BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.7. Ekowisata di Kecamatan Batang Serangan
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Langkat Tahun 2013-2033, bahwa kawasan pariwisata yang potensial untuk dikembangkan di Kecamatan Batang Serangan adalah sumber air panas Kuala Buluh, Batu Rongring Desa Sungai Musam dan Tangkahan.
24
Menurut Wiranatha et al. (2009) menyatakan bahwa faktor-faktor lingkungan internal sebagai kekuatan di Ekowisata Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok adalah daya tarik wisata, atraksi wisata, aksesibilitas, fasilitas pariwisata, sarana pendukung kawasan pariwisata, SDM pariwisata, persepsi masyarakat, kesadaran pelaku pariwisata dan masyarakat terhadap konservasi alam. Faktor-faktor lingkungan internal sebagai kelemahan adalah pemasaran pariwisata, lembaga terkait pengelolaan pariwisata, penataan kawasan, kemampuan permodalan /investasi masyarakat lokal, kondisi kebersihan dan sanitasi lingkungan, resiko kecelakaan pada aktivitas pariwisata.
Lebih lanjut Wiranatha et al. (2009) menjelaskan faktor-faktor lingkungan eksternal yang menjadi peluang di Ekowisata Bukit Lawang, Kecamatan Bohorok adalah minat masyarakat untuk berwisata meningkat, tren dunia “back to nature”
kondisi politik dan keamanan (global dan nasional) yang kondusif, peranan pemerintah dalam pengembangan ekowisata (Kabupaten, Provinsi dan Pusat), kerjasama dengan pihak-pihak lain. Faktor-faktor eksternal yang menjadi ancaman adalah kondisi ekonomi (global dan nasional) yang belum membaik, kurangnya dukungan pihak penyedia jasa perbankan, komunikasi dan listrik pesaing oleh destinasi wisata sejenis, penebangan hutan secara ilegal, dan isu-isu pemanasan global (global warming). Zahedi (2012) mengemukakan bahwa karateristik gua di Kecamatan Bahorok dikategorikan gua ilmiah dengan tingkat kemudahan yang tinggi, masyarakat setempat lebih menghendaki goa-goa dijadikan lokasi wisata petualang dengan harapan mendapat tambahan pendapatan.
25 2.8 Wisata Minat Khusus
Menurut Anindita (2010) bahwa wisata minat khusus petualangan dapat didefinisikan sebagai bentuk perjalanan wisata yang dilakukan di suatu lokasi yang memiliki atribut fisik yang menekankan unsur tantangan, rekreatif, dan pencapaian keinginan seorang wisatawan melalui keterlibatan/ interaksi dengan unsur alam. Wisatawan yang terlibat dalam wisata minat khusus dapat dibagi menjadi 2 (dua) antara lain:
a. Kelompok Ringan (Soft Adventure): Kelompok yang melihat keterlibatan dirinya lebih merupakan keinginan untuk mencoba aktifitas baru, sehingga tingkat tantangan yang dijalani cenderung pada tingkat ringan sampai rata-rata.
b. Kelompok Berat (Hard Adventure): Kelompok yang memandang keikutsertaannya dalam kegiatan wisata minat khusus petualangan lebih merupakan sebagai tujuan atau motivasi utama, sehingga cenderung mencari produk yang menawarkan tantangan di atas rata-rata.
Berdasarkan pengertian diatas, maka pengertian wisata minat khusus adalah suatu ketertarikan seseorang yang berkaitan dengan hobi dimana wisatawan akan datang ke tempat wisata yang memiliki atribut fisik yang unik.
