DALAM POKOK PERKARA :
I. DALAM EKSEPSI
Gugatan Penggugat kurang pihak (plurium litis consortium)
Bahwa terbitnya SPP-GR No. 010213 tanggal 23 Januari 2013, SPP-GR No. 020213 tanggal 08 Februari 2013 dan SPP-GR No.030213 tanggal 21 Februari 2013, didasarkan pada :
1. Surat Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Siak No. 522.3/PP/4127 tanggal 15 Nopember 2010, mengusulkan kepada Kepala BP2HP Wilayah III Pekanbaru agar menetapkan Sdri. Sinta Akhriani menjadi pejabat penagih SPP-GR di Kabupaten Siak ;
2. Atas usulan surat tersebut angka 1 di atas, Kepala BP2HP Wilayah III Pekanbaru menerbitkan Surat Keputusan Nomor : 489/BPPHP III-3/2010 tanggal 22 November 2010, yang menetapkan Sdri. Sinta Akhriani sebagai pejabat penagih SPP-GR di Kabupaten Siak ;
3. Berdasarkan Surat Edaran Nomor : SE.03/Menhut-VI/BIKPHH/2012 tanggal 28 Agustus 2012 tentang Penatausahaan Hasil Hutan Kayu dari Pohon yang Tumbuh Secara Alami Dalam Areal Penggunaan Lain dan Telah dibebani Hak yang ditujukan antara lain kepada Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota yang membidangi kehutanan menyampaikan bahwa dalam rangka pengaturan
penatausahaan hasil hutan kayu yang berasal dari pohon yang tumbuh secara alami dalam kawasan hutan yang telah berubah status dari kawasan hutan menjadi APL dan telah dibebani hak, seperti HGU, Hak Pakai dan bentuk perizinan lainnya yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional/BPN menyampaikan antara lain sebagai berikut :
a. Penatausahaan hasil hutan kayu dari pohon yang tumbuh secara alami pada APL yang telah dibebani hak, pengaturannya mengikuti ketentuan sebagaimana diatur di dalam Pasal 28 dan Pasal 29 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.14/Menhut-II/2011 ;
b. Sebelum melakukan penebangan, pemilik/pemegang hak wajib melaporkan potensi kayunya kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota setempat ;
c. Kayu Hasil penebangan, dilakukan pengukuran dan pengujian kayu oleh Tenaga Teknis (GANIS) PHPL PKBR/PKBJ dan hasilnya dibuat Daftar Kayu Bulat (DKB) atau Kayu Bulat Kecil (KBK) ;
d. Dalam hal tidak tersedia Ganis PHPL PKBR/PKBJ, pembuatan DKB/KBK dilakukan oleh Wasganis PHPL/PKBJ ;
4. DKB dan/atau KBK yang telah disahkan oleh Wasganis PHPL PKBR/PKBJ merupakan dasar bagi pejabat Penagih PSDH, DR dan Penggantian Nilai Tegakan untuk menerbitkan SPP PSDH/DR dan SPP-PNT. Berdasarkan Surat Direktur Jenderal BUK Nomor : S.960/VI-BIKPHH/2012 tanggal
19 Desember 2012 perihal Penegasan Pengenaan Penggantian Nilai Tegakan (PNT), memerintahkan kepada Kepala Dinas Provinsi yang membidangi Kehutanan dan Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi untuk berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi Kehutanan untuk menugaskan petugas penerbit surat perintah pembayaran penggantian nilai tegakan (SPP-GR) untuk menerbitkan SPP-GR untuk KB atau LHP-KBK yang disahkan sejak tanggal 4 September 2009 s/d sekarang untuk IPPKH, IPK dan HGU yang masih terdapat pohon yang tumbuh alami sebelum terbitnya alas titel (HGU) ;
5. Berdasarkan hal tersebut maka Tergugat menerbitkan : a. SPP-GR Nomor : 010213 tanggal 23 Januari 2013 yang
mewajibkan Penggugat membayar Rp 856.947.386,82 (Delapan ratus lima puluh enam juta Sembilan ratus empat puluh tujuh ribu tiga ratus delapan puluh enam koma delapan puluh dua rupiah) ;
