BAB IV: AKIBAT HUKUM BAGI DEBITUR YANG WANPRESTASI
B. Eksekusi Penarikan Kendaraan Bermotor dari Pihak Debitur
AKIBAT HUKUM BAGI DEBITUR YANG WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN KONSUMEN YANG DIATUR DALAM
PERKAPOLRI NO. 8 TAHUN 2011 TENTANG PENGAMANAN EKSEKUSI JAMINAN FIDUSIA
A. Wanprestasi dalam Perjanjian Pembiayaan
Keterbatasan dana menjadi kendala utama bagi konsumen untuk membeli suatu kendaraan bermotor secara tunai. Suatu perusahaan pembiayaan di bidang pembiayaan konsumen menjadi salah satu alternatif bagi konsumen untuk dapat membeli kendaraan bermotor tersebut secara kredit. Pemberi pembiayaan kepada konsumen harus didahului dengan adanya suatu perjanjian pembiayaan konsumen.
perjanjian pembiayaan konsumen ini mempunyai fungsi penting karena dalam praktik pelaksanaan perjanjian pembiayaan konsumen mempunyai peluang terjadinya risiko, risiko yang sering terjadi adalah tidak terpenuhinya kewajiban (wanprestasi) oleh Debitur. Upaya yang dilakukan para pihak dalam menyelesaikan wanprestasi adalah melalui pengadilan demi mendapatkan kepastian hukum rechtzekerheid pembatalan perjanjian leasing tidak dapat diputuskan secara sepihak. Namun adanya wanprestasi oleh debitur maka pihak kreditur berhak menuntut pembatalan perjanjian yang disebabkan karena perbuatan debitur merupakan pelanggaran hak kreditur.47
B. Eksekusi Penarikan Kendaraan Bermotor dari Pihak Debitur
47Subekti, Op. Cit., hal. 50
Eksekusi sebagai tindakan hukum yang dilakukan oleh pengadilan kepada pihak yang kalah dalam suatu perkara merupakan aturan dan tatacara lanjutan dari proses pemeriksaan perkara,oleh karena itu, eksekusi tidak lain dari pada tindakan yang berkesinambungan dari keseluruhan proses hukum acara perdata. Eksekusi merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan tata tertib beracara yang terkandung dalam HIR atau RBG. Setiap orang yang ingin mengetahui perdoman aturan eksekusi harus merujuk ke dalam aturan perundang-undangan dalam HIR atau RBG.48
Pengertian eksekusi secara umum adalah pelaksanaan putusan hakim atau menjalankan putusan hakim. Adapun ketentuan mengenai pelaksanaan putusan atau eksekusi ini diatur dalam ketentuan Pasal 195 sampai Pasal 200 HIR/RBG.
Pengertian Eksekusi menurut R. Subekti dikatakan bahwa “Eksekusi atau pelaksanaan putusan mengandung arti bahwa pihak yang dikalahkan tidak mau mentaati putusan ini secara sukarela sehingga putusan itu harus dipaksakan kepadanya dengan bantuan kekuatan umum.49
Pendapat yang sama dikemukan M. Yahya Harahap, yang menyatakan bahwa “eksekusi sebagai tindakan hukum yang dilakukan oleh pengadilan kepada pihak yang kalah dalam suatu perkara, merupakan aturan dan tata cara lanjutan dari proses pemeriksaan perkara. Oleh karena itu eksekusi tidak lain daripada tindakan yang berkesinambungan dari proses hukum acara perdata. Eksekusi
48M. Yahya Harahap,Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, PT.
Alumni, Jakarta, 2001, hal. 1.
49 Mochammad Djais, Pikiran Dasar Hukum Eksekusi, Semarang, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 2000, hal. 2
merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan tata tertib beracara yang terkandung dalam HIR/RBG.50
Lebih lanjut dapat dilihat pendapat Bachtiar Sibarani, yang menyatakan bahwa eksekusi adalah pelaksanaan secara paksa putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap/pelaksanaan secara paksa dokumen perjanjian yang dipersamakan dengan putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.51
2. Jenis-Jenis Eksekusi Jaminan Fidusia
Eksekusi jaminan fidusia diatur dalam Pasal 29 sampai dengan Pasal 34 Undang-Undang jaminan Fidusia (UUJF). Yang dimkasud dengan eksekusi jaminan fidusia adalah penyitaan dan penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Penyebab timbulnya eksekusi jaminan fidusia ini adalah karena debitur atau pemberi fidusia cedera janji atau tidak memenuhi prestasinya walaupun sudah diberikan somasi.
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa eksekusi tidak hanya di artikan dalam arti sempit tetapi juga dalam arti luas. Eksekusi tidak hanya pelaksaan terhadap suatu putusan yang telah berkekuatan hukum kepada pihak yang kalah, yang tidak mau menjalankan isi putusan secara sukarela, tetapi eksekusi dapat dilaksanakan terhadap grosse surat hutang notaril dan benda jaminan eksekusi serta eksekusi terhadap perjanjian. Eksekusi atau penarikan terhadap objek kenderaan bermotor dalam arti luas merupakan suatu upaya realisasi hak, bukan hanya merupakan pelaksanaan putusan pengadilan saja.
