BAB II TRUST SEBAGAI PRANATA HUKUM
B. Eksistensi Equity dan Pranata Serupa Trust dalam Tradisi
Berdasarkan pada batasan hubungan antara equity dan Common Law, jelas
trust tidak mungkin ada dalam tradisi hukum Civil Law “yang dianggap” tidak
mengenal sistem equity. Sebagaimana dinyatakan oleh Peter Joseph Loughlin
dalam tulisannya “The Domestication of the Trust : Bridging the Gap Between
Common Law and Civil Law” yang mengutip pernyataan KGC Reid, “it is
possible to have the trust and yet still remain virtuous. To adopt the trust is not, or
not necessarily, to sink into the arms of Equity”.116 Dari pernyataan Loughlin
tersebut, berarti dimungkinkan untuk menemukan eksistensi trusts dalam
negara-negara yang menganut tradisi hukum Civil Law. Trusts dalam negara-negara
dengan tradisi hukum Civil Law ini adalah trusts tanpa sistem equity. Equity yang
dimaksud oleh Loughlin di sini adalah sistem equity yang berdiri di samping
sistem peradilan dalam hukum (Common Law).
Sejarah menunjukan bahwa berjalannya equity di Romawi tidak terlepas
dari perbedaan-perbedaan antara sistem hukum Romawi dengan negara-negara sekitarnya, termasuk jajahannya. Untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan yang muncul dari negara-negara kecil yang berada dalam imperiumnya, Kaisar Romawi menunjuk magistrate khusus, yang dinamakan praetor peregrinus.
Melalu praetor peregrinus inilah, Romawi dengan ius civile-nya yang kaku mulai
membuka mata terhadap eksistensi dari ius gentium yang bersifat fleksibel. Sistem
peradilan pun mengalami perubahan dengan munculnya berbagai macam penggantian kerugian dalam hukum yang semula tidak dapat ditemukan dalam ius
116
civile. Dari sinilah mulai diperkenalkanlah bentuk-bentuk equity, yang tidak lain
merupakan konstruksi etis mengenai apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan. Melalui pengakuan dan penerapan ius gentium di luar aturan dan
ketentuan hukum yang ada dalam ius civile masuklah konstruksi etis tersebut ke
dalam hukum Romawi yang terkodifikasi.117
Ralph A. Newman dalam The General Principles of Equity mengemukakan
bahwa sejarah menunjukan adanya lima macam cara masuknya equity ke dalam
kitab undang-undang Romawi. Kelima hal yang dilakukan tersebut adalah :118 1. By incorporating Roman equity and later infusions of equitable doctrine into
the statutory provisions;
2. By providing for the applications of spesific principles of equity in connection
with statutory rules dealing with narrowly defined situations119;
3. By incorporating some of general principles of equity into general statutory
provisions applicable to broad areas of law120;
4. By resort of equitable doctrine in order to fill gaps in the code121;
5. By interpretting statutory provisions as embodying related equitable
principles
Penjelasan yang diberikan di atas menunjukan bahwa secara historis, equity,
dan bentuk-bentuknya juga dapat ditemukan dalam perkembangan sejarah tradisi hukum Civil Law. Bentuk-bentuk equity tersebut dalam perkembangannya
dimasukkan dan dijadikan sebagai bagian dari kitab undang-undang (code) yang
117
Ibid 118 Ibid. 119
Contohnya adalah berlakunya doktrin laesio enormis (doktrin yang mengutamakan keadilan harga dalam proses jual beli) dalam penjualan benda tidak bergerak.
120
Dalam hal ini meliputi penggunaan konsepsi “good faith” (itikad baik) dalam pembuatan, penafsiran dan pelaksanaan perjanjian.
121
Ketentuan ini merujuk pada berlakunya kebiasaan dalam hukum perjanjian yang harus dihormati oleh para pihak. .
berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangan ini, sesuai dengan perkembangan sejarah hukum yang diserap dalam masing-masing negara, seberapa jauh juga mengakibatkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam bentuk-bentuk equity yang ada dalam tiap-tiap negara. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa eksistensi equity dalam kitab undang-undang hukum perdata yang berlaku
pada negara-negara dengan tradisi hukum Civil Law dapat berbeda-beda antara
satu dengan yang lainnya. 122
Uraian di atas menjelaskan mengapa dalam hukum perdata dan khususnya kitab undang-undang hukum perdata yang berlaku di negara-negara yang menganut tradisi hukum Civil Law dapat ditemukan berbagai macam pranata yang
memiliki persamaan dengan pranata trusts yang berkembang dalam court of
equity123 negara-negara yang menganut tradisi hukum Common Law.
