• Tidak ada hasil yang ditemukan

PREFERENSI UTILITAS DAN PILIHAN KONSUMEN (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PREFERENSI UTILITAS DAN PILIHAN KONSUMEN (1)"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

WAHID,HASAN,MELDI Bab 4

PREFERENSI UTILITAS DAN PILIHAN KONSUMEN

Teori preferensi dipergunakan untuk menganalisis tingkat kepuasan bagi konsumen. Misalnya konsumen memiliki beberapa pilihan maka konsumen dengan sumber daya yang terbatas harus memilih berbagai alternatif sehingga utilitas atau nilai guna yang diperoleh mencapai optimal. Pertama kali istilah utilitasguna yang diperoleh mencapai optimal. Pertama kali istilah utilitas ini dipergunakan oleh Jeremy Bentham (1748-1832), walaupun ahli lain tahu hubungan antara nilai barang (value of goods) dan utilitas dari barang yang dikonsumsi. Adam smith dalam karya terkenalnya The wealth of nation membedakan antara nilai guna (value in use) dan nilai tukar (value in exchange) dengan contoh terkenalnya paradoks air dan intan. Air memiliki harga yang rendah (nilai tukar) karena jumlahnya berlimpah, tetapi memiliki nilai guna yang tinggi karena jumlahnya yang langka, tetapi memiliki nilai guna yang rendah.

Umumnya terdapat dua pendekatan yaitu secara kardinal dan ordinal. Teori Utilitas Ordinal menyatakan tak dapat diukur sebagaimana yang biasa dilakukan terhadap harga dan jumlah tetapi dapat diranking (order) utilitasnya berdasarkan barang yang berbeda-beda. Jadi dapat dikatakan utilitas dari suatu barang lebih besar, lebih kecil atau sama dengan barang lain. Sedangkan Teori Utilitas Kardinal menyatakan utilitas dapat diukur secara pasti.

Berkenan dengan hal di atas, ahli ekonomi Italia Wilfredo PARETO menyatakan fondasi dari teori perilaku konsumen modern tidaklah berdasarkan pendekatan kardinal, karena konsumen tak dapat menghitung dengan pasti nilai utilitasnya, tetapi hanya dapat meranking tingkat kesukaannya (preferensi). Konsumen dapat menyatakan lebih suka barang A dibanding B tetapi tak dapat menyatakan misalnya tingkat kepuasan A = 6 utilitas, sedangkan B = 5 utilitas.

(2)

demikian asumsi ini tidaklah perlu terlalu ketat untuk mendapatkan teori permintaan. Karena syarat untuk menurunkan fungsi permintaan dari kurva indeferen adalah: 1) konsumen menyadari keberadaan suatu barang (mau mengkonsumsi); 2) konsumen memiliki reaksi misalnya dia lebih menyukai satu barang dibandingkan barang lain (konsumen memiliki prefrensi yang rasional); 3) konsumen memiliki pendapatan untuk memberikan reaksi yang penting terhadap pasar.

A. PENDEKATAN SECARA KARDNAL

Pendekatan secara kardinal menganggap bahwa nilai guna atau tingkat kepuasan dapat diukur secara pasti. Misalkan jika seseorang menkonsumsi suatu barang maka tingkat kepuasannya dapat diketahui untuk setiap jumlah barang. Secara tabel diperlihatkan pada contoh berikut :

TABEL 4.1 Utilitas dari barang yang Dikonsumsi

Jumlah Barang dikonsumsi Total Utility (TU) Marginal Utility (MU)

1 5 5

2 8 3

3 12 4

4 15 3

5 17 2

6 18 1

7 18 0

8 17 -1

(3)

Utilitas

F (TU)

7 Q

GRAFIK. 4.1. Utilitas dari Barang yang Dikonsumsi

Secara empiris dapat dimengerti bahwa semakin banyak jumlah yang dikonsumsi tingkat kepuasannya semakin kurang. Misalnya jika kita menkonsumsi es krim maka pada tingkat tertentu akan dicapai tingkat kepuasan maksimum/jenuh (saturation point) tetapi berapa nilai kepuasannya untuk setiap es yang dikonsumsi tak dapat diukur secara pasti. Walau demikian konsep ini dapat pergunakan. Misalnya jika kita ingin mengadakan bazaar kita dapat menentukan harga jual es krim pada tingkat pemakaian sepuasnya, tanpa perpotongan waktu. Misalnya kita memprakirakan jika seseorang memakan es krim tanpa henti rata-rata hanya sanggup 7 buah (contoh di atas) maka kita dapat menjual dengan harga lebih besar dari 7 buah.

Dari tabel di atas (kolom 3) dapat diketahui bahwa niali guna (utility) mempunyai pola penambahan yang menurun (diminishing return). (sebelumnya perlu diketahui istilah MU yaitu: tambahan utilitas yang disebabkan tambahan jumlah barang yang dikonsumsi atau

TU/ Q). ᵟ ᵟ

(4)

TABEL 4.2 Tingkat Pendapatan dan Kebahagiaan Pendapatan Responden (%)

(Rp juta) Sangat Bahagia Cukup Bahagia Tidak Bahagia Skor <3 14 55 31 -0,17 3 - 3,99 21 63 16 0,05 4 - 4,99 27 61 12 0,15 5 – 5,99 26 64 10 0,16 6 – 6,99 24 65 10 0,14 7- 7,99 29 60 10 0,20 8 - 9,99 29 63 7 0,22 >10 38 54 8 0,33 Catatan : Angka Skor dihitung melalui (kolom (2) – (5)/100)

Dari tabel di atas jika kita ubah dalam grafik maka kita dapatkan grafik yng hampir sama dengan Grafik 4.1. Dari nilai skor kita dapat menduga bagaimana hubungan pendapatan dengan tingkat kebahagiaan. Nilai di atas nol berarti responden merasa Bahagia.

B.PENDEKATAN SECARA ORDINAL

(5)

Qy 4 3

2

1 1 3 6 10 15 Qy

Jika kita gambarkan maka kurva I1>IO sedangkan kurva I2<I0. Perhatikan disini selalu ada prinsip pertukaran, artinya jika jumlah x yang diminta naik maka jumlah Y yang diminta akan turun. Hal ini semata-mata karena asumsi tersirat anggaran yang tersedia terbatas.

Qy

I1 I0

I2

Qx

Pada prinsipnya teori preferensi secara ordinal memiliki aksioma (dalil) yaitu:

(6)

2. Dalil transitiviti (axiom of transitivity), memperbandingkandi antara berbagai preferensi dengan preferensi individu dengan asumsi setiap individu dapat menentukan pilihan secara konsisten. Misal jika A lebih disukai dari B; B lebih disukai dari C maka A harus lebih disukai dari C.

