• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKSEKUSI BENDA AGUNAN OLEH KREDITUR SEPARATIS

EKSEKUSI BENDA AGUNAN OLEH KREDITUR SEPARATIS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 37 TAHUN 2004

TENTANG KEPAILITAN

A. Kreditur dalam Hukum Kepailitan

Dalam Undang-undang Kepailitan dijelaskan siapa yang dimaksud sebagai ‘kreditur’ dalam kepailitan yaitu dalam Pasal 1 angka (2) disebutkan:”Kreditur adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih dimuka Pengadilan”

Menurut Mariam Darus Badrulzaman, seorang kreditur adalah pihak yang aktif sedangkan yang berpiutang atau debitur adalah pihak pasif. Seorang debitur harus selamanya diketahui oleh karena seorang tertentu tidak dapat menagih dari seseorang yang tidak dikenal. Lain halnya dengan kreditur boleh merupakan seseorang yang tidak diketahui.F

93

Namun dalam kepailitan, keberadaan atau eksistensi dari kreditur adalah syarat mutlak dengan alasan sebagai berikut:

a. Karena Pasal 2 ayat (1) mensyaratkan adanya concersus creditorium yaitu debitur setidaknya memiliki lebih dari dua kreditur. Dalam hal ini, pemohon

93

pailit harus dapat membuktikan bahwa debitur juga memiliki kreditur lain dengan jumlah minimum dua orang

b. Kehadiran kreditur atau wakilnya yang sah sangat penting untuk menentukan diterima tidaknya rencana perdamaian yang diajukan debitur dalam rapat kreditur.F

94

F Jika jumlah kreditur yang hadir tidak memenuhi ketentuan maka

quorum suara tidak terpenuhi.

Keberadaan kreditur konkuren dan separatis sangat mutlak terutama dalam prosedur PKPU untuk menghindari timbulnya kreditur fiktif dalam menentukan diterima tidaknya perdamaian yang diajukan debitur.F

95

1. Pengertian dan Jenis-Jenis Kreditur dalam Hukum Kepailitan

Istilah kreditur berasal dari bahasa latin ‘credence’ atau ‘credere’ yang artinya dapat dipercaya. Kata credence ini kemudian menjadi kredit dalam bahasa Inggris yang memiliki arti yang sama dengan faith, trust (favorable) repute, power based on confidence, acknowledgement of merit, confidence in a buyers ability to pay atau reputation of solvency. Kata benda dari credence adalah creditum atau credit (Inggris) yang artinya sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang (thing entrusted to one).F

96

F

Pasal 1132 KUH Perdata telah mengisyaratkan bahwa setiap kreditur memiliki kedudukan yang sama terhadap kreditur lainnya, kecuali jika ditentukan lain

94

Lihat Pasal 152 dan 228 Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan

95

Lihat Pasal 281 huruf (a) dan (b) Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan

96

Lihat The Oxford Dictionary of English Etimology, Op.Cit.hal 226. Lihat juga Bryan A.Garner (Editor), The Blacks law Dictionary

oleh undang-undang karena memiliki alasan-alasan yang sah untuk didahulukan dari para kreditor-kreditor lainnya.

Dengan adanya kalimat dalam Pasal 1132 KUH Perdata yang bunyinya “kecuali apabila diantara para kreditur terdapat alasan-alasan yang sah untuk didahulukan dari para kreditur lainnya” maka terdapat kreditur-kreditur tertentu yang oleh undang-undang diberikan kedudukan yang lebih tinggi dari pada kreditor lainnya”.

