• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PEMIKIRAN EKONOMI MENURUT DR. M.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PEMIKIRAN EKONOMI MENURUT DR. M."

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Semua negara muslim masuk dalam kategori negara-negara berkembang

meskipun diantaranya relatif kaya sementara sebagian yang lain sangat miskin.

Mayoritas negeri-negeri ini, terutama yang miskin, seperti halnya negara-negara

berkembang lainnya, dihadapkan pada persoalan-persoalan yang sangat sulit.

Salah satu problemnya adalah ketidakseimbangan ekonomi makro yang

dicerminkan dalam angka pengangguran dan inflasi yang tinggi, defisit neraca

pembayaran yang sangat besar, depresi nilai tukar mata uang yang berkelanjutan,

dan beban utang yang berat.

Problem lainnya adalah kesenjangan pendapatan dan kekayaan yang

sangat lebar diantara golongan-golongan yang sangat berbeda-beda dari setiap

negara dan juga antara negara muslim. Konsekuensinya, kebutuhan pokok bagi

setiap penduduknya belum dapat dipenuhi, sementara golongan kaya dan

menengah hidup dalam kemewahan. Hal ini cenderung merusak jaringan

solidaritas sosial dan merupakan salah satu penyebab utama ketidakstabilan

sosiopolitik.

Berbagai masalah ekonomi ini telah coba dipecahkan oleh seorang

ekonom bernama Umar Chapra. Umar Chapra adalah satu dari sedikit

cendikiawan muslim kontemporer yang fokus pada bidang ekonomi. Mengupas

(2)

sedemikian komprehensifnya bahasan yang dibentangkan. Karena keterbatasan

inilah maka makalah ini hanya akan membahas seputar pemikiran ekonomi

pembangunan dan moneter buah pikiran Umar Chapra dalam bukunya: Islam dan

Pembangunan Ekonomi (2000) dan Sister

Moneter Islam (2000).

Penulis

menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu

penulis mengharapkan kesediaan pembaca untuk memberikan saran dan kritik

yang membangun terhadap tulisan ini.

Ketika sosialisme runtuh yang ditandainya dengan runtuhnya Uni Soviet

sebagai penopang utamanya, apakah ini berarti bahwa kapitalisme sebagai

antitesis sosialisme dan konsep negara kesejahteraan sudah “menang” sebagai

sebuah sistem ekonomi? Pada kenyataannya tidak. Kedua sistem ini sama dengan

sosialisme, yaitu gagal menciptakan kesejahteraan umat manusia yang sebenarnya

merupakan cita-cita dari ketiga sistem ini. Lalu dimanakah letak kesalahannya?

Sistem apakah yang paling representatif untuk menciptakan kesejahteraan umat

manusia?

Dr. M. Umar Chapra dengan pengalamannya yang luas dalam pengajaran

dan riset bidang ekonomi serta pemahamannya yang bagus tentang syariat Islam,

mengajukan bahwa hanya Islamlah sebagai sistem alternatif yang paling tepat

untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia. Ia tidak hanya membahas aspek

teoritisnya saja, melainkan juga aspek aplikasinya sehingga gagasan-gagasannya

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Riwayat hidup DR. M. Umar Chapra

Umer Chapra lahir pada tangal 1 februari 1933 di pakistan. Ayahnya

bernama Abdul Karim Chapra. Chapra dilahirkan dalam keluarga yang taat

beragama, sehingga ia tumbuh menjadi sosok yang mempunyai karakter yang

baik. Keluarganya termasuk orang yang berkcukupan yang memungkinkan ia

mendapatkan pendidikan yang baik pula. Masa kecilnya ia ahbiskan ditanah

kelahirannya hingga berumur 15 tahun. Kemudian ia pindah ke Karachi untuk

meneruskan pendidikannya disana sampai meraih gelar Ph.D dari universitas

Minnesota. Dalam umurnya yang ke 29 ia mengakhiri masa lajangnya dengan

menikahi Khoirunnisa jamal mundia tahun 1962.

Dalam karir intelektualnya DR. M. Umer Chapra mengawalinya ketika

mendapatkan medali emas dari universitas Sind pada tahun 1950 dengan prestasi

yang diraihnya sebagi urutan pertam,a dalm ujian masuk dari 25.000 mahasiswa.

Setelah mraih gelar S2 dari Universitas karachio pada tahun 1954 dan 1956 karir

akademisnya berada pada tingkat tertinggi ketika meraih gelar doktoralnya di

Minnesota Minepolis. Pembimbingnya Prof. Harlan Smith, memuji bahwa Chapra

adalah seorang yang baik hati dan mempunyai karakter yang baik dan

kecemerlangan akademis. Menurut Profesor ini Chapra adalah orang yang terbaik

yang pernah dikenalnya bukan hanya dikalangan mahasiswa namun juga seluruh

(4)

DR. Umer Chapra terlibat dalam berbagai organisasi dan pusat penelitian

yang berkonsentrasi ekonomi islam. Beliau menjadi penasehat pada Islamic

Research and Training Institute (IRTI) dari IDB Jeddah. Sebelumnya ia

menduduki posisi di Saudi Arabian Monetery Agency (SAMA) Riyadh selama

hampir 35 tahun sebagai penasehat peneliti senior. Lebih kurang selama 45 tahun

beliau menduduki profesi diberbagai lembaga yang berkaitan dengan persoalan

ekonomi diantaranya 2 tahun di Pakistan, 6 tahun di USA, dan 37 tahun di Arab

Saudi. Selain profesinya itu banyak kegiatan yang dikutinya antara lain yang

diselenggarkan IMF, IBRD, OPEC, IDB, OIC dll.

Beliau sangat berperan dalam perkembangan ekonomi islam. Ide ide

cemerlangnya banyak tertuang dalam karangan-karangannya. Kemudian karena

pengabdiannya ini beliau mendapatkan penghargaan dari Islamic Development

Bank dan dari King Faisal International Award. Kedua penghargaan ini diperoleh

pada tahun 1989.

B. Hasil-hasil karya DR. M. Umar Chapra

Umar Chapra menerbitkan 11 buku, 60 karya ilmiah dan 9 resensi buku,

belum artikel lepas di berbagai jurnal dan media massa. Buku dan karya

ilmiahnya banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk juga bahasa

Indonesia . Buku pertamanya, Towards a Just Monetary System, dikatakan oleh

Profesor Rodney Wilson dari Universitas Durham, Inggris, sebagai “Presentasi

terbaik terhadap teori moneter Islam sampai saat ini” dalam Bulletin of the British

(5)

Buku ini adalah salah satu fondasi intelektual dalam subjek ekonomi Islam

dan pemikiran ekonomi Muslim modern. Inilah buku yang menjadi buku teks

wajib di sejumlah universitas dalam subjek ekonomi Islam.

Buku keduanya, Islam and the Economic Challenge, dideklarasikan oleh ekonom

besar Amerika, Profesor Kenneth Boulding, dalam resensi pre-publikasinya,

sebagai analisa brilian dalam kebaikan serta kecacatan kapitalisme, sosialisme,

dan negara maju. Kenneth juga menilai buku ini merupakan kontribusi penting

dalam pemahaman Islam bagi kaum Muslim maupun non-Muslim. Buku ini telah

diresensikan dalam berbagai jurnal ekonomi barat. Profesor Louis Baeck,

meresensikan buku ini di dalam Economic Journal dari Royal Economic Society:

“ Buku ini telah ditulis dengan sangat baik dan menawarkan keseimbangan

literatur sintesis dalam ekonomi Islam kontemporer. Membaca buku ini akan

menjadi tantangan intelektual sehat bagi ekonom barat. “ (September 1993, hal.

1350).

Profesor Timur Kuran dari Universitas South Carolina, mereview buku ini

dalam Journal of Economic Literature untuk American Economic Assosiation.

Buku ini menonjol sebagai eksposisi yang jelas dari keterbukaan pasar Ekonomi

Islam. Kritiknya terhadap sistim ekonomi yang ada secara tidak biasa diungkap

dengan pintar dan mempunyai dokumentasi yang baik. Chapra, menurutnya telah

membaca banyak tentang kapitalisme dan sosialisme sehingga kritiknya berbobot.

Dan, Profesor Kuran merekomendasikan buku ini sebagai panduan sempurna

(6)

Disamping itu, ada buku-buku karya Umer Chapra yang lainnya, seperti

Islam dan Tantangan Ekonomi, Islam dan Pembangunan Ekonomi, Masa Depan

Ekonomi: Sebuah Perspektif Islam. Sementara artikel yang pernah ditulis Umer

Chapra antara lain:

1. Monetary management in an Islamic economy, New Horizon, London,

1994.

2. Islam and the international debt problem, Journal of Islamic Studies, 1992.

3. The role of islamic banks in non-muslims countries. Journal Institute of

Muslim Minority Affair, 1992.

4. The need for a new Economic System, Review of Islamic Economics/

Mahallath Buhuth al-Iqtishad al-Islami, 1991

5. The Prohibition of Riba in Islam: an Evaluation of Some Objections,

American Journal of Islamic Studies, 1984.