Perkembangan historis tersebut di atas juga menunjukkan mengapa pada hampir semua kitab undang-undang hukum perdata dan kitab undang-undang hukum dagang yang ada dapat ditemukan pranata-pranata yang serupa dengan trusts yang
berkembang dalam court of equity pada tradisi hukum Common Law, meskipun
bentuk pranata tersebut dapat berbeda-beda antara negara yang satu dengan negara yang lainnya. Jika memerhatikan seluruh penjelasan yang diberikan di atas, dapat dikatakan bahwa meskipun dalam tradisi hukum Civil Law tidak
dikenal court of equity, sejarah menunjukkan bahwa konstruksi atau
bentuk-bentuk equity juga dikenal dalam tradisi hukum Civil Law, yang masuk ke dalam
122
Gunawan Widjaja, Op.cit , hal 171. 123
Pengadilan ekuitas adalah pengadilan umum tetapi memiliki prinsip-prinsip mereka sendiri dan cara yang unik. Pengadilan yang didasarkan terutama oleh doktrin keadilan dikatakan pengadilan ekuitas. Dengan demikian, pengadilan atas kebangkrutan seseorang atau lembaga adalah pengadilan ekuitas. Pengadilan ekuitas yang muncul secara independen adalah pengadilan di Inggris, setelah itu dalam yurisdiksi Amerika Serikat.
aturan hukum yang terdapat dalam kitab undang-undang hukum perdata, termasuk kitab undang-undang hukum dagang dalam tiap-tiap negara dengan tradisi hukum
Civil Law. Dengan demikian keberadaan pranata hukum serupa trusts dalam
tradisi hukum Civil Law juga dapat ditemukan dalam kitab undang-undang hukum
perdata dan kitab undang-undang hukum dagangnya.124
Maurizio Lupoi mengemukakan adanya lima ciri-ciri atau karakteristik suatu trusts. Kelima ciri-ciri atau karakteristik tersebut adalah : 125
1. Adanya penyerahan suatu benda kepada trustee, atau suatu pernyataan trusts; 2. Adanya pemisahan kepemilikan benda dalam trusts tersebut dengan harta
kekayaan milik trustee yang lain;
3. Pihak yang menyerahkan benda tersebut (settlor) , kehilangan kewenangannya atas benda tersebut;
4. Adanya pihak yang memperoleh kenikmatan (beneficiary) atau suatu tujuan penggunaan benda tersebut, yang dikaitkan dengan kewajiban trustee untuk melaksanakannya;
5. Adanya unsur kepercayaan (fiduciary component) dalam penyelanggaraan kewajiban trustee tersebut, khususnya yang berkaitan dengan benturan penting.
Dengan berdasarkan pada ciri-ciri dan karakteristik tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa terdapat berbagai macam bentuk pranata hukum di negara-negara dengan tradisi hukum Civil Law (provinsi Quebec di Kanada, negara
bagian Lousiana di Amerika Serikat, Ceylon di antara negara persemakmuran, Jepang, Korea selatan, Cina, Taiwan, Indonesia dan Afrika) yang menyerupai
trusts di negara-negara dengan tradisi hukum Common Law.
124
Ibid. 125
Maurizio Lupoi, “The Civil Law Trust”, Vanderbit Journal Of Transnational (Vol. 32: 1999), hal 4. Dalam Gunawan Widjaja, Op.cit hal 183.
KATA PENGANTAR
Puji Syukur atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi dengan tepat waktunya. Skripsi ini dilakukan bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan studi pada Program Sarjana Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
Skripsi ini diberi judul “KEBERADAAN YURIDIS LEMBAGA TRUSTS DALAM PASAR MODAL” Dengan adanya penulisan skripsi ini penulis berharap agar para pembaca dapat memaklumi kekurangan dari penulis karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan serta bahan-bahan refrensi yang berkaitan dengan lembaga trusts. Dan semoga dari skripsi ini, pembaca dapat mengerti, memahami serta memberikan manfaat kepada pembaca.