Dengan dalil ini diketahui bahwa setiap kurva indiferen (indifference curve) tidak akan berpotongan. Misalkan jika terdapat dua kurva indiferen I dan II. Jika seorang konsumen merasa kurva indiferen II lebih besar dari I maka dapat dinyatakan semua titik pada kurva indiferen II lebih memuaskan dibandingkan I. Maka diketahui antara titik A dan B memiliki kepuasan yang sama tetapi lebih tinggi dibandingkan titik C dan D. Di sini tidak dapat dinyatakan bahwa C lebih tinggi dari A. Jika hal ini berlaku jika tidak menemukan konsistensi. Jadi titik potong (E) haruslah diartikan ada hanya pada satu kurva indiferen, bukan pada kedua kurva. Jadi dengan demikian kita bisa buktikan kurva indiferen tidak akan berpotongan tetapi hanyalah merupakan persilangan yang tidak berhimpit (lihat Grafik 4.3.)

3. Kurva Indiferen tidak harus paralel, dalam peta indiferen di bawah kita mengetahui bahwa masing – masing kurva mendekati pada jumlah x yang semakin banyak. Jarak antara titik AB jauh lebih besar dibandingkan jarak CD. Hal ini tidak menjadi masalah selama dalil @ dipenuhi. (Grafik 4.4.)

4. Banyak lebih disukai dari pada sedikit , banyak lebih disukai dibandingkan sedikit (more is better/mib) merupakan alasan yang rasional untuk sebagian besar barang yang dikonsumsi.

Asumsi ini menyebabkan kurva indiferen memiliki slope negatif dan cembung terhadap O, jika kedua barang X,Y memenuhi syarat mib ini (kita dapat perhatikan pada bagian D) pada Grafik 4.4 dapat diketahui kombinasi B, D lebih disukai dibanding kombinasi A.C.

QY QY

D B A B

C D

I C

(7)

QX QX C. MENGAPA KURVA INDIFEREN BERBENTUK CEKUNG?

Kurva indiferen berbentuk cekung terhadap titik asal memungkinkan untuk pilihan yang konsisten. Jika suatu kurva berbentuk cembung maka tampak saperti gambar kondisi yang optimum secara matematis adalah di titik A, (slope kedua kurva sama) tetapi sebenarnya garis anggaran memotong juga titik D yang berada pada kurva indiferen yang lebih tinggi (mib. Dalil 4) jadi jika kurva indiferen berbentuk cembung maka akan terjadi inkonsistensi, menurut kondisi matematis di titik A, menurut dalil 4 di titik D.

QY D

A

QX

GRAFIK 4.5 Kurva Indiveren tidak berbentuk Cembung terhadap titik asal D. BARANG BAIK, BARANG BURUK DAN KURVA INDIFEREN

Sebagaimana dikemukan di muka kurva indiferen untuk menganalisis pilihan konsumen di antara dua barang yang langka. Seorang konsumen dapat mengkonsumsi. Lebih banyak barang yang baik dan mengurangi barang yang buruk.

(8)

Sebagai contoh untuk daerah satu, dikatakan X adalah barang yang baik, sedangkan Y adalah barang yang buruk. Hal ini disebabkan jumlah barang X yang dikonsumsi bertambah terus, sehingga dapat dianggap MU selalu posotif. Sedangkan jumlah barang Y yang dikonsumsi mengalami titik jenuh, sehingga dapat dianggap MU-Y adalah negatif.

I = x barang baik (good goods) Y barang jelek (bad goods) II = x & Y barang jelek

III = x barang jelek Y barang baik IV = x & y barang baik

GRAFIK 4.6. Beberapa Kemungkinan Kurva Indiferen E. TINGKAT BATAS SUBSTITUSI (MARGINAL RATE SUBTITUTION)

Tingkat Batas Subtitusi didefinisikan sebagai jumlah yang dapat ditukarkan untuk mendapatkan tambahan 1 unit barang lain guna mencapai tingkat kepuasan yang sama. Dari kurva indiferen kita dapatkan dua atau lebih kombinasi barang yang menghasilkan tingkat kepuasan yang sama. Misal untuk meningkatkan kombinasi barang X maka diperlukan pengurangan konsumsi barang Y, agar kurva indiferen tetap. Dengan demikian diketahui jika barang X jumlahnya semakin banyak maka diperlukan penukaran yang semakin banyak untuk mendapatkan tambahan 1 unit barang Y, sehingga akan didapatkan pola MRS yang menurun. Jika misalnya kita memiliki banyak roti tetapi sedikit susu maka kita akan bersedia

I

II

(9)

menukar untuk sedikit susu dengan roti yang banyak untuk mencapai kepuasan yang sama (satu kurva indiferen).

Secara matematis MRS dituliskan sebagai berikut:

MRS = -dy/dx (1)

Contoh:

Jika diketahui suatu kurva indiferen I merupakan kombinasi dari barang X & Y sebagai berikut:

Qy

4 A 3 B

2 C

1 D I 3 6 10 15 Qx

GRAFIK 4.7 Kurva Indiveren dan Tingkat Batas Substitusi

Dapat diketahui bahwa nilai MRS memiliki pola menurun sehingga dikatakan diminishing marginal rate of substitution.

Jika persamaan MRS di atas ditulis ulang kita dapat menulisnya sebagai berikut:

MRS = dY/dX = dU/dX / dU/dX = MUX/MUY (2)

(10)

dikorbankan akan semakin besar, hingga nilai marjinal kedua barang akan sama besarnya. Jadi jika ada dua barang yang akan dipertukarkan maka jumlah barang yang memiliki Utilitas Marjinal yang rendah akan dikurangi, dan jumlah barang yang memiliki Utilitas Marjinal yang tinggi akan naik sehingga Utilitas Marjinal (bukan jumlah barang) akan sama.

F.GARIS ANGGARAN (BUDGET LINE)

Garis Anggaran didefinisikan sebagai dana yang tersedia untuk mengkonsumsi sejumlah barang yang pada suatu tingkat harga tertentu. Jika dimisalkan terdapat dua barang, X dan Y maka jumlah yang dapat dibeli untuk barang tersebut tergantung dari rasio harganya. Sehingga slope dari garis anggaran merupakan rasio dari harga barang. Jika misalkan jumlah uang yang dimiliki adalah M maka kita dapat menuliskannya sebagai berikut:

M = Px.(X) + Py.(Y) (3)

Jika misalkan dengan jumlah uang yang sama (M) maka jika salah satu barang ingin ditingkatkan penggunaannya, barang yang lain harus dikurangi penggunaannya, sehingga:

dM=Px (+dX) + Py (-dY) (4)

Dari persamaan (4) tersebut kita dapatkan bahwa besarnya rasio perubahan jumlah yang ingin dikonsumsi (tingkat MRS) adalah merupakan rasio harga dari barang tersebut.

