• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Aset Bank Umum

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 50-0)

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN

2. Bank Umum

2.2. Perkembangan Aset Bank Umum

Total aset bank umum di Lampung terus mengalami perkembangan, dan pada triwulan laporan menunjukkan peningkatan sebesar 2,43% (qtq) atau 19,78% (yoy). Peningkatan jumlah aset tersebut ditopang oleh pertumbuhan aset pada bank umum konvensional maupun syariah. Aset Bank Umum Konvensional (BUK) meningkat sebesar 2,28% (qtq) dari Rp34,31 triliun menjadi Rp35,09 triliun dengan pertumbuhan tahunan sebesar 19,07% (yoy). Sedangkan aset Bank Umum Syariah (BUS) meningkat 4,93% (qtq) atau 32,11% (yoy), sehingga jumlah aset BUS pada triwulan laporan mencapai Rp2,24 triliun.

Sumber : Laporan Bank Umum (diolah)

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

32

Tabel 3.5. Aset Bank Umum

Sumber : Laporan Bank Umum (diolah)

Menurut lokasi kantor bank, aset Bank Umum di Kota Bandar Lampung memiliki pangsa terbesar mencapai 82,24% dengan nilai sebesar Rp30,70 triliun atau meningkat sebesar 0,81%

dibandingkan triwulan IV-2012.

Sementara itu, Bank Umum di Kabupaten Lampung Barat tercatat mengalami pertumbuhan aset paling tinggi yaitu 168,72% (qtq), hal ini karena Lampung Barat baru saja memiliki kantor cabang bank umum yang beroperasi sejak triwulan III-2012. Sedangkan Kabupaten Lampung Utara mencatat penurunan aset sebesar 10,74% (qtq) meskipun secara tahunan masih menunjukan pertumbuhan yang positif yakni 12,48% (yoy).

Tabel 3.5. Porsi Aset Bank Umum Berdasarkan Wilayah Kerja

Sumber : Laporan Bank Umum (diolah) Sumber : Laporan Bank Umum (diolah)

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

19.07

Tabel 3.6. Porsi Aset Bank Umum Berdasarkan Wilayah Kerja Grafik 3.5. Aset Bank Umum di Provinsi

Lampung

Sumber : Laporan Bank Umum (diolah) Sumber : Laporan Bank Umum (diolah)

Grafik 3.6. Perkembangan Aset per Jenis Usaha Bank

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

33

Tabel 3.7. DPK Bank Umum 2.3.Perkembangan Dana Masyarakat Bank Umum

Dari sisi penghimpunan dana, nilai DPK Bank Umum pada triwulan laporan mengalami peningkatan sebesar 2,13% (qtq) atau 12,57% (yoy). Berdasarkan jenis simpanan, tabungan masih menjadi produk simpanan yang paling banyak diminati oleh masyarakat dengan pangsa sebesar 53,00% dari total DPK, sisanya dibagi hampir rata oleh simpanan yang berbentuk Deposito dan Giro yaitu masing-masing sebesar 24,57% dan 22,43%.

Walaupun memiliki pangsa terbesar, pada triwulan laporan, tabungan menunjukkan penurunan mencapai 7,36% (qtq). Di sisi lain, simpanan berupa giro mencatat pertumbuhan tertinggi secara triwulanan yaitu sebesar 25,28% (qtq) diikuti oleh deposito yang meningkat 7,75% (qtq). Secara tahunan, tabungan mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 16,50%

(yoy) kemudian diikuti oleh Deposito dan Giro yang masing-masing meningkat 11,97% (yoy) dan 4,83% (yoy).

