2.3 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
3.3.4 Ekstraksi Senyawa Bioaktif (Pramadhany, 2006 dalam Romansyah,
Metode ekstraksi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode ekstraksi tunggal. Ekstraksi tunggal ini menggunakan pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda yaitu heksana p.a untuk pelarut nonpolar, etil asetat p.a untuk pelarut semipolar serta metanol p.a untuk pelarut polar. Sampel rumput laut kemudian ditimbang sebanyak 25 gram. Sampel tersebut kemudian dipotong-potong menjadi kecil untuk memperluas permukaannya sehingga akan
memperluas kontak dengan pelarut. Hal tersebut bertujuan untuk memaksimalkan proses ekstraksi komponen bioaktif (Sudirman, 2011). Sampel rumput laut yang telah dipotong kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyeruntuk diberi pelarut sebanyak 100 ml. Masing-masing sampel rumput laut diberi dengan pelarut yag berbeda. Perbandingan sampel rumput laut dengan pelarut adalah 1 : 4 (w/v).
Maserasi selama 1x24 jam campuran sampel dan pelarut dengan
menggunakan orbital shaker. Hasil maserasi kemudian disaring dengan kertas saring whatman 42 yang akan menghasilkan filtrat dan residu. Filtrat kemudian dievaporasi pada suhu 50 0C. Hasil dari evaporasi ini adalah tiga ekstrak kasar yang masing-masing dari pelarut berbeda yaitu ekstrak kasar heksana p.a, ekstrak kasar etil asetat p.a dan ekstrak kasar metanol p.a. Diagram alir proses ekstraksi bertingkat dapat dilihat pada Gambar 7.
3.3.5Uji Aktivitas Antioksidan (Salazar-Aranda et al., 2009)
Uji aktivitas antioksidan rumput laut dari masing-masing ekstrak kasar pelarut yang berbeda menggunakan metode DPPH (1,1 diphenyl 2-picryhydrazil) yang diacu dalam Salazar-Aranda, et al.(2009) dengan modifikasi. Ekstrak kasar dari masing-masing pelarut diencerkan berbagai konsentrasi dengan larutan etanol. Larutan DPPH dibuat dengan menggunakan kristal DPPH sebanyak 1,25 mg yang dilarutkan dalam larutan etanol 25 ml. Larutan heksana p.a, etil asetat p.a, dan metanol p.a dicampurkan dengan larutan DPPH dalam microwell. Perbandingan volume yang digunakan adalah 1:1 (v/v) yaitu 200 µl dengan komposisi 100 µl larutan DPPH dan l00 µl dari masing-masing konsentrasi larutan. Larutan tersebut diinkubasi pada suhu 37 0C selama 30 menit dan diukur nilai absorbansinya dengan menggunakan panjang gelombang 517 nm.
Gambar 7. Proses Ekstraksi Kasar Rumput Laut (Pramadhany, 2006 dalam Romansyah, 2010)
Rumput laut sebanyak 25 gram
Penambahan 100 ml heksana p.a
Penambahan 100 ml etil asetat p.a
Penambahan 100 ml metanol p.a Filtrasi Residu Filtrat Evaporasi Ekstrak kasar heksana p.a Ekstrak kasar etil asetat p.a
Esktrak kasar metanol p.a Maserasi 1 x 24 Jam
Pembanding yang digunakan adalah vitamin C yang diencerkan dengan berbagai konsentrasi. Larutan blanko dibuat dengan menggunakan 100 µl etanol dan 100 µl larutan DPPH. Diagram alir uji aktivitas antioksidan disajikan pada Gambar 8. Aktivitas antioksidan masing-masing larutan pada setiap konsentrasi dan larutan Vitamin C dinyatakan dengan persentase penghambatan radikal bebas (persen inhibisi) yang dapat dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut :
% inhibisi = absorbansi blanko−absorbansi sampel
absorbansi blanko x 100%
Nilai konsentrasi sampel dari masing-masing larutan (heksana, etil asetat, dan metanol) dan pembanding (vitamin C) serta hambatan radikal bebas (% inhibisi) diplot masing-masing pada sumbu x dan y pada persamaan regresi linear. Persamaan regresi linear yang diperoleh dalam bentuk persamaan y = a +bx yang digunakan untuk mencari nilai IC50 (inhibator concentration 50%) dengan y sebesar 50 dan x menyatakan nilai IC50. Nilai IC50 menyatakan bahwa konsentrasi larutan yang dibutuhkan untuk mereduksi radikal bebas DPPH sebesar 50% (Safitri, 2010).