(11)

Y Y A

A

B Bˈ XA Bˈ B X

GRAFIK 4.8 GRAFIK 4.9

Garis Anggaran Jika Pendapatan Berubah Garis Anggaran jika Harga Barang X Berubah

G. KESEIMBANGAN KONSUMEN

Tingkat kepuasan konsumen yang ditunjukkan oleh kurva indiferen dapat terpenuhi oleh sumber daya (garis anggaran) secara optimal jika slope kedua kurva tersebut sama (kedua kurva bersinggungan).

Pada Grafik 4,10 diketahui bahwa titik A belum optimal karena berada dibawah garis anggaran (artinya masih ada dana yang tersedia tidak dibelanjakan sehingga tingkat kepuasan pada titik A lebih rendah, II<I2) tetapi titik C tidak terpenuhi karena berada di atas garis anggaran (memang 13>12, tetapi untuk mencapainya dana yang ada tidak mencukupi). Sehingga keseimbangan bagi konsumen adalah pada titik E, di mana dana yang ada mencukupi dengan tingkat kepuasan sebesar I2.

Y

C E A

X

(12)

Dari persamaan (3) dan (5) dapat diketahui bagi keseimbangan konsumen bahwa:

MRS = Mux/Muy = Px/Py (6)

= Mux/Px = Muy/Py =...= Mun/Pn (7)

Dari persamaan (7) dapat dinyatakan bahwa satu rupiah yang dibelanjakan untuk barang x harus memberikan kepuasan yang sama nilainya dengan satu rupiah untuk barang Y yang dikonsumsi harus diperbanyak.

MUx/Px > MUy/Py = konsumsi barang X diperbanyak MUx/Px < Muy/Py = konsumsi barang Y diperbanyak

Dengan mempergunakan Persamaan Lagrange akan didapatkan hasil yang sama, yaitu dengan memaksimalkan utilitasnya:

Dari persamaan 9.10, akan didapatkan: f1/f2 = p1/p2= λ, atau f1/p1 = f2/p2 = λ. Karena f1 dan f2 menunjukkan turunan dari utilitas maka f1 dan f2 dapat dikatakan sebagai marjinal utilitas. Sedangkan P1 dan P2 adalah harga produk barang yang dikonsumsi. Di sini f1/f2 adalah MRS sedangkan λ diinterpretasikan sebagai utilitas marjinal dari pendapatan. Karena utilitas marjinal barang yang dikonsumsi adalah positif, maka utilitas marjinal dari

(13)

Contoh 4.1:

Sejumlah mahasiswa suatu universitas mempersiapkan diri untuk UAS tetapi hanya memiliki waktu 6 jam. Tujuan belajar maha siswa ini untuk mendapatkan nilai rata-rata tertinggi untuk tiga mata kulaih: ekonomi, matematika, statistika. Mahasiswa tersebut harus memutuskan alokasi wajtu untuk ketiga mata kuliah. Berdasarkan prakiraan diperoleh hubungan waktu yang dialokasikan dan nilai sebagai berikut:

Ekonomi Matematika Statistika Jam Belajar Nilai Jam Belajar Nilai Jam Belajar Nilai

0 20 0 40 0 80

1 45 1 52 1 90

2 65 2 62 2 95

3 75 3 71 3 97

4 83 4 78 4 98

5 90 5 83 5 99

6 92 6 86 6 99

Pertanyaan:

1) Bagaimana mahasiswa di atas mengalokasikan waktunya?

2) Bagaimana penyelesaian 1) dihubungkan dengan ekuilibrium konsumen Jawab:

(14)

Ekonomi Matematika Statistika Jam Belajar Nilai Marjinal Jam Belajar Nilai Marjinal JamBelajar Nilai Marjinal

0 - 0 - 0

1 25 1 12 1 10

2 20 2 10 2 5

3 10 3 9 3 2 4 8 4 7 4 1

5 7 5 6 5 1

6 2 6 3 6 0

Dari tabel di atas kita dapatkan nilai marjinal yang sama untuk ketiga mata kuliah tersebut yaitu sebesar 10. Jadi kita mesti mengalokasikan waktu 3 jam untuk ekonomi, 2 jam untuk matematika, serta 1 jam untuk statistika, dengan total nilai (75+62+90) = 227 atau rata-ratanya 75,66. Selain alokasi waktu ini akan menghasilkan nilai total yang lebih rendah! 2. Dari jawaban 1) sebenarnya secara tersirat diketahui tingkat harga yang berlaku adalah sama, jadi kita dapat mengoptimumkan alokasi dengan mencari nilai marjinal yang sama. Jika tingkat harga berbeda maka kita mesti menyesuaikan lagi nilai marjinal yang dipilih tetapi tetaplah harus memenuhi dalil keseimbangan konsumen yaitu Mu/P sama untuk semua barang.

Contoh4.2:

Sebagai ilustrasi penggunaan konsep lagrange dapat diikuti contoh berikut. Dimisalkan UtilitasESKA terhadap dua barang yang dikonsumsi adalah U (X,Y) = X 1,5Y. Jika harga barang X,Y dan pendapatan masing-masing adalah Rp 3, Rp 100, maka:

a. Tentukan jumlah barang yang dikonsumsi sehingga kepuasannya optimal

(15)

Jawab:

a. Karena dalam teori preferensi ini kita memuaskan utilitas maka kita dapat ubah contoh di atas dalam persamaan Langrange dengan kendala 100 = 3x + 4y. Jika kita ubah kendala ini dalam persamaan implisit maka didapat 100-3x-4y, sehingga:

V = f(U) + λ(100 – 3X – 4Y): V/ X = 3/2 Y.X1/2 - 3λ ᵟ ᵟ

Di dapat λ = ½ Y.X1-2 (a)

V/ X = 3/2 Y.X1,5 - 4λ ᵟ ᵟ

Di dapat λ= ¼ X1,5 (b)

V/ λ = 100 - 3x – 4y

ᵟ ᵟ (c)

Dari (a) dan (b) didapat = 4 (1,5 Y. X1/2) = 3X1,5

2Y = X1,5/X0,5

Y = ½ X (d)

Jika (d) disubtitusikan ke (C) maka didapat

λ = 100 – 3X – 4(1/2x) Y = 10 dan X = 20

Tingkat utilitas yang diperoleh ESKA adalah U = 20 1,5 . 10 = 891,25

(b) Dengan diketahui tingkat utilitas yang dinikmati ESKA 891 maka kita dapat membuat kombinasi berbagai jumlah barang yang ingin dikonsumsi yaitu:

U (X,Y) = X1,5Y

(16)

X Y U

20 10 891

10 17,5 550

30 2,5 417

33,33 0 191

0 25 25

15 13,75 794

13,33 15 741

Dari tabel di atas kita ketahui kombinasi X,Y = 20; 10 akan memberikan tingkat kepuasan yang optimal.