Demi kelancaran penyelesaian skripsi ini penulis telah banyak menerima bantuan dari berbagai pihak baik dukungan moril dan materil. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof.Dr.Runtung Sitepu, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara Medan;
2. Bapak Prof.Dr.Budiman Ginting, S.H., M.Hum selaku Pembantu Dekan I,
Bapak Syafruddin Hasibuan, S.H., M.Hum. selaku Pembantu Dekan II, dan Bapak Dr.OK. Saidin, S.H., M.H. selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan;
3. Ibu Windha, S.H., M.Hum selaku Ketua Bagian Departemen Hukum
Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan;
4. Bapak Ramli, S.H, M.Hum selaku Sekretaris bagian Departemen Hukum
Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan;
5. Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution S.H., MH selaku Dosen Pembimbing I
yang telah sangat peduli dan perhatian serta memberikan pedoman terhadap penulisan skripsi ini;
6. Bapak Dr. Mahmul Siregar S.H., M.Hum selaku Dosen Pembimbing II
yang juga telah peduli dan perhatian serta memberikan pedoman terhadap penulisan skripsi ini;
7. Teristimewa kepada orangtuaku, Ir. Agus Setyo Dwi Wahono dan Rotua
Artha Dermawaty Simamora serta adikku Yosef Satrio Wibowo yang telah banyak memberi semangat, kekuatan, motivasi serta doa kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan tepat pada waktunya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan;
8. Bapak Prof.Dr.Syafruddin Kalo, S.H M.Hum selaku Dosen
Wali/Penasehat Akademik Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan;
9. Seluruh Bapak/Ibu Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera
Utara yang telah banyak mendidik selama proses perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan;
10.Orang yang spesial bagi penulis, Putri Simatupang, A.Md yang telah
memberikan dukungan dan semangat untuk penulis selama 1,5 tahun terakhir ini;
11.Teman-teman akrab (Andika Tarigan, Frisdar Rio Marbun SH, Yessica
Rory Sitepu, Christian Yoritomo, dan Zepryanto Saragih, SH) yang selalu memberikan warna-warni selama masa perkuliahan;
12. Seluruh kawan di kost Sofian 8 khususnya Farouk Badri Al-Bahaeki,
Randy Nasution, Alhamra Siregar, Ade Dharma dan bere Firman Pardosi serta kawan-kawan yang tidak bisa disebutkan satu-persatu;
13.Seluruh kawan di organisasi IMAHMI (Ikatan Mahasiswa Hukum
Ekonomi), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), IMAJAKSEK Medan (Ikatan Mahasiswa Jakarta & Sekitarnya), TAEWONDO USU, KMK St. Fidelis, makasih buat kalian yang juga selalu meramaikan suasana selama kuliah.
Demikianlah penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada yang mendukung sehingga skripsi ini dengan diselesaikan dengan lancar dan kira Tuhan Yang Maha Esa memberikan yang terbaik buat kita semua.
Medan, 16 Juni 2014
Penulis
GLOSARIUM
1. Bare Trust
Trust yang dalam instrumen penerbitannya tidak secara tegas dan terang memberikan beban atau kewajiban kepada seorang trustee melainkan menyerahkan persoalan tersebut kepada ketentuan atau aturan hukum yang berlaku.
2. Beneficial Ownership
Siapa saja yang memiliki manfaat kepemilikan barang atau harta namun bukan merupakan pemilik terdaftar melainkan pemilik sebenarnya atas barang atau harta tersebut.
3. Beneficiary
Pihak ketiga yang akan menerima keuntungan atau manfaat atas pengelolaan harta kekayaan settlor sesuai dengan perjanjian.
4. Bewind Trust
Sebuah kepercayaan atas kepemilikan aset yang diberikan kepada beneficiary, sementara manajemen dan kontrol atas aset tersebut tetap berada di tangan wali amanat.
5. Bona Fide Purchaser For Value Without Notice
Seseorang yang memperoleh hak atas properti tanpa pemberitahuan aktual, pemberitahuan konstruktif tetapi didasari dengan itikad baik.