Gambar 8. Proses Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH
Perhitungan nilai IC50
Pengukuran dan perhitungan nilai absorbansi Inkubasi
Pencampuran dengan DPPH Pengenceran
Pembuatan larutan stok Ekstrak kasar masing-masing larutan
28
4.1 Karakteristik Bahan Baku
Karakteristik bahan baku dilakukan untuk mengetahui sifat dari bahan baku yang digunakan. Euchema spinosum merupakan rumput laut yang tergolong dalam alga merah dan memiliki pigmen klorofil a, fikoeritin, fikosianin, dan karoten. Rumput laut Euchema spinosum yang diambil dari Pulau Panjang, Banten disajikan pada Gambar 9.
Gambar 9. Rumput Laut Euchema spinosum dari Pulau Panjang, Banten
Rumput laut yang digunakan dalam penelitian ini memiliki karakteristik
thallus berbentuk silindris, permukaan thallus licin, serta berwarna coklat tua. Bentuk thallus yang dimiliki adalah dichotomous (bercabang dua terus-menerus), dan memiliki duri yang melingkari thallus. Karakteristik inilah merupakan ciri yang membedakan dengan rumput laut Euchema cotonii. Percabangan berlawanan atau berselang-seling serta ujung percabangan meruncing (Atmadja et al., 1996).
Rumput laut Euchema spinosum tumbuh tersebar di perairan Indonesia pada tempat-tempat yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya.
4.2 Analisis proksimat
Kandungan gizi dapat dilakukan dengan melakukan uji atau analisis proksimat. Analisis proksimat dilakukan untuk memperoleh data kasar tentang komposisi kimia bahan baku yang diuji (Sudirman, 2011). Uji proksimat meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, dan kadar protein. Kadar karbohidrat diperoleh dengan perhitungan by difference (100% - (kadar air + kadar abu + kadar lemak +kadar protein). Sampel yang digunakan adalah rumput laut jenis Euchema spinosum yang termasuk kelas alga merah. Hasil uji proksimat rumput laut
Euchema spinosum disajikan pada Gambar 10 dan contoh perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 1.
Gambar 10. Hasil Analisis Proksimat Rumput Laut Jenis Euchema spinosum
a. Kadar air
Penentuan kadar air merupakan salah satu parameter yang dapat
menggambarkan kualitas suatu bahan pangan. Winarno (1992) menyatakan kadar
84,47 6,12 0,39 1,12 7,9 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
air abu lemak protein Karbohidrat
K
ad
ar
air dalam bahan makanan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air juga dapat mempengaruhi sifat fisik, sifat-sifat fisik kimia serta perubahan-perubahan kimia (Dwihandita, 2009). Sifat fisik
diantaranya kekerasan dan kekeringan, sifat fisik kimia dan perubahan kimia merupakan pencoklatan enzimatis, kerusakan mikrobiologis, serta perubahan enzimatis terutama pada makanan yang belum diolah (Buckel et al., 1985 dalam
Dwihandita, 2009). Gambar 10 menunjukkan kadar air rumput laut jenis Euchema spinosum relatif tinggi yaitu sebesar 84,47%. Kandungan rumput laut segar sama seperti pada tanaman pada umumnya yaitu sekitar 80 – 90% (Ahdyanti, 2009). Hal ini sesuai dengan yang dilakukan oleh Dwihadiyanti (2009) dan Ahdyanti (2009) yang mendapatkan kadar air pada rumput laut Caulerpa racemosa sebesar 92,80% dan 93,48%. Menurut Astawan et al., (2001) dalam Ahdyanti (2009) menyatakan bahwa kandungan komposisi kimia berbeda-beda setiap individu, spesies, habitat, umur panen dan kondisi lingkungan.