No Uraian TW I 2012 TW IV 2012

TW I 2013 Posisi (Rp

miliar) Pangsa

(%) qtq (%) yoy (%)

A Jenis Simpanan 20,225.29 22,292.80 22,767.27 100.00 2.13 12.57

1 Giro 4,872.07 4,076.68 5,107.23 22.43 25.28 4.83

2 Tabungan 10,357.17 13,024.41 12,065.92 53.00 -7.36 16.50

3 Deposito 4,996.06 5,191.71 5,594.12 24.57 7.75 11.97

B Jenis Usaha Bank 20,225.29 22,292.80 22,767.27 100.00 2.13 12.57

1 Konvensional 19,333.93 21,079.21 21,619.27 94.96 2.56 11.82

2 Syariah 891.36 1,213.59 1,147.99 5.04 -5.41 28.79

Kenaikan simpanan berbentuk giro yang cukup signifikan secara triwulanan terutama disebabkan oleh meningkatnya giro pemerintah daerah sebesar 219,37% (qtq) yaitu dari Rp0,81 triliun pada triwulan IV-2012 menjadi Rp2,59 triliun pada triwulan laporan. Giro pemerintah pusat juga mengalami kenaikan sebesar 54,32% (qtq), sedangkan giro lainnya (swasta, BUMN/D, dan lembaga negara) menunjukkan penurunan sebesar 22,69% (qtq). Peningkatan giro ini terutama terkait dengan siklus tahunan giro pemerintah daerah di awal tahun anggaran, ketika APBD yang dianggarkan telah menerima transfer dana perimbangan dari pemerintah pusat dan masih minimnya belanja daerah.

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

34

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

Berdasarkan lokasi bank, penghimpunan DPK bank umum di Kota Bandar Lampung memiliki pangsa terbesar yakni sebesar 76,57% (Rp17,43 triliun) walaupun turun 3,46% (qtq) dibandingkan triwulan IV-2012. Kabupaten Lampung Barat tercatat sebagai daerah yang memiliki pertumbuhan tertinggi secara triwulanan sebesar 274,31% (qtq), Pada triwulan laporan, selain Kota Bandar Lampung, Kabupaten Tanggamus juga tercatat mengalami penurunan DPK secara triwulanan sebesar 10,52% (qtq) walaupun secara tahunan tetap tumbuh positif sebesar 22,00% (yoy).

2.4. Perkembangan Kredit Bank Umum

Pada triwulan I-2013 terjadi peningkatan outstanding kredit sebesar 2,66% (qtq) atau 25,13% (yoy). Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit modal kerja dan konsumsi mengalami pertumbuhan baik secara triwulanan maupun tahunan, sedangkan kredit investasi mengalami penurunan dalam periode triwulanan, walaupun secara tahunan masih mencatatkan pertumbuhan.

0.0

Tabel 3.8. Porsi DPK Bank Umum Berdasarkan Wilayah Kerja

Grafik 3.7. DPK Bank Umum Grafik 3.8. DPK Jenis Giro Bank Umum Lampung

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah) Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

Posisi Pangsa

Daerah TW I 2012 TW IV 2012

TW I 2013

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

35

Kredit Modal Kerja masih menjadi pangsa terbesar dari total kredit bank umum yaitu mencapai 48,30% dan mencatat pertumbuhan tertinggi baik secara triwulanan maupun tahunan yaitu sebesar 4,40% (qtq) atau 26,45% (yoy) menjadi Rp.15,25 triliun. Hal ini sejalan dengan hasil Survei Kredit Perbankan Triwulan I 2013 yang menunjukan bahwa kredit modal kerja merupakan prioritas penyaluran kredit bank umum di Lampung. Kredit konsumsi yang didominasi oleh KPR dan kredit kepemilikan kendaraan bermotor mengalami kenaikan sebesar 2,92% (qtq) atau 25,95%

(yoy) Sementara itu, kredit investasi tercatat mengalami penurunan dibandingkan triwulanan IV-2012 yaitu sebesar 1,11% (qtq) walaupun secara tahunan masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 21,52% (yoy).

Berdasarkan jenis usahanya, Bank Umum Syariah (BUS) maupun Bank Umum Konvensional (BUK) di Provinsi Lampung mencatat pertumbuhan kredit triwulanan masing-masing sebesar 6,41% (qtq) dan 2,41% (qtq). Secara tahunan, kredit BUS dan BUK tumbuh positif masing-masing sebesar 30,96% (yoy) dan 24,76% (yoy).

Pertanian

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah) Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

Modal

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

Grafik 3.9. Kredit per Jenis Penggunaan Grafik 3.10. Porsi Kredit per Jenis Penggunaan Grafik 3.10. Porsi Kredit per Jenis Penggunaan

Grafik 3.11. Porsi Kredit per Sektor Ekonomi

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

36

Berdasarkan sektor ekonomi, pertumbuhan penyaluran kredit terjadi pada sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor konstruksi, sektor angkutan, jasa umum dan lain-lain. Sedangkan sektor industri, sektor listrik, sektor perdagangan dan sektor jasa sosial mengalami penurunan.

