DALAM PERKEMBANGAN PEMIKIRAN EKONOMI
C. Ekonomi Islam
Sebagaimana konsep ekonomi kapitalis dan ekonomi kerakyatan, ekonomi Islam dalam studi ini juga membahas efisiensi dalam pendayagunaan kapital, hak dan kewajiban
123
Dihapuskannya secara keseluruhan Penjelasan Pasal 33 UUD 1945, secara otomatis menjadikan hapusnya kata “koperasi” sebagai
bangun usaha yang sesuai dengan demokrasi ekonomi atau asas kekeluargaan. Perlu diingat bahwa walaupun secara implisit kata koperasi tidak tercantum dalam pasal 33 UUD 1945 Pasca Amandemen, namun secara ekplisit koperasi harus tetap diakui sebagai “soko guru” dalam
perekonomian nasional. Lihat Mubyarto, Amandemen Konstitusi dan Pergulatan Pakar Ekonomi (Yogyakarta: Aditya Media, 2003). Presiden Soeharto dalam pidatonya tanggal 27 Juli 1987 menegaskan:
“Pembangunan koperasi Indonesia bukan hanya merupakan selera pemerintah atau selera presiden sebagai mandataris, tetapi merupakan amanat rakyat, dengan dasar idiil Pancasila, landasan konstitusional UUD 1945,serta amanat GBHN. Oleh karena itu, mutlak harus dilaksanakan. Tidak seorangpun warga negara Indonesia yang bisa mengelak dari jiwa dan semangat konstitusi. Dan harus yakin bahwa apa yang diamanatkan kosntitusi harus dapat dilaksanakan”.
bersama, sistem nilai, dan kebersamaan peluang dari aspek kemitraan, bantuan, dan pengembangan Sumber Daya Manusia. Menjawab kajian tersebut digali dari pemikiran Mannan124, Ash-Shadar,125 Chepra,126 Naqvi,127 Essid,128 Sarkaniputra,129 Suma130, Rivai131. Selanjutnya, beberapa ilmuwan yang membahas teori maqa>s}id al-Shari>‟ah seperti Raisuni>, Naża>riyat al-Maqa>s}id „inda al-Ima>m al-S}at}ibi, dan Effendi dalam kajian Maqa>s}id
al-Shari>‟ah dan Perubahan Sosial dan Usul fiqh.132
Kapital mengandung arti barang yang dihasilkan oleh alam semesta, termasuk manusia, adalah milik Allah, yang
124
Muhammad Abdul Mannan, the Making of Islamic Economic Society: Islamic Dimensions In Economic Analysis (Islamabad: International Association of Islamic Banks).
125
Muhammad Baqir S}ada>r dan M Hashem, Keunggulan Ekonomi Islam: Mengkaji Sistem Ekonomi Barat dengan Kerangka Pemikiran Sistem Ekonomi Islam; M Nur Mufid; Ilyas Hassan,
Falsafatuna: Pandangan Muhammad Baqir Ash-S}adr Terhadap Berbagai Aliran Filsafat Dunia (Bandung: Mizan, 1991).
126
Lihat Bill Maurer, Mutual Life, Limited: Islamic Banking, Alternative Currencies, Lateral Reason (Princeton,N.J.: Princeton University Press, 2005), 172; Institute for Research in Biography (New York, N.Y.), World Biography. (Bethpage [etc.] N.Y., Institute for Research in Biography).
127
Syed Nawab Haider Naqvi, Islam, Economics, and Society
(London; New York: Kegan Paul International, 1993).
128
Yassine Essid, a Critique of the Origins of Islamic Economic Thought (Leiden: Brill, 1995).
129
Murasa Sarkaniputra, Ruqyah Syar‟iyyah: Teori, Model dan Sistem Ekonomi. General Equilibrium Ghazali-Khaldun-Syatibi Melalui Analisis Leontif-Sraffa.
130
Muhammad Amin Suma, Menggali Akar Mengurai Serat Ekonomi dan Keuangan Islam (Jakarta: Kholam Publishing, 2008), terutama pada Etika Bisnis dalam Islam.