b. SPP-GR Nomor : 020213 tanggal 08 Februari 2013 yang mewajibkan Penggugat membayar Rp 82.792.148,00 (Delapan puluh dua juta tujuh tarus Sembilan puluh dua ribu seratus empat puluh delapan koma nol rupiah); dan c. SPP-GR Nomor : 030213 tanggal 21 Februari 2013 yang
mewajibkan Penggugat membayar Rp 83.833.517,00 (Delapan puluh tiga juta delapan ratus tiga puluh tiga ribu lima ratus tujuh belas koma nol rupiah) ;
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penerbitan SPP-GR an. Penggugat oleh Tergugat didasarkan pada perintah Kepala BP2HP Wilayah III Pekanbaru dan Menteri Kehutanan RI sehingga gugatan Penggugat yang hanya ditujukan kepada Tergugat tanpa melibatkan Kepala BP2HP Wilayah III Pekanbaru dan Menteri Kehutanan RI adalah kurang pihak. Dengan demikian gugatan harus dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard). II. DALAM POKOK PERKARA
1. Tergugat dengan tegas menolak seluruh dalil yang dinyatakan oleh Penggugat dalam gugatannya kecuali yang secara tegas diakui kebenarannya oleh Tergugat ;
2. Sebelum Tergugat menyampaikan jawaban atas dalil-dalil gugatan Penggugat terlebih dahulu disampaikan kronologis
terbitnya keputusan TUN objek gugatan a quo, sebagai berikut :
a. Kepala Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BP2HP) Wilayah III Pekanbaru dengan Keputusan Nomor : SK.489/BPPHP III-3/2010 tanggal 22 November 2010, menetapkan Sdri. Sinta Akhriani selaku Tergugat sebagai Pejabat Penagih SPP-GR di Kabupaten Siak, dengan tugas dan kewajiban sebagai berikut :
1) Menelaah volume kayu untuk perhitungan penggantian nilai tegakan berdasarkan volume pada laporan hasil produksi (LHP), sebagai dasar pengenaan penggantian nilai tegakan dari IPK dan atau penyiapan lahan dalam pembangunan hutan tanaman ;
2) Pejabat Penagih SPP-GR menerbitkan SPP-GR berdasarkan harga patokan yang ditetapkan oleh Menteri Perdagangan dikurangi kewajiban PSDH, DR, dan biaya produksi ;
3) Menyampaikan tembusan SPP-GR kepada : - Lembar 1 (kesatu) untuk wajib bayar ;
- Lembar 2 (kedua) untuk Kepala Dinas Kabupaten/Kota ;
- Lembar 3 (ketiga) untuk Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Riau ;
- Lembar 4 (keempat) Kepala Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BPPHP) Wilayah III Pekanbaru ;
- Lembar 5 (kelima) untuk arsip Pejabat Penagih ; 4) Menyampaikan bukti pembayaran yang dilakukan oleh
wajib bayar kepada Kepala Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BP2HP) Wilayah III Pekanbaru dan Pejabat Penerbit SKSKB ;
b. Menteri Kehutanan dengan Surat Edaran Nomor : SE.03/Menhut-VI/BIKPHH/2012 tanggal 28 Agustus 2012 tentang Penatausahaan Hasil Hutan Kayu dari Pohon yang Tumbuh Secara Alami Dalam Areal Penggunaan Lain dan Telah dibebani Hak yang ditujukan antara lain kepada Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota yang membidangi kehutanan menyampaikan bahwa dalam rangka pengaturan penatausahaan hasil hutan kayu yang berasal dari pohon
yang tumbuh secara alami dalam kawasan hutan yang telah berubah status dari kawasan hutan menjadi APL dan telah dibebani hak, seperti HGU, Hak Pakai dan bentuk perizinan lainnya yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional/BPN menyampaikan antara lain sebagai berikut : 1) Penatausahaan hasil hutan kayu dari pohon yang
tumbuh secara alami pada APL yang telah dibebani hak, pengaturannya mengikuti ketentuan sebagaimana diatur di dalam Pasal 28 dan Pasal 29 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.14/Menhut-II/2011 ; 2) Sebelum melakukan penebangan, pemilik/pemegang
