• Tidak ada hasil yang ditemukan

DALAM PERKEMBANGAN PEMIKIRAN EKONOMI

B. Ekonomi Kerakyatan

Sejarah ekonomi di Indonesia memunculkan istilah ekonomi rakyat yang diciptakan oleh Mohammad Hatta,53 kemudian muncul berbagai konsep berdasarkan istilah Hatta seperti ekonomi kerakyatan ataupun ekonomi Pancasila sebagai watak atau tatanan ekonomi rakyat.54 Konsep-konsep tersebut bukan ekonomi penyantunan kepada kelompok masyarakat yang kalah dalam persaingan, tetapi, ekonomi kerakyatan adalah tatanan ekonomi dimana aset ekonomi dalam perekonomian nasional didistribusikan kepada sebanyak-banyaknya warga negara.55 Pemberdayaan

53

Sri-Edi Swasono, Kelengahan Kultural dalam Pemikiran Ekonomi: Pancasila Pasal 33 UUD 1945 Koperasi Entrepreneurship-Kooperatif (Jakarta: Bappenas, 2011).

54

Konsep ekonomi Pancasila yang dikembangkan Mubyarto dan Sri-Edi Swasono (1981) misalnya walaupun memiliki ciri dan penggambaran yang berbeda, Mubyarto melalui analisis sosialis, dan Sri-Edi Swasono lewat penggambaran nilai-nilai Pancasila dan Shari>‟at

Islam, namun arahnya untuk membangun ekonomi kerakyatan di Indonesia berdaya guna lewat payung UUD 1945 terutama pasal 33 dan menegaskan komitmen untuk menolak self-interest dan konsep homo-economicus Adam Smith mengikuti pemikiran Mohammad Hatta. Lihat, Sri-Edi Swasono, Tentang Demokrasi Ekonomi dan Pasal 33 UUD 1945

(Jakarta: BAPPENAS, 2008).

55

Herman Haeruman J. S. dan Eriyanto, Kemitraan dalam Pengembangan Ekonomi Lokal: Bunga Rampai (Jakarta: Yayasan Mitra Pembangunan Desa-Kota: Business Innovation Center of Indonesia, 2001); lihat juga H. Moh Ali Aziz; Rr Suhartini; A Halim, Dakwah Pemberdayaan Masyarakat: Paradigma Aksi Metodologi (Yogyakarta: Pustaka Pesantren atas Kerjasama dengan Dakwah Press, Fakultas Dakwah, IAIN Sunan Ampel Surabaya: Distribusi, LKiS Pelangi Aksara, 2005). lihat juga Ahmad Syahbandi, Mardi Yatmo Hutomo, Mandiri untuk Kejayaan Indonesia (Jakarta: Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat [di] Daerah, Badan Perencanaan Pembangunan Nasonal [Bappenas]: Spasiwidya Consultant, 2000).

masyarakat dalam pembangunan ekonomi dimaksudkan untuk: (1) menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang, (2) memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat, (3) melindungi yang lemah dalam menghadapi yang kuat.56 Ada dua dasar yang melandasi konsep pembangunan yang berpusat pada rakyat, yaitu:

Pertama, memusatkan pemikiran dan tindakan kebijaksanaan pemerintah pada penciptaan keadaan yang mendorong dan mendukung usaha-usaha rakyat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri, dan untuk memecahkan masalah-masalah mereka sendiri pada tingkat individual, keluarga, dan komunitas. Realitas di era pasar global orientasi industrialisasi berbasis pada modal besar dan teknologi tinggi, namun kurang berdasar atas kekuatan ekonomi rakyat. Pengalaman Taiwan, sebagai perbandingan, justru menunjukkan ekonominya dapat tumbuh pesat, karena ditopang oleh sejumlah usaha kecil dan menengah yang disebut community-based industry. Perkembangan industri modern di Taiwan, yang sukses menembus pasar global, ternyata ditopang oleh kontribusi usaha kecil dan menengah yang dinamik. Keterkaitan yang erat antara pengusaha besar dan pengusaha kecil lewat program subcontracting terbukti mampu menciptakan sinergi yang menopang perekonomian Taiwan. Hanya saja strategi industrialisasi yang banyak mengandalkan akumulasi modal, proteksi, dan teknologi tinggi telah menimbulkan polarisasi dan dualisme dalam proses pembangunan. Fakta menunjukkan sektor manufaktur yang

