• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. POKOK PERMOHONAN

17. Terdapat Distrik dan TPS–TPS yang dilakukan sistem noken/

kesepakatan

17.8. Bahwa Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Nabire seharusnya menggunakan sistem pencoblosan langusung, berdasarkan Keputusan KPU RI Nomor 810/PL.02.6-Kpt/06/KPU/IV/2019 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pemungutan Suara Dengan Sistem Noken/Ikat Di Provinsi Papua Dalam Pemilihan Umum Tahun 2019, daerah yang menggunakan sistem noken/ikat hanya di Kabupaten Yahukimo Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Lanny, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Deiyai, dan Kabupaten Dogiyai. (BUKTI P-11)

17.9. Bahwa untuk menjamin adanya kepastian hukum, maka untuk tempat tertentu yang dalam pemilihan umum telah menggunakan sistem pencoblosan langsung oleh pemilih tidak dapat lagi kembali menggunakan sistem noken, sebagaimana Putusan Mahakamah Konstitusi Nomor 06-32/PHPU-DPD/XII/2014 tanggal 25 Juni 2014 dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 1/PHPU.PRES-XII/2014 tanggal 21 Agustus 2014 menyatakan untuk beberapa daerah yang dalam pemilu telah menerapkan cara pencoblosan, maka untuk daerah tersebut tidak lagi diakui keberadaan sistem kesepakatan.

17.10. Bahwa tidak terdapat Proses Pemilihan Kepala Daerah di Distrik Dipa.

f. Pada tanggal 8 Desember 2020 Logistik tiba di Distrik Dipa Kabupaten Nabire sekitar Pukul 09.00 WIT (Bukti P- 12 )

g. Pada tanggal 9 Desember jam 09.00 WIT Desember 2020 Logistik dibagikan kepada PPS dan dibawa ke sekitar kantor distrik, namun setelah berselang 3 jam kemudian Logistik ditarik kembali oleh Petugas Ketua PPD bernama Ernes Madai, Anggota Mesak Wakai, Esebius Wakai, Neles Makay, dan Petrus Madai. Padahal jarak dari kantor distrik menuju kampung – kampung dan TPS – TPS tidak mungkin ditempuh dalam waktu 3 jam (Bukti P-13)

h. Pada tanggal 10 Desember PPD DIPA menahan 4.857 suara untuk diberikan kepada pemenang, setelah mengetahui siapa pemenang di 14 Distrik dari 15 Distrik di Kabupaten Nabire. (Bukti P-14),

i. Atas kejadian tersebut Pemohon melaporkan pelanggaran tersebut ke Bawaslu Nabire (Bukti P-15)

j. Pada tanggal 10 Desember terdapat oknum di luar penyelenggara bernama Sepi Wakey mengatur Petugas PPD supaya membagi suara. (Bukti P-16)

k. Pada saat pleno di tingkat Distrik maupun di tingkat Kabupaten Bawaslu menolak hasil rekapitulasi distrik Dipa karena tidak ada Proses Pemilihan Kepala Daerah dan Rekapitulasi baik di tingkat TPS dan PPD. Namun rekapitulasi tetap dilakukan oleh KPU (Bukti P-17)

17.11. Bahwa tidak terdapat Proses Pemilihan Kepala Daerah di Distrik Menou.

h. Logistik tiba tanggal 8 Desember 2020 pagi pukul 07.00 WIT di Lapangan Terbang Meito Menou dan dibawa ke Kantor Distrik.

i. Pembagian logistik 15 TPS Distrik Menou dilakukan tanggal 9 Desember sore pukul 16.30 WIT, 4 TPS Kampung Gokodimi dibawa ke rumah Yuliten Kegiye, 3 TPS Kampung Yageugi dibawa ke rumah Piter Kegou, 3 TPS Kampung Ogiyai dibawa ke rumah Pendeta Menase Madai, dan 5 TPS Kampung Kunupi dibawa ke rumah Ruben Tebai.