C. Pemikiran ekonomi DR. M. Umar Chapra

1. Kapitalisme

Kapitalisme adalah suatu system ekonomi yang secara jelas ditandai oleh

berkuasanya “kapital”. Ciri utama dari system kapitalisme ini adalah tidak adanya

perencaan ekonomi sentral. Harga pasar yang dijadikan dasar keputusan dan

perhitungan unit yang diproduksi, pada umumnya tidak ditentukan oleh

pemerintah dalam kondisi yang bersaing. Semua ini adalah hasil dari kekuatan

pasar. Dengan tidak adanya perencanaan terpusat mengandung arti adanya

kekuasaan konsumen dalam memperoleh keuntungan. Kelemahan-kelemahan

kapitalisme :

1. Menempatkan kepentingan pribadi diatas kepentingan social. Adam

Smith berpendapat bahwa melayani kepentingan diri sendiri oleh

individu pada hakikatnya adalah melayani kepentingan sosial.

2. Mengesampingkan peran nilai moral sebagai alat filterisasi dalam

alokasi dan distribusi sumber daya.

(7)

Alasan utama mengapa kapitalisme gagal dalam mengaktualisasikan

tujuan-tujuan yang secara sosial diinginkan, ialah karena adanya konflik antara

tujuan-tujuan masyarakat dan pandangan dunia dengan strategi kapitalisme.

Tujuan-tujuannya memang humanitarian, didasarkan pada fondasi-fondasi moral,

tetapi pandangan dunia dan strateginya adalah Darwinisme sosial.

Klaim adanya keharmonisan antara kepentingan individu dan umum pada

hakikatnya didasarkan pada asumsi-asumsi tertentu mengenai kondisi-kondisi

latar belakang yang salah dan tidak realistis, sehingga tidak pernah terbukti.

Mengingat kondisi latar belakang ini tidak secara terang-terangan dituturkan

dalam literatur ekonomi, maka secara normal tidak dapat dirasakan bagaimana

ketiadaannya akan menyebabkan kegagalan dalam merealisasikan “efisiensi” dan

“pemerataan” dalam alokasi sumber daya langka, yang dikaitkan dengan

tujuan-tujuan humanitarian masyarakat dan bukan terhadap Darwinisme sosial.

2. Sosialisme

Sebenarnya dapat kita lihat bahwa sistem sosialisme hanyalah sisi lain dari

koin yang sama. Keduanya sama-sama membawa masalah pada ekonomi dunia

saat ini. Seperti sistem pasar, sistem sosialis juga gagal mencapai efisiensi dan

keadilan.Tema utama sistem sosialis sebenarnya, menurut Chapra, adalah untuk

menghilangkan bentuk-bentuk eksploitasi dan penyingkiran dalam sistem

kapitalisme. Dengan demikian, diharapkan setiap individu tidak hanya

memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Dalam sistem ini private property dan

mekanisme pasar dihapus digantikan dengan kepemilikan negara untuk semua

(8)

Dalam ulasan tentang berbagai kesalahan asumsi pada sistem sosialis,

Chapra menjelaskan bahwa sistem ini gagal menyediakan

karakteristik-karakteristik yang harus dimiliki sebuah sistem. Untuk mekanisme filter yang

menyaring semua klaim terhadap sumber daya agar terjadi keseimbangan dan

ketepatan penggunanaan sumberdaya, justru sistem sosialis menunjukkan

ketidakpercayaan secara penuh kepada kemampuan manusia mengelola

kepemilikan pribadi.

Untuk karakteristik sistem motivasi yang harus mampu mendorong semua

individu untuk memberikan upaya terbaiknya, justru sistem sosialis tidak akan

mampu mendorong semua individu untuk memberikan upaya terbaiknya. Ini

disebabkan karena perencanaan yang tersentralisasi, pelarangan hak milik pribadi,

dan pengendalian penuh atas harga-harga oleh pemerintah.

3. Negara Kesejahteraan

Negara kesejahteraan memperoleh momentum setelah depresi yang terjadi

pada tahun 1930 di amerika dan sebagai respon terhadap tantangan kapitalisme

dan kesulitan-kesulitan yang terjadi karena depresi dan perang. Falsafah yang

mendasarinya menunjukkan suatu gerakan menjauhi prinsip-prinsip Darwinisme

sosial dari kapitalisme laissez-faire dan menuju kepada kepercayaan bahwa

kesejahteraan individu merupakan sasaran yang teramat penting, yang realisasinya

diserahkan kepada operasi kekuatan-kekuatan pasar. Falsafah ini berati

merupakan pengakuan formal-formal utama ekonomi bahwa kemiskinan dan

ketidakmampuan seseorangmemenuhi kebutuhannya tidaklah berarti bukti

(9)

Paham ini menuntut peran negara yang lebih aktif dalam bidang ekonomi

dibandingkan peranannya dibawah paham kapitalisme laissez-faire. Walaupun

tujuan negara sejahtera berperikemanusiaan, namun ia tidak bisa membangun

strategi yang efektif untuk mencapai tujuannya. Problem ini muncul karena

negara sejahtera menhadapi kekurangan sumber daya sebagaimana yang dihadapi

oleh negara-negara lain. Apabila negara sejahtera meningkatkan pemanfaatannya

atau sumber daya itu melalui pelayanan kesejahteraan, ia harus menurunkan

pemanfaatan lain ke atas sumber-sumber daya.

4. Ilmu Ekonomi Islam

Umar Chapra mendefenisikan ekonomi islam sebagai suatu cabang

pengetahuan yang membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui suatu

alokasi dan distribusi sumber-sumber daya langka yang seirama dengan maqasid,

tampa mengekang kebebasan individu,menciptakan ketidakseimbangan makro

ekonomi dan ekologi yang berkepanjangan, atau melemahkan solidaritas keluarga

dan social serta jaringan moral masyarakat.

Ekonomi islam di tetapkan bertujuan untuk memelihara kemaslahatan

umat manusia,kemaslahatan hidup tersebut berkembang dan dinamis mengikuti

perkembangan dan dinamika hidup umat manusia, formulasi ekonomi yang

tersurat di dalam al-qur’an dan al-hadist,tidak mengatur seluruh persoalan hidup

umat manusia yang berkembang tersebut secara eksplisit. Oleh karena itu, dalam

rangka mengakomodir sebagai persoalan hidup termasuk persoalan ekonomi di

(10)

karena itu tugas yang akan di pikul oleh ilmu ekonomi islam jauh lebih besar dari

pada yang di emban oleh ilmu ekonomi konvensional, tugasnya yaitu:

1. Mempelajari prilaku aktual individu dan kelompok, perusahaan, pasar

dan pemerintah.

2. Ilmu ekonomi islam adalah menunjukan jenis perilaku yang diperlukan

untuk mewujudkan sasaran yang di kehendaki.

3. Ilmu ekonomi islam adalah memberikan penjelasan mengapa para agen

ekonomi bertindak seperti itu dan tidak sesuai dengan yang di haruskan.

4. Mengajukan suatu strategi bagi perubahan sosio ekonomi dan politik

suatu strategi yang dapat membantu membawa prilaku semua pemain di

pasar yang mempunyai pengaruh pada lokasi dan distribisi

sumber-sumber daya sedekat mungkin dengan kondisi yang di perlukan untuk

merealisasikan tujuan.

Dengan demikian, ilmu ekonomi islam harus bergerak melebihi

batas-batas fungsi deskriptif, penjelasan dan prediktif seperti dalam ilmu ekonomi

konvensional kepada suatu analisis semua variable yang relevan dan

kebijakan-kebijakan yang di perlukan untuk merelealisasikan maqashid.

1. Prinsip – prinsip paradigma islam

a. Rational Ekonomic Man

Mainstream pemikiran Islam sangat jelas dalam mencirikan tingkah laku

rasional yang bertujuan agar mampu mempergunakan sumber daya

karunia Allah dengan cara yang dapat menjamin kesejahteraan duniawi

individu. Kekayaan menurut islam akan membangkitkan berbuat salah

salah atau mengajak pada pemborosan, keangkuhan dan ketidakadilan

yang harus dikecam keras. Sedangkan kemiskinan telah dianggap sebagai

hal tidak disukai karena menumbulkan ketidakmampuan dan kelemahan.

b. Positivisme

(11)

juga mengatakan bahwa mustahil bagi sebuah negara untuk dapat

berkembang tanpa keadilan.

d. Pareto Optimum

Dalam islam penggunaan sumber daya yang paling efisien diartikan

dengan maqashid. Setiap perekonomian dianggap telah mencapai efisiensi

yang optimum bila telah menggunakan seluruh potensi sumber daya

manusia dan materi yang terbatas sehingga kualitas barang dan jasa

maksimum dapat memuaskan kebutuhan.

e. Intervensi Negara

Al Mawardi telah mengatakan bahwa keberadaan sebuah pemerintahan

yang efektif sangat dibutuhkan untuk mencegah kedzaliman dan

pelanggaran. Nizam al Mulk menyebutkan bahwa tugas dan tanggung

jawab negara atau penguasa adalah menjamin keadilan.dan menjalankan

segala sesuatu yang penting untuk meraih kemakmuran masyarakat luas.

