BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Preloading
2.9 Formulasi Finite Elemen pada Konsolidasi Biot
Tidak mudah memformulasikan konsolidasi Biot ke dalam FEM. Beberapa ahli yang telah melakukannya seperti Christian (1968) telah memformulasikannya berdasarkan prinsip kerja virtual (principle of virtual work), Sandhu dan Wilson (1969) melakukannya dengan mengambil formulasi berdasarkan prinsip variational, Hwang Morgenstern &
Murray (1972) juga melakukannya dengan mengambil formulasi berdasarkan Galerkin Weighed Residual Methode dan Zienkiewicz (1973) memformulasikan selanjutnya
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
didiskritisasikan dengan metode Galerkin dan akhirnya akan diperoleh persamaan simultan untuk konsolidasi.
Untuk pembahasan topik ini digunakan formulasi yang dipakai oleh Zienkiewicz untuk memformulasikan teori konsolidasi Multy dimensional Biot. Metode ini lebih komprehensif dan fleksibel serta lebih mudah dikembangkan untuk kasus seperti pada pemodelan elastoplastic tanah.
Pada FEM setiap elemen mempunyai titik nodal yang menghubungkan antara elemen.
Masing-masing elemen mempunyai derajat kebebasan yang berhubungan dengan nilai yang belum diketahui (unknown) dalam rangka untuk memecahkan masalah yang ada. Pada kasus teori deformasi derajat kebebasan berhubungan dengan komponen perpindahan (displacement), sedangkan pada kasus aliran (seepage) berhubungan dengan besarnya head.
Untuk kasus konsolidasi derajat kebebasan terdiri dari komponen perpindahan dan tekanan air pori.
a. Fungsi interpolasi untuk elemen segitiga
Untuk elemen-elemen segitiga ada dua koordinat lokal yaitu πdanπ. Selanjutnya kita menggunakan koordinat bantuanπ = 1 β π β π.
b. Fungsi bentuk (Shape Function) untuk elemen segitiga 15 node
Untuk elemen segitiga dengan 15 buah titik nodal, fungsi bentuk dapat dituliskan sebagai berikut (terlihatdalam penomoran lokal dari titik nodal) yang ditunjukkan dalam Gambar 2.12:
π1 =π(4π β 1)(4π β 2)(4π β 3) 6
π2 = π(4π β 1)(4π β 2)(4π β 3) 6
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
π3 = π(4π β 1)(4π β 2)(4π β 3)
Gambar 2.12Penomoran lokal dan penempatan posisi titik nodal c. Fungsi bentuk (Shape Function) untuk elemen segitiga 6 node
Shape Function dengan enam titik nodal dinyatakan sebagai berikut:
π1 = π(2π β 1), π2 = π(2π β 1), π3 = π(2π β 1),
π4 = 4ππ,π5 = 4ππ,π6 = 4π1π (2.74a-f)
Gambar 2.13 Elemen segitiga dengan 6 (enam) titik nodal d. Integrasi numerik untuk elemen segitiga
Perumusan integrasi numerik untuk elemen segitiga adalah sebagai berikut:
β¬ F(π, π)ππππ β βππ=1F(ππ, π1)π€1 (2.75) di mana: F(π, π) = nilai fungsi F pada posisi π dan π
π€1 = weight factor for point i
π = koordinat bantu pada (auxiliary coordinat).
Pada program FEM menggunakan integrasi Gaussian. Untuk elemen 6 node integrasi didasarkan pada 3 titik contoh, sedangkan untuk elemen 15 node menggunakan 12 titik contoh. Posisi dan faktor berat titik integrasi disajikan dalam Tabel 2.3 dan Tabel 2.4 di bawah ini:
Tabel 2.3 Integrasi untuk 3 titik, untuk elemen 6 node
Titik π1 π1 π1 π€1
1,2,& 3 1/6 1/6 2/3 1/3
(D. waterman, Plaxis vertion 7, Sientific Manual, 2004)
Tabel 2.4 Integrasi untuk 12 titik, untuk elemen 15 node
Titik π1 π1 π1 π€1
1,2,& 3 0.063089β¦ 0.063089β¦ 0.873821β¦ 0.050845β¦
4β¦6 0.249286β¦ 0.249286β¦ 0.501426β¦ 0.116786β¦
7β¦12 0.310352β¦ 0.053145β¦ 0.636502β¦ 0.082851β¦
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
(D. waterman, Plaxis vertion 7, Sientific Manual, 2004)
Pada FEM seluruh gaya dan perpindahan (displacement) yang terjadi terlebih dahulu dihitung pada titik nodal selanjutnya dengan menggunakan Shape Functiondihitung pada elemen.