56

Masaaki Satake, People's Economy: Philippine Community-Based Industries and Alternative Development (Manila, Philippines: Solidaridad Pub. House, 2003). Lihat juga Adi Sasono dan Achmad Rofi'ie, People's Economy (Jakarta: Southeast Asian Forum for Development Alternatives, 1988).

modern hidup berdampingan dengan sektor pertanian yang tradisional dan kurang produktif. Dualisme dalam sektor manufaktur juga terjadi antara industri kecil dan rumah tangga yang berdampingan dengan industri menengah dan besar.

Kedua, mengembangkan struktur dan proses organisasi yang berfungsi menurut kaidah-kaidah sistem yang swa-organisasi. Mengembangkan sistem produksi konsumsi yang diorganisasi secara teritorial yang berlandasan pada kaidah-kaidah pemilikan dan pengendalian lokal.57 Pertanyaan dasar sub judul ini adalah bagaimana perspektif ekonomi kerakyatan dalam hal: (1) efisiensi pendayagunaan kapital dalam membangun, menguatkan dan meningkatkan barang dan jasa secara efisien untuk mencapai kemakmuran; (2) efisiensi hak dan kewajiban; (3) efisiensi sistem nilai; (4) efisiensi kebersamaan peluang dari aspek kemitraan, bantuan, dan pengembangan Sumber Daya Manusia.

Menjawab hal tersebut dikaji dari pemikiran efisiensi berkeadilan yang menjadi istilah dari Sri-Edi Swasono. Dalam bukunya Ekspose Ekonomika: Mewaspadai Globalisasi dan Pasar Bebas dengan sangat peka Sri-Edi Swasono mengkritisi efisiensi ekonomi yang ditinjau secara teknis ekonomis semata yaitu dengan hasil tertentu diperoleh hasil maksimal atau dengan hasil tertentu diperoleh biaya minimal.58 Secara prinsip ekonomi, terutama dari pendekatan mikro, efisiensi adalah prinsip untuk memperoleh hasil kegiatan ekonomi oftima, artinya dengan hasil tujuan tertentu dicapai biaya minimal, atau

57

Zulkarnain, Membangun Ekonomi Rakyat: Persepsi tentang Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (Yogyakarta: Adicita, 2003).

58

Sri-Edi Swasono, Expose Ekonomika: Mewaspadai Globalisasi dan Pasar Bebas (Jogjakarta: Pusat Studi Ekonomi Pancasila-UGM, 2010).

dengan biaya tertentu dicapai hasil (tujuan) maksima59. Dalam Perspektifnya efisiensi berkeadilan adalah efisiensi sosial yaitu transformasi dari efisiensi berdimensi mikro menjadi berdimensi makro. Dalam konteks pembangunan Nasional (kepentingan masyarakat keseluruhan pada tataran makro) dimensi efisiensi berkeadilan meliputi (1) efisiensi statis yaitu mampu memproduksi produk nasional sesuai preferensi sosial secara optimal; (2) efisiensi distribusional yang mampu melayani struktur permintaan efekti, mencerminkan distribusi pendapatan yang ada dan adil; (3) efisiensi dinamis yaitu efisiensi yang dikaitkan dengan ekspansi optimal untuk memenuhi tuntutan transformasi ekonomi dan kemajuan ekonomi masa depan.60 Hal tersebut berarti pula transformasi dari efisiensi a la Pareto Optimum dalam tataran mikro kedalam tataran makro dimana peranan negara mengatur agar masyarakat kaya tidak merugi (tidak worse off) dan masyarakat miskin memperoleh untung (menjadi better off).61

Prabhat Ranjan Sarkar62 yang membangun progressive utilization theory menyebutkan bahwa kapital

59

Sri-Edi Swasono, “Sistem Ekonomi Indonesia”, Naskah Ajar

Kuliah 22 November 2010 (Jakarta: Fakultas Ekonomi UI, 2011).