j. Di rumah-rumah tersebut lalu dilakukan pembagian suara dengan mengisi berita acara dan formulir C-Hologram tanpa proses pencoblosan.

k. Tidak terjadi proses pencoblosan surat suara, namun pada tanggal 10 Desember 2020 pukul 00.00 WIT PPD bernama Sepi Makay membagi suara dengan mengisi Berita Acara dan formulir C-Hologram Kampung Gokogimi dan Kampung Yageugi belum selesai.

l. Saksi telah meminta dilakukan proses pencoblosan surat suara sebagaimana mestinya namun tidak diindahkan oleh anggota PPD.

m. Tanggal 11 Desember 2020 Petugas PPD Distrik Menou memfoto dokumen C-Hologram.

n. Tanggal 12 Desember 2020 sekitar pukul 12.00 WIT Ketua KPU dan Ketua Bawaslu datang mengambil satu kotak dokumen rekapan C-Hologram. (Bukti P-18)

o. Pada saat pleno di tingkat Kabupaten Bawaslu menolak hasil rekapitulasi distrik Menou karena tidak ada Proses Pemilihan Kepala Daerah dan Rekapitulasi baik di tingkat TPS dan PPD. Namun rekapitulasi tetap dilakukan oleh KPU. (Bukti P-19)

17.12. Bahwa tidak terdapat Proses Pemilihan Kepala Daerah di Distrik Siriwo.

e. Pada Rekapitulasi tanggal 11 Desember 2020, Saksi Paslon 1 dan Paslon 3 menolak proses Rekapitulasi karena semua saksi TPS Pasangan Calon 1 dan saksi TPS Pasangan Calon di Distrik Siriwo diusir dari TPS dampaknya tidak ada proses yang terjadi di TPS Distrik Siriwo.

f. Akhirnya saksi pasangan calon dan PPD memutuskan untuk membatalkan Rekapitulasi di tingkat Distrik.

g. Saat saksi Pemohon meminta form keberatan guna mencantumkan pembatalan tersebut kedalam form kejadian khusus namun tidak diberikan oleh PPD, sehingga terjadi percekcokan antara saksi dengan petugas PPD dengan alasan tidak ada printer, dan akan memberikan form keberatan saaat proses Rekapitulasi di tingkat Kabupaten. (Bukti P-20)

h. Ketika Rekapitulasi di tingkat Kabupaten di Kabupaten ternyata PPD mengaku telah menyelesaikan proses rekapitulasi tanpa menyertakan Saksi Pemohon. Sehingga Saksi memprotes hal

tersebut dan meminta untuk dibatalkan segala proses di Distrik Siriwo serta mengisi Form Keberatan. Pada form D Hasil Kecamatan KWK Siriwo hanya ditulis jumlah perolehan suara, sementara tidak ada perolehan per-TPS. (Bukti P-21)

17.13. Bahwa tidak terdapat Proses Pemilihan Kepala Daerah di Distrik Yaro.

c. Terjadi sitem Noken di TPS – TPS Distrik Yaro.

d. Pada saat pleno di tingkat Kabupaten Bawaslu menolak hasil rekapitulasi distrik Yaro karena tidak ada Proses Pemilihan Kepala Daerah di Yaro dan Rekapitulasi baik di tingkat TPS dan PPD.

Namun rekapitulasi tetap dilakukan oleh KPU. (Bukti 22) (Bukti P-23)