2.9 Strategi Pengembangan Ekowisata
Salah satu bentuk pemanfaatan jasa lingkungan hutan yang secara ekonomi menguntungkan (economically viable), secara ekologi ramah lingkungan (environmentally benign), secara teknis dapat diterapkan (technically feasible), dan secara sosial dapat diterima oleh masyarakat (socially acceptable) adalah jasa lingkungan ekowisata. Strategi pengembangan ekowisata didesain berdasarkan
26
hasil analisis tingkat prospektif masing-masing faktor penentu. Untuk dapat menentukan beberapa faktor kunci/ penentu dalam pengembangan ekowisata dan analisis untuk menentukan beberapa faktor kunci dalam pengembangan ekowisata yang dikaji berdasarkan diskusi dengan ahli ekowisata, ahli kelembagaan, dan studi pustaka. (Karsudi et al. 2010)
Menurut Pradana et al. (2013) pengembangan Taman Margasatwa Mangkang Kota Semarang adalah dengan perumusan program-program yang dapat mendukung guna tercapainya strategi yang telah tersusun dalam pengembangan Taman Margasatwa Mangkang Kota Semarang. Strategi tersebut terkait dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Memanfaatkan kesesuaian visi dan misi dengan kondisi kepariwisataan, sebagai landasan untuk menambah daya tarik wisata melalui kondisi ekonomi, sosial budaya yang ada serta adanya komitmen dari stakeholder.
2. Meningkatkan sarana dan prasarana kebersihan tempat wisata serta sosialisasi mengenai kebersihan di tempat wisata.
3. Peningkatan kualitas dan kuantitas SDM dengan memanfaatkan kondisi politik yang stabil.
4. Meningkatkan media informasi yang baik untuk meningkatkan investor.
Menurut Purwanti (2010) bahwa variabel yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kawasan untuk ekowisata adalah faktor kebijakan pemerintah, pemerintah merupakan faktor utama dalam pengembangan ekowisata.
Menurut Dalilla et al. (2013) Strategi pengembangan ekowisata kawasan Mempura Kabupaten Siak Provinsi Riau menyimpulkan beberapa strategi pengembangan yaitu:
27
1. Meningkatkan pelayanan terkait pariwisata kawasan;
2. Penguatan aspek penataan ruang;
3. Peningkatan sumberdaya manusia dan sarana pariwisata;
4. Peningkatan kesadaran dan kepedulian masyarakat;
5. Peningkatan kegiatan promosi;
6. Meningkatkan pengawasan terhadap kelestarian alam dan budaya;
7. Penguatan aspek pengelolaan kawasan.
Pemerintah Kabupaten Langkat mendukung berkembangnya berbagai potensi ekowisata di Langkat baik di pantai maupun hutan. Batu Katak merupakan salah satu daerah yang akan dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata dengan konsep ekowisata. Hal ini sesuai dengan program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Balai Besar TNGL yang menjadikan Batu Katak sebagai salah satu Model Desa Konservasi. (Indarjo Slamet. 2016)
2.10.1 Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).
Sudana (2013) dalam penelitiannya menggunakan analisis faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan serta faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman dalam merumuskan strategi pengembangan Desa Wisata Ekologis di desa Belimbing Kabupaten Tambanan, Bali.
28
Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan dan kebijakan perusahaan. Perencanaan strategis harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini (Rangkuti, 2014). Para pakar sependapat bahwa instrument untuk menilai berbagai faktor yang layak dipergunakan yakni analisis SWOT dan pendekatan matriks (Siagian, 2000).
Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang dan ancaman dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan sehingga analisis tersebut dapat diambil suatu keputusan strategis. langkah pertama dalam analisis SWOT adalah menentukan indikator-indikator dari faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman), kemudian melakukan penilaian bobot, rating dan score dari setiap faktor. Bobot ditentukan berdasarkan tingkat kepentingan atau urgensi penanganan dengan skala 1 sampai 4 (1=tidak penting, 2= agak penting, 3=penting dan 4= sangat penting). Langkah selanjutnya adalah melakukan Analisis strategi faktor-faktor internal (Internal Strategic Factors Analysis Summary-EFAS) (Rangkuti, 2014).
