BAB II KERANGKA TEORI
2.1 Pariwisata
2.1.2 Elemen – Elemen Pariwisata
Dalam kepariwisataan, menurut Leiper dalam Cooper et.al (1998 : 5) terdapat tiga elemen utama yang menjadikan kegiatan tersebut bisa terjadi.
Gambar 2.1
Sistem Dasar Pariwisata
Keberangkatan
Lingkungan : Sumber Daya Manusia, Sosio-budaya, Ekonomi, Teknologi, Politik, Hukum.
Lokasi industri pariwisata
Sumber: Diadaptasi dari Leiper dalam Cooper et.al (1998:5)
Kegiatan wisata terdiri atas beberapa komponen utama yang terdiri dari::
1. Wisatawan
Ia adalah aktor dalam kegiatan wisata. Berwisata menjadi sebuah pengalaman manusia untuk menikmati, mengantisipasi, dan mengingatkan masa- masa di dalam kehidupan.
Daerah Asal Wisata
Daerah Tujuan Wisata Daerah
Transisi
2. Elemen Geografi
Pergerakan wisatawan berlangsung pada tiga area geografi, seperti berikut ini.
a. Daerah Asal Wisatawan (DAW)
Daerah tempat asal wisatawan berada, tempat ketika ia melakukan aktivitas keseharian, seperti bekerja, belajar, tidur dan kebutuhan dasar lain. Rutinitas itu sebagai pendorong untuk memotivasi seseorang berwisata. Dari DAW, seorang dapat mencari informasi tentang obyek dan daya tarik wisata yang diminati, membuat pemesanan dan berangkat menuju daerah tujuan.
b. Daerah Transit (DT)
Tidak seluruh wisatawan harus berhenti di daerah itu. Namun, seluruh wisatawan pasti akan melalui daerah tersebut sehingga peranan DT pun penting. Seringkali terjadi, perjalanan wisata berakhir di daerah transit, bukan di daerah tujuan. Hal inilah yang membuat negara- negara seperti Singapura dan Hongkong berupaya menjadikan daerahnya multifungsi, yakni sebagai Daerah Transit dan Daerah Tujuan Wisata.
c. Daerah Tujuan Wisata (DTW)
Daerah ini sering dikatakan sebagai sharp end (ujung tombak) pariwisata.
Di DTW ini dampak pariwisata sangat dirasakan sehingga dibutuhkan perencanaan dan strategi manajemen yang tepat. Untuk menarik wisatawan DTW merupakan pemacu keseluruhan sistem pariwisata dan menciptakan permintaan untuk perjalanan dari DAW. DTW juga merupakan raison d’etre atau alasan utama perkembangan pariwisata yang menawarkan hal- hal yang berbeda dengan rutinitas wisatawan.
3. Industri Pariwisata
Elemen ketiga didalam sistem pariwisata adalah industri pariwisata. Industri yang menyediakan jasa, daya tarik, dan sarana wisata. Industri yang merupakan unit- unit usaha atau bisnis di dalam kepariwisatan dan tersebar di ketiga daerah geografi tersebut. Sebagai contoh, biro perjalanan wisata bisa ditemukan di daerah asal wisatawan, penerbangan bisa ditemukan baik di daerah asal wisatawan maupun di daerah transit, dan akomodasi bisa ditemukan di daerah tujuan wisata.
Adapun Gunn dalam Warpani (2007:22) memandang pariwisata sebagai suatu sistem dan memilahnya dalam sisi permintaan dan sediaan. Komponen permintaan terdiri atas elemen orang, ditenggarai hasrat orang melakukannya, sedangkan komponen sediaan adalah daya tarik wisata, perangkutan, informasi dan promosi serta pelayanan. Atas dasar pengertian tersebut, Gunn mengelompokkan elemen kepariwisataan menjadi elemen:
1. Utama
a. Daya tarik yang mengandung arti objek yang menjadi sasaran dan destinasi kunjungan wisata. Daya tarik wisata adalah potensi alamiah atau binaan atau hasil rekayasa akal budi yang menjadi fokus pariwisata.