60

Sri-Edi Swasono, Expose Ekonomika: Mewaspadai Globalisasi dan Pasar Bebas.

61

Sri-Edi Swasono, “Pareto Optimum (Pareto Efficiency), Naskah Ajar Mata Kuliah Sistem Ekonomika, No. 35, 13 Juni (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2011). Lihat juga Sritua Arief, Ekonomi Kerakyatan Indonesia: Mengenang Bung Hatta, Bapak Ekonomi Kerakyatan Indonesia (Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2002); Sri-Edi Swasono dan Mohammad Hatta, Bung Hatta: Bapak Kedaulatan Rakyat (Jakarta: Yayasan Hatta, 2002). Lihat juga Wangsa Widjaya dan Meutia Farida Swasono, Mohammad Hatta: Membangun Ekonomi

(Jakarta: Inti Idayu Press, 1985).

62

Lihat Ann Arbor, the New York Times Biographical Service, jilid 18, University Microfilms International; tulisan yang sama juga dikaji oleh Johan Galtung and Sohail Inayatullah, eds. Macrohistory and

diberlakukan untuk memaksimalkan kegunaan dan distribusi dari seluruh sumber dan potensi dunia secara rasional baik itu fisik, mental, maupun spiritual dan pembentukan tata tertib sosial humanistis yang harmonis, serta keadilan merata. Pemenuhan akan kebutuhan pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan layanan kesehatan merupakan hal yang sangat penting demi terciptanya keamanan sosial. Lima kebutuhan pokok minimum ini sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Untuk menjamin hal ini, prinsip produksi yang berdasar pada konsumsi harus diadopsi. Sarkar kemudian merancang kapital yang efisien didasarkan pada empat faktor dasar, yaitu: (1) biaya produksi, produktivitas, daya beli dan kepentingan bersama. Disamping itu kapital berdaya guna didukung dengan faktor yang meliputi sumber-sumber daya, ciri-ciri geografis, iklim, transfortasi, potensi perindustrian, warisan budaya, serta keadaan-keadaan sosial.63

Konsep dasar yang merujuk pada teori efisiensi berkeadilan berdasarkan pada nilai efisiensi merupakan pemaksimalan kegunaan dan distribusi dari seluruh sumber dan potensi dunia secara rasional baik itu fisik, mental, maupun spiritual dan pembentukan tata tertib sosial humanistis yang harmonis, serta keadilan merata.64 Teori ini

Macrohistorians: Perspectives on Individual, Social and Civilizational Change (Wesport: Ct. Praeger, 1997). Tentang PROUT dapat dilihat Phillip M. Parker, Utilization: Webster‟s Quatations, Facts and Phrases

(California: Icon Group, Inc.).

63

Prabhat Ranjan Sarkar, Proutist Economics: Discourses on Economic Liberation (Calcutta, India: Ananda Marga Publications, 1991).

64

Sohail Inayatullah, Understanding Sarkar: The Indian Episteme, Macrohistory and Transformative Knowledge (Leiden: Brill, 2002). Lihat juga Sohail Inayatullah and Jennifer Fitzgerald, ed,

Transcending Boundaries: Prabhat Rainjan Sarkar's Theories of Individual and Social Transformation. Tulisan yang sama juga dikaji oleh

didasarkan atas upaya menjamin terpenuhinya lima kebutuhan dasar (makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan dan perawatan kesehatan) kepada seluruh umat manusia, meyakini akan perlunya penggunaan Sumber daya yang secara maksimal dan distribusi yang rasional dari seluruh Sumber daya yang ada di alam semesta, menjamin hak untuk bekerja sebagai suatu yang mendasar. Ia juga menganjurkan desentralisasi penuh dari ekonomi, dengan sebagian besar melalui kontrol kooperatif.65 Sarkar berpandangan bahwa pemilikan aset ekonomi tidak semua diwakilkan oleh lembaga pemerintah. Pemerintah ditempatkan dalam penggunaan kapital harus disinergikan dengani penyedia barang publik dan jasa publik. Intervensi pemerintah hanya diperlukan untuk menjamin mekanisme distribusi aset terjadi melalui mekanisme pasar. Ini berarti bahwa semua masyarakat dan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kehidupan rakyat dengan program-program nyata yang koorporatif. Ia memberikan contoh usaha kecil berdasarkan ciri khas usaha setiap wilayah untuk membeli barang langsung ke pabrik, tanpa sistem grosir yang dikontrol oleh pemerintah, hasilnya harga dapat bersaing dengan perbelanjaan modern.66