2. Elemen – elemen starategis yang penting dalam ekonomi islam.

a. Penyaringan yang merata atas klaim yang berlebihan

Masalah yang dihadapi setiap masyarakat adalah bagaimana menyaring

klaim-klaim yang tidak terbatas terhadap sumber-sumber daya yang ada.

Agar terciptanya pemerataan terhadap sumber daya yang ada, maka islam

adalah filter supaya terciptanya pemerataan tersebut.

b. Motivasi

Masalah selanjutnya yang dihadapi adalah bagaimana memotivasi individu

untuk melayani kepentingan social karena setiap individu selalu ingin

melayani dan memenuhi kepentingannya sendiri. Menurut pendekatan

islam, melayani kepentingan sosial pada hakikatnya adalah melayani

kepentingan diri sendiri, harus ada harmonisasi antara kepentingan

individu dengan kepentingan sosial

c. Restrukturisasi sosioekonomi

Restrukturisasi dilakukan dengan cara memperkuat nilai-nilai moral dan

mereformasi sistem perekonomian agar terciptanya kestabilan ekonomi.

d. Peran Negara

Restrukturisasi tidak mungkin dapat dilaksanakan secara efektif apabila

tidak adanya peran Negara atau pemerintah. Dalam hal ini pemerintah

harus berperan positif dan berorientasi pada sasaran di dalam ekonomi.

3. Lima tindakan kebijakan.

Ada lima tindakan kebijakan yang diajukan bagi pembangunan yang

disertai dengan keadilan dan stabilitas, yaitu :

a. Memberikan kenyamanan kepada faktor manusia .

b. Mereduksi konsentrasi kekayaan.

(12)

d. Melakukan restrukturisasi keuangan.

e. Rencana kebijakan strategis.

Di antara tindakan-tindakan kebijakan ini mungkin sudah sangat akrab

bagi mereka yang sudah bergelut dalam literatur pembangunan. Akan tetapi, yang

lebih penting adalah injeksi dimensi moral ke dalam parameter pembangunan.

Tanpa sebuah integrasi moral, tidak mungkin dapat diwujudkan adanya efisiensi

atau pemerataan seperti yang sudah didefinisikan diatas.

4. Keuangan Publik

a. Zakat

Zakat merupakan kewajiban religius bagi seorang muslim

sebagaimana shalat, puasa dan naik haji, yang harus dikeluarkan sebagai

proporsi tertentu terhadap kekayaan atau output bersihnya. Hasil zakat ini

tidak bias dibelanjakan oleh pemerintah sekehendak hatinya sendiri.

Namun demikian, pemerintahan islam harus tetap menjaga dan

memainkan peranan penting dalam memberikan kepastian dijalankannya

nilai-nilai islam.

Agar zakat memainkan peranannya secara berarti, sejumlah ilmuan

menyarankan bahwa zakat ini seharusnya menjadi suplemen pendapatan

yang permanen hanya bagi orang-orang yang tidak mampu menghasilkan

pendapatan yang cukup melalui usaha-usahanya sendiri. Untuk

kepentingan lainnya, zakat dipergunakan hanya untuk menyediakan

pelatihan dan modal unggulan baik secara kredit yang bebas bunga

ataupun sebagai bantuan untuk membuat mereka mampu membentuk

usaha-usaha kecil sehingga dapat berusaha mandiri

b. Pajak

Pemberlakuan pajak harus adil dan selaras dengan semangat islam.

Sistem pajak yang adil harus memenuhi 3 kriteria, yaitu :

Pajak harus dipungut untuk membiayai hal-hal yang benar-benar

dianggap perlu dan untuk kepentingan mewujudkan maqashid.

Beban pajak tidak boleh terlalu memberatkan dibandingkan dengan

kemampuan orang yang memikulnya.

Hasil pajak harus dibelanjakan secara hati-hati sesuai dengan

tujuan awal dari pengumpulan pajak tersebut.

5. Prinsip-Prinsip Pengeluaran

Ada enam prinsip umum untuk membantu memberikan dasar yang

(13)

a. Kriteria utama untuk semua alokasi pengeluaran adalah untuk

kemaslahatan masyarakat.

b. Penghapusan kesulitan hidup dan penderitaan harus diutamakan dari

pada penyediaan rasa tentram.

c. Kepentingan mayoritas yang lebih besar harus didahulukan dari pada

kepentingan minoritas yang lebih sedikit.

d. Pengorbanan individu dapat dilakukan untuk menyelamatkan

pengorbanan atau kerugian publik.

e. Siapapun yang menerima manfaat harus menanggung biayanya.

f. Sesuatu dimana tanpa sesuatu tersebut kewajiban tidak dapat

(14)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Umar Chapra adalah seorang pemikir ekonomi islam abad modern. Beliau

sangat berperan dalam perkembangan ekonomi islam. ide ide cemerlangnya

banyak tertuang dalam karangan-karangannya. Umar Chapra mendefenisikan

ekonomi islam sebagai suatu cabang pengetahuan yang membantu merealisasikan

kesejahteraan manusia melalui suatu alokasi dan distribusi sumber-sumber daya

langka yang seirama dengan maqasid, tampa mengekang kebebasan

individu,menciptakan ketidakseimbangan makro ekonomi dan ekologi yang

berkepanjangan, atau melemahkan solidaritas keluarga dan social serta jaringan

moral masyarakat.

Ekonomi islam di tetapkan bertujuan untuk memelihara kemaslahatan

umat manusia,kemaslahatan hidup tersebut berkembang dan dinamis mengikuti

perkembangan dan dinamika hidup umat manusia, formulasi ekonomi yang

tersurat di dalam al-qur’an dan al-hadist,tidak mengatur seluruh persoalan hidup

umat manusia yang berkembang tersebut secara eksplisit. Oleh karena itu, dalam

rangka mengakomodir sebagai persoalan hidup termasuk persoalan ekonomi di

setiap tempat dan masa, sehingga kemaslahatan umat manusia terpelihara. Elemen

– elemen starategis yang penting dalam ekonomi islam

1.

Penyaringan yang merata atas klaim yang berlebihan

2.

Motivasi

(15)

Menurut Umar Chapra, ada lima tindakan kebijakan yang diajukan bagi

pembangunan yang disertai dengan keadilan dan stabilitas, yaitu :

1.

Memberikan kenyamanan kepada faktor manusia .

2.

Mereduksi konsentrasi kekayaan.

3.

Melakukan restrukturisasi ekonomi

4.

Melakukan restrukturisasi keuangan.

5.

Rencana kebijakan strategis.

Di antara tindakan-tindakan kebijakan ini mungkin sudah sangat akrab

bagi mereka yang sudah bergelut dalam literatur pembangunan. Akan tetapi, yang

lebih penting adalah injeksi dimensi moral ke dalam parameter pembangunan.

Tanpa sebuah integrasi moral, tidak mungkin dapat diwujudkan adanya efisiensi

atau pemerataan seperti yang sudah didefinisikan diatas.

B. Saran

Dengan adanya makalah ini, yang membahas tentang “Pemikiran Ekonomi

DR. M. Umar Chapra”, penulis berharap agar kita semua mengetahui seluk beluk

sejarah perekonomian islam dan pemikiran-pemikiran penting para tokoh-tokoh

ekonomi islam. Dan selanjutnya, penulis berharap agar pemikiran-pemikiran para

tokoh tersebut dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama

dalam kegiatan perekonomian. Mudah-mudahan, perekonomian bangsa kita yang

saat ini dikuasai oleh kaum kapitalis-neoliberalisme yang mengakibatkan

ketidakadilan dimana-mana, terutama bagi rakyat kecil, bisa diminimalisir dan

digantikan oleh sistem ekonomi islam yang menjamin keadilan bagi seluruh

lapisan masyarakat.Marilah kita berjuang secara bersama-sama agar ketidakadilan

ini terhapuskan dari bumi Indonesia yang kita cintai ini, ekonomi islam adalah

(16)

Latar Belakang dan Pendidikan

Dalam karier akademiknya DR. M. Umer Chapra mengawalinya ketika

mendapatkan medali emas dari Universitas Sindh pada tahun 1950 dengan

prestasi yang diraihnya sebagai urutan pertama dalm ujian masuk dari 25.000

mahasiswa. Setelah meraih gelar S2 dari Universitas Karachi pada tahun 1954 dan

1956, dengan gelar B.Com / B.BA ( Bachelor of Business Administration ) dan

M.Com / M.BA ( Master of Business Administration ), karier akademisnya berada

pada tingkat tertinggi ketika meraih gelar doktoralnya di Minnesota, Minneapolis.

Pembimbingnya, Prof. Harlan Smith, memuji bahwa Chapra adalah seorang yang

(17)

Profesor ini, Chapra adalah orang yang terbaik yang pernah dikenalnya, bukan

hanya dikalangan mahsiswa namun juga seluruh fakultas.

