• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

G. Metode Analisis Data

2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antar dua variabel yang diteliti. Terdapat dua metode uji hipotesis pada program SPS, yaitu dengan menggunakan Pearson Product Moment dan Spearman Rho. Jika hasil uji asumsi dari data yang diperoleh terdistribusi normal dan memiliki hubungan yang linear, maka akan menggunakan uji hipotesis dengan metode Pearson. Sedangkan jika hasil uji asumsi dari data diperoleh tidak terdistiribusi normal dan memiliki hubungan yang linear atau tidak linear, maka peneliti akan menggunakan uji hipotesis dengan menggunakan metode

Spearman (Trihendradi, 2004).

53 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Pengumpulan data penelitian dilakukan sejak tanggal 8 Desember 2020 hingga 27 Februari 2021. Pengambilan data penelitian dilakukan dengan menyebarkan skala celebrity worship dan skala identitas diri secara online menggunakan layangan Googleforms. Skala yang disebar dapat diakses pada tautan https://forms.gle/FXPXxmQqufs6naUZ7. Subjek yang menjadi sasaran penyebaran skala penelitian ini adalah remaja perempuan yang menyukai grup idola atau solois dari Korea Selatan. Total subjek yang mengisi skala ini adalah 133 orang.

B. Deskripsi Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini berjumlah 133 orang dengan kriteria perempuan berusia 12 sampai dengan 21 tahun, menyukai K-POP. Deskripsi subjek yang di peroleh dalam penelitian ini adalah, sebagai berikut : Tabel 4.1. Deskripsi data subjek berdasarkan usia

Usia Jumlah Persentase 12 0 0 13 5 3.7%

14 15 11.2%

15 19 14.2%

16 19 14.2%

17 22 15.0%

18 22 16.5%

19 9 6.7%

20 14 10.5%

21 10 7.5%

Total 133 99.5%

Peneliti berhasil mendapatkan subjek penelitian sebanyak 133 orang. Subjek penelitian ini semuanya remaja berjenis kelamin perempuan yang menyukai K-POP.

Pada penelitian ini di dominasi oleh remaja berusia 18 tahun (16.5%) dan 17 tahun (15.0%).

Tabel 4.2. Daftar data berdasarkan idola grup/solois K-POP

Nama Grup/Solois K-POP Jumlah Persentase Stray Kids 20 15.0%

iKon 16 12.3%

Seventeen 15 11.2%

Day6 14 10.5%

NCT 14 10.5%

Monsta X 12 9.0%

EXO 10 7.5%

Winner 9 6,7%

Super Junior 8 6.0%

Red Velvet 8 6.0%

Gfriend 8 6.0%

BTS 6 4.5%

GOT7 6 4.5%

NCT127 5 3.7%

Black Pink 4 3.0%

Mamamoo 4 3.0%

TXT 4 3.0%

AESPA 3 2.2%

BTOB 3 2.2%

IU 3 2.2%

TWICE 3 2.2%

Enhypen 3 2.2%

NCT Dream 3 2.2%

Dream Catcher 3 2.2%

Pentagon 3 2.2%

Ateez 2 1.5%

The Boyz 2 1.5%

G-(i)dle 2 1.5%

Wanna One 2 1.5%

X1 2 1.5%

SF9 2 1.5%

Nuest 2 1.5%

Lainnya 30 22.5%

Saat mengisi skala online, pada kolom “Grup idola/solois K-POP yang di sukai” subjek dapat mengisinya dengan lebih dari satu grup atau solois yang mereka sukai, sehingga jumlah grup/solois K-POP yang disebutkan lebih banyak dari jumlah subjek dari penelitian ini. Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa 20 orang subjek menyukai grup idola Stray Kids (15.0%). Sedangkan lainnya merupakan gabungan dari grup/solois K-POP yang memiliki jumlah tidak lebih dari satu.

