TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.2 Eksposur Valuta Asing
Eksposur adalah suatu risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan sebagai akibat perubahan atau fluktuasi kurs valuta asing. Arus kas perusahaan yang melakukan transaksi internasional akan terpengaruhi secara langsung oleh fluktuasi kurs valuta asing. Eksposur valuta asing dialami langsung oleh perusahaan yang melakukan transaksi internasional. Bahkan perusahaan yang tidak melakukan transaksi internasional secara tidak langsung akan terpengaruh dengan eksposur valuta asing (Hady, 2012). Eksposur valuta asing timbul karena kurs valuta asing selalu berfluktuasi.
Secara umum eksposur valuta asing diklasifikasikan menjadi 3 tipe yaitu:
1. Eksposur Transaksi
Eksposur transaksi adalah seberapa besar nilai dari transaksi-transaksi kas dimasa yang akan datang dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar (Madura, 2000). Eksposur transaksi diartikan sebagai risiko pengaruh fluktuasi kurs valuta asing terhadap transaksi tunai di masa depan (Hady, 2012).
2. Eksposur Ekonomi atau Eksposur Operasi
Eksposur operasi adalah sejauh mana nilai arus kas saat ini daripada arus kas perusahaan di masa depan yang diakibatkan oleh pengaruh fluktuasi nilai tukar (Madura, 2000). Eksposur ekonomi juga dapat berpengaruh terhadap
perusahaan domestik yang tidak melakukan transaksi luar negeri. Hal ini terjadi karena adanya persaingan produk impor yang sejenis yang harganya dipengaruhi oleh fluktuasi nilai rupiah terhadap kurs valuta asing (Hady, 2012).
3. Eksposur Translasi atau Eksposur Akuntansi
Eksposur translasi adalah eksposur laporan keuangan konsolidasi perusahaan multinasional terhadap fluktuasi nilai tukar (Madura, 2000). Eksposur translasi diartikan sebagai risiko perubahan/fluktuasi kurs valas terhadap laporan keuangan konsolidasian perusahaan.
2.1.3 Hedging
Hedging merupakan kontrak yang bertujuan melindungi perusahaan dari risiko pasar (Subramanyam & Wild, 2012). Menurut (Saragih F. & Musdholifah, 2017) hedging dapat diartikan sebagai strategi yang dilakukan untuk meminimalkan kerugian akibat perubahan nilai tukar dengan mengambil posisi yang berkebalikan dari posisi mata uang tersebut. Hedging dapat melindungi perusahaan dari risiko yang timbul akibat pergerakan nilai mata uang. Pada praktiknya penggunaan hedging pada setiap perusahaan berbeda-beda. Hal ini tergantung pada pengetahuan perusahaan dan pendekatan manajemen dalam mengidentifikasi risiko.
1. Instrument Derivatif untuk Melakukan Hedging
Aktivitas lindung nilai/hedging dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen derivatif, derivatif merupakan kontrak perjanjian antara dua pihak untuk menjual dan membeli sejumlah barang (baik komoditas, maupun sekuritas) pada tanggal tertentu di masa yang akan datang dengan harga yang
15
telah disepakati pada saat ini. Aktivitas hedging dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen derivatif yaitu Option, Forward Contract, Futures Contract, dan Swap (Sunaryo T. , 2009).
a. Opsi (Option)
Options merupakan hak untuk membeli/menjual suatu asset dengan harga tertentu sebelum berakhirnya periode kontrak (Sadalia, 2010). Ada 2 tipe umum opsi yaitu call option dan put option. Call option merupakan hak untuk membeli suatu saham dengan harga tertentu selama periode kontrak. Sedangkan, put options merupakan hak untuk menjual suatu asset pada harga tertentu selama periode waktu tertentu. Dalam option ada istilah yang dikenal dengan striking/exercise yang merupakan harga dimana pemegang opsi dapat mengexercise kontrak tersebut. Pemegang call option akan berharap bahwa harga pasar dari suatu asset dimasa yang akan datang akan terus naik. Opsi ini tidak digunakan oleh manajer keuangan sebagai salah satu alternatif pembiayaan, tetapi lebih banyak dipakai oleh investor untuk hedging atas risiko suatu asset.
b. Forward Contract
Teknik hedging dengan menggunakan forward contract ini banyak dilakukan oleh perusahaan besar untuk melindungi piutang atau hutangnya yang relatif dipengaruhi oleh risiko fluktuasi valuta asing.