Elemen ini menjadi bagian langsung dan menjadi pemicu pariwisata.
b. Penduduk baik sebagai pelaku pariwisata, sebagai “tuan rumah”
pariwisata maupun menjadi objek wisata (sasaran penelitian). Penduduk dianggap memiliki tiga ciri utama yaitu; kualitas, kuantitias, dan mobilitas. Ketiga ciri tersebut, baik penduduk di tempat asal wisatawan maupun penduduk di destinasi wisata adalah faktor yang harus ditelaah
secara cermat guna mengetahui pancaran dasar pariwisata pada tingkat lokal, regional, nasional dan internasional, kemanapun minat wisata.
2. Prasyarat
Elemen ini merupakan prasyarat proses berlangsungnya kegiatan pariwisata, yakni pengangkutan. Keandalan sistem pengangkutan secara langsung akan berpengaruh terhadap pola distribusi arus wisatawan menuju objek wisata.
Fungsi utama pengangkutan (lokal, regional, nasional dan internasional) adalah memindahkan orang dan barang dari asal ke tempat destinasi wisata.
Salah satu ciri utama pariwisata adalah melakukan perjalanan, sehingga dapat dikatakan bahwa tanpa pelayanan jasa pengangkutan maka kepariwisataan akan lumpuh. Kesan pertama yang baik tentang daerah tujuan wisata harus sudah tampil di terminal (bandara, dermaga/ pelabuhan, stasiun, dan terminal bus) yang berfungsi sebagai gerbang utama.
3. Penunjang
a. Informasi dan promosi yang membangun untuk mendorong minat berwisata.
b. Akomodasi adalah mata rantai kegiatan wisata. Tanpa kegiatan kepariwisataan dapat dikatakan bahwa akomodasi akan lumpuh.
Akomodasi dapat berupa hotel, motel, pondok wisata, dan bumi perkemahan.
c. Rumah makan. Banyak wisatawan yang ingin menikmati maknaan khas setempat, sehingga usaha makan sangat bermanfaat dalam kepariwisataan.
d. Lembaga Keuangan. Keberadaan lembagakeuangan seperti bank dan money changer sangat memudahkan dan memberi kenyamanan khusus bagi para wisatawan.
e. Sektor Informal. Para penjaja cenderamata, pramuwisata, bahkan para pedagang keliling selain untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, tidak jarang mereka justru menjadi objek wisata.
2.2 Jenis – Jenis Pariwisata
Dalam Arjana (2016: 96-100), Dirjen Pariwisata (1980) dan Arjana (1998) merujuk pada berbagai referensi, mengemukakan berbagai jenis pariwisata dilihat dari berbagai aspek, sesuai sifat dan dimensi pariwisata, seperti dikemukakan berikut ini:
1. Jenis Pariwisata Menurut Letak
a. Pariwisata lokal (local tourism), perjalanan wisata jarak dekat seperti piknik ke luar kota atau tempat wisata yang dapat ditempuh beberapa jam dengan kendaraan mobil.
b. Pariwisata nasional (national tourism/ domestic tourism), adalah dinamika perjalanan wisata dalam suatu negara.
c. Pariwisata mancanegara (world tourism/ foreign tourism) meliputi wisatawan yang masuk dari luar negeri (inbound tourism) dan wisatawan yang berwisata ke luar negeri (outgoing tourism).
2. Jenis Pariwisata Menurut Dampak pada Devisa
a. Pariwisata aktif (in tourism), wisatawan yang masuk ke suatu negara, jenis ini dikembangkan untuk meraup devisa.
b. Pariwisata pasif (outgoing tourism), warga negara sendiri sebagai wisatawan melakukan perjalanan ke luar negeri. Jenis ini tidak dikembangkan atau dikampanyekan. Jika kondisi ekonomi ditandai dengan income per capita yang baik tentu memiliki kemampuan sebagai wisatawan ke luar negeri.
3. Jenis Pariwisata Menurut Waktu Kunjungan
a. Pariwisata musiman (seasional tourism), seperti wisata musim dingin yang bersalju, wisata musim panas untuk mandi matahari atau wisata musim petik buah dan sebagainya.
b. Pariwisata okasional (occasional tourism), orang- orang melakukan perjalanan wisata karena adanya daya tarik penyelenggaraan suatu kegiatan (event) tertentu atau peristiwa/ kejadian (occasion) tertentu.
