Inkonsistensi Pembangunan Ekonomi
A. Elemen-elemen strategis yang penting
2. Ekonomi Moneter
Dalam sebuah perekonomian Islam, permintaan terhadap uang akan lahir terutama motif transaksi dan tindakan berjaga-jaga. Permintaan spekulasi pada dasarnya didorong oleh fuktuasi suku bunga perekonomian kapitalis, menyebabkan perubahan terus-menerus dalam jumlah uang yang dipegang oleh publik. Penghapusan bunga dan kewajiban membayar zakat dengan laju 2,5 persen per tahun tidak saja akan meminimalkan permintaan spekulatif terhadap uang dan mengurangi efek suku bunga "terkunci", tapi juga akan memberikan stabilitas yang lebih besar bagi permintaan total terhadap uang. Hal yang lebih jauh akan diperkuat oleh sejumlah faktor sebagai berikut.
1. Aset pembawa bunga tidak akan tersedia dalam sebuah perekonomian Islam, sehingga orang yang memegang dana likuid harus menghadapi pilihan apakah tidak mau terlibat resiko (investasi) dengan tetap memegang uang dalam bentuk cash tanpa memperoleh keuntungan, atau turut berbagai resiko dengan menginvestasikan uangnya pada aset bagi hasil.
2. Peluang investasi jangka pendek atau panjang dengan berbagai tingkat resiko tersedia bagi investor.
3. Dapat diasumsikan-kecuali dalam keadaan resesi-tidak akan ada yang bersedia membiarkan dananya menganggur setelah dikurangi kebutuhan transaksi dan berjaga-jaga.
4. Laju keuntungan tidak akan ditentukan di depan. Satu-satunya yang akan ditentukan di deptan adalah rasio bagi hasil, yang tidak akan mengalami fuktuasi. Jika proyek ekonomi cerah, keuntungan secara otomatis akan meningkat.
Karena itu variabel yang akan dipakai dalam suatu kebijakan moneter yang diformulasikan dalam sebuah perekonomian Islam
adalah cadangan uang (stock of money). Tujuannya adalah menjamin bahwa ekspansi moneter tidak bersifat "kurang mencukupi" atau "berlebihan", tetapi cukup untuk sepenuhnya mengeksploitasi kapasitas perekonomian agar dapat mensuplai barang dan jasa bagi kesejahteraan luas. Strategi ini mengakui pentingnya mengatur pertumbuhan suplai uang untuk mengelola perekonomian secara baik. Tidak ada anggapan bahwa kekuatan pasar yang dibiarkan sendiri akan menghasilkan pertumbuhan noninfansioner, menghapus pengangguran, mengurangi ketidakseimbangan eksternal, dan membantu merealisasikan sasaran lainnya yang diinginkan.11[12]
Sumber-sumber Ekspansi Moneter12[13]
Untuk menjamin bahwa pertumbuhan moneter "mencukupi" dan tidak "berlebihan" per(u memonitor secara hati-hati tiga sumber utama ekspansi moneter. Dua diantaranya adalah domestik. Pertama,
membiayai defsit anggaran pemerintah dengan meminjam dari bank sentral. Kedua, ekspansi deposito melalui penciptaan kredit pada bank-bank komersial. Ketiga, bersifat eksternal, yaitu "menguangkan" surplus neraca pembayaran luar negeri.
1. Defsit Fiskal
Defsit fskal memang menjadi sumber penting ekspansi moneter "ekspansi:". Bahkan di negara-negara industri utama, defsit fskal yang besar telah menjadi sebab utama kegagalan memenuhi target suplai uang. Maka, menurut Umar Chapra, untuk menghapuskan defsit fskal yang "berlebihan" pertama kali perlu dihapuskan penyebab utama defsit itu sendiri. Diantaranya yang penting adalah (1) ketidakmampuan atau ketidaksediaan pemerintah untuk meningkatkan pembiayaan yang memadai melalui 11
perpajakan dan sumber-sumber pemasukan noninfansioner lainnya untuk memenuhi pengeluaran produktif dan penting lainnya, dan (2) kurangnya kesediaan pemerintah untuk mengeliminasi atau mereduksi secara substansial pengeluaran yang mubazir dan tidak produktif. Bagi pemerintah, sumber-sumber daya yang disediakan oleh rakyat adalah sebuah amanah dan menggunakannya cara mubazir atau tidak produktif merupakan suatu pengkhianatan. Sumber-sumber daya ini perlu dimanfaatkan secara efsien dan efektif dibarengi dengan perasaan tanggungjawab kepada Allah.