DR. Umer Chapra terlibat dalam berbagai organisasi dan pusat penelitian yang

berkonsentrasi pada ekonomi Islam. Saat ini dia menjadi penasehat pada Islamic

Research and Training Institute (IRTI) dari IDB Jeddah. Sebelumnya ia

menduduki posisi di Saudi Arabian Monetary Agency (SAMA) Riyadh selama

hampir 35 tahun sebagai penasihat peneliti senior. Aktivitasnya di

lembaga-lembaga ekonomi Arab Saudi ini membuatnya di beri kewarganegaraan Arab

Saudi oleh Raja Khalid atas permintaan Menteri Keuangan Arab Saudi, Shaikh

Muhammad Aba al-Khail. Lebih kurang selama 45 tahun dia menduduki profesi

diberbagai lembaga yang berkaitan dengan persoalan ekonomi diantaranya 2

tahun di Pakistan, 6 tahun di Amerika Serikat, dan 37 tahun di Arab Saudi. Selain

profesinya itu banyak kegiatan ekonomi yang dikutinya, termasuk kegiatan yang

diselenggarakan oleh lembaga ekonomi dan keuangan dunia seperti IMF, IBRD,

OPEC, IDB, OIC dan lain-lain.

Pembangunan Ekonomi Islam

Dia sangat berperan dalam perkembangan ekonomi Islam. Ide-ide cemerlangnya

banyak tertuang dalam karangan-karangannya. Kemudian karena pengabdiannya

ini dia mendapatkan penghargaan dari Islamic Development Bank dan meraih

(18)

Dia adalah sosok yang memiliki ide-ide cemerlang tentang ekonomi islam. Telah

banyak buku dan artikel tentang ekonomi islam yang sudah diterbitkan samapai

saat ini telah terhitung sebanyak 11 buku, 60 karya ilmiah dan 9 resensi buku.

Buku dan karya ilmiahnya banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk

juga bahasa Indonesia.

Buku pertamanya, Towards a Just Monetary System, Dikatakan oleh Profesor

Rodney Wilson dari Universitas Durham, Inggris, sebagai "Presentasi terbaik

terhadap teori moneter Islam sampai saat ini" dalam Bulletin of the British

Society for Middle Eastern Studies (2/1985, pp. 224–5). Buku ini adalah salah

satu fondasi intelektual dalam subjek ekonomi Islam dan pemikiran ekonomi

Muslim modern sehingga buku ini menjadi buku teks di sejumlah universitas

dalam subjek tersebut.

Buku keduanya, Islam and the Economic Challenge, di deklarasikan oleh ekonom

besar Amerika, Profesor Kenneth Boulding, dalam resensi pre-publikasinya,

sebagai analisis brilian dalam kebaikan serta kecacatan kapitalisme, sosialisme,

dan negara maju serta merupakan kontribusi penting dalam pemahaman Islam

bagi kaum Muslim maupun non-Muslim. Buku ini telah diresensikan dalam

berbagai jurnal ekonomi barat. Profesor Louis Baeck, meresensikan buku ini di

dalam Economic Journal dari Royal Economic Society dan berkata: “ Buku ini

telah ditulis dengan sangat baik dan menawarkan keseimbangan literatur sintesis

dalam ekonomi Islam kontemporer. Membaca buku ini akan menjadi tantangan

(19)

Timur Kuran dari Universitas South Carolina, mereview buku ini dalam Journal

of Economic Literature untuk American Economic Assosiation dan mengatakan

bahwa buku ini menonjol sebagai eksposisi yang jelas dari keterbukaan pasar

Ekonomi Islam. Kritiknya terhadap sistem ekonomi yang ada secara tidak biasa

diungkap dengan pintar dan mempunyai dokumentasi yang baik. Chapra,

menurutnya telah membaca banyak tentang kapitalisme dan sosialisme sehingga

kritiknya berbobot. Dan, Profesor Kuran merekomendasikan buku ini sebagai

panduan sempurna dalam pemahaman ekonomi Islam.

Pendapat M. Umer Chapra terhadap ekonomi Islam pernah dikatakannya dan

didefinisikannya sebagai berikut: Ekonomi Islam didefinisikan sebagai sebuah

pengetahuan yang membantu upaya realisasi kebahagiaan manusia yang berada

dalam koridor yang mengacu pada pengajaran Islam tanpa memberikan kebebasan

individu atau tanpa perilaku makro ekonomi yang berkesinambungan dan tanpa

ketidakseimbangan lingkungan.

Karya M. Umer Chapra

Toward a Just Monetary System (1985)

Islam and Economic Challenge (1992)

Islam and the Economic Development (1994)

The Future of Economics; an Islamic Perspective (2000)

(20)

PEMIKIRAN M. UMER CHAPRA TENTANG MASA

DEPAN EKONOMI ISLAM

(21)

terhadap sumber-sumber ekonomi. Dengan demikian, ekonomi Islam layak dijadikan alternatif sistem ekonomi masa depan.

PEMIKIRAN UMAR CHAPRA

PEMIKIRAN UMAR CHAPRA

A. Pendahuluan

(22)

kesenjangan pendapatan dan kekayaan yang sangat lebar diantara golongan-golongan yang sangat berbeda-beda dari setiap negara dan juga antara negara muslim. Konsekuensinya, kebutuhan pokok bagi setiap penduduknya belum dapat dipenuhi, sementara golongan kaya dan menengah hidup dalam kemewahan. Hal ini cenderung merusak jaringan solidaritas sosial dan merupakan salah satu penyebab utama ketidakstabilan sosiopolitik.1[2]

Berbagai masalah ekonomi ini telah coba dipecahkan oleh seorang ekonom bernama Umar Chapra. Umar Chapra adalah satu dari sedikit cendikiawan muslim kontemporer yang fokus pada bidang ekonomi. Mengupas tuntas pemikiran ekonomi Umar Chapra bukanlah hal yang sederhana, karena sedemikian komprehensifnya bahasan yang dibentangkan. Karena keterbatasan inilah maka makalah ini hanya akan membahas seputar pemikiran ekonomi pembangunan dan moneter buah pikiran Umar Chapra dalam bukunya: Islam dan Pembangunan Ekonomi (2000) dan Sister Moneter Islam (2000).

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kesediaan pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang membangun terhadap tulisan ini.

B. Riwayat Hidup dan Karya Umar Chapra

Umar Chapra lahir tanggal 1 Februari 1933 di Pakistan Saudi Arabia- Ayahnya bernama Abdul Karim Chapra. Beliau adalah penasehat riset di Institut Pelatihan dan Riset Islam (IRTI) tentang IDB di Jeddah. Sebelum posisi ini, ia bekerja di Agen Moneter Saudi Arabia (SAMA) di Riyadh selama hampir 35 tahun dan akhirnya mengundurkan diri sebagai penasehat ekonomi senior. Beliau telah memberi kuliah secara luas pada sejumlah universitas dan institut professional di negara-negara yang berbeda. la ikut ambil bagian pada

(23)

sejumlah pertemuan IMF, IBRD, OPEC, IDB, OIC dan GCC. la merupakan editorial dewan sejumlah jurnal professional.

Kontribusi yang paling terkemuka yaitu dalam 3 bukunya: Ke Arah Sistem Moneter yang Adil (1985), Islam dan Tantangan Ekonomi (1992), dan Masa Depan Ekonomi: Suatu Perspektif Islam (2000).2[3]

Berkat kontribusinya yang beragam bagi ekonomi Islam dan peranannya yang begitu besar dalam pengembangan subjek ini, ia menerima anugrah (medali) pada tahun 1990 dari IDB dalam bidang ekonomi Islam dan King Faisal International Prize dalam bidang kajian Islam.

C.

Pemikiran Ekonomi Umar Chapra

1. Ekonomi Pembangunan

Inkonsistensi Pembangunan Ekonomi

Menurut Umar Chapra, ilmu ekonomi konvensional yang selama ini mendominasi pemikiran ilmu ekonomi modem telah menjadi sebuah disiplin ilmu yang sangat maju dan bahkan terdepan. Dampak yang lebih mengagumkan lagi dari akselerasi perkembangan di negara-negara industri Barat adalah tersedianya sumber-sumber kajian yang substansial bagi para pakar untuk membantu program riset mereka.

Lain halnya dengan ilmu ekonomi Islam, ilmu ekonomi dengan perspektif Islam ini baru menikmati kebangkitannya pada tiga atau empat dekade terakhir ini telah mengalami tidur panjang pada beberapa abad yang lalu. Hal ini dikarenakan sebagian besar negara Muslim adalah negara miskin dengan tingkat pembangunan ekonomi yang rendah.