Tekanan air pori pada titik nodal (π€π) dinyatakan:
π€π = [π€1 π€2 . . π€11 π€12]π (2.76) Perpindahan (displacement) pada titik nodal (π’π) dinyatakan:
π’π = [π’1 π£1 . . π’6 π£6]π (2.77) Dengan Shape Function sebagai berikut:
π = [π1 π1 π2 β¦ π6 π6] (2.78) Regangan yang terjadi pada elemen tanah diberikan:
π = π΅π’π (2.79)
Di mana: π΅ = strain displacement matrik yang berbentuk:
B =
Rumusan tegangan efektif menjadi sebagai berikut:
πβ²= πΆπ + Οβ²
0 (2.81)
Dengan mesubstitusikan Pers.(2.78) ke Pers. (2.80) didapat:
πβ² = πΆπ΅π’m+ Οβ²
0 (2.82)
Dengan cara yang sama, gradient hydrolic dinyatakan sebagai berikut:
[βwβx βwβy]T = π΅πwm (2.83)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
di mana: π΅π = [
Syarat batas tegangan dan aliran pada elemen dinyatakan:
T = NTm (2.84)
T = Nvm (2.85)
e. Tegangan Regangan dan Perpindahan
Berdasarkan hukum kekekalan energi, jumlah energi potensial total yang timbul pada suatu massa diakibatkan oleh strain energi dan potensial energi sama dengan nol. Total energi potensial akibat stress, strain dan displacement pada kerja virtual (virtula work) dalam kondisi tegangan total dapat dinyatakan sebagai berikut :
⫠δΡv TΟdv ββ« Ξ΄us TTds ββ« Ξ΄uv TFdv= 0 (2.86) di mana: ⫠δΡv TΟdv= strain energi
β« Ξ΄us TTds ββ« Ξ΄uv TFdv = potensial energi (traksi dan body force)
Dengan δu dan δΡ menyatakan pertambahan displacement dan regangan virtual yang terjadi pada elemen, maka penjumlahan dari masing-masing elemen sebagai berikut:
βMm=1{β« [δΡv TΟ β Ξ΄uTF]dVβ β« Ξ΄us TTΜdS} = 0 (2.87)
Displacement dan regangan pada element merupakan perkalian dari shape fucntion dengan virtual displacement pada titik nodal.
βu = Nπ’π (2.88)
βΞ΅ = B βπ’π (2.89)
Substitusikan Pers. (2.87) dan Pers. (2.88) ke Pers. (2.89) menjadi:
βMm =1{β« [(Ξ΄. uv m)TBTΟ β (Ξ΄. um)TNTF]dVβ β« (Ξ΄. us m)TNTTΜdS} = 0 (2.90)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jika βπ’π = satu satuan, maka Pers. (2.90) menjadi:
βMm =1{β« [Bv TΟ β NTF]dVβ β« Ns TTΜdS} = 0 (2.91) Dari persamaan tegangan total Pers. (2.81) didapat:
Ο = Οβ²+ π’π = CBum+ πβ²0+ π’π (2.92) dengan:
π’π = tekanan air pori πβ²0 = initial tegangan efektif
CBum= tambahan tegangan efektif akibat terjadinya perpindahan padaelemen Substitusikan Pers.(2.82) ke Pers. (2.92) didapat:
βMm =1{β« [Bv TCum+ BTΟβ²0+ BTuwβ NTF]dVβ β« Ns TTΜdS} = 0 (2.93) Tekanan air pori pada elemen dinyatakan:
π’π = mw = πππ€π (2.94)
Kalikan ruas kiri dan kanan Pers. (2.94) dengan BT didapat:
BTπ’π = BTπππ’π (2.95)
Pers. (2.95) disubstitusikan kePers. (2.93) didapat:
βMm=1{β« [Bv TCBum+ BTΟβ²0 + BTmNwmβ NTF]dVβ β« Ns TTΜdS} = 0 (2.96) Persamaan ini disederhanakan untuk diaplikasikan dalam FEM sebagai berikut:
β« [Bv TCBum+ BTmNwm]dV = β« [βBv TΟβ²0+ NTF]dV + β« Ns TTΜdS (2.97)
Dengan menganggap tegangan awal sama dengan nol,makaPers.(2.97) dituliskan dalam bentuk yang lebih sederhana, menjadi:
πΎπ’π+ πΎ3π€π = dπn (2.98)
dengan:
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
πn = π2 + π1 = vektor pertambahan beban
f. Persamaan Pengaliran
Persamaan pengaturan pengaliran pada konsolidasi Biot dinyatakan sebagai berikut:
β tinjauan πΞ©p dan diintegralkan terhadap volume menjadi:
β« [βxβ (Ξ³kx ruang tinjauan (weak form) dapat ditulis:
β« [(Ξ³kx
Dengan menggunakan Methode Galerkin di manaweighting function sama dengan trial functiom (π€π = ππ), maka:
Persamaan pengaliran diuraikan atas tiga bagian sebagai berikut:
β’ Persamaan Rembesan (Seepage)
β {β« (Ξ³kx
Pers. (2.104) dapat dituliskan dalam bentuk lain:
β« [v βxβ βyβ]NT[kx 0 Maka persamaan ini menjadi:
β« βv TNTπβ N
Ξ³wdVwm (2.106)
Maka persamaan di atas dapat dituliskan dalam bentuk lain:
β« (βN)v TπβN
β’ Persamaan Regangan Volume
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Perubahan volume pada massa tanah terjadi akibat adanya displacement pada elemen yang dinyatakan sebagai berikut:
βMm=1β« βNv T βΞ΅βtvolππππ (2.110) Dengan memasukkan Pers. (2.110) ke persamaan tersebut di atas diperoleh:
β β« [βNT(ππ ππ
Persamaan ini dapat ditulis dalam bentuk lain:
β β« NTππBππππ’π
K3 =matriks perangkai (couple)
K3T = matriks perangkai (πππ’πππ) π‘ππππ πππ π
β’ Persamaan kondisi batas aliran yang keluar (debit)
Syarat batas pengaliran untuk keseluruhan elemen tanah dinyatakan sebagai berikut:
βMm=1β« NS Tvππ =βMm=1β« NS TNvmππ= qm (2.116a) Persamaan ini menunjukkan vektor aliran yang keluar (debit)pada kondisi batas.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
qm= βqm (2.116b)
Dari penjelasan ketiga kondisi, maka persamaan pengaliran (continuitas) dapat dituliskan ke bentuk yang lebih sederhana:
Hwmβ K3T ππ’π
ππ‘ + Sππ€π
ππ‘ = βqm (2.117)
Atau dalam bentuk lain:
βHwm+ K3T ππ’π
ππ‘ β Sππ€π
ππ‘ = qm (2.118)
Dari persamaanteganganβregangan dan perpindahan disimpulkan persamaan pengatur:
Kum+ K3wm = dfm (2.119)
Persamaan ini dapat ditulis dalam bentuk lain:
Kum+ K3wm= 0 + dfm (2.120)
Dari persamaan pengaliran disimpulkan persamaan pengatur menjadi:
βHwm+ K3T ππ’π
ππ‘ β Sππ€π
ππ‘ = qm (2.121)
Persamaan ini dapat ditulis dalam bentuk lain:
K3T ππ’π
ππ‘ β Sππ€π
ππ‘ = Hwm+ qm (2.122)
g. Hubungan persamaan Tegangan β Regangan - Waktu
Persamaan hubungan tegangan, regangan dan perpindahan Pers. (2.119) dan Persamaan pengaliran Pers. (2.121) dapat digabungkan (couple) dalam persamaan matriks sebagai berikut:
Persamaan di atas dengan menggunakan prosedur integrasi tahap demi tahap (increment) ditandai dengan simbol β dapat ditulis sebagai berikut:
[K K3 tertentu akan diperoleh pertambahan displacement dan pengurangan tekanan air pori pada titik-titik nodal. Pertambahan displacement untuk satu kali iterasi akan mengakibatkan pertambahan regangan (Pers.2.52) dan tegangan pada kerangka tanah (Pers.2.53).
Pengurangan tekanan air pori yang akan didisipasikan.Hal ini menunjukkan bahwa untuk sekali iterasi pada selang waktu tertentu akan diperoleh hubungan pertambahan tegangan dan regangan.
Kenaikan tegangan pada kerangka tanah untuk sekali iterasi mengakibatkan perubahan pada stiffness matriks (K) pada kerangka tanah Pers.(2.99a) untuk iterasi berikutnya (ke i+1) pada suatu βπ‘ yang tertentu. Perubahan stiffness matriks ini tergantung dari matriks konstitutif penyusun (C) dari model yang digunakan.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.10 Parameter Pemodelan Tanah