A. Landasan Teori
2. Electronic Dance Music
a. Definisi Electronic Dance Music
Electronic Dance Music adalah sebuah subkultur yang tumbuh dan berkembang sekitar tahun 1960an. Menurut penjelasan sebelumnya, bahwa Electronic Dance Music (EDM) adalah suatu suara yang membuat manusia menari karena adanya DJ yang memainkan lagu-lagu tertentu dan pada waktu atau momen-momen tertentu yang dimana biasanya pada pertunjukkan langsung di dalam Electronic Dance Music (EDM) terdapat kunci musik yang potensial. Sebelum penulis menjabarkan hubungan antara menikmati music Electronic Dance Music (EDM) dengan pengaruhnya terhadap perubahan budaya ada baiknya untuk mengetahui terlebih dahulu konteks historis dari musik Electronic Dance Music (EDM) itu sendiri.
Dapat diambil kesimpulan bahwa Electronic Dance Music sudah ada dari tahun 1960 dan berasal dari Jamaica. Awalnya menggunakan pemutar tape, beberapa lagu dan instrument yang telah ada sebelumnya untuk dijadikan lagu yang baru lagi. Lalu seiring waktu, tahun 1970 munculah DJ yang pada akhirnya menggunakan teknologi yang lebih maju berupa mixer dan dua turntable yang menjadikannya sebagai awal dari kemunculan musik House yang termasuk ke dalam musik Electronic Dance Music (EDM).
Musik dalam perkembangannya disesuaikan dengan selera masyarakat agar musik berbeda dengan seni lainnya sehingga memiliki daya tarik tersendiri dan memberikan nuansa baru bagi perkembangan seni di Indonesia. Perkembangan musik di Indonesia terjadi sangat pesat di era globalisasi ini, akan tetapi budaya barat dapat masuk dengan mudah di kehidupan sehari-hari. Pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia salah satunya adalah genre musik house yang hadir pada club-club malam atau biasa disebut dengan tempat hiburan malam (dunia gemerlap).
11
Musik Electronic Dance Music (EDM) bukan jenis baru di dalam aliran musik. Awal mula Electronic Dance Music (EDM) di Indonesia dimulai dari kultur mobile disco pada era 1970-an. Genre ini merupakan evolusi dari musik elektronik di era 1990-an. Electronic Dance Music (EDM) adalah satu set genre musik yang mengandalkan perkusi elektronik. Awalnya, Electronic Dance Music (EDM) diproduksi terutama untuk lingkungan hiburan berbasis dansa atau dance seperti di klub malam. Tak heran bila banyak musisi yang mengusung Electronic Dance Music (EDM) memiliki latar belakang sebagai DJ (disc jockey) yang memang lekat dengan dunia tersebut.
Awalnya, Electronic Dance Music (EDM) tidak begitu mendapat sorotan, baik oleh pers maupun penggemar musik di Amerika. Ketika itu, Electronic Dance Music (EDM) dipasarkan dengan istilah electronica selama pertengahan hingga akhir 1990-an. Baru pada pertengahan 1990-an, beberapa musisi seperti Prodigy dan The Chemical Brothers mulai mendapatkan perhatian dari pendengar, kritikus musik, dan produser musik mainstream. Hal ini membuka peluang bagi pemain besar di industri musik untuk bekerja sama dengan artis Electronic Dance Music (EDM), dan produser musik mainstream untuk bereksperimen dengan sound elektronik.11
Disjoki atau joki cakram atau (bahasa Inggris: Disc Jockey, disingkat DJ, atau kadang-kadang "deejay") adalah seseorang yang terampil memilih dan memainkan rekaman suara atau musik yang telah direkam sebelumnya. Umumnya media hasil rekaman yang digunakan adalah media diska atau cakram, dan karena kemahirannya dalam memainkan cakram membuat profesi ini dikenal sebagai joki cakram, atau lebih dikenal dengan disjoki (ejaannya dalam bahasa Inggris disc jockey). Sekarang istilah itu tidak hanya merujuk kepada kemahiran
11 Ratih Anggraeni, “Pembelajaran Electronic Dance Music (EDM) di Bandung Disc Jockey School (BDJS)”, Universitas pendidikan Indonesia, repository.upi.edu, 2020
12
mengatur lagu/musik dalam medium cakram, tetapi juga dalam bentuk medium lainnya.
Istilah Disc Jockey (DJ) ini pertama kali digunakan untuk menggambarkan seorang penyiar radio yang akan memperkenalkan dan memainkan rekaman gramophone yang populer. Rekaman pada media ini, juga dikenal sebagai cakram dimana dalam industri ini dimainkan oleh penyiar-penyiar radio, oleh karena itu nama Disc Jockey dan selanjutnya lebih akrab dikenal sebagai DJ atau deejay. Sekarang karena berbagai faktor, termasuk musik yang dipilih, para pendengarnya, penyetelan kinerja, media yang digunakan dan perkembangan dari manipulasi suara, telah menghasilkan berbagai macam teknik Disc Jockey (DJ).
Peralatan paling pokok yang diperlukan untuk seorang Disc Jockey (DJ) untuk menjalankan aksinya terdiri dari:
1. Rekaman suara dalam berbagai medium (seperti piringan hitam, CD, file MP3 dsb).
2. Paling tidak mempunyai dua macam peralatan untuk memutar kembali (playback) rekaman-rekaman suara tersebut dan untuk tujuan memilih memainkan kembali rekaman secara maju mundur (seperti record players, compact disc players, mp3 players).
3. Sebuah sistem tata suara (Sound System) untuk menguatkan dan memperbesar volume suara (Seperti portable audio system, radio wave broadcaster).