Dari uraian diatas dapat kita ketahui bahwa terdapat beberapa jenis kreditur, yaitu:

a. Kreditur Konkuren

Dalam lingkup kepailitan, yang dapat digolongkan sebagai kreditur konkuren (unsecured creditor) adalah kreditur yang piutangnya tidak dijamin dengan hak kebendaan (security right in rem) dan sifat piutangnya tidak dijamin sebagai piutang yang diistimewakan oleh undang-undang. F

97

F Dengan kata lain kreditur konkuren

adalah kreditur yang harus berbagi dengan para kreditur lain secara proforsional, yaitu menurut perbandingan besarnya tagihan masing-masing dari hasil penjualan harta kekayaan debitur yang tidak dibebani dengan hak jaminan. Sedangkan pembayaran terhadap kreditur konkuren akan ditentukan Hakim Pengawas.

b. Kreditur Preferen

97

Kreditur preferen termasuk dalam golongan secured creditors karena semata-mata sifat piutangnya oleh undang-undang diistimewakan untuk didahulukan pembayarannya. Dengan kedudukan istimewa ini, kreditur preferen berada diurutan atas sebelum kreditur konkuren atau unsecured creditors lainnya. Utang debitur pada kreditur preferen memang tidak diikat dengan jaminan kebendaan, tapi undang-undang mendahulukan mereka dalam hal pembayaran.F

98

Oleh karena itu jika debitur dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga, maka prosedur pembayaran terhadap kreditur preferen sama seperti kreditur konkuren yaitu dengan cara memasukkan tagihannya kepada kurator untuk diverifikasi dan disahkan dalam rapat verifikasi.

c. Kreditur Separatis

Dalam ketentuan Pasal 1133 KUH Perdata dijelaskan siapa-siapa saja yang memiliki hak untuk didahulukan diantara para kreditur yaitu kreditur yang memiliki hak istimewa (kreditur preferen) dan kreditur pemegang hak jaminan atas kebendaan seperti gadai dan hipotik.

Sehubungan dengan istilah kreditur separatis, ada terdapat perbedaan perbedaan pendapat pemakaian istilah diantara para sarjana. Menurut Munir Fuady bahwa:

98

Dalam kepailitan, ongkos kepailitan dan upah kurator dimasukkan sebagai tagihan preferen yang didahulukan pembayarannya atas tagihan kreditur konkuren. Lihat Pasal 18 ayat (5) Undang-undang Kepailitan dan PKPU

Dikatakan separatis yang berkonotasi pemisahan karena kedudukan kreditur tersebut memang dipisahkan dari kreditur lainnya, dalam arti ia dapat menjual sendiri dan mengambil sendiri dari hasil penjualan yang terpisah dengan harta pailit yang umumnya.F

99

Mariam Darus Badrulzaman menyebukan bahwa sebagai kreditur pemegang hak jaminan yang memiliki hak preferen dan kedudukannya sebagai kreditur separatis.F

100

F.

Dengan demikian, Mariam Darus Badrulzaman membedakan antara hak dan kedudukan kreditur yang piutangnya dijamin dengan hak atas kebendaan. Haknya disebut sebagai preferen karena ia digolongkan oleh Undang-Undang sebagai kreditur yang diistimewakan pembayarannya. Sedangkan kedudukannya adalah sebagai kreditur separatis karena ia memiliki hak yang terpisah dari kreditur preferen lainnya yaitu piutangnya dijamin dengan hak kebendaan.

Dari uraian-uraian tersebut diatas, benang merah yang yang dapat ditarik dari adanya perbedaaan pendapat mengenai penggunaan istilah kreditur separatis ini, didapati bahwa dalam kepailitan, kedudukan kreditur yang dijamin haknya atas kebendaan dipisahkan tersendiri (separate dalam bahasa Inggris berarti terpisah). Berdasarkan tinjauan-tinjauan tersebut, maka peneliti berketatapan memilih istilah kreditur separatis atau secured creditor.

Dalam hukum kepailitan, kreditur yang dapat digolongkan sebagai kreditur separatis karena piutangnya dijamin dengan security right in rem adalah kreditur pemegang hak yang terdiri dari:

99

Munir Fuady, Op.Cit, hal 105

100

Mariam Darus Badrulzaman, Bab-Bab tentang Credietverband, Gadai dan Fiducia, (Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 1991), hal.17.

a. Hipotik yang diatur dalam Pasal 1 Undang-undangNo. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan

b. Gadai yag diatur dalam Pasal 1150 KUH Perdata

c. Fidusia yang diatur dalam Pasal 1 angka 2 Undang-undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia

d. Kreditur yang memilik hak retensi atas suatu barang dalam Pasal 65 Undang-undangKepailitan.