Hatta memberikan pandangan bahwa penggunaan kapital yang dapat menjamin efisiensi, adalah penggunaan tenaga kerja secara penuh (full employment), dan mampu

Johan Galtung and Sohail Inayatullah, ed, Macrohistory and Macrohistorians: Perspectives on Individual, Social and Civilizational Change (Wesport: Ct. Praeger, 1997).

65

Prabhat Ranjan Sarkar, Proutist Economics: Discourses on Economic Liberation.

66

Prabhat Ranjan Sarkar, Proutist Economics: Discourses on Economic Liberation. Perbandingan dapat dilihat dari kajian Sohail Inayatullah and Jennifer Fitzgerald, ed, Transcending Boundaries: Prabhat Rainjan Sarkar's Theories of Individual and Social Transformation.

menggunakan kapital atau modal secara penuh, modal atau barang investasi berkaitan dengan keseluruhan bahan dan alat yang dilibatkan dalam proses produksi seperti alat (perkakas), mesin, perlengkapan, pabrik, gudang, pengangkutan, dan fasilitas distribusi yang digunakan memproduksi barang dan jasa bagi konsumen akhir.67 Dalam penggunaan kapital, para ekonom ekonomi kerakyatan menegaskan bahwa tindakan menggunakan kapital berdasarkan pada kebijaksanaan pemerintah pada penciptaan keadaan yang mendorong dan mendukung usaha-usaha rakyat untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, dan memecahkan masalah mereka sendiri pada tingkat individu, keluarga, dan komunitas. Proses produksi hanya bisa berlangsung, jika terpenuhinya faktor produksi yang diperlukan. Faktor produksi yang dimaksud terdiri dari Sumber Daya Alam (land), modal (kapital), tenaga kerja (labour), dan kewirausahaan (entrepreneurship).68

Selanjutnya setelah proses tersebut, maka dilakukan pendistribusian baik oleh orang maupun lembaga yang ditujukan untuk menyalurkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Sedangkan, saluran distribusi merujuk pada proses pemilihan atau rute yang akan ditempuh oleh suatu produk ketika produk tersebut mengalir dari produsen ke konsumen. Kegiatan distribusi, secara ekonomis, merupakan suatu kegiatan ekonomi yang berupaya menambah manfaat atau nilai guna suatu barang melalui proses pemindahan tempat dan pengaturan waktu. Melalui

67

Achmad Rofi'ie, Adi Sasono, People's Economy. Lihat juga Edward J. Blakely dan Ted K Bradshaw, Planning Local Economic Development: Theory and Practice (London: Paul Chapman, 2002).

68

B. Onuma Okezie dan Vladimir Podsolonko, Strengthening Teaching and Outreach Capabilities in Business and Management Education at Tavrida National University, Ukraine, Under a Market-oriented Economy: the Final Report (Alabama A And M University, 2004).

kegiatan inilah suatu produk akan disalurkan pada tempat dan waktu yang tepat ke wilayah intensif, selektif, dan eksklusif melalui grosir, agen, dan pedagang eceran.69

Pendayagunaan kapital tersebut dilakukan sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan, diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat. Ini berarti aktifitas yang berhubungan dengan hal tersebut tidak merugikan kepentingan umum.70 Dengan demikian, sinerjisitas semua faktor pada wilayah capital dimanfaatkan bersama dan mendapatkan keuntungan bersama. Dalam konsep ekonomi kerakyatan, konsep modal pun juga telah berkembang, bukan hanya berupa modal finansial dan modal manusia, tetapi juga bentuk-bentuk modal lainnya yang diketemukan dalam ilmu-ilmu sosial, yaitu: modal sosial (nilai-nilai keutamaan), modal kultural (kreativitas dan estetika), modal intelektual (teknologi dan informasi), dan modal spiritual (keyakinan dan semangat). Modal-modal baru ini telah membebaskan ekonomi dari sistem kapitalis yang hanya mengenal modal finansial saja.71

