• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

ANALITIS DAN PEMBAHASAN Soil

4.9 Analisis Data Pengamatan Lapangan (Instrumen Geoteknik)

4.9.3 Ekses Air Pori berdasarkan data instrumen Piezometer (P-14)

Piezometer dipasang di bawah timbunan dengan dua alat baca (tip), dimana masing – masing tip pertama dipasang pada kedalaman 4,5 m sedangkan tip kedua dipasang pada kedalaman 8,5 m, hal ini dapat dilihat pada Gambar 3.3. Pembacaan piezometer berlangsung dari tanggal 3 Mei 2011 sampai dengan 10 Mei 2012.

Gambar 4.47 Hasil ekses air pori dari data piezometer Tip 1 (P-14) kedalaman 8,5 m

Gambar 4.48 Hasil ekses air pori dari data piezometer Tip 2 (P-14) kedalaman 4,5 m

Berdasarkan Gambar 4.47 dan Gambar 4.48, menunjukan bahwa besar excess pore water pressure yang dibangkitkan pada lapisan silty sand untuk setiap tahapan pembebanan menunjukan tidak sebesar beban yang diberikan.

0

26-Feb 17-Apr 6-Jun 26-Jul 14-Sep 3-Nov 23-Dec 11-Feb 1-Apr 21-May 10-Jul

Tekanan Air Pori (kN)

Tanggal

Tekanan Air Total Tekanan Air Pori Ekses Tekanan Air Pori Statis

0,00

26-Feb 17-Apr 6-Jun 26-Jul 14-Sep 3-Nov 23-Dec 11-Feb 1-Apr 21-May 10-Jul

Tekanan Air Pori (kN)

Tanggal

Tekanan Air Total Tekanan Air Pori Ekses Tekanan Air Pori Statis

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Proses hasil air pori ekses didapat dari hasil tekanan air pori total yang dikurangin dengan tekanan air pori statis, tekanan air pori total yaitu kedalaman pemasangan tip piezometer dikali dengan berat jenis air, sedangkan tekanan air pori statis yaitu elevasi muka air tanah dikurangin dengan elevasi kedalaman pemasangan tip piezometer yang dikalikan dengan berat jenis air.

Hal ini dapat diperlihatkan pada proses penimbunan pada Gambar 4.47 dimana pembacaan piezometer dilakukan pada tip pertama kedalaman 8,5 m, tahap pertama belum ada dilakukan pembacaan piezometer, pembacaan dilakukan pada tahapan penimbunan ke-2 dengan besar tegangan air pori yang dihasilkan sebesar 9,68 kPa, untuk penimbunan ke-3 dengan besar tegangan air pori 8,23 kPa, penimbunan ke-4 besar tegangan air pori ekses sebesar 6,28 kPa, sedangkan pada penimbunan ke-5 besar tegangan air pori ekses sebesar 10,59 kPa. Sedangkan Gambar 4.48 pada piezometer tip ke-2 kedalaman 4,5 m dengan besar tegangan air pori ekses yaitu tahap ke-2 besar tegangan air pori 8,33 kPa, tahap 3 besar tegangan air pori ekses 8,31 kPa, tahap ke-4 besar tegangan air pori ekses 5,82 kPa, sedangkan tahap ke-5 besar tegangan air pori ekses 10,59 kPa.

Bedasarkan bacaan piezometer tip 1 dan tip 2 menunjukan terjadinya fluktuasi air pori ekses yang tidak mengikuti proses pembebanan bedasarkan pelaksanaan penimbunan, ini dapat diartikan bahwa dengan adanya proses pemompaan muka air tanah melalui water standpipe (W-4) yang berdekatan dengan piezometer (P-14), mengakibatkan fluktuasi air pori ekses yang tidak beraturan dan memiliki nilai ekses air pori yang kecil.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.9.4 Fluktuasi Muka Air Tanah bedasarkan Instrumen Waterstand Pipe (W-4) Instrument waterstand pipedigunakan untuk memonitor elevasi muka air tanah pada saat dan setelah penimbunan. Dipasang pada tengah timbunan runwayyang ditempatkan berpasangan dengan instrumen Piezometer, hal ini dapat ditunjukan pada Gambar 3.3 dan Gambar 3.4. Pembacaan dilakukan pada tanggal 13 Maret 2011 sampai dengan tanggal 10 Mei 2012. Hasil dari monitoring instrument waterstandpipe menghasilkan garfik monitoring seperti pada Gambar 4.49, Gambar 4.50 dan Gambar 4.51 yang menunjukan perilaku muka air tanah.

Gambar 4.49 Hasil perubahan muka air tanah berdasarkan waktu

Gambar 4.50 Perbandingan muka air tanah dengan saluran drainase

0,0

Nov-10 Feb-11 Jun-11 Sep-11 Dec-11 Apr-12 Jul-12

Elevasi Air Tanah (m)

muka air di saluran drainase

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.51 Hubungan proses pemompaan terhadap disipasi air pori

Gambar 4.49 menunjukan bahwa pengaruh bertambahnya tinggi timbunan terhadap waktu mengakibatkan adanya fluktuasi muka air tanah. Gambar 4.50 menunujuakan elevasi muka air tanah terhadap elevasi saluran air disisi pinggir timbunan. Dan Gambar 4.51 menunjukan hubungan elevasi jarak muka air tanah dengan elevasi muka air tanah didalam pipa drainase. Dan Tabel 4.14 menunjukan tahapan penimbunan dari tahap timbunan ke -1 sampai tahap ke -5, masing tahapan menunjukan adanya perubahan muka air tanah.