b. Kadar abu
Abu merupakan zat-zat anorganik sisa hasil pembakaran dari zat-zat
organik. Bahan makanan memiliki sekitar 96% terdiri dari bahan organik dan air, sisanya merupakan zat anorganik atau kadar abu. Menurut Winarno (2008) dalam proses pembakaran suatu bahan makanan, komponen-komponen organik terbakar, namun komponen anorganik tidak dan selanjutnya disebut abu. Kadar abu pada rumput laut jenis Euchema spinosum sebesar 6,12% . Kadar abu rumput laut
Euchema spinosum relatif sedikit dibandingkan dengan kadar abu menurut Poncomulyo (2006) yaitu sebesar 14,21%. Namun, dibandingkan dengan lamun
spinosum lebih tinggi karena kedua jenis lamun tersebut memiliki kadar abu sebesar 2,35% dan 2,10% ( Rumiantin, 2011) (Anwariyah, 2011). Kadar abu pada setiap jenis makhluk hidup akuatik berbeda-beda tergantung pada habitat dan kondisi lingkungannya. Menurut Budiyanto (2002) dalam Azka (2010) kadar abu dan komposisinya dari suatu bahan makanan tergantung pada macam bahan yang dianalisis serta cara pengabuannya.
c. Kadar lemak
Lemak merupakan zat penting dan merupakan sumber energi yang efektif dibanding dengan karbohidrat dan protein. Hal tersebut karena 1 gram lemak dapat menghasilkan 9 kkal sedangkan karbohidrat dan protein menghasilkan kkal yang lebih kecil yaitu sebesar 4 kkal. Lemak memberikan cita rasa pada makanan dan memperbaiki tekstur pada makanan juga sebagai sumber pelarut bagi vitamin A, D, E, dan K (Winarno, 2008). Lemak berfungsi sebagai penghasil energi, penghasil asam lemak esensial , dan pemberi kepuasan cita rasa. Kadar lemak yang terdapat pada rumput laut jenis Euchema spinosum adalah 0,39%. Rumput laut Euchema spinosum memiliki kadar lemak yang relatif rendah. Hal ini sesuai dengan Pancamulyo (2006) yang mendapat kadar lemak pada rumput laut
Euchema spinosum sebesar 0,13%. Namun, kadar lemak pada lamun jenis
Euchema acoroides dan Cymodocea rotundata lebih tinggi yaitu sebesar 0,88% dan 0,79%. Kadar lemak berbanding terbalik dengan kadar air yang terkandung di rumput laut. Hal ini sesuai dengan Yunizal et al. (1998) yang menyatakan bahwa kadar lemak yang terdapat pada suatu bahan makanan akan berbanding terbalik dengan kadar air yang terkandung didalamnya.
d. Kadar protein
Protein merupakan salah satu kelompok nutrien yang penting. Senyawa ini didapatkan dari dalam sitoplasma pada semua sel makhluk hidup (Gardjito, 1992). Protein adalah substansi organik-organik dan mereka mirip lemak maupun
karbohidrat dalam kandungan unsur karbon, hidrogen maupun oksigen. Protein berfungsi sebagai bahan bakar di dalam tubuh. Selain itu, protein dapat juga berfungsi sebagai zat pembangun serta pengatur. Gambar 10 menunjukkan protein yang terdapat pada rumput laut Euchema spinosum relatif rendah dibandingkan dengan kadar abu, air serta karbohidrat. Kandungan protein yang terdapat pada rumput laut jenis Euchema spinosum sebesar 1,12%. Kadar protein yang dimiliki lamun Enhalus acoroides dan Cymodocea rotundata tidak berbeda jauh dengan rumput laut Euchema spinosum yaitu sebesar 1,09% dan 1,13%.
e. Kadar karbohidrat
Karbohidrat adalah kelompok nutrien yang penting dalam susunan makanan serta sebagai sumber energi. Senyawa-senyawa karbohidrat mengandung unsur karbon, hidrogen, serta oksigen yang dihasilkan melalui fotosintesis (Gardjito, 1992). Kandungan karbohidrat dihitung dengan menggunakan by difference
(%Kadar karbohidrat = 100% - ( %kadar air + %kadar abu + %kadar protein + %kadar lemak). Kandungan karbohidrat yang terdapat pada rumput laut jenis
Euchema spinosum relatif rendah yaitu sebesar 7,9%. Namun, Pancamulyo (2006) mendapat kadar karbohidrat rumput laut Euchema spinosum lebih tinggi yaitu sebesar 13,38%. Perbedaan kadar karbohidrat yang terkandung tidak
menunjukkan perbedaan yang sangat besar. Menurut Safitri (2010) menyatakan bahwa karbohidrat yang ada dalam produk perikanan banyak tidak mengandung
serat melainkan dalam bentuk glikogen, fruktosa, sukro, monosakarida, disakarida lainnya.
