• Tidak ada hasil yang ditemukan

Elaborasi Tema

Dalam dokumen Hotel Bisnis Dolok Sanggul (Halaman 34-51)

14 Parkir Mobil Memarkir mobil

2.4 Elaborasi Tema

Pendekatan tema perancangan bangunan hotel bisnis bintang 3 Doloksanggul adalah sustainable architecture dimana isu mengnai pemanasan global yang semakin parah, sehingga pembangunan di berbagai tempat di tuntut agar memperhatikan ekosistem dan lingkungan sekitar.

2.4.1 Pengertian sustainable

Pembanguna berkelanjutan (sustainable development) adalah suatu gabungan dari berbagai disiplin ilmu yang bertanggung jawab dimana berkaitan dengan model tiga kolom yang setara untuk berkelanjutan pada lingkungan social dan ekonomi. Dalam pembangunan berkelanjutan , sustainable development berintegrasi pada :

1) Environment sustainability 2) Economic sustainability 3) Social sustainability

Berikut ini dapat dilihat bagaimana hubungan dari lingkungan, ekonomi dan social akan menghasilkan suatu keseimbnagan dimana tercapainya suatu kehidupan yang sejahtera.

( Diagram 1.2 ) Merupakan Pokok – pokok dari proses dimana bangunan mengurangi pengguaan sumber daya alam, dan pengurangan polusi dan dampak lingkungan lainnya. Dalam kebijaksanaannya,

sustainable development berlandas pada :

1) Pengolahan energy dan sumber air yang efisien 2) Perlindungan terhadap kualitas lingkungan

3) Perlindungan terhadap kualitas kesehatan manusia

Defenisi pembangunan sustainable bersumber dari berbagai pemikiran – pemikiran dalam upaya menopang ide ekologi global agar dapat direalisasikan dengan penuh tanggung jawab secara

ekologi,ekonomi dan etika, sebagai bagian dari ukuran alam yang berevolusi agar dapat memenuhi kebutuhan manusia saat ini dan masa yang akan datang.

Jika dilihat lebih rinci , pengertian sustainable berasal dari kata sustain yang merupakan suatu kemampuan untuk bertahan agar

tercapainya keseimbangan. Sedangkan pembangunan adalah esensial untuk pemenuhan kebutuhan manusia dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Jadi , sustainable development merupakan suatu pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan generasi saat ini tetapi tidak mengesampingkan kemampuan generasi mendatang untuk

memenuhi kebutuhannya, yaitu dengan berlandaskan pada efisiensi dan penggunaan lingkungan yang bertanggung jawab dari seluruh sumber daya masyarakat yang langka baik alam, manusia, dan sumber daya ekonomi.

1. Kebutuhan akan Sustainable Architecture

Dalam Industri bangunan, yang merupakan salah satu faktor terbesar di dunia, desain, kontruksi maupun perawatannya memiliki pengaruh besar bagi masyarakat dan juga lingkungannya. Industri tersebut

juga mempengaruhi akan segala aspek seperti sumber air, kualitas udara, limbah juga pola tranportasinya. Menurut Integrated

Waste Management Board CA, konsumsi sebuah bangunan itu biasanya menghabiskan:

1) 40% dari energi terpakai diseluruh dunia 2) 25% dari pemotongan kayu

3) 16% dari pemakaian air bersih

4) 50% dari pengrusakan ozon berhubung CFC masih dipakai 5) 30% dari konsumsi bahan mentah

6) 35% dari buangan co2 dunia

7) 40% dari sampah padat yang ditujukan untuk menguruk lahan

Dari data diatas dapat dipertimbangkan untuk menggunakan bahan-bahan daur ulang sebagai bahan-bahan bangunan yang sangat wajar untuk dipikirkan, namun ada suatu masalah baru yang timbul yaitu meningkatnya pemakaian energi untuk mengumpulkan dan memproses bahan-bahan daur ulang tersebut. Yang menjadi pertimbangan lainnya yaitu dimana belum adanya teknologi yang ramah akan lingkungan yang dapat mengolah bahan-bahan daur ulang tersebut atau bahan-bahan yang diperoleh dari alam malah lebih membutuhkan energi dan biaya yang lebih sedikit dari pada harus mengolah bahan daur ulang yang ada.

2. Keuntungan akan Sustainable Architecture

Keuntungan dengan menerapkan Sustainable Architecture yaitu : 1) Mengurangi biaya operasi Pengurangan biaya operasi dipengaruhi

oleh efisiensi energi, efisiensi air, pengrangan sampah kontruksi. 2) Mengurangi biaya pokok

3) Mengekspansi jangka waktu dan mendapat keuntungan infestasi 4) Meningkatkan produktifitas dan kesehatan manusia

Sustainable Architecture seharusnya tidak hanya menjadi trend bagi arsitek-arsitek pada saat ini karena dengan melihat kegunaan, keuntungan juga dampak dari karya seorang arsitek yang tidak mendalami Sustainable secara mendalam sangatlah besar. Maka saya mengambil kesimpulan apabila sebuah karya dari seorang arsitek dapat dikatakan Sustainable Architecture apabila bangunan atau karya tersebut mampu memberikan kenyamanan dan manfaat bagi pengguna, masyarakat sekitar, unsur unsur alam, energi dan segala aspek yang dilihat secara global.

3. Bangunan Hemat Energi

Tujuan bangunan hemat energi adalah:

a) Menghemat biaya operasional dan perawatan.

b) Mengurangi tingkat ketergantungan energi dan beban penggunaan energi yang harus disuplai oleh institusi pembangkit listrik, yaitu PLN. c) Mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca.

Syarat – syarat bangunan hemat energy :

Menurut SNI 03-6389-2000, bangunan dikatakan hemat energi apabila nilai OTTV (Overall Thermal Transfer Value) dan RTTV (Roof Thermal Transfer Value) tidak melebihi 45 Watt/meter². Adapun rumus untuk menghitung nilai OTTV adalah:

OTTV = a.[(Uw x (1 – WWR)] x TDEk + (SC x WWR x SF) + (Uf x WWR x DT)

OOTTVi = (Ao1 : 0TTV) + (Ao2. 0TTV2)+ … + (Ao1. 0TTVi) Ao1 + Ao2 + … + A0i

dimana:

OTTV = nilai perpindahan termal menyeluruh pada dinding luar yang memiliki arah atau orientasi tertentu (Watt/m2)

a = absorbtansi radiasi matahari

Uw = transmitansi termal dinding tak tembus cahaya (Watt/m2.K)

WWR = perbandingan luas jendela dengan luas seluruh dinding luar pada orientasi yang ditentukan

TDEk = beda temperatur ekuivalen (K)

SC = koefisien peneduh dari sistem fenestrasi SF = faktor radiasi matahari (W/m2)

Uf = transmitansi termal fenestrasi (W/m2.K)

DT = beda temperatur perencanaan antara bagian luar dan bagian dalam (diambil 5K)

RTTV = a (Ar x Ur x TDek) + (As x Us x DT) + (As x SC x SF) / Ao

dimana :

RTTV = nilai perpindahan termal menyeluruh pada atap (Watt/m2) a = absorbtansi radiasi matahari

Ur = transmitansi termal atap tak tembus cahaya (Watt/m2.K) Ar = luas atap yang tidak tembus cahaya (m2)

As = luas skylight (m2)

TDEk = beda temperatur ekuivalen (K)

SC = koefisien peneduh dari sistem fenestrasi SF = faktor radiasi matahari (W/m2)

DT = beda temperatur perencanaan antara bagian luar dan bagian dalam (diambil 5K)

Kriteria OTTV untuk dinding fasad diatas dapat dipergunakan sebagai tolak ukur efisiensi energi pada bangunan tinggi. Penelitian mengindikasikan bahwa semakin tinggi nilai OTTV, semakin besar pula penggunaan energi yang diperlukan oleh sistim tata udara (pendinginan) pada bangunan tersebut. Disini diperlukan peran para perancang bangunan untuk menampilkan komposisi material masif maupun transparan, warna, tekstur dengan karakter termalnya masing masing, silhoute terang dan gelap, pembayangan dan ratio kaca-dinding untuk memenuhi kriteria tersebut disamping pertimbangan pertimbangan estetika umumnya.

4. Sistem LEED-NC (Leadership in Energy and Environmental Design-New Construction)

Sumber-sumber yang dibutuhkan untuk menciptakan,

mengoperasikan, dan mengisi ulang level infrastruktur/bangunan adalah sangat besar. Akan tetapi sumber-sumber yang tersedia untuk kegiatan tersebut semakin berkurang, untuk tetap kompetitif dan terus mendapat keuntungan di masa depan maka sebuah bangunan harus mengetahui konsekuensi baik lingkungan, sosial maupun dampak ekonomi dari bangunan tersebut. Penerapan konsep sustainable berdasarkan LEED pada bangunan dimana merupakan panduan dan kriteria sistem green building (bangunan yang ramah lingkungan), faktorfaktor tersebut diantaranya efisiensi air dan kualitas lingkungan di dalam ruangan.

a) Pemanfaatan air hujan

Pemanfaatan air hujan dimaksudkan agar air hujan dapat kembali ke tanah (tidak terjadi erosi) ataupun digunakan untuk keperluan tertentu. Tabel berikut ( Tabel 3.8 ) merupakan penjelasan mengenai tujuan pemanfaatan air hujan, persyaratan yang memenuhi LEED, dan strategi yang dapat dilakukan adalah:

Tujuan Untuk mengurangi gangguan hidrologi alami dengan mengurangi penutup tanah, dan aliran air hujan yang terkontaminasi.

Persyaratan LEED

 Kriteria LEED

Menerapakan strategi perencanaan pengawasan kuantitas air hujan area yang mendapat limpasan air hujan erosi.

 Penerapan pada site

Air hujan dimanfaatkan untuk keperluan toilet (flushing) dan irigasi

Tabel 3.8 Tujuan dan persyaratan LEED mengenai pemanfaatan air hujan

b) Efisiensi air

Mengenai tujuan efisiensi air khususnya pada lansekap, dapat dilihat pada tabel berikut ( Tabel 3.1 ) sesuai dngan persyaratan LEED yaitu :

Tujuan Untuk membatasi atau mengeliminasi paenggunaan air bersih pada lansekap yaitu keperluan irigasi

Persyaratan LEED

a) Kriteria LEED

Mengurang penggunaan air bersih untuk keperluan air bersih sebagai keperluan spesies tanaman, irigasidengan menggunakan air hujan, air daur ulang kotor.

b) Penerapan pada site

Menerapkan system daur ulang air kotor dan air hujan untuk keperluan irigasi dan tanaman laiinya.

Tabel 3.9 Tujuan dan persyaratan LEED mengenai efisiensi air pada lansekap

pada ( Tabel 3.9) menjelaskan bagaimana manfaat dari efisiensi air bagi kebutuhan masa kini dan masa yang akan datang sebagai upaya untuk menghemat penggunaan air secara berlebih di masa – masa yang akan datang berikutnya.

Berikut merupakan gambar ilustrasi dari penggunaan kembali air kotor dari air mandi dan air cuci ( Gambar 3.6 ) untuk di daur ulang pada treatment area (Gambar 3.7 ),sehingga dapat digunakan kembali untuk keperluan irigasi dan penyiraman pada toilet (flushing).

Gambar 3.6 Illustrasi pendauran ulang air kotor

Berikut skema penerapan system daur ulang air adalah :

Diagram 1.3 Penerapan system daur ulang

Air buangan didaur ulang agar dapat digunakan kembali untuk kebutuhan tertentu merupakan cara yang sangat efisien, karena selain dapat menghemat tagihan air dari segi ekonomi, dapat juga memberi dampak positif terhadap ekosistem di dalam tanah ( Diagram 1.3 ) .

Berikut penjelasan mengenai tujuan pengurangan kebutuhan air dimana dapat mengefisiensikan pasokan air terhadap bangunan,

persyaratan yang memenuhi LEED, dan Strategi yang dilakukan adalah ( Tabel 3.3) :

Air hujan Air mandi

Air hujan

Penampungan air

Irigasi Keperluan ruang

luar

Tujuan Memaksimalkan efisiensi air dalam bangunan untuk mengurangi pasokan air dar pemerintah lokal baik untuk kebutuhan air minum maupun air buangan. Persyaratan

LEED

c) Kriteria LEED

Menggunakan strategi dimana pengurangan penggunaan air pada lansekap air kloset, urinoir, lavatory faucet shower dan wastafel.

d) Penerapan pada bangunan

a. Penggunaan elemen dimana mempunyai tingkat efisiensi yang tinggi, misalnya pemisahan tombol untuk air buangan pada kloset.

b. Penggunaan synthetic grass pada area tertentu.

Syntetic grass merupakan rumput buatan untuk meningkatkan efisiensi air pada lansekap,maka area rumput alami diganti dengan synthetic grass.

2.4.2 Interpretasi Tema

Penerapan sustainable arsitektur pada perancangan hotel bisnis bintang 3 Dolok Sanggul akan di interpretasikan melalui system

pemanfaatan energy secara alami terhadap sirkulasi udara,pencahayaan serta pemanfaatan cahaya matahari sebagai kebutuhan sehari – hari pada bangunan. Bangunan ini sendiri memiliki vegetasi secara horizontal yang berada pada beberapa bagian bangunan untuk meningkatkan nilai ekologi terhadap lingkungan. Penerapan lain yang di ambil pada

bangunan ialah gaya bangunan sekitar perancangan yang tidak terlepas dari kebudayaan sekitar seperti penggunaan gaya atap yang mengacu pada rumah tradisional batak toba ( Gambar 3.8 ).

Gambar 3.8 Rumah Adat Batak Toba

2.4.3 Keterkaitan tema dengan judul

Tema yang diangkat dalam perancangan hotel bisnis bintang 3 Dolok Sanggul adalah tema sustainable arsitektur. Hal ini disebabkan karena Kabupaten Humbang Hasundutan merupakan kawasan dengan nilai ekologi dan kealamian nya masih sangat terjaga sehingga sangat bermanfaat apabila kealamian tersebut di pergunakan terhadap banguna serta menjaga kealamian tersebut tetap terjaga. Selain itu kabupaten Humbang Hasundutan merupakan salah satu kawasan geopark kaldera danau toba, oleh karena itu kawasan ini sangat cocok pengolahannya secara sustainable ( berkelanjutan ) apabila ingin keadaan lingkungan tetap

terjaga. Melalui tema sustainable arsitektur ini, diharapkan dapat memberikan sebuah hotel bisnis yang sesuai dengan upaya untuk menjaga kestabilan lingkungan sekitar,tanpa harus memberikan dampak pemanasan global.

2.4.4 Studi banding tema sejenis 1. EDITT TOWER

Gambar 3.9 EDITT Tower

EDITT Tower ( Gambar 3.9 ) berlokasikan di waterlii junction, Singapore dengan jumlah lantainya 26 lantai dan luas lahan adalah sekitar 838 m 2 merupakan sebuah bangunan tinggi multi fungsi dengan pendekatan ekologis, sebagai bangunan untuk pameran yang bergabung denga auditorium, retail , dan fungsi perkantoran , tetapi bangunan tersebut memiliki potensial metamorphosis menjadi tower dimana semua area adalah perkantoran, ataupun sebagai fungsi apartemen.

Terletak dilahan “zero culture” yaitu site dimana urban ekosistemnya mengalami kerusakan dengan tidak tersisa lagi tanah, flora, dan fauna. Desain ini memecahkan masalah tersebut dengan menggunakan fasade banguna yang hamper di penuhi sluruhnya oleh vegetasi dengan konsep landscape ram yang bergerak dari lantai dasar hingga ke puncak tower.

Gambar 4.1 Lanscape Ram Gambar 4.2 vegetasi horizontal

Area vegetasi yang ditanami hampir sama dengan sekitar setengah dari luas area kasar tower total (gambar 4.2). Pemilihan tanaman melalui survey terhadap ekologi lokal dan menggunakan spesies lokal. Vegetasi – vegetasi ini juga berfungsi sebagai pendingin fasade melalui evapotranspirasi. Landscape ramp yang ditanami dengan vegetasi sampai ke puncak memperlihatkan landscape vertical pada bangunan (gambar 4.1). Terdapat sebuah system yang membuat pengumpulan air tersebut jatuh pada fasad bangunan yang berbentuk seperti cangkang kerang. System daur ulang air kotor yang jatuh pada sisi – sisi bangunan dengan menggunakan proses penyaringan melalui tanah pada lansekap vertical tersebut. System pengairan EDITT Tower dapat dilihat pada gambar di bawah ini ( Gambar 4.3 ) :

Gambar 4.3 Skema pengolahan air

Air yang disaring di kumpul di tanki penyimpanan basemen, dan di pompa ke tangka penyimpanan di lantai atas untuk penggunaan kembali .

penggunaan kembali

Bangunan dapat menyediakan 55% dari penggunaan air terhadap bangunan (pada saat musim hujan) system daur ulang zat padat juga dideskripsikan dengan memisahkan kertas, aluminium , kaca, dan sampah yaitu pembagian sisa buangan yang di jatuhkan dari lantai atas sampai pada lantai basement.

Air hujan Tanki rooftop Tanki 1 Proses filter

Tanki basemen Pompa

Gambar 4.4 Proses pengolahan sampah

cara kerjanya yaitu material yang bisa di daurulang dipisahkan pada tiap – tiap lantai jatuh kebawah menuju pemisah material yang terletak di basement ( Gambar 4.4 ), kemudian akan di bawa ke tempat lain oleh system drop – down ini kepada landasan waste – separators kemudian di tempat lain oleh penyimpan sampah untuk di daur ulang.

Bangunan ini juga menggunakan photovoltaic sebagai penangkap cahaya matahari untuk kemudian di ubah menjadi energy listrik sebagai kebutuhan sehari – hari pada bangunan.

Gambar 4.5 Proses pengolahan cahaya matahari

Pemanfaatan cahaya matahari ( Gambar 4.5 ) ini sangat berguna dalam menghemat energy dalam bangunan untuk memenuhi syarat pengefesiensian energy terhadap bangunan tersebut.

2. Hotel Park Royal Singapura

Gambar 4.6 Hotel Park Royal

Hotel Park Royal ( Gambar 4.6 ) terletak di sebelah barat distrik pusat bisnis Singapura dan terhubung dengan distrik pusat perbelanjaan bersejarah dan sungai serta taman Singapura. Gedung dengan 12 lantai ini dilengkapi dengan berbagai aspek hemat energi, seperti penggunaan pencahayaan otomatis, sensor gerak dan hujan, penampungan air hujan dan mekanisme daur ulang.

Park Royal hotel di singapura di konsep oleh WOHA Architect yang di desain dengan mengacu pada industry gedung hijau penghematan energy dan air.

Karakteristik lainnya dari bangunan ini yang mengacu pada desain berkelanjutan antara lain :

a) Terdapat vegetasi (menggunakan penghijauan vertikal untuk menggantikan

penghijauan yang telah hilang), pada bangunan yang mengelilingi gedung

dan Nampak berlapis lapis ( Gambar 4.7 ), Dedaunan dari tanaman yang ada di sekitar gedung bekerja menyerap panas dan menjaga dinding tetap sejuk. (Gambar 4.8 )

Gambar 4.8 vegetasi Hotel Royal Park Singapura

b) Bangunan ini menerapkan konsep ramah lingkungan seperti penggunaan solar panel sebagai energi , system pendingin ruangan yang hemat energy,ventilasi dan pencahayaan secara alami,penggunaan cahaya matahari yang maksimal,serta penggunaan , kaca berteknologi tinggi yang dapat mengurangi paparan sinar matahari dan menggunakan teknologi Cobiax (tekonologi yang menggunakan ‘pengisi kekosongan’ yang terbuat dari plastik daur ulang untuk mengurangi penggunaan beton).

c) Menggunakan penampungan air hujan dengan menggunakan tangki pengumpul ‘greywater’ sebagai sebagai wadah untuk mengairi seluruh tanaman dengan system irigasi dan di dorong oleh gravitasi.

Baca selengkapnya

Dalam dokumen Hotel Bisnis Dolok Sanggul (Halaman 34-51)

Dokumen terkait