6. Charitable Trust
Suatu public trust yang sengaja dibentuk untuk kepentingan umum yang diakui oleh pengadilan sebagai kegiatan amal
7. Constructive Trust
Trust yang berjalan demi hukum dan diatur sepenuhnya menurut ketentuan atau aturan hukumyang berlaku.
8. Court of Equity
pengadilan umum tetapi memiliki prinsip-prinsip mereka sendiri dan cara yang unik. Pengadilan yang didasarkan terutama oleh doktrin keadilan dikatakan pengadilan ekuitas. Dengan demikian, pengadilan atas kebangkrutan seseorang
atau lembaga adalah pengadilan ekuitas. Pengadilan ekuitas yang muncul secara independen adalah pengadilan di Inggris, setelah itu dalam yurisdiksi Amerika Serikat.
9. Default Rules
Aturan hukum yang dapat ditimpa oleh kontrak, trust, keinginan, atau perjanjian hukum efektif lainnya. Ide default rules dalam hukum kontrak kadang-kadang dihubungkan dengan gagasan tentang kontrak lengkap.
10. Discretionary Trust
Trust yang memberikan kebebasan kepada trustee untuk melakukan tindakan tertentu untuk kepentingan satu atau lebih beneficiary.
11. Dominium Plenum Hak yang tidak terbatas dari pemilik benda tanpa ada akuntabilitas dari siapa pun
12. Equitable Obligation
kewajiban yang tidak dikuatkan kontrak atau hanya karena kewajiban moral atau kewajiban demi kewajaran atau keadilan
13. Equity
Tindakan atau prinsip memperlakukan semua orang sama sesuai dengan hukum, proses hukum, atau sesuai keadilan.
14. Express trust
Trust yang terjadi jika settlor menyerahkan harta kekayaannya untuk kepentingan atau tujuan tertentu
15. Fideicommissum
Hak seorang pewaris untuk menggunakan perantara dalam hal memberikan warisan kepada ahli warisnya yang secara hukum belum mampu menerima warisan, seperti orang yang belum dewasa dan belum menikah.
16. Laesio Enormis
Doktrin yang mengutamakan keadilan harga dalam proses jual beli) dalam penjualan benda tidak bergerak
17. Legal Transplant
Bergerak dari aturan atau sistem hukum dari satu negara ke negara lain, atau dari satu bangsa ke bangsa yang lain.
Seseorang atau beberapa pihak yang memegang hak milik secara hukum untuk kepentingan orang lain atau dengan cara menerima dan mengurus harta untuk kepentingan orang lain.
19. Public Trust
Express trust yang dipergunakan untuk tujuan sosial dan dapat dinikmati banyak orang.
20. Protective Trust
Trust yang diciptakan oleh settlor untuk melindungi harta kekayaannya agar
beneficiary tidak menghabiskan atau menghilangkannya termasuk hak dalam
equity
21. Private Trust
Express trust yang dipergunakan oleh seseorang atau orang tertentu.
22. Purpose Trust
Trust yang dibuat untuk tujuan tertentu bagi beneficiary
23. Resulting Trust
Trust yang hanya menyiratkan tujuan tertentu dari harta kekayaannya
24. Scriptless Trading
Perdangan efek tanpa adanya warkat
25. Separate Patrimony
Suatu budel harta terpisah
26. Settlor
Seseorang yang menyerahkan harta kekayaannya untuk diatur kepada orang lain atau pihak kedua yang dipercayainya (Trustor).
27. Trust
Pranata hukum yang terjadi ketika seseorang menciptakan trust dengan cara memindahkan sejumlah hartanya kepada orang kedua yang mana bertugas mengurus harta tersebut untuk kepentingan pihak ketiga.
28. Trustee
Setiap orang yang memegang properti, otoritas, atau posisi kepercayaan atau tanggung jawab terhadap harta kekayaan untuk kepentingan orang lain (settlor).
ABSTRAK
KEBERADAAN YURIDIS LEMBAGA TRUST DALAM PASAR MODAL INDONESIA
Theodorus Arie Gusti1
Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H.2 Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum.3
Trust pada awalnya lahir di negara dengan sistem hukum Anglo Saxon.