Setelah semua pengeluaran yang tidak perlu dan mubazir dieliminasi, neraca pengeluaran pemerintah dapat dibagi menjadi tiga bagian:
a) Pengeluaran rutin: dapat dibiayai oleh penerimaan dari pajak. Ketiadaan pembiayaan lewat hutang untuk hal ini harus menjadi rahmat yang tersembunyi dan membantu memperkenalkan disiplin dalam pengeluaran pemerintah, yang realisasinya gagal karena kemudahan yang ditawarkan oleh pembiayaan berbasis bunga
b) Pengeluaran proyek: harus menghindari pembengkakan biaya melalui penentuan waktu yang tepat dan memasang semua proyek dalam suatu rencana yang perspektif dan menggunakan leasing atau sewa beli (hire-purchase) selama mungkin. Pembiayaan proyek dapat melalui penjualan saham pada lembaga-lembaga fnansial atau publik dengan penentuan harga yang berorientasi komersial, tanpa subsidi umum.
c) Pengeluaran darurat: seperti pembiayaan untuk perang, yang tidak dapat dibiayai oleh kedua cara di atas, harus dibiayai dengan pinjaman wajib.
2. Penciptaan Kredit Bank Komersial
Deposito bank komersial merupakan bagian penting dari penawaran uang. Deposito dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, "deposito primer" yang menyediakan sistem perbankan dengan basis uang (uang kontan + deposito di bank sentral).
Kedua, "deposito derivatit" yang dalam sebuah sistem cadangan proporsional wakili uang yang diciptakan oleh bank komersial dalam proses perluasan kredit dan merupakan sumber utama ekspansi moneter dalam perekonomian dengan kebiasaan perbankan yang sudah maju. Deposito derivatif akan menimbulkan peningkatan penawaran uang, seperti halnya mata uang yang dikeluarkan oleh pemerintah atau bank sentral. Karena ekspansi ini-persis seperti defsit pemerintah-memiliki potensi infansioner jika tidak ada pertumbuhan pengganti dalam output, ekspansi deposito derivatif harus diatur jika pertumbuhan moneter yang diinginkan harus dicapai. Caranya dengan mengatur ketersediaan uang basis bagi bank-bank komersial. Untuk ini, ketiadaan bunga akan berguna karena dapat menghapuskan efek ketidakstabilan suku bunga yang berfuktuasi, sehingga menstabilkan permintaan terhadap uang, dan secara substansial mengurangi amplitudo fuktuasi ekonomi.
3. Surplus Neraca Pembayaran
Hanya sebagian kecil negara-negara muslim yang menikmati surplus neraca pembayaran, sedangkan sebagian besar dari mereka mengalami defsit. Mereka yang mengalami surplus, surplus itu tidak terjadi dalam sektor swasta dan tidak menyebabkan suatu ekspansi otomatis dalam penawaran uang. Ia terjadi hanya karena pemerintah menguangkan surplus dengan membelanjakan secara domestik, sedangkan defsit neraca pembayaran sektor swasta tidak menggantikan ini secara memadai.
Instrumen Kebijakan Moneter13[14]
Dalam kerangka strategi yang telah dijelaskan di atas, dapat diajukan mekanisme moneter yang tidak saja akan membantu mengatur penawaran uang seirama dengan permintaan rid terhadap uang, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan untuk membiayai defsit pemerintah yang benar-benar nil dan mencapai sasaran sosioekonomi masyarakat Islam lainnya. Mekanisme ini terdiri atas enam elemen.
1) Target Pertumbuhan dalam M dan Mo
Setiap tahun bank sentral harus menentukan pertambahan peredaran uang yang diinginkan (M) sesuai dengan sasaran ekonomi nasional, termasuk laju pertumbuhan ekonomi yang diinginkan, berkesinambungan dan stabilitas mata uang. Pertumbuhan pada M berkaitan erat dengan pertumbuhan dalam Mo atau uang berdaya tinggi (high powered money) yang didefenisikan sebagai mata uang dalam sirkulasi plus deposito pada bank sentral. Bank sentral harus mengatur ketersediaan dan pertumbuhan Mo. Tujuan penciptaan Mo harus dimanfaatkan 13
hanya untuk memenuhi sasaran masyarakat Islam yang berorientasi pada kesejahteraan sosial. Untuk merealisasikan tujuan ini, maka bank sentral harus membuat Mo yang diciptakannya tersedia, sebagian untuk pemerintah dan sebagian lagi untuk bank-bank komersial dan lembaga keuangan khusus.
