3333 METODOLOGI METODOLOGI METODOLOGI METODOLOGI PENELITIAN PENELITIAN PENELITIAN PENELITIAN
5. HASIL HASIL HASIL HASIL DAN DAN DAN DAN PEMBAHASAN PEMBAHASAN PEMBAHASAN PEMBAHASAN 1
5.1 Realitas Realitas Realitas Realitas Ekosistem Ekosistem Ekosistem Ekosistem Terumbu Terumbu Terumbu Terumbu Karang Karang Karang Karang Berterumbu Berterumbu Berterumbu Berterumbu Buatan Buatan Buatan Buatan
5.2.1 Jasa Jasa Jasa Jasa Ekosistem Ekosistem Ekosistem Ekosistem Terumbu Terumbu Terumbu Terumbu Karang Karang Karang Karang Berbasis Berbasis Berbasis Berbasis Terumbu Terumbu Terumbu Terumbu Buatan Buatan Buatan Buatan
5.2.1 5.2.1
5.2.1 JasaJasaJasaJasa EkosistemEkosistemEkosistemEkosistem TerumbuTerumbuTerumbuTerumbu KarangKarangKarangKarang BerbasisBerbasisBerbasisBerbasis TerumbuTerumbuTerumbuTerumbu BuatanBuatanBuatanBuatan
Terumbu karang dan berbagai biota asosiasi di perairan tropis menunjang kehidupan jutaan manusia yang bergantung pada sumberdaya ekosistem ini baik sebagai sumber makanan juga sumber pendapatan. Estimasi nilai ekonomi dari barang, jasa dan mata pencaharian yang berasosiasi dengan terumbu karang sekitar USD 30 milyar (Cesaret al.2003). Jasa ekosistem yang terkait dengan terumbu karang lebih dari sekedar produksi pangan, karena
mencakup manfaat yang luas mengenai barang dan jasa yang berguna bagi
masyarakat pesisir dan membentuk kultur msyarakat pesisir yang spesifik. Sebagian besar masyarakat pesisir di daerah tropis memilik mata pencaharian yang terkait erat dengan dengan sumberdaya terumbu karang (Hicks 2011; Cinneret al. 2012).
Matriks ecosystem service (Tabel 11) menjelaskan keterkaitan antara jasa ekosistem terumbu karang dengan bebearapa stakeholder yang saat ini berkegiatan pada ekosistem tersebut. Jasa ekosistem terumbu karang sebagai pelindung pantai dan penyedia sumberdaya ikan berkaitan erat dengan nelayan dan masyarakat
pesisir pada umumnya. Sedangkan wisatawan menganggap penting akan jasa pariwisata dan penyedia informasi. Dalam hal ini ekosistem terumbu karang dapat memberikan jasa informasi antara lain untuk montoring pencemaran serta merekam kondisi iklim yang telah terjadi (Moberg and Folke 1999). Bagi masyarakat pesisir, seluruh jasa dari ekosistem terumbu karang sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka seperti yang dijelaskan oleh Whittingham et al. (2003).
Tabel 11 Matriks jasa ekosistem pada penilaiansocial ecological system Matriks Jasa Ekosistem
Terumbu Karang
Jasa Ekosistem
Pelindung pantai Penyedia SD ikan pariwisata InformasiJasa
Stakeholders NelayanWisatawan +0 +0 +0 0+
Masyarakat + + + +
Sumber : Hasil analisis, 2013
Pada matriks descriptorsberikut ini (Tabel 12), stakeholder yaitu nelayan, wisatawan dan masyarakat umum mendeskripsikan karakteristik yang dapat diamati dari ekosistem terumbu karang. Karakteristik yang dapat diamati berkaitan dengan jasa ekosistem terumbu karang adalah (1) persentase tutupan karang; (2) Struktur terumbu karang; (3) kelimpahan ikan; (4) kehadiran biota asosiasi; (5) keindahan/keunikan.