Menurut Sudargo Gautama, “mereka ini karena sifatnya pemilik suatu hak yang dilindungi secara super preferen dapat mengeksekusi hak mereka seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Mereka ini karenanya dianggap separatis (berdiri sendiri).F

101

F

Sejalan dengan itu menurut Munir Fuady, kedudukan kreditur separatis sangat tinggi, lebih tinggi dari kreditur yang diistimewakan lainnya.F

102

F

Kedudukan kreditur separatis tersebut dipisahkan dari kreditur lainnya, dan objek jaminannya juga dipisahkan dari harta pailit. Adapun arti dari kedudukan kreditur separatis di atas adalah dalam pengeksekusian jaminan utang. Kreditur separatis dapat menjual dan mengambil sendiri hasil dari penjualan objek jaminan. Bahkan jika diperkirakan hasil penjualan atas jaminan utang itu tidak dapat menutupi seluruh utangnya, maka kreditur separatis dapat memintakan agar terhadap kekurangan tersebut dia diperhitungkan sebagai kreditur konkuren. Sebaliknya

101

Sudargo Gautama, Op. Cit, hal 78

102

apabila hasil dari penjualan jaminan utang melebihi utang-utangnya, maka kelebihan itu harus dikembalikan kepada debitur.

d. Kreditur Pemegang Hak Istimewa

Jenis kreditur yang keempat adalah kreditur pemegang hak istimewa (privilege), yang oleh undang-undang diberi kedudukan didahulukan semata-mata karena sifat piutangnya, baik dari para kreditur kenkuren, kreditur separatis maupun kreditur preferen.

Lebih lanjut Pasal 1134 ayat (2) KUH Perdata menyatakan bahwa hak agunan kebendaan mempunyai mempunyai kedudukan yang lebih tinggi terhadap hak istimewa (previlege), kecuali tidak dengan tegas ditentukan lain oleh undang-undang.F

103

F Artinya dalam mengambil pelunasan dari hasil penjualan benda-benda

milik debitur yang diletakkan hak jaminan dan ada kreditur pemegang hak istimewa meupun kreditur konkuren, maka pemegang hak jaminan mengambil terlebih dahulu pelunasannya, kemudian dilanjutkan oleh pemegang hak istimewa, dan sisanya diambil oleh kreditur konkuren. Sedangkan apabila terhadap suatu hak istimewa (previlege) telah ditentukan dengan tegas harus dilunasi terlebih dahulu dari para

103

Undang-undang membedakan 2 kelompok hak istimewa , pertama piutang yang diistimewakan atas benda-benda tertentu ( benda yang ditentukan secara khusus) seperti biaya perkara , upah tukang, biaya menyelamatkan barang-barang dan lain-lain. Kedau piutang yang diistimewakan atas semua benda milik debitur ( benda debitur pada umumnya) seperi biaya penguburan, biaya pengobatan, tagihan sekolah dan lain-lain. Sehingga 2 kelompok itu disebut juga dengan istilah privilege khusus dan privilege umum.

Lihat J.Satrio, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan. ( Bandung : PT.Citra Aditya Bakti,2002), Hal. 39-79.

kreditur lainnya termasuk termasuk para kreditur pemegang hak agunan kebendaan, maka urutan kedudukan para kreditur dalam mengambil pelunasan utangnya adalah sebagai berikut: pertama kreditur yang memiliki hak istimewa, kedua kreditur pemegang hak agunan kebendaan dan ketiga kreditur konkuren.