Tabel 4.3. Deskripsi data subjek berdasarkan cara memanggil pada idola K-POP

Jenis Panggilan Jumlah Persentase Oppa 109 82%

Eonnie 21 15,8%

Hyung 3 2,2%

Noona 0 0 Total 133 100%

Saat mengisi skala online, subjek diminta untuk mengisi cara mereka memanggil idola K-POP mereka. Dikarenakan K-POP berasal dari negara Korea Selatan, para penggemar sering memanggil idola mereka dengan istilah-istilah yang berasal dari bahasa Korea, seperti oppa, yang berarti kakak laki-laki untuk perempuan yang lebih muda, lalu eonnie, yang berarti kakak perempuan untuk perempuan yang lebih muda, sedangkan untuk laki-laki, mereka memanggi hyung, untuk kakak laki-laki dan noona untuk kakak perempuan. Namun, di media sosial sering kali perempuan yang lebih muda memanggil kakak laki-laki dengan sebutan hyung, hal tersebut merupakan sebuah tren di antara penggemar K-POP. Dari data diatas terlihat 109 orang subjek memanggil idola mereka dengan sebutan oppa. Lalu, 21 orang subjek memanggil idola mereka dengan sebutan eonnie. Sedangkan, 3 orang subjek memanggil idola mereka dengan sebutan hyung.

C. Deskripsi Data Penelitian

Deskripsi data penelitian akan dilakukan dengan menbandingkan mean teoritis dan mean empiris. Mean teoritis adalah rata-rata yang diperoleh dari penghitungan pada alat ukur penelitian dan mean empiris adalah rata-rata dari

seluruh subjek penelitian. Perbandingan ini dilakukan untuk melihat bagaimana celebrity worship dan identitas diri pada subjek secara keseluruhan. Mean teoritis dihitung secara manual, sedangkan mean empiris didapat dari perhitungan menggunakan SPSS Statistics Subscription for windows. Berikut adalah tabel yang berisikan hasil mean teoritis dan empiris : Tabel 4.4. Deskripsi statistik data penelitian

Variabel

Teoritis Empiris Min Maks Mean SD Mean SD Identitas Diri 64 384 224 53.3 232.23 26.549 Celebrity Worship 34 170 102 22.6 109.81 9.566

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai mean empiris identitas diri (232.23) lebih besar dari nilai teoritis (224). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar subjek dalam penelitian ini memiliki identitas diri. Selain itu, tabel diatas juga menunjukkan nilai mean empiris celebrity worship (109.81) lebih besar dari nilai mean teoritis (102), hal itu menunjukkan bahwa sebagian besar subjek dalam penelitian ini melakukan celebrity worship.

Tabel 4.5. Deskripsi Subjek berdasarkan status identitas

Status Identitas Jumlah Persentase Pencapaian Identitas 38 orang 28,6%

Identitas Moratorium 35 orang 26,3%

Penutupan Identitas 36 orang 27,1%

Difusi Identitas 21 orang 15,8%

Total 97,8%

Penghitungan menggunakan rumus perhitungan Z score untuk menempatkan ke masing status identitas. Penempatan subjek ke masing-masing status identitas dengan cara melihat nilai Z score yang paling tinggi.

Peneliti melakukan hal tersebut dengan dasar bahwa status identitas diri tidak akan sama selama seumur hidup (Santrock, 2002). Pada penelitian ini subjek berjumlah 133 orang, berdasarkan tabel diatas subjek yang termasuk dalam pencapaian identitas sebanyak 38 orang, lalu subjek yang termasuk dalam identitas moratorium sebanyak 35 orang, penutupan identitas sebanyak 36 orang dan difusi identitas sebanyak 21 orang.

D. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Data yang terdistribusi normal akan di analisis dengan menggunakan statistik parametrik, sedangkan data yang tidak terdistribusi normal akan di analisis menggunakan statistik non-parametrik.

Perhitungan uji normalitas dilakukan dengan menggunakan SPSS Statistics Subscrition for windows. Berikut hasil untuk uji normalitas : Tabel 4.6. Hasil uji normalitas

Test of Normality

Kolmogorov-Smirnof Saphiro-Wilk Statistic df sig. Statistic df sig.

CW .204 133 <,001 .748 133 <,001 ID .210 133 <,001 .716 133 <,001

Data dapat dikatakan terdistribusi normal jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (p > 0,05). Sedangkan jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05) maka data tersebut dikatakan tidak terdistribusi normal. Dari hasil perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan

SPSS didapatkan nilai p untuk skala celebrity worship sebesar 0.000 dan nilai p untuk skala identitas diri sebesar 0.000. berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa data skala celebrity worship dan identitas diri tidak terdistribusi norma karena nilai p kedua skala tersebut kurang dari 0,05

b. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antar variabel memenuhi asumsi linear atau tidak. Asumsi linear adalah jika terjadi perubahan pada satu variabel, hal tersebut juga akan terjadi pada variabel lainnya. Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan test of linearity pada SPSS Statistics Subscription for windows. Berikut hasil

dari uji linearitas

Tabel 4.7. Hasil uji linearitas

ANOVA Table

Variabel Sig.

