• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ETIKA LINGKUNGAN HIDUP

B. Teori-Teori Etika Lingkungan Hidup

3. Ekosentrisme

Ekosentrisme merupakan teori etika lingkungan yang sering disamakan dengan biosentrisme.Hal tersebut dikarenakan banyaknya kesamaan antara ekosentrisme dan biosentrisme. Kedua teori tersebut menentang cara pandang antroposentrisme yang membatasi keberlakuan etika hanya untuk manusia. Kedua teori ini memperluas cakupan etika sampai kepada komunitas di luar manusia.274

Meskipun teori ekosentrisme merupakan kelanjutan teori biosentrisme, namun terdapat perbedaan antara keduanya.Perbedaan itu adalah, jika biosentrisme memusatkan etika pada kehidupan seluruhnya, pada teori ekosentrisme justru memusatkan pada seluruh komunitas ekologis, ini berarti

272

Ibid,h. 53. 273

Himyari Yusuf, Filsafat Kebudayaan; Strategi Pembangunan Kebudayaan Berbasis Kearifan Lokal,(Harakindo Publishing: Lampung, 2013), Cet. I, h. 244.

274

semua makhluk baik yang hidup maupun tidak hidup.275 M. Abdurrahman menjelaskan bahwa secara ekologis, makhluk hidup dan benda-benda abiotis lainnya saling terkait satu sama lain. Oleh karena itu kewajiban moral seyogyanya tidak terbatas hanya pada makhluk hidup saja.276

Salah satu turunan ekosentrisme adalah teori yang dipopulerkan oleh Arne Naess277yaitu Deep Ecology (DE).Seperti yang dikatakan Suwito mengutip Session, bahwa teori ini muncul pada tahun 1973 dan dipandang lebih progresif.278Teori ini menuntut suatu etika yang tidak berpusat pada manusia seperti halnya teori antroposentrisme, tetapi berpusat pada makhluk hidup seluruhnya dalam kaitannya dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup.279DE merupakan sebuah teori sekaligus gerakan etika lingkungan yang mencakup semua teori anti-antroposentrisme. Dikatakan suatu gerakan, karena teori ini menyangkut lebih dalam dan komprehensif dalam aksi nyata dan konkret dalam menangani isu lingkungan hidup.280Arne Naess yang dikutip oleh Sonny Keraf menyebut DE sebagai ecosophy.Eco yang berarti rumah tangga dan sophy yang berarti kearifan.Jadi ecosophy berarti kearifan (wisdom) dalam mengatur hidup selaras dengan alam sebagai rumah tangga secara luas.281Dari sini kita bias

275 Ibid. 276

M. Abdurrahman,Op.cit.,h. 67. 277

Arne Naess adalah seorang filsuf Norwegia, tahun 1973. Ia merupakan pelopor gerakanDeep Ecology,dan dikenal hingga sekarang. Salah satu artikelnya yang terkenal terkait dengan hal ini adalah “The Shallow and the Deep, Long-Range Ecological Movement: A Summary”.A. Sonny Keraf,Etika…Op.cit.,h. 76.

278

Suwito NS,Op.cit.,h. 32. 279

Sonny Keraf,Loc.cit. 280

Ibid,h. 76-77. 281

melihat adanya pergeseran dari hanya sekedar ilmu (science) menjadi sebuah kearifan(wisdom).

DE juga dikenal sebagai sebuah gerakan filsafat lingkungan hidup, karena selalu mengajukan dan membahas persoalan nilai, etika, kebijakan ekonom dan politik. Selain itu DE juga dipandang sebagai teori normatif, teori kebijakan dan teori gaya hidup. Hal tersebut karena ecosophy berisikan suatu cara pandang normatif yang memandanga alam dan segala isinya bernilai pada dirinya sendiri, hal tersebut kemudian meahirkan norma dan tentu mempengaruhi gaya hidup masyarakat.282

Selanjutnya, sebagai sebuah gerakan filsafat menurut Naess yang dikutip Suwito paling tidak Ada tiga hal penting dalam teori DE, pertama pengalaman yang mendalam (deep experience), kedua pertanyaan yang mendalam (deep question), ketigakomitmen yang serius(deep commitment).283

DE sebagai sebuah teori sekaligus gerakan, mengkritik antroposentrisme atau dikenalshallow ecological movement (SEM) akan perhatiannya yang hanya fokus kepada mengatasi masalah pencemaran dan pengurasan sumber daya alam. Menurut Naess, salah satu pilar utama SEM adalah asumsi bahwa krisis lingkungan merupakan persoalan teknis, yang tidak membutuhkan perubahan kesadaran manusia dan system ekonomi. Hal tersebut sangat ditentang oleh DE, dengan memandang masalah tersebut secara relasional yang lebih luas dan

282

Ibid,h. 79-80. 283

holistic.Dalam hal ini DE berusaha melihat akar permasalahn kerusakan dan pencemaran lingkungan dan mengatasinya lebih mendalam.284

Dengan dasar uraian di atas, Naess menyimpulkan bahwa krisis lingkungan sesungguhnya disebabkan faktor yang lebih fundamental. Yaitu kesalahan fundamental pada cara pandang manusia tentang dirinya, alam dan tempat manusia dalam alam. Sehingga yag dibutuhkan adalah sebuah perubahan fundamental dan revolusioner yang menyangkut transformasi cara pandang dan nilai, baik secara pribadi maupun budaya yang dapat mempengaruhi struktur dan kebijakan ekonomi serta politik.285Bahkan lebih dalam dari itu Naess yang dikutip oleh Suwito mengatakan bahwa, Deep Ecology merupakan komponen religius yang dikoneksikan pada perilaku berlingkungan.Komponen religius yang berbasis pada kearifan terkait dengan pola relasi manusia pada alam sekitar.286

Terdapat beberapa prinsip gerakan lingkungan yang dianut oleh DE, diantaranya adalah; pertama, biospheric egalitarianismin principle, yaitu pengakuan bahwa semua organisme dan makhluk hidup adalah anggota yang sama statusnya dari suatu keseluruhan yang terkait, sehingga memiliki martabat yang sama pula. Kedua, prinsip non-antroposentrisme. Yaitu memahami bahwa manusia merupakan bagian alam dan tidak dipandang sebagai tuan dan penguasa alam semesta dan sebagai ciptaan Tuhan.287Ketiga, prinsip reliasi diri (self-realization), Naess memandang bahwa manusia merealisasikan dirinya dengan

284

Sonny Keraf,Etika…, Op.cit.,h. 81. 285

Ibid,h. 82. 286

Suwito NS,Op.cit.,h. 33 287

Pandangan kedua ini merupakan pemikiran filosofis yang mengacu pada pemikiran metafisik Barukh Spinoza, bahwa manusia adalah bagian dari alam dan tidak mempunyai kedudukan istimewa di dalamnya. A. Sonny Keraf,Etika…., Op.cit.,h. 92.

mengembangkan potensi diri. Bagi Naess, realisasi diri tidak lain adalah realisasi diri manusia sebagaiecological self.288

Keempat, pengakuan dan penghargaan terhadap keanekaragaman dan kompleksitas ekologis dalam suatu hubungan simbiosis.Kelima, perlunya suatu perubahan dalam politik menuju ecopolitics.Dalam ecopolitics ini, DE menuntut adanya perubahan yang bukan hanya mrlibatkan individu, melainkan transformasi kultural dan politis, demi membangkitkan kesadaran moral, kultural, dan politis mengenai kesatuan asasi manusia, hewan dan tumbuhan.289

Dokumen terkait