Peralatan penunjang lain harus ada seperti sebuah pencampur (mixer) yang digunakan untuk mennyelaraskan dua atau lebih peralatan playback. sebuah microphone yang digunakan untuk menguatkan suara manusia, dan headphone yang digunakan untuk mendengarkan rekaman sambil memutarkan player yang lain, tanpa kehilangan kontrol suara yang didengarkan pendengarnya, adalah sangat diperlukan. Macam-macam peralatan juga dapat ditambahkan, termasuk samplers, drum
13
machines, effects processors, slipmats, dan Computerized Performance Systems.12
Perkembangan kota yang cukup pesat sebagai pusat Bisnis dan Pariwisata berimbas pada meningkatnya kebutuhan masyarakat terutama generasi muda akan hiburan, dan tempat untuk bersosialisasi, melepas penat, refreshing dan Hang out. Pada kenyataannya, fase perkembangan tempat hiburan yang ada di kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya sudah menganggap clubbing adalah life-style tersendiri.
Adanya sebuah konser musik yang dapat menarik minat masyarakat yang memiliki aliran musik yang sama akan memberi suatu ruang bagi kelompok tersebut dalam membentuk sosialisasi lebih lanjut yang berhubungan dengan musik yang mereka nikmati pada konser atau pada suatu event.
Salah satu konser yang dapat menarik animo beberapa kelompok masyarakat dari kalangan remaja sampai dewasa pada lima tahun terakhir ini adalah konser beraliran musik Electronic Dance Music atau biasa disingkat EDM. konser Electronic Dance Music (EDM) sangat menarik banyak pengunjung dan bahkan beberapa event Electronic Dance Music (EDM) ini tidak jarang kehabisan tiket karena antusiasnya masyarakat untuk menikmati musik berinstrumen elektronik ini.
Djakarta Warehouse Project atau biasa dikenal dengan singkatannya DWP merupakan salah satu konser musik Electronic Dance Music (EDM) yang paling terkenal di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Konser ini selalu di adakan setahun sekali dan merupakan festival music terbesar akhir tahun sejak tahun 2010 dan bagi pecinta musik Electronic Dance Music (EDM) di ibukota konser ini sangat rugi jika dilewatkan. Djakarta Warehouse Project menampilkan banyak sekali penampilan yang mengundang DJ mancanegara dengan beberapa
12 http://efriharefa.blogspot.com/2012/10/asal-mula-musik-dj-disc-jockey-dan.html diakses pada 29 Oktober 2019
14
genre musik seperti electronic, house, progressive, techno, drum, bass, dan dubstep. Selain itu, Djakarta Warehouse Project (DWP) juga mengundang artis-artis EDM (Electronic Dance Music) seperti Avicii, Calvin Harris, Martin Garrix, Hardwell, Afrojack, Yellow claw, Zedd, Skrillex, David Gueta, Dimitri Vegas and Like Mike, R3hab, Alesso, Kygo, Tieso, Swedish House Mafia, Kaskade, The Chainsmokers dan lain-lain. Djakarta Warehouse Project (DWP) yang bermula pada tahun 2010 selalu ada peningkatan pada jumlah artisnya, hal ini dapat memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan pada setiap tahunnya.13 Peningkatan ini dapat dilihat dari sisi kualitas maupun penontonnya meningkat akibat sedang trendnya musik EDM (Electronic Dance Music) di kalangan masyarakat kota.
Akibat musik EDM (Electronic Dance Music) yang sedang trend (atau sedang hits dan booming) saat ini, masyarakat mulai menimbulkan suatu anggapan kepada kelompok tertentu yang menikmati dan memiliki selera pada genre musik EDM (Electronic Dance Music) ini, apalagi kelompok-kelompok tertentu yang menikmatinya langsung dengan cara mengunjungi konser-konser aliran musik elektronik seperti Djakarta Warehouse Project (DWP).
Seiring berkembangnya music EDM (Electronic Dance Music) di Indonesia tentunya memberi dampak positif dan negatif terhadap budaya bangsa ini. Festival Djakarta Warehouse Project selain menciptakan benturan budaya juga dapat menghasilkan sesuatu yang menakjubkan karena adanya kolaborasi dua budaya.
3. Masyarakat Urban
Masyarakat Urban menurut peneliti dari Sosiologi UI, dapat distratifikasikan dalam lima strata, yaitu lapisan elite, lapisan menengah, lapisan peralihan, lapisan bawah, dan lapisan terendah. Lapisan Elite Kota
13 Cesira Amanda Putri, “Industrialisasi Musik Festival di Indonesia”, 2014, hlm. 14.
15
adalah lapisan teratas yang mempunyai penghasilan tinggi, generasi mudanya memiliki gaya hidup kosmopolit, mempunyai akses informasi dan politik yang sangat besar, serta mobilitas lintas negara yang tinggi. Di bawahnya terdapat lapisan menengah yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi walaupun secara finansial lebih rendah dari lapisan elit.14
Di lihat dari usia remaja mereka sangat aktif sekali dalam dunia hiburan apalagi terdapat sentuhan baru dari dunia hiburan tersebut, seperti kemunculan budaya populer Electronic Dane Music (EDM), gangnam style, harlem shake dan lain-lain. Budaya tersebut berasal dari luar negeri atau bisa dikatakan sebagai budaya asing yang masuk kedalam budaya indonesia dan juga berbagai aktivitas hiburan lainnya, ini di gambarkan dengan sosok orang yang suka dengan kesenangan atau euphoria yang saat itu lagi trending topik diberbagai media sosial khusunya di YouTube. Akses dari media sosial tersebut sangat cepat dan praktis itu yang membuat para remaja sangat cepat sekali menerima hal-hal yang baru entah itu dari media sosial atau pun dari lingkungan sosialnya.