Pada bagian muka telah diketahui mengenai garis PCC yang merupakan garis ekuilibrium karena adanya perubahan harga. Jika harga X turun dari P1→P2, maka jumlah X yang dibeli naik dari M/Px → M/P1. Kita dapat mengetahui elastisitas permintaan suatu barang melalui kurva PCC ini, yaitu dengan menggantikan sumbu Y dari barang Y (barang lain) dengan sejumlah uang yang di olasikan untuk barang lain. Jika jumlah alokasi uang (M) untuk barang lain brkurang, maka akan di dapatkan garis PCC berslope negative. Harga barang X turun,sehingga total pengeluaran untuk barang X naik, sehingga dapat di katakana elastisitas permintaan terhadap harga adalah elastis. Di sini dapat diartikan pengeluaran total untuk barang x meningkat dikarenakan hubungan antara pengeluaran total dan elastisitas. Jika garis PCC mendatar maka elastisitas permintaan terhadap harga adalah unitary (turunnya tingkat harga yang tidak diikuti oleh naik/turunnya jumlah uang yang diolasikan untuk barang lain). Jumlah barang x yang di beli tentu saja meningkat karena harga yang turun. Sedangka jika garis PCC berslope positif maka elastisitas permintaan terhadap harga adalah inelastic (turunnya tingkat harga barang x diikuti dengan naiknya uang yang di olasikan untuk barang
lain).jumlah barang x yang di beli tentu saja dapat meningkat,meskipun tidak dapat di pastikan karena harus dibandingkan besarnya efek turunnya harga dengan turunnya jumlah uang di keluarkan untuk harga barang x tersebut.
M M1 M PCC M2 PCC M M Q untuk x (b) Qx Px1 Px2 M M2 PCC M1 ( c ) M M Px1 Px2
APPENDIKS
Dalam appendiks ini akan dilihat beberapa contoh penggunaan konsep utilitas dan preferensi berkenaan dengan kehidupan ekonomi sehari-hari. Contoh tersebut meliputi pemilihan investasi,poreferensi yang terungkap,penerapan tunjangan dan pendapatan bersih, serta penawaran tenaga kerja.
1.Pemilihan investasi
Sebagai contoh penggunaan nilai utilitas adalah dalam pemilihan investasi, missal A & B. Kedua investasi tersebut memiliki keuntungan yang diharapkan (expected profit) yang sama, tetapi memiliki peluang keuntungan yang berbeda. Misalkan dapat diketahui pula diperkirakan besarnya utilitas hidup masing-masing tingkat keuntungan.
I.Investasi A Investasi B
Net Profit Kemungkinan Net Profit Kemungkinan 1000 1/2 0 1/2 3000 1/2 4000 1/2
Expected Profit 2000 2000
II. Besarnya Nilai Guna (Utilitas) Pendapatan Pendapatan Utilitas Marjinal Utilitas
0 1 -
1000 1 1
2000 1,8 0,8
3000 2,5 0,7 4000 3,0 0,5
III. Dari bagian II dapat diketahui nilai utilitas untuk setiap tingkat pendapatan, maka Investasi A
Kemungkinan π Utilitas Kemungkinan π Utilitas 1/2 1000 1 1/2 0 0
1/2 3000 2,5 1/2 4000 3,0 Expected profit 2000 expected profit 2000 Expected utility 1,75 * Expected Utility 1,5 {1/2 (x) 1 + ½ (x) 2,5} {1/2 (x) 0 + ½ (x) 3,0} Investasi mana yang akan dipilih?
Jika kondisi perekonomian buruk maka investasi A akan memberikan hasil lebih Rp 1000,tetapi jika perekonomian dalam keadaan baik maka investasi B akan memberikan hasil lebih Rp 1000 (Rp 4000-3000). Pada umumnya kebanyakan investor memilih A disbanding B karena nilai utilitas dari tambahan Rp 1000 lebih rendah dibandingkan utilitas yang hilang karena Rp 1000. Perilaku ini umumnya dinamakan penghindar resiko.
2.Preferensi yang Terungkap
Preferensi yang Terungkap ditemukan oleh samuelson seorang doctor fisika yang menekuni ekonomi dan merupakan pemenang hadiah nobel ekonomi I dan Amerika Serikat.
Dasar pemikirannya adalah penggunaan rasionalitas dalam pemilihan sesuatu.
Misalnya A lebih menyukai untuk tinggal di daerah dengan udara yang sejuk maka jika A berad pada posisi A sebenarnya keadaan tersebut adalah bukanlah keinginan yang kuat. Untuk itu A dapat mengkompensasikan dengan selisih upah. A hanya mau pada kondisi C1 jika tingkat upah adalah sebesar U1,tetapi A bersedia dibayar lebih murah sebesar U3 untuk cuaca yang lebih baik yaitu pada C2.
