• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

C. Identitas Diri

3. Elemen-elemen Identitas Diri

a. Elemen eksplorasi (exploration) : salah satu unsur pembentukkan identitas diri remaja, untuk melihat secara detail proses eksplorasi itu sendiri. Eksplorasi adalah suatu aktivitas yang dilakukan untuk menggali dan mencari informasi atau alternative yang sebanyak-banyaknya dan dan mempunyai hubungan dengan masa depan.

Untuk melihat dan memilai proses eksplorasi yang dilakukan oleh remaja mencakup unsur-unsur, yaitu :

i. pengetahuan (knowledgeability)

ii. Kegiatan yang dapat memperoleh informasi

iii. Mempertimbangkan alternatif elemen identitas yang ada

iv. Suasana emosi (emotional tone)

v. Keinginan untuk membuat keputusan secara dini b. Komitmen (commitment) di definisikan sebagai sesuatu sikap yang

cenderung menetap dan memberikan kesetiaan terhadap alternatif yang telah di pilih dan diyakini sebagai pilihan terbaik dan berguna untuk masa depan. Proses pembentukan identitas diri meliputi unsur-unsur sebagau berikut (Berk, 2012):

1) Penguasaan pengetahuan

2) Kegiatan yang di arahkan untuk melaksanakan elemen identitas yang dipilih

3) Suasana emosi

4) Identifikasi pada orang yang di anggap tepat 5) Proyeksi diri ke masa depan

6) Daya tahan terhadap goncangan yang terjadi 4. Status Identitas Diri

Status identitas diri adalah pengkategorian identitas diri yang di dasarkan pada hasil proses eksplorasi dan komitmen. Status identitas dapat di prediksi berdasarkan hasil tahapan sosial sebelumnya, dan dapat digunakan juga untuk memprediksikan pada saat di tahapan sosial selanjutnya (Purwadi, 2004).

Marcia membagi status identitas menjadi empat, yaitu : a. Pencapaian identitas (identity achievement)

Merupakan bentuk identitas yang membentuk pada individu yang berhasil menggali dan memahami sejumlah informasi penting tentang dirinya, mampu membandingkan dengan rasa senang (sikap positif), sehingga individu dapat dan mampu menentukan pilihan informasi yang akan diambil sebagai komponen untuk membentuk dirinya (Purwadi, 2004). Individu dengan status identitas ini adalah individu yang solid

dengan fokus-fokus penting dalam kehidupannya. Individu ini tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh tekanan dari luar. Ketika individu ini menghadapi tantangan, mereka akan bertahan dengan pilihan mereka sendiri (Kroger & Marcia, 2011). Individu ini memiliki ruang untuk memahami pengalaman orang lain yang memiliki pendapat yang berbeda dengan dirinya dan mempertimbangkan hal tersebut secara reflektif dan tidak defensif. Karakter tersebut membuat individu ini dapat diandalkan dan menjadi sumber kekuatan bagi orang lain (Kroger &

Marcia, 2011).

Tugas individu dengan status identitas ini secara empiris dikaitkan dengan hal-hal lain seperti pikiran yang seimbang dan hubungan interpersonal yang matang (Lerner & Steinberg, 2009). Kroger (dalam Lerner & Steinberg, 2009) merangkum hubungan dalam hal 1) Karakteristik kepribadian (motivasi achievement dan kepercayaan diri yang tinggi : Neurotisme yang rendah dan penggunaan mekanisme pertahanan), 2) Proses Kognitif (berfungsi ketika di bawah tekanan : lebih terarah, tingkat penalaran moral dan pengembangan ego yang lebih tinggi), 3) keterampilan interpersonal (keintiman yang tinggi, keterbukaan diri, dan kelekatan yang aman).

b. Identitas Moratorium (identity moratorium)

Identitas moratorium merupakan hasil dari eksplorasi yang cukup baik tetapi tidak di dukung dengan komitmen yang seimbang. Dari segi komitmen, status identitas ini kurang mampu mempertahankan pilihannya.