131
Veithzal Rivai, Islamic Human Capital (Jakarta: Radjagrafindo, 2009).
132
Amir Mahmud, Islam dan Realitas Sosial di Mata Intelektual Muslim Indonesia (Jakarta: Edu Indonesia Sinergi, 2005).
memiliki kemahakuasaan (kedaulatan) sepenuhnya dan sempurna atas makhluk-Nya. Manusia, tanpa diragukan, merupakan tatanan makhluk tertinggi diantara makhluk-makhluk yang telah dicipta-Nya, dan segala sesuatu yang ada di muka bumi dan di langit ditempatkan di bawah perintah manusia. Dia diberi hak untuk memanfaatkan semuanya ini sebagai khalifatullah atau pengemban amanat Allah.
Manusia diberi kekuasaan untuk melaksanakan tugas kekhalifahan ini dan untuk mengambil keuntungan dan manfaat sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuannya dari barang-barang ciptaan Allah ini atau buatan manusia, yang diperlukan bukan untuk memenuhi secara langsung keinginan manusia, tetapi untuk membantu memproduksi barang lain yang nantinya akan dapat memenuhi kebutuhan manusia secara langsung dan menghasilkan keuntungan. Produktifitas dan distribusi dalam konsep ekonomi Islam bersandarkan pada nilai-nilai dasar bahwa harta dan kegiatan ekonomi sebagai wasi>lah al-haya>t, sekaligus aturan-aturan yang melingkari sekitarnya.133
Dunia ini, semua harta dan kekayaan sumber-sumber adalah milik Allah dan menurut kepada kehendak-Nya (QS. al-Baqarah [2]: 6; QS. Al-Ma>idah [5]: 120). Manusia sebagai khalifah-Nya hanya mempunyai hak khilafat dan tidak absolut dan wajib melaksanakan hukum-hukumnya, serta menjauhi larangannya. Kepemilikan oleh manusia bersifat relatif dan hanya sebatas untuk melaksanakan amanat mengelola dan memanfaatkannya sesuai dengan ketentuannya (Q.S. al-Hadi>d [57]: 7). Mereka yang menyatakan pemilikan eksklusif tidak terbatas berarti ingkar kepada kekuasaan Allah. Karenanya, hal yang sering
133
Lihat Masyhuri, Kajian Teori Ekonomi dalam Islam (Jakarta: Pusat Penelitian Ekonomi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2003).
menjadi objek kajian adalah perihal barang dan jasa,
”barang” dalam al-Qur‟an dan al-Hadis disebut dengan
”ma>” (ام) (Q.S. al-Baqarah [2]: 168; Q.S. Yunus (11): 24. Dalam tata bahasa Arab, kata ma (ام) dalam kedua ayat diatas masing-masing terdapat pada kata ”ku llu-min-ma>-fi> al ard}i hala>lan t}ayyiban dan min ma> ya‟kulu>, biasanya digunakan untuk menyebut semua benda/barang apapun diluar makhluk berakal (manusia) yang lazim menggunakan kata ”man”. dengan kalimat lain, kata “man”
(نم) biasa digunakan untuk menyebut orang, sedangkan
kata ”ma>”digunakan untuk menyebut ”barang”. Termasuk atau malahan terutama ”barang” yang digunakan oleh ilmu ekonomi.134
Hanya saja, berlainan dengan ekonomi konvensional
yang membedakan ”barang” dan ”jasa” semata-mata dari sudut pandang ekonomi dan kepentingan-kepentingan yang bersifat pragmatis-ekonomis, ekonomi Islam membedakan
”barang” dari sudut pandang filosofis, nilai guna dan
dampak yang ditimbulkannya. Disinilah justru terletak ciri khusus pengertian barang dalam sistem ekonomi Islam yang membedakannya dari sistem-sistem ekonomi konvensional.135
Berdasarkan sumber hukum ekonomi yang dianutnya, para ahli hukum Islam (fuqaha) telah lama membagi barang (al-a‟ya>n, kata tunggalnya ‟ain) ke dalam beberapa bagian. Ibnu Rusd (520-595 H) membagi
134
Lihat Muhammad Sulaiman et.al., Jejak Bisnis Rasul (Jakarta: Hikmah, 2010); Hilman Latief, Melayani Umat: Filantropi Islam Dan Ideologi Kesejahteraan Kaum Modernis (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010).