Ilmu ekonomi konvensional telah dibangun oleh dua himpunan tujuan yang berbeda. Salah satunya disebut tujuan positif, yang berhubungan

(24)

erat dengan usaha realisasi secara efsien dan adil dalam proses alokasi dan distribusi sumber daya yang terbatas. Dan tujuan yang lain disebut dengan tujuan normatif yang diekspresikan dengan usaha penggapaian secara universal tujuan sosial ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan lain-lain.3[4]

Hingga saat ini, pembangunan ekonomi telah melewati 3 fase yang berbeda. Fase pertama adalah ekonomi pembangun kuno yang dikembangkan oleh para ekonom klasik yang mencoba menjelaskan pertumbuhan ekonomi jangka panjang dalam kerangka kerja liberal kapitalisme laissez faire. Ini terus menjadi perhatian utama lebih kurang satu abad setelah publikasi The Wealth of Nation karya Adam Smith tahun 1776. Setelah itu, isu tersebut menjadi usang dan perhatian ekonom klasik berpindah ke area ekonomi yang lain.

Fase kedua ekonomi pembangunan dimulai setelah Perang Dunia Kedua ketika sejumlah negara dari "dunia ketiga" memperoleh kemerdekaan dan analisis problem yang berkaitan dengan pembangunan mereka mulai mendapat perhatian. Namun, kapitalisme

laissez faire telah kehilangan peran pada saat itu akibat dari peristiwa

"Great Depression" dan masalah-masalah rekonstraksi pasca perang dunia, sementara ekonomi Keynesian dan sosialisme menjadi popular.

Pada fase ekonomi pembangunan kedua, fokus perhatian berpindah dari ekonomi liberalisme klasik dan ekonomi neoklasik. Ia mempropagandakan ketergantungan yang lebih kecil pada pasar dan peranan yang besar dari pemerintah dalam perekonomian. Fase; ketiga, ditandai dengan melemahnya strategi Kcynesian dar sosialis di Barat pada dasa warsa I970-an dan sebuah kebangkitan kembali ekonomi liberalisme klasik dan ekonomi neoklasik.

Meskipun telah jelas ketidakmampuan sistem pasar dan sosialisme untuk merealisasikan pembangunan den-an keadilan, namun seluruh negara muslim tetap menggunakan kebijakan-kebijakan yang

(25)

diberikan oleh ekonomi pembangunan, yang merupakan tunas dari kedua sistem ini.4[5]

Sistem kapitalis dan sosialis

Tujuan dari sebuah sistem ekonomi pada prinsipnya ditentukan oleh pandangan tentang dunia, yang mengetengahkan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana alam semesta ini muncul, makna dari tujuan hidup manusia, prinsip kepemilikan, dan tujuan manusia memiliki sumber- sumber daya yang ada ditangannya, serta hubungan antara sebagian manusia dengan sebagian yang lain (yang melibatkan hak-hak dan tanggung jawab mereka) dan dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya, jika alam semesta ini terjadi dengan sendirinya maka manusia tidak akan bertanggung jawab kepada siapapun dan mereka akan bebas berbuat sesukanya. Tujuan mereka hanya untuk mencapai kepuasan maksimum, dengan mengabaikan bagaimana cara merealisasikan hal tersebut dan pengaruhnya terhadap orang lain. Nafsu ingin memenuhi kepentingan diri sendiri dan hukum rimba "si kuat yang menang" tentu akan menjadi norma perilaku yang paling masuk akal.

Lain halnya jika pandangan dunia itu berpijak pada prinsip bahwa umat manusia hanyalah bidak di atas papan catur sejarah dan kehidupan mereka telah ditentukan oleh kekuatan eksternal yang tidak dapat mereka kendalikan maka keyakinan ini akan mengarah pada pendapat bahwa manusia tidak bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi disekitarnya dan karena itu tidak perlu ada usaha untuk mengusik ketidakadilan yang tengah berjalan. Akan tetapi, jika umat manusia dan apa yang mereka miliki adalah ciptaan Tuhan dan mereka bertanggung jawab kepada-Nya, maka mereka tidak mungkin menganggap dirinya bebas mutlak dan berperilaku seenaknya atau seperti bidak malang di atas papan catur sejarah yang tidak menghiraukan arah perjalanan sejarah.

(26)

Karena itulah tujuan dan strategi dari sebuah sistem ekonomi pada hakikatnya adalah hasil logis dari pandangannya terhadap dunia. Tentu saja, bisa terjadi sebuah sistem ekonomi mengambil tujuan-tujuan dari suatu pandangan hidup, tetapi strategi yang dipakai diambil dari pandangan hidup yang lain. Misalnya, tujuan ekonomi mungkin diambil dari sebuah pandangan hidup agama yang menganggap umat manusia sebagai anggota dari sebuah persaudaraan. Yang satu dan berprinsip bahwa mereka bertanggung jawab atas nasib orang lain, tetapi strateginya diambil dari suatu pandangan hidup yang berazazkan bahwa si kuat adalah yang menang dan konfik kelas-suatu pandangan hidup yang secara implisit meniadakan persaudaraan dan kesejahteraan umat manusia secara kolektif. Dalam hal ini akan terjadi konfik antara tujuan dan strategi. Konfik tidak saja akan menyulitkan sistem itu un[uk merealisasikan tujuan-tujuannya, tetapi juga akan menambah jumlah problem sosio ekonomi yang tidak terpecahkan.5[6] kemampuan akal untuk menemukan kebenaran-kebenaran metafsik yang fnal sebagaimana direkomendasikan dalam wujud nilai-nilai bagi penataan kehidupan manusia. Sekularisme tidak selalu mengingkari eksistensi Tuhan, tetapi ia menganggap bahwa eksistensi-Nya tidak membawa bobot apapun bagi kehidupan manusia. Urusan kehidupan diselenggarakan atas dasar asumsi bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian dan tidak ada pertanggungjawaban di depan Tuhan. Tidak seperti agama, pandangan dunia yang dominan tersebut hanya mementingkan aspek kehidupan yang bersifat mated dan prinsip

(27)

pokoknya adalah bahwa kebahagiaan yang dicapai hanya dengan sarana-sarana materi.

Aksi-aksi manusia umpamanya, dilihat dari kacamata utilitarianisme yang menurutnya "benar" dan "salah", "baik" dan "buruk" ditentukan oleh sensasi "kesenangan" atau "kesakitan". Apa yang dapat mendatangkan kesenangan adalah baik dan apa yang menyebabkan sakit adalah jahat. Dengan demikian, sebuah basis logika telah dibangun paling tidak secara psikologis untuk satu tujuan pikiran, yaitu untuk memperoleh kekayaan dan kesenangan sensual. Kehidupan ekonomi dipandang sebagai suatu arena persaingan yang diatur oleh sebuah sistem pasar bebas yang menjamin hukum rimba (si kuat yang menang). Dengan demikian Darwinisme sosial telah merembet ke dalam dunia ekonomi.

Pandangan dunia sekularis inilah yang menjadi pangkal kapitalisme dalam pengertian klasik disebut laissez faire, tidak terw-ujud dalam kenyataan. Ia telah dimodifkasi selama beberapa kurun dan kini dikenal dengan istilah yang lebih sopan dengan sistem pasar yang mengacu kepada kapitalisme yang telah diperbaharui, yang menyandang prinsip-prinsip kapitalisme laissez faire maupun konsep negara sejahtera. Biarpun begitu, pandangan dunianya tetap sama sekulernya dengan kapitalisme laissez faire, namun sasarannya lebih humanitarian. Untuk mewujudkan sasaran ini, ia membela intervensi pemerintah yang lebih besar dalam pasar untuk mengoreksi kekurangan model laissez faire, dan mengganti, paling tidak secara parsial, sebagian ketidakmerataan yang ditimbulkan. Namun begitu, model aslinya tetap saja berkelanjutan, bahkan memperoleh kekuatan yang lebih besar lagi setelah kegagalan sosialisme.

Dalam perspektif nilai yang tengah berlaku, sistem pasar dibedakan atas dasar titik tekanannya sebagai berikut:

(28)

2. Ekspansi kekayaan yang dipercepat dan produksi maksimum serta pemenuhan kebutuhan menurut preferensi individual.

3. Lebih mengutamakan kekuatan-kekuatan pasar dalam alokasi dan distribusi sumber-sumber daya dan "meminimalkan" peranan pemerintah atau penilaian kolektif. menjadi pelaku yang paling efsien. Persaingan, bagaimanapun juga, akan bertindak sebagai suatu batasan bagi pemenuhan nafsunya dan menghalanginya dari usaha-usaha melampaui batas-batas kepentingan sosial. Konsumen akan membeli produk dengan harga paling rendah sesuai dengan preferensinya. Preferensi akan diketahui oleh produsen saat konsumen menjatuhkan pilihannya di pasar melalui kesediaannya untuk membayar harga pasaran yang ditentukan oleh interaksi penawaran dan permintaan. Produsen akan memproduksi apa saja yang diinginkan konsumen dengan menekan biaya yang paling murah untuk memaksimalkan keuntungannya.