Tabel 12 Matriks descriptor pada penilaiansocial ecological system Matriksdescriptors Stakeholderdescriptor persentase tutupan karang Struktur terumbu karang Kelimpahan
ikan asosiasibiota Keindahan/keunikan Jasa Ekosistem Pelindung pantai + + + 0 0 Penyedia SD ikan + + + + 0 pariwisata + 0 + + + Jasa informasi 0 + + 0 0
Sumber : Hasil analisis, 2013
Ecosystem properties yang dimaksudkan pada matrik berikut ini adalah struktur atau fungsi karakteristik dari ekosistem terumbu karang (Tabel 13). Matriks ini menghubungkan deskripsi biofisik dengan karakteristik spesifik dari ekosistem terumbu karang sebagai penyedia jasa.
Tabel 13 Matriksecosystem propertiespada penilaian social ecological system Matrik Ecosystem Properties Indeks Ecosystem Properties
karang ikan Stakeholder Deskriptors %tutupan karang + + + + Struktur terumbu karang + 0 + 0 Kelimpahan ikan 0 + + + Biota asosiasi 0 - + 0 Keindahan + + +
-Sumber : Hasil analisis, 2013
Matriks pemanfaatan kawasan berikut ini menghubungkan praktek pengelolaan kawasan terumbu karang terhadap karakteristik yang menjadi ciri dari ekosistem tersebut (Tabel 14). Pada matriks tersebut menunjukan bahwa kegiatan pemanfaatan terumbu karang bagi wisata baharai dan konservasi sangat erat kaitannya dengan kriteria kekhasan/keindahan, tutupan karang dan jenis ikan. Sedangkan kegiatan pemanfaatan untuk perikanan berkaitan erat dengan tutupan karang dan jumlah ikan.
Tabel 14 Matriks pemanfaatan kawasan pada penilaiansocial ecological system Matriks Pemanfaatan kawasan Kekhasan/keindahanKriteria PemanfaatanTutupan karang Jenis ikan
Stakeholder Descriptors Wisata bahari + + + Perikanan 0 + + Konservasi + + +
Sumber : Hasil analisis, 2013
Matriks functional trait merupakan matriks yang terakhir yang menghubungkan ciri fungsional dengan ecosystem properties (Tabel 15). Hubungan yang dijelaskan dalam matriks ini adalah korelasi langsung antara ecosystem properties dengan manfaat yang diterima masyarakat. Functional trait atau ciri fungsi dari ekosistem terumbu karang dapat diartikan sebagai fungsi atau manfaat yang dapat diterima dan dilakukan oleh masyarakat dari ecosystem properties. Unsur keragaman karang, keragaman ikan, kualitas perairan dan produksi ikan berhubungan erat dengan peningkatan pendapatan, upaya perbaikan lingkungan, keragaman usaha serta tingkat kesejahteraan.
Tabel 15 Matriksfunctional trait pada penilaiansocial ecological system Matriks Functional trait
Functional trait Peningkatan pendapatan Upaya perbaikan lingkungan Keragaman Usaha Tingkat Kesejahtera an Ecosystem
Kualitas perairan + + + +
Produksi ikan - - 0 +
Sumber : Hasil analisis, 2013
Ekosistem terumbu karang dan asosiasinya dengan manusia yang cukup kompleks membuat masyarakat yang hidup di pesisir seringkali dikarakteristikan sebagaisocial-ecological systems (SESs) atau salah satu sistem antropogenik pada ekosistem yang didominasi oleh manusia (Shackeroff et al. 2009, Cinner and David 2011). Dari berbagai pustaka dapat disimpulkan bahwa socio-ecological system dalah interaksi antara ekosistem sebagai penyedia jasa dengan manusia sebagai penerima jasa.