Sektor jasa umum mencatat pertumbuhan tertinggi di triwulan laporan yaitu sebesar 73,59% (qtq) atau 106,58% (yoy) walau bukan merupakan pangsa terbesar secara sektoral karena Bank Umum pada triwulan I-2013 lebih banyak menyalurkan kreditnya di sektor lain-lain dan sektor perdagangan yang memiliki porsi masing-masing mencapai 29,22% dan 28,82%.

No Uraian Trw I 2012

Berdasarkan lokasi bank, penyaluran kredit pada triwulan laporan masih didominasi oleh penyaluran kredit di kota Bandar Lampung yang mencapai 82,79% dari total kredit bank umum dan tumbuh 1,36% (qtq) menjadi Rp26,15 triliun. Pertumbuhan kredit tertinggi terjadi di Kabupaten Lampung Barat sebesar 110,68% (qtq).

Tabel 3.9. Kredit Bank Umum

Tabel 3.10. Porsi Kredit Bank Umum Berdasarkan Wilayah Kerja

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah) Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

Posisi Pangsa

Daerah TW I 2012 TW IV 2012

TW I 2013

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

37

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

2.5. Kualitas Kredit

Meningkatnya penyaluran kredit Bank Umum di Provinsi Lampung tidak sejalan dengan kualitas pengembalian kredit, sebagaimana tampak pada peningkatan rasio Non Performing Loan (NPL) dari 2,17% pada triwulan IV-2012 menjadi 2,28% pada triwulan laporan.Rasio NPL BUK meningkat dari 2,19% pada triwulan IV-2012 menjadi 2,30% pada triwulan laporan.

Demikian juga kualitas kredit BUS, dimana rasio NPF BUS naik dari 1,80% pada triwulan IV-2012 menjadi 1,92% pada triwulan laporan.

2.6. Perkembangan Suku Bunga Bank Umum

Semakin baiknya fungsi intermediasi bank umum diantaranya tercermin oleh penurunan suku bunga pinjaman 0,07% (qtq) dari 13,57% pada triwulan IV-2012 menjadi 13,50% pada triwulan laporan. Meski demikian, suku bunga simpanan naik sebesar 0,34%, yaitu dari 2,76%

pada triwulan IV-2012 menjadi 3,10% pada triwulan laporan. Kondisi tersebut membuat spread suku bunga semakin rendah, yaitu dari 10,81% di triwulan IV-2012 menjadi 10,40% di triwulan laporan.

Grafik 3.12. Perkembangan NPL Bank Umum

Sumber: Cognos

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

3.97

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

3.10

% simpananspread kreditBI rate

Grafik 3.13. Perkembangan Suku Bunga dan Spread Suku Bunga Bank Umum

Grafik 3.14. Perkembangan Tingkat Suku Bunga DPK Bank Umum

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

38

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah) Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

Suku bunga simpanan bank umum berupa giro dan simpanan berjangka pada triwulan I-2013 menunjukkan peningkatan. Suku bunga giro mengalami peningkatan dari 2,73% menjadi 3,97% pada triwulan laporan, suku bunga simpanan berjangka meningkat dari 5,06% pada triwulan IV-2012 menjadi 5,19% pada triwulan laporan. Sedangkan suku bunga tabungan mengalami penurunan dari 1,77% menjadi 1,72%.

2.7. Intermediasi Bank Umum: Loan to Deposit Ratio

Rasio LDR (Loan To Deposit Ratio) bank umum di Provinsi Lampung meningkat dari 138,01%

pada triwulan IV-2012 menjadi 138,72% di triwulan laporan, begitu juga jika dibandingkan dengan triwulan I-2012 yang tercatat sebesar 124,79%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan intermediasi bank umum di Provinsi Lampung sampai dengan triwulan laporan terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan lokasi kantor Bank Umum, Kota Bandar Lampung memiliki rasio LDR tertinggi, yaitu mencapai 149,99% pada triwulan laporan. Sedangkan rasio LDR di Kabupaten Lampung Selatan merupakan yang terendah sebesar 64,99% pada triwulan laporan.