(29)

Penalaran diatas sebetulnya memiliki sejumlah asumsi yang tidak realistis. Pertama, diasumsikan bahwa segala sesuatu yang menjadi kepentingan individu, dengan sendirinya adalah menjadi kepentingan masyarakat dan tidak ada kemungkinan konfik diantara keduanya. Asumsi ini tentu saja keliru, karena kedua kepentingan tersebut tidak selalu seirama Contohnya, mencegah polusi air sungai tidak selalu memberikan kepuasan duniawi kepada produsen karena akan meningkatkan biaya dan mengurangi keuntungan.

Kedua, diasumsikan bahwa walaupun dalam sebuah sistem sekuler yang berdasarkan nilai-nilai utilitarian, sang konsumen yang berkuasa atas kepentingan dirinya akan membatasi klaim-klaimnya atas sumber daya pada pemuasan kebutuhan saja. Asumsi inipun terbukti keliru, sebab tanpa keinginan untuk menahan diri yang komitmen kepada nilai-nilai moral dalam penggunaan sumber daya maka pilihan yang dijatuhkan pasar botch jadi tidak merefeksikan prioritas sosial. Buktinya, si kaya tidak mau mengalihkan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan mereka yang kurang mampu, malah dipergunakan untuk memuaskan preferensi mereka sekadar sebagai sumber prestise.

Ketiga, diasumsikan bahwa terdapat distribusi pendapatan dan kekayaan yang merata sebab hanya distribusi yang meratalah yang memberikan setiap orang kemampuan yang sama untuk mempengaruhi proses pembuatan keputusan di pasar dalam sebuah lingkungan sekuler, dimana nilai-nilai moral tidak lagi berfungsi sebagai suatu tatanan dalam penggunaan sumber daya-sumber daya. Padahal; karena kesenjangan pendapatan yang besar menyebabkan si kaya lebih mudah mendapat akses kredit sehingga mereka dapat membeli apa saja yang mereka inginkan dengan harga yang berlaku di pasar.

Keempat, diasumsikan bahwa kesediaan konsumen untuk membayar

(30)

sama bagi semua anak-anak, dengan mengabaikan apakah mereka kaya atau miskin, jumlah uang yang digunakan oleh si miskin untuk membeli susu tidaklah sama dengan yang dikeluarkan oleh si kaya untuk memperoleh status simbol.

Kelima, diasumsikan bahwa kondisi pasar adalah persaingan sempurna dengan ciri-ciri banyak pembeli, banyak penjual, tidak ada hambatan untuk masuk dan ada informasi yang sempurna. Akan tetapi, persaingan sempurna telah menjadi impian yang tidak dapat terwujudkan terutama karena tendensi dibawah kapitalisme menuju ke arah promosi bisnis besar dan konsentrasi kekayaan dan kekuasaan.6

[7]

Ketidakmerataan kapitalis laissez faire telah menaikkan pamor sosialisme untuk sementara waktu. Bertolak belakang dengan sistem ekonomi kapitalis laissez faire "sistem pasar", kaum sosialis menganggap pemilikan pribadi dan sistem upah sebagai sumber kejahatan dan menekankan bahwa keadilan tidak dapat diberikan kepada si miskin tanpa mensosialisasikan pemilikan pribadi dalam berbagai tingkatan.

Konsep prinsip dalam analisis Marx tentang sosialisme adalah 'alienasi' atau keterasingan yang timbul dalam suatu masyarakat kapitalis sebagai akibat dari eksploitasi kaum ploletar oleh kaum borjuis. Alienasi akan hilang jika masyarakat bebas kelas telah ditegakkan. Satu-satunya cara mengakhiri alienasi adalah menghapuskan kepemilikan pribadi, sebagai penyebab utamanya. Akan tetapi strategi Marxis tentang pemilikan negara atas seluruh sarana produksi dan perencanaan pada praktiknya telah terbukti salah tempat karena beberapa kelemahan dalam penalarannya.

Pertama, ia secara diam-diam mengasumsikan bahwa setelah pengenalan sosialisme, manusia yang sama dalam kapasitasnya sebagai konsumen, pekerja, manajer perusahaan, dan pegawai

(31)

pemerintah, akan selalu didorong untuk melakukan yang terbaik dalam rangka kebaikan sosial tanpa memperhatikan kepentingan pribadinya.

Kedua, diasumsikan bahwa mesin kekuasaan negara akan dijalankan oleh sekelompok orang yang kepentingannya selaras dengan kepentingan seluruh masyarakat. Hal ini tidak dibenarkan, karena negara tidak terlepas dari pluralitas kepentingan dan hak-hak istimewa yang timbul dari faktor-faktur semisal kedudukan dalam struktur kekuasaan, bangsa dan kawasan geografs.

Ketiga, diasumsikan bahwa mesin perencanaan pusat akan melengkapi semua informasi mengenai preferensi konsumen, biaya produksi dan harga yang perlu untuk pengambilan berbagai keputusan. Namun informasi demikian tidak ada. Tidak mungkin informasi sedemikian dapat dimiliki tanpa ada interaksi bebas dari penawaran dan permainan pasar.

Keempat, diasumsikan bahwa subsidi umum yang besar yang diimplikasikan dalam sistem penentuan harga di Soviet akan menguntungkan si miskin. Namun pada kenyataannya hal ini malah menguntungkan si kaya, pada sisi lain ia menyiksa para petani yang memperoleh harga rendah dari produk mereka dan insentifnya untuk bekerja secara efsien.7[8]

Strategi Ekonomi Pembangunan Islam

Pandangan hidup Islam didasarkan pada tiga konsep fundamental, yaitu tauhid (keesaan Allah), khilafah, dan keadilan (adalah).Tauhid

adalah konsep yang paling penting diantara ketiganya, sebab konsep kedua lainnya merupakan turunan logika. Tauhid mengandung implikasi bahwa alam semesta secara sadar dibentuk dan diciptakan oleh Tuhan Yang Mahakuasa, Maha Esa dan Unik serta karena itu tidak mungkin jagad raya ini muncul secara kebetulan (Ali Imram:191.

(32)

Shad:27, dan al-Mu'minun:l5). Segala sesuatu yang Dia ciptakan mempunyai satu tujuan. Konsep tauhid bukanlah sekedar pengakuan realitas, tetapi juga suatu respon aktif terhadapnya.

Manusia adalah khalifah Allah di muka bumi (Baqarah:30. al-An'am:165, Faathir:39, Shad:28, dan al-Hadis:7) dan semua sumber daya yang ada ditangannya adalah amanah (al-Hadid:7). Sebagai

khalifah Allah, manusia bertanggung jawab kepada-Nya, dan mereka akan diberi pahala atau siksa di akhirat kelak berdasarkan kehidupan mereka di dunia ini. Oleh karena itu setiap orang tanpa melihat ras, kelompok atau negara tertentu, adalah khalifah, dan pada dasarnya khalifah mengandung makna persatuan fundamental dan persaudaraan umat manusia. Konsep persaudaraan ini akan menjadi konsep yang kosong tanpa dibarengi dengan konsep keadilan

“adalah'. Oleh karena itu pula, menegakkan keadilan dinyatakan oleh al-Quran sebagai salah satu tujuan utama yang akan dicapai oleh para Rasul Allah (al-Hadid:25).8[9] Komitmen Islam yang demikian

mendalam terhadap persaudaraan dan keadilan menyebabkan konsep kesejahteraan (falah) bagi semua umat manusia sebagai suatu tujuan pokok Islam.

Pandangan dunia Islam membebani suatu kewajiban moral bagi setiap warga masyarakat untuk berusaha semaksimal mungkin mengembangkan persaudaraan dan keadilan sosio ekonomi sedemikian rupa sehingga realisasinya menjadi karakteristik yang menonjol pada masyarakat itu.9[10]

Bagaimana strategi Islam ini, Umar Chapra menguraikan dalam elemen-elemen strategis yang penting dan lima tindakan kebijakan, berikut ini.10[11]

8

9

(33)

A.

Elemen-elemen strategis yang penting

1. Penyaringan yang merata atas klaim yang berlebihan: selain mekanisme harga, Islam menawarkan moral sebagai flter untuk mengubah skala preferensi manusia supaya mengikuti prioritas-prioritas sosial.

2. Motivasi : memotivasi individu untuk melayani kepentingan sosial seiring dengan flter moral meskipun ketika berbuat demikian merugikan kepentingannya sendiri. Maslahat individu dapat dipenuhi dengan nafsu keakuannya, namun maslahat di akhirat tidak akan dipenuhi kecuali dengan berperilaku yang tidak merugikan orang lain. Gagasan mengenai pertanggungjawaban di depan Allah dapat menjadi motivasi kuat babi individu untuk mematuhi nilai moral dan mencegah mereka mengikuti nafsu melebihi batas norma sosial dan kesejahteraan.

3. Restrukturisasi sosio ekonomi: bertujuan untuk menciptakan situasi yang kondusif bagi penerapan nilai-nilai tersebut diatas.

4. Peran negara: untuk menciptakan restrukturisasi ekonomi itu.

B.