Y

25

13,75

10

I1 = 891 12 = 794

15 20 X H. PERUBAHAN HARGA DAN KURVA PERMINTAAN

(17)

Jika dimisalkan terjadi perubahan harga barang X terus menerus (Px turun menjadi P1,P2,P3,P4, di mana P1<P2<P3<P4) maka kita akan mendapatkan garis anggaran yang baru yaitu BL1, BL2, BL3, BL4, dengan keseimbangan A->B->C->D. Garis yang melalui titik A B C D tersebut dinamakan Price Consumption Curve (PCC). Dari PCC inilah diturunkan Kurva Permintaan (karena PCC memperlihatkan perubahan jumlah barang yang diminta sebagai akibat perubahan harga). Sebagai contoh pada tingkat harga barang X sebesar P1 maka jumlah yang diminta sebesar Qx 1, juka harga barang turun menjadi P2 maka jumlah yang diminta akan naik menjadi Qx 2, jika harga turun lagi menjadi P3 jumlah yang diminta naik menjadi Qx 3. (Variabel harga tidak tampak dalam garis PCC).

PCC : tempat kedudukan titik-titik yang menunjukkan keseimbanagan konsumen sebagai akibat perubahan tingkat harga, dengan tingkat pendapatan tetap.

Qy

M PCC

Py

A B

I1 I2 C D

I3 I4

(18)

Px

Px1 A

Px2 B

Px3 C

Px4 D

f(d)

Qx1 Qx2 Qx3 Qx4 Qx

GRAFIK 4.11.Perubahan Harga dan Kurva Permintaan Contoh : 4.3:

Misalkan diketahui anggarn yang tersedia sebesar 100 dan dialokasikan untuk barang X, dan Y. Harga barang X dan Y masing-masing sebesar Rp 5 dan Rp 2. Jumlah barang X yang sebesar 12. Jika harga barang X turun menjadi 4,3,2, dan 1, jumlah barang x yang diminta menjadi 14, 18, 25, dan 40.

Pertanyaan :

Tunjukkanlah garis PCC serta kurva permintaannya, sertakan tabel sederhananya!. Jawab :

Fungsi Permintaan

M = Px. X = Py, Y Px Qx

100 = 5X + 2Y ...(a) X = 12, Y = 20 5 12

100 = 4X + 2Y ...(b) X = 14, Y = 23 4 14

(19)

100 = 2X + 2Y ...(d) X = 25, Y = 25 2 25

100 = X + 2Y ...(e) X = 40, Y = 30 1 40

Qy 50 45 40 35

30 I4

25 I3

23 I2

22 I1 20

I0 15

10

5

(20)

Px

5 4 3 2 1

Qdx

12 14 18 25 40 Qdx

I. PERUBAHAN PENDAPATAN DAN KURVA ENGEL

Jika misalkan yang berubah adalah tingkat pendapatan konsumen (I1, I2, I3, I4, di mana I1 < I2 < I3 < I4) maka kita akan mendapatkan garis anggaran baru yang paralel dengan garis anggaran lama yaitu BL1, BL2, BL3, BL4 dengan ekuilibrium A1->B1->C1->D1. Garis yang melalui keseimbangan tersebut dinamakan Income Consumption Curve (ICC).

(21)

. Qy

BL I4

BL I3

BL I2

ICC BL I1

D

C I4 B I3

A I2 I1

Qx GRAFIK 4.12 Income Consumtion Curve

Contoh 4.4.:

(22)

Qy

- 150

- ICC

- 100

- D

- 75

- I4

- 50 C

- I3

- B

- 35

A I2 - 25

- I1

- 10

x x x x x x x x x

(23)

Pertanyaan:

(24)

I I

Q pertanian Q industry

GRAFIK 4.13.a.Kurva Engel untuk Barang Pertanian GRAFIK 4.13.b.Kurva Engel untuk Barang Industri

Karena kurva Engel memperlihatkan hubungan antara pendapatan dan jumlah barang yang diminta, maka sebenarnya kita dapat melihat hubungan antara kurva Engel dan Elastisitas Permintaan – Pendapatan. Jika elastisitas permintaan terhadap pendapatan sebagai berikut: η = (dQ/Q) / (dI/I), maka kita dapatkan klasifikasi sebagai berikut:

Nilai Elastisitas Klasifikasi Barang η>1 Suferior/Normal η<1 Inferior η<0 Giffen

Dari tabel di atas dapat kita ketahui bahwa nilai lastisitas permintaan – pendapatan dapat negatif; naiknya pendapatan dalam beberapa kasus jumlah yang diminta akan berkurang. Perlu diperhatikan di sini penggunaan klasifikasi “ suferior/normal, inferior, giffen “ semata-mata hanya menerangkan elastisitas pendapatan suatu barang. Jadi bisa saja suatu barang merupakan inferior bagi seseorang tetapi bagi yang lainnya merupakan barang normal.

J. KURVA ENGEL DAN KURVA PERMINTAAN

(25)

asumsi harga barang x dan harga barang lain konstan. Maka kita dapat membuat hubungan kurva Engel dan permintaan sebagaimana diperlihatkan oleh Grafik 4.4a dan 4.14b.

Grafik 4.14a menunjukkan dua kurva permintaan dengan dua tingkat pendapatan. Jika harga barang X adalah px0, maka kenaikkan pendapatan dari I0 ke I1 menyebabkan pergeseran dari titik P ke Q dengan jumlah barang x yang dikonsumsi naik dari X0 ke X1. Keadaan ini juga ditunjukkan oleh kurva 4. 14b pergerakan dari P ke Q pada saat pendapatan naik dari I0 ke I1 dan X naik dari X0 ke X1. Catatan di sini px adalah konstan sebesar px0. K.EFEK SUBSTITUSI DAN EFEK PENDAPATAN

Jika misalnya terjadi perubahan harga barang X maka akan terjadi perubahan ekulibrium konsumen. Perubahan ini dapat dipecah menjadi dua sebab yaitu karena substitusi (efek substitusi) dan karena pendapatan (efek pendapatan).