2. Kedudukan Kreditur Separatis dalam Hukum Kepailitan

Telah dikemukakan pada bab sebelumnya bahwa yang dimaksud kreditur preferen termasuk dalam golongan secured creditors karena semata-mata sifat piutangnya oleh undang-undang diistimewakan untuk didahulukan pembayarannya. Dengan kedudukan istimewa ini, kreditur preferen berada diurutan atas sebelum kreditur konkuren atau unsecured creditors lainnya. Kedudukan preferent lebih tinggi dari kedudukan kreditur lainnya. Menurut Pasal 1133 KUH Perdata, seorang kreditur merupakan kreditur preferen apabila tagihan kreditur tersebut adalah merupakan:

1. Piutang yang berupa hak istimewa; 2. Piutang yang dijamin dengan Hak Gadai; 3. Piutang yang dijamin dengan Hipotik.

Setelah berlakunya Undang-undang Hak Tanggungan dan Undang-undang No. 42 Tahun 1999 tentang Fidusia, maka selain kreditur yang memiliki piutang sebagaimana yang dimaksud dengan Pasal 1133 KUH Perdata, juga kreditur-kreditur yang dijamin dengan hak tanggungan dan hak fidusia termasuk kreditur preferen atau separatis.

Kreditur separatis adalah kreditur yang memiiki hak agunan kebendaan, seperti hak gadai, hipotik, hak tanggungan dan jaminan fidusia. Kedudukan kreditur separatis dipisahkan dari kreditur lainnya dalam pengeksekusian jaminan utang.

Kedudukan kreditur separatis diatur dalam dua tahap yaitu masa pra pailit dan setelah masa setelah kreditur dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga (pasca pailit) baik kepailitan yang timbul karena prosedur kepailitan maupun yang timbul dari PKPU.

a. Kedudukan Kreditur Separatis Pada Periode Pra Pailit

Kedudukan para kreditur separatis dengan jelas diatur dalam Pasal 55 Undang-undang Kepailitan dan PKPU, yaitu kreditur separatis dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Ketentuan dalam Pasal 55ini konsisten dengan ketentuan perundangan lainnya yang mengatur tentang parate executie dari pemegang hak jaminan atas kebendaan seperti hak tanggunga, hipotik, gadai, fidusia, kreditur pemegang ikatan panenan dan kreditur pemegang hak retensi.F

104

b. Kedudukan Kreditur Separatis periode Pasca Pernyataan Pailit

Kedudukan kreditur separatis pada periode pra pailit dengan pasca pailit pada dasarnya tetap mengacu pada Pasal 55 dan 244 yat (1) Undang-undang Kepailtan da PKPU yaitu kreditur separatis ditempaykan diluar dari kepailitan debiturnya karena sifat jaminan piutang yang dimilikinya memberinya hak untuk mengeksekusi sendiri

104

Lihat juga Pasal 244 ayat (1) dan 246 Undang-undang Kepailitan dan PKPU yang menyatakan PKPU sementara tidak berlaku bagi kreditur separatisdan Pasal 55, 57 dan 58 berlaku mutatis mutandis dalam PKPU.

barang jaminan guna pelunasan piutangnya. Namun demikian, Undang-undang Kepailitan dan PKPU juga mengatur kedudukan kreditur separatis pada periode setelah debitur pailit sebagai berikut:

a. Pasal 56 dan Pasal 246

Kedua Pasal tersebut dikenal juga sebagai ketentuan yang megatur tentang automatic stay, yang diberlakukan bagi kreditur separatis setelah debitur dinyatakan pailit atau PKPU semetara ditetapkan. Berdasarkan ketentuan stay ini kreditur belum dapat mengeksekusi sendiri haknya selama 90 hari.

b. Pasal 60 ayat (3) jo Pasal 189 ayat (5)

Apabila hasil penjualan barang jaminan piutang kreditur separatis tidak mencukupi untuk memenuhi pembayaran piutangnya, kreditur separatis dapat mengajukan tagihan pelunasan atas kekurangan tersebut kepada kurator. Konsekuensinya, kreditur separatis berubah mejadi kreditur konkuren tetapi hanya untuk kekurangan tagihan pembayarannya. Dengan demikian, kekurangan tagihan ini harus diajukan untuk dicocokan dalam rapat verifikasi. c. Pasal 138