Hal tersebut terjadi jika individu tersebut kurang memahami tentang pilihan-pilihan yang ada. Akibatnya, individu cenderung mudah terombang-ambing oleh munculnya pilihan-pilihan baru (Berk, 2012).

Identitas ini sering dianggap sebagai status identitas yang lebih berfungsi dibandingkan foreclosure dan diffusion. Hal ini dikarenakan individu dengan status identitas ini mengambil langkah proaktif dalam mempertimbangkan alternatif identitas ketika dalam krisis identitas, tetapi pada status identitas ini ditemukan hambatan yang dikarenakan tingkat kecemasan dan ketidakpastian yang tinggi (Lerner & Steinberg, 2009).

Individu dengan status identitas moratorium berjuang untuk mendefisinikan dirinya sendiri. Individu ini cenderung menggunakan wawancara status identitas dan juga banyak percakapan dalam menentukan jati dirinya. Identitas moratorium cenderung sensitif secara moral. Selain itu, ada juga individu lain dengan status identitas ini yang tenggelam dalam perjuangan untuk melawan arus identifikasi. Daripada mengeksplorasi, individu ini lebih senang menjadi ruminator, yang terus

menerus terperosok dalam dilema. Pada hasil yang terbaik, status identitas moratorium dapat membuat pilihan yang relevan untuk diri sendiri dan beralih pada komitmen-komitmen pencapaian identitas. Sedangkan jika sendang tidak beruntung, individu ini menjadi lumpuh akibat kebimbangan mereka (Kroger & Marcia, 2011).

c. Penutupan identitas (identity foreclosure)

Status identitas ini terbentuk dari hasil eksplorasi yang tidak maksimal. Informasi tentang berbagai pilihan tidak dipahami dengan baik.

Pilihan-pilihan dibuat tanpa didukung dengan pemahaman yang lengkap.

Namun, ketika telah menentukan pilihan, individu dengan status identitas ini akan setia dan tidak mudah goyah oleh kemunculan pilihan-pilihan baru (Berk, 2012).

Identitas ini dapat dianggap sebagai status yang cukup dewasa jika dibandingkan dengan identitas diffusion dalam hal komimen, tetapi individu dengan identitas ini memiliki kompleksitas perkembangan yang rendah terkait dengan konformitas dan orientasi kepatuhan, dibuktikan dengan kecenderungan seperti otoritarianime, ketertutupan, kekakuan, dan over identifikasi dengan orang tua (Lerner & Steinberg, 2009).

Foreclosure dapat muncul sebagai yang kuat dan self-directed sebagai pencapaian. Namun, ada kerapuhan dan karena itu, kerapuhan menjadi

dasar untuk posisinya, karena kesulitan dalam mempertimbangkan alternatif dengan serius, individu harus mempertahankan pendiriannya secara defensif dan menolak untuk memutarbalikkan informasi yang membingungkan. Jika nilai-nilai individu umumnya utama dan mereka tetap konteks sosial yang mendukung nilai-nilai itu, individu tersebut tampak “bahagia”, “beradaptasi dengan baik”, mencintai keluarganya dan keluarganya juga mencintai dirinya (Kroger & Marcia, 2011). Tetapi jika individu ini menyimpang dari hal tersebut, ia mungkin akan mengalami penolakan dari dirinya sendiri dan keluarganya (Kroger & Marcia, 2011).

d. Difusi identitas (identity diffusion)