4.3 Berat Ekstrak
Ekstrak kasar hasil evaporasi dari pelarut yang berbeda memiliki
karakteristik dan berat yang berbeda, hal ini karena setiap senyawa mempunyai kemampuan dalam melarutkan senyawa-senyawa yang tergantung tingkat kepolarannya (Apriandi, 2011). Pelarut yang digunakan adalah pelarut heksana p.a golongan nonpolar, etil asetat p.a golongan semipolar, serta metanol p.a golongan polar. Ekstrak kasar rumput larut jenis Euchema spinosum dari pelarut heksana p.a memiliki warna kuning dan berbentuk pasta dengan berat ekstrak rata-rata sebesar 0,0180 gram. Pelarut etil asetat p.a memiliki karakteristik warna ekstrak berwarna coklat dan berbentuk pasta dengan berat ekstrak rata-rata sebesar 0,0405 gram, sedangkan pada metanol p.a warna ekstrak yang dihasilkan berwarna hijau dan berbentuk serbuk dengan berat ekstrak rata-rata sebesar 1,2604 gram. Perbedaan berat ekstrak dari masing-masing pelarut disajikan pada Gambar 11 dan untuk melihat perbedaan warna yang dihasilkan dapat dilihat pada Lampiran 6.
Gambar 11 menunjukkan bahwa berat ekstrak rata-rata yang tertinggi dari rumput laut jenis Euchema spinosum adalah pelarut metanol p.a, diikuti oleh pelarut etil asetat p.a dan kemudian pelarut heksana p.a. Berat ekstrak dari rumput laut dapat menduga sifat dari komponen bioaktif yang terkandung didalamnya. Komponen bioaktif yang terdapat pada rumput laut Euchema spinosum diduga bersifat polar terlihat dari berat ekstrak yang dihasilkan metanol p.a lebih tinggi dibandingkan dengan pelarut lainnya.
Gambar 11. Perbandingan Berat Ekstrak yang Dihasilkan dari Pelarut Heksana p.a, Pelarut Etil Asetat p.a, dan Metanol p.a
Metanol p.a bersifat polar dan berberat molekul rendah yang dapat membentuk ikatan hidrogen sehingga mudah bercampur dan larut dengan air sampai kelarutan yang tak terhingga (Hart, 1987 dalam Romansyah, 2011). Ikatan hidrogen yang mudah terbentuk pada larutan metanol p.a maka komponen bioaktif yang terdapat didalamnya mudah larut (Romansyah, 2011). Hasil ekstrak yang dihasilkan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain kondisi
alamiah senyawa tersebut, metode ekstraksi yang digunakan, ukuran partikel sampel, kondisi dan waktu penyimpanan serta perbandingan antara jumlah pelarut dan sampel (Harborne, 1987, Darusman et al., 1995, Rita et al., 2009 dalam
Sudirman, 2011).
4.4 Rendemen
Rendemen merupakan persentase perbandingan antara berat ekstrak kasar dengan berat sampel awal rumput laut. Rendemen yang dihasilkan dari masing-masing pelarut berbeda-beda. Perbandingan rendemen yang dihasilkan dari
0,0180 0,0405 1,2604 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4
Heksana Etil asetat Metanol
Ber at rata -rata eks trak (g ram ) Jenis larutan
pelarut heksana p.a, etil asetat p.a serta metanol p.a disajikan pada Gambar 12 serta perhitungan rendemen disajikan pada Lampiran 2
Gambar 12. Persentase Rendemen dari Pelarut Heksana p.a, Etil asetat p.a, dan Metanol p.a
Gambar 12 menunjukkan bahwa pelarut yang memiliki rendemen terbesar adalah pelarut metanol p.a, kemudian diikuti oleh etil asetat p.a, dan heksana p.a. Rendemen yang dihasilkan berkorelasi positif dengan berat ekstrak yang
dihasilkan oleh masing-masing pelarut. Semakin besar ekstrak yang dihasilkan maka rendemen yang dihasilkan juga akan semakin besar, sehingga komponen bioaktif yang dihasilkan juga semakin besar. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Safitri (2010) dan Andriyanti (2009) yang menunjukkan bahwa berat ekstrak yang dihasilkan besar maka rendemen yang dihasilkan besar pula. Metanol p.a memiliki persentase rendemen rata-rata sebesar 1,2604%, etil asetat p.a sebesar 0,1622% dan heksana p.a sebesar 0,0072%. Nurhayati et al. (2009) menyatakan nilai rendemen yang tinggi menunjukkan komponen bioaktif yang terkandung didalamnya juga tinggi. Rendemen yang dihasilkan rumput laut relatif sedikit. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
0,0072% 0,1622%
1,2604%
Heksana Etil asetat Metanol
Suryaningrum et al. (2006) yang menyatakan bahwa rendemen yang dihasilkan oleh rumput laut relatif sedikit. Hal ini diduga dengan ketebalan thallus yang dimiliki oleh rumput laut.