135
Muhammad Amin Suma, Menggali Akar Mengurai Serat Ekonomi dan Keuangan Islam; lihat juga Muhammad, Kebijakan Fiskal dan Moneter dalam Ekonomi Islam (Jakarta: Salemba Empat, 2002); M Dawam Rahardjo, Islam dan Transformasi Sosial-Ekonomi (Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat, 1999).
al-a‟aya>n (barang) ke dalam barang najis (naja>sat) dan barang tidak najis (ghair naja>sat). Dilihat dari sudut pemanfaatannya, barang (al-a‟ya>n) dapat dibedakan ke dalam barang berharga (mutaqawwim) dan barang tidak berharga (ghair mutaqawwim). Dilihat dari segi tujuan penggunaan dan dampak yang akan ditimbulkannya, barang juga bisa dibedakan ke dalam barang mas}lahat (berdampak positif) dan barang madarat (berdampak negatif/berbahaya).136
Diantara barang maslahat ialah: barang-barang yang tujuan dari produksi, distribusi, pembelian dan kepemilikannya dimaksudkan untuk memberikan manfaat bagi konsumen dan bahkan orang lain pada umumnya. Sebutlah diantara contohnya, yaitu kelengkapan rumah tangga, kendaraan bermotor, sarana komunikasi. Tetapi ketika produsen, distributor tahu benar bahwa barang yang diproduksi, didistribusikan dan dijualnya itu hampir dapat dipastikan atau di duga kuat akan disalah-gunakan konsumen, misalnya senjata untuk merampok, maka dalam ekonomi Islam penjual diharamkan menjual barang-barang dagangannya kepada siapapun yang jelas-jelas diketahui bahwa barang itu oleh pembeli atau pemakaianya akan digunakan dalam hal-hal yang membahayakan kehidupan manusia tersebut.
Pemilihan barang dan kehati-hatian hampir tidak dijumpai dalam ekonomi konvensional tidak seperti ekonomi Islam dengan konsep ihtiya>t} yaitu: prinsip hatian dalam wilayah etika dan moral, bukan kehati-hatian hanya pada uang dan untung ataupun tuntutan pasar. Karakteristiknya diuraikan oleh Mannan bahwa kekhasan konsep Islam mengenai hak milik pribadi terletak pada
136
Lihat Ahmad bin Abdurrazzaq al-Duwaisy, Fata>wa al-Lajnah al-Da>imah li al-Buhu>ts al-Ilmiyyah wa al-Ifta‟ (Riyadh: Da>r al As}imah, 2000).
kenyataan bahwa dalam Islam, legitimasi hak milik tergantung pada moral yang dikaitkan padanya, seperti juga jumlah matematika tergantung pada tanda aljabar yang dikaitkan padanya. Dalam hal ini, lagi-lagi Islam berbeda dengan kapitalisme dan komunisme, karena tidak satupun dari keduanya itu yang berhasil dalam menempatkan individu selaras dalam suatu mosaik sosial. Hak milik pribadi merupakan dasar kapitalisme, sedang penghapusannya merupakan sasaran pokok ajaran sosialisme.137
Syariat mengajarkan bahwa harta hanya sebagai perhiasan, dan manusia sebagai salah satu makhluk yang berasal dari substansi yang sama memiliki perasaan dan sikap untuk menguasai dan menikmati harta dengan tidak berlebih-lebihan (QS. ali-Imra>n [3]: 14). Sedangkan perbedaan jumlah harta tidaklah menunjukkan tingkat kedekatan kepada Allah Swt. perbedaan terletak pada ketaqwaan, dan perbuatan amal salehnya. (Q.S.al-Baqarah [2]: 213; QS. al-Mu‟min [40]: 13). Sedangkan, ketidakmerataan karunia nikmat dan kekayaan sumber-sumber ekonomi kepada perorangan maupun bangsa adalah kuasa pula, agar mereka diberi kelebihan untuk menegakkan sikap egalitarian, yakni pandangan dimana manusia itu mempunyai harkat dan martabat yang sama sesuai dengan Allah berikan, yaitu predikat mulia terhadap seluruh umat manusia.138
Gagasan seorang individu yang menciptakan suatu benda bertanggungjawab atas wujud benda itu sebagai
137
Muhammad Abdul Mannan, Ekonomi Islam: Teori dan Praktek (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1993); lihat juga Iwan Triyuwono, Organisasi dan Akuntansi Syari'ah (Yogyakarta: LKiS, 2000).