Dalam aspek hak dan kewajiban, progressive utilization theory berstandar pada eksistensi manusia dalam tiga strata, yaitu: (1) strata fisik, (2) strata mental, dan (3) strata spiritual. Dalam strata fisik, terdapat banyak strata:

69

Noel W Thompson, the People's Science: the Popular Political Economy of Exploitation and Crisis 1816-34 (Cambridge: Cambridge University Press, 2002); Erhard W. Kropp dan B.R. Quinones, Financial System Development in Support of People's Economy (Bangkok: APRACA Publications, 1992).

70

Kampto Utomo, Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dalam Kancah Globalisasi (Bogor: Yayasan Agro-Ekonomika, Sains, Perhepi, 2005); M Dawam Rahardjo; Achmad Tirtosudiro, Pembangunan Ekonomi Nasional: Suatu Pendekatan Pemerataan, Keadilan, dan Ekonomi Kerakyatan (Jakarta: Intermasa, 1997).

71

Prabhat Ranjan Sarkar, Varńa Vijinána (the Science of Letters)

sebutlah pencapaian ilmu pengetahuan (sains) untuk pelayanan dan kesejahteraan, kemajuan sosial, kehidupan politik, kehidupan ekonomi, kehidupan budaya yang kesemuanya untuk membangun pelayanan dan kesejahteraan. Dasar utama hak dan kewajiban yang menjadi konsep ekonomi adalah menghilangkan ketidakadilan sosial. Tiap-tiap anggota masyarakat manusia harus menikmati persamaan hak, layaknya anggota dari satu keluarga yang sama, menghilangkan perbedaan dan membawa kesetaraan, serta keseimbangan dan keselarasan antar manusia. Salah satunya cara untuk meminimalisir ketimpangan hak dan kewajiban adalah dengan membangun kepemimpinan yang koordinatif, bukan kepemimpinan sub-ordinasi; harus terdapat suatu koordinasi, kepemimpinan koperatif.72

Dalam kehidupan ekonomi harus menjamin kebutuhan minimum bagi tiap individu dan semuanya. Harus tidak boleh berpikir dua kali, tidak boleh ada penyesuaian sejauh menyangkut hal ini. Daya beli kebutuhan minimum harus terjamin bagi semua. Dewasa ini, hal-hal pokok yang esensial itu belum dijamin. Bahkan, masyarakat digiring oleh gagasan-gagasan ekonomi yang deseptif (tipu daya) yang telah terbukti tidak efektif dalam kehidupan praktis dan tidak berhasil diterapkan dimanapun di dunia ini.73 Sarkar misalnya memberikan contoh dengan

72

Prabhat Ranjan Sarkar, Proutist Economics: Discourses on Economic Liberation.

73

Prabhat Ranjan Sarkar, Perekonomian PROUT: Pembebasan Ekonomi (tp:tt). Lihat juga Carl Davidson, Solidarity Economy: Building Alternatives for People and Planet (London: Changemaker Publications, 2001). Lihat juga Sadao Miyamoto, Introduction to Prout: A Spiritual Socio-Economic Theory (Bellingham, Wash.: Huxley College of Environmental Studies, Western Washington University, 1982); PROUT juga digali dalam konsep spritual lihat Sarah Strauss, Positioning Yoga: Balancing Acts Across Cultures (Oxford: Berg, 2004).

beberapa orang berpikir bahwa orang-orang dari kelompok tertentu dimana mereka termasuk di dalamnya adalah diberkati oleh Tuhan, sedangkan yang lainnya adalah makhluk terkutuk. Ini adalah sebuah tipe dogma yang sangat buruk, kaum oportunis telah memperkenalkan ajaran ini. Dogma adalah penyakit psiko-fisikal. Kemudian ada penyakit fisiko-psikis. Beberapa orang berpendapat bahwa binatang telah diciptakan oleh Tuhan untuk makanan manusia. Seseorang tertentu yang selalu berkata bahwa jika orang tidak makan daging kambing, maka dunia akan dipenuhi oleh kambing, dan yang lain juga berkata bahwa apabila orang tidak makan ayam, maka bahkan tidak ada ruang satu incipun di bumi ini akan dipenuhi oleh ayam. Hanya karena kerakusan yang berlebihlah manusia memakan ayam, kambing, dan hanya mencari-cari logika untuk mendukung tindakan mereka dan menutupi kelemahannya. Kelicikan semacam ini tidak akan berlaku.74