Kreditur separatis yang dapat membuktika bahwa kemungkinan sebagian dari piutangnya tersebut tidak dapat dilunasi dari hasil penjualan barang jaminan dapat menjadi kreditur konkuren atas bagian piutang yang tak dapat dilunasi

tersebut. Ketentuan ini dibuat untuk mengantisipasi kemungkinan dari nilai jaminan kebendaan yang dimiliki oleh kreditur separatis kurang dari nilai piutang yang dimilikinya.

d. Pasal 149 ayat (1) jo Pasal 118 ayat (2)

Kreditur separatis pada prinsipnya tidak berhak mengeluarkan suara dalam rapat kreditur. Namun jika kreditur separatis telah melepaskan haknya sebagai kreditur separatis (waiver) menjadi kreditur konkuren, ia memiliki hak yang sama dengan kreditur konkuren lainnya, misalnya rencana perdamaian yang diajukan debitur tidak diterima kreditur. Kondisi seperti ini hanya akan terjadi dalam hal hak kreditur separatis untuk didahulukan dibantah dalam rapat verifikasi.

Terhadap tagihan kreditur separatis yang dibantah ini, Pasal 118 ayat (2) menegaskan bahwa tagihannya harus dimasukkan dalam daftar piutang yang diakui sementara.F

105

Berdasarkan ketentuan tersebut diatas, jelaslah bahwa kedudukan kreditur separatis tetap dijami pembayarannya oleh Undang-undang Kepailitan dan PKPU baik pada masa pra pailit maupun setelah debitur dinyatakan pailit. Bahkan jika

105

Lihat Pasal 113, 115, 117, dan 126 Undang-undang Kepailitan dan PKPU tentang rapat

verifikasi dimana semua tagihan diajukan untukdiverifikasi. Hasilnya adalah ada tagihan yang diakui

(admitted debt), diakui sementara (provisionally admitted debt) atau dibantah (denied debt) oleh debitur. Hakim Pengawas berperan dalam hal ini karena ia dapat mengakui sementara piutang ang diajukan tapi debitur juga berhak membantah yang diakui sementara oleh Hakim Pengawas tersebut. Selanjutnya, tagihan-tagihan yang diajuka di rapat verifikasi akan dikategorikan sebagai piutang yang diakui (admitted claim), yang diakui sementara (provisionally admitted claim) dan piutang yang dibantah (disputed claim)

tagihannya dibantah, tagihan tersebut harus diakui secara bersyarat oleh Kurator dalam rapat verifikasi dan dimasukkan dalam daftar piutang yang diakui sementara.

Demikian juga jika jaminan yang ada padanya tidak mencukupi untuk memenuhi pembayaran tagihannya, kreditur separatis dapat menjadi kreditur konkuren untuk kekurangan tagihannya tersebut tanpa kehilangan hak istimewanya untuk mengeksekusi sendiri barang jaminan yang ada padanya.F

106

3. Akibat Kepailitan bagi Kreditur Separatis

Prinsip umum hukum kepailitan disemua negara ialah mengecualikan kreditur separatis dari kepailitan debiturnya.F

107

F Prinsip ini juga dianut oleh Undang-undang

Kepailitan dan PKPU yang dituangkan dalam Pasal 55. Namun demikian, kedudukan separatis tidak sepenuhnya bebas dari akibat kepailitan debiturnya karena Pasal 56 menangguhkan eksekusi jaminan utang yang disebut juga dengan Stay.

Selama jangka waktu penangguhan, kurator dapat menggunakan harta pailit berupa benda tidak bergerak maupun benda bergerak atau menjual harta pailit yang berupa benda bergerak yang berada dalam penguasaan kurator dalam rangka kelangsungan usaha debitur, dalam hal telah diberikan perlindungan yang wajar bagi kepentingan kreditur atau pihak ketiga.

106

Lihat Pasal 169 Undang-undang Kepailitan dan PKPU. Meskipun tagihan kreditur separatis diakui bersyarat, Kurator tetap berkewajiban menyediakan jaminan dari boedel pailit sejumlah hak tagihan kreditur separatis tersebut.