hak wajib melaporkan potensi kayunya kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota setempat ;
3) Kayu Hasil penebangan, dilakukan pengukuran dan pengujian kayu oleh Tenaga Teknis (GANIS) PHPL PKBR/PKBJ dan hasilnya dibuat Daftar Kayu Bulat (DKB) atau Kayu Bulat Kecil (KBK) ;
4) Dalam hal tidak tersedia Ganis PHPL PKBR/PKBJ, pembuatan DKB/KBK dilakukan oleh Wasganis PHPL PKBR/PKBJ ;
5) DKB dan/atau KBK yang telah disahkan oleh Wasganis PHPL PKBR/PKBJ merupakan dasar bagi pejabat Penagih PSDH, DR dan Penggantian Nilai Tegakan untuk menerbitkan SPP PSDH/DR dan SPP-GR ;
c. Selanjutnya Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan melalui surat Nomor : S.960/VI-BIKPHH/2012 tanggal 19 Desember 2012 yang antara lain ditujukan kepada Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Riau dan Kepala BP2HP Wilayah III Pekanbaru menyampaikan :
1)
Penegasan mengenai pengenaan Penggantian Nilai Tegakan sebagai tindak lanjut dari Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 41/P/Hum/2011 mengenai permohonan Hak Uji Materiil terhadap Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.14/Menhut-II/2011 tentang Izin Pemanfaatan Kayu, dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.65/Menhut-II/2009 tentang Standar Biaya Produksi Pemanfaatan Kayu pada Izin Pemanfaatan Kayu dan atau Penyiapan Lahan Dalam Rangka Pembangunan Hutan Tanaman ;2)
Berkaitan dengan butir 1) diatas, untuk izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH), Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) dan Hak Guna Usaha (HGU) yang masih terdapat pohon yang tumbuh secara alami sebelum terbitnya alas titel (HGU) dikenakan kewajiban membayar PNT selain PSDH dan DR sejak tanggal 4 September 2009 sampai dengan sekarang ;3)
Agar Kepala Dinas Provinsi yang membidangi Kehutanan dan Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi untuk berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi kehutanan untuk menugaskan petugas penerbit Surat Perintah Pembayaran Penggantian Nilai Tegakan (SPP-GR) antara lain untuk menerbitkan “SPP-GR untuk LHP-KB atau LHP-KBK yang disahkan sejak tanggal 4 September 2009 sampai dengan sekarang untuk IPPKH, IPK, dan HGU yang masih terdapat pohon yang tumbuh secara alami sebelum terbitnya alas titel HGU”.d. Berdasarkan huruf c diatas, Tergugat menerbitkan SPP-GR PNT Nomor : 010213 tanggal 23 Januari 2013, SPP-GR PNT Nomor : 020213 tanggal 08 Februari 2013 dan SPP-GR PNT Nomor : 030213 tanggal 21 Februari 2013 yang perhitungannya didasarkan pada :
1) Daftar Kayu Bulat (DKB) 001-262 tanggal 15 Februari 2012, dengan volume 6.320,51 M3 ; Daftar Kayu Bulat (DKB) 514-562 tanggal 25 Januari 2013, dengan volume 615,97 M3 ; dan Daftar Kayu Bulat (DKB) 563-600 tanggal 21 Februari 2013, dengan volume 594,50 M3 ; 2) Besaran PNT ditetapkan berdasarkan rumusan sebagai
berikut : harga patokan - (PSDH + DR + biaya produksi) ;
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penerbitan keputusan TUN objek gugatan a quo telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik ;
3. Terhadap dalil gugatan Penggugat angka 10 sampai dengan 14 halaman 6 sampai dengan halaman 14, yang intinya menyatakan bahwa Keputusan oleh Tergugat a quo bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku karena berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 41/P/Hum/2011 tanggal 9 Februari 2011 tentang permohonan hak uji materiil, menyatakan Pasal 1 angka 5, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 35, dan Pasal 36 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.14/Menhut-II/2011 tentang Izin
