BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1. Elektrokardiogram (EKG)
Elektrokardiagram (EKG) adalah rekaman listrik jantung yang diperoleh dengan bantuan elektroda yang ditempel di permukaan tubuh. Elektrokardiagrafi adalah ilmu yang mempelajari tentang EKG (Munawar dan Sutandar, 2006).
2. Kegunaan EKG
EKG sangat berguna dalam menentukan kelainan seperti : aritmia jantung, hipertrofi atrium dan ventrikel, iskemik dan infark miokard, efek beberapa pengobatan terutama digitalis dan anti aritmia, gangguan keseimbangan elektrolit khususnya kalium, serta penilaian fungsi pacu jantung (Munawar dan Sutandar, 2006). 3. Potensial aksi
Aktifitas listrik jantung merupakan akibat perubahan permeabilitas membrane sel. Seluruh proses aktifitas listrik jantung dinamakan potensial aksi yang disebabkan oleh rangsangan listrik, kimia, mekanik, dan termis. Lima fase aksi potensial (Dharma, 2009) yaitu :
a. Fase istirahat : bagian dalam bermuatan negative (polarisasi) dan bagian luar bermuatan positif.
b. Fase depolarisasi (cepat) : disebabkan meningkatnya permeabilitas membrane terhadap natrium sehingga natrium mengalir dari luar ke dalam.
c. Fase polarisasi parsial : setelah depolarisasi terdapat sedikit perubahan akibat masuknya kalsium ke dalam sel, sehingga muatan positih dalam sel menjadi berkurang.
d. Fase plato (keadaan stabil) : fase depolarisasi diikuti keadaan stabil agak lama sesuai masa refraktor absolut miokard.
e. Fase repolarisasi (cepat) : kalsium dan natrium berangsur-angsur tidak mengalir dan permeabilitas terhadap kalium sangat meningkat.
4. Sistem konduksi jantung a. Sino-atrial node (SA node)
Sering disebut nodus sinus, disingkat sinus nodus SA terletak di atrium kanan di dekat muara vena kava superior. Secara anatomis nodus SA memiliki panjang 10–12 mm, lebar 3–5 mm dan tebal 1 mm. Pada keadaan normal nodus SA mampu menghasilkan impuls listrik sebesar 60–100 kali per menit. Nodus SA merupakan pendahulu kontraksi jantung, dari sini impuls diteruskan ke antrioventrikuler node (Munawar dan Sutandar, 2006).
b. Antrio-ventrikuler node (AV node)
Nodus AV terletak di dalam dinding septum atau sekat antara atrium kanan dan kiri, tepatnya diatas katup trikuspid di dekat sinus koronarius. Secara anatomis, nodus AV memiliki panjang sekitar 7 mm, lebar 3 mm dan tebal 1 mm. Perjalanan impuls dari nodus SA menuju nodus AV memerlukan waktu 0,08–0,12 detik, dengan maksud untuk memberikan kesempatan pengisian ventrikel selama terjadi pengisian atrium. Nodus AV mampu menghasilkan impuls listrik sebesar 40-60 kali per menit. Selanjutnya impuls-impuls diteruskan ke antrio-ventrikuler bundel melalui berkas wenkebach (Munawar dan Sutandar, 2006).
c. Berkas his
Berkas his adalah sebuah berkas yang pendek (panjang sekitar 10 mm dengan diameter 2 mm) yang merupakan kelanjutan dari bagian bawah nodus AV yang menembus
annulus fibrosus dan septum bagian membran. Nodus AV
bersama berkas his disebut penghubung atrio-ventrikuler (Munawar dan Sutandar, 2006).
d. Cabang berkas
Kearah distal, berkas his bercabang menjadi dua yaitu cabang berkas kiri dan cabang berkas kanan. Cabang berkas kiri memberikan cabang-cabang ke ventrikel kiri, sedangkan
cabang berkas kanan bercabang-cabang ke ventikel kanan (Jones, 2005).
e. Serabut purkinje
Bagian terakhir dari sistem konduksi jantung ialah serabut-serabut purkinje, yang berupa anyaman halus dan berhubungan erat dengan sel-sel otot jantung yang berada pada endokardium menyebar pada kedua ventrikel. Serabut purkinje mampu menghasilkan impuls 20-40 kali per menit.