Celebrity Worship * Identitas Diri <,001

Data dapat dikatakan memiliki hubungan yang linear jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05). Sedangkan jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (p = > 0,05) maka data tersebut

dikatakan tidak memiliki hubungan yang linearitas. Dari tabel diatas mendapatkan hasil berupa nilai signifikansi sebesar 0.000 (p < 0,05).

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang linear antara celebrity worship dan identitas diri.

2. Uji Hipotesis

Berdasarkan hasil dari uji asumsi yang telah dilakukan, variabel pada penelitian ini memiliki hubungan yang linear, sehingga peneliti dapat melanjutkan uji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara identitas diri dengan celebrity worship pada remaja perempuan yang menyukai idola K-POP. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji hipotesis non parametrik dengan analisis korelasi Spearman Rho, karena data pada penelitian ini tidak terdistribusi normal.

Uji hipotesis dapat dikatakan berhubungan jika nilai signifikansi 2 tailed lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05), sedangkan jika nilai signifikansi 2 tailed lebih dari 0,05 (p > 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan.

Pada uji hipotesis ini, peneliti akan menguji satu hipotesis mayor dan empat hipotesis minor yang telah ditulis di bab sebelumnya. Peneliti akan menguji hubungan antara identitas diri dan celebrity worship, lalu keempat status identitas diri dengan tiga tipe celebrity worship.

Uji hipotesis akan dinyatakan dalam koefisien korelasi. Koefisien korelasi dapat dikatakan signifikan jika nilai sig. 2 tailed < 0.05. Nilai koefien korelasi akan dinyatakan dari 0 hingga 1, maka semakin tinggi nilai koefisien korelasi maka semakin kuat juga korelasi tersebut. Pembagian

kategori koefisien korelasi, yaitu :

Tabel 4.8. Kategori Koefisien Korelasi

Koefisien Korelasi Kategori 0.00 Tidak berkorelasi 0.00 – 0.25 Korelasi lemah 0.25 – 0.50 Korelasi cukup 0.50 -0.75 Korelasi Kuat 0.75 – 0.99 Korelasi sangat kuat 1 Korelasi sempurna

Tabel 4.9. Hasil Korelasi Identitas Diri dan Celebrity Worship

Spearman’s rho Celebrity Worship Identitas Diri Correlation Coefficient .102

Sig. (2-tailed) .244 N 133

Berdasarkan hasil pada tabel diatas dapat dilihat nilai signifikansi sebesar 0.244 yang berarti nilai p lebih besar dari 0,05. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara identitas diri dan celebrity worship. Dengan kata lain, hipotesis peneliti ditolak.

Tabel 4.10 Hasil Korelasi Pencapaian Identitas dan Tiga Tahap Celebrity Worship

Spearman’s rho Ent-Soc Int-Per Bor-Path Achievement Correlation Coefficient .014 .073 -.072 Sig. (2-tailed) .872 .406 .410 N 133 133 133

Dari tabel diatas hasil yang di dapat dari hubungan antara pencapaian identitas dengan tipe entertainment-social value sebesar 0.872, yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara pencapaian identitas dengan tipe entertainment-social value. Selain itu, pada hasil korelasi antara pencapaian identitas dan tiga tipe celebrity worship juga didapatkan hasil antara pencapaian identitas dengan intense-personal feeling sebesar 0.406.

Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan karena nilai p > 0,05. Tabel diatas juga menunjukan hasil korelasi antara pencapaian identitas dan borderline-pathological sebesar 0.410, yang

berarti tidak ada hubungan antara pencapaian identitas dengan borderline-pathological karena nilai p > 0,05. Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pencapaian identitas

dengan salah satu tipe celebrity worship.

Tabel 4.11. Hasil Korelasi antara Identitas Moratorium dan Tiga Tahap Celebrity Worship

Spearman’s rho Ent-Soc Int-Per Bor-Path Moratorium Correlation Coefficient -.151 -.005 .122 Sig. (2-tailed) .083 .955 .161 N 133 133 133

Berdasarkan tabel diatas hasil yang di dapat dari hubungan antara identitas moratorium dengan tipe entertainment-social value sebesar 0.083, yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara identitas moratorium dengan tipe entertainment-social value. Selain itu, pada hasil korelasi antara identitas moratorium dan tiga tipe celebrity worship juga didapatkan hasil antara identitas moratorium dengan intense-personal feeling sebesar 0.955. Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan karena nilai p > 0,05. Tabel diatas juga menunjukan hasil korelasi antara identitas moratorium dan borderline-pathological sebesar 0.161, yang berarti tidak ada hubungan antara identitas moratorium dengan

borderline-pathological karena nilai p > 0,05. Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara identitas moratorium dengan salah satu tipe celebrity worship.