50M. yahya Harahap, Op.cit, hal. 1
51 Bachtiar Sibarani, Perate Eksekusi dan Paksa Badan, Jurnal Hukum Bisnis Vol. 15, September 2001, hal. 6
Di dalam Pasal 29 UUJF diatur jenis-jenis eksekusi jaminan fidusia, yaitu52
d. Secara fiat eksekusi (dengan memakai title eksekutorial), yakni lewat suatu penetapan pengadilan.
:
Menurut Kitab Undang-Undag Hukum Acara Perdata (HIR), setiap akta yang mempunyai title eksekutrial dapat dilakukan fiat eksekusi. Pasal 224 HIR menyatakan bahwa Grosse dari Akta hipotik dan surat hutang yang dibuat dihadapan notaris di Indonesia dan yang kepalanya berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” berkekuatan hukum sama dengan kekuatan suatu putusan hakim. Jika tidak dengan jalan damai, maka surat yang demikian dieksekusi dengan perintah dan di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri, yang dalam daerah hukumnya tempat diam atau tempat tinggal debitur atau pemberi fidusia atau tempat kedudukan yang dipilihnya, yaitu menurut cara yang dinyatakan dalam Pasal-pasal sebelumnya dari pasal 224 HIR.53
e. Eksekusi Fidusia Secara Parate Lewat Pelelangan Umum
Selanjutnya Pasal 15 dari Undang-Undang Jaminan Fidusia, sertifikat jaminan fidusia mencantumkan irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN TUHAN YANG MAHA ESA”. Sertifikat jaminan fidusia tersebut mempunyai kekuatan eksekutorial sama hal nya dengan putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum yang tetap.
Irah-irah yang ini lah yang memberikan title eksekutorial, yakni title yang mensejajarkan kekuatan akta tersebut tinggal dieksekusi (tanpa adanya keputusan pengadilan)
52 Bachtiar Sibarani. Op. Cit, hal. 6
53 Munir Fuady, Op.Cit, hal. 58
Eksekusi fidusia dapat juga dilakukan dengan jalan mengeksekusinya oleh penerima fidusia lewat lembaga pelelangan umum (kantor lelang), dimana hasil pelelangan tersebut diambil untuk melunasi pembayaran piutang-piutangnya.
Parate eksekusi lewat pelelangan umum ini dapat dilakukan tanpa melibatkan pengadilan sama sekali. Yang mana diatur dalam Pasal 29 ayat 1 huruf b yang menyatakan bahwa “penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan penerima fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan”.
Ketentuan ini mengahapuskan keraguan-raguan sebelumnya seolah-olah setiap eksekusi lewat kantor pelelangan umum haruslah dengan suatu penentapan pengadilan, yang mana ternyata anggapan ini tidak benar sama sekali.
f. Eksekusi Fidusia secara Parate Eksekusi Secara Penjualan Di bawah Tangan.
Jaminan fidusia dapat juga dieksekusi secara parate eksekusi (mengeksekusi tanpa lewat pengadilan) dengan cara menjual benda objek fidusia yakni kenderaan bermotor milik debitur secara di bawah tangan, asalkan terpenehuni syarat-syarat untuk itu.
Menurut UUJF pasal (29), maka syarat-syarat agar suatu fidusia dapat dieksekusi secara di bawah tangan adalah sebagai berikut :
11. Dilakukan berdasarkan kesepakatan antara pemberi dengan penerima eksekusi.
12. Jika dengan cara penjualan di bawah tangan tersebut dicapai harga tertinggu yang menguntungkan para pihak.
13. Diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan/atau penerima fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
14. Diumumkan dalam sedikit-dikitnya dalam dua surat kabar yang beredar di daaerah yang bersangkutan.
15. Pelaksanaan penjualan dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis.
Dalam Kementerian Keuangan telah mengeluarkan peraturan yang melarang perusahaan pembiayaan untuk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak kredit kendaraan.Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.130/PMK.010/2012, tentang pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan Yang Melakukan Pembiayaan Konsumen Untuk Kenderaan Bermotor Dengan Membebanan Jaminan Fidusia.54
Diterangkan juga dalam aturan tambahan di dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan No. 130/PMK.010/2012, bahwa perusahaan pembiayaan dilarang melakukan penarikan benda jaminan fidusia berupa kenderaan bermotor apabila Kantor Pendaftaran Fidusia belum menerbitkan sertifikat jaminan fidusia dan menyerahkannya kepada perusahaan pembiayaan. Dengan memenuhi syarat tersebut maka boleh dilaksanakan penarikan benda fidusia sebagai jaminan atas utang yang telah digunakan pemberi fidusia. Menurut Pasal 29 Undang-undang No.42 Tahun 1999 disebutkan bahwa eksekusi benda jaminan fidusia dilaksanakan dengan penjualan digunakan untuk pelunasan hutang pemberi fidusia dan dapat dilakukan melalui penjualan bawah tangan berdasarkan
54Julius Ardhyantama, Perjanjian Fidusia Syarat Pihak Leasing, http://mobildanmotorbekas.blogspot.co.id/2017/06 htm, diakses tgl 12 Juni 2017. Pkl 11.48 WIB
kesepakatan pemberi dan penerima fidusia apabila dapat diperoleh dengan harga yang tinggi untuk menguntungkan para pihak.
C. Akibat Hukum Debitur yang Wanprestasi dalam Perjanjian Pembiayaan