2.8. Kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

Nilai outstanding kredit UMKM pada triwulan I-2013 mengalami peningkatan sebesar 1,20% (qtq) atau 13,89% (yoy). Porsi kredit UMKM dari total kredit yang disalurkan oleh Bank Umum di Lampung sebesar 33,53%. Hal ini sejalan dengan perhatian Bank Indonesia untuk mendorong pembiayaan perbankan kepada UMKM, dimana BI telah menetapkan kewajiban

112.30

Grafik 3.15. Perkembangan Intermediasi BU Grafik 3.16. Tingkat Intermediasi BU Per Kabupaten

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

39

Sumber: Laporan Bank Umum (diolah)

minimal rasio kredit UMKM dari total kredit secara bertahap hingga mencapai minimal 20% pada tahun 2018.

Dari total outstanding kredit UMKM sebesar Rp10,59 triliun, sebanyak 80,20% (Rp8,50 triliun) digunakan untuk modal kerja, dan 19,23% (Rp2,04 triliun) untuk investasi. Sedangkan sisanya yang sebesar 0,57% disalurkan kepada kredit konsumsi. Pertumbuhan triwulanan tertinggi dicatat oleh penyaluran kredit konsumsi sebesar 8,92% (qtq) sedangkan modal kerja meningkat sebesar 4,20% (qtq), sedangkan kredit investasi turun sebesar 9,80% (qtq).

2.9. Kredit Usaha Rakyat (KUR)

Sejalan dengan upaya peningkatan realisasi KUR nasional, kinerja penyaluran KUR Provinsi Lampung pada triwulan I-2013 juga menunjukkan perkembangan cukup baik yang ditandai dengan peningkatan baki debet maupun jumlah debitur. Penyaluran KUR di Provinsi Lampung pada triwulan I-2013 mengalami peningkatan baki debet sebesar 3,43% (qtq) dan 26,68% (yoy) dengan pertumbuhan debitur 8,20% (qtq) dan 37,24% (yoy) atau mencapai 192,141 debitur. Secara nasional berdasarkan baki debet, penyaluran kredit KUR Provinsi Lampung tercatat berada pada ranking ke 13, dan ke 5 terbesar untuk wilayah Sumatera setelah Provinsi Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat.

I II III IV I II III IV I

2011 2012 2013

Modal Kerja 6.3 6.6 6.8 7.0 7.1 7.6 7.6 8.2 8.5

Konsumsi 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.1 0.1

Investasi 1.6 1.8 1.8 2.0 2.2 2.1 2.2 2.3 2.0

0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0

Rp Triliun

Grafik 3.17. Perkembangan kredit UMKM

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

40

Prioritas penyaluran KUR di Provinsi Lampung berdasarkan baki kredit, didominasi oleh Sektor PHR dengan pangsa mencapai 43,62%, diikuti kemudian oleh Sektor Pertanian dengan pangsa sebesar 42,10%. Hal ini menunjukkan bahwa realisasi penyaluran KUR di Provinsi Lampung cukup mendukung pembiayaan di sektor unggulan daerah yakni pertanian.

Kualitas penyaluran KUR yang ditunjukkan oleh rasio Non Performing Loan (NPL) masih cukup baik yakni sebesar 1,05%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional yang

mencapai 4,40%. Berdasarkan sektor ekonomi, NPL KUR Lampung tertinggi terjadi di sektor PHR dan Sektor Pertanian yaitu masing-masing mencapai sebesar 1,31% dan 0,86%.

3. BANK PERKREDITAN RAKYAT

Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, indikator kinerja BPR di Lampung tetap mengalami pertumbuhan walau melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Indikator berupa penyaluran kredit, aset, dan penghimpunan dana mengalami pertumbuhan masing-masing mencapai 19,05% (qtq), 9,41% (qtq) dan 1,11% (qtq). Sementara itu kualitas kredit yang disalurkan sedikit mengalami penurunan, sebagaimana ditunjukkan oleh kenaikan rasio NPL dari 1,47% menjadi 1,64%.