Tabel 4.12. Hasil Korelasi antara Penutupan Identitas dengan Tiga Tipe Celebrity Worship

Spearman’s rho Ent-Soc Int-Per Bor-Path Foreclosure Correlation Coefficient -.002 .176 .183 Sig. (2-tailed) .984 .043 .035 N 133 133 133

Berdasarkan tabel diatas hasil yang di dapat dari hubungan antara penutupan identitas dengan tipe entertainment-social value sebesar 0.984, yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara penutupan identitas dengan tipe entertainment-social value. Selain itu, pada hasil korelasi antara penutupan identitas dan tiga tipe celebrity worship juga didapatkan hasil antara penutupan identitas dengan intense-personal feeling sebesar 0.043. Hal itu menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan karena nilai p < 0,05. Selain itu, nilai koefien korelasinya adalah 0.176, sehingga dapat dikatakan memiki hubungan korelasi yang lemah. Tabel diatas juga menunjukan hasil korelasi antara penutupan identitas dan borderline-pathological sebesar 0.035, yang berarti ada hubungan antara penutupan

identitas dengan borderline-pathological tendency karena nilai p < 0,05.

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan penutupan identitas dengan salah satu tipe celebrity worship. Hasil tersebut juga memperlihatkan nilai koefisien korelasi yaitu sebesar 0.183, yang dapat dikatakan bahwa memiliki korelasi yang lemah.

Tabel 4.13. Hasil Korelasi Difusi Identitas dengan Tiga Tipe Celebrity Worship

Spearman’s rho Ent-Soc Int-Per Bor-Path Diffusion Correlation Coefficient -.128 .343 .270 Sig. (2-tailed) .143 <.001 .002 N 133 133 133

Berdasarkan tabel diatas hasil yang di dapat dari hubungan antara difusi identitas dengan tipe entertainment-social value sebesar 0.143, yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara difusi identitas dengan tipe entertainment-social value. Selain itu, pada hasil korelasi antara difusi identitas dan tiga tipe celebrity worship juga didapatkan hasil antara difusi identitas dengan intense-personal feeling sebesar 0.000. Hal itu menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan karena nilai p < 0,05.

Nilai korelasi dari difusi identitas dan intense-personal feeling adalah 0.343, yang berarti memiliki hubungan yang cukup kuat. Tabel diatas juga

menunjukan hasil korelasi antara difusi identitas dan borderline-pathological sebesar 0.002, yang berarti ada hubungan yang signifikan antara difusi identitas dengan borderline-pathological karena nilai p <

0,05. Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara difusi identitas dengan salah satu tipe celebrity worship.selain itu, dari nilai koefisien korelasi yang di dapat, yaitu 0.270.

dapat disimpulkan bahwa difusi identitas dan borderline-pathological tendency memiliki korelasi yang cukup kuat.

E. Pembahasan

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan antara identitas diri dan celebrity worship pada remaja perempuan yang menyukai idola K-Pop.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara identitas diri dan celebrity worship. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa hasil penelitian bertolak belakang dengan hipotesis penelitian ini, yaitu terdapat hubungan antara identitas diri dengan celebrity worship. Hasil penelitian ini juga didukung oleh faktor-faktor yang mempengaruhi identitas diri.

Pada faktor-faktor yang memengaruhi identitas diri, ditemukan bahwa figur tokoh sukses berperan dalam membentuk identitas diri, namun tidak hanya figur tokoh sukses saja yang mempengaruhi identitas diri, terdapat keluarga, teman sebaya, lingkungan, budaya dan gaya pengasuhan (Berk, 2012). Jadi dapat disimpulkan, figur tokoh sukses yang pada penelitian ini adalah idola K-Pop

tidak membentuk identitas diri sepenuhnya. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini identitas diri dan celebrity worship tidak saling berhubungan.

