• Tidak ada hasil yang ditemukan

ELABORASI TEMA

Dalam dokumen Bandung Toys Centre Tema Cheerful (Halaman 32-48)

3.1 PENGERTIAN

Tema yang diangkat pada Bandung Toys Centre ini adalah Cheerful, sebagaimana diketahui bahwa cheerful adalah:

 Sesuatu yang membuat seseorang merasa gembira, suka hati.  Sesuatu yang bersifat menyenangkan hati, menggembirakan hati.  Cheering, cheery, happy, joyful.

Being full of having or showing good spirits.

Cheerful dalam hal ini adalah bangunan dengan konsep-konsep estetikanya yang membantu meningkatkan perasaan seseorang dengan segala persepsi terhadap lingkungan sekelilingnya.

3.2 INTERPRETASI TEMA

Tema yang diambil adalah cheerful, kesenangan yang diambil disini adalah perasaan kesejahteraan, karena seseorang dapat memiliki kesenangan tanpa menunjukan sukacita dan sebaliknya. Secara umum, suka cita merupakan respon dari tubuh atau pikiran yang menunjukan bahwa tindakan kita bermanfaat bagi kesehatan. Kesenangan dapat dicapai melalui banyak cara, seperti terlibat latihan fisik atau non fisik. Suka cita dapat didefinisikan sebagai sensasi atau perasaan yang positif, menyenangkan atau euphoria yang dalam bentuk alami terjadi ketika suatu kebutuhan terpenuhi oleh tubuh manusia.

Adapun penerapan Cheerful dalam bidang Arsitektur dapat berupa:

3.2.1 VISUAL

Cheerful disini dapat meliputi: a. Bentuk Ruang

 Sebuah bentuk ruang dapat mempengaruhi perasaan seseorang.

 Bentuk ruang yang menarik perhatian adalah bentuk-bentuk yang atraktif (meniru bentuk alam atau imajinasi) dan bentuk dinamis (bentuk dasar).

Menurut DK. Ching, secara psikologis manusia secara naluriah akan menyederhanakan lingkungan visualnya untuk memudahkan pemahaman. Semakin sederhana dan teraturnya suatu wujud, semakin mudah untuk diterima dan dimengerti. Ada beberapa bentuk dasar yang dipersepsi orang, yaitu:

 Lingkaran

Sesuatu yang terpusat, berarah ke dalam dan pada umumnya bersifat stabil dan dengan sendirinya menjadi pusat dari lingkungannya. Penempatan sebuah lingkaran pada suatu bidang akan memperkuat sifat dasarnya sebagai poros.

 Bujur Sangkar

Bujur sangkar menunjukan sesuatu yang murni dan rasional. Bentuk ini merupakan bentuk yang statis dan netral serta tidak memiliki arah tertentu.

 Segitiga

Mempresentasikan stabilitas. b. Warna

 Terbentuknya Warna

Secara objektif atau fisik, warna adalah sifat cahaya yang dipancarkan. Sementara secara subjektif atau psikologis, warna adalah sebagian dari pengalaman indra penglihatan. Warna-warni memiliki efek psikologis, kemampuan warna dalam menciptakan impresi mampu menimbulkan efek-efek tertentu. Efeknya berpengaruh terhadap pikiran, emosi tubuh, dan keseimbangan.

Menurut kejadiannya, warna dibagi menjadi dua, yaitu warna additive dan subtractive. Warna additive adalah warna yang berasal dari cahaya, biasa disebut spektrum. Warna pokok additive adalah merah, hijau, biru yang dalam komputer

disebut model warna RGB. Spektrum warna yang lengkap dapat dijumpai dalam warna-warna pelangi. Jika semua spektrum cahaya dicampur maka akan dihasilkan warna putih.

Warna subtractive adalah warna yang berasal dari bahan, atau biasa disebut pigmen. Warna pokok subtractive adalah sian, magenta, dan kuning yang dalam komputer disebut model warna CMY. Jika semua pigmen warna dicampur maka akan diperoleh warna coklat kehitaman.

 Klasifikasi Warna

Teori Brewster pertama kali dikemukakan pada tahun 1831. Teori ini menyederhanakan warna-warna yang ada di alam menjadi empat klasifikasi warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral.

Gambar 3.1 Spectrum Warna, Sumber : dycalculator.com diunduh tanggal 16 oktober 2012

Gambar 3.2 Spectrum Warna, Sumber : schaerdz.blogspot.com diunduh tanggal 16 oktober 2012

Warna yang diklasifikasikan adalah warna yang berasal dari pigmen. Untuk lebih memudahkan pemahaman, Brewster membuat suatu pola warna yang berbentuk lingkaran. Selanjutnya lingkaran warna ini dikenal sebagai lingkaran warna Brewster.

a. Warna Primer

Warna primer merupakan warna dasar yang tidak dicampur dengan warna-warna lain. Pigmen warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah,

biru, dan kuning. b. Warna Sekunder

Warna sekunder merupakan hasil pencampuran dua warna primer dengan perbandingan 1:1. Warna yang didapatkan adalah jingga (campuran merah+kuning),

hijau (campuran kuning+biru) dan ungu (campuran warna

merah+biru). c. Warna Tersier

Warna tersier merupakan campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Sebagai contoh, warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga. Warna indigo

(biru keunguan) diperoleh dari pencampuran warna biru dan ungu. Warna turquois merupakan campuran warna biru dan hijau, dan seterusnya.

d. Warna Netral

Warna netral merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Hasil pencampuran pigmen warna yang tepat biasanya akan membentuk warna hitam.

Secara psikologis, warna dapat memengaruhi kelakuan. Sebagaimana diuraikan oleh J.Linschoten dan Drs. Mansyur, warna memegang peranan penting dalam penilaian estetis

dan turut menentukan suka tidaknya manusia akan bermacam-macam-macam benda. Dari pemahaman tersebut dapat dijelaskan bahwa warna, selain dapat dilihat dengan mata, ternyata mampu memengaruhi perilaku seseorang, memberikan kesan tertentu, dan turut menentukan suka tidaknya seseorang pada suatu benda.

Sejak warna diyakini memiliki efek-efek psikologis, pakar desain interior kemudian mengolah warna untuk diterapkan pada bangunan dan interior hunian, sekolah, rumah sakit, dan bangunan lainnya.

Penerapan warna pada komposisi secara psikis dapat berefek pada.

1. Memberi kesan tertentu pada ruang

2. Mempengaruhi dan mendorong kemauan kerja 3. Mendorong memusatkan perhatian

4. Mendorong kesenangan kerja 5. Membantu penerangan

6. Mempertinggi keselamatan kerja 7. Membantu orientasi kerja

8. Membantu aspek kebersihan

Dalam menciptakan suasana suatu ruangan, faktor warna dan bentuk merupakan penampilan pertama yang dapat dinikmati. Sebab kedua factor ini langsung berhubungan dengan penglihatan tanpa melalui proses penghayatan terlebih dahulu.

3.2.2 SENSORIK DAN MOTORIK

Kualitas sensorik dan motorik suatu tempat menjadi faktor utama dalam bagaimana tempat tersebut mempengaruhi kegiatan orang didalamnya. Hal-hal yang mempengaruhi sensorik seseorang dalam suatu ruang seperti:

a. Tekstur

Memberikan kesan komposisi yang paling serasi dalam suatu rancangan yang diinginkan.

b. Pencahayaan

Interaksi cahaya natural dengan semua elemen bangunan dapat membuat seseorang memahami perubahan intensitas cahaya dan bayangan yang ada pada waktu yang berbeda.

c. Estetika

Keindahan suatu tempat dapat memberikan kesan terhadap bangunan itu sendiri, keindahan tidak selalu bersifat dekoratif, namun juga bersifat lebih holistic seperti komposisi atau alur ruangan.

d. Hirarki Ruang

Hirarki harus teratur dengan jelas, membuat suatu alur dalam sebuah ruangan. Dimana ruang utama yang lebih luas identik dengan hirarki tertinggi, selain itu peralihan ruang-ruang lebih tertata dengan baik antara area yang bersifat publik ke area yang bersifat privat.

e. Pola Ruang

Menurut Geoffery H. Barker (1989) bentuk ruang yang mengalir adalah penggunaan bentuk-bentuk diagonal untuk kesan gerak yang kuat, seperti lingkaran, kotak dan segitiga.

f. Sirkulasi

Menurut D.K. Ching membagi pola sirkulasi berupa:

 Sirkulasi linier berbelok-belok membangkitkan semangat seseorang

 Sirkulasi tajam dan berbelok memberikan kesan aktif

 Sirkulasi bercabang memberikan kemungkinan ruang bermain variatif

BAB IV

ANALISIS

4.1 ANALISIS FUNGSIONAL

4.1.1 PROGRAM KEGIATAN

Program kegiatan dapat diuraikan sebagai berikut: a. Kegiatan Utama : Kegiatan jual beli

Kegiatan jual-beli merupakan kegiatan utama dalam perancangan. Kegiatan ini meliputi kegiatan penjualan dengan fasilitas berupa retail.

b. Kegiatan Penunjang : Edukasi

Selain kegiatan jual-beli juga terdapat kegiatan edukasi berupa museum dan galeri mainan.

c. Kegiatan Pendukung

Kantor Pengelola, Toilet + Musholla, R. Laktasi, Parkir, Utilitas.

4.1.2 SIRKULASI RUANG

a. Sirkulasi Manusia

 SKEMA KEGIATAN PENGUNJUNG

Datang >>> Parkir >>> Entrance >>> Mengenal Alur Sirkulasi >>> Langsung ketujuan / Berkeliling >>> Transaksi >>> Istirahat >>> Pulang

 SKEMA KEGIATAN PENGELOLA

Datang >>> Parkir >>> Entrance >>> Kantor >>> Istirahat >>> Kantor >>>Parkir >>> Pulang

 SKEMA KEGIATAN KARYAWAN

Datang >>>Parkir >>> Entrance >>> Retail >>>Istirahat >>> Retail >>> Parkir >>> Pulang

 SKEMA KEGIATAN CLEANING SERVICE

Datang >>> Parkir >>> R. CS >>> Pembersihan Seluruh Area & Istirahat >>> Parkir >>> Pulang

 SKEMA KEGIATAN SUPLIER

Datang >>> Parkir >>> Entrance (Parkir Khusus – Loading

 SKEMA KEGIATAN SECURITY

Datang >>> Parkir >>> R. Pos >>> Kontrol Seluruh Area >>> Istirahat >>> Parkir >>> Pulang

b. Sirkulasi Barang

4.2 ANALISIS KONDISI LINGKUNGAN

4.2.1 LAND USE

 Lokasi tapak berada di Jl. Sumatra No. 50 Kelurahan Babakan Ciamis, kecamatan Sumur Bandung.

 Termasuk dalam Kelurahan babakan Ciamis Kecamatan Sumur Bandung, wilayah pengembangan dengan peruntukan lahan pusat perdagangan dan hunian.

BARANG DATANG LOADING DOCK GUDANG BERSAMA ELEVATOR UNTUK DISTRIBUSI MENUJU RETAIL GUDANG RETAIL RETAIL

Gambar 4.1 Skema Sirkulasi Barang

 Bentuk tapak persegi panjang yang diapit oleh dua jalan utama, yaitu Jl. Sumatera dan Jl. Aceh.

 Lokasi tapak merupakan lahan kosong milik swasta dengan dikelilingi oleh perumahan penduduk, pertokoan, hotel, taman, dan kawasan tentara.

POTENSI

 Lokasi tapak terletak dipusat kota yang mudah dijangkau.  Adanya Hotel dan Taman yang dekat dengan lokasi tapak

 Mudahnya sarana transportasi umum untuk menjangkau tapak baik oleh kendaraan umum maupun pribadi.

4.2.2 CIRCULATION AND PARKING

 Akses menuju lokasi sangat mudah untuk dicapai, baik dengan kendaraan pribadi ataupun umum.

→ : Jalur satu arah => : Jalur dua arah Gambar 4.3 Land Use, sumber: data pribadi

 Kalapa—Dago  Antapani—Ciroyom  St.Hall—Gedebage  St.Hall—Sadang Serang

 Parkir merupakan salah satu elemen penting yang harus ada, terutama pada kawasan komersil. Lahan parkir yang ada

terkesan dibuat sekenannya sehingga menyebabkan

kesemrawutan kawasan. Padahal pengaturan lahan parkir dapat membuat suatu kawasan menjadi lebih teratur.

POTENSI

 Tapak dikelilingi 1 jalan primer (jl Merdeka) dan 2 jalan sekunder (jl. Aceh, jl. Sumatra)

 Karakter jalan primer yaitu bentuk jalan lurus, panjang dan disertai pedestrian.

 Semakin meningkatnya transportasi maka area parkir yang dibutuhkan semakin meningkat terutama di pusat-pusat kegiatan kota.

4.2.3 PEDESTRIAN WAYS

Gambar 4.5 Circulation and Parking, sumber: data pribadi

 Untuk melindungi pejalan kaki dalam berlalu lintas maka pejalan kaki wajib berjalan pada bagian jalan dan menyebrang pada tempat penyebrangan yang telah disediakan.

 Pedestrian pada jalan aceh masih terawat dengan baik, berbeda dengan pedestrian di jalan sumatera yang sama sekali tidak terawat.

POTENSI

 Sudah adanya jalur pedestrian walau keadaannya masih kurang baik.

 Jalur pedestrian sudah terlindungi oleh pepohonan guna untuk melindungi pejalan kaki.

4.2.4 OPEN SPACE AND VEGETATION

 Ruang terbuka pada dasarnya merupakan suatu wilayah yang dapat menampung kegiatan aktivitas tertentu dari masyarakat baik secara individu ataupun berkelompok.

 Ruang terbuka berada pada tapak itu sendiri sedangkan ruang hijau berupa Taman Lalu Lintas yang berada di seberang tapak. POTENSI

 Adanya ruang terbuka hijau berupa hardspace dan softspace yang terdapat pada Taman Lalu Lintas.

 Open space selalu berhubungan dengan lansekap, yang terdiri dari elemen keras dan elemen lunak.

 Banyaknya vegetasi berupa pohon-pohon besar membantu kondisi tapak tidak begitu panas.

4.2.5 ACTIVITY SUPPORT

POTENSI

 Sarana pendukung yang berada pada tapak diperuntukan sebagai area komersil, dengan fasilitas pendukungnya adalah Taman Lalu Lintas, Hotel dan Pertokoan.

4.2.6 BUILDING FORM AND MASSING

POTENSI

 Perbedaan ketinggian bangunan dan bentuk bangunan serta warna dapat memberikan irama dan tanda bagi pertokoan dan perkantoran.

Gambar 4.8 Activity Support, sumber: data pribadi

 Dapat menjadi perbedaan visual antara bangunan komersil dan bangunan milik pemerintah.

4.2.7 UTILITY

Jaringan utilitas secara mikro:

a. Pengendalian Banjir, masalah air hujan yang mengakibatkan banjir disebabkan oleh: topografi kawasan yang relatif datar, banyaknya kerusakan pada saluran drainase, menumpuknya sampah dan banyaknya limbah yang menghambat saluran air. b. Air dan Drainase, sistem pembuangan limbah pada kawasan

memakai sitem on site.

c. Pembuangan Sampah, minimnya sistem kebersihan dan persampahan karena banyaknya sampah yang menggenangi saluran air dan berserakan dibawah pohon.

d. Pembuangan Akhir, saluran pembuangan akhir sangat berperan penting dalam menentukan titik-titik utilitas. Oleh sebab itu, untuk menghindari air resapan dari air bersih sebaiknya mengetahui titik-titik pembuangan akhir pada tapak sehingga tidak terjadi kesalahan pada saat merancang sistem utilitas.

4.2.8 SUNPATH

POTENSI

 Walaupun fasade utama menghadap kearah barat (saat matahari tenggelam), hal ini tidak masalah karena panas dapat teralihkan dengan banyaknya pepohonan besar yang berada di jalan sumatra.

4.2.9 VIEW AND NOISE

 Lokasi tapak berada pada pertigaan jalan dan satu jalan kecil menuju lingkungan perumahan, dan juga banyaknya kendaraan yang melintas menyebabkan tingginya kebisingan yang terjadi.  Kebisingan paling tinggi terdapat pada jalan sumatra (karena

jalan ini termasuk jalan satu arah dengan intensitas kendaraan yang lewat rendah).

 Kebisingan tertinggi terdapat pada jalan aceh (karena jalan ini termasuk jalan dua arah dengan intensitas kendaraan yang lewat cukup tinggi).

 Kebisingan minim terdapat pada jalan menuju pemukiman penduduk.

 View yang paling baik adalah menghadap ke arah barat dengan view taman lalu lintas.

 View cukup baik menghadap utara dengan view hotel.

4.2.10TOPOGRAPHY

 Lokasi tapak ini cenderung datar dengan memiliki ketinggian +715,3 dari permukaan air laut.

4.3 PERMASALAHAN LOKASI TAPAK

Dari beberapa analisis tersebut diperoleh beberapa masalah, yaitu:

1. Kawasan Heritage

Lokasi tapak berada ditempat cagar budaya, sehingga tampak pada bangunan harus mengikuti tampak lingkungan sekitar.

Solusi : Beberapa detail pada tampak bangunan mengikuti contoh

tampak bangunan, sehingga ada pengulangan bentuk dalam seluruh tampak disekitar.

2. Perbedaan Kondisi Toko

Adanya perbedaan kondisi toko, sesuai dengan karekteristik umur, jenis kelamin dan jenis mainan itu sendiri.

Solusi: Toko yang akan dirancang disesuaikan dengan ekonomi para penyewa sekaligus penambahan sarana lain yang mampu mendukung para pengunjung.

3. Interior Toko

Pelayanan komersial harus menarik dan menampilkan view (show case) dalam tiap lantainya diharapkan memiliki view pada setiap lantai.

Solusi: setiap toko menghadap pada satu selasar yang cukup lebar.

4. Lokasi Tapak

Lokasi tapak yang menghadap barat menyebabkan tampak bangunan tersorot sinar matahari secara langsung.

Solusi : Lokasi tapak yang menghadap barat menyebabkan tampak

bangunan tersorot sinar matahari secara langsung.

5. Kemacetan

Kemacetan umumnya disebabkan karena angkutan umum yang mencari penumpang serta banyaknya pengunjung yang mendatangi Taman Lalu Lintas.

Solusi: Membuat drop off untuk pengunjung dengan baik tanpa

mengganggu aktifitas pengguna jalan.

6. Vegetasi

Kurangnya vegetasi diarea tapak membuat kondisi tapak terlihat panas, tidak sebanding dengan lingkungan tapak yang banyak vegetasi.

Solusi: Penambahan vegetasi tanpa mengurangi jumlah vegetasi yang

BAB V

Dalam dokumen Bandung Toys Centre Tema Cheerful (Halaman 32-48)

Dokumen terkait