Grafik 3.18. Perkembangan KUR di Lampung

Sumber : Kementerian Koordinator Perekonomian diolah Sumber : Kementerian Koordinator Perekonomian diolah

9.41

Grafik 3.20. Perkembangan Indikator Utama BPR di Lampung

Grafik 3.21. Pertumbuhan Indikator Utama BPR di lampung

Sumber: Laporan BPR (diolah) Sumber: Laporan BPR (diolah)

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

41

Posisi BPR di Provinsi Lampung dibanding Nasional

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia, total aset BPR secara nasional pada triwulan I-2013 (posisi hingga bulan Februari 2013) mencapai Rp68,28 triliun, tumbuh 19,19%

dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dari 33 Provinsi di Indonesia, Lampung menempati urutan ke-5 setelah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali. Kondisi ini mengindikasikan bahwa industri BPR di Lampung masih menunjukkan kinerja yang cukup baik dibanding wilayah lain di Indonesia, terutama untuk BPR yang berada di luar Pulau Jawa dan Bali.

Perkembangan Kelembagaan BPR

Hingga akhir triwulan I-2013, tidak terdapat penambahan BPR di Provinsi Lampung dibandingkan triwulan IV-2012 sehingga total BPR yang beroperasi di Provinsi Lampung sejumlah 33 BPR dengan lokasi kantor pusat meliputi Bandar Lampung (14 BPR), Metro (3 BPR), Lampung Tengah (5 BPR), Lampung Selatan (2 BPR), Lampung Utara (2 BPR), Lampung Timur (4 BPR), Tanggamus (1 BPR), Tulangbawang (1 BPR), dan Way Kanan (1 BPR). Untuk mendukung operasional pelayanan terhadap nasabah BPR, terdapat 31 Kantor Cabang, 11 Kantor Kas, dan 6 unit mesin ATM yang tersebar di Provinsi Lampung.

Perkembangan Aset dan DPK BPR

Aset BPR pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp5,85 triliun atau tumbuh 9,41% (qtq).

Peningkatan tersebut didorong oleh aset BPR konvensional (BPRK) yang mengalami pertumbuhan 9,63% (qtq) dan aset BPR Syariah (BPRS) yang tumbuh sebesar 3,24% (qtq). Indikator berupa Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan laporan tercatat mengalami peningkatan sebesar 1,11% (qtq) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut berasal dari peningkatan tabungan sebesar 6,60% (qtq) atau 20,99% (yoy) dari Rp0,59 triliun pada triwulan IV-2012 menjadi Rp0,63 triliun di triwulan laporan. Sedangkan produk deposito mengalami penurunan sebesar 0,06% (qtq) meskipun secara tahunan tetap tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 8,34% (yoy). Sementara itu, dilihat dari pangsa masing-masing jenis simpanan terhadap total DPK, simpanan berjangka secara umum masih menjadi pangsa terbesar yaitu mencapai 81,38%.

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

Perkembangan Kredit BPR dan Kualitas Kredit BPR

Outstanding kredit BPR hingga akhir triwulan laporan mencapai Rp4,94 triliun, meningkat 19,05% (qtq) atau 27,13% (yoy). Berdasarkan jenis penggunaannya, sebanyak 85,43% kredit BPR atau sebesar Rp4,22 triliun masih disalurkan untuk konsumsi dan diikuti oleh kredit modal kerja dan kredit investasi yang masing-masing sebesar 12,45% dan 2,12%. Kredit konsumsi mencatat pertumbuhan tertinggi secara triwulanan 22,59% (qtq) maupun tahunan 55,34% (yoy). Hal ini menunjukkan bahwa industri BPR di Lampung cenderung memilih nasabah konsumtif yang relatif memiliki aspek risiko gagal bayar rendah seperti kredit kepada PNS di lingkungan Pemda Lampung.

Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit BPR untuk sektor perdagangan masih memiliki pangsa yang terbesar, setelah sektor lain-lain. Nominal kredit sektor perdagangan ini mencapai Rp0,35 triliun dengan pangsa sebesar 7,02% dari total kredit BPR di triwulan laporan.

