3.1 PENGERTIAN
Tema yang diangkat pada Bandung Toys Centre ini adalah Cheerful, sebagaimana diketahui bahwa cheerful adalah:
Sesuatu yang membuat seseorang merasa gembira, suka hati. Sesuatu yang bersifat menyenangkan hati, menggembirakan hati. Cheering, cheery, happy, joyful.
Being full of having or showing good spirits.
Cheerful dalam hal ini adalah bangunan dengan konsep-konsep estetikanya yang membantu meningkatkan perasaan seseorang dengan segala persepsi terhadap lingkungan sekelilingnya.
3.2 INTERPRETASI TEMA
Tema yang diambil adalah cheerful, kesenangan yang diambil disini adalah perasaan kesejahteraan, karena seseorang dapat memiliki kesenangan tanpa menunjukan sukacita dan sebaliknya. Secara umum, suka cita merupakan respon dari tubuh atau pikiran yang menunjukan bahwa tindakan kita bermanfaat bagi kesehatan. Kesenangan dapat dicapai melalui banyak cara, seperti terlibat latihan fisik atau non fisik. Suka cita dapat didefinisikan sebagai sensasi atau perasaan yang positif, menyenangkan atau euphoria yang dalam bentuk alami terjadi ketika suatu kebutuhan terpenuhi oleh tubuh manusia.
Adapun penerapan Cheerful dalam bidang Arsitektur dapat berupa:
3.2.1 VISUAL
Cheerful disini dapat meliputi: a. Bentuk Ruang
Sebuah bentuk ruang dapat mempengaruhi perasaan seseorang.
Bentuk ruang yang menarik perhatian adalah bentuk-bentuk yang atraktif (meniru bentuk alam atau imajinasi) dan bentuk dinamis (bentuk dasar).
Menurut DK. Ching, secara psikologis manusia secara naluriah akan menyederhanakan lingkungan visualnya untuk memudahkan pemahaman. Semakin sederhana dan teraturnya suatu wujud, semakin mudah untuk diterima dan dimengerti. Ada beberapa bentuk dasar yang dipersepsi orang, yaitu:
Lingkaran
Sesuatu yang terpusat, berarah ke dalam dan pada umumnya bersifat stabil dan dengan sendirinya menjadi pusat dari lingkungannya. Penempatan sebuah lingkaran pada suatu bidang akan memperkuat sifat dasarnya sebagai poros.
Bujur Sangkar
Bujur sangkar menunjukan sesuatu yang murni dan rasional. Bentuk ini merupakan bentuk yang statis dan netral serta tidak memiliki arah tertentu.
Segitiga
Mempresentasikan stabilitas. b. Warna
Terbentuknya Warna
Secara objektif atau fisik, warna adalah sifat cahaya yang dipancarkan. Sementara secara subjektif atau psikologis, warna adalah sebagian dari pengalaman indra penglihatan. Warna-warni memiliki efek psikologis, kemampuan warna dalam menciptakan impresi mampu menimbulkan efek-efek tertentu. Efeknya berpengaruh terhadap pikiran, emosi tubuh, dan keseimbangan.
Menurut kejadiannya, warna dibagi menjadi dua, yaitu warna additive dan subtractive. Warna additive adalah warna yang berasal dari cahaya, biasa disebut spektrum. Warna pokok additive adalah merah, hijau, biru yang dalam komputer
disebut model warna RGB. Spektrum warna yang lengkap dapat dijumpai dalam warna-warna pelangi. Jika semua spektrum cahaya dicampur maka akan dihasilkan warna putih.
Warna subtractive adalah warna yang berasal dari bahan, atau biasa disebut pigmen. Warna pokok subtractive adalah sian, magenta, dan kuning yang dalam komputer disebut model warna CMY. Jika semua pigmen warna dicampur maka akan diperoleh warna coklat kehitaman.
Klasifikasi Warna
Teori Brewster pertama kali dikemukakan pada tahun 1831. Teori ini menyederhanakan warna-warna yang ada di alam menjadi empat klasifikasi warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral.
Gambar 3.1 Spectrum Warna, Sumber : dycalculator.com diunduh tanggal 16 oktober 2012
Gambar 3.2 Spectrum Warna, Sumber : schaerdz.blogspot.com diunduh tanggal 16 oktober 2012
Warna yang diklasifikasikan adalah warna yang berasal dari pigmen. Untuk lebih memudahkan pemahaman, Brewster membuat suatu pola warna yang berbentuk lingkaran. Selanjutnya lingkaran warna ini dikenal sebagai lingkaran warna Brewster.
a. Warna Primer
Warna primer merupakan warna dasar yang tidak dicampur dengan warna-warna lain. Pigmen warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah,
biru, dan kuning. b. Warna Sekunder
Warna sekunder merupakan hasil pencampuran dua warna primer dengan perbandingan 1:1. Warna yang didapatkan adalah jingga (campuran merah+kuning),
hijau (campuran kuning+biru) dan ungu (campuran warna
merah+biru). c. Warna Tersier
Warna tersier merupakan campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Sebagai contoh, warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga. Warna indigo
(biru keunguan) diperoleh dari pencampuran warna biru dan ungu. Warna turquois merupakan campuran warna biru dan hijau, dan seterusnya.
d. Warna Netral
Warna netral merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Hasil pencampuran pigmen warna yang tepat biasanya akan membentuk warna hitam.
