• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.2 Dampak Positif dan Eksterna litas Negatif Keberadaan TPAS “Namo

6.2.2 Eksternalitas Negatif Keberadaan TPAS “Namo Bintang”

Keberadaan TPAS “Namo Bintang” juga memiliki eksternalitas negatif seperti penurunan kualitas lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat pemulung dan non pemulung. Kualitas lingkungan yang tercemar dari adanya TPAS “Namo Bintang” menyebabkan kualitas air dan udara serta lingkungan sekitar menurun, sehingga masyarakat mengeluarkan biaya pengobatan dan biaya konsumsi air bersih. Biaya konsumsi air bersih dapat dilihat dari biaya air galon isi ulang dan PAM.

6.2.2.1 Biaya Kesehatan (Cost of Illness)

Responden masyarakat pemulung menyatakan bahwa TPAS “Namo Bintang” tidak memberikan eksternalitas negatif apapun karena responden menjadikan sampah di TPAS sebagai sumber penghasilan. Banyak masyarakat

pemulung yang membawa anak berumur satu tahun kebawah, ke TPAS “Namo Bintang” yang sangat mengganggu pada kesehatan bayi. Hal itu tidak dapat dipungkiri dengan adanya dampak dari keberadaan TPAS “Namo Bintang” secara tidak langsung. Terlihat dari tingkat kesehatan yang terganggu bagi responden masyarakat pemulung sebanyak 31.responden (60,78%) dimana harus mengeluarkan biaya kesehatan setiap bulannya. Sebagian responden pemulung terganggu kesehatannya, akan tetapi mereka tidak menganggap hal tersebut suatu masalah yang serius.

Berdasarkan hasil penelitian, bagi responden masyarakat non pemulung kesehatan tidak terlalu terganggu sebanyak 25 responden (78,13%), sedangkan tujuh responden (21,88%) mengalami gangguan kesehatan. Responden non pemulung mengatakan bahwa sangat tidak nyaman dengan adanya keberadaan TPAS yang mengganggu penciuman terhadap udara di lingkungannya, tetapi disisi sosial responden melihat adanya TPAS “Namo Bintang” adalah tempat dimana masyarakat pemulung mencari kehidupan. TPAS dapat merubah pendapatan masyarakat pemulung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keadaan air juga menjadi buruk, maka dari itu responden non pemulung baik yang memiliki jarak jauh dari lokasi, tetap menggunakan air yang bersumber dari PAM. Hal ini menjelaskan bahwa terdapat penurunan kualitas lingkungan yang disebut juga eksternalitas negatif dari adanya TPAS “Namo Bintang”.

Berdasarkan keterangan dari Bidan Desa Namo Bintang, penyakit yang mayoritas diderita pada tahun 2012 adalah demam, diare, ISPA, dan sakit kepala, namun demam dan sakit kepala bukan penyakit yang diakibatkan oleh keberadaan TPAS “Namo Bintang”. Tabel 14 hanya mencantumkan penyakit diare dan ISPA karena berkaitan langsung dengan keberadaan TPAS “Namo Bintang”. Biaya kesehatan dihitung per kepala keluarga yang didapatkan dari hasil wawancara terhadap responden berkunjung untuk berobat dan membeli obat setiap bulannya. Menurut responden, penyakit ini bukan penyakit parah dan tidak mengganggu mereka dalam bekerja, sehingga tetap mendapatkan penghasilan.

Tabel 14 Daftar penyakit yang diderita akibat TPAS “Namo Bintang” dan biaya kesehatan responden masyarakat Desa Namo Bintang

Nama Penyakit Jumlah Responden (orang) Total Biaya Pengobatan (Rp/bulan)

Diare 11 375.000

ISPA 15 540.000

Total 26 915.000

Pada Tabel 14 terdapat biaya kesehatan yang terkait dengan keberadaan TPAS “Namo Bintang” yang dikeluarkan oleh responden masyarakat, yaitu diare dan ISPA. Penyakit yang banyak diderita adalah ISPA (Infeksi Saluran Penapasan) sebanyak 15 responden. Total biaya pengobatan ISPA terbesar karena responden yang menderita juga banyak. Jika dilihat dari rata-rata per responden pun biaya yang terbesar adalah ISPA sebesar Rp.36.000 karena pengeluaran akan obat yang dibutuhkan lebih banyak. Biaya kesehatan tidak terlalu mahal karena jarak yang tidak jauh dan masyarakat cenderung berobat ke bidan ataupun klinik di Desa Namo Bintang dikarenakan letak puskesmas yang terlalu jauh. Biaya pengobatan yang dikeluarkan oleh seluruh responden sebesar Rp 915.000 per bulan dari 26.orang. Rata-rata biaya yang dikeluarkan responden sebesar Rp.35.200 per bulan sehingga didapat total biaya pengobatan yang dikeluarkan masyarakat di Desa Namo Bintang sebesar Rp.56.249.600 per bulan atau Rp.674.995.200 per tahun dari total rumah tangga sebanyak 1.598 KK dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Total biaya kesehatan yang dikeluarkan masyarakat Desa Namo Bintang