4. Jenis Pariwisata Menurut Tujuan
a. Pariwisata bisnis (business tourism), perjalanan yang bertujuan menyelesaikan urusan bisnis seperti melakukan meeting, pameran, atau expo dan lain-lain.
b. Pariwisata liburan (vacancy tourism) seperti study tour atau widya wisata.
c. Pariwisata spiritual atau keagamaan (pilgrim tourism).
5. Jenis Pariwisata Menurut Jumlah Wisatawan
a. Pariwisata individual (individual tourism), seperti wisatawan yang menggendong ransel (backpacker).
b. Pariwisata berombongan (group tourism) seperti dilakukan oleh rombongan pelajar, karyaman melalui biro perjalanan dan agen perjalanan.
6. Jenis Pariwisata Menurut Biaya Wisata
a. Pariwisata mewah (deluxe tourism), fasilitas transportasinya berupa pesawat atau kapal pesiar, biaya akomodasi yang dibayar dengan dengan biaya tinggi dan tinggal pada hotel berbintang empat atau lima,
b. Pariwisata yang berbiaya sedang (middle class tourism), dan
c. Pariwisata berbiaya murah (social tourism), jenis ini memang memilih alternatif transportasi dan akomodasi yang serba murah tetapi aman dan sehat serta tujuan tercapai.
7. Jenis Pariwisata Menurut Obyek Wisata
a. Pariwisata budaya (cultural tourism), merupakan jenis pariwisata yang menonjolkan atraksi- atraksi budaya yang unik dan menarik telah mejnjadi ikon pariwisata suatu daerah.
b. Pariwisat kesehatan (reccuperational tourism), seprti mandi susu di Eropa, mandi kopi di Jepang, dan mandi air oanas di beberpa tempat di Indoonesia.
c. Pariwisata perdagangan (commercial tourism), jenis ini berkembang seiring terbukanya era perdagangan bebas (free trade area) yang ditandai dengan makin banyaknya event menyangkut promosi dan pertemuan- pertemuan seperti kegiatan perdagangan sehingga menimbulkan kegiatan pariwisata yang dinamis.
d. Pariwisata olahraga (sport tourism), jenis pariwisata yang satu ini mampu menyedot pengunjung event olahraga tertentu seperti olimpiade, pesta olahraga regional, SEA Games, Asian Games, kejuaraan dunia sepak bola/ piala dunia, dan lain- lain.
e. Pariwisata politik (political tourism), seperti parade pada tanggal 1 Mei di Beijing memperingati hari buruh dan Parade tanggal 1 Oktober di Rusia memperingati Revolusi Bolsjevic.
f. Pariwisata spiritual/ keagamaan (pilgrim tourism), seperti perjalanan naik haji ke Mekkah bagi umat Islam, mengunjungi Betlehem atau Israel bagi umat Kristen, berkunjung dan mandi- mandi di Sungai Gangga, India bagi umat Hindu dan wisata mancanegara, serta mengunjungi Borobudur bagi umat Budha. Pariwisata ini terkait dengan perjalanan yang bertujuan untuk melakukan peribadatan atau pemujaan terhadap Tuhan sebagai acara keagamaan.
g. Pariwisata alam (natural tourism), adalah obyek wisata yang menyuguhkan atraksi dari alam atau lingkungan pulau, pegunungan, laut, pantai, kekayaan fauna, dan kekayaan flora.
h. Pariwisata Syariah
i. Wisata Laut/ Pantai yang Dikembangkan
j. Wisata Luar Angkasa sebagai Destinasi Wisata Masa Depan 2.3 Destinasi dan Tata Kelola Destinasi Pariwisata
2.3.1 Destinasi Pariwisata
Menurut Teguh (2015:41), destinasi pariwisata adalah geografis, tempat yang dikunjungi dan dialami (dilihat dan dirasakan) oleh pengunjung. Destinasi
merupakan jiwa dan mesin pembangunan masyarakat (faktor pendukung perekonomian). Sifat destinasi pariwisata beragam, tidak terlalu sama dengan batas negara atau batas administrasi. Destinasi bisa saja hanya satu tempat, tetapi juga terdiri dari berbagai lokasi pariwisata yang memiliki identitas yang kuat karena kondisi alam geografis atau pemandangan yang memesona atau fantastis.