Menurut Fisher et al. 2009, jasa ekosistem adalah fungsi dari interaksi kompleks antara spesies dan lingkungan abiotik yang mencakup penggunaan dan pola pemanfaatan, serta berbagai persepsi oleh penerima manfaat. Seperti halnya ekosistem terumbu karang di Perairan Ratatotok yang memiliki interaksi dengan masyarakat yang memanfaatkan jasa ekosistem ini sebagai sumber makanan dan mata pencaharian untuk kehidupan mereka. Matriks-matriks diatas hanyalah cara untuk mempelajari hubungan keterkaitan antara unsur-unsur jasa ekosistem, karakteristik, pemanfaatan kawasan dan pada akhirnya manfaat yang dapat diterima oleh masyarakat pesisir.
Pada matriks terakhir jelas terlihat bahwa ecosystem properties berkaitan erat dengan functional traitdimana jika kualitas ekosistem terumbu karang dalam kondisi yang baik dapat meningkatkan pendapatan dengan meningkatnya kualitas dan kuantitas produksi ikan karang. Selain itu, kondisi ekosistem tersebut dapat berdampak pada upaya perbaikan lingkungan pesisir secara luas berkaitan dengan jasa ekosistem terumbu karang yang lain misalnya peranannya sebagai pelindung pantai. Faktor keragaman usaha juga dipengaruhi oleh kondisi ekosistem ini. Kondisi ekosistem terumbu karang yang baik dapat dimanfaatkan tidak saja untuk daerah penangkapan ikan, tapi juga bisa untuk kawasan wisata dan budidaya. Pada akhirnya semua faktor-faktor tadi akan bermuara pada tingkat kesejahteraan masyarakat yang meningkat apabila jasa ekosistem terumbu karang tersebut dimanfaatkan dengan optimal dan berkelanjutan
5.2.2
Hubungan antara keanekaragaman hayati dan keragaman habitat telah menjadi pokok bahasan dari beberapa peneliti selama ini (Ault and Johnson 1998). Secara umum disimpulkan bahwa peningkatan keragaman habitat, baik karena kehadiran macrophyta, batu, pohon tumbang, vegetasi yang berfluktuasi maupun introduksi benda asing, adalah sangat penting untuk komunitas ikan, yang berfungsi sebagai feeding dan nursery ground (Petrere 1996). Penggunaan terumbu buatan umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan tradisional di Asia Tenggara. Struktur terumbu buatan yang diintroduksi ke lingkungan perairan memiliki banyak fungsi diantaranya meningkatkan hasil perikanan skala kecil (Seaman and Sprague 1991); meningkatkan kelimpahan spesies ikan karang (Wikhamet al.1993) serta mereduksi pengaruh dari dampak antropogenik dengan meningkatkan kompleksitas habitat (Loffler 1998).
Terumbu buatan reef ball yang telah berada di Perairan Ratatotok selama kurang lebih 13 tahun telah memberikan kontribusi positif bagi perkembangan keanekaragaman biota-biota yang berasosiasi pada terumbu karang. Selain kontribusi bioekologi tersebut, terumbu buatan di lokasi ini juga telah memberikan manfaat bagi aspek sosial ekonomi masyarakat pesisir khususnya mereka yang berkegiatan dan memanfaatkan terumbu karang sebagai sumber pendapatan.
Berdasarkan hasil pengamatan selama 3 tahun berturut yaitu sejak 2009-2011 diperoleh jumlah individu ikan karang pada lokasi TB 1 adalah 7033 ekor, pada lokasi TB 2 terdapat 4989 ekor dan pada lokasi TA hanya 2453 ekor. Jumlah tersebut merupakan total jumlah ikan target, ikan mayor dan ikan indikator. Sedangkan jumlah spesies rata-rata yang ditemukan selama 3 tahun pengamatan pada lokasi TB 1 sebanyak 116 spesies; lokasi TB 2 sebanyak 112 spesies; dan lokasi TA sebanyak 88 spesies. Dengan ANOVA diketahui bahwa nilai total individu ikan karang berbeda nyata pada stasiun dengan terumbu buatan dengan stasiun terumbu alami. Hal ini menunjukkan bahwa memang terdapat kontribusi positif dari keberadaan terumbu buatan berdasarkan pada kelimpahan ikan karang yang ditemukan pada lokasi tersebut. (Tabel 16).