Tabel 3.11. Aset & DPK BPR

Sumber: Laporan BPR (diolah) Kredit BPR di Lampung

Grafik 3.23. Porsi Penyaluran Kredit BPR di Lampung

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

43

Peningkatan jumlah penyaluran kredit oleh BPR tidak diimbangi dengan membaiknya kualitas kredit yang disalurkan, sebagaimana tercermin dari rasio NPL BPR yang naik dari 1,47%

menjadi 1,64%. Peningkatan rasio NPL tersebut disebabkan oleh naiknya rasio NPL pada BPR konvensional dari 1,42% menjadi 1,61%, sedangkan rasio Non Performing Financing (NPF) BPR Syariah mengalami penurunan dari 2,76% di triwulan IV-2012 menjadi 2,53% di triwulan laporan.

Perkembangan LDR dan L/R Tahun Berjalan

Kenaikan jumlah penyaluran kredit yang lebih tinggi daripada kenaikan penghimpunan dana masyarakat membuat tingkat intermediasi BPR di Lampung pada triwulan laporan menunjukkan angka yang relatif tinggi yaitu sebesar 146,69%.

Selain pertumbuhan yang siginifikan terhadap indikator aset, kredit dan DPK, Laba tahun berjalan BPR selama triwulan laporan juga tercatat mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yakni sebesar 41,26% (yoy), dari Rp0,08 triliun menjadi Rp0,12 triliun pada triwulan laporan.

Peningkatan laba pada industri BPR di Lampung didorong oleh pertumbuhan laba BPR Syariah maupun BPR Konvensional, masing-masing sebesar 80,30% (yoy) dan 40,54% (yoy).

Indikator berupa rasio rentabilitas yang menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan keuntungan masih menunjukkan peningkatan, sebagaimana tercermin dari peningkatan return on asset (ROA) yang meningkat dari 1,76% pada periode yang sama tahun lalu menjadi 1,99% pada periode laporan. Di sisi lain, indikator efisiensi BPR di Lampung mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari penurunan rasio BOPO 60,25% pada triwulan IV-2012 menjadi 58,22% pada triwulan laporan, dimana diperlukan beban operasional yang lebih rendah untuk menghasilkan pendapatan operasional yang lebih tinggi.

4. PERKEMBANGAN BANK SYARIAH

Kinerja perbankan syariah selama triwulan laporan secara umum menunjukkan penurunan pada beberapa indikator, walaupun secara tahunan tetap menunjukkan perkembangan yang baik.

Peningkatan aset bank syariah mencapai 4,80% (qtq) dan 32,39% (yoy) yang disumbang oleh pertumbuhan pada Bank Umum Syariah (BUS) sebesar 4,93% (qtq) dan BPR Syariah (BPRS)

146.69

1.64

1.30 1.50 1.70 1.90 2.10

0 50 100 150 200

I II III IV I II III IV I

2011 2012 2013

LDR (%) NPL axis Kanan (%) Grafik 3.24. Perkembangan LDR dan NPL BPR

Lampung

Sumber: Laporan BPR (diolah)

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

44

sebesar 3,24% (qtq), dengan perbandingan pangsa aset BUS dan BPRS masing-masing sebesar 92,18% dan 7,82%.

No Uraian Trw I 2012

(miliar Rp)

Trw IV-2012 (miliar Rp)

Trw I- 2013 Posisi

(miliar Rp)

Pangsa

(%) qtq (%) yoy (%)

