peristiwa pembangun cerita kehidupan Akinori dalam manga “Kiseki no Ringo”. Latar tempat manga “Kiseki no Ringo” sebagian besar adalah daerah perkebunan apel di distrik Iwaki Perfektur Aomori, sekolah tempat Akinori bersekolah, daerah perkotaan tempat Akinori muda bekerja, stasiun kereta, dan pasar tempat Akinori memasarkan apelnya. Perfektur Aomori merupakan perfektur yang terletak di paling Utara Honshu, daerah pegunungan yang sangat cocok dengan perkebunan apel. Sesuai dengan tema cerita yang telah dipaparkan yaitu perjuangan seorang petani apel dalam meggapai kemustahilan di atas maka latar sosial yang digambarkan dalam manga berpusat pada kehidupan masyarakat petani apel di perfektur Aomori. Latar dalam manga “Kiseki no Ringo” digambarkan sama

Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

554

dengan lingkungan aslinya (gambar 1 dan 2). Selain itu, ditambahkan pula ilustrasi yang memudahkan pembaca memahami isi cerita (gambar 3).

Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3

Latar perkebunan apel Akinori (hal 162-163) Eksperimen Akinori (hal 80-81) Akinori memotivasi pohon apel (hal 133)

Penokohan Manga Kiseki no Ringo

Tokoh utama manga Kiseki no Ringo adalah Akinori Kimura sebagai tokoh sederhana. Tokoh Akinori berkarakter relatif konstan dari awal sampai akhir cerita. Tokoh tambahan yang sangat berperan dan berinteraksi intens dengan tokoh utama adalah keluarga Kimura, yaitu: Ibu dan ayah mertua Akinori, Meiko Kimura, istrinya, dan ketiga anaknya. Tokoh lain yang terdapat dalam manga adalah Keluarga Mikami, yang terdiri atas kakek, nenek, ayah, ibu, dan kakak laki-laki Akinori, sahabat Akinori Mocchan, dan teman-teman sekolah, serta para petani di sekitar perkebunan keluarga Kimura.

Pelukisan karakter tokoh-tokoh dalam manga dilakukan secara deskripsi langsung (telling) dan tidak langsung (showing) ditampilkan dengan gambar yang representatif. Tokoh utama, Akinori Kimura, lahir pada bulan Agustus 1949 di Perfektur Oomori, Distrik Nakatsugaru, Kota Iwaki. Ia adalah putra kedua keluarga Mikami, sebuah keluarga yang secara turun temurun adalah seorang petani Apel (Kiseki no Ringo, 2013: 11). Akinori menikah dengan Meiko Kimura, putri tunggal keluarga Kimura, setelah menikah Akinori menjadi mukoyoushi

‘putra angkat’ di keluarga Kimura sehinga namanya pun berubah menjadi Akinori Kimura.

Tokoh Akinori digambarkan seperti sosok aslinya, seorang pria bertubuh tinggi, kurus, dan berkaca mata, dan sejak kecil tidak tertarik pada pertanian.

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

555 Walaupun keluarganya membujukNya untuk menjadi seorang petani, tetapi Akinori yang sangat menyukai sains dan senang mengotak-atik benda-benda elektronik ini bercita-cita bekerja di kota. Akonori dikisahkan berhasil bekerja sebagai seorang teknisi di sebuah perusahaan di kota Kawasaki. Satu tahun kemudian, saat Akinori sangat menikmati pekerjaannya di kota datanglah surat yang mengubah jalan hidupnya, Kakak Akinori diterima menjadi pilot di Angkatan Udara dan iapun harus pulang meneruskan usaha keluarga menjadi seorang petani apel.

Akonori tidak menyukai bekerja sebagai pertani karena ia sadar bahwa bertani apel sangat tergantung dengan alam. Pendapatan dari hasil pertanian tidak menentu, bila alam sangat mendukung maka hasil pertanian dapat mencukupi bahkan mendapatkan untung besar, tetapi bila ada bencana alam, seperti taifu, serangan hama dan penyakit pada tanaman apel dapat mengakibatkan pendapatan menurun drastis. Salah satu cara mengatasai serangan hama dan penyakit pada tanaman apel adalah dengan penggunaan pestisida buatan. Walaupun menggunakan pestisida buatan apel yang diproduksi aman untuk dikonsumsi.

Dalam manga dikisahkan bahwa bagi para petani di Perfektur Aomori pestisida buatan adalah penolong petani apel. Barkat pemakaian pestisida petani apel meningkatan hasil pertanian buah apel karena pestisida dapat memberantas hama dan penyakit yang menggerogoti tanaman dalam waktu yang singkat sehingga berproduksi secara maksimal. Akinoripun sangat terkesan dengan pestisida buatan yang dapat dengan mudah dapat meningkatkan produksi buah apel. Berikut data percakapan Akinori dan istrinya yang sangat bersyukur berkat pestisida mereka dapat memanen apel yang melimpah.