Dalam analisis SWOT, Rangkuti (2014) menggunakan matriks yang akan menghasilkan 4 (empat) set kemungkinan alternatif dari suatu strategi, yaitu:
Strategi SO : Strategi yang dibuat dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang yang besarnya
Strategi ST : Strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman yang mungkin timbul
29
Strategi WO : Strategi yang diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada
Strategi WT : Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman
Langkah-langkah dalam analisis IFAS (Rangkuti, 2014) sebagai berikut:
1. Analisis IFAS dilakukan dengan menghitung bobot dari seluruh indikator dengan menjumlahkan seluruh bobot kemudian dihitung bobot relatif dari masing-masing indikator. Jumlah seluruh bobot relatif dari faktor internal adalah 1 (100%);
2. Menentukan nilai dari rating kekuatan, setiap indikator berdasarkan nilai yang diberikan pada skala 1 sampai 4, nilai 1 kalau lemah (poor), nilai 2 kinerjanya biasa atau sama, nilai 3 atau 4 kalau kuat (oustanding). Rating kelemahan juga diberikan skala 1 sampai 4, nilai 1 apabila kelemahannya semakin besar dan nilai 4 apabila kelemahannya semakin kecil;
3. Perhitungan score adalah dengan mengalikan antara bobot dan rating. Hasil perhitungan dengan angka yang semakin mendekati nilai 4 maka faktor-faktor internal merupakan kekuatan, apabila mendekati angka 1 maka faktor-faktor internal merupakan kelemahan.
Langkah-langkah dalam analisis EFAS (Rangkuti, 2014) sebagai berikut:
1. Analisis EFAS dilakukan dengan menghitung bobot dari seluruh indikator dengan menjumlahkan seluruh bobot kemudian dihitung bobot relatif dari
30
masing-masing indikator. Jumlah seluruh bobot relatif dari faktor eksternal adalah 1;
2. Menentukan nilai dari rating peluang, setiap indikator berdasarkan nilai yang diberikan pada skala 1 sampai 4, nilai 1 kalau peluangnya kecil sedangkan peluang besar diberi nilai 4. Nilai rating ancaman pada skala 1 sampai 4, nilai 1 untuk ancaman yang besar dan nilai 4 untuk ancaman yang kecil;
3. Perhitungan score adalah dengan mewakilkan antara bobot dan rating. Hasil perhitungan dengan angka yang semakin mendekati nilai 4 maka faktor-faktor eksternal merupakan peluang, apabila mendekati angka 1 maka faktor-faktor eksternal merupakan ancaman.
2.10.2 Perencanaan Lanskap
Perencanaan lanskap mengkhususkan pada studi pengkajian secara sistematik area lahan bagi berbagai kebutuhan di masa yang akan datang melalui pengamatan masalah ekologi dan kerjasama lintas disiplin merupakan syarat mutlak untuk bisa sampai kepada produk kebijakan atau tata guna tanah (Hakim, 2012 dalam Nugraha et al. 2015). Menurut Rahantoknam et al. (2012) bahwa dalam pengembangan ekowisata, perlu disediakan ruang, aktifitas dan fasilitas yang mengakomodasi motivasi pengunjung, baik wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara.
Arsitektur lanskap bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara yang dibangun dan lingkungan alami. Hal ini membutuhkan pendekatan multi disiplin melibatkan ilmu lingkungan, seni dan ekologi untuk menghasilkan ke arah yang
31
luar biasa. Merancang arsitektur lanskap harus mempertimbangkan dengan yang ada sekarang (ASLA, 2015).
Menurut Beljai et al. (2014) bahwa perencanaan wisata dapat menggunakan modifikasi Wearing dan Neil (2009) yaitu dengan mengumpulkan data yang meliputi data biofisik lahan, sosial masyarakat sekitar serta obyek dan atraksi wisata alam. Data-data tersebut bersumber dari data primer dan sekunder, yang diperoleh melalui studi pustaka, wawancara dan survei lapangan. Data yang sudah terkumpul sebagai bahan dalam penyusunan penataan lanskap.