A Aset - Jenis Bank 1.833,09 2.315,68 2.426,78 100,00 4,80 32,39

1 BUS 1.693,16 2.131,78 2.236,92 92,18 4,93 32,11

2 BPRS 139,93 183,91 189,86 7,82 3,24 35,69

B DPK - Jenis Bank 958,97 1.297,94 1.231,75 100,00 -5,10 28,44

1 BUS 891,36 1.213,59 1.147,99 93,20 -5,41 28,79

2 BPRS 67,61 84,35 83,75 6,80 -0,71 23,88

C DPK - Jenis Simpanan 958,97 1.297,94 1.231,75 100,00 -5,10 28,44

1 Giro 78,75 116,60 102,06 8,29 -12,47 29,61

2 Tabungan 545,92 751,99 734,27 59,61 -2,36 34,50

3 Simpanan Berjangka 334,30 429,35 395,41 32,10 -7,90 18,28

D Pembiayaan - Jenis

Bank 1.620,69 2.001,11 2.134,04 100,00 6,64 31,67

1 BUS 1.519,65 1.870,24 1.990,12 93,26 6,41 30,96

2 BPRS 101,04 130,87 143,92 6,74 9,97 42,43

E Pembiayaan - Jenis

Penggunaan 1.620,69 2.001,11 2.134,04 100,00 6,64 31,67

1 Modal Kerja 746,83 888,46 925,27 43,36 4,14 23,89

2 Investasi 205,86 251,76 290,63 13,62 15,44 41,18

3 Konsumsi 668,01 860,89 918,14 43,02 6,65 37,44

F NPF (%) 2,17 1,86 1,96

G FDR (%) 169,00 154,18 173,25

Untuk komponen DPK, terjadi penurunan jumlah simpanan dana di bank syariah sebesar 5,10% (qtq) walaupun secara tahunan tetap menunjukkan peningkatan sebesar 28,44% (yoy).

Simpanan berupa tabungan masih mendominasi penghimpunan DPK dengan pangsa sebesar 59,61% atau senilai Rp0,73 triliun yang lebih rendah 2,36% (qtq) dari triwulan sebelumnya.

Sementara itu simpanan berjangka dan giro masing-masing mencapai Rp0,40 triliun dan Rp0,10 triliun pada akhir triwulan laporan atau mengalami penurunan masing-masing sebesar 7,90% (qtq) dan 12,47% (qtq).

Dari sisi pembiayaan, pada triwulan I-2013, terjadi pertumbuhan sebesar 6,64% (qtq) dan 31,67 (yoy), dimana 43,36% dari total pembiayaan disalurkan untuk tujuan modal kerja.

Berdasarkan sektor ekonomi, kredit pada sektor pertanian, sektor pertambangan, konstruksi, perdagangan, jasa umum dan sektor lain-lain pada triwulan laporan mencatat peningkatan pertumbuhan, sedangkan sektor lainnya mengalami penurunan. Pembiayaan untuk sektor lain-lain

Tabel 3.12. Indikator Perbankan Syariah

Sumber : Laporan Bank Umum & BPR (diolah)

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

45

memiliki pangsa terbesar yaitu mencapai 43,69% dan mengalami pertumbuhan sebesar 7,70%

(qtq) sejalan dengan peningkatan pembiayaan konsumsi.

Peningkatan pembiayaan Bank Syariah yang disertai dengan penurunan penghimpunan dana menyebabkan FDR meningkat dari 154,18% pada triwulan IV-2012 menjadi 173,25% pada triwulan laporan. Di sisi lain kualitas pembiayaan bank syariah menunjukan penurunan, dimana rasio NPF naik dari 1,86% pada triwulan sebelumnya menjadi sebesar 1,96%. Penurunan kualitas kredit tersebut terjadi terutama pada BUS dimana NPF-nya naik menjadi 1,92% dari 1,80% pada triwulan sebelumnya, sedangkan NPF pada BPRS mengalami penurunan dari 2,76% pada triwulan IV-2012 menjadi 2,53% pada triwulan laporan.

5. PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN 5.1. PERKEMBANGAN ALIRAN UANG KARTAL

Perkembangan aliran uang kartal yang tercatat di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung pada triwulan I-2013 mengalami net-inflow sebesar Rp1,39 triliun, yang berarti jumlah aliran uang masuk ke Bank Indonesia lebih besar dibandingkan aliran uang keluar. Kondisi yang sama bila dibandingkan dengan triwulan IV-2012 yang juga mengalami net-inflow sebesar Rp0,22 triliun. Pada triwulan

173.25 Grafik 3.26. Perkembangan Indikator FDR

dan NPF Perbankan Syariah Lampung

2,427

Sumber : Laporan Bank Umum & BPR (diolah) Sumber : Laporan Bank Umum & BPR (diolah) Grafik 3.25. Indikator Utama Perbankan

Syariah Lampung

Sumber : KPw BI Prov. Lampung

2,183.40

Grafik 3.27. Perkembangan Aliran Uang Kartal

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

46

laporan, jumlah aliran uang masuk tercatat sebesar Rp2,18 triliun, atau meningkat sebesar 48,45%

(qtq), sedangkan jumlah aliran uang keluar pada periode laporan tercatat sebesar Rp0,80 triliun atau menurun sebesar 36,54% (qtq). Pola menurun aliran uang keluar ini menunjukkan bahwa kebutuhan uang kartal oleh masyarakat pada periode triwulan I-2013 masih rendah, salah satunya dikarenakan belum terealisasikannya kegiatan proyek pembangunan yang diselenggarakan pemerintah daerah.