③ 秋則 : 「うんすべては農薬のおかげだね。今年は農協から表彰を受けるほどた くさん散布したからね。 リンゴは農作物の中でも時にデリケートだから 病気も害虫も排除して効率よくリンゴを守ってあげなきゃ」

(奇跡のリンゴ, 2013:41) Akinori:“Iya, semuanya berkat pestisida ya. Tahun ini kita telah dapat melakukan banyak penyemprotan hingga kita mendapat pengakuan dari rekan-rekan bertani kita. Di antara buah-buah hasil pertanian yang lain, apel merupakan salah satu jenis buah yang paling rentan, sehingga kita harus melindungi apel dengan kualitas tinggi dengan cara menghilangkan penyakit dan hama”.

(Kiseki no Ringo, 2013:41)

Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

556

Hasil melimpah dari penggunaan pestisida juga dalam manga diakui oleh ayah mertua Akinori, menurut Mertua Akinori, panen buah apel yang berkualitas tinggi dan berjumlah besar berkat penggunaan pestisida (Kiseki Ringo, 2013:47)

Penggunaan pestisida dapat membantu petani, tetapi di sisi lain dapat berdampak buruk. Dalam manga “Kiseki no Ringo” Akinori mendapati bahwa pestisida tidak aman bagi petani. Berikut data penggunaan pestisida yang dapat berdampak buruk bagi petani.

④ 爺さん :「おいちゃんとマスクしろぶっ倒れちまうぞ」

秋則 :「安全にリンゴを作ることは無理だよな。だって…注意下記通り農薬

が手についたから洗 ってたら」

(奇跡のリンゴ, 2013:33)

Kakek: “Oi! Gunakan masker dengan benar, kau bisa pingsan”

Akinori: “Membuat apel dengan aman itu tidak mungkin ya. Habis... meskipun sudah dilakukan sesuai dengan petunjuknya, seperti apabila terkena tangan maka segera dicuci”

(Kiseki no Ringo, 2013:41)

Data (2) merupakan percakapan antara Akinori dan kakeknya ketika menyemprot pestisida pada tanaman apel. Dari percakapan tesebut Akinori dan Kakek harus berhati-hati dalam menggunakan pestisida karena dapat berakibat buruk bila terhirup ataupun bila mengenai kulit. Dampak buruk pestsida bagi kesehatan dirasakan pula oleh istri Akinori. Istri Akinori alergi terhadap pestisida, biasanya setelah melakukan penyemprotan di kebun Apel istri Akinori akan jatuh sakit sampi satu minggu. Ankinori berfikir selama mereka menggunakan pestisida maka istrinya akan sakit, Akinori yang sangat mencitai istrinya ini tidak ingin membuat istrinya menderita. Oleh sebab itu, Akinori bercita-cita bertani apel tanpa pestisida (Kiseki no Ringo, 2013:52).

Usaha mewujudkan cita-cita Akinori untuk mengurangi penderitaan istrinya dengan membuat apel tanpa pestisida tidak mudah, ia mengalami berbagai hambatan dalam waktu sekitar sepuluh tahun. Usaha yang dilakukan adalah tidak mudah menyerah dalam melakukan eksperimen. Atas seizin keluarga dan dengan berpedoman pada buku yang telah dibacanya, Akinori pun bereksperimen dengan menggunakan penggunaan kompos sebagai pupuk alami (Kiseki no Ringo, 2013:68) dan berbagai bahan alami sebagai pengganti pestisida. Akinori berpendapat bahwa penyakit apel berasal dari jamur dan bakteri maka

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

557 penyebarannya akan dapat dicegah dengan menemukan dan menebarkan benda yang dibenci oleh jamur dan bakteri, seperti bawang putih, wasabi, untuk membunuh bakteri (Kiseki no Ringo, 2013:74-75). Akinori juga menggunakan susu sapi, putih telur, gula merah, merica, cabe, kecap asin, garam, Miso’kaldu’, sake, shouchu ‘minuman keras jepang mengandung alcohol tinggi’, pati beras, tepung gandum, dan cuka (Kiseki no Ringo, 2013:80). Eksperimen dilakukan dengan cara pertama-tama harus mengubah semua bahan-bahan pupuk kimia menjadi kompos, kemudian mengubah frekuensi penyemprotan pestisida di empat bagian ladang apel, ladang disemprot pestisida seperti biasa yaitu tiga belas kali, enam kali, tiga kali, dan disemprot satu kali (Kiseki no Ringo, 2013:69) dan ladang apel pemberian orang tua Akinori dijadikan tempat eksperimen menanam tanpa bahan kimia sama sekali (Kiseki no Ringo, 2013:71). Selanjutnya, ladang apel yang dijadikan tempat eksperimen menanam tanpa bahan kimia ditambah, bahkan di semua ladang eksperimen. Selain eksperimen pada penyemprotan pestisida, Akinori melakukan eksperimen pada tanah dengan menanam padi di dua ratus botol dengan kondisi tanah yang berbeda (Kiseki no Ringo, 2013:87).