17.14. Bahwa tidak terdapat Proses Pemilihan Kepala Daerah di Distrik Makimi.

a. Berdasarkan Surat Keterangan Nomor 1/KS-MKIMI/XII/2020 tanggal 16 Desember 2020 (Bukti P-24) pemberi keterangan MALETU WANIMBO selaku Saksi Paslon 3 di TPS 4 RT 5 Desa Biha Distrik Makimi Kab. Nabire, menerangkan bahwa dalam pemilihan tanggal 9 Desember 2020 kepala Kampung Biha KALENUS TELENGGEN menyatakan dalam pemilihan menggunakan sistem noken dengan memberikan 391 suara kepada Paslon Nomor urut 1, pemilih pada RT 5 tidak ada pencoblosan di TPS desa Biha Desa Biha Distrik Makimi Kab. Nabire tidak melakukan pemilihan. Bahkan saksi paslon 3 hendak mengajukan keberatan tetapi tidak diberikan oleh penyelenggara. (Bukti P-25)

b. Berdasarkan Surat Keterangan Nomor 2/KS-MKIMI/XII/2020 tanggal 16 Desember 2020 (Bukti P-26) pemberi keterangan YUDISON ENUMBI selaku Saksi Paslon 3 di TPS 4 RT 5 Desa Biha Distrik Makimi Kab. Nabire, menerangkan bahwa dalam pemilihan tanggal 9 Desember 2020 kepala Kampung Biha KALENUS TELENGGEN menyatakan dalam pemilihan menggunakan sistem noken dengan memberikan 328 suara kepada Paslon Nomor urut 1, pemilih pada RT 5 tidak ada pencoblosan di TPS desa Biha Desa Biha Distrik

Makimi Kab. Nabire tidak melakukan pemilihan. Bahkan saksi paslon 3 hendak mengajukan keberatan tetapi tidak diberikan oleh penyelenggara. (Bukti P-27)

c. Pada saat pleno di tingkat Kabupaten Pemohon menolak hasil rekapitulasi distrik Makimi karena tidak ada Proses Pemilihan Kepala Daerah di TPS 4 dan TPS 5 desa Biha Distrik Makimi. Namun rekapitulasi tetap dilakukan oleh KPU. (Bukti P-28)

17.15. Bahwa tidak terdapat Proses Pemilihan Kepala Daerah di Distrik Teluk Kimi.

a. TPS 17 Kampung Samabusa desa Teluk Kimi menerapkan Sistem Noken. Saksi hendak mengajukan keberatan tetapi tidak diberi kesempatan. Paslon no. 1 diberikan 421 suara Paslon no. 2 diberikan 0 suara, paslon no 3 diberikan 0 suara. Saksi hendak mengajukan keberatan tetapi tidak diberi kesempatan. (Bukti - 29)

b. Terjadi pengusiran Saksi-saksi, penganiayaan dan intimidasi di Teluk Kimi dengan pemukulan. (Bukti P-30)

c. Pada saat pleno di tingkat Kabupaten Pemohon menolak hasil rekapitulasi distrik Teluk kimi karena tidak ada Proses Pemilihan Kepala Daerah di TPS 17 kampung Samabusa Distrik Teluk Kimi.

Dan terjadi pengusiran, penganiayaan dan intimidasi saksi – saksi pemohon. Namun rekapitulasi tetap dilakukan oleh KPU. (Bukti P-31)

17.16. Bahwa terdapat banyak pelanggaran yang disebabkan oleh ketidakprofesionalan penyelenggara di Distrik Nabire

f. Hampir semua TPS dari data hak pilih pengguna hak pilih, pengguna surat suara, hasil perolehan suara, tidak singkron dan konek angka pada C-Hasil KWK Hologram maupun C-Salinan KWK

g. Proses Perhitungan dibacakan hasil suara dan setelah itu data hak pilih direvisi menyesuaikan hasil suara seharusnya data hak pilih dan pengguna hak pilih, dan penggunaan surat suara dijadikan patokan hasil perolehan suara. (Bukti P-32)

h. Revisi dilakukan perubahan tidak dihadirkan di KPPS dengan alasan batas waktu yang diberikan. (Bukti P-33)

i. Dalam pemusnahan surat suara sisa petugas KPPS tidak memusnahkannya sesuai dengan ketetapan PKPU yang seharusnya secara silang, namun dilakukan memotong dengan silet. (Bukti P-34) j. Pada TPS 11 Sanoba surat suara dicolos oleh KPPS. (Bukti P-35) k. KPU Kabupaten Nabire melakukan Pemilihan Suara Ulang di 9 TPS