Dalam dunia psikis, terdapat kesalahan pemikiran yang terjadi bahwa manusia ditakdirkan untuk berkuasa, dan mahkluk hidup lainnya ditakdirkan untuk diatur oleh manusia. Karena itu dalam konsep Sarkar, semua memiliki hak yang sama untuk hidup didunia ini: alam semesta ini adalah untuk semua. Ini bukanlah warisan bagi manusia saja. Dalam level psikis murni, pemikiran salah terjadi dalam masyarakat, dan sebagai hasilnya, seorang individu atau kelompok masyarakat sering mencoba untuk menekan atau menindas yang lain. Disebabkan oleh tipe psikologi yang cacat inilah, sejumlah besar manusia menderita

74

Sedangkan dalam ungkapannya Prabhat Ranjan Sarkar

“sthulasuksma karanopayogah susantulitah vidheyah (harus ada penyesuaian yang tepat antara pemanfaatan fisik, metafisik, duniawi, supraduniawi dan spiritual). Lihat Prabhat Ranjan Sarkar, Perekonomian PROUT: Pembebasan Ekonomi. Lihat juga Sadao Miyamoto,

depresi psikis. Dalam strata spiritual, hak dan kewajiban sudah teraplikasi secara benar, sehingga semua aplikasi dari strata psiko-fisikal hingga strata spiritual disampaikan dalam lingkup solidaritas.75 Dari aspek tersebut memperlihatkan bahwa setiap manusia memanfaatkan maksimum dan pembagian yang rasionil atas semua potensi fisik, metafisik, dan spiritual dari suatu unit dan badan bersama masyarakat. Artinya, kebersamaan merupakan dasar untuk menghadapi persoalan-persoalan ekonomi dan kebutuhan minimum semua orang harus terjamin, dengan pembagian yang rasionil.76

Sistem Ekonomi Pancasila merupakan sistem ekonomi campuran yang mengandung pada dirinya ciri-ciri positif dari kedua sistem ekstrim yang dikenal yaitu kapitalis-liberalis dan sosialis-komunis. Berbeda dengan ekonomi peraturan yang jelas antitetikal dengan makna Ekonomi Pancasila sebagai wadah berkembangnya manusia Indonesia seutuhnya. Dalam Ekonomi Pancasila, satu sumber legitimasi diambilnya tindakan pengaturan dalam pembatasan kebebasan usaha adalah adanya ekses negatif dari setiap tindakan. Peranan unsur agama sangat kuat dalam konsep Ekonomi Pancasila. Karena unsur moral dapat menjadi salah satu pembimbing utama pemikian dan kegiatan ekonomi. Kalau moralitas ekonomi Smith adalah kebebasan (liberalisme), dan ekonomi Marx adalah diktator mayoritas (oleh kaum proletar), maka moralitas Ekonomi Pancasila mencakup ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Sehingga pelaku Ekonomi

75

Prabhat Ranjan Sarkar, Varńa Vijinána (The Science of Letters).

76

Lihat Prabhat Ranjan Sarkar, Perekonomian PROUT: Pembebasan Ekonomi. Lihat juga Raveendra N Batra, Progressive Utilization Theory: Prout: an Economic Solution to Poverty in the Third World (Philippines: Ananda Marga Publications, 1989).

Pancasila tidak hanya sebagai homo economicus, tapi juga homo metafisikus, dan homo mysticus.