Namun pada perkembangannya dewasa ini, trust masuk ke dalam sistem hukum Indonesia yang merupakan negara dengan sistem hukum Eropa Continental. Hal inilah yang menimbulkan pertanyaan mengenai proses transplantasi trust dalam negara sistem hukum Eropa Continental. Namun sebelumnya didahului dengan proses kelahiran dan perkembangan trust sebagai pranata hukum. Trust yang telah ada di dalam semua sistem hukum di dunia khususnya di Indonesia, inilah yang menimbulkan pertanyaan mengenai keberadaan yuridis lembaga trust dalam peraturan pasar modal Indonesia.
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dan bersifat deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini ialah data hukum sekunder berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Seluruh data tersebut dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi kepustakaan. Kemudian data yang telah terkumpul tersebut dianalisis secara kualitatif.
Trust adalah hubungan hukum yang dibuat berdasarkan hukum ekuitas dimana properti dipegang oleh satu pihak untuk kepentingan lain penerima manfaat. Trust dibentuk berdasarkan perjanjian. Selain itu, trust dapat dibentuk berdasarkan perjanjian yang tunduk pada ketentuan Common Law. Trust pada awalnya lahir di negara dengan sistem hukum Common Law seperti Inggris dan Amerika Serikat. Namun pada perkembangannya trust mulai ditransplantasikan ke dalam sistem hukum Eropa Kontinental, seperti Negara Afrika Selatan, Skotlandia, Louisiana negara bagian di Amerika Serikat dan Negara Indonesia. Undang-Undang Pasar Modal yang ditransplantasikan bukanlah Undang-Undang Pasar Modal yang mengandung trust yang bersumber pada tradisi hukum
Common Law, tetapi pada model trust yang sudah mengalami perubahan yang dinamakan dengan commercial trust yang berbentuk Un-incoporated Bussines Trusts Organization yang lahir dari perjanjian yang bersumber pada Court of Common law dan tidak lagi pada (court of equity). Jadi. sejak saat itu telah ada unsur-unsur trust dalam KUH Perdata, KUH Dagang serta terdapat penerapannya dalam bidang pasar modal di Indonesia. Hal ini mengingat Undang -Undang Pasar Modal Indonesia merupakan hasil studi dari Undang - Undang Pasar Modal Amerika Serikat.
Kata kunci: Trust , Pasar Modal.
1
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan. 2
Pembimbing I, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan. 3
DAFTAR ISI Halaman LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR ... i GLOSARIUM ... iv ABSTRAKSI ... vii DAFTAR ISI ………viii BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... 1 B. Perumusan Masalah ... 7 C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 8 D. Keaslian Penulisan ... 9 E. Tinjauan Pustaka ... 10 F. Metode Penulisan ... 16 G. Sistematika Penulisan ... 18
BAB II TRUST SEBAGAI PRANATA HUKUM
A. Kelahiran Trust di Negara dengan Sistem Hukum Anglo Saxon 22 1. Lahirnya konsep trust di Amerika Serikat ... 33
2. Lahirnya konsep trust di Inggris ... 39
3. Perkembangan trust di Inggris ……… ... 42
B. Eksistensi Equity dan Pranata Serupa Trust dalam Tradisi Hukum Eropa Kontinental ... 48
BAB III TRANSPLANTASI TRUST DALAM NEGARA DENGAN SISTEM HUKUM EROPA KONTINENTAL
A. Transplantasi Hukum sebagai Metode Melakukan Pembentukan Hukum ……… 52
B. Tranplantasi trust pada negara-negara yang menganut sistem hukum Eropa Kontinental ... 53 1. Transplantasi trust ke dalam kitab undang-undang (Code) ... 58
2. Transplantasi trust ke dalam undang-undang tersendiri ... 59
C. Ciri-ciri karakteristik pranata serupa trust dan trust dalam
tradisi hukum Eropa Kontinental ………63
BAB IV EKSISTENSI TRUST DALAM PERATURAN PASAR MODAL
DI INDONESIA
A. Lembaga trust dalam pasar modal Indonesia ... 70 1. Bentuk-bentuk trust dalam pasar modal ... 71
2. Ciri dan kateristik lembaga trust dalam pasar modal ... 81
3. Kedudukan dan pertanggungjawaban Trustee dalam pasar modal
B. Penerapan trust dalam peraturan pasar modal Indonesia ... 90 1. Undang-Undang Pasar Modal sebagai model tranplantasi hukum dan analisis kelembagaan trust dalam Undang-Undang Pasar Modal
Indonesia ... 90 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 95 B. Saran ... 98 DAFTAR PUSTAKA ... 99
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sistem ekonomi pasar yang dianut oleh sebagian besar negara di dunia ini membawa konsekuensi semakin tajam persaingan bebas di masa yang akan datang. Untuk mengurangi dampak negatif dari sistem ekonomi pasar yang akan beroperasi secara global, beberapa negara membentuk asosiasi bersama yang akan saling mengatasi kekurangan negara masing-masing di kawasannya. Beberapa negara membentuk suatu kelompok kerja sama ekonomi dan membuat kesepakatan yang harus ditaati bersama, beberapa contohnya : AFTA (Asean Free
Trade Area) adalah kerja sama ekonomi negara-negara Asia Tenggara, NAFTA
(North American Free Trade Area) adalah kerja sama ekonomi negara-negara
Amerika Utara, EEC (European Economic Community) adalah kerja sama
ekonomi negara-negara Eropa, APEC (Asia Pacific Economic Cooperation)
adalah kerja sama ekonomi negara-negara Asia Pasifik.