Pada bulan pertama di triwulan I-2013, jumlah uang kartal yang masuk ke BI (inflow) paling tinggi selama triwulan laporan yaitu sebesar Rp1,30 triliun, kemudian menurun di bulan Februari dan Maret yaitu masing-masing sebesar Rp0,47 triliun dan Rp0,42 triliun. Besarnya inflow pada triwulan berjalan ini dikarenakan arus balik dari akumulasi penarikan uang tunai dalam jumlah besar oleh perbankan terutama untuk memenuhi kebutuhan transaksi tunai pada libur HBKN pada semester II- 2012. Sedangkan pada aliran uang keluar terjadi pola meningkat dari bulan ke bulan, dimana pada bulan Maret 2013 tercatat outflow sebesar Rp0,35 triliun meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yaitu Rp0,32 triliun di bulan Februari dan Rp0,13 triliun di bulan Januari. Kecenderungan meningkatnya outflow ini terkait dengan penarikan uang kartal oleh perbankan dalam rangka mempersiapkan uang tunai terkait dengan pola penurunan jumlah tabungan.

5.2. PEMBERIAN TANDA TIDAK BERHARGA (PTTB)

Sejalan dengan kenaikan aliran uang masuk, kegiatan pemusnahan uang tidak layak edar pada triwulan laporan meningkat sebesar 188,78% (qtq) dari Rp0,23 triliun di triwulan sebelumnya menjadi Rp0,66 triliun pada triwulan laporan. Sedangkan bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kegiatan pemusnahan uang menurun sebesar 43,03% (yoy) dari Rp1,16 triliun pada triwulan I-2012.

Dengan perkembangan tersebut, rasio PTTB terhadap uang kartal yang masuk (inflow) tercatat sebesar 30,21%, meningkat dibandingkan triwulan IV-2012 yang tercatat sebesar 15,53%. Hal ini berkaitan dengan kebijakan clean money policy yang diterapkan oleh Bank Indonesia, sehingga Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung selalu memastikan kelayakan uang yang beredar

di masyarakat.

Sumber : KPw BI Prov. Lampung

Grafik 3.28. Perkembangan PTTB dan Inflow di KPw BI Provinsi Lampung

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

47

Dalam rangka pemenuhan kebutuhan uang pecahan di masyarakat, Bank Indonesia senantiasa menyediakan uang kartal layak edar baik melalui kegiatan kas keliling maupun loket penukaran uang di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung. Jumlah nominal penukaran uang pada triwulan laporan tercatat menurun sebesar 10,91% (qtq) dari Rp16,51 miliar pada triwulan IV 2012 menjadi Rp18,31 miliar di triwulan laporan. Pangsa pecahan terbesar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat adalah pecahan dengan nominal Rp 10.000,- yaitu sebesar 34,94%, diikuti oleh pecahan dengan nominal Rp20.000,- dan Rp5.000,- masing-masing dengan pangsa sebesar 26,63% dan 21,19%.

Tabel 3.13. Perkembangan Penukaran Uang di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung

Sumber : KPw BI Prov. Lampung

5.3. PENEMUAN UANG PALSU

Jumlah temuan uang palsu yang dilaporkan ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung selama triwulan I-2013 secara nominal menurun sebesar 68,40% (qtq) dibandingkan triwulan IV-2012, yaitu dari Rp92,88 juta menjadi Rp29,35 juta. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya jumlah temuan bilyet sebesar

Rp100,000 , 71.88%

Rp50,000, 25.22%

Rp20,000, 2.90%

Sumber : KPw BI Prov. Lampung

Grafik 3.29. Komposisi Penemuan Uang Palsu Berdasarkan Jumlah Bilyet

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 50-0)

Dokumen terkait