Hal Nilai

Total biaya pengobatan (Rp/bulan) (A) 915.000

Jumlah responden (orang) (B) 26

Rata-rata biaya pengobatan (Rp/bulan) (C=A/B) 35.200

Jumlah rumah tangga (KK) (D) 1.598

Total biaya pengobatan (Rp/bulan) (E=CxD) 56.249.600

6.2.2.2 Biaya Pengganti (Replacement Cost)

Biaya pengganti responden dilihat dari biaya konsumsi air bersih yang digunakan. sebagai air galon isi ulang. Bagi masyarakat pemulung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masih menggunakan air sumur yang terdapat dalam rumah masing-masing, sedangkan masyarakat non pemulung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menggunakan air PAM. Masyarakat Namo Bintang ada yang mengkonsumsi air galon isi ulang dan air galon kemasan bermerk. Berdasarkan Tabel.16 hampir keseluruhan masyarakat Namo Bintang

membeli air minum pada pengecer dengan sistem air galon isi ulang dengan harga yang bervariasi sekitar Rp.3.000 hingga Rp.6.500 per galon. Sebanyak 83 responden melakukan pembelian air galon dengan sistem air galon isi ulang. Dapat dilihat rata-rata responden membeli air galon isi ulang yang seharga Rp.4.000 per galon sebanyak 35 responden, tetapi jika dilihat dari jumlah konsumsi banyak yang mengkonsumsi air galon dengan harga Rp.5.000 sebanyak 191 galon. Hal ini dikarenakan banyak responden yang membeli air galon di kelas tengah dan harga masih terjangkau.

Tabel 16 Biaya pengganti konsumsi air galon isi ulang masyarakat Desa Namo Bintang

Harga Air Galon (Rp)

Jumlah Responden (orang)

Jumlah Konsumsi Air Galon (Galon/bulan)

Total Biaya Pengeluaran (Rp/bulan) 3.000 4 16 48.000 3.500 3 10 35.000 4.000 35 140 560.000 5.000 30 191 955.000 6.000 8 53 318.000 6.500 3 6 39.000 Total 83 416 1.955.000

Biaya pengganti konsumsi air galon isi ulang dari 83 responden untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama satu bulan dapat dihitung dari jumlah konsumsi air galon dikalikan dengan harga air galon tersebut. Total biaya pengeluaran air galon isi ulang masyarakat Desa Namo Bintang sebesar Rp.23.554 per bulan. Biaya konsumsi air bersih masyarakat di Desa Namo Bintang tidak hanya dari pembelian air galon isi ulang, tetapi juga pengeluaran terhadap PAM. Rata-rata biaya pengeluaran PAM sebesar Rp.44.250. Biaya pengeluaran PAM hanya dikeluarkan oleh responden masyarakat non pemulung karena masyarakat non pemulung khawatir untuk menggunakan air sumur yang ada di sekitar TPAS Namo Bintang. Berdasarkan Tabel.17 diketahui total biaya konsumsi air bersih masyarakat Desa Namo Bintang sebesar Rp.108.350.792 per bulan atau Rp.1.300.209.504 per tahun yang diperoleh dari penjumlahan biaya pengeluaran air galon isi ulang dan PAM. Data mengenai total biaya pengganti konsumsi air bersih di Desa Namo Bintang dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17 Total biaya pengganti konsumsi air bersih masyarakat Desa Namo Bintang

Jenis Sumber Air Jumlah Responden (orang) (A) Total Biaya Pengeluaran (Rp/bulan) (B) Rata-rata Biaya Pengeluaran (Rp/bulan) (C=B/A) Jumlah Rumah Tangga (KK) (D) Total Biaya Pengganti (Rp/bulan) (E=CxD)

Air Galon Isi Ulang 83 1.955.000 23.554 1.598 37.639.292

PAM 32 1.416.000 44.250 1.598 70.711.500

Total Biaya Konsumsi Air Bersih yang Dikeluarkan Masyarakat (Rp/bulan) 108.350.792

Biaya yang harus dikeluarkan oleh responden masyarakat pemulung dan non pemulung adalah biaya pengobatan dan biaya pengganti terhadap konsumsi air bersih. Estimasi total biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat sebanyak Rp.164.600.392 per bulan atau Rp.1.975.204.704 per tahun. Hasil tersebut didapat dari penjumlahan biaya pengobatan dan biaya pengganti terhadap konsumsi air bersih dikalikan dengan jumlah kepala keluarga yang ada di Desa Namo Bintang.

6.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penurunan Kualitas Lingkungan