Diffusion muncul dalam berbagai gaya, semua memiliki kesamaan periode eksplorasi yang lemah atau tidak ada dan ketidakmampuan untuk membuat komitmen yang pasti. Pada saat terbaiknya, individu dengan status identitas ini tampak sangat fleksibel, menawan, dan mudah beradaptasi. Individu dapat menjadi pengaruh pada arus yang membentuk mereka, tetapi, tanpa adanya pengertian internal tentang definisi diri, individu harus secara konstan melihat secara eskternal untuk menentukan siapa mereka dan siapa mereka nantinya. Sedangkan saat terburuk status identitas ini, individu hilang dan terisolasi, diliputi oleh perasaan hampa dan tidak berarti. Kedua jenis diffusion tampaknya tidak memiliki identifikasi yang kuat, hanya dengan tokoh pada masa usia dini yang

membedakannya. Dalam istilah identitas, foreclosure, karena ada identitas, dan lebih disukai dibandingkan diffusion. Sementara diffusion “beradaptasi dengan baik” benar-benar ada, individu memerlukan konteks yang menentukan untuk menyediakan secara eksternal apa yang secara internal kurang (Kroger & Marcia, 2010)

Identitas diffusion, status yang terbentuk dari eksplorasi dan komitmen yang sama-rama rendah. Individu ini tidak memiliki semangat untuk mencari informasi penting yang diperlukan untuk membentuk identitas dirinya, sehingga ia tidak dapat membandingkan pilihan yang satu dengan yang lainnya dan berakibat individu tersebut kurang mampu dalam membuat keputusan yang cepat. Selain itu, individu ini tidak memiliki kekuatan yang dapat mempertahankan pilihan yang telah di pilihnya. Hal tersebut terjadi karena individu tersebut tidak mengetahui bagaimana ia memilih pilihan tersebut, sehingga individu ini sangat mudah berubah haluan dan mengganti pilihan jika dipengaruhi oleh orang lain, terlebih yang memberi pengaruh tersebut adalah orang yang di hormatinya seperti orang tua atau tokoh lain yang banyak berperan dalam hidupnya (Berk, 2012).

Identitas ini mecerminkan kurangnya perhatian arah kehidupan sekarang dan masa depan. Kroger (2003, dalam Lerner & Steinberg, 2009) mendeskripsikan identitas ini sebagai identitas yang memiliki tingkat harga diri yang tinggi dan otonomi yang rendah, sulit beradaptasi pada

lingkungan baru, dan fokus pada dirinya sendiri. Secara kognitif, identitas ini cenderung memiliki pikiran yang tidak teratur, locus of control eksternal, serta kecenderungan untuk menunda dan menghindari masalah (Lerner & Steiberg, 2009).

5. Factor-faktor yang mempengaruhi status identitas : a. Keluarga

Perkembangan identitas di kalangan remaja menguat bila keluarga berperan sebagai “basis rasa aman” yang melandasi rasa percaya diri menapaki dunia luas. Remaja yang terikat dengan orang tua, tetapi juga mereka bebas menyuarakan pendapat mereka condong berada dalam status moratorium dan pencapaian identitas (Berk, 2012). Remaja terdifusi dilaporkan memeiliki tingkat yang rendah dalam dukungan orang tua dan juga komunikasi hangat dan terbuka (Berk, 2012)

b. Teman Sebaya

Interaksi dengan teman sebaya melalui aktivitas sekolah dan masyarakat dapat membantu remaja dalam mengeksplorasi kemungkinan nilai dan peran. Teman dekat dapat bertindak sebagai basis rasa aman, memberikan dukungan emosional, dan model perkembangan identitas.

Interaksi dengan teman sebaya dapat mempengaruhi pandangan remaja terhadap orang lain di sekitarnya, contohnya nilai yang ia yakini ketika berteman atau berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, teman sebaya juga membantu remaja untuk memutuskan masa depannya (Berk, 2012).

c. Sekolah dan komunitas

Sekolah dan komunitas menawarkan beragam kesempatan atau peluang bagi remaja untuk bereksplorasi. Pengalaman suportif seperti di ruang kelas dapat merangsang cara berpikir remaja, aktivitas ekstrakulikuler dapat membantu remaja dalam mengambil peran tanggung jawab, guru atau konselor dapat mendorong remaja untuk meneruskan ke bangku kuliah, dan pelatihan kejuruan mambantu remahja dalam dunia nyata kerja dewasa (Berk, 2012)

d. Budaya

Budaya membangun rasa kesinambungan diri di tengah perubahan besar (Berk, 2012).