Secara psikologis, warna dapat memengaruhi kelakuan. Sebagaimana diuraikan oleh J.Linschoten dan Drs. Mansyur, warna memegang peranan penting dalam penilaian estetis
dan turut menentukan suka tidaknya manusia akan bermacam-macam-macam benda. Dari pemahaman tersebut dapat dijelaskan bahwa warna, selain dapat dilihat dengan mata, ternyata mampu memengaruhi perilaku seseorang, memberikan kesan tertentu, dan turut menentukan suka tidaknya seseorang pada suatu benda.
Sejak warna diyakini memiliki efek-efek psikologis, pakar desain interior kemudian mengolah warna untuk diterapkan pada bangunan dan interior hunian, sekolah, rumah sakit, dan bangunan lainnya.
Penerapan warna pada komposisi secara psikis dapat berefek pada.
1. Memberi kesan tertentu pada ruang
2. Mempengaruhi dan mendorong kemauan kerja 3. Mendorong memusatkan perhatian
4. Mendorong kesenangan kerja 5. Membantu penerangan
6. Mempertinggi keselamatan kerja 7. Membantu orientasi kerja
8. Membantu aspek kebersihan
Dalam menciptakan suasana suatu ruangan, faktor warna dan bentuk merupakan penampilan pertama yang dapat dinikmati. Sebab kedua factor ini langsung berhubungan dengan penglihatan tanpa melalui proses penghayatan terlebih dahulu.
3.2.2 SENSORIK DAN MOTORIK
Kualitas sensorik dan motorik suatu tempat menjadi faktor utama dalam bagaimana tempat tersebut mempengaruhi kegiatan orang didalamnya. Hal-hal yang mempengaruhi sensorik seseorang dalam suatu ruang seperti:
a. Tekstur
Memberikan kesan komposisi yang paling serasi dalam suatu rancangan yang diinginkan.
b. Pencahayaan
Interaksi cahaya natural dengan semua elemen bangunan dapat membuat seseorang memahami perubahan intensitas cahaya dan bayangan yang ada pada waktu yang berbeda.
c. Estetika
Keindahan suatu tempat dapat memberikan kesan terhadap bangunan itu sendiri, keindahan tidak selalu bersifat dekoratif, namun juga bersifat lebih holistic seperti komposisi atau alur ruangan.
d. Hirarki Ruang
Hirarki harus teratur dengan jelas, membuat suatu alur dalam sebuah ruangan. Dimana ruang utama yang lebih luas identik dengan hirarki tertinggi, selain itu peralihan ruang-ruang lebih tertata dengan baik antara area yang bersifat publik ke area yang bersifat privat.
e. Pola Ruang
Menurut Geoffery H. Barker (1989) bentuk ruang yang mengalir adalah penggunaan bentuk-bentuk diagonal untuk kesan gerak yang kuat, seperti lingkaran, kotak dan segitiga.
f. Sirkulasi
Menurut D.K. Ching membagi pola sirkulasi berupa:
Sirkulasi linier berbelok-belok membangkitkan semangat seseorang
Sirkulasi tajam dan berbelok memberikan kesan aktif
Sirkulasi bercabang memberikan kemungkinan ruang bermain variatif
BAB IV
ANALISIS
4.1 ANALISIS FUNGSIONAL
4.1.1 PROGRAM KEGIATAN
Program kegiatan dapat diuraikan sebagai berikut: a. Kegiatan Utama : Kegiatan jual beli
Kegiatan jual-beli merupakan kegiatan utama dalam perancangan. Kegiatan ini meliputi kegiatan penjualan dengan fasilitas berupa retail.
b. Kegiatan Penunjang : Edukasi
Selain kegiatan jual-beli juga terdapat kegiatan edukasi berupa museum dan galeri mainan.
c. Kegiatan Pendukung
Kantor Pengelola, Toilet + Musholla, R. Laktasi, Parkir, Utilitas.