4.5 Aktivitas Antioksidan
Antioksidan merupakan senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya dengan cuma-cuma kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu fungsinya sama sekali dan dapat memutus reaksi berantai dari radikal bebas (Kumalaningsih, 2006). Uji aktivitas antioksidan dapat dilakukan dengan menggunakan metode DPPH. Metode ini dipilih karena sederhana, mudah, cepat dan peka serta hanya memerlukan sampel sedikit (Hanani et al.,
2005).
Larutan yang telah diencerkan dengan berbagai konsentrasi ditambahkan larutan DPPH. Aktivitas antioksidan dapat terlihat dari perubahan warna DPPH yaitu dari warna ungu berubah menjadi warna kuning pucat (Lampiran 6). Menurut Blois (1985) dalam Hanani et al. (2005) menyatakan bahwa senyawa antioksidan akan bereaksi dengan radikal DPPH melalui mekanisme donasi atom hidrogen dan menyebabkan terjadinya perubahan warna DPPH dari ungu menjadi ke kuning pucat yang telah diukur dengan panjang gelombang 517 nm.
Larutan yang telah diencerkan dengan berbagai konsentrasi menghasilkan nilai absorbansi yang berbeda sehingga menghasilkan persen inhibisi
(penghambatan ) yang berbeda pula. Persen (%) inhibisi merupakan kemampuan suatu bahan untuk meredam radikal yang berhubungan dengan konsentrasi suatu bahan. Perbandingan hasil persen inhibisi rata-rata dari masing-masing larutan disajikan pada Gambar 13 serta perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 5.
(a)
(b)
(c)
Gambar 13. Hubungan Antara Konsentrasi (ppm) dengan Persen (%) Inhibisi a)Pelarut Heksana p.a, b) Pelarut Etil Asetat p.a, dan
c) Pelarut Metanol p.a
R² = 0,959 0 5 10 15 20 0 500 1000 (%) inhi bi si Konsentrasi (ppm) R² = 0,992 0 10 20 30 40 50 60 0 5000 10000 (%) inhi bi si Konsentrasi R² = 0,962 0 5 10 15 0 500 1000 (%) inhi bi si Konsentrasi
Gambar 13 menunjukkan hubungan antara konsentrasi dengan persen (%) inhibisi yang dihasilkan. Gambar tersebut menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi maka akan semakin besar pula persen (%) inhibisi rata-rata yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hanani et al.
(2005) yang menyatakan bahwa persen (%) inhibisi akan meningkat seiring dengan konsentrasi. Larutan ekstrak heksana p.a yang diencerkan dengan berbagai konsentrasi yaitu 1000 ppm, 500 ppm, 250 ppm, serta 125 ppm. Persen (%) inhibisi rata-rata tertinggi terdapat pada larutan dengan konsentrasi 1000 ppm yaitu sebesar 14,55% dan terendah terdapat pada larutan yang berkonsentrasi 125 ppm yaitu sebesar 4,16%.
Pelarut etil asetat p.a dan metanol p.a menunjukkan hal yang serupa, yaitu persen (%) inhibisi rata-rata pelarut etil asetat p.a tertinggi terdapat pada larutan yang memiliki konsentrasi 10000 ppm yaitu sebesar 49,22% dan terendah pada larutan dengan konsentrasi 1250 ppm sebesar 13,76%. Pelarut metanol p.a larutan yang memiliki persen (%) inhibisi rata-rata tertinggi terdapat pada konsentrasi 1000 ppm yaitu sebesar 13,05% dan terendah pada larutan dengan konsentrasi 125 ppm yaitu sebesar 1,33 %.