Tabel 16 Hasil ANOVA jumlah individu antara stasiun dan tahun pengamatan
Source of Variation SS df MS F P-value F crit
Tahun 4304.222 2 2152.111 0.375973 0.708561 6.944272
Stasiun 683061.6 2 341530.8 59.66529 0.001052 6.944272
Total 710262.2 8 Sumber : Hasil analisis, 2013
Habitat yang kompleks merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi ikan-ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang. Semakin heterogen suatu habitat umumnya memiliki keanekaragaman spesies dan kelimpahan ikan yang semakin tinggi juga (Adams 2005). Hal ini nyata pada lokasi penelitian dimana pada lokasi TB 1 dan 2 yang merupakan perpaduan terumbu karang alami dan terumbu buatan memiliki kekeayaan spesies dan jumlah individu yang lebih tinggi dibanding lokasi TA yang merupakan terumbu karang alami saja. Perbandingan jumlah spesies dan jumlah individu untuk setiap kelompok ikan (target, mayor, indikator) pada ketiga stasiun ditampilkan pada Gambar 10 berikut ini.
Keanekaragaman spesies dan kelimpahan ikan karang pada lokasi TB 1 dan 2 yang lebih tinggi daripada lokasi TA menunjukan adanya kontribusi ekologis dari terumbu buatan terhadap ekosistem terumbu karang yang ada di Perairan Ratatotok. Kontribusi terumbu buatan dalam hal ini adalah selisih antara komposisi ikan karang pada terumbu buatan dan terumbu alami yaitu rata-rata sebesar 26 spesies dan 1186 individu yang mencakup ketiga kelompok ikan karang yaitu ikan target, ikan mayor dan ikan indikator pada setiap tahunnya.
Gambar 10. Jumlah spesies ikan karang pada tahun 2009 - 2011 Terumbu buatan 2 Terumbu buatan 1 Terumbu Alami
Hasil pengamatan menunjukan beberapa famili ikan karang tampak signifikan jumlahnya pada lokasi TB 1 dan 2. Ikan-ikan tersebut paling banyak dari famili Pomachentridae, Lutjanidae, Acanthuridae dan Caesionidae. Hal ini secara umum disebabkan oleh habitat dan ketersediaan makanan (Adams 2005).
Chaetodontidae (Butterflyfishesatau ikan kupu-kupu) mungkin merupakan family ikan karang yang paling sering diamati di Indo-Pacific sampai saat ini (Kulbicki and Bozec 2005). Studi mengenai ikan ini berkisar dari aspek biologi (Findley and Findley 1989; Lewis 1998), aspek ekologi (Cadoret et al.. 1999) bahkan aspek biogeogafis (Findley and Findley 2001). Ikan ini juga digunakan untuk memantau status ekologi terumbu karang (Crosby and Reese 1996; Samways 2005).
Hasil pengambilan data kondisi ikan karang di Lokasi TB 1, khususnya kelompok spesies indikator (Famili Chaetodontidae), terdiri dari 103 individu dari 14 spesies, dan 4 genera. Hasil pengamatan berdasarkan jumlah spesies dan individu per tahun, mulai dari tahun 2009 sampai dengan 2011 mengalami penurunan. Untuk jumlah spesies tahun 2009 menunjukkan angka 14 spesies, kemudian menurunan pada tahun 2010 menjadi 13 spesies dan 12 spesies pada tahun 2011.