e. Gaya pengasuhan f. Figur tokoh sukses

Remaja melihat, menilai dan menemukan nilai-nilai yang di anggap baik ada pada figure tokoh tersebut, lalu setelah itu diinternalisasi ke dalam dirinya untuk dijadikan bagian dari pembentuk identitas dirinya (Purwadi, 2004).

6. Alat Ukur (Layne & Adams, 1986)

Pada penelitian ini, peneliti memakai alat ukur yang dibuat oleh Gerald R. Adams dan Layne D. Bennion, revisi dari alat ukur obyektif status identitas diri : instrument identitas untuk remaja akhir (EOMEIS-2).

Alat ukur tersebut di desain untuk mengukur status identitas diri dalam domain ideologis (pekerjaan, politik, agama, dan filosofi) dan domain interpersonal (pertemanan, kencan, peran gender, dan rekreasi). Domain ideologis berfokus pada ranah filosofis dan pekerjaan individu dari aspek identitas sosial. Secara khusus, domain interpersonal yang dibuat oleh Grotevant, Thorbecke, and Meyer (1982, dalam Layne & Adams, 1986) digunakan sebagai prototipe untuk mengembangkan penilaian atas interpersonal dan identitas sosial terkait pertemanan, kencan, peran gender, dan rekreasi.

D. Remaja

1. Definisi Remaja

Masa remaja adalah masa peralihan atau periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa. Remaja atau dalam bahasa Inggris, adolescence berasal dari bahasa latin adolescere, yang berarti “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan” (Aston & Ali, 2009). Remaja mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Piaget menyatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak merasa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa dirinya sejajar dengan orang yang lebih tua. Remaja berada di antara anak-anak dan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja seringkali di

kenal dengan masa “mencari jati diri” (Aston & Ali, 2009). Masa remaja adalah perkembangan transisi dari masa kecil ke masa dewasa yang melibatkan perkembangan fisik, kognitif, emosi, dan sosial (Papalia &

Feldman, 2014). Anna Freud mendefinisikan masa remaja sebagai proses transisi yang meliputi perubahan-perubahan psikoseksual dan hubungan dengan orang tua, serta cita-cita (Putro, 2017).

Berdasarkan definisi di atas dapat di simpulkan bahwa remaja adalah usia dimana individu mencari jati dirinya dan merasa bahwa dirinya tidak berada di bawah tingkat orang dewasa, namun sejajar dengan orang dewasa.

2. Batasan Remaja

Mappiare (1981, dalam Aston & Ali, 2009) menyatakan bahwa masa remaja perempuan berada pada rentang usia 12 tahun sampai usia 21 tahun. Papalia (Papalia & Feldman, 2014) menentukan masa remaja berlangsung dari usia 11 tahun sampai 19 atau 20 tahun. Sementara menurut Santrock (Sarwono, 2016) menyatakan bahwa remaja terjadi pada usia 10-12 tahun sampai 18-22 tahun.

Menurut Hukum di Indonesia, tidak ada istilah untuk konsep remaja, tetapi memiliki batasan-batasan yang bermacam-macam. Seperti pada hukum perdata pada pasal 330 KUHPerdata, memberikan batas usia 21 tahun (atau kurang dari itu asalkan sudah menikah) untuk menyatakan

kedewasaan seseorang. Sedangkan hukum perdana, pada pasal 45 dan 47 KUHP, memberi batasan 16 tahun sebagai usia dewasa. (Sarwono, 2016).