Sebagian Mo diberikan kepada pemerintah untuk membiayai proyek-proyek kepentingan sosial, termasuk penyediaan perumahan, fasilitas kesehatan dan pendidikan bagi yang miskin. Sebagian Mo yang diberikan kepada bank-hank komersial, pada umumnya dalam bentuk pinjaman mudharabah, yang memungkinkan untuk membiayai aktivitas pertumbuhan ekonomi sektor swasta tanpa menimbulkan infasi. Sebagian laba yang diraih oleh bank sentral dari pinjaman ini harus diberikan kepada pemerintah untuk membiayai proyek-proyek yang ditujukan untuk menghilangkan kemiskinan dan mengurangi kesenjangan pendapatan, dan sebagian disimpan oleh bank sentral untuk memenuhi pengeluarannya. Sebagian Mo diberikan kepada lembaga-lembaga kredit khusus harus juga dalam bentuk pinjaman
mudharabah. Ia dipergunakan terutama untuk membiayai aktivitas produktif seperti wirausaha, petani, industri rumah tangga, dan pembiayaan bisnis kecil lainnya, yang meskipun layak dan secara sosial diperlukan, tetapi tidak mendapatkan dana yang cukup dari bank-bank komersial dan LKNB.
2) Saham Publik terhadap Deposito Unjuk (Uang Giral)
Sebagian uang giral bank komersial, sampai ukuran tertentu, misalnya 25 persen (batas maksimal dalam keadaan normal), harus dialihkan kepada pemerintah untuk memungkinkannya membiayai proyek-proyek sosial yang tidak mungkin dikomersilkan dengan prinsip bagi hasil. Ini merupakan tambahan bagi jumlah yang dilimpahkan oleh bank sentral kepada pemerintah untuk melakukan ekspansi basis moneter (Mo). Salah satu cara yang penting dalam menggunakannya untuk kemaslahatan umum adalah dengan mengalihkan sebagian deposito unjuk yang dimobilisasi pada
perbendaharaan publik untuk membiayai proyek-proyek sosial tanpa memaksakan beban pada pundak publik lewat pajak yang dikumpulkan untuk itu.
3) Cadangan Wajib Resmi
Bank-bank komersial diwajibkan untuk menahan suatu proporsi tertentu, misalnya t0-20°.o dari deposito unjuk mereka dan disimpan di bank sentral sebagai cadangan wajib. Cadangan wajib resmi ini akan membantu menjamin keamanan deposito dan likuiditas yang memadai bagi sistem perbankan. Dana-dana ini juga memungkinkan bank sentral menjalankan fungsinya sebagai lender of last resort. 4) Pembatas Kredit
Perilaku sirkulasi uang merefeksikan sebuah interaksi komplek berbagai faktor internal dan eksternal perekonomian, sementara itu dengan alat-alat yang telah disebutkan diatas, ekspansi kredit masih dapat melebihi batas yang diinginkan. Karena itu, perlu menetapkan batasan pada kredit hank komersial untuk menjamin bahwa penciptaan kredit total adalah konsisten dengan target moneter. 5) Alokasi Kredit yang berorientasi kepada Nilai
Mengingat kredit bank terjadi karena dana yang dimiliki oleh publik, kredit harts dialokasikan dengan tujuan membantu merealisasikan kemaslahatan sosial secara umum. Kriteria untuk alokasi ini, seperti dalam kasus sumber-sumber daya yang disediakan Allah pada umumnya, harus merealisasikan sasaran-sasaran masyarakat Islam dan kemudian memaksimalkan keuntungan privat. Hal ini dapat dicapai dengan menjamin bahwa: (l) alokasi kredit akan menimbulkan suatu produksi dan distribusi optimal bagi barang dan jasa yang diperlukan oleh sebagian besar anggota masyarakat, dan (2) manfaat kredit dapat dirasakan oleh sejumlah besar kalangan bisnis dalam masyarakat.
Senjata kualitatif dan kuantitatif di atas dapat dilengkapi dengan senjata-senjata lain untuk merealisasikan sasaran yang diperlukan. Termasuk diantaranya adalah "rayuan moral" (moral suasion) yang menempati kedudukan penting dalam perbankan sentral dalam Islam. Bank sentral melalui kontak personalnya, konsultasi, dan rapat-rapat dengan bank-bank komersial dapat saling bahu-membahu menjaga kekuatan dan memecahkan persoalan perbankan serta memberikan saran tentang tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dan mencapai tujuan yang diinginkan.