Gambar 2.1. Sistem konduksi jantung 5. Sandapan EKG
Terdapat 2 jenis sandapan (lead) pada EKG :
a. Sandapan bipolar, yaitu merekam perbedaan potensial dari dua elektroda, sandapan ini ditandai dengan angka romawi I, II dan III.
b. Sandapan unipolar
1) Sandapan unipolar ekstremitas
Merekam besar potensial listrik pada satu ekstremitas, elektroda ekplorasi diletakan pada ekstremitas yang mau diukur. Gabungan elektroda-elektroda pada ekstremitas yang lain membentuk elektroda indiferen (potensial 0). Sandapan ini dinamakan aVR, aVL, aVF.
Gambar 2.3. Sandapan unipolar ekstremitas 2) Sandapan unipolar prekordial
Merekam besar potensial listrik jantung dengan bantuan elektroda eksplorasi yang ditempatkan di beberapa dingding dada. Elektroda indiferen diperoleh dengan menggabungkan ketiga elektroda ekstremitas. Pemasangan sandapan unipolar prekordial :
1) Sandapan V1: ruang intercosta 4, garis sternal kanan 2) Sandapan V2: ruang interkosta 4, garis sternal kiri. 3) Sandapan V3: antara V2 dan V4.
4) Sandapan V4: ruang interkosta 5, garis midklavikula kiri.
5) Sandapan V5 : sejajar dengan V4 pada garis aksila anterior kiri.
6) Sandapan V6 : sejajar dengan V5 garis aksila tengah
Gambar 2.4. Penempelan elektroda prekordial 6. Kertas EKG
Kertas EKG merupakan kertas grafik yang merupakan garis horizontal dan vertikal dengan jarak 1 mm (kotak kecil). Garis yang lebih tebal terdapat pada setiap 5 mm disebut (kotak besar). Garis horizontal menunjukan waktu, dimana 1 mm = 0,04 detik, sedangkan 5 mm = 0,20 detik. Garis vertikal menggambarkan voltage, dimana 1 mm = 0,1 mv, sedangkan setiap 5 mm = 0,5 mv.
Gambar 2.5 Kertas EKG
0 0,,0044
0, 20 detik
0,1 mv
0,5 mv
7. Kurva EKG
Kurva EKG menggambarkan proses listrik yang terjadi pada atrium dan ventrikel. EKG normal terdiri dari gel P, Q, R, S dan T serta kadang terlihat gelombang U. Selain itu ada juga beberapa interval dan segmen EKG..
Gambar 2.6. Kurva EKG normal 8. Karakteristik gelombang EKG
a. Gelombang P
Gambaran yang ditimbulkan oleh depolarisasi atrium. Normal :
1) Tinggi : < 0,3 mvolt 2) Lebar : < 0,12 detik 3) Selalu positif di lead II 4) Selalu negatif di lead aVR Kepentingan :
1) Mengetahui kelainan di atrium
2) Gelombang P pulmonal untuk mengetahui right atrium
hipertrophy (RAH)
3) Gelombang P mitral untuk mengetahui left atrium
hipertrophy (LAH)
Gambar 2.7. Gelombang P b. Komplek QRS
Gambaran yang ditimbulkan oleh depolarisasi ventrikel Normal :
1) Lebar : 0,06 - 0,12 detik 2) Tinggi : tergantung lead
Gambar 2.8. Komplek QRS c. Gelombang Q
Normal :
1) Lebar : < 0,04 detik
d. Gelombang R
Defleksi positif pertama pada komplek QRS. Gelombang R umumnya positif di lead I, II, V5 dan V6. Lead aVR, V1, V2 biasanya hanya kecil atau tidak aaddaa..
e. Gelombang S
Defleksi negatif sesudah gelombang R, di lead aVR dan V1 gelombang S terlihat dalam, dari lead V2 ke V6 akan terlihat makin lama makin menghilang.
Kepentingan :
1) Mengetahui adanya hipertrofi ventrikel 2) Mengetahui adanya bundle branch block 3) Mengetahui adanya infark
f. Gelombang T
Gambaran yang timbul akibat repolarisasi ventrikel
Nilai normal : gelombang T positif di lead l, ll, V3 - V6 dan terbalik di lead aVR.