Gambar 4.49 menunjukan fluktuasi muka air tanah, hal ini dapat dilihat pada timbunan ke – 1 yang menunujakan rata – rata elevasi muka air tanah berkisar 2,8 m, pada timbunan ke -2 menujukan rata – rata elevasi muka air tanah 3,0 m, timbunan ke - 3 menunjukan rata – rata elevasi muka air tanah 3,5 m, timbunan ke – 4 menunjukan rata – rata elevasi air tanah 3,0 m, sedangkan pada timbunan tahap ke – 5 menunjukan rata – rata elevasi air tanah 2,8. Dapat dikatakan bahwa puncak fluktuasi muka air tanah terjadi pada tahapan penimbunan ke – 3, akan tetapi semakin pada tahapan ke – 5 menunjukan fluktuasi muka air tanah kembali menurun yang disertai dengan menurunnya tegangan air pori. Jika dilihat pada timbunan ke – 3 tingginya muka air

7-Jan 26-Feb 17-Apr 6-Jun 26-Jul 14-Sep 3-Nov 23-Dec 11-Feb 1-Apr 21-May 10-Jul

Elevasi Air Tanah (m)

tanah tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya beban diatasnya, melainkan juga sangat diperngaruhi oleh faktor alam. Jika dilihat bahwa tinggi rata – rata elevasi muka air tanah berada pada level 4,0 m, hal ini dipengaruhi oleh curah hujan yang sangat tinggi yang jatuh pada bulan Oktober dan November.

Untuk tinjauan pada Gambar 4.50, ada dua grafik hubungan yang saling menunjukan elevasi air tanah. Grafik dengan garis lurus atau yang berada pada elevasi 1,98 m merupakan grafik yang diambil dari data monitoring lapangan yaitu dari saluran drainase yang berada di pinggir badan timbunan. Jika dilihat dari data monitoring bahwa elevasi muka air disaluran drainase rendah atau tidak sama dibandingkan dengan muka air didalam badan runway. Oleh karena itu sangat perlu dilakukan suatu tindakan agar air yang terperangkap didalam badan runway tersebut dapat keluar. Hal ini sangat menggangu pada proses berlansungnya penurunan konsolidasi, yang menyebabkan lapisan tanah yang permiabilitas rendah tidak dapat mendisipsi air pori.

Oleh sebab itu hal yang perlu dilakuakan adalah dengan mengganggu air tanah yang terperangkap dibadan runway dengan cara membuat saluran drainase vertikal (penggunaan pipa) sebagai tempat keluarnya air dengan cara memompa keluar. Dengan dilakukan cara itu air yang terperangkap akan lama kelamaan keluar atau terdisipasi dan elevasi muka air tanah yang terperangkap dibadan runway harus memiliki elevasi yang sama dengan elevasi air yang berada di saluran drainase.

Pada Gambar 4.51 menunjukan elevasi muka tanah akibat proses penimbunanan yang dilakukan terhadap elevasi air tanah, pengontrolan elevasi air tanah menggunakan pipa drainase yang dipasang pada tengah timbunan yang berdekatan dengan piezometer.

Akibat dengan adanya penimbunan maka muka air tanah juga akan naik dengan adanya peroses penimbunan, dan proses disipasi air pori seiring dengan proses konsolidasi.

Akan tetapi kenaikan muka air tanah juga dapat diakibatkan dengan adanya intensitas

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

curah hujan yang tinggi. Oleh sebab itu pengontrolan dilakukan dengan melihat muka ait tanah melalui alat pipa drainase. Pengontrolan dilakukan setiap hari pada saat sebelum dilakukan proses penimbunan dan pada akhir proses penimbunan, hal ini dilakukan untuk melihat peningkatan yang terjadi antara sebelum dilakukan proses penimbunan dengan selesainya penimbunan. Dengan adanya pengontrolan akan didapat fluktuasi yang tejadi, jika fluktuasi elevasi muka air tanah tidak terdisipasi dengan adanya proses konsolidasi maka dilakukan proses penurunan muka air tanah didalam pipa drainase. Proses penurunan yang dilakukan dengan pemompaan muka air tanah didalam pipa drainase berlansung secara berkelanjutan selama proses pekerjaan penimbunan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4.51 pada tahapan proses penimbunan ke-4 dan ke-5 grafik menunjukan penurunan muka air tanah yang berlansung terus menerus tanpa ada peningkatan elevasi muka air tanah yang signifikan. Dengan adanya proses pemompaan elevasi muka air tanah maka muka air tanah yang terperangkap didalam timbunan badan runway akan turun sehingga akan menaikan tegangan vertikal efektif tanah.

4.10 Prediksi Penurunan Berdasarkan Observasi

Dokumen terkait