107

Lihat Pasal 230 ayat (1) dan (2) Undang-undang Kepailitan dan PKPU . Lihat juga Pasal 254 ayat (2) yang menegaskan bahwa tagihan yang dijamin dengan hak jaminan kebendaan tidak dapat diajukan kepada pengurus. Jika tagihan tersebut diajukan maka PKPU berlaku terhadap kreditur separatis dan hak istimewnya sebagai kreditur separatis menjadi hapus

Penangguhan bertujuan, antara lain:

1. untuk memperbesar kemungkinan tercapainya perdamaian; atau 2. untuk memperbesar kemungkinan mengoptimalkan harta pailit; atau 3. untuk memungkinkan kurator melaksanakan tugasnya secara optimal.

Stay diberlakukan kepada semua kreditur separatis kecuali terhadap kreditur yang hanya timbul dari perjumpaan utang (set-off) serta terhadap kreditur pemegang piutang yang dijamin dengan uang tunai.

Selama berlangsungnya jangka waktu penangguhan, segala tuntutan hukum untuk memperoleh pelunasan atas suatu piutang tidak dapat diajukan dalam sidang badan peradilan, dan baik kreditur maupun pihak ketiga dimaksud dilarang mengeksekusi atau memohonkan sita atas benda yang menjadi agunan. Termasuk dalam pengecualian terhadap penangguhan dalam hal ini adalah hak kreditur yang timbul dari perjumpaan utang (set off) yang merupakan bagian atau akibat dari mekanisme transaksi yang terjadi di Bursa Efek dan Bursa Perdagangan Berjangka.

Selama masa stay kurator dapat menggunakan atau menjual boedel pailit terbatas pada barang persediaan (inventory) dan atau benda bergerak (current assets), meskipun harta pailit tersebut dibebani dengan hak agunan atas kebendaan.

Jangka waktu penangguhan berakhir demi hukum pada saat kepailitan diakhiri lebih cepat atau pada saat dimulainya keadaan insolvensiF

108

F

. Kreditor atau pihak ketiga yang haknya ditangguhkan dapat mengajukan permohonan kepada kurator untuk mengangkat penangguhan atau mengubah syarat penangguhan tersebut.

108

B. Benda Agunan dalam Hukum Kepailitan

Pada umumnya perkataan benda diartikan sebagai sesuatu yang dapat menjadi objek hukum, dalam arti mana dipakai sebagai lawan dari pada orang sebagai subjek hukum . Objek hukum dapat diraba (lichamelijk)F

109

F yang dapat juga berarti

bagian-bagian daripada kekayaan pada umumnyaF

110

F, dan terdapat juga objek-objek hukum

yang tidak dapat diraba (tastbaar).

Buku kedua KUH Perdata mempergunakan perkataan benda dalam dua arti. Pertama dalam arti barang yang berwujud atau objek hukum yang dapat diraba (tatsbaar) dan kedua dalam arti bagian daripada harta kekayaan. Dalam arti kekayaan ini, termasuk juga barang yang tidak berwujud.

Untuk lengkapnya perlu masih dicatat, bahwa di beberapa tempat dalam undang-undang, perkataan benda diartikan secara khusus dalam Pasal 467 dan 1354 perkataan benda diartikan kepentingan, sebagai peristiwa dalam Pasal 1263, sebagai perbuatan hukum dalam Pasal 1792 sebagai rechtsvordering dalam Pasal 99Rv, sebagai Pasal rechtsgeding dalam Pasal 246 Rv dan 273 Rv. F

111

Menurut KUH Perdata, benda tidak hanya dapat dibedakan sebagai barang yang berwujud dan barang tidak berwujud. Benda juga termasuk barang-barang bergerak dan barang-barang tidak bergerak, barang-barang yang dapat dipakai habis

109

Lihat Pasal 500, 519, 570, 607 KUH Perdata

110

Lihat Pasal 501, 503, 508, 511 KUH Perdata

111

Mr. Dr. H.F.A Vollmar disadur oleh Chidir Ali, Hukum Banda, (Bandung: Tarsito, 1991), hal 32