Kontrak forward diimplementasikan menggunakan kurs forward (forward rate) dimana kurs forward mewakili kurs penukaran valuta pada suatu waktu di masa depan. Jika perusahaan multinasional
memperkirakan akan adanya kebutuhan atau penerimaan suatu valuta asing tertentu dimasa depan, perusahaan tersebut dapat melakukan kontrak forward untuk mengunci kurs permbelian atau penjualan valuta tersebut (Madura, 2000).
c. Future Contract
Future contract adalah kontrak antara dua pihak pembeli dan penjual untuk menjual atau membeli sesuatu di kemudian hari dengan harga yang telah ditentukan saat ini. Future contract hampir sama dengan forward contract, yang membedakannya adalah future contract dilakukan lebih tersistematis dan dijalankan oleh suatu lembaga yang dinamakan futures market. Future contract hedging ini biasanya digunakan oleh perusahaan untuk melindungi atau melakukan hedging untuk nilai transaksi yang relatif lebih kecil dan sesuai dengan sifat future market. Oleh karena itu, kontrak hedging harus dilakukan dengan jumlah satuan valas atau currency amount, strike/exercise price, dan tanggal tertentu. Perusahaan yang memiliki future payable ataupun future receivable dalam valas tertentu dapat melindunginya dengan menggunakan futures contract hedging sehingga perusahaan mempunyai suatu kepastian tentang jumlah yang akan dibayar atau diterima dalam nilai domestic currency (Hady, 2012).
d. Swap
Swap merupakan suatu perjanjian antara dua pihak untuk menukarkan pembayaran suku bunga selama jatuh tempo tertentu pada suatu jumlah
17
national yang disepakati. National menunjukan angsuran pokok pinjaman yang secara teoritis mendasari transaksi swap (Kuncoro, 2001).
Risiko dari swap dapat terjadi karena adanya pihak yang tidak memenuhi kewajibannya dalam kontrak swap tersebut, dapat diartikan bahwa pemegang kontrak atau perjanjian swap ini menghadapi risiko pihak atau wanprestasi.
2.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keptusan Hedging 1. Firm Size
Semakin besar suatu perusahaan, semakin bertambah aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan. Diikuti dengan tingginya risiko yang akan ditanggung oleh perusahaan, terlebih jika perusahaan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perdagangan internasional. Risiko dari fluktuasi kurs yang tidak dapat diprediksi mengakibatkan perusahaan harus melakukan manajemen risiko.
Salah satu tindakan manajemen risiko yaitu dengan melakukan lindung nilai/hedging dengan derivatif. Semakin besar ukuran perusahaan, terdapat kecenderungan perusahaan untuk lebih menerapkan kebijakan hedging (Guniarti, 2015). Menurut (Ahmad & Haris, 2012) perusahaan besar cenderung menggunakan lindung nilai derivatif untuk menghadapi eksposur risiko dari pada perusahaan kecil karena mereka memiliki sumber daya yang diperlukan dan pengetahuan untuk melakukannya. Proksi firm size dihitung dari logaritma natural dari nilai pasar ekuitas dan jumlah utang:
Firm Size = Ln (Total Asset) 2. Growth Opportunity
Growth Opportunity yang tinggi menunjukkan nilai pasar yang semakin baik di antara perusahaan lainnya. Hal itu membuat perusahaan percaya diri untuk menggunakan dana eksternal guna pertumbuhan perusahaan, selain itu membuat calon investor bersedia menanamkan dananya kepada perusahaan yang memiliki kesempatan pertumbuhan perusahaan yang tinggi, karena dinilai dapat menjadi sarana investasi yang baik. Jadi, perusahan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi lebih banyak membutuhkan dana di masa depan, terutama dana eksternal untuk memenuhi kebutuhan investasinya atau untuk memenuhi kebutuhan untuk membiayai pertumbuhanya. Perusahan yang memiliki peluang pertumbuhan yang tinggi tentu akan membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk merealisasikan pengembangan usahanya.
Kondisi ini tidak selalu didukung dengan dana internal yang tersedia sehinga akan mempengaruhi keputusan struktur modal atau pendanan suatu perusahaan. Tingginya kebutuhan dana investasi sejalan dengan tingkat pertumbuhan perusahaan. Kondisi ini mendorong perusahaan menggunakan laba yang diperoleh untuk membiayai investasinya, daripada membagikan dividen (Ameer, 2010).