Pembanding yang digunakan adalah vitamin C. Vitamin C telah diketahui berperan sebagai antioksidan yang kuat yang dapat melindungi sel dari agen penyebab kanker, dan secara khusus mempu meningkatkan daya setiap tubuh atas kalsium (mineral untuk pertumbuhan gigi dan tulang) serta zat besi dari bahan makanan (Godam, 2006 dalam Rachmawati et al., 2009). Vitamin C dibuat dengan stok 80 ppm yang kemudian diencerkan menjadi berbagai konsentrasi yaitu 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, dan 8 ppm. Persen inhibisi vitamin C disajikan pada
Gambar 14 dan perhitungan persen (%) inhibisi dapat dilihat pada Lampiran 5. Gambar 14 menunjukkan bahwa persentase inhibisi tertinggi terdapat pada konsentrasi pada 6 ppm sebesar 86,67% dan persen inhibisi terendah terdapat pada konsentrasi 2 ppm sebesar 42,22%.
Gambar 14. Konsentrasi Larutan Vitamin C dengan Persen (%) Inhibisi
Aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode DPPH dapat
diinterpretasikan dengan nilai IC50. Nilai IC50 (Inhibition Concentration 50 value) menurut Molyneux (2004) adalah konsentrasi ekstrak yang dapat menyebabkan berkurangnya 50% aktivitas DPPH. Nilai IC50 dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan regresi linear y = a + bx. Nilai IC50 dari pelarut heksana p.a, etil asetat p.a, dan metanol p.a berbeda-beda. Perbandingan nilai IC50
disajikan pada Gambar 15 dan perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 5. R² = 0,800 0 20 40 60 80 100 0 5 ((%) Inhi basi Konsentrasi (ppm)
Gambar 15. Perbandingan Nilai IC50 dari Pelarut Heksana p.a, Etil Asetat p.a, dan Metanol p.a
Gambar 15 menunjukkan perbandingan nilai IC50 dari masing-masing jenis pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda-beda. Pelarut metanol p.a memberikan ekstrak dengan nilai IC50 yang paling kecil dibandingkan dengan hasil dari pelarut lainnya yaitu sebesar 3351,60 ppm. Ekstrak dari pelarut heksana p.a mempunyai nilai IC50 sebesar 4199,54 ppm dan pelarut etil asetat p.a
mempunyai nilai IC50 yang terbesar yaitu 13153,33 ppm. Menurut Molyneux (2004) nilai IC50 yang rendah mengindikasikan aktivitas antioksidan yang tinggi. Perbandingan nilai IC50 pada ketiga jenis pelarut yang berbeda-beda menurut tingkat kepolarannya menunjukkan bahwa pelarut metanol p.a memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dibandingkan dengan pelarut heksana p.a serta etil asetat p.a. Hal ini diduga karena radikal bebas DPPH dapat larut dan memberikan aborbansi maksimum pada pelarut polar yaitu metanol.
Blois (1985) dalam Molyneux (2004) menyatakan bahwa aktivitas antioksidan dapat dibagi menjadi beberapa kategori yaitu sangat kuat, kuat, sedang dan lemah. Antioksidan sangat kuat memiliki nilai IC50 kurang dari 0,05
4199,54 13153,33 3351,60 1,94 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000
Heksana Etil asetat Metanol vit C
IC50
ppm
mg/ml ( <50 ppm ), antioksdian kuat memiliki nilai IC50 berada pada kisaran 0,05 – 0.1 mg/ml (50 ppm – 100 ppm) , antioksidan sedang memiliki nilai IC50 berkisar antara 0,1 – 0,15 mg/ml (100 ppm – 150 ppm) dan antioksidan lemah memiliki kisaran 0,15 ppm hingga 0,2 ppm (150 ppm – 200 ppm). Aktivitas antioksidan yang dihasilkan oleh rumput laut segar jenis Euchema spinosum tergolong sangat lemah karena memiliki nilai IC50 lebih dari 0,2 ppm ( >200 ppm). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Maulida (2007) dengan melakukan uji aktivitas antioksidan dari rumput laut jenis Caulerpa lentilifera, didapat nilai IC50 sebesar 5090,39 ppm. Penelitian yang dilakukan oleh Suryaningrum et al., (2006) mendapatkan hasil yang sama yaitu aktivitas antioksidan pada rumput laut jenis
Euchema cotonii dan Halymenia harveyana tergolong lemah. Berbeda jauh dengan nilai IC50 yang dimiliki vitamin C yaitu sebesar 1,94 ppm. Nilai IC50
tersebut dalam kategori Blois (1985) dalam Molyneux (2004) termasuk dalam kategori sangat kuat karena nilai IC50 < 0,05 mg/ml (<50 ppm).
