AHLI PEMOHON
I. DALAM EKSEPSI
Bahwa sebelum Termohon mengajukan jawaban terhadap perbaikan permohonan Pemohon terlebih dahulu Termohon menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Berdasarkan adanya posita baru pada permohonan pemohon yang ter-register pada tanggal 23 Desember 2020, maka perbaikan Permohonan yang kedua kalinya haruslah dianggap sebagai Permohonan baru dengan penambahan halaman sebanyak 84 halaman, yang berbeda dengan Permohonan Pemohon bertanggal 19 Desember 2020 atau apabila dikategorikan sebagai Perbaikan Permohonan, maka Permohonan tersebut telah memasukkan substansi baru yang tidak bisa dijadikan dasar pemeriksaan perkara dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi.
2. Bahwa Pasal 13 PMK No. 6 Tahun 2020 tentang tata beracara dalam perkara perselisihan hasil pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota (PMK 6 Tahun 2020) yang menyatakan:
Ayat (1) Terhadap permohonan yang diajukan melalui luring (offline), Pemohon dapat memperbaiki dan melengkapi Permohonan paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak diterimanya AP3 oleh Pemohon atau Kuasa hukum
Ayat (2) Terhadap permohonan yang diajukan melalui daring (offline), Pemohon dapat memperbaiki dan melengkapi Permohonan paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak dikirimkannya AP3 kepada Pemohon atau Kuasa hukum
3. Berdasarkan petikan Pasal a quo, PMK 6/2020, Bahwa perbaikan permohonan sudah melewati batas waktu yang tercantum yaitu paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak permohonan pertama ter-register pada tanggal 19 Desember 2020 pukul 22.39 WIB, sedangkan perbaikan permohonan baru ter-register pada tanggal 23 Desember 2020 pukul 23.15 WIB, oleh karena itu perbaikan permohonan telah melewati batas waktu yang telah ditentukan.
4. Pertimbangan Mahkamah terhadap perbaikan Permohonan yang meyangkut substansi dapat dilihat pada Putusan Nomor 1/PHP.KOT-XVI/2018 mengenai Perselisihan Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Tegal Tahun 2018.
“Oleh karena itu, perbaikan permohonan yang diserahkan Pemohon pada tanggal 27 Juli 2018 yang menyangkut penambahan substansi permohonan sejak awal memang tidak akan dipertimbangkan Mahkamah karena melewati tenggang waktu sebagaimana ditentukan oleh PMK 5/2017.
Mahkamah dalam persidangan juga menegaskan bahwa perbaikan permohonan yang dipertimbangkan adalah perbaikan permohonan bertanggal 5 Juli 2018 yang diterima di Kepaniteraan pada tanggal 10 Juli 2018. Dengan demikian, karena sejak awal Mahkamah tidak menganggap ada perbaikan Permohonan setelah persidangan sehingga yang akan diperiksa pokok permohonannya dan dipertimbangkan oleh Mahkamah pokok permohonannya adalah dari perbaikan permohonan yang diterima pada tanggal 10 Juli 2018 dan mengesampingkan perbaikan tangal 27 Juli 2018 yang melewati batas waktu.” Terlebih lagi perbaikan tersebut menyangkut substansi Permohonan.
5. Bahwa berdasarkan uraian tersebut diatas terhadap perbaikan permohonan yang bersifat mengubah substansi, oleh karenannya dengan segala kerendahan hati demi tegaknya hukum acara maka Termohon memohon
kepada Yang Mulia Majelis Hakim untuk menolak permohonan a quo atau setidak-tidaknya menjadi tidak dapat diterima.
I.I KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI Mahkamah Tidak Berwenang Mengadili.
Menurut Termohon Mahkamah Konstitusi tidak berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara perselisihan penetapan perolehan suara tahap akhir hasil pemilihan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Nabire Tahun 2020 dengan alasan sebagai berikut:
Pokok Permohonan tidak menyebutkan kesalahan penghitungan Termohon.