WHO dalam Sarwono (2016) menetapkan batasan remaja berdasarkan masalah remaja perempuan yang mendesak mengenai, yaitu kehamilan, dari usia 10 tahun sampai 20 tahun. Menurut WHO kehamilan di usia tersebut memiliki risiko yang lebih tinggi (kesulitan dalam melahirkan, sakit/cacat/kematian pada bayi atau ibu). WHO juga menyatakan berdasarkan pada usia kesuburan (fertilitas) pada wanita dan batasan tersebut juga berlaku untuk pria.WHO membagi menjadi dua bagian, yaitu 10 tahun sampai 14 tahun sebagai masa remaja awal dan 15 tahun sampai 20 tahun sebagai masa remaja akhir.

Berdasarkan batasan-batasan di atas dapat disimpulkan bahwa masa remaja di mulai dari 10-12 tahun sampai 20-22 tahun. Pada penelitian ini peneliti menggunakan remaja dengan rentang usia 12 tahun sampai 21 tahun sebagai subjek penelitian.

3. Perkembangan Remaja a. Perkembangan Kognitif

Operasi formal adalah perkembangan kognitif dimana remaja dapat mengmbangkan kemampuan berpikir secara abstrak, sistematis, dan ilmiah (Berk, 2012). Tahap operasi formal biasanya terjadi di usia

sekitar 11 tahun. Perkembangan ini dapat memberikan remaja cara memanipulasi informasi baru yang lebih kompleks (Papalia &

Feldman, 2014).

b. Perkembangan Sosio-Emosi

Hubungan sosio-emosi remaja dengan keluarga pada masa remaja tidak sebaik ketika remaja berada di masa kanak-kanak. Remaja merasakan tekanan antara ketergantungan pada orang tua dan kebutuhan untuk melepaskan diri, sedangkan orang tua ingin anak mereka menjadi mandiri namun sulit untuk melepaskanya. Sedangkan kedekatan remaja dengan saudara kandung juga berkurang, sehingga konflik antar saudara pun menurun.

Pada masa remaja, teman sebaya merupakan sumber penting dari dukungan emosi selama masa peralihan, juga sebagai simpati dan penuntun moral. Selain itu teman sebaya adalah tempat untuk membentuk hubungan intimasi yang menyediakan sebuah latihan bagi intimasi di masa dewasa.

4. Tugas Perkembangan Masa Remaja (Hurlock, 1991, dalam Aston dan Ali, 2009)

Tugas perkembangan masa remaja di fokuskan pada usaha untuk meninggalkan sikap dan perilaku anak-anak dan berusaha mencapai sikap

dan perilaku yang dewasa Adapun tugas-tugas perkembangan remaja, menurut Hurlock adalah :

a. Berusaha mampu menerima keadaan fisiknya

b. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa

c. Mampu membina hubugan baik dengan anggota kelompok yang berlawan jenis

d. Mencapai kemandirian emosional e. Mencapai kemandirian ekonomi

f. Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua

g. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial h. Mempersiapkan diri memasuki perkawinan

i. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.

5. Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik remaja khususnya remaja perempuan di mulainya menstruasi dan munculnya payudara. Perkembangan fisik pada remaja perempuan biasanya di mulai pada usia 9 sampai 14 tahun (Papalia &

Feldman, 2014). Remaja perempuan akan memiliki pinggul yang lebih besar untuk memudahkan melahirkan anak dan memiliki jumlah lemak dua kali lebih besar dibandingkan dengan remaja laki-laki (Papalia &

Feldman, 2014). Perubahan fisik yang cukup mencolok membuat remaja

khususnya remaja perempuan lebih memperhatikan penampilan mereka dibandingkan dengan aspek-aspek lainnya.

E. Dinamika Hubungan antara Identitas Diri dan Celebrity Worship

Fenomena Korean wave saat ini sedang marak di indonesia. Korean wave terdiri dari Korean drama, Korean pop, Korean fashion dan lainnya.