Destinasi paiwisata merupakan kumpulan dari beragam daya tarik (acttractiveness), fasilitas (amenitas), akses (access) terdiri dari sejumlah pemangku kepentingan. Pengalman mununjukkan bahwa tanpa kolaborasi, koordinasi, dan kesinambungan maka destinasi tidak akan berkembang. Untuk menciptakan perkembangan ekonomi yang sukses dan berkelanjutan, semua komponen perlu di koordinasikan secara terintegrasi dalam perspektif berjangka panjang sehingga mampu menciptakan kesuksessan bagi masyarakat setempat, para pengusaha, dan wisatawan.
2.3.2 Tata Kelola Destinasi Pariwisata
Menurut Teguh (2015:41), tata kelola pariwisata adalah sebuah sistem yang memfasilitasi organisasi pariwisata dengan berbagai alat untuk menciptakan destinasi pariwisata yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Tata kelola ditunjukkan untuk peningkatan kinerja dan citra (internal), penerapan prinsip, transparansi, skuntabilitas, responsibilitas, kemandirian, dan kewajaran (eksternal), (Presenza, et al., 2015). Tata kelola destinasi selanjutnya dapat meningkatkan nilai ketertarikan (atractiveness), persaingan (competitiveness), keberlanjutan (sustainability), dan lokalitas (localness).
Manajemen merupakan salah satu bagian dari proses tata kelola (Van Grembegen, 2002). Manajemen menitikberatkan dukungan pada jalannya
operasional, sedangkan tata kelola terlihat lebih holistik, yang mempertemukan data dan mentransformasikan kebutuhan sekarang dan yang akan datang menyengkut kebutuhan berkembangnya organisasi dan lingkungannya. Tata kelola merupakan bagian terintegritas bagi kesuksesan pengaturan organisasi untuk jaminan efisiensi dan efektivitas perbaikan pengukuran dalam kaitan dengan proses organisasi. Tiga disposisi tentang konsep DMO, destination governance, dan triple bottom line diuraikan sebagai berikut:
a. Destination Management Organization (DMO)
Pendekatan destinasi pariwisata dan DMO dikembangkan oleh Bornhorst et
al. (2010), sebagaimana tampak pada gambar berikut:
Gambar 2.2Model DMO dan Destinasi Pariwisata Sumber : Bornorst et al., 2010
Kesuksesan destinasi pariwisata ditentukan oleh sinergi antara input variabel dan proses variabel. Dimana input variabel yang dimaksud terdiri atas sumber daya yang mencakup pegawai dan pendanaan, sedangkan variabel produk mencakup konsep dasar produk, aktivitas, budaya, event/ kegiatan, dan cakupan/
lingkungan. Adapun proses variabel mencakup penyedia/ hubungan dengan organisasi lainnya dan operasionalisasi pengelolaan dan pelayanan. Kinerja variabel terdiri atas laba, atas investasi, jumlah pengunjung, dan pengalaman pengunjung (pengalaman, kata positif dari mulut, dan nilai). Selain itu,kesuksesan juga ditentukan oleh bobot koordinasi, kepemimpinan, dan upaya untuk mengelola krisis di destinasi. Dukungan lintas sektor, kerjasama kemitraan dengan pemda juga diperlukan, serta kegiatan pemasaran dan dukungan dari komunitas untuk mewujudkan kesuksesan kinerja variabel yang diukur melalui laba atas investasi, jumllah pengunjung, dan kualitas pengalaman pengunjung.
Dalam gambar diatas terungkap bahwa fungsi utama DMO ialah memimpin dan koordinasi untuk membangun bauran destinasi ddengan melakukan konsolidasi internal, pemasaran dengan dukungan iklim yang kondusif.
b. Destination Governance
Destination Governance adalah pendekatan tata kelola untuk memperkuat sistem destinasi melalui interkoneksi, keterkaitan , dan mata rantai destinasi pariwisata. Destination Governance melibatkan pihak yang diarahkan kepada
fokus dan sinergi sistem dan upaya untuk meningkatkan peluang dan sinergis dalam tata kelola.