Lima tindakan kebijakan

1. Memberikan kenyamanan kepada faktor manusia

a. Motivasi

1) Keadilan sosioekonomi

a) Peningkatan kualitas penduduk pedesaan

b) Reformasi perburuhan

c) Imbalan yang fair bagi deposan dan pemegang saham minoritas

d) Keadilan bagi produsen, eksportir dan konsumen

(34)

b. Kemampuan

1) Pendidikan dan latihan

2) Akses pada keuangan

2. Mengurangi konsentrasi kepemilikan

a. Reformasi pertanahan dan pembangunan pedesaan

1) Luas kepemilikan tanah

2) Syarat-syarat penyewaan

3) Dasar berfkir dan tujuan

4) Pembangunan pedesaan

b. Pengembangan industri mikro dan kecil

c. Kepemilikan yang lebih luas dan kontrol perusahaan

d. Pengaktifan zakat dan sistem warisan Islam

1) Zakat program bantu-diri sosial

2) Warisan

e. Restrukturisasi sistem keuangan

3. Restrukturisasi ekonomi

a. Mengubah preferensi konsumen

1) Memperkenalkan flter moral

2) Kebutuhan dan kemewahan

3) Liberalisasi pemenuhan kebutuhan

b. Reformasi keuangan pemerintah

(35)

2) Prinsip-prinsip pembelanjaan

3) Mana yang harus dipotong

a) Korupsi, inefsiensi, dan tabdzir

b) Subsidi

c) Perusahaan milik negara

d) Pertahanan

4) Reformasi pajak

5) Defsit yang dipertahankan

6) Membiayai defsit secara Islami

c. Restrukturisasi iklim investasi

1) Menghapuskan hambatan

a) Ketidakpastian politik

b) Kontrol terhadap nilai tukar dan depresiasi mata uang

c) Tarif dan subsidi impor

d) Kontrol birokrasi

2) Penyertaan modal luar negeri

d. Produksi yang didasarkan pada kebutuhan

e. Pendekatan baru bagi pengangguran

1) Mendorong IKM (Industri Kecil dan Mikro)

2) Tindakan-tindakan esensial

4. Restrukturisasi fnansial

(36)

2. Ekonomi Moneter

Dalam sebuah perekonomian Islam, permintaan terhadap uang akan lahir terutama motif transaksi dan tindakan berjaga-jaga. Permintaan spekulasi pada dasarnya didorong oleh fuktuasi suku bunga perekonomian kapitalis, menyebabkan perubahan terus-menerus dalam jumlah uang yang dipegang oleh publik. Penghapusan bunga dan kewajiban membayar zakat dengan laju 2,5 persen per tahun tidak saja akan meminimalkan permintaan spekulatif terhadap uang dan mengurangi efek suku bunga "terkunci", tapi juga akan memberikan stabilitas yang lebih besar bagi permintaan total terhadap uang. Hal yang lebih jauh akan diperkuat oleh sejumlah faktor sebagai berikut.

1. Aset pembawa bunga tidak akan tersedia dalam sebuah perekonomian Islam, sehingga orang yang memegang dana likuid harus menghadapi pilihan apakah tidak mau terlibat resiko (investasi) dengan tetap memegang uang dalam bentuk cash tanpa memperoleh keuntungan, atau turut berbagai resiko dengan menginvestasikan uangnya pada aset bagi hasil.

2. Peluang investasi jangka pendek atau panjang dengan berbagai tingkat resiko tersedia bagi investor.

3. Dapat diasumsikan-kecuali dalam keadaan resesi-tidak akan ada yang bersedia membiarkan dananya menganggur setelah dikurangi kebutuhan transaksi dan berjaga-jaga.

4. Laju keuntungan tidak akan ditentukan di depan. Satu-satunya yang akan ditentukan di deptan adalah rasio bagi hasil, yang tidak akan mengalami fuktuasi. Jika proyek ekonomi cerah, keuntungan secara otomatis akan meningkat.

(37)

adalah cadangan uang (stock of money). Tujuannya adalah menjamin bahwa ekspansi moneter tidak bersifat "kurang mencukupi" atau "berlebihan", tetapi cukup untuk sepenuhnya mengeksploitasi kapasitas perekonomian agar dapat mensuplai barang dan jasa bagi kesejahteraan luas. Strategi ini mengakui pentingnya mengatur pertumbuhan suplai uang untuk mengelola perekonomian secara baik. Tidak ada anggapan bahwa kekuatan pasar yang dibiarkan sendiri akan menghasilkan pertumbuhan noninfansioner, menghapus pengangguran, mengurangi ketidakseimbangan eksternal, dan membantu merealisasikan sasaran lainnya yang diinginkan.11[12]

Sumber-sumber Ekspansi Moneter12[13]

Untuk menjamin bahwa pertumbuhan moneter "mencukupi" dan tidak "berlebihan" per(u memonitor secara hati-hati tiga sumber utama ekspansi moneter. Dua diantaranya adalah domestik. Pertama,

membiayai defsit anggaran pemerintah dengan meminjam dari bank sentral. Kedua, ekspansi deposito melalui penciptaan kredit pada bank-bank komersial. Ketiga, bersifat eksternal, yaitu "menguangkan" surplus neraca pembayaran luar negeri.

1. Defsit Fiskal

Defsit fskal memang menjadi sumber penting ekspansi moneter "ekspansi:". Bahkan di negara-negara industri utama, defsit fskal yang besar telah menjadi sebab utama kegagalan memenuhi target suplai uang. Maka, menurut Umar Chapra, untuk menghapuskan defsit fskal yang "berlebihan" pertama kali perlu dihapuskan penyebab utama defsit itu sendiri. Diantaranya yang penting adalah (1) ketidakmampuan atau ketidaksediaan pemerintah untuk meningkatkan pembiayaan yang memadai melalui

11

(38)

perpajakan dan sumber-sumber pemasukan noninfansioner lainnya untuk memenuhi pengeluaran produktif dan penting lainnya, dan (2) kurangnya kesediaan pemerintah untuk mengeliminasi atau mereduksi secara substansial pengeluaran yang mubazir dan tidak produktif. Bagi pemerintah, sumber-sumber daya yang disediakan oleh rakyat adalah sebuah amanah dan menggunakannya cara mubazir atau tidak produktif merupakan suatu pengkhianatan. Sumber-sumber daya ini perlu dimanfaatkan secara efsien dan efektif dibarengi dengan perasaan tanggungjawab kepada Allah.

Setelah semua pengeluaran yang tidak perlu dan mubazir dieliminasi, neraca pengeluaran pemerintah dapat dibagi menjadi tiga bagian:

a) Pengeluaran rutin: dapat dibiayai oleh penerimaan dari pajak. Ketiadaan pembiayaan lewat hutang untuk hal ini harus menjadi rahmat yang tersembunyi dan membantu memperkenalkan disiplin dalam pengeluaran pemerintah, yang realisasinya gagal karena kemudahan yang ditawarkan oleh pembiayaan berbasis bunga

b) Pengeluaran proyek: harus menghindari pembengkakan biaya melalui penentuan waktu yang tepat dan memasang semua proyek dalam suatu rencana yang perspektif dan menggunakan leasing atau sewa beli (hire-purchase) selama mungkin. Pembiayaan proyek dapat melalui penjualan saham pada lembaga-lembaga fnansial atau publik dengan penentuan harga yang berorientasi komersial, tanpa subsidi umum.

(39)

2. Penciptaan Kredit Bank Komersial

Deposito bank komersial merupakan bagian penting dari penawaran uang. Deposito dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, "deposito primer" yang menyediakan sistem perbankan dengan basis uang (uang kontan + deposito di bank sentral).

(40)

3. Surplus Neraca Pembayaran

Hanya sebagian kecil negara-negara muslim yang menikmati surplus neraca pembayaran, sedangkan sebagian besar dari mereka mengalami defsit. Mereka yang mengalami surplus, surplus itu tidak terjadi dalam sektor swasta dan tidak menyebabkan suatu ekspansi otomatis dalam penawaran uang. Ia terjadi hanya karena pemerintah menguangkan surplus dengan membelanjakan secara domestik, sedangkan defsit neraca pembayaran sektor swasta tidak menggantikan ini secara memadai.

Instrumen Kebijakan Moneter13[14]

Dalam kerangka strategi yang telah dijelaskan di atas, dapat diajukan mekanisme moneter yang tidak saja akan membantu mengatur penawaran uang seirama dengan permintaan rid terhadap uang, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan untuk membiayai defsit pemerintah yang benar-benar nil dan mencapai sasaran sosioekonomi masyarakat Islam lainnya. Mekanisme ini terdiri atas enam elemen.

1) Target Pertumbuhan dalam M dan Mo

Setiap tahun bank sentral harus menentukan pertambahan peredaran uang yang diinginkan (M) sesuai dengan sasaran ekonomi nasional, termasuk laju pertumbuhan ekonomi yang diinginkan, berkesinambungan dan stabilitas mata uang. Pertumbuhan pada M berkaitan erat dengan pertumbuhan dalam Mo atau uang berdaya tinggi (high powered money) yang didefenisikan sebagai mata uang dalam sirkulasi plus deposito pada bank sentral. Bank sentral harus mengatur ketersediaan dan pertumbuhan Mo. Tujuan penciptaan Mo harus dimanfaatkan

(41)

hanya untuk memenuhi sasaran masyarakat Islam yang berorientasi pada kesejahteraan sosial. Untuk merealisasikan tujuan ini, maka bank sentral harus membuat Mo yang diciptakannya tersedia, sebagian untuk pemerintah dan sebagian lagi untuk bank-bank komersial dan lembaga keuangan khusus.