Upah U1 A IB U3 A IA C1 C3 Kualitas cuaca
3. Tunjungan dan Pendapatan Bersih
Bagaimana penggunaan kurva indiferen jika kita menganalisis dampak pemberian tambahan tunjangan kesehatan (asuransi) terhadap kepuasan pekerja,jika dimisalkan pekerja memperoleh 2 tunjangan yana dapat dikombinasikan yaitu : asuransi kesehatan dan atau pemberian tunjangan uang.
Misalkan garis anggaran awal adalah BB’ dengan dua pekerjaan I & II. Pola preferensi dari pekerja tersebut masing-masing adalah pada titik E dan F. Jika pekerja II lebih menyukai asuransi lebih banyak dibandingkan pekerja I. sekarang misalkan perusahaan menaikkan tunjangan perawatan kesehatan sebesar BC, sehingga garis anggaran yang baru adalah BCC. Sebenarnya bagi pekerja I akan lebih menyenangkan jika dia diberi tambahan pendapatan sehingga titik kepuasannya berpindah dari C ke E dengan mengurangi jumlah perawatan kesehatan yang diterimanya. Disini tampak ada semacam kecelakaan yang muncul, jika para pekerja dapat saling tukar diantara mereka, maka hal tersebut dapat diminimumkan. Uang I1ˈ B C I1 E I1 Fˈ F I2 I2ˈ Bˈ C Tunjangan kasahatanˈ
4. Penawaran Tenaga Kerja
Orang bekerja umumnya untuk memperoleh uang meskipun juga menyukai waktu senggang. Jadi baik pendapatan maupun waktu senggang adalah barang baik (good goods) sehingga dapat digambarkan kurva indiveren antara waktu senggang dan pendapatan (lihat barang baik dabn barang buruk).
Garis anggaran untuk pekerja tergantung dari tingkat upah. Jika missal tingkat upah per jam adalah Rp72000. Jika dianalisis efek perubahan tingkat upah terhadap permintaan waktu senggang maka dapa dipecah dalam efek substitusi dan efek pendapatan, yang bekerja dengan arah yang berlawanan. Jika tingkat upah naik maka harga dari waktu senggang akan naik,sehingga pekerja akan mengurangi jam waktu senggangdan menaikkan jam kerja tetapi kenaikan pendapatan akan membuat pekerja meminta lebih banyak lagi waktu luang,jika waktu luang tersebut barang normal. Ini adalah efek pendapatan. Pada tingkat upah yang rendah maka efek substitusi akan mendominasi sehingga jumlah waktu luang yang diminta akan lebih sedikit, dengan demikian jam kerja akan naik dan pada akhirnya kurva penawaran tenaga kerja berslope positif. Tetapi pada tingkat upah yang lebih tinggi efek pendapatan lebih besar dibandingkan efek substitusi dan didapatkan kurva penawaranberslope negative. Inilah yang dikenal sebagai kurva penawaran terbalik. Kurva penawaran terbalik ini merupakan suatu yang pasti, tetapi umumnya terbukti secara empiris.
Secara grafis dapat kita perhatikan sebagai berikut : jika tingkat upah naik maka garis anggaran akan berotasi keatas dari BL1 ke BL2 ke BL3 dan seterusnya. Untuk barbagai kurva indiveren kita dapatkan keseimbangan berada pada E0,E1,E2,E3, dan seterusnya. Pada saat kenaikan upah yang menggeser BL1 ke BL2 maka pekerja mengurangi jam mneganggurnya dari L1 menjadi L2. Dalam kasus ini maka efek substitusi lebih besar dari efek pendapatan. Jika pekerja sudah semakin kaya, maka dia akan memiliki lebih banyak waktu luang. Jadi missal jika tingkat upah naik menjadi Rp5000 (BL2), maka jam kerja seseorang cenderung tidak bertambah dengan cepat, bahkan dapat berkurang. Jika tingkta upah naik lagi misalnya Rp10000 per jam (BL4), maka barang kali para pekerja cendarung akan mengurangi jam kerjanya. Jadi jika kita tarik garis dari titik-titik keseimbangan, maka kita dapatkan garis penawaran tenaga kerja,yang ternyata sebagaimana dimuka dapat berbentuk : bending supply curve
Tingkat Upah Penawaran Kerja (Jam) Waktu Luang(Jam) Rp 3000 6 18 Rp 5000 10 14 Rp7500 12 12 Rp 10000 8 16 Pendapatan 224 180 I3 PCC 120 E2 E3 72 E1 I4 I4 I2 I E0 I1 12 14 16 18 (24) Waktu luang
Tingkat upah F (s) tenaga kerja 10000 E3 7500 E2 5000 E1 3000 E0 6 8 10 12 Jam kerja (24) GRAFIK 4.25. Kurva Penawaran Tenaga Kerja
DAFTAR ISTILAH