Distrik Nabire yaitu TPS tanpa menggunakan surat suara yang menggunakan bertanda PSU, dimana menggunakan sisa surat suara hanya 1.000 sedangkan jumlah surat suara untuk PSU di 9 TPS sejumlah 3.199 surat suara. Untuk memenuhi surat suara tersebut KPU Kabupaten Nabire memesan pada vendor PT. Puri Panca Puji Bangun di Surabaya sejumlah 1.351 surat suara artinya surat suara yang dibutuhkan masih kurang sebanyak 848 surat suara. Pada saat melaksanakan PSU masih terdapat sisa surat suara. (Bukti P-36) 18. Ketidakprofesionalan penyelenggara/tidak kompetennya

penyelenggara dalam melaksanakan Tugas

18.8. Petugas TPS melakukan Pencoblosan Surat Suara secara.

18.9. Petugas TPS membagi suara ke Pasangan Calon tertentu.

18.10. Hampir semua TPS dari data hak pilih pengguna hak pilih, pengguna surat suara, hasil perolehan suara, tidak singkron dan konek angka pada C-Hasil KWK Hologram maupun C-Salinan KWK.

18.11. Proses Perhitungan dibacakan hasil suara dan setelah itu data hak pilih direvisi menyesuaikan hasil suara seharusnya data hak pilih dan pengguna hak pilih, dan penggunaan surat suara dijadikan patokan hasil perolehan suara.

18.12. Revisi dilakukan perubahan tidak dihadirkan di KPPS dengan alasan batas waktu yang diberikan.

18.13. Dalam pemusnahan surat suara sisa petugas KPPS tidak memusnahkannya sesuai dengan ketetapan PKPU yang seharusnya secara silang, namun dilakukan memotong dengan silet.

18.14. KPU Kabupaten Nabire melakukan Pemilihan Suara Ulang di 9 TPS Distrik Nabire yaitu TPS tanpa menggunakan surat suara yang menggunakan bertanda PSU, dimana menggunakan sisa surat suara hanya 1.000 sedangkan jumlah surat suara untuk PSU di 9 TPS

sejumlah 3.199 surat suara. Untuk memenuhi surat suara tersebut KPU Kabupaten Nabire memesan pada vendor PT. Puri Panca Puji Bangun di Surabaya sejumlah 1.351 surat suara artinya surat suara yang dibutuhkan masih kurang sebanyak 848 surat suara. Pada saat melaksanakan PSU masih terdapat sisa surat suara.

18.15. Pada TPS 11 Sanoba surat suara dicolos oleh KPPS. (Bukti P-37) 18.16. Bukti tidak profesionalnya penyelenggara menyebabkan penolakan dari

Kepala suku serta masyarakat se – Kabupaten Nabire. (Bukti P-38) 19. Pemilih mencoblos lebih dari satu kali/pemilih ganda

19.2. Bahwa karena tidak profesionalnya penyelenggaran maka terdapat pemilih ganda dalam daftar DPT, hal tersebut mengakibatkan orang dapat memilih lebih dari satu kali di TPS yang berbeda, baik dengan menggunakan undangan formulir C6 atau KTP. Disamping itu terdapat KTP palsu yang digunakan untuk mencoblos. (Bukti P-39)

20. Bahwa apabila pada Distrik–distrik yang terdapat permasalahan yang mendasar atau krusial tersebut perolehan suara dibatalkan maka perolehan suara yang benar adalah:

No Nama Pasangan Calon Perolehan Suara

1. Pasangan Calon Nomor Urut 1 12.805 2. Pasangan Calon Nomor Urut 2 11.393 3. Pasangan Calon Nomor Urut 3

(Pemohon) 13.487

Total Suara Sah 37.685

V. PETITUM

Berdasarkan seluruh uraian sebagaimana tersebut di atas, Pemohon memohon kepada Mahkamah Konstitusi untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut: