V. PENGARUH KEBIJAKAN SUBSIDI BERAS MISKIN DAN BANTUAN
5.2. Elastisitas Harga
Elastisitas harga merupakan bentuk respon dari individu atau rumah tangga di dalam melakukan aktivitas ekonomi berupa konsumsi suatu barang ketika terjadi kenaikan harga barang tersebut. Perubahan harga suatu barang mempunyai dua efek, yaitu efek substitusi dan efek pendapatan. Efek substitusi adalah perubahan dalam mengkonsumsi suatu barang akibat perubahan harga barang tersebut atau barang lain, dimana tingkat utilitasnya adalah konstan. Efek pendapatan terjadi karena perubahan harga suatu barang menyebabkan perubahan dalam kekuatan daya belinya. Untuk barang normal, efek pendapatan berdampak positif terhadap barang yang dikonsumsi, sebaliknya untuk barang inferior berdampak negatif.
5.2.1. Elastisitas Harga Sendiri
Tabel 5.2. memperlihatkan besaran elatisitas harga sendiri untuk beberapa kelompok komoditi pada rumah tangga miskin di Jawa secara total, menurut daerah dan pendidikan kepala rumah tangga. Berdasarkan tanda besaran elastisitas, sebagian besar nilai elastisitas harga sendiri bertanda negatif, yang berarti peningkatan harga barang mengakibatkan turunnya permintaan barang tersebut atau turunnya harga barang meningkatkan permintaan barang tersebut.
Secara agregat wilayah Jawa, sebagian besar elastisitas harga sendiri kelompok komoditi yang dianalisis nilainya kurang dari satu atau bersifat
inelastis, artinya bahwa persentase perubahan harga lebih tinggi dibandingkan persentase perubahan permintaan. Namun pada kelompok komoditi makanan lainnya dan telekomunikasi nilai besaran elastisitasnya lebih dari satu atau bersifat elastis, yaitu persentase perubahan harga lebih rendah dibandingkan perubahan permintaan, artinya kenaikan harga makanan lainnya dan harga telekomunikasi menyebabkan penurunan permintaan kelompok komoditi makanan lainnya dan telekomunikasi tersebut lebih besar dari perubahan harganya.
Tabel 5.2. Elastisitas Harga Sendiri Beberapa Komoditi pada Rumah tangga Miskin Berdasarkan Wilayah dan Pendidikan KRT di Pulau Jawa Tahun 2008-2010
Kelompok Komoditi Total Wilayah Pendidikan KRT Kota Desa ≤ SD > SD Makanan pokok -0,931 -0,921 -0,935 -0,932 -0,916 Lauk-pauk -0,854 -0,852 -0,854 -0,853 -0,855 Rokok -0,963 -0,969 -0,959 -0,963 -0,960 Makanan lainnya -1,030 -1,030 -1,029 -1,030 -1,031 Telekomunikasi -1,705 -1,548 -1,871 -1,800 -1,411 Pendidikan -0,526 -0,581 -0,487 -0,498 -0,655 Non makanan lainnya -0,763 -0,768 -0,761 -0,763 -0,769 Sumber : BPS, Susenas Panel (Raw data, diolah)
Besaran elastisitas harga sendiri untuk daerah perkotaan dan perdesaan tidak jauh berbeda untuk semua komoditi hanya komoditi telekomunikasi yang berbeda cukup tinggi. Apabila terjadi kenaikan atau penurunan harga telekomunikasi sebesar satu persen maka di respon rumah tangga miskin dengan meningkatkan atau menurunkan permintaan terhadap komoditi telekomunikasi ini sebesar 1,5 persen di perkotaan dan 1,8 persen di perdesaan. Respon rumah tangga miskin di perdesaan lebih elastis dibandingkan respon rumah tangga miskin di perdesaan dalam mengkonsumsi komoditi telekomunikasi sebagai akibat adanya perubahan harga. Elastisitas harga sendiri untuk komoditi rokok bersifat inelastis baik di perdesaan maupun di perkotaan. Apabila terjadi perubahan harga rokok sebesar satu persen maka rumah tangga miskin meresponnya dengan meningkatkan atau menurunkan permintaan komoditi rokok sebesar 0,97 persen di perkotaan dan 0,96 persen di perdesaan. Elastisitas harga sendiri komoditi pendidikan bersifat inelastis dan besarannya berbeda cukup tinggi antara perkotaan dan perdesaan. Apabila terjadi perubahan harga pendidikan sebesar satu persen maka akan di
respon oleh rumah tangga miskin dengan menurunkan atau meningkatkan permintaan untuk komoditi pendidikan sebesar 0,58 persen di perkotaan dan 0,48 persen di perdesaan. Respon permintaan komoditi pendidikan ini lebih inelastis di perdesaan dibandingkan perkotaan. Adanya subsidi pemerintah dalan bentuk bantuan operasional sekolah yang berarti terjadi penurunan harga komoditi pendidikan maka hal ini direspon rumah tangga miskin di perkotaan dengan meningkatkan permintaan untuk komoditi pendidikan sebesar 0.58 persen dan 0.48 persen di perdesaan.
Berdasarkan pendidikan kepala rumah tangga, elastisitas harga sendiri untuk komoditi telekomunikasi bersifat elastis dan besarannya berbeda cukup tinggi. Apabila terjadi kenaikan harga telekomunikasi sebesar satu persen maka rumah tangga miskin dengan pendidikan KRT SD ke bawah merespon dengan menurunkan permintaan komoditi telekomunikasi sebesar 1,8 persen, lebih tinggi bila dibandingkan dengan respon KRT berpendidikan SD ke atas sebesar 1,4 persen. Kondisi sebaliknya apabila terjadi penurunan harga telekomunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa respon permintaan komoditi telekomunikasi lebih elastis pada rumah tangga miskin yang KRT-nya berpendidikan SD ke bawah. Besaran elastisitas harga sendiri untuk komoditi rokok dapat dikatakan tidak berbeda antar rumah tangga miskin berdasarkan pendidikan kepala rumahtangganya. Besaran elastisitas harga sendiri untuk komoditi pendidikan juga berbeda cukup tinggi dimana penurunan harga pendidikan direspon dengan peningkatan permintaan lebih tinggi pada rumah tangga miskin yang KRT-nya berpendidikan SD ke atas sebesar 0,66 persen, berarti respon rumah tangga miskin yang KRT-nya berpendidikan SD ke bawah lebih inelastis.
Secara umum pada Tabel 5.3 terlihat bahwa rumah tangga miskin dengan kepala rumah tangga berpendidikan SD ke bawah merespon kenaikan harga telekomunikasi dengan penurunan permintaan yang lebih tinggi atau lebih elastis dibandingkan dengan rumah tangga yang kepala rumah tangganya berpendidikan SD ke atas baik di perdesaan maupun di perkotaan. Respon terhadap peningkatan harga pendidikan lebih inelastis di perdesaan, rumah tangga miskin dengan KRT berpendidikan SD ke bawah menurunkan permintaannya lebih sedikit dibandingkan rumah tangga miskin dengan KRT berpendidikan di atas SD.
Tabel 5.3. Elastisitas Harga Sendiri Beberapa Komoditi pada Rumah tangga Miskin Berdasarkan Pendidikan KRT di Perkotaan dan Perdesaan di Pulau Jawa Tahun 2008-2010
Kelompok Komoditi Pendidikan KRT ≤ SD Pendidikan KRT > SD 2008 2009 2010 2008-2010 2008 2009 2010 2008-2010 Perkotaan Mak. Pokok -0,927 -0,921 -0,924 -0,924 -0,910 -0,903 -0,907 -0,907 Lauk-pauk -0,843 -0,854 -0,856 -0,851 -0,846 -0,855 -0,863 -0,855 Rokok -0,968 -0,972 -0,968 -0,969 -0,962 -0,967 -0,968 -0,966 Mak. Lainnya -1,030 -1,030 -1,030 -1,030 -1,031 -1,031 -1,031 -1,031 Telekomunikasi -2,139 -1,630 -1,442 -1,630 -1,486 -1,349 -1,305 -1,366 Pendidikan -0,493 -0,548 -0,599 -0,552 -0,623 -0,688 -0,674 -0,663 Non Mak. lainnya -0,768 -0,768 -0,764 -0,766 -0,774 -0,773 -0,769 -0,772 Perdesaan Mak. Pokok -0,938 -0,934 -0,935 -0,936 -0,929 -0,927 -0,928 -0,928 Lauk-pauk -0,848 -0,855 -0,862 -0,854 -0,851 -0,857 -0,858 -0,855 Rokok -0,951 -0,963 -0,965 -0,960 -0,930 -0,955 -0,961 -0,949 Mak. Lainnya -1,030 -1,029 -1,029 -1,029 -1,031 -1,029 -1,031 -1,030 Telekomunikasi -2,741 -1,871 -1,592 -1,925 -1,823 -1,449 -1,353 -1,502 Pendidikan -0,380 -0,506 -0,511 -0,467 -0,580 -0,658 -0,688 -0,641 Non Mak. lainnya -0,760 -0,762 -0,759 -0,761 -0,766 -0,765 -0,757 -0,763 Perkotaan+Perdesaan Mak. Pokok -0,935 -0,930 -0,931 -0,932 -0,919 -0,913 -0,915 -0,916 Lauk-pauk -0,846 -0,855 -0,859 -0,853 -0,848 -0,856 -0,862 -0,855 Rokok -0,957 -0,966 -0,967 -0,963 -0,951 -0,963 -0,966 -0,960 Mak. Lainnya -1,030 -1,029 -1,030 -1,030 -1,031 -1,030 -1,031 -1,031 Telekomunikasi -2,480 -1,779 -1,520 -1,800 -1,592 -1,380 -1,319 -1,411 Pendidikan -0,420 -0,520 -0,551 -0,498 -0,606 -0,677 -0,679 -0,655 Non Mak. lainnya -0,763 -0,764 -0,761 -0,763 -0,771 -0,770 -0,765 -0,769 Sumber : BPS, Susenas Panel (Raw data, diolah)
Tren elastisitas harga sendiri periode 2008-2010 terlihat elastisitas harga sendiri untuk lauk pauk, rokok, dan pendidikan terlihat inelastis dan cenderung meningkat, sementara elastisitas harga sendiri untuk kelompok komoditi makanan lainnya bersifat elastis dan cenderung konstan. Elastisitas harga sendiri untuk komoditi makanan pokok bersifat inelastis, sementara untuk komoditi telekomunikasi dan non makanan lainnya terlihat elastis. Elastisitas harga sendiri ketiga kelompok komoditi ini cenderung menurun. Elastisitas harga sendiri untuk komoditi telekomunikasi walaupun masih elastis, namun respon perubahan permintaan terhadap perubahan harga semakin mengecil.
Besaran nilai elastisitas harga sendiri untuk komoditi pendidikan baik di daerah perkotaan maupun perdesaan terus mengalami peningkatan pada periode 2008-2010. Adanya subsidi BOS yang berarti adanya penurunan harga yang terjadi pada pendidikan direspon dengan meningkatnya permintaan terhadap pendidikan, dan persentase peningkatannya lebih besar di perkotaan dibandingkan di perdesaan. Ini menunjukkan masih kurangnya kesadaran pentingnya pendidikan pada rumah tangga miskin di perdesaan.
5.3.2. Elastisitas Harga Silang
Pada Tabel 5.4 disajikan elastisitas harga silang beberapa kelompok komoditi yang dikonsumsi rumah tangga miskin di Pulau Jawa. Nilai elastisitas harga silang ada yang bertanda negatif dan ada yang bertanda positif, yang menyatakan dua bentuk hubungan yang terjadi antara kelompok komoditi, yaitu substitusi (pengganti) dan komplementer (pelengkap). Nilai elastisitas harga silang hampir semuanya kurang dari satu kecuali elastisitas harga silang komoditi non makanan lainnya terhadap komoditi telekomunikasi yang lebih besar dari satu. Hal ini menunjukkan bahwa satu persen perubahan harga suatu barang diiringi oleh perubahan persentase permintaan barang lain kurang dari satu persen atau besarnya persentase perubahan harga suatu barang diikuti oleh perubahan permintaan barang lain namun tidak sebesar perubahan persentase harganya.
Dilihat dari tandanya, bentuk hubungan komplementer terjadi antara kelompok komoditi makanan pokok dengan semua kelompok komoditi pangan, rokok dan telekomunikasi. Kenaikan harga makanan pokok mengakibatkan turunnya permintaan rumah tangga miskin terhadap semua komoditi pangan, rokok dan telekomunikasi. Rumah tangga miskin mengurangi alokasi pengeluaran terutama komoditi rokok dan telekomunikasi untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok. Komoditi makanan pokok berhubungan substitusi dengan komoditi pendidikan dan komoditi non makanan lainnya. Apabila terjadi kenaikan harga makanan pokok maka rumah tangga miskin meningkatkan konsumsi pendidikan dan non makanan lainnya.
Komoditi lauk-pauk berhubungan komplementer dengan semua komoditi kecuali komoditi non makanan lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk
apabila terjadi kenaikan harga lauk pauk, rumah tangga miskin mengurangi permintaannya terutama pada komoditi rokok dan telekomunikasi dengan persentase perubahan permintaan lebih besar dibandingkan komoditi lainnya. Hubungan substitusi terjadi antara komoditi lauk pauk dengan komoditi non makanan lainnya. Apabila terjadi peningkatan harga lauk pauk maka rumah tangga miskin akan mengalihkan konsumsinya pada komoditi non makanan lainnya.
Komoditi rokok berhubungan komplementer dengan komoditi makanan pokok, lauk pauk, telekomunikasi dan pendidikan. Untuk memenuhi kebutuhan rokok maka rumah tangga miskin mengurangi konsumsi komoditi telekomunikasi dan lauk pauk lebih banyak dibandingkan komoditi lainnya. Komoditi rokok berhubungan substitusi dengan komoditi makanan lainnya dan komoditi non makanan lainnya. Bila terjadi kenaikan harga rokok maka rumah tangga miskin akan meningkatkan konsumsi makanan lainnya dan non makanan lainnya. Hal ini sesuai dengan penelitian Busch (2004) yang menyatakan bahwa kenaikan harga rokok meningkatkan konsumsi makanan dan perumahan, dalam penelitian ini pengeluaran untuk perumahan termasuk dalam kelompok komoditi non makanan lainnya.
Komoditi telekomunikasi berhubungan komplementer dengan komoditi makanan pokok, lauk pauk, rokok dan pendidikan dan berhubungan substitusi dengan komoditi makanan lainnya dan non makanan lainnya. Apabila terjadi kenaikan harga telekomunikasi direspon rumah tangga miskin dengan menurunkan permintaan terhadap komoditi lauk pauk dan rokok lebih besar dibandingkan komoditi lainnya.
Komoditi pendidikan berhubungan komplementer dengan semua komoditi. Kenaikan harga pada komoditi pendidikan menurunkan permintaan rumah tangga miskin terhadap komoditi rokok dan telekomunikasi lebih besar dibandingkan komoditi lainnya.
Tabel 5.4. Elastisitas Harga Silang Beberapa Komoditi Pada Rumah Tangga Miskin berdasarkan Tipe Wilayah di Pulau Jawa Tahun 2008-2010 Kelompok Komoditi Harga Mak. Pokok Lauk-pauk Rokok Mak. Lain-nya Teleko-munika si Pendidik -an Non Mak. lainnya Perkotaan Mak. Pokok -0,921 -0,030 -0,036 0,003 -0,004 -0,006 -0,049 Lauk-pauk -0,075 -0,852 -0,054 0,024 -0,013 -0,023 -0,077 Rokok -0,358 -0,186 -0,969 -0,135 -0,012 -0,073 -0,319 Mak. Lainnya -0,037 -0,007 0,016 -1,030 0,001 -0,017 -0,162 Telekomunikasi -0,140 -0,204 -0,052 0,131 -1,548 -0,022 0,786 Pendidikan 0,021 -0,035 -0,044 -0,010 -0,002 -0,581 -0,100 Non Mak. lainnya 0,053 0,018 0,021 0,036 0,015 -0,006 -0,768
Perdesaan Mak. Pokok -0,935 -0,025 -0,030 0,003 -0,003 -0,005 -0,040 Lauk-pauk -0,076 -0,854 -0,052 0,024 -0,013 -0,023 -0,074 Rokok -0,450 -0,210 -0,959 -0,143 -0,011 -0,075 -0,334 Mak. Lainnya -0,047 -0,008 0,018 -1,029 0,002 -0,016 -0,162 Telekomunikasi -0,226 -0,325 -0,083 0,209 -1,871 -0,035 1,249 Pendidikan 0,038 -0,042 -0,055 -0,015 -0,003 -0,487 -0,129 Non Mak. lainnya 0,072 0,020 0,021 0,035 0,015 -0,008 -0,761
Perkotaan+Perdesaan Mak. Pokok -0,931 -0,026 -0,032 0,003 -0,003 -0,005 -0,043 Lauk-pauk -0,076 -0,854 -0,053 0,024 -0,013 -0,023 -0,075 Rokok -0,413 -0,200 -0,963 -0,140 -0,011 -0,074 -0,328 Mak. Lainnya -0,043 -0,008 0,017 -1,030 0,002 -0,016 -0,162 Telekomunikasi -0,182 -0,263 -0,067 0,169 -1,705 -0,028 1,011 Pendidikan 0,031 -0,039 -0,050 -0,013 -0,003 -0,526 -0,117 Non Mak. lainnya 0,065 0,019 0,021 0,036 0,015 -0,007 -0,763
Sumber : BPS, Susenas Panel (Raw data, diolah) Komoditi non makanan lainnya berhubungan komplementer dengan semua komoditi kecuali telekomunikasi. Apabila terjadi kenaikan harga pada komoditi non makanan lainnya, rumah tangga miskin akan mengurangi konsumsi rokok, makanan lainnya dan pendidikan lebih banyak dibandingkan pengurangan konsumsi makanan pokok dan lauk pauk. Hubungan substitusi terjadi antara komoditi non makanan lainnya dengan komoditi telekomunikasi. Apabila terjadi kenaikan harga komoditi makanan lainnya, rumah tangga miskin mengalihkan konsumsinya ke komoditi telekomunikasi sehingga terjadi peningkatan konsumsi telekomunikasi. Hal yang sama terjadi baik di perdesaan maupun perkotaan. Pola
hubungan ini juga sama pada rumah tangga miskin berdasarkan pendidikan kepala rumah tangganya (Lampiran 7).
5.3.3 Elastisitas Pengeluaran
Berdasarkan hasil pengolahan, didapatkan nilai elastisitas pengeluaran komoditi pendidikan dan komoditi non makanan lainnya berada diantara nol dan satu yang berarti barang tersebut merupakan barang normal. Sementara nilai elastisitas pengeluaran dari komoditi makanan pokok, lauk pauk, rokok, makanan lainnya dan telekomunikasi lebih besar dari satu yang berarti bahwa barang tersebut merupakan barang mewah.
Tabel 5.5. Elastisitas Pengeluaran Beberapa Komoditi Pada Rumah Tangga Miskin di Pulau Jawa Tahun 2008-2010
Kelompok Komoditi Total Wilayah Pendidikan KRT Kota Desa ≤ SD > SD Makanan pokok 1,037 1,042 1,035 1,036 1,044 Lauk-pauk 1,069 1,070 1,069 1,069 1,069 Rokok 2,129 2,052 2,181 2,123 2,170 Makanan lainnya 1,240 1,236 1,242 1,240 1,235 Telekomunikasi 1,067 1,052 1,083 1,076 1,039 Pendidikan 0,718 0,751 0,694 0,701 0,796
Non makanan lainnya 0,615 0,630 0,606 0,612 0,634 Sumber : BPS, Susenas Panel (Raw data, diolah)
Pola elastisitas pengeluaran di Pulau Jawa baik perdesaan maupun perkotaan secara umum dapat dikatakan tidak berbeda, hanya besaran nilainya saja yang berbeda. Respon permintaan rumah tangga miskin pada kelompok komoditi makanan pokok, lauk pauk, rokok, makanan lainnya dan telekomunikasi meningkat dengan persentase yang lebih tinggi terhadap perubahan tambahan proporsi pengeluarannya. Apabila ada tambahan proporsi pengeluaran sebesar satu persen maka alokasi pengeluaran untuk komoditi ini meningkat lebih besar dari satu persen. Bahkan untuk komoditas rokok bila ada penambahan proporsi pengeluaran maka rumah tangga miskin akan meningkatkan alokasi pengeluaran untuk rokok sebesar dua persen.
Tabel 5.5 memperlihatkan respon permintaan rumah tangga miskin pada kelompok komoditi pendidikan dan komoditi non makanan lainnya meningkat
dengan persentase lebih rendah terhadap perubahan tambahan proporsi pengeluarannya. Bila ada tambahan proporsi pengeluaran sebesar satu persen maka alokasi pengeluaran untuk alokasi pendidikan dan komoditi non makanan lainnya meningkat sebesar 0,7 persen dan 0,6 persen.
Elastisitas pengeluaran untuk komoditi rokok, makanan lainnya dan telekomunikasi lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan. Hal ini mengindikasikan bahwa rumah tangga miskin di perdesaan mengalokasikan lebih banyak untuk tambahan persentase konsumsi rokok, makanan lainnya dan telekomunikasi apabila ada tambahan proporsi pengeluaran.
Bila dilihat berdasarkan tingkat pendidikan kepala rumah tangga elastisitas pengeluaran untuk komoditi makanan pokok, rokok, pendidikan dan non makanan lainnya lebih tinggi pada rumah tangga miskin yang kepala rumah tangganya berpendidikan SD ke atas. Elastisitas pengeluaran untuk komoditi makanan lainnya dan telekomunikasi lebih tinggi pada rumah tangga miskin yang pendidikannya kurang dari SD.
Tren elastisitas pengeluaran selama periode 2008-2009 pada Tabel 5.6. Terlihat adanya peningkatan elastisitas pengeluaran pada kelompok komoditi makanan pokok baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Elastisitas pengeluaran pada kelompok komoditi lauk-pauk secara umum mengalami penurunan pada periode 2008-2010 baik di perdesaan maupun di perkotaan. Elastisitas pengeluaran untuk rokok cenderung menurun baik di perdesaan maupun di perkotaan namun besaran elastisitasnya masih tinggi. Elastisitas pengeluaran untuk komoditi makanan lainnya cenderung meningkat pada periode 2008-2010.
Tren elastisitas pengeluaran untuk komoditi telekomunikasi terus mengalami penurunan baik di perdesaan maupun di perkotaan pada periode 2008-2010. Tren elastisitas pengeluaran untuk pendidikan meningkat dalam periode ini baik di perdesaan maupun di perkotaan. Elastisitas pengeluaran untuk kelompok komoditi non makanan lainnya juga mengalami penurunan pada periode 2008-2010 baik di perdesaan dan di perkotaan.
Tabel 5.6. Tren Elastisitas Pengeluaran Beberapa Komoditi pada Rumah tangga Miskin Berdasarkan Pendidikan KRT di Perkotaan dan Perdesaan di Pulau Jawa Tahun 2008-2010
Kelompok Komoditi Pendidikan KRT ≤ SD Pendidikan KRT > SD 2008 2009 2010 2008-2010 2008 2009 2010 2008-2010 Perkotaan Mak. Pokok 1,039 1,042 1,040 1,040 1,047 1,051 1,048 1,049 Lauk-pauk 1,074 1,069 1,068 1,070 1,073 1,069 1,065 1,069 Rokok 2,061 2,010 2,056 2,043 2,137 2,075 2,061 2,090 Mak. Lainnya 1,238 1,237 1,235 1,237 1,232 1,235 1,234 1,233 Telekomunikasi 1,108 1,060 1,042 1,060 1,046 1,033 1,029 1,035 Pendidikan 0,697 0,731 0,762 0,733 0,776 0,815 0,807 0,801 Non Mak. lainnya 0,631 0,630 0,616 0,625 0,651 0,649 0,634 0,645 Perdesaan Mak. Pokok 1,033 1,035 1,035 1,035 1,038 1,039 1,039 1,038 Lauk-pauk 1,072 1,069 1,066 1,069 1,070 1,068 1,067 1,069 Rokok 2,282 2,126 2,095 2,170 2,567 2,230 2,156 2,318 Mak. Lainnya 1,239 1,245 1,245 1,243 1,234 1,243 1,235 1,238 Telekomunikasi 1,165 1,083 1,056 1,088 1,078 1,043 1,033 1,048 Pendidikan 0,629 0,705 0,708 0,682 0,750 0,798 0,815 0,787 Non Mak. lainnya 0,605 0,611 0,599 0,605 0,623 0,619 0,592 0,614 Perkotaan+Perdesaan Mak. Pokok 1,035 1,037 1,037 1,036 1,043 1,045 1,044 1,044 Lauk-pauk 1,073 1,069 1,067 1,069 1,072 1,068 1,066 1,069 Rokok 2,205 2,085 2,080 2,123 2,282 2,131 2,093 2,170 Mak. Lainnya 1,238 1,242 1,241 1,240 1,233 1,238 1,234 1,235 Telekomunikasi 1,141 1,074 1,049 1,076 1,056 1,036 1,030 1,039 Pendidikan 0,653 0,714 0,733 0,701 0,766 0,809 0,810 0,796 Non Mak. lainnya 0,613 0,617 0,606 0,612 0,640 0,638 0,621 0,634 Sumber : BPS, Susenas Panel (Raw data, diolah)
Elastisitas pengeluaran pada rumah tangga miskin periode 2008-2009 dapat disimpulkan bahwa ada kecenderungan peningkatan alokasi pengeluaran untuk konsumsi makanan pokok dan pendidikan terhadap adanya tambahan proporsi pengeluaran. Hal ini dapat terjadi karena rumah tangga miskin mendapatkan subsidi berupa beras miskin dan dana bantuan operasional sekolah yang langsung bisa dikonsumsi oleh rumah tangga miskin.