Hatta berstandar pada Pasal 33 UUD 1945, adalah sebuah sistem perekonomian yang ditujukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi, salah satu prinsip dasar tersebut adalah perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Ini berarti hak dan kewajiban dalam melaksanakan perekonomian memiliki nilai kekeluargaan.77 Tidak adanya diskriminasi bagi setiap warga negara, berarti mengakui bahwa dibalik setiap perbedaan warga negara ada sebuah kesamaan, yaitu: sebagai manusia yang sama-sama memiliki hak dan kewajiban setara yang diakui undang-undang dan dilandasi nilai-nilai kemanusiaan universal.78 Hal ini ditandai dengan kesamaan peluang dan akses (equal opportunity) bagi setiap warga negara dalam berekonomi dan menikmati pembangunan ekonomi. Dalam Pembukaan UUD 1945 dijelaskan bahwa tujuan dari negara Indonesia adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial sebagai sila pamungkas Pancasila disini seyogianya juga menjadi tujuan dari pelaksanaan ekonomi di Indonesia.79

Dari sini, maka kalangan pemilik modal dan kelompok masyarakat yang menyediakan faktor produksi berupa tenaga kerja sama-sama memiliki hak dan kewajiban

77

Sri-Edi Swasono dan Mohammad Hatta, Bung Hatta: Bapak Kedaulatan Rakyat. Lihat juga Wawan Tunggul Alam, Demi Bangsaku: Pertentangan Bung Karno vs. Bung Hatta (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003).

78

Raveendra N. Batra, Progressive Utilization Theory: an Economic Solution to Poverty in the Third World.

79

Gunawan Sumodiningrat, et al, Membangun Indonesia Emas: Model Pembangunan Indonesia Baru Menuju Negara-Bangsa yang Unggul dalam Persaingan Global (Jakarta: Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, 2005).

yang terjalin dalam proses produk. Dalam ungkapan Sarkar badan usaha ekonomi utama yang menyediakaan kebutuhan dasar bagi orang banyak janganlah ditaruh ditangan pribadi-pribadi.80 Alam semesta raya ini merupakan milik bersama setiap orang. Semua mempunyai hak pakai, semua mempunyai hak menikmati, tetapi jelas tidak punya hak menyalahgunakannya. Apabila ada sementara orang yang mencari dan menimbun kekayaan, secara langsung iapun menghambat kebahagiaan dan kebebasan orang lain. Perilakunya tersebut bersifat anti-sosial. Karena itu, tidak seorangpun diperbolehkan menimbun kekayaan tanpa perkenan dari masyarakat. Setiap usaha ekonomi harus dapat meningkatkan pemilikan bukan sekadar meningkat-kan pendapatan masyarakat secara merata.

Bagi Indonesia pemikiran-pemikiran strategis, cermat dan mendalam mengenai ketimpangan-ketimpangan struktural harus tetap dikembangkan. Hanya dengan demikian maka kebijakan restrukturisasi untuk mengatasi ketimpangan struktural dapat didesain. Sri-Edi Swasono menawarkan beberapa butir kebijakan restrukturisasi ekonomi dalam artian reformasi makro yang meliputi berbagai sektor, bidang dan dimensi antara lain: (1) restruk-turisasi pemilikan dan penguasaan aset ekonomi: Pemilikan dan penguasaan aset oleh rakyat harus makin merata dan dapat mengurangi secara struktural konsentrasi-konsentrasi pemilikan dan penguasaan aset pada sekelompok kecil aktor-aktor ekonomi. Setiap usaha ekonomi harus dapat meningkatkan pemilikan bukan sekadar meningkatkan

80

Sohail Inayatullah dan Jennifer Fitzgerald, eds. Transcending Boundaries: Prabhat Rainjan Sarkar's Theories of Individual and Social Transformation (Maleny, Australia: Gurukul Publications. 1999). Tulisan yang sama juga dikaji oleh Johan Galtung dan Sohail Inayatullah, eds.

Macrohistory and Macrohistorians: Perspectives on Individual, Social and Civilizational Change (Wesport: Ct. Praeger, 1997).

pendapatan masyarakat secara merata. Lebih dalam lagi Sri-Edi Swasono seperti ditulis pada bab sebelumnya telah menafsirkan rumusan Mohammad Hatta dalam pasal 33

UUD 1945 ”perekonomian disusun sebagai usaha bersama

berdasarkan asas kekeluargaan” dengan memaknai

perekonomian bukan hanya badan usaha koperasi, tetapi

Dokumen terkait