138
Moeslim Abdurrahman, Islam sebagai Kritik Sosial (Jakarta: Erlangga, 2003); R. Lukman Fauroni, et al, Etika Bisnis dalam Al-Qur'an
pemiliknya, dan ia memiliki klaim penuh atasnya. Sebagaimana individu memiliki kebebasan bertindak berkenaan dengan dirinya, ia juga memiliki klaim yang tak terbantah atas apa saja yang diciptakannya. Atas pertimbangan ini, kepemilikan sebagai hasil kerja seseorang dan bentuknya yang disadari olehnya, dianggap sebagai hal yang natural dan logis. Kedua konsep di atas merupakan doktrin etis Islam: yaitu Tuhan sebagai pemilik Mutlak atas segala sesuatu (Q.S. ali-Imra>n [3]: 189). Sementara manusia hanya menjadi wakilnya di bumi (QS al-Baqarah [2]: 30). Dari premis pertama tersebut, selanjutnya dapat ditarik premis kedua bahwa manusia dalam kehidupan sosial yang ada, memiliki suatu klaim kepemilikan, baik yang bersifat individual maupun kolektif.
Dari premis awal pula, logika menetapkan bahwa produsen suatu barang dinisbahkan sebagai pemiliknya. Atau dengan kata lain, seorang manusia yang memiliki diri otentik diamanatkan sebagai pemilik kerjanya maupun produk kerjanya. Ini merupakan salah satu asal usul kepemilikan insaniah: yaitu Pertama, kerja kreatif. Kerja kreatif dapat dianggap sebagai sumber kepemilikan karena dapat menciptakan nilai konsumsi baru dan meningkatkan kualitas dan kuantitas nilai konsumsi keseluruhan yang ada. Tingkatan kepemilikan individu atas komoditas yang diproduksinya dapat diukur oleh kontribusinya dalam proses produksi tersebut. Dalam hal ini, kerja produktif yang dimaksud mencakup baik aktivitas langsung maupun tidak langsung yang memberikan tambahan bersih pada kuantitas dan kualitas barang.
Al-Qur‟an menggunakan konsep produksi dalam
artian luas, dan lebih menekankan pada perolehan manfaat dari barang yang akan diproduksi, yaitu harus memiliki hubungan dengan kebutuhan hidup manusia. Kegiatan memproduksi barang-barang secara
berlebihan dan tidak sesuai dengan kebutuhan manusia dianggap sebagai kegiatan yang tidak produktif. Sebagai ujian keimanan, manusia diberikan langkah-langkah bagaimana mendapatkan dan memanfaatkannya secara baik dan benar. Seperti melalui keimanan pada hari kiamat sangat mempengaruhi tingkah laku dalam bermuamalah menurut horison waktu. Salah satu contoh, seorang muslim yang mendayagunakan akan mempertimbangkan akibatnya pada hari perhitungan (kiamat). Artinya, menurut dalil ekonomi orang akan mempertimbangkan manfaat dan biaya (benefit-cost) dalam memilih kegiatan ekonomi dengan menghitung nilai sekarang dari hasil yang akan dicapai pada masa datang. Hasil kegiatan mendatang ialah semua yang diperoleh baik sebelum maupun sesudah mati. Artinya, iman kepada hari kiamat akan mempengaruhi langsung tingkah laku ekonomi yang dipilih seorang muslim, dan lebih bernilai daripada sekedar teori siklus hidup suatu barang ekonomi, karena horison waktunya menjangkau pula keadaan setelah mati (extended time horizon).139
Konsep ekonomi Islam menilai bahwa kepemilikan harta dapat dilakukan melalui usaha (a‟ma>l) yang halal sesuai dengan aturan-Nya. Banyak sekali ayat-ayat Alquran dan hadits yang menerangkan hukum dalam berusaha.140 Disamping itu, secara fisik terdapat dua jenis kapital, yaitu
139Ahmad Muflih Saefuddin, “Filafat, Nilai Dasar, Nilai Instrumental, dan Fungsionalisasi Konsep Ekonomi Islam,” dalam Solusi Islam atas Problematika Umat, Adi Sasono, et.al (Jakarta: Gema Insani Press, 1998); R. Lukman Fauroni, Etika Bisnis dalam Al-Qur'an
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006).