Kemungkinan lain dari tidak terbuktinya hipotesis adalah alat ukur yang di pakai pada penelitian ini sudah tergolong tidak baru, khususnya alat ukur untuk identitas diri, revisi dari alat ukur obyektif status identitas diri : instrument identitas untuk remaja akhir (EOMEIS-2). Hal itu menyebabkan pertanyaan-pertanyaan pada alat ukur ini menjadi tidak terlalu relevan dengan masa sekarang. Selain itu, jumlah pertanyaan yang cukup banyak membuat subjek menjadi cepat bosan ketika menjawab pertanyaan pada alat ukur ini.

Selain mengukur identitas diri dan celebrity worship, diukur juga keempat status identitas diri dengan ketiga tipe celebrity worship sebagai hipotesis minor.

Peneliti mendapatkan hasil yaitu tidak adanya hubungan antara pencapaian identitas dengan entertainment-social value. Kemungkinan hal ini terjadi karena individu dengan status pencapaian identitas adalah individu solid yang fokus pada hal-hal penting pada kehidupannya dan tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh dan tekanan dari luar (Kroger & Marcia, 2011). Hal tersebut tidak sesuai dengan ciri-ciri individu yang berada dalam tipe entertainment-social value yang memiliki motivasi untuk mencari informasi tentang idolanya yang dikarenakan dua alasan, yaitu menyesuaikan diri dengan norma sosial dan kabur dari realita yang ada (Darfiyanti & Putra, 2012).

Hasil penelitian antara pencapaian identitas dan intense-personal feeling juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan. Karakteristik individu yang memiliki pencapaian identitas adalah memiliki tingkat penalaran yang tinggi, pikiran yang seimbang dan hubungan interpersonal yang matang (Lerner

& Steinberg, 2009). Karakterisitik tersebut tidak sesuai dengan karakteristik yang dimiliki individu dengan tipe intense-personal feeling, karena individu dengan tipe ini merasakan empati yang tinggi pada idolanya dan merasa bahwa individu tersebut memiliki ikatan khusus terhadap idolanya (Widjaja & Ali, 2015).

Selain itu, juga diteliti hubungan antara pencapaian identitas dengan tipe borderline-pathological tendency dan mendapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan yang signifikan. Dikarenakan kurangnya literatur yang membahas ini, peneliti berspekulasi hal ini terjadi karena pada tipe borderline-pathological tendency memiliki pemikiran yang tidak logis dan tidak terkontrol (Darfiyanti &

Putra, 2012). Hal tersebut tidak sesuai dengan karakteristik inidividu dengan status identitas ini yang memiliki pemikiran yang seimbang serta fokus pada hal penting dalam kehidupannya (Kroger & Marcia, 2011).

Hasil untuk identitas moratorium dengan entertainment-social value adalaah bahwa tidak ada hubungan antara moratorium identitas dengan entertainment-social value. Dikarenakan kurangnya literatur yang membahas ini, peneliti berspekulasi hal ini terjadi kemungkinan karena individu dengan status identitas ini memiliki kemamampuan untuk berpikir jernih ketika mengalami krisis identitas diri dan dapat bertahan terhadap pengaruh dari lingkungan yang dapat

mengubah dirinya (Kroger & Marcia, 2011). Hal tersebut tidak sesuai dengan alasan-alasan yang memotivasi individu untuk mencari informasi tentang idolanya, yaitu menyesuaikan diri terhadap norma sosial dan kabur dari realita (Darfiyanti & Putra, 2012).

Identitas moratorium dan intense-personal feeling juga tidak memiliki hubungan yang signifikan. Dikarenakan kurangnya literatur yang membahas ini, peneliti berspekulasi hal ini terjadi karena individu dengan status identitas ini dapat bertahan dari pengaruh lingkungan yang dapat mengubah dirinya (Kroger

& Marcia, 2011), sehingga tidak sesuai dengan karakteristik tipe intense-personal feeling yang selalu memikirkan idolanya, bahkan ketika sedang tidak ingin memikirkan idolanya (Sheridan dkk, 2007).

Hasil korelasi antara identitas moratorium dan borderline-pathological tendency ditemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan. Dikarenakan kurangnya literatur yang membahas ini, peneliti berspekulasi bahwa ini terjadi karena individu dengan identitas ini memiliki pemikiran yang jernih (Korger &

Marcia, 2011) yang berarti individu tersebut dapat berpikir secara logis, sehingga hal tersebut tidak sesuai dengan tipe borderline-pathological tendency yang tidak dapat berpikir logis dan tidak terkontrol, yang menyebabkan individu tersebut memiliki perilaku yang ekstrem (Darfiyanti & Putra, 2012).