Dilihat dari komposisi spesies, spesies indikator yang ditemukan didominasi oleh spesies Chaetodon kleinii. Keadaan ini menunjukkan bahwa spesies tersebut memiliki relung ekologi yang luas dan tidak terpengaruh dengan
Gambar 11. Jumlah individu ikan karang pada tahun 2009-2011 Terumbu alami Terumbu buatan 2 Terumbu buatan 2
perubahan-perubahan komposisi habitat (kondisi terumbu karang). Penurunan jumlah spesies pada lokasi ini tidak memperllihatkan angka yang signifikan. Faktor yang mempengaruhi penurunan angka ini diduga adalah ruaya ikan yang terjadi pada musim-musim tertentu sehingga pada waktu pengamatan beberapa jenis tidak ditemukan.
Kelompok spesies target yang ditemukan pada pengamatan terdiri dari 896 individu dari 53 spesies, 20 genera, dan 11 famili. Berdasarkan komposisi, distribusi dan kelimpahan spesies ditemukan beberapa spesies dari famili tertentu, merupakan spesies yang dominan, yaitu: Acanthuridae (11 spesies), dan Scaridae (8 spesies).
Hasil pengamatan menunjukan bahwa beberapa spesies memiliki preferensi habitat yang luas dan kelimpahan yang tinggi, seperti Zanclus cornutus danZebrasoma scopas. Untuk Famili Haemulidae hanya ditemukan pada beberapa titik pengamatan.
Kondisi yang diperoleh pada ikan karang (baik spesies indikator maupun spesies target) mengikuti kondisi yang diperoleh pada karang batu. Seperti diketahui bahwa kondisi secara umum terumbu karang (persentase tutupan, keanekaragaman, maupun jumlah koloni karang batu) di lokasi TB 1 menunjukkan kondisi perairan yang baik.
Pengamatan terhadap jumlah spesies dan individu pada tiga tahun yang berbeda (2009, 2010 dan 2011) dilakukan untuk melihat trend pada ikan karang. Untuk jumlah spesies pada tahun 2009 dan 2010 tidak mengalami perubahan yaitu 56 spesies, sedangkan pada tahun 2011 hasil pengamatan menujukkan angka 53 spesies. Beberapa spesies ikan karang yang tidak ditemukan tahun 2011 kebanyakan berasal dari famili Siganidae dan Acanthuridae. Jenis-jenis ikan ini memang adalah ikan target yang mempunai nilai ekonomis tinggi karena itu sering dijadikan konsumsi nelayan ataupun dijual ke pasar terdekat.
Jumlah individu ikan target pada saat pengamatan sebanyak 896 individu, angka ini meningkat dari tahun 2010 yang hanya menunjukkan angka 873, akan tetapi pada tahun 2008 jumlah individu ikan karang yang ditemukan bisa mencapai 965. Fluktuasi yang terjadi pada jumlah ikan karang yang menjadi target nelayan
diduga diakibatkan oleh perbedaan musim pada saat pengamatan dan pemanfaatan yang berlebihan oleh nelayan setempat.
Penurunan jumlah individu ini tidak hanya terlihat pada spesies indikator akan tetapi pada jumlah individu total. Pada tahun 2009 terdapat 867, menurun pada tahun 2010 (836), dan tahun 2011 menjadi 750 individu. Sedangkan untuk jumlah spesies total stasiun ini pada tahun 2009 terdapat 89 spesies, meningkat pada tahun 2010 menjadi 90 spesies, dan menurun menjadi 85 spesies pada tahun 2011. Penurunan jumlah individu ini diduga akibat menurunnya kualitas terumbu karang daerah ini, tidak seperti stasiun sebelumnya yang didukung oleh terumbu karang buatan yang berfungsi sebagai spawning ground, nursery ground, dan feeding ground bagi ikan karang yang berada disana. Selain itu penangkapan ikan target yang berlebihan terindikasi pada stasiun ini, bekas jaring dan alat tangkap lain banyak ditemukan ditempat ini.