108
Lihat Q.S. al-Mulk [67]: 15, Q.S. al-A‟ra>f [7]: 10; Q.S. al -Qas}a>s} (28): 77; Q.S. Hu>d [11]: 61, Q.S.al-Jumu‟ah [62]: 10; Q.S an -Nisa> [4]: 32.
fixed capital dan circulating capital.141 Kapital dalam konsep shari>‟ah tetap pada umumnya dapat disewakan, tetapi tidak dapat dipinjamkan (qard}). Sedangkan modal sirkulasi yang bersifat konsumtif bisa dipinjamkan (qard}) tetapi tidak dapat disewakan. Modal yang produktif bila dapat menjadi faktor pendukung dalam memproduksi barang-barang produksi, mempunyai kekuatan untuk menghasilkan barang-barang dalam jumlah yang lebih besar, menghasilkan nilai harga (price) yang dapat dinikmati sesuai dengan tingkat kebutuhan dan keuangan masyarakat.142 Contoh dalam hubungannya dengan upaya menghindari segala bentuk perselisihan masalah modal, maka kontrak mud}a>rabah harus merinci dengan jelas jumlah modalnya. Ini dapat diwujudkan jika jumlah modal dinyatakan dalam satuan mata uang.
Modal mud}a>rabah tidak boleh berupa suatu hutang yang dipinjam mud}a>rib pada saat dilansungkannya kontrak mud}a>rabah. Tak satu pun dari empat mazhab fiqh Sunni yang mengizinkan suatu kontrak dimana kreditur meminta debitur untuk menjalankan mud}a>rabah berdasarkan pengertian bahwa modal kongsi adalah hutan calon mud}a>rib kepada investor. Alasan pelarangan ini, tampaknya karena dalam kontrak semacam ini, si investor dapat dengan mudah menggunakan mud}a>rabah sebagai alat untuk memperoleh kembali hutangnya sekaligus mungkin mengambil untung darinya. Mengambil untung
141
Lihat Muhammad Nejatullah Siddiqi, Some Aspects of the Islamic Economy (Delhi: Markazi Maktaba Islami, 1972); Muhammad Baqir S{ada>r, Islam and Schools of Economic.
142
Muhammad Baqir S{ada>r, Keunggulan Ekonomi Islam: Mengkaji Sistem Ekonomi Barat dengan Kerangka Pemikiran Sistem Ekonomi Islam; lihat juga Didin Hafiduddin, Islam Aflikatif (Jakarta: Gema Insani Press, 2003).
dari suatu hutang dipandang sebagai riba yang diharamkan dalam hukum Islam.143
Menurut Ibn Rusyd, Malik (w. 179/796) tidak mengizinkan hal itu, karena khawatir kalau hal itu menjurus kepada bentuk riba yang dipraktikkan pada masa pra-Islam. Jika si debitur dalam kesulitan keuangan, si kreditur mungkin mengeksploitasi situasi kesusahan debitur, dan mungkin pula mendiktekan syarat-syarat yang tak masuk akal dalam kontrak mud}a>rabah mereka. Si debitur mungkin tidak akan punya pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak si kreditur. Untuk menghindari eksploitasi semacam inilah tampaknya para fuqaha menutup jalan ini bagi investor. Investor harus menyerahkan modal mud}a>rabah kepada mud}a>rib agar kontrak ini menjadi sah. Mud}a>rib bebas menginvestasikan dan menggunakan modal tersebut dalam batas-batas klausul kontrak mud}a>rabah yang secara umum menetapkan jenis usaha yang dipilih, jangka waktu kongsi, dan lokasi-lokasi tempat mud}a>rib boleh menjalankan usahanya.144
Konsep tersebut berhubungan pula dengan konstruk ajaran Islam yang mencakup dua dimensi pokok, yakni dimensi vertikal (hablun min Alla>h) dan dimensi horizontal (hablun min al-na>s). Keduanya mempunyai arti ibadah, yakni ketaatan seseorang hamba kepada Allah Swt. Kualitas tertinggi dari ketaatan yang bersifat vertikal adalah taqwa, sementara kualitas tertinggi dari ketaatan yang bersifat horizontal adalah berlaku adil. Kejujuran merupakan salah satu tangga untuk mencapai tingkat adil yang dimaksud. Dimensi
143
Abdullah Saeed, Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis, diterjemahkan oleh Arif Maftuhin (Jakarta: Paramadina, 2006).