Menurut Maryani et al. (2014) pengelolaan lanskap untuk Daerah Aliran Sungai (DAS) saat ini merupakan pegelolaan lanskap dan ekosistem secara eksplisit bersama masyarakat. Konsep yang digunakan adalah keberlanjutan ekologi dan proaktif. Salah satu prinsipnya adalah keterlibatan masyarakat.
BAB III. METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Ekowisata Batu Rongring Desa Sei Musam, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat pada Bulan Juni sampai dengan Juli 2019.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain yaitu: alat tulis, Geography Positioning System (GPS), alat perekam dan kamera. Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu: panduan wawancara, program aplikasi Arcgis versi 10.3, peta dari image citra SPOT 4 tahun 2019 dan image Google Earth tahun 2019.
3.3. Batasan Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa batasan yaitu:
1. Objek wisata yang telah ada dan akan dikembangkan di Batu Rongring adalah jenis ekowisata yang berada di daerah penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Leuser;
2. Perencanaan lanskap yang akan disusun dalam sebuah rencana tertulis dan disajikan dalam bentuk peta rencana pengembangan Ekowisata Batu Rongring sebagai daerah penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Leuser;
33
3. Strategi merupakan respon secara terus menerus ataupun secara adaptif terhadap peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal yang dapat mempengaruhi dalam mengembangkan ekowisata;
3.4. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data seperti yang dilakukan oleh Ami dan Hamzah (2013) menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara semi terstruktur secara mendalam terhadap key informan (informan kunci), Focus Group Discussion (FGD) sebanyak 1 (satu) kali, studi literatur, dan observasi lapangan
3.4.1. Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap masyarakat Batu Rongring, Pemilik Homestay, Pemerintah Daerah, Dinas Pariwisata, Kesatuan Pemangkuan Hutan Wilayah I Langkat dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Biro Perjalanan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
3.4.2. Focus Group Discussion
Menentukan indikator dari faktor-faktor tersebut dengan melakukan curah pendapat (brainstorming), setiap peserta menuliskan segala hal yang diketahui tentang ekowisata secara umum dan Ekowisata Batu Rongring khususnya. Hasil brainstorming kemudian didiskusikan untuk dikelompokkan dalam indikator-indikator faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan dan faktor-faktor eksternal berupa peluang dan ancaman. Setelah indikator-indikator dari faktor internal dan eksternal diketahui maka setiap peserta melakukan penilaian bobot 1 (tidak penting), 2 (agak penting), 3 (penting) dan 4 (sangat penting) kemudian
34
masing-masing indikator dihitung bobot relatifnya dan rating 1 (tidak baik), 2 (agak baik), 3 (baik), dan 4 (sangat baik) kemudian dirata-ratakan untuk masing-masing indikator.
3.4.3. Studi Literatur
Studi literatur dilakukan dengan mengumpulkan dan mempelajari literatur yang terkait dengan penelitian. Studi literatur dilakukan di perpustakaan USU, perpustakaan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser dan penelitian-penelitian yang dipublikasikan pada jurnal-jurnal nasional dan internasional melalui internet.
3.4.4. Observasi Lapangan
Observasi lapangan dilakukan di lokasi penelitian di dusun Batu Rongring, desa Sei Musam, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat. Kegiatan observasi lapangan dilakukan sebelum pengambilan data dilapangan untuk memperkuat hasil wawancara dan studi alternatif. Kegiatan ini dimaksud untuk membuat rencana lanskap awal Pengelolaan Ekowisata Batu Rongring.
3.5. Analisis Data
3.5.1. Analisis Faktor Internal dan Eksternal
Analisis terhadap faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan ekowisata Batu Rongring dilakukan dengan menggunakan model matriks IFAS-EFAS sehingga menjadi acuan dalam penyusunan strategi dan kebijakan.