Perhatikan Grafik 4. 15, sebagai ilustrasi jika harga barang x naik. Rasio tingkat harga awal ditunjukan oleh slope garis anggaran LM, dan kondisi keseimbangan pada R pada kurva indiferen I. Jika harga X naik maka garis anggaran bergeser menjadi LM dan keseimbangan konsumen yang baru pada titik R pada kurva indiferen II dengan jumlah barang x yang dikonsumsi X3. Efek totalnya adalah X1-X3.

Efek substitusi dari perubahan ini ditunjukkan oleh pergeseran x1-x2 (P ke Q). Pada saat harga naik konsumen mengalami kerugian karena turunnya pendapatan riil; yang ditunjukkan oleh pergeseran I1 ke I2. Jadi untuk mengkompensasi (mengganti kerugian) dari naiknya harga maka konsumen perlu menyediakan tambahan uang agar kepuasannya tetap pada I1 pada rasio harga yang baru. Secara grafik kompensasi ini ditunjukkan oleh ”tangent garis anggaran fiktif” pada I1 (kurva kepuasan yang lama) tetapi memiliki slope (rasio harga) yang sama dengan rasio harga yang baru (setelah kenaikan harga). Garis anggaran CC adalah fiktif, dan memiliki slope I1, pada titik Q. Jadi efek substitusi di sini.

(26)

Qy

GRAFIK 4.15 Efek Substitusi dan pendapatan jika harga X Naik

Dari grafik di atas maka pergeseran dari titik imajiner Q ke keseimbangan yang baru R pada 12 dinamakan sebagai efek pendapatan. Karena garis anggaran CC’ dan LM’ pararel maka pergeseran tersebut tidak mengubah harga relatif ( rasio harga sama ) ,tetapi hanya pendapatan riilnya saja yang berubah.

Pendapatan riil turun sebagai hasil kenaikan Px. Penurunan jumlah yang diminta dari

X2 X3 sebagai akibat turunnya pendapatan riil (efek turunnya harga telah dihitung sebagai efek substitusi).

Efek Substitusi :

Perubahan jumlah yang diminta sebagai hasil perubahan harga relatif setelah dikompensasi (oleh konsumen) perubahan pendapatan rilnya. Atau dapat dikatakan perubahan jumlah yang diminta karena perubahan tingkat harga dimana perubahan ini masih sepanjang kurva indiferen yang sama,dengan tingkat pendapatan konstan.

Efek pendapatan dari perusahaan harga :

(27)

BL Px0

BL Px1

A

C B

I2 11

X1 X2 X3 Qx GRAFIK 4.16 Efek Substitusi dan Pendapatan Jika Harga X Turun (Px1<Px0)

Jika sekarang yang terjadi adlah tingkat harga x (Px) turun,maka kita dapat menganalisisnya dengan cara yang sama. Pergeseran dari A ke B pada Grafik 4.16 menunjukkan efek substitusi (pada satu kurva indiveren,dengan tingkat pendapatan tetap),sedangkan dari titik B ke C menunjukkan efek pendapatan (pada harga relatif yang sama,dengan tingkat pendapatan/kurva indiferen yang berbeda).

L. BARANG NORMAL,INFERIOR,GIFFEN

Dengan analisis efek substitusi dan pendapatan di atas kita dapat menentukan apakah suatu barang termasuk dlam kriteria barang normal/suferior,inferior,giffen.

Dikatakan barang normal jika jumlah yang di minta berhubungan lurus dengan pendapatan riil. Turunnya harga berarti naiknya pendapatan riil dan ini berarti naiknya jumlah yang diminta,vice versa (demikian sebaliknya).

(28)

Dikatakan barang inferior jka jumlah barang yang diminta berhubungan lurus (namun tidak kuat) dengan pendapatan rill, jadi turunnya harga akan menaikkan pendapatan rill tetapi kenaikan jumlah yng diminta tidak terlalu besar.

Jika efek substitusi dan efek pendapatan berarah berlawanan dengan efek substitusi lebih besar dari efek pendapatan maka jumlah yng diminta akan naik sedikit. Barang demikian dinamakan barang inferior.(Grafik 4.17 dan 4.18).

Dikatakan barang giffen jika jumlah barang yang diminta berhubungan terbalik dengan pendapatan. Jika harga barang x turun maka tingkat pendapatan rill akan naik tetapi jumlah barang x yang diminta akan turun pula. Kasus ini menunjukkan fungsi permintaan pada barang giffen berslope positif. Barang giffen ini umumnya merupakan barang-barang berkualitas rendah atau barang kebutuhan pokok. Sebagai contoh pada konsumen yang tidak mampu makan jagung merupakan makanan pokok.jika tingkat harga jagung turun maka permintaan jagung juga akan turun karena konsumen menggantikannya dengan beras.

Qy Qy

BL Px0

BL Px1 BL Px0

Q BL Px1

e.s. P C

I2

A I2

R B

(29)

Jika efek substitusi dan efek pendapatan juga berlawanan arah dengan eek pendapatan lebih besar dari efek substitusi maka jumlah barang yang diminta akan turun. Barang demikian dinamakan barang giffen. Kasus ini termasuk langka (menyimpang dari hukum permintaan) karena turunnya harga diikuti turunnya jumlah barang yang diminta (Grafik 4.19 dan 4.20).

Kita dapat tuliskan ringkasan kedua efek tersebut terhadap ketiga jenis barang turun(naik) sebagai berikut:

TABEL 4.2 Ringkasan Efek Substitusi dan Pendapatan Jika Harga Turun (Naik)

Tipe Barang Efek Substitusi Efek Pendapatan Efek Total Normal Naik (Turun) Naik (Turun) Naik (Turun) Inferior Naik (Turun) Turun (Naik) Naik (Turun) Giffen Naik (Turun) Turun (Naik) Turun (Naik)

Qy

M Py

C

Q I2

P

12

A

e.s. R B

e.p. I1 e.p e.s I1

X2 X1 X3 M M Qx X3 X1 X2

(30)

M. PERSAMAAN SLUTSKY

Persamaan slutsky adalah cara lain untuk melihat pengaruh perubahan harga terhadap jumlah barang yang diminta. Slutsky tetap memperhatikan adanya dua efek yang bekerja tetapi dengan pola yang agak bebrbeda.