Sosok idola dari Korea Selatan yang cantik dan tampan membuat remaja menyukai dan menjadi penggemar mereka. Mereka mulai mencari informasi tentang idola mereka dan bertemu dengan sesama penggemar idola tersebut.

Perilaku mereka tersebut di kenal dengan konsep celebrity worship.

Celebrity worship adalah perilaku obsesi individu yang terlalu terlibat di kehidupan selebriti, sehingga terbawa dalam kehidupan individu tersebut dan menjadi obsesi pada idolanya. Maltby dkk (2006) menyatakan ada tiga tipe celebrity worship yaitu entertainment-social value, intense-personal feeling dan borderline-pathological tendency. Celebrity worship biasanya terjadi pada masa remaja. Remaja yang sedang mencari jati dirinya mengembangkan hubungan parasosial dengan idola favoritnya.

Salah satu faktor yang membentuk identitas diri adalah adanya figur orang sukses. Menurut Purwadi (2004), remaja melihat menilai dan menemukan nilai-nilai yang mereka anggap baik pada idola mereka. Remaja menginternalisasikan nilai-nilai tersebut ke dalam dirinya dan menjadi bagian dari pembentuk dirinya.

Identitas diri sendiri adalah perasaan yang subjektif terhadap diri sendiri yang berkembang dari waktu ke waktu dengan melalui proses eksplorasi dan komitmen (Husni & Eko P, 2013). Hasil dari proses eksplorasi dan komitmen akan dikategorikan menjadi 4 status identitas diri, yaitu pencapaian identitas (identity achievement), moratorium identitas (identity moratorium), penutupan identitas (identity foreclosure), difusi identitas (identity diffusion).

Pencapaian identitas (identity achievement) adalah bentuk identitas dari individu yang berhasil menggali dan memahami sejumlah informasi penting tentang dirinya, sehingga individu tersebut dapat menentukan pilihan informasi yang akan diambil sebagai komponen untuk mebentuk dirinya (Purwadi, 2004). Penelitian yang dilakukan oleh Aragon dkk (2015) menyatakan bahwa individu dengan status identitas ini dan berada dalam tipe entertainment-social merupakan inidividu yang memiliki kepribadian yang positif seperti mudah bergaul, aktif dan berani. Individu ini mengidolakan idolanya untuk tujuan hiburan dan menjadi bentuk aktivitas rekreasinya seperti berbicara tentang idolanya bersama teman-temanya. Individu dengan status pencapaian identitas dan berada dalam tipe intense-personal feeling, merupakan individu yang menunjukkan tingkat keintiman yang tinggi dan benar-benar tertarik dengan orang lain yang seperti idolanya. Individu ini juga mengeksplor dan mengumpulkan informasi tentang idolanya dan memutuskan untuk berkomitmen dengan nilai-nilai kepercayaan idolanya. Sedangkan,

individu dengan status pencapaian identitas dan berada dalam tipe borderline-pathological diserap secara pikologis oleh idolanya, hal itu dapat mengakibatkan kualitas yang tidak baik seperti identifikasi yang berlebihan serta memutuskan hubungan dengan dirinya sendiri dan mengambil identitas idolanya sebagai identitasnya.

Identitas moratorium (identity moratorium) merupakan hasil eksplorasi yang cukup baik tetapi tidak didukung dengan komitmen yang seimbang (Berk, 2012). Penelitian Aragon dkk (2015) menyatakan individu dengan status identitas ini dan dalam tipe entertainment-social mencari informasi melalui idolanya untuk mencapai tujuan, nilai, dan kepercayaan tertentu untuk membantuk individu tersebut dalam mengembangkan kesadaran dirinya. Status moratorium adalah proses mencari komitmen yang mendefinisikan identitas, dimana individu berada dalam proses yang memicu kecemasan. Individu dengan status identitas ini dan sedang berada pada tipe intense-personal feelings mungkin mengalami kecemasan dalam memilih idolanya, terutama dalam melibatkan perasaan atau perilakunya karena memikirkan konsekuensi atau gagasan bahwa idolanya bukan pilihan yang baik. Selain itu, individu dengan status identitas ini dan berada dalam tipe borderline-pathological terus-menerus terikat pada idolanya karena individu tersebut merasa puas dalam mengikuti idolanya. Individu tersebut cenderung terlibat dalam perilaku ekstrem seperti menguntit, untuk memenuhi informasi tentang idolanya.