Vitamin C memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dibandingkan dengan larutan lainnya. Hal ini diduga karena dalam melakukan pengujian aktivitas antioksidan masih menggunakan ekstrak kasar. Ekstrak kasar yang digunakan masih mengandung senyawa-senyawa lain yang bukan merupakan senyawa antioksidan. Senyawa lain ikut terekstrak dalam pelarut selama proses maserasi. Senyawa-senyawa yang larut dalam pelarut dapat meningkatkan persentase rendemen ekstrak, namun hal tersebut tidak dapat meningkatkan aktivitas antioksidan. Vitamin C merupakan senyawa murni yang diduga memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi (Safitri, 2010). Vitamin C merupakan fresh food
karena terbentuk dari glukosa (Sarfayani, 2007). Selain menggunakan vitamin C sebagai pembanding, perbandingan nilai IC50 biota uji lainnya dengan rumput laut
Euchema spinosum disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Nilai IC50 Biota Uji Lainnya
Biota Jenis Pelarut Sumber
Heksana p.a Etil asetat p.a Metanol p.a
Caulerpa lentilifera 91700 1015,92 356,12 Santoso (2010)
Cymodocea rotundata 5589,27 357,73 203,32 Anwariyah (2011) Comaster sp. - 2016,78 419,21 Safitri (2010) Discodoris sp. - - 1527 Andriyanti (2009) Sarcophyton 4172 3952,88 2926,43 Romansyah (2010) Euchema spinosum 4199,54 13153,33 3351,60
Tabel 2 menunjukkan bahwa masing-masing biota uji memiliki aktivitas antioksidan tertinggi pada pelarut metanol p.a. Namun, rumput laut jenis Euchema spinosum memiliki nilai IC50 pada pelarut metanol p.a lebih tinggi dibandingkan dengan biota uji lainnya. Hal ini membuktikan aktivitas antioksidan rumput laut
Euchema spinosum sangat lemah dibandingkan dengan biota uji lainnya. Nilai IC50 pada pelarut heksana p.a rumput laut Euchema spinosum relatif rendah dibandingkan dengan biota uji lainnya, sehingga pelarut heksana p.a memiliki aktivitas antioksidan relatif kuat. Namun, pada pelarut etil asetat p.a nilai IC50 rumput laut Euchema spinosum sangat tinggi. Aktivitas antioksidan rumput laut
Euchema spinosum pada pelarut etil asetat p.a tergolong sangat lemah jika dibandingkan dengan biota uji lainnya. Hal ini diduga kandungan senyawa alamiah dari masing-masing biota uji berbeda-beda.
Nilai IC50 terkecil serta persentase rendemen yang tertinggi rumput laut
yang terdapat di rumput laut Euchema spinosum didugabersifat polar. Hal ini sesuai dengan Harborne (1987) dalam Anwariyah (2011) yang menyatakan bahwa tumbuhan mngandung banyak fenol dan senyawa ini memiliki sifat yang
44
5.1 Kesimpulan
Rumput laut memiliki kandungan gizi yaitu kadar air sebesar 84,47%, kadar abu sebesar 6,12%, kadar lemak sebesar 0,39%, kadar protein 1,12% serta
karbohidrat sebesar 7,9%. Berat ekstrak dan rendemen tertinggi dihasilkan
pelarut metanol p.a. Berat ekstrak dan rendemen metanol p.a sebesar 1,2640% dan 1,2604%. Heksana p.a memiliki berat ekstrak dan rendemen sebesar 0,0180% dan 0,0072% sedangkan bobot ekstrak dan rendemen yang dihasilkan pelarut etil asetat p.a sebesar 0,0405% dan 0,1622%.
Nilai IC50 masing-masing pelarut yaitu pelarut heksana p.a sebesar 4199,54