Efek substitusi dikatakan jika terjadi perubahan permintaan yang dihubungkan dengan terjadinyaperubahan pertukaran antara dua barang, sedangkan efek pendapatanjika terjadi perubahan permintaan yang di hubungkan dengan daya beli

Perubahan harga ini dapat dianalisis melalui dua tahap yaitu:

(1)berputar (pivot); perubahan harga relative dan menyesuaikan pendapat nominal (money income) dengan menganggap daya beli konstan, (2) berpindah (shift); penyesuaian dalam daya beli dengan menganggap harga relative konstan.

Secara grafik dapat di perhatikan Grafik 4.21.

Misalkan harga barang X turun, sehingga garis anggaran berubah (berotasi vertikal, menjadi lebih datar), dari BL1 ke BL2. Tahapan ini dapat di bagi menjadi dua: (1) pivot, pergerakan di mana slope dari garis anggaran berubah (harga relatif) sedangkan daya beli di anggap konstan, dan (2) pergarakan di mana slope tetap, tetapi daya beli berubah. Pemecahan ini sebenarnya lebih merupakan hipotesis karena sebenarnya konsumen pada umumnya hanyalah memperhatikan perubahan harga untuk kemudian menentukan jumlah yang di beli. Tetapi dalam analisis bagimana perubahan pilihan konsumen, sanagatlah berguna memperhatikan kedua analisis tadi.

Qx2

BL 1

X (x1,x2) z (z1,z2) y (y1,y2)

shift BL 2

(31)

Bagimana pengertian ekonomi dari pivot (berputar) dan shift (bergeser) dari garis anggaran dapat di perhatikan pada analisis berikut:

Di sini kita memiliki garis anggaran yang berslope sama (memiliki harga relative sama), tetapi pendapata nominal (money income), yang di hubungkan dengan garis anggaran akan berbeda yang di sebabkan intercept vertikal (perpotangan dengan sumbu Y) berbeda juga. Jika konsumsi awal (X1,X2 tersebut dapat di capai. Ini berarti daya beli konsumen tetap.

Berapa besar pendapatan nominal untuk dapat mengkomsumsi posisi X1? Jika m adalah jumlah uang nominal yang harus di pertahankan untuk dapat mengkonsumsi X1,X2 ini sama artinya dengan pendapatan nominal yang di hubungkan dengan garis anggaran yang berputar. Jadi pada X1,X2 itu dpat dipenuhi baik pada (P1,P2 m’), sehingga:

m' = P1’X1 + P2X2 m' = P1 X1 + P2X2 m'-m = (P'-P)X1 ∆m = ∆P X1

Ini adalah rumus untuk garis anggaran yang berputar: dengan harga yang baru dengan pendapatan berubah sebesar ∆m. pehatikan bahwa pada saat harga turun maka untuk menjaga daya beli yang tetap pendapatan nominal konsumen harus dikurangkan sebesar ∆m. pergerakan ini disebut sebagai efek substitusi. Hal ini menunjukan bagaimana konsumen mensubtitusikan satu barang ke barang lain dimana daya beli tetap.

Jadi efek subtitusi adalah: X1 = X1(P,m) – X1(P,m)ˢ

(32)

Contoh 4.6:

Misalkan diketahui fungsi permintaan: Q1 = 10 + m/(10.pi)

Jika kondisi awal adalah m=120 dan p=3 maka didapatkan q1=14 Jika harga turun menjadi p=2 maka didapatkan q2=16

Jadi terjadi perubahan/kenaikan jumlah yang diminta 2 unit

Untuk menghintung efek substitusi harus diketahui terlebih dahulu jumlah perubahan pendapatan yaitu:

∆m = x1. ∆p1 = 14 (2-3) = -14

Jadi tingkat pendapatan yang di perlukan agar daya beli konstan m = m + ∆mp = 120 – 14 = 106

Jika permintaan konsumen pada harga baru dengan tingkat pendapatan baru : x1 (2,106) = 10 + 106/20 = 15,3

maka efek substitusinya :

X1 = X1 (2,106) – X1 (3,120) = 15,3 – 14 = 1,3ˢ Efek Pendapatan :

akan bergeser dari Y Melihat kenaikan pendapatan konsumen dari m' ke m, pada harga konstan (P1' ,P2). Dalam grafik 4.21 akan bergeser dari (Y1,Y2) ke (Z,Z2)

= X1(p1',m) – X1 (p1',m')

Perubahan pendapatan pada harga konstan x1 (p1', m) = x1(2,120)

(33)

Dari fungsi permintaan tersebut dapat di ketahui bahwa barang tersebut barang normal, karena efek pendapatannya positif.

Kita dapat menurunkan persamaan slutsky dengan melihat kedua efek tersebut. Jadi kita dapat tulis sebagai berikut.

δQt = δQ1 (14) Qt = efek total

Qs = efek substitusi Qi = efek pendapatan

Jika kita bagi persamaan (14) dengan δp didapat:

δQt/δP = δQs/δp + δQi/δp (15) Jika suku terakhir dari persamaan (15) kita kalikan dengan

(δR/δR)(R/R)(δR = perubahan pendapatan riil) maka:

δQt/ δP = δQs/ δP + δQi/ δP (δR / δR) (R/R) (16) jika persamaan (16) dikalikan P/q maka:

δQt/δP P/Q = δQs/δP P/Q + δQi/δP (δR/δR) (R/R) P/Q (17)

karena δR = -qδP (karena perubahan pendapatan riil sama dengan jumlah pendapatan yang di belanjakan pada saat missal harga relative suatu barang (x) jatuh dimana pendapatan riil dan lain-lain dianggap konstan /ceterisparibus), maka:

δQt/δP . P/Q = δQs/ δP.P/Q + δQi/ δP (-QδP)/δR. P/Q (18) kita bisa tulis ulang persamaan (15) menjadi:

(δQt/Q)/(δP/P) = (δQs/Q)/(δP/P) – (PQ/R) (δQi/Q)/(δR/R) (19)

(34)

Elastisitas permintaan terhadap harga ygng dihubungkan dengan efek substitusi (price elasticity of demand associated with the substitution effect) dihitung berdasarkan pendapatan pendapatan riil konstan dan dengan notasi t. PQ/R menunjukan persentase pendapatan yangȠ dibelanjakan untuk suatu barang sedangkan suku terakhir menunjukan koefisien elastisitas permintaan terhadap pendapatan riil.kita dapat tuliskan secara sederhana sebagai berikut:

t = t - k t (20)

Ƞ Ƞ Ƞ

Persamaan di atas dinamakan persmaan slutsky yang menunjukan elastisitas permintaan terhadap harga merupakan kombinasi dari dua hal yaitu: terhadap perubahan harga relative,dan ditambah dengan fraksi bagian dari elastisitas permintaan terhadap pendapatan. nilai t selalu negative, karena mengikuti hukum permintaan,sedang nilai k selalu positifȠ karena menunjukkan persentase pengeluaran dari pendapatan.