Hasilnya, pada tahun pertama sampai tahun ke enam, Akinori mengalami banyak kegagalan. Efek semprotan bahan alami yang digunakan pun beragam, dari membesarnya ukuran ulat bulu, siput, dan serangga Chigar, bertambahnya jumlah hama yang menyerang apel (Kiseki no Ringo, 2013:81), serangan daun menguning kemudian rontok, dan lain sebagainya, sehinga mengakibatkan pohon apel tidak berbunga. Selain itu, eksperimen berdampak pada berkurangnya pendapatan keluarga yang sangat drastis. Walaupun, diimbangi dengan menanam sayuran pada celah-celah kosong diantara pohon apel di ladang tanpa pestisida, seperti mentimun, tomat, kentang, dan sebagainya. Karena Akinori telah menggunakan hampir semua ladang untuk bereksperimen dan sampai tahun 1990 (tahun ke lima) maka pendapatan dari apel kosong (Kiseki no Ringo, 2013:83).

Ditambah lagi semua harta yang dimiliki telah digunakan untuk membiayai eksperimen. Oleh sebab itu, keluarga Akinori hidup sangat miskin dan menderita.

Pada Ahirnya saat Akinori yang tidak akan pernah menyerah dalam meraih mimpi ingin bunuh diri di hutan karena tidak ingin menyusahkan seluruh

Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

558

keluarga dengan impiannya, ia menemukan formula membuat tanaman kuat dari segala penyakit dan hama. Formula yang ditemukan adalah keadaan tanah. Tanah di hutan sangat subur, tanah hangat sampai ke dalam sehingga mikroba mudah berkembang biak. Selain itu, ia menemukan bahwa akar tumbuhan di hutan sangat kokoh sehingga pohon menjalarkan akarnya untuk mencari makanan yang diperlukan dan tumbuh dengan subur walaupun disekitarnya banyak hama dan penyakit yang menyerang. Dibandingkan dengan pohon yang ditanam di kebun yang selalu dirawat dan dimanja dengan pupuk dan pestisida pohon menjadi tidak perlu berusaha. Akinori menyimpulkan bahwa yang diperlukan adalah menjadi pohon yang kuat, yang mana pohon apel itu sendiri yang tidak boleh kalah dengan penyakit dan kuman (Kiseki no Ringo, 2013:123). Oleh sebab itu, sejak saat itu, Akinori membuat lingkungan kebun Apelnya seperti di hutan. Proses mengembalikan kesuburan tanah dan lingkungan seperti dihutan memerlukan waktu empat tahun. Sebagai pengganti pestisida, ia menyemprotkan cuka, tidak menyiangi, memberikan bahan-bahan agar tanah menjadi subur. Bahkan, Akinori pun memberikan motivasi kepada pohon apelnya untuk tumbuh dengan kuat (gambar 3). Kesadaran tokoh utama bahwa mekanisme alam yang harmoni merupakan kunci dari pembuatan apel tanpa pestisida merupakan representasi dari ekologi sastra.

SIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengarang Manga Kiseki no Ringo mengangkat kisah nyata perjuangan seorang petani Apel tanpa mengunakan pestisida di daerah Aomori, Jepang. Pengarang menampilkan tokoh, peristiwa, dan keadaan lingkungan secara riil dibalut dengan penyajian yang menarik dalam struktur karyanya. Hal ini dilakukan untuk menggugah para anak muda yang gemar membaca manga tergugah, peduli, dan turut berjuang tanpa pantag menyerah memperbaiki lingkungan.

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

559 DAFTAR PUSTAKA

Endaswara, Suwardi, dkk. 2016. Sastra Ekologis:Teori dan Praktik Pengkajian.

Caps: Yogyakarta.

Girsang, Warlinson. 2009. “Dampak Negatif Penggunaan Pestisida”. Diunduh dari https://usitani.wordpress.com/2009/02/26/dampak-negatif-penggunaan-pestisida/ pada tanggal 30 Januari 2017.

Ishikawa, Takuji dan Tsutomo Fujikawa. 2013. Kiseki no Ringo. Jepang:

Gentosha Comics

Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Srukturslisme hingga Poststrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Yogkarta:

Pustaka Pelajar

Sarumpaet, Riris K-Toha. 2010. Pedoman Penelitian Sastra Anak. Jakarta:

Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

560

Dokumen terkait