35 3.5.2. Analisis SWOT
Matrik SWOT dalam penelitian ini dilakukan untuk menentukan posisi kondisi saat ini dan strategi pengembangan Ekowisata Batu Rongring. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal (peluang dan ancaman) yang mempengaruhi dengan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dalam pengembangan Ekowisata Batu Rongring, sehingga dari analisis tersebut dan hasil wawancara dengan berbagai pihak dapat diambil suatu rekomendasi untuk alternatif-alternatif strategi. Analisis ini akan menghasilkan 4 (empat) buah alternatif strategi SO, WO, ST, SW.
3.5.3. Alternatif-Alternatif Strategi
Menurut Khoiri et al. (2014) alternatif-alternatif strategi disusun berdasarkan hasil sintesis antara kekuatan dengan peluang (S-O), kekuatan dengan ancaman (S-W), kelemahan dengan peluang (W-O) dan kelemahan dengan ancaman (W-T). pembobotan dilakukan dengan menjumlahkan bobot setiap faktor yang digunakan untuk satu alternatif strategi, semakin tinggi bobot semakin menjadi prioritas.
3.5.4. Perencanaan Lanskap
Perencanaan lanskap dilakukan untuk memelihara dan menjaga karakter alam sekaligus menjadikan alam tersebut memiliki manfaat keindahan dan keunikan untuk kehidupan manusia. Menurut Gold (1980), perencanaan lanskap adalah penyesuaian antara lanskap dan program yang akan dikembangkan untuk
36
menjaga kelestarian ekosistem dan pemandangan lanskap sehingga mencapai penggunaan terbaik.
Perencanaan lanskap dituangkan dalam Peta Dasar, Peta Administratif, Peta Topografi dengan menggunakan image citra SPOT 4 Tahun 2012 dan diolah dengan program Arcgis versi 10.3 dan Google Earth Image 2019 yang ada di Kantor Balai Besar TNGL di Medan.
3.5.5. Strategi (SWOT)
Tahap pertama yaitu pengumpulan data. Tahap ini pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan mengumpulkan data, tetapi juga merupakan kegiatan pengklasifikasian dan pra-analisis. Tahap pengumpulan data dapat dibagi menjadi dua, yaitu data eksternal dan data internal. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Ekowisata Batu Rongring dan wawancara yang dilakukan terhadap stakeholder yang dipilih secara purposive sampling yaitu; 1) BBTNGL Provinsi Sumatera Utara, 2) Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Wil. I Langkat, 3) Lembaga Pariwisata (Relasi) Batu Rongring, maka dapat disusun matrik faktor strategi internal (Internal Strategic Factors Analysis (IFAS) (Tabel 3.1)
Tabel 3.1. Matriks Faktor Strategi Internal Ekowisata Batu Rongring
Variabel Bobot Rating Bobot x Rating
Kekuatan:
Sub Total Kekuatan Kelemahan:
Sub Total Kelemahan TOTAL
Sumber: Rangkuti (2014)
37
Seperti halnya matriks IFAS, matriks EFAS juga diperoleh dari hasil pengamatan di Batu Rongring dan wawancara yang dilakukan terhadap stakeholder yang dipilih secara purposive sampling yaitu; 1). BBTNGL Provinsi Sumatera Utara, 2) Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Wil. I Langkat, 3) Lembaga Pariwisata (Relasi) Batu Rongring. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara tersebut maka disusun matriks faktor strategi eksternal (External Strategic Factors Analysis atau EFAS) (Tabel 3.2).
Tabel 3.2. Matriks Faktor Strategi Eksternal Batu Rongring
Variabel Bobot Rating Bobot x Rating
Kekuatan:
Sub Total Kekuatan Kelemahan:
Sub Total Kelemahan TOTAL
Sumber: Rangkuti (2014)
Setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup obyek wisata Batu Rongring, maka tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategi. Model kuantitatif tersebut diperoleh dengan melakukan pengurangan antara jumlah sub total faktor kekuatan dengan kelemahan (yang
KELEMAHAN
PELUANG
KEKUATAN
ANCAMAN
Kuadran I
Kuadran II Kuadran IV
Kuadran III
38
selanjutnya akan menjadi titik pada sumbu X) dan jumlah sub total faktor peluang dengan ancaman (yang selanjutnya akan menjadi titik pada sumbu Y) (Gambar 3.1).