Kita dapat mengetahui apakah suatu barang tersebut barang normal (jika positif) jikaȠ t negatif dan nilai absolutnya besar.ini berarti efek pendapatan searah efek substitusi.

Ƞ

Jika barangnya barang inferior maka i akan negatif sehingga efek pendapatan akan bekerjaȠ melawan arah dengan efek substitusi.

N. ELASTISITAS PEMINTAAN TERHADAP HARGA DAN SLOPE PCC

(35)

lain).jumlah barang x yang di beli tentu saja dapat meningkat,meskipun tidak dapat di pastikan karena harus dibandingkan besarnya efek turunnya harga dengan turunnya jumlah uang di keluarkan untuk harga barang x tersebut.

M

M1 M PCC M2

PCC

M M Q untuk x (b) Qx Px1 Px2

M

M2 PCC

M1

(36)

APPENDIKS

Dalam appendiks ini akan dilihat beberapa contoh penggunaan konsep utilitas dan preferensi berkenaan dengan kehidupan ekonomi sehari-hari. Contoh tersebut meliputi pemilihan investasi,poreferensi yang terungkap,penerapan tunjangan dan pendapatan bersih, serta penawaran tenaga kerja.

1.Pemilihan investasi

Sebagai contoh penggunaan nilai utilitas adalah dalam pemilihan investasi, missal A & B. Kedua investasi tersebut memiliki keuntungan yang diharapkan (expected profit) yang sama, tetapi memiliki peluang keuntungan yang berbeda. Misalkan dapat diketahui pula

(37)

Jika kondisi perekonomian buruk maka investasi A akan memberikan hasil lebih Rp 1000,tetapi jika perekonomian dalam keadaan baik maka investasi B akan memberikan hasil lebih Rp 1000 (Rp 4000-3000). Pada umumnya kebanyakan investor memilih A disbanding B karena nilai utilitas dari tambahan Rp 1000 lebih rendah dibandingkan utilitas yang hilang karena Rp 1000. Perilaku ini umumnya dinamakan penghindar resiko.

2.Preferensi yang Terungkap

Preferensi yang Terungkap ditemukan oleh samuelson seorang doctor fisika yang menekuni ekonomi dan merupakan pemenang hadiah nobel ekonomi I dan Amerika Serikat.

Dasar pemikirannya adalah penggunaan rasionalitas dalam pemilihan sesuatu.

Misalnya A lebih menyukai untuk tinggal di daerah dengan udara yang sejuk maka jika A berad pada posisi A sebenarnya keadaan tersebut adalah bukanlah keinginan yang kuat. Untuk itu A dapat mengkompensasikan dengan selisih upah. A hanya mau pada kondisi C1 jika tingkat upah adalah sebesar U1,tetapi A bersedia dibayar lebih murah sebesar U3 untuk cuaca yang lebih baik yaitu pada C2.

Upah

U1 A

IB U3

A IA

C1 C3 Kualitas cuaca

3. Tunjungan dan Pendapatan Bersih

(38)

Misalkan garis anggaran awal adalah BB’ dengan dua pekerjaan I & II. Pola preferensi dari pekerja tersebut masing-masing adalah pada titik E dan F. Jika pekerja II lebih menyukai asuransi lebih banyak dibandingkan pekerja I. sekarang misalkan perusahaan menaikkan tunjangan perawatan kesehatan sebesar BC, sehingga garis anggaran yang baru adalah BCC. Sebenarnya bagi pekerja I akan lebih menyenangkan jika dia diberi tambahan pendapatan sehingga titik kepuasannya berpindah dari C ke E dengan mengurangi jumlah perawatan kesehatan yang diterimanya. Disini tampak ada semacam kecelakaan yang muncul, jika para pekerja dapat saling tukar diantara mereka, maka hal tersebut dapat diminimumkan.

Uang

I1ˈ

B C

I1 E

I1 Fˈ

F I2 I2ˈ

(39)

4. Penawaran Tenaga Kerja

Orang bekerja umumnya untuk memperoleh uang meskipun juga menyukai waktu senggang. Jadi baik pendapatan maupun waktu senggang adalah barang baik (good goods) sehingga dapat digambarkan kurva indiveren antara waktu senggang dan pendapatan (lihat barang baik dabn barang buruk).

Garis anggaran untuk pekerja tergantung dari tingkat upah. Jika missal tingkat upah per jam adalah Rp72000. Jika dianalisis efek perubahan tingkat upah terhadap permintaan waktu senggang maka dapa dipecah dalam efek substitusi dan efek pendapatan, yang bekerja dengan arah yang berlawanan. Jika tingkat upah naik maka harga dari waktu senggang akan naik,sehingga pekerja akan mengurangi jam waktu senggangdan menaikkan jam kerja tetapi kenaikan pendapatan akan membuat pekerja meminta lebih banyak lagi waktu luang,jika waktu luang tersebut barang normal. Ini adalah efek pendapatan. Pada tingkat upah yang rendah maka efek substitusi akan mendominasi sehingga jumlah waktu luang yang diminta akan lebih sedikit, dengan demikian jam kerja akan naik dan pada akhirnya kurva penawaran tenaga kerja berslope positif. Tetapi pada tingkat upah yang lebih tinggi efek pendapatan lebih besar dibandingkan efek substitusi dan didapatkan kurva penawaranberslope negative. Inilah yang dikenal sebagai kurva penawaran terbalik. Kurva penawaran terbalik ini merupakan suatu yang pasti, tetapi umumnya terbukti secara empiris.

Secara grafis dapat kita perhatikan sebagai berikut : jika tingkat upah naik maka garis anggaran akan berotasi keatas dari BL1 ke BL2 ke BL3 dan seterusnya. Untuk barbagai kurva indiveren kita dapatkan keseimbangan berada pada E0,E1,E2,E3, dan seterusnya. Pada saat kenaikan upah yang menggeser BL1 ke BL2 maka pekerja mengurangi jam mneganggurnya dari L1 menjadi L2. Dalam kasus ini maka efek substitusi lebih besar dari efek pendapatan. Jika pekerja sudah semakin kaya, maka dia akan memiliki lebih banyak waktu luang. Jadi missal jika tingkat upah naik menjadi Rp5000 (BL2), maka jam kerja seseorang cenderung tidak bertambah dengan cepat, bahkan dapat berkurang. Jika tingkta upah naik lagi misalnya Rp10000 per jam (BL4), maka barang kali para pekerja cendarung akan mengurangi jam kerjanya. Jadi jika kita tarik garis dari titik-titik keseimbangan, maka kita dapatkan garis penawaran tenaga kerja,yang ternyata sebagaimana dimuka dapat berbentuk : bending supply curve

(40)

Tingkat Upah Penawaran Kerja (Jam) Waktu Luang(Jam)

Rp 3000 6 18

Rp 5000 10 14

Rp7500 12 12

Rp 10000 8 16

Pendapatan 224 180

I3 PCC 120 E2 E3

72 E1 I4 I4 I2 I

E0 I1

(41)

Tingkat upah

F (s) tenaga kerja

10000 E3

7500 E2

5000 E1

3000 E0

6 8 10 12 Jam kerja (24) GRAFIK 4.25. Kurva Penawaran Tenaga Kerja

DAFTAR ISTILAH Barang Buruk

Barang yang dinilai marjinal utilitasnya lebih kecil dari nol. Barang Giffen

Barang yang sangat inferior.