Sebagian Mo diberikan kepada pemerintah untuk membiayai proyek-proyek kepentingan sosial, termasuk penyediaan perumahan, fasilitas kesehatan dan pendidikan bagi yang miskin. Sebagian Mo yang diberikan kepada bank-hank komersial, pada umumnya dalam bentuk pinjaman mudharabah, yang memungkinkan untuk membiayai aktivitas pertumbuhan ekonomi sektor swasta tanpa menimbulkan infasi. Sebagian laba yang diraih oleh bank sentral dari pinjaman ini harus diberikan kepada pemerintah untuk membiayai proyek-proyek yang ditujukan untuk menghilangkan kemiskinan dan mengurangi kesenjangan pendapatan, dan sebagian disimpan oleh bank sentral untuk memenuhi pengeluarannya. Sebagian Mo diberikan kepada lembaga-lembaga kredit khusus harus juga dalam bentuk pinjaman

mudharabah. Ia dipergunakan terutama untuk membiayai aktivitas

(42)

perbendaharaan publik untuk membiayai proyek-proyek sosial tanpa memaksakan beban pada pundak publik lewat pajak yang dikumpulkan untuk itu.

3) Cadangan Wajib Resmi

Bank-bank komersial diwajibkan untuk menahan suatu proporsi tertentu, misalnya t0-20°.o dari deposito unjuk mereka dan disimpan di bank sentral sebagai cadangan wajib. Cadangan wajib resmi ini akan membantu menjamin keamanan deposito dan likuiditas yang memadai bagi sistem perbankan. Dana-dana ini juga memungkinkan bank sentral menjalankan fungsinya sebagai lender of last resort.

4) Pembatas Kredit

Perilaku sirkulasi uang merefeksikan sebuah interaksi komplek berbagai faktor internal dan eksternal perekonomian, sementara itu dengan alat-alat yang telah disebutkan diatas, ekspansi kredit masih dapat melebihi batas yang diinginkan. Karena itu, perlu menetapkan batasan pada kredit hank komersial untuk menjamin bahwa penciptaan kredit total adalah konsisten dengan target moneter.

5) Alokasi Kredit yang berorientasi kepada Nilai

Mengingat kredit bank terjadi karena dana yang dimiliki oleh publik, kredit harts dialokasikan dengan tujuan membantu merealisasikan kemaslahatan sosial secara umum. Kriteria untuk alokasi ini, seperti dalam kasus sumber-sumber daya yang disediakan Allah pada umumnya, harus merealisasikan sasaran-sasaran masyarakat Islam dan kemudian memaksimalkan keuntungan privat. Hal ini dapat dicapai dengan menjamin bahwa: (l) alokasi kredit akan menimbulkan suatu produksi dan distribusi optimal bagi barang dan jasa yang diperlukan oleh sebagian besar anggota masyarakat, dan (2) manfaat kredit dapat dirasakan oleh sejumlah besar kalangan bisnis dalam masyarakat.

(43)

Senjata kualitatif dan kuantitatif di atas dapat dilengkapi dengan senjata-senjata lain untuk merealisasikan sasaran yang diperlukan. Termasuk diantaranya adalah "rayuan moral" (moral suasion) yang menempati kedudukan penting dalam perbankan sentral dalam Islam. Bank sentral melalui kontak personalnya, konsultasi, dan rapat-rapat dengan bank-bank komersial dapat saling bahu-membahu menjaga kekuatan dan memecahkan persoalan perbankan serta memberikan saran tentang tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dan mencapai tujuan yang diinginkan.

D.

Kebijakan Moneter Konvensional

Kebijakan moneter adalah kebijakan pemerintah dalam mengatur penawaran uang dan tingkat bun-a- Kebijakan ini dilaksanakan oleh Bank sentral. Kebijakan moneter dibedakan kepada kebijakan yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Kebijakan kuantitatif dapat dibedakan dalam tiga tindakan:

1. Operasi pasar terbuka : membuat perubahan ke atas jumlah uang beredar dengan cara melakukan jual beli surat berharga. Pada waktu perekonomian sedang resesi, untuk mendorong perkembangan kebijakan perekonomian, uang beredar ditambah. Bank sentral menciptakan keadaan ini dengan membeli surat-surat berharga sehingga uang beredar akan bertambah karena pembayaran yang dilakukan oleh Bank sentral terhadap surat-surat berharga itu. Demikian juga sebaliknya. Agar operasi pasar terbuka dapat sukses, maka dua keadaan harus wujud dalam perekonomian, yaitu: (1) bank-bank umum tidak memiliki kelebihan cadangan, dan (2) dalam perekonomian tersedia cukup banyak surat berharga yang dapat diperjualbelikan.

(44)

tertentu. Apabila bank umum menjual surat berharga kepada bank sentral, itu dinamakan mendiskontokan surat berharga. Dalam hal ini, bank sentral harus menentukan tingkat bunga yang harus dibayar bank umum, ini disebut tingkat diskonto. Untuk meningkatkan kegiatan perekonomian, maka bank sentral menurunkan tingkat diskonto sehingga biaya (bunga) yang harus dibayar bank umum lebih murah. Ini akan mendorong mereka untuk memberikan lebih banyak pinjaman pada masyarakat.

3. Merubah tingkat cadangan minimum bank umum: adalah untuk mendukung suksesnya dua kebijakan moneter di atas.

Adapun kebijakan moneter kualitatif biasanya dalam bentuk: (1) pengawasan pinjaman secara selektif, dan (2) bujukan moral. Apabila kebijakan moneter ini dijalankan, ia akan menimbulkan beberapa rangkaian perubahan-perubahan dalam perekonomian yang pada akhirnya menyebabkan perubahan dalam pendapatan nasional dan penggunaan tenaga kerja. Rangkaian perubahan yang berlaku itu dinamakan mekanisme transmisi. Secara ringkas ia dapat dinyatakan dengan formula berikut:

Rangkaian perubahan itu meliputi:

1. Kebijakan moneter akan merubah tingkat bunga (Dr) 2. Perubahan tingkat bunga akan merubah investasi (DI)

3. Perubahan investasi akan merubah perbelanjaan agregat (DAE)

4. Perubahan perbelanjaan agregat akan merubah pendapatan nasional dan penggunaan tenaga kerja dalam perekonomian 14[15]

E. Penutup

(45)

Aktivitas ekonomi merupakan salah satu wujud kebutuhan sosial manusia. Pola interaksi ekonomi yang dimunculkan akan selaras dengan pandangan hidup yang mereka miliki tentang alam dan dunia ini. Pandangan hidup bahwa alam ini terjadi dengan sendirinya akan melahirkan individu-individu yang bebas nilai, lepas dari norma sosial, berbuat menuruti kehendak nafsunya, karena yakin bahwa mereka tidak akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang mereka lakukan didunia ini.

Lain pula halnya dengan manusia yang meyakini bahwa alam ini dan beserta isinya diciptakan oleh kekuatan eksternal yang tidak bisa dikontrol, maka mereka merasa bahwa semua yang terjadi di dunia ini sudah dirancang sesuai skenario, sedangkan manusia hanya bisa pasrah menjalankannya seperti tidak di papan catur. Pandangan hidup seperti ini pasti tidak akan melahirkan rasa tanggung jawab terhadap ketidakadilan yang terjadi disekitarnya, bahkan tidak mau berkorban untuk membantu penderitaan saudaranya yang lain.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui motif pemenuhan kebutuhan kognitif, afektif, integratif personal, integratif sosial, dan pelepasan ketegangan pada mahasiswa

Dari Tabel 3 didapatkan informasi bahwa rata- rata struktur modal dengan ukuran DER seluruh perusahaan sebesar 1.033 yang berarti bahwa to- tal utang yang digunakan

Penghargaan tersebut dapat berupa anggaran yang diberikan kepada Inspektorat harus sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 44 Tahun 2008 yang nantinya digunakan untuk

Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan keterampilan guru dalam mengajar tema kayanya negeriku menggunakan model mind mapping pada siswa kelas IV SD 3 Tenggeles,

Hal tersebut antara lain karena biaya penelitian untuk uji klinik sangat besar dan uji klinik hanya dapat dilakukan bila obat tradisional/obat herbal tersebut telah

hal ini menunjukkan bahwa variable bebas (pendapatan, jumlah keluarga, umur, persepsi terhadap AF, persepsi terhadap tutupan tajuk, luas lahan) mampu menjelaskan

Makroskopis, maka diperoleh hasil sebagai berikut :.. Hasil Pengamatan Bahan Pakan Berdasarkan Spesifikasinya NO. Tepung tapioca agro industry. 2. Ampas tahu