Indonesia sebagai negara besar bila diliat dari sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) masih bisa mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang konsekuensi era globalisasi bagi perekonomian nasional. Peningkatan kualitas SDA dan pemanfaatan SDM harus segera dipercepat. Sistem ekonomi yang berlaku secara de facto di Indonesia, yaitu ekonomi pasar, masih perlu
disosialisasikan maknanya sehingga setiap anggota masyarakat berada dalam satu persepsi tentang ekonomi pasar.4
4
Mohamad Samsul, Pasar Modal & Manejemen Portofolio, (Jakarta: Erlangga, 2006) hal 3.
Sejak awal tahun 1989, pasar modal Indonesia mulai bangkit dari tidurnya dan bergerak cepat seiring dengan kebangkitan era globalisasi yang diawali oleh perubahan drastis dari sistem ekonomi komunis ke sistem ekonomi pasar di negara-negara eks komunis. Semakin hari pasar modal Indonesia semakin besar karena peran swasta meningkat tajam selama satu windu (1989-1997). Namun peran swasta ini tidak terkontrol dengan baik. Hal ini menyebabkan pihak swasta memiliki utang valuta asing sekitar US$ 75 Miliar yang seimbang jumlahnya dengan utang pemerintah dalam valuta asing.5
Pemerintah kehilangan kontrol terhadap keuangan negara karena banyaknya koruptor yang dibiarkan bebas, sehingga menyebabkan kreditur asing kehilangan kepercayaan terhadap Indonesia baik swasta maupun pemerintahnya. Kreditur asing menarik kembali pinjaman yang diberikan kepada pihak swasta yang pada umumnya berjangka pendek tetapi dapat diperpanjang lagi. Akan tetapi kali ini kreditor asing menolak perpanjangan tersebut. Akibatnya pihak swasta berebut dollar dan kurs dollar naik secara tidak terkendali. Inilah awal dari kebangkrutan ekonomi Indonesia yang terjadi pada pertengahan Juli 1997. Namun juga perlu diketahui bahwa resesi ekonomi di Indonesia tidak terlepas dari rentetan depriasiasi mata uang regional yang diawali dari Thailand, Malaysia, Singapura, dan Philipina. Indonesia termasuk yang paling parah kareana paling lama sembuhnya dan sampai akhir tahun 2003 baru tampak tanda-tanda recovery yaitu
keluar dari depresi ekonomi.6
5
Ibid hal 4. 6
Pengalaman pahit di bidang keuangan, terutama kenaikan kurs valuta asing yang tidak terkendali sejak resesi pada awal Juli 1997, yaitu dari Rp 2450 pada bulan Juni 1997 menjadi Rp 14.900 per US$ 1 pada bulan Juni 19987, telah membuat Bank Indonesia terkena syndrome ketakutan fluktuasi dollar. Pandangan
pemerintah mengenai konsep pembangunan ekonomi beralih dari supply side ke
monetary side menurut ajaran Milton Friedman. Bank Indonesia melakukan
penjagaan terhadap fluktuasi nilai dollar secara terus menerus dengan cara mengintervensi pasar apabila terjadi kenaikan atau penurunan nilai dollar