Korelasi dilakukan antara penutupan identitas dengan entertainment-social value, dan ditemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara penutupan identitas dengan entertainment-social value. Dikarenakan kurangnya

literatur yang membahas ini, peneliti berspekulasi hal ini terjadi karena individu dengan status identitas dini setia dan tidak mudah goyah oleh kemunculan pilihan-pilihan baru (Berg, 2009). Hal ini tidak sesuai dengan karakterisktik pada tipe entertainment-social value yang memiliki alasan untuk menyesuaikan diri terhadap norma sosial (Darfiyanti & Putra, 2012).

Pada korelasi penutupan identitas dan intense-personal feeling, peneliti menemukan bahwa ada hubungan di antara penutupan identitas dan intense-personal feeling. Dikarenakan kurangnya literatur yang membahas ini, peneliti berspekulasi hal ini terjadi karena individu ini belum mengalami krisis identitas, sehingga memiliki kepercayaan pada nilai-nilai keluarga, teman sebaya serta orang penting lainnya (Kroger & Marcia, 2011). Hal tersebut membuat individu tersebut memiliki perasaan intensif dan kompulsif terhadap idolanya (Maltby dkk, 2006). Individu tersebut pun merasa memiliki ikatan yang khusus dengan idolanya.

Selain itu, dilakukan juga korelasi antara penutupan identitas dan borderline-pathological tendency, dan menemukan bahwa ada hubungan antara penutupan identitas dan borderline-pathological tendency. Dikarenakan kurangnya literatur yang membahas ini, peneliti berspekulasi hal ini terjadi karena individu belum mengalami krisis identitas, sehingga individu percaya pada nilai-nilai yang dibawa oleh keluarga, teman sebaya, dan orang penting lainnya (Kroger &

Marcia, 2011). Berdasarkan model absorption-addiction yang dikemukakan oleh McCutcheon dkk, jika seseorang diserap secara psikologis oleh idolanya dapat

mengakibatkan identifikasi secara berlebihan dan pemutusan dengan dirinya sendiri. Hal itu dapat menjadi komponen adiktif yang mengarah pada perilaku ekstrem, tidak terkontrol dan mungkin juga delusi.

Korelasi juga dilakukan pada difusi identitas dengan enterainment-social value. Dari korelasi tersebut didapatkan hasil berupa tidak adanya hubungan antara difusi identitas dan entertainment-social value. Dikarenakan kurangnya literatur yang membahas ini, peneliti berspekulasi hal ini terjadi karena individu ini memiliki otonomi tingkat harga diri yang tinggi, otonomi yang rendah, sulit beradaptasi, dan fokus pada dirinya sendiri (Kroger, 2003). Hal itu tidak sesuai dengan karakteristik pada tipe entertainment-social value, yaitu melihat idolanya sebagai sumber untuk berinteraksi dengan orang lain yang memiliki ketertarikan sama, (Sheridan dkk, 2007) dan untuk menyesuai diri terhadap norma sosial (Darfiyanti & Putra, 2012).

Hasil penelitian dari difusi identitas dengan intense-personal feeling adalah terdapat adanya hubungan antara difusi indentitas dengan intense-personal feeling. Dikarenakan kurangnya literatur yang membahas ini, peneliti berspekulasi hal ini terjadi karena individu dengan status identitas ini tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan keputusan yang telah di pilihnya. Hal tersebut terjadi karena individu tersebut tidak mengetahui bagaimana ia memilih pilihan tersebut, sehingga individu ini mudah berubah haluan dan dipengaruhi oleh orang-orang yang di hormatinya seperti orang tua atau tokoh lain yang

Hasil penelitian dari difusi identitas dengan intense-personal feeling adalah terdapat adanya hubungan antara difusi indentitas dengan intense-personal feeling. Dikarenakan kurangnya literatur yang membahas ini, peneliti berspekulasi hal ini terjadi karena individu dengan status identitas ini tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan keputusan yang telah di pilihnya. Hal tersebut terjadi karena individu tersebut tidak mengetahui bagaimana ia memilih pilihan tersebut, sehingga individu ini mudah berubah haluan dan dipengaruhi oleh orang-orang yang di hormatinya seperti orang tua atau tokoh lain yang

Dokumen terkait