Kepentingan :
1) Mengetahui adanya iskemia / infark 2) Kelainan elektrolit
g. Interval PR
Diukur dari permulaan gelombang P sampai dengan permulaan komplek QRS.
Normal : 0,12 - 0,20 detik
Kepentingan : kelainan sistem konduksi
Gambar 2.10. Interval PR h. Segmen ST
Diukur dari akhir QRS sampai dengan awal gelombang T Normal : isoelektris
Kepentingan :
1) Elevasi pada injuri / infark akut 2) Depresi pada iskemia
Gambar 2.11. ST depresi Gambar 2.12. ST elevasi 9. Irama jantung
Dalam menentukan irama jantung urutan yang harus ditentukan adalah sebagai berikut :
a. Tentukan apakah denyut jantung berirama teratur atau tidak. b. Tentukan berapa frekwensi jantung / heart rate (HR).
c. Tentukan gelombang P normal atau tidak. d. Tentukan interval PR normal atau tidak. e. Tentukan gelombang QRS normal atau tidak. f. Interpretasi.
Irama jantung yang normal impulsnya berasal dari nodus SA, maka iramanya disebut irama sinus (sinus rhythm). Kriteria irama sinus adalah sebagai berikut :
a. Irama teratur.
b. Frekwensi jantung (HR) antara 60-100 kali permenit.
c. Gelombang P normal, setiap gelombang P selalu diikuti gelombang QRS dan T.
d. Interval PR normal (0,12-0,20 detik). e. Gelombang QRS normal (0,06-0,12 detik). f. Semua gelombang sama.
Gambar 2.13. Sinus rhythm
Irama EKG yang tidak mempunyai kriteria tersebut di atas disebut aritmia atau disritmia.
10. Menentukan frekwensi / heart rate (HR) Cara menghitung HR :
a
a.. 300
Jumlah kotak besar antara R – R b
b.. 1500
Jumlah kotak kecil antara R – R c
c.. Ambil EKG strip sepanjang 6 detik, hitung jumlah komplek QRS dan kalikan 10.
Cara pertama dan kedua digunakan jika irama jantung teratur, sedangkan cara ketiga digunakan pada irama jantung tidak teratur. Irama jantung teratur jika jarak antara gelombang R ke R berikutnya selalu sama, jika jarak gelombang R ke R berikutnya tidak sama disebut irama tidak teratur.
11. Menentukan sumbu jantung (axis)
Aksis normal terletak antara -30 derajat sampai dengan +110 derajat. Apabila aksis jantung antara 30 sampai dengan -90 derajat dinamakan left axis deviation (LAD), apabila +110 derajat sampai dengan +180 derajat dinamakan right axis
deviation (RAD), apabila aksis jantung antara +180 derajat
sampai dengan +270 derajat atau -90 derajat sampai dengan -180 derajat dinamakan extrem axis deviation.
Cara menghitung atau menentukan aksis jantung ada beberapa cara, ada juga yang mengatakan kalau aksis jantung juga bisa ditentukan melalui bidang horizontal. Tapi sebaiknya untuk menghitung melalui bidang frontal yaitu dengan menggunakan lead I, II, III, aVR, aVF, aVL seperti penjelasan sebagai berikut :
a. Normal aksis yaitu bila hasil resultan sandapan I positif dan aVF positif, maka aksis jantung berada pada posisi normal. b. Bila hasil resultan sandapan I positif, aVF negatif, dan
sandapan II positif, maka aksis jantung masih berada pada posisi normal.
c. Left axis deviation (RAD) yaitu bila hasil resultan sandapan I positif, aVF negatif dan sandapan II negatif, maka terjadi deviasi aksis ke kiri berada pada sudut -30 derajat sampai +90 derajat.
d. Right axis deviation (RAD) yaitu bila hasil resultan sandapan I negatif, aVF positif, dan sandapan II negatif, maka terjadi deviasi aksis ke kanan berada pada sudut +90 derajat sampai dengan -180 derajat.
e. Extrem aksis yaitu bila hasil sandapan I negatif, aVF negatif, dan sandapan II negatif, maka terjadi deviasi aksis ke superior
derajat sampai -90 derajat atau +180 derajat sampai dengan +270 derajat.
Gambar 2.14. Aksis jantung