144
Abdullah Saeed, Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis.
vertikal dalam ajaran Islam bersifat mahdah, yakni ibadah yang telah ditentukan cara pelaksanaannya dan tidak bisa direkayasa, sementara dimensi horizontal bersifat ghairu mah}d}ah, menyeluruh dan mujmal, yang meliputi segala aspek kehidupan, yang masih harus difahami dan ditafsirkan.145
Konsep circulating capital, uang tidak akan mendapatkan return on capital dalam bentuk upah sewa seperti dalam ijarah. Karena uang dalam Islam bukan komoditas yang bisa disewakan atau dijualbelikan dengan kelebihan. Ia dibutuhkan sebagai alat tukar saja.146 Uang juga memiliki return on capital bila dikembangkan dalam bentuk akad mud}arabah. Ia juga dapat dipinjamkan (qard}), tetapi tidak diperbolehkan pengembaliannya melebihi pokoknya. Kelebihan demikian masuk dalam kategori riba.147 Karenanya uang tidak memenuhi syarat sebagai sebuah komoditas.148 Konsep pengembangan kapital dalam ekonomi Islam sangat terkait dengan konsep kepemilikan Islam. Menurut Islam, kepemilikan pada dasarnya adalah sebagai naluri alamiah yang dimiliki
145
M. Umer Chapra, the Future of Economics: an Islamic Perspective
(Leicester: The Islamic Foundation, 2000); sebagai perbandingan Ahmad al-Raysuni, Naz}ariyah al-Maqa>sid „inda al-Ima>m al-Sha>tibi (Riyad}: Dar al-„Alamiyyah Kita>b al-Isla>mi, 1992).
146Muhammad Khali>k Bar‟i, Ali Hafi>z Manshu>r, Muqaddimah fi> Iqt}is}a>diyyah al-Nuqu>d wa al-Bunu>k (Kairo: Maktabah al-Shuru>q}, tt). Kajian lengkap konsep mata uang lihat Ahmad Hasan, Mata Uang Islami: Telaah Komprehensif Sistem Keuangan Islami (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005).
147
Ahmad bin Abdurrazzaq al-Duwaisy, Fata>wa Lajnah al-Da>imah li al-Buhu>ts al-Ilmiyyah wa al-Ifta‟ (Riyadh: Da>r al As}imah, 2000).
148
Penjelasan lengkap kajian uang dalam perspektif lihat Muhammad Amin Suma, Menggali Akar, Mengurai Serat: Ekonomi dan Keuangan Islam. Lihat juga Ahmad Hasan, Mata Uang Islami, Telaah Komprehensif Sistem Keuangan Islami.
manusia, dan hanya berfungsi sebagai sarana penunjang untuk mencapai tujuan yang lebih besar, karena semua yang ada di muka bumi (termasuk harta) adalah milik Allah Swt. Sehingga, dalam konsep ekonomi Islam kepemilikan itu haruslah merata, dan tidak terfokus pada beberapa golongan saja, serta dalam mendapatkan dan mengembangkannya haruslah melalui cara-cara yang sesuai dengan ketentuan ajaran agama.