Ketersediaan dana internal yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dana untuk pengembangan usaha mengharuskan perusahaan menggunakan dana yang bersumber dari pihak eksternal. Hal tersebutlah yang menyebabkan meningkatnya hutang perusahaan dan tentu risiko yang harus dihadapi perusahaan juga akan meningkat. Risiko terburuk yang mungkin akan dialami perusahaan adalah gagal bayar karena kebangkrutan dan eksposur valuta
19
asing. Perusahaan dengan tingkat growth opportunity yang tinggi cenderung menggunakan keputusan hedging untuk melindungi perusahaannya. Growth Opportunity pada penelitian ini menggunakan proksi Market to Book Ratio dengan rumus berikut:
Adapun nilai pasar saham (market value of equity) menggambarkan pandangan masyarakat terhadap kinerja perusahaan. Sedangkan nilai buku ekuitas (book value of equity) mencerminkan nilai ekuitas yang tercatat pada laporan posisi keuangan perusahaan. Semakin tinggi nilai market to book ratio maka semakin baik pula penilaian investor terhadap nilai buku perusahaan. Kondisi ini mengindikasikan tingginya rasa percaya masyarakat terhadap prospek perusahaan pada masa mendatang dan implikasinya adalah harga saham perusahaan akan naik, demikian juga sebaliknya.
3. Leverage
Rasio leverage atau rasio utang yang biasa dikenal dengan rasio solvabilitas.
Menurut (Sawir, 2004) rasio leverage adalah rasio yang dapat menunjukan kemampuan dari suatu perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansial dari perusahaan tersebut seandainya perusahaan tersebut dilikuidasi.
Perusahaan dengan rasio leverage yang lebih tinggi menandakan perusahaan sedang mengalami kesulitan dalam mengelola keuangannya. Rasio leverage diproksikan dengan Debt to equity ratio (DER):
Debt to Equity Ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian dari modal sendiri atau ekuitas yang digunakan untuk membayar hutang. Penggunaan hedging akan mengurangi kemungkinan perusahaan dalam kesulitan keuangan (likuidasi).
4. Liquidity
Liquidity merupakan salah satu faktor yang yang dapat mendorong terjadinya perubahan harga saham. Likuiditas yang tinggi menunjukan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya tepat waktu.
Likuiditas perusahaan dapat diukur dengan cash ratio & current ratio (Sudana, 2009). Posisi likuiditas yang diperlihatkan dalam neraca menunjukkan kondisi keuangan perusahaan. Hal tersebut ditunjukkan oleh ketersediaan sumber-sumber pembayaran perusahaan, yaitu aktiva lancar terutama kas sebagai alat pembayaran hutang lancar yang paling likuid. Suatu perusahaan dapat dikatakan likuid apabila perusahaan tersebut mempunyai kekuatan membayar sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi. Rasio likuiditas terdiri dari Rasio Lancar (Current Ratio), rasio yang paling umum digunakan untuk menganalisis posisi modal kerja suatu perusahaan. Rasio lancar dihitung dengan membagi aset lancar dengan hutang lancar. Rasio ini menunjukkan
21
besarnya kas yang dipunyai perusahaan ditambah asset-aset yang bisa berubah menjadi kas dalam waktu satu tahun, relatif terhadap besarnya hutang-hutang yang jatuh tempo dalam jangka waktu dekat (tidak lebih dari satu tahun), pada tanggal tertentu seperti tercantum pada neraca (Hanafi &
Halim, 2003). Current Ratio diproksikan dengan:
Current Ratio ini menunjukkan tingkat keamanan (Margin Of Saffety) kreditur jangka pendek atau kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang tersebut. Tetapi suatu perusahaan dengan current ratio yang tinggi belum tentu menjamin akan dapat dibayarnya hutang perusahaan yang sudah jatuh tempo. Karena proporsi atau distribusi dari aktiva lancar yang tidak menguntungkan misalnya jumlah persediaan yang relatif tinggi dibandingkan taksiran tingkat penjualan yang akan datang sehingga tingkat perputaran persediaan rendah dan menunjukkan adanya over investment dalam persediaan tersebut adalah saldo piutang yang sulit ditagih.