Pemanfaatan Kayu tanggal 10 Maret 2011, dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.65/Menhut-II/2009 tentang Standar Biaya Produksi Pemanfaatan Kayu pada Izin Pemanfaatan Kayu dan atau Penyiapan Lahan dalam Rangka Pembangunan Hutan Tanaman, bahwa tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat (tidak sah) dan batal demi hukum serta tidak berlaku umum adalah merupakan dalil yang keliru dan tidak berdasar hukum, karena :
a. Keputusan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat (tidak sah) dan batal demi hukum serta tidak berlaku umum adalah berlaku khusus terhadap kewajiban pembayaran PNT terhadap kegiatan penyiapan lahan dari IUPHHK-HT, sebagaimana pada amar putusan Mahkamah Agung RI yang memerintahkan kepada Menteri Kehutanan untuk mencabut Pasal 1 angka 5, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 35, dan Pasal 36 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.14/Menhut-II/2011 tentang Izin Pemanfaatan Kayu dan mencabut Pasal 1 sampai dengan Pasal 4 beserta Lampiran 2 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.65/Menhut-II/2009 ;
b. Dengan demikian kewajiban PNT dari kegiatan IUP pada areal yang telah dibebani HGU sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.14/Menhut-II/2011 dan Lampiran 1 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.65/Menhut-II/2009, tidak termasuk yang diperintahkan untuk dicabut sesuai dengan putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 41/P/Hum/2011 tanggal 9 Februari 2011 ;
c. Ketentuan tersebut huruf a dan b di atas, dipertegas dengan Pasal 3 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.21/Menhut-II/2013 tanggal 22 April 2013 tentang Standar Biaya Produksi Pemanfaatan Kayu Pada Izin Pemanfaatan Kayu yang berlaku surut sejak 9 Februari 2012. Ketentuan Pasal 3 tersebut mengatur bahwa penghitungan PNT tetap didasarkan pada Lampiran 1 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.65/Menhut-II/2009 yang juga merupakan Lampiran Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.21/Menhut-II/2013 ;
4. Terhadap dalil gugatan Penggugat angka 16 sampai dengan 18 halaman 15 sampai dengan 16 yang menyatakan dasar perhitungan SPP-GR harus berdasarkan pada ketentuan dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.65/Menhut-II/2009 yang telah dicabut sesuai Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor Nomor : 41/P/Hum/2011 tanggal 9 Februari 2011 sehingga tidak mempunyai hukum mengikat (tidak sah) dan batal demi hukum adalah dalil yang keliru dan tidak berdasar hukum, karena putusan Mahkamah Agung tersebut tidak mencabut lampiran 1 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.65/Menhut-II/2009 yaitu biaya produksi pemanfaatan kayu pada IPK dan atau pada areal pinjam pakai atau pada APL, yang merupakan dasar perhitungan biaya produksi tersebut, sehingga Penggugat tetap mempunyai kewajiban hukum untuk membayar Penggantian Nilai Tegakan ;
5. Terhadap dalil gugatan Penggugat angka 19 sampai dengan 21 halaman 16 sampai dengan 18 yang menyatakan bahwa
penerbitan keputusan TUN objek gugatan a quo telah melanggar asas-asas umum pemerintahan yang baik khususnya asas tertib penyelenggaraan negara, asas kecermatan formal, asas kepastian hukum adalah dalil yang keliru dan tidak berdasar hukum, dengan penjelasan sebagai berikut :