Konsep ekonomi Islam tidak memberikan toleransi pengembangan kapital dengan menggunakan spekulasi semata, dengan jalan riba berupa pengambilan keuntungan dengan cara mengeksploitasi tenaga orang lain, atau jalan penipuan (al-ghabn atau at-tadli>s), dan penimbunan bertujuan menunggu waktu naiknya harga barang-barang tersebut, sehingga ia bisa menjualnya dengan harga tinggi menurut kehendaknya. Pada dasarnya ekonomi Islam mendasarkan pada prinsip peningkatan dan pembagian hasil untuk menciptakan sirkulasi yang benar dan tepat bagi setiap golongan masyarakat dengan latar belakang perekonomian yang berbeda. Hak miliki pribadi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi milik umum. Di antara hal penting yang diungkapkan ajaran Islam, adalah penetapan antara pemilikan bersama menyangkut benda-benda yang bersifat d}aru>ri (yang sangat dibutuhkan bagi semua manusia), sehingga kepemilikannya bersifat bersama dan umum.149
Sejalan dengan kapital itu juga, ekonomi Islam memberikan keterkaitan sebagai masyarakat zoon politicum, yaitu memberikan pinjaman modal untuk digunakan sebagai modal usaha, sehingga dapat dikembangkan lagi menjadi lebih besar, ataupun dengan memberikan modal kepada seseorang dengan perjanjian
149
Ikhwan Abidin Basri, Menguak Pemikiran Ekonomi Ulama Klasik (Solo: Aqwan, 2008).
membagi hasil yang didapat sesuai perjanjian (mud}a>rabah).150 Secara teknis, konsep dimaksud adalah kerjasama usaha antara dua pihak. Pihak pertama sebagai penyedia modal, pihak kedua sebagai pengelola, yang keduanya bergabung sebagai mitra usaha. Kemitraan tersebut dituangkan dalam sebuah master of understanding (nota kesepahaman) dengan segala pasal-pasal yang tertera didalamnya, baik keuntungan maupun kerugian, serta hal-hal yang berhubungan dengan human error.151 Secara tersirat mudharabah menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia itu mempunyai kekurangan yang memerlukan orang lain sebagai patner atau mitra, kekurangan tersebut tidaklah manusia disuruh untuk bersifat fatalis, menerima apa adanya tanpa mau berusaha. Oleh karenanya mud}a>rabah merupakan salah satu jalan untuk berbuat atas kekurangan yang dimiliki dan kelebihan yang dipunyai orang lain, ataupun sebaliknya (Q.S. al-Muzammil [73]: 20). Rasulullah saw sebelum menjadi rasul telah melakukan mud}a>rabah dengan Khadi>jah ra, beliau mendapatkan modal dari Khadi>jah ra dan beliau pergi berniaga ke negeri Syam.152
Nilai efisiensi berkeadilan dalam aspek pendayagunaan kapital, berarti optimalisasi kapital baik untuk kepentingan pemilik maupun untuk kepentingan masyarakat, karena itu pendayagunaan kapital dapat
150
lihat juga Karnaen A. Perwataatmadja, Membumikan Ekonomi Islam di Indonesia (Jakarta: Usaha Kami, 1996).
115
Abdul Hamid Mahmu>d al-Ba>‟ly, al-Madkha>l li al-Fiqhi al Banu>k al-Isl>miyah (Kairo: al-Ma‟had al-Dauli li Bu>nuk wa al-Iqtisha>di al-Isla>miah, 1983).
152
M. Suyanto, Muhammad Business Strategy and Ethics
(Yogyakarta: Andi Offset, 2008). Lihat juga Muhammad Syafe`i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani Press, 2001). Adhiwarman A. Karim, Ekonomi Islam: Suatu Kajian Temporer (Jakarta: Gema Insani Press, 2001).
disewakan, sebab benda-benda yang ketika manfaatnya dinikmati tidak berkurang eksistensi substansinya. Sementara modal sirkulasi yang bersifat konsumtif dapat dipinjamkan, tapi tidak dapat disewakan. Ekonomi Islam juga mengenal nilai-nilai sosial dan humanitarin yang merupakan ultimat goal yang dilakukan oleh sistem ekonomi Islam. Tindakan ekonomi individu melalui proses