D. Kebijakan Moneter Konvensional
Kebijakan moneter adalah kebijakan pemerintah dalam mengatur penawaran uang dan tingkat bun-a- Kebijakan ini dilaksanakan oleh Bank sentral. Kebijakan moneter dibedakan kepada kebijakan yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Kebijakan kuantitatif dapat dibedakan dalam tiga tindakan:
1. Operasi pasar terbuka : membuat perubahan ke atas jumlah uang beredar dengan cara melakukan jual beli surat berharga. Pada waktu perekonomian sedang resesi, untuk mendorong perkembangan kebijakan perekonomian, uang beredar ditambah. Bank sentral menciptakan keadaan ini dengan membeli surat-surat berharga sehingga uang beredar akan bertambah karena pembayaran yang dilakukan oleh Bank sentral terhadap surat-surat berharga itu. Demikian juga sebaliknya. Agar operasi pasar terbuka dapat sukses, maka dua keadaan harus wujud dalam perekonomian, yaitu: (1) bank-bank umum tidak memiliki kelebihan cadangan, dan (2) dalam perekonomian tersedia cukup banyak surat berharga yang dapat diperjualbelikan.
2. Merubah tingkat diskonto: dalam membantu bank-bank umum, bank sentral memberikan pinjaman atau membeli surat-surat berharga
tertentu. Apabila bank umum menjual surat berharga kepada bank sentral, itu dinamakan mendiskontokan surat berharga. Dalam hal ini, bank sentral harus menentukan tingkat bunga yang harus dibayar bank umum, ini disebut tingkat diskonto. Untuk meningkatkan kegiatan perekonomian, maka bank sentral menurunkan tingkat diskonto sehingga biaya (bunga) yang harus dibayar bank umum lebih murah. Ini akan mendorong mereka untuk memberikan lebih banyak pinjaman pada masyarakat.
3. Merubah tingkat cadangan minimum bank umum: adalah untuk mendukung suksesnya dua kebijakan moneter di atas.
Adapun kebijakan moneter kualitatif biasanya dalam bentuk: (1) pengawasan pinjaman secara selektif, dan (2) bujukan moral. Apabila kebijakan moneter ini dijalankan, ia akan menimbulkan beberapa rangkaian perubahan-perubahan dalam perekonomian yang pada akhirnya menyebabkan perubahan dalam pendapatan nasional dan penggunaan tenaga kerja. Rangkaian perubahan yang berlaku itu dinamakan mekanisme transmisi. Secara ringkas ia dapat dinyatakan dengan formula berikut:
Rangkaian perubahan itu meliputi:
1. Kebijakan moneter akan merubah tingkat bunga (Dr) 2. Perubahan tingkat bunga akan merubah investasi (DI)
3. Perubahan investasi akan merubah perbelanjaan agregat (DAE) 4. Perubahan perbelanjaan agregat akan merubah pendapatan
nasional dan penggunaan tenaga kerja dalam perekonomian 14[15] E. Penutup
14[15] Sadono Sukirno. Pengantar Teori Makro Ekonomi. (Jakarta: PT Raja Grafndo, 2002). h.233-241
Aktivitas ekonomi merupakan salah satu wujud kebutuhan sosial manusia. Pola interaksi ekonomi yang dimunculkan akan selaras dengan pandangan hidup yang mereka miliki tentang alam dan dunia ini. Pandangan hidup bahwa alam ini terjadi dengan sendirinya akan melahirkan individu-individu yang bebas nilai, lepas dari norma sosial, berbuat menuruti kehendak nafsunya, karena yakin bahwa mereka tidak akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang mereka lakukan didunia ini.
Lain pula halnya dengan manusia yang meyakini bahwa alam ini dan beserta isinya diciptakan oleh kekuatan eksternal yang tidak bisa dikontrol, maka mereka merasa bahwa semua yang terjadi di dunia ini sudah dirancang sesuai skenario, sedangkan manusia hanya bisa pasrah menjalankannya seperti tidak di papan catur. Pandangan hidup seperti ini pasti tidak akan melahirkan rasa tanggung jawab terhadap ketidakadilan yang terjadi disekitarnya, bahkan tidak mau berkorban untuk membantu penderitaan saudaranya yang lain.
Adapun pandangan Islam adalah kolaborasi dari keyakinan yang kuat akan tauhid, khalifah dan adalah di muka bumi ini. oleh karena itu setiap Muslim akan bertanggungjawab terhadap semua perbuatannya dihadapan Allah kelak di akhirat, Muslim yang satu merupakan bagian dari sebuah komunitas dalam ukhuwah Islamiah yang bertujuan untuk menegakkan keadilan di muka bumi ini. Oleh karena itu sistem ekonomi Islam tidak boleh lepas dari prinsip-prinsip di atas sebagai pandangan hidupnya.