Gambar 3.1. Diagram Analisis SWOT (Sumber: Rangkuti 2014)
Kuadran I : Merupakan situasi yang menguntungkan. Suatu kawasan memiliki peluang dan kekuatan, sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada
Kuadran II : Meskipun menghadapi ancaman, suatu kawasan masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus dipilih adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang yakni dengan cara diversifikasi.
Kuadran III : Suatu kawasan mempunyai peluang yang sangat besar, namun disaat yang bersamaan juga menghadapi kelemahan dari segi internal. Focus strategi kawasan ini adalah meminimalkan masalah-masalah internalnya, sehingga perusahaan tersebut dapat merebut peluang yang lebih baik.
Kuadran IV : Merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan karena suatu kawasan menghadapi berbagai ancaman dari faktor eksternal dan juga memiliki kelemahan dari sisi internal.
Adapun strategi yang dapat diterapkan dalam kondisi seperti ini adalah strategi defensive dalam arti mengurangi atau merubah bentuk keterlibatan suatu kegiatan wisata yang dijalankan pada
39 suatu kawasan.
Berdasarkan analisis IFAS dan EFAS, maka akan dapat diketahui alternatif kebijakan seperti apa yang akan diambil oleh pengelola Batu Rongring dalam pengembangan kawasan Batu Rongring menjadi kawasan ekowisata. Tahap formulasi strategi merupakan langkah untuk menentukan alternatif-alternatif strategi yang mungkin dapat diambil dalam pengembangan Ekowisata Batu Rongring, dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (oppurtunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats) (Rangkuti, 2014). Analisis SWOT dikerjakan dengan mengindentifikasi setiap kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki Batu Rongring. Tahap ini dilakukan dengan membuat matriks SWOT seperti Tabel 3.3 Matrik SWOT adalah pencocokan kondisi internal dan eksternal Batu Rongring. Berdasarkan matriks SWOT dapat diperoleh empat strategi pengelolaan, diantaranya strategi SO, strategi ST, strategi WO dan strategi WT.
Tabel 3.3. Matrik SWOT Faktor Eksternal
Faktor Internal
Kekuatan (Strengh) Kelemahan (Weakness)
Peluang (Opportunity) Strategi SO Strategi WO
Ancaman (Threath) Strategi ST Strategi WT
Sumber: Rangkuti (2014)
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Batu Rongring terletak di Dusun Penampean Desa Sungai Musam, Kecamatan Batang Serangan. Perjalanan ke Batu Rongring membutuhkan waktu sekitar 3 – 4 jam dari Kota Medan atau sekitar 2 (dua) jam dari Kota Stabat, dengan rute dari Medan – Binjai – Stabat – Sawit Seberang – Batu Rongring.
Objek wisata yang ada di Batu Rongring diantaranya adalah mendaki ke puncak bukit Behem, menelusuri Goa Angklung/ Goa Gong, Goa Vertikal, air terjun kapas dan rafting di sungai Kerapu (RPHJP KPH I Langkat, 2017).
Wisata alam Batu Rongring berada pada Hutan Produksi Terbatas (HPT) dengan titik kordinat 030 34’ 43,28” LU dn 980 07’ 34,23” BT. Lokasi Batu Rongring berada di sisi luar Taman Nasional Gunung Leuser, sehingga objek wisata alam yang ada disini masih terasa alami keasliannya.