4.1.2 SIRKULASI RUANG
a. Sirkulasi Manusia
SKEMA KEGIATAN PENGUNJUNG
Datang >>> Parkir >>> Entrance >>> Mengenal Alur Sirkulasi >>> Langsung ketujuan / Berkeliling >>> Transaksi >>> Istirahat >>> Pulang
SKEMA KEGIATAN PENGELOLA
Datang >>> Parkir >>> Entrance >>> Kantor >>> Istirahat >>> Kantor >>>Parkir >>> Pulang
SKEMA KEGIATAN KARYAWAN
Datang >>>Parkir >>> Entrance >>> Retail >>>Istirahat >>> Retail >>> Parkir >>> Pulang
SKEMA KEGIATAN CLEANING SERVICE
Datang >>> Parkir >>> R. CS >>> Pembersihan Seluruh Area & Istirahat >>> Parkir >>> Pulang
SKEMA KEGIATAN SUPLIER
Datang >>> Parkir >>> Entrance (Parkir Khusus – Loading –
SKEMA KEGIATAN SECURITY
Datang >>> Parkir >>> R. Pos >>> Kontrol Seluruh Area >>> Istirahat >>> Parkir >>> Pulang
b. Sirkulasi Barang
4.2 ANALISIS KONDISI LINGKUNGAN
4.2.1 LAND USE
Lokasi tapak berada di Jl. Sumatra No. 50 Kelurahan Babakan Ciamis, kecamatan Sumur Bandung.
Termasuk dalam Kelurahan babakan Ciamis Kecamatan Sumur Bandung, wilayah pengembangan dengan peruntukan lahan pusat perdagangan dan hunian.
BARANG DATANG LOADING DOCK GUDANG BERSAMA ELEVATOR UNTUK DISTRIBUSI MENUJU RETAIL GUDANG RETAIL RETAIL
Gambar 4.1 Skema Sirkulasi Barang
Bentuk tapak persegi panjang yang diapit oleh dua jalan utama, yaitu Jl. Sumatera dan Jl. Aceh.
Lokasi tapak merupakan lahan kosong milik swasta dengan dikelilingi oleh perumahan penduduk, pertokoan, hotel, taman, dan kawasan tentara.
POTENSI
Lokasi tapak terletak dipusat kota yang mudah dijangkau. Adanya Hotel dan Taman yang dekat dengan lokasi tapak
Mudahnya sarana transportasi umum untuk menjangkau tapak baik oleh kendaraan umum maupun pribadi.
4.2.2 CIRCULATION AND PARKING
Akses menuju lokasi sangat mudah untuk dicapai, baik dengan kendaraan pribadi ataupun umum.
→ : Jalur satu arah => : Jalur dua arah Gambar 4.3 Land Use, sumber: data pribadi
Kalapa—Dago Antapani—Ciroyom St.Hall—Gedebage St.Hall—Sadang Serang
Parkir merupakan salah satu elemen penting yang harus ada, terutama pada kawasan komersil. Lahan parkir yang ada
terkesan dibuat sekenannya sehingga menyebabkan
kesemrawutan kawasan. Padahal pengaturan lahan parkir dapat membuat suatu kawasan menjadi lebih teratur.
POTENSI
Tapak dikelilingi 1 jalan primer (jl Merdeka) dan 2 jalan sekunder (jl. Aceh, jl. Sumatra)
Karakter jalan primer yaitu bentuk jalan lurus, panjang dan disertai pedestrian.
Semakin meningkatnya transportasi maka area parkir yang dibutuhkan semakin meningkat terutama di pusat-pusat kegiatan kota.
4.2.3 PEDESTRIAN WAYS
Gambar 4.5 Circulation and Parking, sumber: data pribadi
Untuk melindungi pejalan kaki dalam berlalu lintas maka pejalan kaki wajib berjalan pada bagian jalan dan menyebrang pada tempat penyebrangan yang telah disediakan.
Pedestrian pada jalan aceh masih terawat dengan baik, berbeda dengan pedestrian di jalan sumatera yang sama sekali tidak terawat.
POTENSI
Sudah adanya jalur pedestrian walau keadaannya masih kurang baik.
Jalur pedestrian sudah terlindungi oleh pepohonan guna untuk melindungi pejalan kaki.
4.2.4 OPEN SPACE AND VEGETATION
Ruang terbuka pada dasarnya merupakan suatu wilayah yang dapat menampung kegiatan aktivitas tertentu dari masyarakat baik secara individu ataupun berkelompok.
Ruang terbuka berada pada tapak itu sendiri sedangkan ruang hijau berupa Taman Lalu Lintas yang berada di seberang tapak. POTENSI
Adanya ruang terbuka hijau berupa hardspace dan softspace yang terdapat pada Taman Lalu Lintas.
Open space selalu berhubungan dengan lansekap, yang terdiri dari elemen keras dan elemen lunak.
Banyaknya vegetasi berupa pohon-pohon besar membantu kondisi tapak tidak begitu panas.