Penutupan identitas (identity foreclosure) terbentuk dari hasil eksplorasi yang tidak maksimal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aragon dkk (2015), individu dengan status penutupan identitas dan sedang berada dalam tipe entertainment-social tidak secara aktif mencoba menentukan apa yang penting bagi dirinya. Individu ini hanya pasif menerima identitas yang diberikan kepada dirinya, dan tidak mempertanyakan mengapa, juga tidak mempertimbangkan alternatif lain. Individu dengan status identitas ini dan berada dalam tipe intense-personal feeling menerima kepercayaan dan tujuan hidup idolanya tanpa melakukan eksplorasi apapun, sehingga kehidupan individu ini dapat berkembang di sekitar idolanya. Hal tersebut menyebabkan individu tersebut percaya bahwa ia dan idolanya memiliki ikatan khusus. Sedangkan individu dengan status penutupan identitas dan berada dalam tipe borderline-pathological tidak terbuka terhadap ide-ide baru dan pandangan berbeda yang disarankan oleh orang lain.

hal tersebut dikarenakan individu tersebut membatasi fokusnya hanya pada idolanya.

Difusi identitas (identity diffusion) muncul karena eksplorasi yang lemah atau tidak ada dan ketidakmampuan untuk membuat komitmen menjadi pasti. Aragon dkk (2015) dalam penelitiannya berspekulasi bahwa individu dengan status identitas ini yang memiliki sikap “ke tempat angin bertiup” dan berada dalam tipe entertainment-social membimbing individu tersebut secara pasif terpapar dengan detail apapun terkait idolanya, sehingga membuat

individu tersebut mengetahui sesuatu tentang idolanya. Pada individu status difusi identitas dan tipe intense-personal feeling, Aragon dkk (2015) mengaitkan dengan depresi dan berspekulasi bahwa depresi yang ada di difusi identitas tersebut merupakan hasil dari eksplorasi dan komitmen yang tidak ada tentang tujuan hidup dan hidup yang bermakna, sedangkan depresi yang ada di personal-intese feelings berasal dari anggapan bahwa individu tersebut mengalami depresi atau merasa buruk karena idolanya juga sedang merasa buruk dan tertekan. Aragon dkk (2015) dalam penelitian mereka, berspekulasi bahwa harga diri hadir diantara status difusi identitas dan border-pathogical.

Menurut aragon dkk, individu dengan status difusi identitas memiliki harga diri yang rendah karena individu tersebut tidak cukup memiliki kepercayaan diri untuk membuat eksplorasi atau komitmen yang solid. Sementara itu, individu dengan tipe borderline-pathological memiliki harga diri yang rendah karena kepercayaan delusi yang individu tersebut miliki tidak benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.

Berdasarkan model absorption-addiction yang dikemukakan oleh McCutcheon, Lange, dan Houran (2002), identitas struktur yang terdapat pada seseorang membantu proses penyerapan psikologis pada seorang selebriti dalam upaya untuk membangun identitas dan rasa kepuasan. Dengan kata lain, individu dengan identitas yang tidak didefinisikan dengan baik berusaha

Berdasarkan model absorption-addiction yang dikemukakan oleh McCutcheon, Lange, dan Houran (2002), identitas struktur yang terdapat pada seseorang membantu proses penyerapan psikologis pada seorang selebriti dalam upaya untuk membangun identitas dan rasa kepuasan. Dengan kata lain, individu dengan identitas yang tidak didefinisikan dengan baik berusaha

Dokumen terkait