Gambar 4.1. Lokasi Penelitian Dusun Penampean Ekowisata Batu Rongring
41 4.1.1 Kondisi Fisik
Dari kondisi wilayah Desa Batu Rongring mempunyai topografi bervariasi, wilayah yang berada di bagian Sungai Sei Musam yang merupakan bagian dari DAS Wampu lebih tinggi dari pada hilir sungai. Mayoritas topografi didominasi kelas datar dan agak curam dengan kemiringan 0 – 25 %. sesuai dengan tabel dibawah ini:
Tabel 4.1. Topografi Wilayah KPHP Unit I Langkat Bagian dari Desa Batu Rongring
No Kelas lereng Kemiringan (%) Luas (Ha) Luas (%)
1 Datar 0 – 8 24.535,54 35,10
2 Landai 8 – 15 467,32 0,67
3 Agak Curam 15 – 25 23.555,39 33,69
4 Curam 25 – 40 6.366,03 9,11
5 Sangat Curam >40 14.983,61 21,43
Sumber : Hasil Analisis SIG KPH Unit Langkat
Jenis tanah di Desa Batu Rongring tergolong Aluvial dan Latosol Coklat Kuning dengan kedalaman solum tanah 50 – 80 cm. Kelas kemampuan lahan mulai dari II sampai dengan V. Lahan dengan kelas kemampuan II, III dan IV dipergunakan untuk tanaman pertanian seperti padi, jagung, kacang-kacangan, dan kebun campuran. Lahan dengan kelas kemampuan V ditanami dengan pohon jenis MPTS dan vegetasi hutan (BBTNGL, 2011)
Desa Batu Rongring yang berbatasan langsung dengan kawasan TNGL klasifikasi iklimnya dikategorikan tipe A yaitu daerah yang sangat basah hutan hujan tropika berdasarkan kategori iklim Scmidt Ferguson.
Menurut Climate-Data.org (2019), iklim Sei Musam termasuk dalam klasifikasi tropis. Desa Sei Musam termasuk dalam kota dengan curah hujan yang signifikan. Bahkan di bulan terkering ada banyak hujan. Iklim disini diklasifikasikan sebagai Af berdasarkan sistem Koppen-Geiger. Suhu rata-rata
42
tahunan di Desa Sei Musam 21.30 C, suhu paling sejuk terjadi pada bulan Juli yaitu 15.80C dan suhu yang terasa paling panas terjadi bulan Mei sekitar 27.20C.
Curah hujan dalam setahun rata-rata 2466 mm. Bulan Juli curah hujan terjadi paling sedikit rata-rata 105 mm, sedangkan pada bulan November terjadi curah hujan yang cukup tinggi rata-rata 293 mm. (Climate-Data.org, 2019).
4.1.2 Kondisi Sosial dan Ekonomi 4.1.2.1 Kondisi Sosial
Penduduk Dusun Batu Rongring terdiri dari 46 kepala keluarga (KK) dengan jumlah laki-laki 97 orang dan perempuan 76 orang. Banyaknya penduduk yang mendiami Desa Batu Rongring berdasarkan kelompok umur jenis kelamin dapat dilihat pada tabel.
Tabel 4.2. Penduduk di Dusun Penampean, Desa Batu Rongring Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat
Golongan
Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4)
Sumber: Survei Lapangan
Kelas umur 0-15 tahun berjumlah 19 orang, usia produktif antara 16-45 tahun berjumlah 87 orang, dan usia diatas 60 tahun berjumlah 5 orang. Sebanyak 87 orang yang berusia produktif saat ini yang terlibat sebagai pemandu ekowisata Batu Rongring sekitar 40 orang, sisanya 47 orang melakukan kegiatan untuk memenuhi kehidupanya dengan berkebun, berladang, bertani serta mencari hasil hutan bukan kayu (madu hutan, rotan dan daun-daunan untuk obat khas karo).
43
Tabel 4.3. Persentase Penduduk Dusun Penampean Batu Rongring Menurut Suku
Penduduk yang tinggal di Batu Rongring berasal dari Suku Karo dan Jawa,
Penduduk yang tinggal di Batu Rongring berasal dari Suku Karo dan Jawa,