Barang Inferior

Barang yang memiliki efek pendapatan yang negative. Artinya jika harga barang suatu barang turun, maka jumlah barang yang diminta turun.

Barang Normal

Barang yang memiliki efek pendapatan yang positif. Artinya jika harga suatu barang turun (berarti secara rill pendapatan naik) maka jumlh barang yang diminta naik.

Barang Line

(42)

Efek Pendapatan

Perubahan alokasi barang trjadi setelah ada perubahan kurva indiveren (dari 11 ke 12) sehingga ada perubahan tingkat kepuasan dan elokasi barang yang dikonsumsi.

Efek Substitusi

Perubahan alokasi barang yang terjadi hanyalah melalui satu kurva indiveren ( karena adanya perubahan tingkat harga,tetapi bukan dianggap perubahan itngkat pendapatan) sehingga masih berlaku tingkat kepuasan yang sama (orang yang hanya mengubah konsumsinya lebih banyak pada barang yang lebih murah).

Engel Curve

Kurva yangmemperlihatkan hubungan jumlah barang yang diminta engan perubahan tingkat pendapatan. , (kurva engel).

Fungsi Permintaan Dikompensasikan

Kurva permintan yang hanya memperhatikan efek substitusi saja. Fungsi Permintaan Normal

Kurva permintaan yang memperhatikan efek perubahan harga tersebut melalui efek substitusi dan efek pendapatan.

Good Goods

Barang yang dikonsumsi terus dengan anggapan nilai marjinal utilitasnya lebih besar dari nol (masih memberikan kepuasan), (barang baik).

Income Consumption Curve

Kurva yang menunjukkan perubahan jumalh barang yang dikonsumsi (diminta) oleh konsumen yang disebabkan oleh perubahan tingkat pendapatan konsumen. Dari kurva ini dapat kita turunkan Kurva Engel, (Kurva Pendapatan Konsumen).

Indifference Curve

(43)

Keseimbangan Konsumen

Tingkta kepuasan konsumen yang maksimum (kurva indiferen yang tertinggi ) dengna kendala garis anggaran tertentu. Cara memperoleh keseimbangan ini biasanya mempergunakan Fungsi Lagrange.

Kurva Penawaran Terbalik

Merupakan kurva penawaran tenaga kerja diman pada tingkat upah yang demikian tinggi maka penawaran tenaga kerja akan berkurang sehingga bentuk kurva penawarannya terbalik. Nilai Guna (Utilitas)

Berkenaan dengan teori preferensi yaitu nilai kepusan atau manfaat dari suatu barang yang dikonsumsi.

Nilai Tukar

Berkenaan dengan kelangkaan suatubarang yaitu tingkat harga dari suatu barang yang ingin dikonsumsi (sebagai contoh adalah paradox yang terkenal antara air dan intan, intan nilai gunanya terendah tetapi nilai tukarnya tinggi kaena jumlahnya langka).

Pendektan Kardinal

Pengukuran tingkat preferensi konsumen dengan mengasumsikan nilai gunanya dapat diukur dengan pasti.

Pendekatan Ordinal

Pengukuran tingkat preferensi konsumen dengan membuat rangking dari tingkat preferensi (rank order of preference), yang dikanal kemudian dengan kurva indiferen. Dibandingkan dengan pendekatan cardinal maka pendekatan ordinal lebih banyak dipakai.

Persamaan Slutsky

(44)

Preference

Menunjukan kesukaan konsumen dalam pemilihan berbagai kombinasi barang yang akan dikonsumsi .

Preferensi yang Terungkap

Atribut suatu produk yang mendasari pilihan dari konsumen. Price Consumption Curve

Kurva yang menunjukan perubahan jumlah yang dikonsumsi oleh konsumen yang disebabkan oleh perubahan harga. Dari kurva ini dapat kita turunkan fungsi permintaan Tingkat Batas Substitusi (dY/dX)

Jumlah yang dapat dipertukarkan (barang X) untuk mendapatkan tambahan 1 unit barang lain (barang Y) untuk mencapai tingkat kepuasan yang sama.

Tingkat Batas Substitusi Menurun

Gambar

TABEL 4.1  Utilitas dari barang yang Dikonsumsi
GRAFIK. 4.1. Utilitas dari Barang yang Dikonsumsi
TABEL 4.2 Tingkat Pendapatan dan Kebahagiaan
Grafik 4.4 dapat diketahui kombinasi B, D lebih disukai dibanding kombinasi A.C.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya preferensi yaitu jika seorang konsumen lebih menyukai gula pasir. curah maka ia akan tetap memilih gula pasir curah tersebut untuk

penjualan barang atau layanan secara langsung kepada konsumen akhir, yang.. membeli untuk kebutuhan pribadi tidak

• Setiap barang / komoditi akan mempunyai nilai guna atau utilitas tertentu, yang disebabkan barang tersebut mempunyai kemampuan untuk memuaskan konsumen yang menggunakan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat konsumsi konsumen, menganalisis preferensi konsumen serta untuk menganalisis kombinasi atribut yang paling disukai konsumen

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat konsumsi konsumen, menganalisis preferensi konsumen serta untuk menganalisis kombinasi atribut yang paling disukai konsumen

Salah satu yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih barang yang akan dikonsumsi atau tempat belanja yang akan dikunjungi adalah kualitas pelayanan atau kualitas dari

Salah satu yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih barang yang akan dikonsumsi atau tempat belanja yang akan dikunjungi adalah kualitas pelayanan atau kualitas dari

Mengenai Produk Berdasarkan penilaian konsumen terhadap bahan dan bentuk kemasan produk madu PT Kembang Joyo sesuai kebutuhan yaitu sebesar 313, artinya bahwa konsumen setuju dengan