1. Bahwa setelah membaca, mencermati dan memahami seluruh Permohonan Pemohon ternyata Permohonan Pemohon tidak memenuhi syarat ketentuan Pasal 156 ayat (2) UU 10/2016 dan Pasal 8 Ayat (3) Huruf b Angka 4 PMK 6/2020, yang pada pokoknya mengatur bahwa Permohonan Pemohon paling kurang memuat penjelasan mengenai kesalahan hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon dan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon. Pemohon tidak bisa menjelaskan di mana saja terjadi kesalahan rekapitulasi hasil penghitungan suara oleh Termohon, baik pada tingkat TPS maupun PPD di Kabupaten Nabire yang merugikan suara Pemohon secara sangat signifikan. Pemohon juga tidak menjelaskan berapa perolehan suara yang benar menurut Pemohon pada tingkat TPS dan PPD.
2. Bahwa Pemohon hanya mendalilkan adanya pelanggaran-pelanggaran yang diduga dilakukan oleh Termohon seperti adanya tuduhan penetapan DPT bermasalah, terdapat Distrik dan TPS-TPS yang dilakukan sistem noken/kesepakatan, ketidakprofesionalan penyelenggara dalam melaksanakan tugas dan pemilih mencoblos lebih dari satu kali/pemilih ganda, serta berbagai pelanggaran lainnya yang bersifat spontan, individual, dan sporadis tidak memenuhi unsur pelanggaran yang terstruktur, sistematis, dan massif.
3. Terhadap tuduhan pelanggaran tersebut adalah bukan merupakan kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk mengadilinya karena sudah menjadi kewenangan lembaga lain untuk mengadilinya, yaitu:
a. Terkait dengan adanya tuduhan ketidakprofesionalan dalam melaksanakan tugas oleh petugas KPU adalah merupakan pelanggaran kode etik penyelenggaraan Pemilihan yang diselesaikan oleh Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu (DKPP) sebagaimana diatur pasal 137 (UU 10/2016).
b. Terkait dengan adanya tuduhan pelanggaran terhadap tata cara yang berkaitan dengan administrasi pelaksanaan Pemilihan dalam setiap tahapan Pemilihan adalah merupakan kewenangan dari Bawaslu Provinsi dan/atau Bawaslu Kabupaten/Kota sebagaimana diatur dalam Pasal 138 – 139 UU 10/2016.
4. Bahwa berdasarkan fakta dan dasar pengaturan sebagaimana tersebut di atas dan dengan segala kerendahan hati, Temohon memohon kebijaksanaan Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk menyatakan tidak berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tahun 2020 dalam perkara Nomor: 84/PHP.BUP-XIX/2021 yang dimohonkan oleh Pemohon.
I.II KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON
Menurut Termohon, Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan Permohonan perselisihan perolehan suara tahap akhir hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Nabire sesuai dengan peraturan perundang-undangan dengan alasan:
Permohonan Pemohon Melebihi Batas Selisih Perolehan Suara
5. Bahwa ketentuan dalam Pasal 158 ayat (2) UU 10/2016 yang pada pokoknya menyatakan:
a. “Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk sampai dengan 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) jiwa, pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar 2%
(dua persen) dari total suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir yang ditetapkan oleh Termohon.”
6. Bahwa berdasarkan Data Agregat Kependudukan per-Kecamatan (DAK2) Kabupaten Nabire Tahun 2020, jumlah penduduk Kabupaten Nabire adalah 172.190 jiwa (Bukti T-1), sehingga pengajuan perselisihan
perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar 2% (dua persen) dari total suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir yang ditetapkan oleh Termohon.
7. Dengan demikian maka batas selisih persentase perbedaan perolehan suara antara Pemohon dengan Pasangan Calon yang memperoleh suara terbanyak (Pasangan Calon Mesak Magai, S.Sos dan Ismail Djamaluddin) untuk dapat diajukan Permohonan perselisihan hasil Pemilihan ke Mahkamah Konstitusi adalah paling banyak 2% (dua persen).
8. Bahwa berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Nabire Nomor: 54/PL02.6-Kpt/9104/KPU.Kab/XII/2020 (Bukti: T-2) tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Nabire Tahun 2020, perolehan suara masing-masing Pasangan Calon adalah sebagai berikut:
TABEL 01
PEROLEHAN SUARA PASANGAN CALON DALAM PEMILIHAN BUPATI