(vebruikbaar) dan barang-barang yang tak dapat dipakai habis (onverbruikbaar), barang-barang yang sudah ada (tegenwooedigezaken) dan barang-barang yang masih ada (toekomstigezaken)F

112

F, barang-barang yang ada dalam perdagangan (zaken in de

handel) dan barang di luar perdagangan (zaken buiten de handel), barang-barang yang dapat dibagi dan barang-barang-barang-barang yang tak dapat dibagi. Namun perbedaan yang penting adalah antara benda bergerak dan benda tidak bergerak.

Pembedaan antara benda bergerak dengan benda tidak bergerak ini penting artinya. Pentingnya itu berhubungan dengan 4 (empat) hal yaitu:F

113

1. Bezit, misalnya terhadap benda bergerak berlaku asas yang tercantum dalam

Pasal 1977 KUH Perdata, yaitu bezitter dari benda bergerak adalah sebagai eigenaar dari benda tersebut. Sedangkan kalau mengenai benda tidak bergerak tidak demikian halnya.

2. Levering (penyerahan), terhadap benda bergerak dapat dilakukan penyerahan

secara nyata, sedangkan benda tidak bergerak dilakukan dengan balik nama. Di Indonesia, mengenai levering terhadap benda-benda tidak bergerak berdasarkan 24 OV (Bepalingen omtrent de invoering van en de overgang tot de nieuwe wetgeving).F

114

112

Barang yang akan ada dibedakan antara yang absolut dan yang relatif. Barang yang akan ada yang absolut yaitu barang yang pada suatu saat sama sekali belum ada, misal panen yang akan datang. Barang-barang yang aka nada yang relative adalah barang-barang yang pada saat itu sudah ada tetapi bagi orang-orang tertentu belum ada, misal barang-barang yang sudah dibeli tetapi belum diserahkan.

113

Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Perdata: Hukum Benda, Hukum Perdata:

Hukum Benda, cet. 5, (Yogyakarta: Liberty, 2001), hal 22

114

Pasal 24 OV pokoknya berbunyi: Aturan-aturan mengenai cara levering dari benda-benda yang tidak bergerak dengan pengumuman akta-akta sebagaimana dimuat dalam Pasal 616-620 KUH

3. Verjaring (kadaluarsa), terhadap benda-benda bergerak tidak dikenal verjaring sebab bezit di sini sama dengan eigendom atas benda bergerak tersebut, sedang untuk benda tidak bergerak mengenal adanya verjaring.

4. Bezwaring (pembebanan), terhadap benda bergerak harus dilakukan dengan

pand (gadai) sedang terhadap benda tidak bergerak harus dilakukan dengan hipotik.

Jadi dapat disimpulkan benda adalah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak yang dapat dikuasai oleh hak milik, jadi segala ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur statusnya benda-benda tersebut. Sedangkan agunan adalah sesuatu yang dapat dijadikan jaminan. Benda agunan ialah benda yang dapat menjadi jaminan utang yang dapat diagunkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pembagian benda dalam dua kelompok, yaitu benda bergerak dan tidak bergerak, oleh KUH Perdata diberikan lembaga jaminannya masing-masing.Untuk benda bergerak disediakan lembaga jaminan gadai (Pasal 1150 KUH Perdata dan selanjutnya), sedangkan untuk benda tidak bergerak disediakan lembaga hipotik (Pasal 1162 KUH Perdata dan selanjutnya).

Konsekuensi pembagian benda seperti tersebut diatas dikemudian hari tidak diikuti secara konsekuen, karena kita pernah mengenal lembaga jaminan benda bergerak yang disebut dengan oogstverband dan untuk benda tetap yang disebut

Perdata untuk sementara tetap tidak berlaku, yang berlaku ialah peraturan-peraturan yang sekarang yang ada (yaitu Overschrijving Ordonantie) sampai ditentukan yang lain.

Dokumen terkait