4.2.5 ACTIVITY SUPPORT
POTENSI
Sarana pendukung yang berada pada tapak diperuntukan sebagai area komersil, dengan fasilitas pendukungnya adalah Taman Lalu Lintas, Hotel dan Pertokoan.
4.2.6 BUILDING FORM AND MASSING
POTENSI
Perbedaan ketinggian bangunan dan bentuk bangunan serta warna dapat memberikan irama dan tanda bagi pertokoan dan perkantoran.
Gambar 4.8 Activity Support, sumber: data pribadi
Dapat menjadi perbedaan visual antara bangunan komersil dan bangunan milik pemerintah.
4.2.7 UTILITY
Jaringan utilitas secara mikro:
a. Pengendalian Banjir, masalah air hujan yang mengakibatkan banjir disebabkan oleh: topografi kawasan yang relatif datar, banyaknya kerusakan pada saluran drainase, menumpuknya sampah dan banyaknya limbah yang menghambat saluran air. b. Air dan Drainase, sistem pembuangan limbah pada kawasan
memakai sitem on site.
c. Pembuangan Sampah, minimnya sistem kebersihan dan persampahan karena banyaknya sampah yang menggenangi saluran air dan berserakan dibawah pohon.
d. Pembuangan Akhir, saluran pembuangan akhir sangat berperan penting dalam menentukan titik-titik utilitas. Oleh sebab itu, untuk menghindari air resapan dari air bersih sebaiknya mengetahui titik-titik pembuangan akhir pada tapak sehingga tidak terjadi kesalahan pada saat merancang sistem utilitas.
4.2.8 SUNPATH
POTENSI
Walaupun fasade utama menghadap kearah barat (saat matahari tenggelam), hal ini tidak masalah karena panas dapat teralihkan dengan banyaknya pepohonan besar yang berada di jalan sumatra.
4.2.9 VIEW AND NOISE
Lokasi tapak berada pada pertigaan jalan dan satu jalan kecil menuju lingkungan perumahan, dan juga banyaknya kendaraan yang melintas menyebabkan tingginya kebisingan yang terjadi. Kebisingan paling tinggi terdapat pada jalan sumatra (karena
jalan ini termasuk jalan satu arah dengan intensitas kendaraan yang lewat rendah).
Kebisingan tertinggi terdapat pada jalan aceh (karena jalan ini termasuk jalan dua arah dengan intensitas kendaraan yang lewat cukup tinggi).
Kebisingan minim terdapat pada jalan menuju pemukiman penduduk.
View yang paling baik adalah menghadap ke arah barat dengan view taman lalu lintas.
View cukup baik menghadap utara dengan view hotel.
4.2.10TOPOGRAPHY
Lokasi tapak ini cenderung datar dengan memiliki ketinggian +715,3 dari permukaan air laut.
4.3 PERMASALAHAN LOKASI TAPAK
Dari beberapa analisis tersebut diperoleh beberapa masalah, yaitu:
1. Kawasan Heritage
Lokasi tapak berada ditempat cagar budaya, sehingga tampak pada bangunan harus mengikuti tampak lingkungan sekitar.
Solusi : Beberapa detail pada tampak bangunan mengikuti contoh
tampak bangunan, sehingga ada pengulangan bentuk dalam seluruh tampak disekitar.
2. Perbedaan Kondisi Toko
Adanya perbedaan kondisi toko, sesuai dengan karekteristik umur, jenis kelamin dan jenis mainan itu sendiri.
Solusi: Toko yang akan dirancang disesuaikan dengan ekonomi para penyewa sekaligus penambahan sarana lain yang mampu mendukung para pengunjung.
3. Interior Toko
Pelayanan komersial harus menarik dan menampilkan view (show case) dalam tiap lantainya diharapkan memiliki view pada setiap lantai.
Solusi: setiap toko menghadap pada satu selasar yang cukup lebar.
4. Lokasi Tapak
Lokasi tapak yang menghadap barat menyebabkan tampak bangunan tersorot sinar matahari secara langsung.
Solusi : Lokasi tapak yang menghadap barat menyebabkan tampak
bangunan tersorot sinar matahari secara langsung.
5. Kemacetan
Kemacetan umumnya disebabkan karena angkutan umum yang mencari penumpang serta banyaknya pengunjung yang mendatangi Taman Lalu Lintas.
Solusi: Membuat drop off untuk pengunjung dengan baik tanpa
mengganggu aktifitas pengguna jalan.
6. Vegetasi
Kurangnya vegetasi diarea tapak membuat kondisi tapak terlihat panas, tidak sebanding dengan lingkungan tapak yang banyak vegetasi.
Solusi: Penambahan vegetasi tanpa mengurangi jumlah vegetasi yang