Tata kelola memungkinkan organisasi untuk memperoleh keunggulan penuh terhadap informasi, keuntungan yang maksimal, modal, peluang, dan keunggulan kompetitif dalam bersaing. Tata kelola mengandung pengertian governance, yaitu mengelola, mengatur, dan menata.
Tata kelola destinasi pariwisata sebagai destination governance mengandung pengertian rangkaian proses, kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang memengaruhi pengarahan, pengelolaan, dan pengontrolan suatu destinasi pariwisata. Dalam konteks ini, Laws et al. (2011), Branwell, (2011); Baggio et al, (2010) mengemukakan bahwa:
1. Tata kelola destinasi pariwisata (tourism destination governance) bertujuan untuk mengelola dan mengoordinasikan destinasi struktur organisasi dan perilaku dinamis, kerja sama sektor, bisnis, otoritas lokal, dan individu dalam suatu sistem dan analisis jejaring. Tata kelola selanjutnya mendorong proses terjadinya pengaruh dan pertumbuhan ekonomi, sosial budaya, dan tujuan lingkungan berkelanjutan.
2. Tata kelola membutuhkan konseptualisasi perencanaan dan kebijakan pariwisata serta kerangka teoritis dari bidang ilmu sosial. Peningkatan tata kelola destinasi memerlukan paradigma ilmu kompleksitas (complexity science) sebagai kerangka untuk memahami sistem ekonomi dan sosial yang akhir- akhir ini memengaruhi tinjauan tentang destinasi pariwisata.
c. Konsep Triple Bottom Line
Model yang dikemukakan oleh Denhart (2006), menekankan pentingnya pendekatan triple bottom line dalam pengelolaan sumber daya di daerah.
Triple bottom line berusaha untuk mendorong optimalisasi, pemanfaatan, dan pengembangan sumber daya pariwisata berbasis budaya, ekologi, biodiversitas, ekonomi, dan sistem kehidupan lokalitas untuk faedah ekonomi jangka panjang. Pendekatan ini mengintegrasi pilar manusia (people), keberlanjutan sumber daya di bumi (planet), dan penciptaan faedah ekonomis (profit).
2.3.3 Pengembangan Destinasi Pariwisata
Pengembangan adalah proses, cara, pedoman menjadi maju atau membangun seccara bertahap, teratur dan berkesinambungan yang mengarah kepada tujuan yang dikehendaki. Pengembangan dapat diniai sebagai respon terhadap perubahan yang selalu terjadi dari waktu ke waktu. (Swarbroke, 1996:99)
Menurut Swabroke (1996:99), pengembangan pariwiasta merupakan suatu rangkaian upaya untuk mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan berbagai sumber daya pariwisata, mengintegrasikan segala bentuk aspek di luar pariwisata yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung akan keberlangsungan pengembangan pariwisata.
Pengembangan pariwisata menjadi pilihan penting bagi suatu negara atau daerah karena multiefek yang ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata. Pertumbuhan ekonomi merupakan dampak utama yang dirincikan oleh terbukanya lapangan kerja, stimulasi investasi sehingga berkembang produksi wisata baikbarang maupun jasa sehingga pariwisata terus berkembang.
Dikemukakan oleh Marpaung (2000) pengembangan pariwisata tidak lepas dari adanya daya tarik wisata sampai adanya jenis pengembangan yang ditunjang oleh penyediaan fasilitas dan aksesibilitas. Objek daya tarik wisata sangat erat hubungannya dengan travel motivation dan travel fashion.
Pengembangan parwisata harus dilengkapi dengan perencanaan yang lebih baik daam skala mikro maupun skla mikro. Perenccanaan adalah proses mendefenisikan tujuan, membuat strategi untuk mencapai tujuan, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja dalam mencapai tujuan (Hakim, 2012).
Berbagai daerah memiliki rencana induk pengembangan pariwisata dalam skala mikro untuk pengembangan obyek atau atraksi wisata maupun rencana pengembangan secara regional atau nasional. Dalam konteks ini untuk pengembangan dalam skala kecil atau mikro seperti Rencana Induk Pengembangan Obyek Wisata atau RIPOW dan Rencana Induk Pengembangan Pariwissata Daerah atau RIPPDA dan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional atau RIPPNAS. (I Gusti, 2016:119)
Ditambahkan lebih lanjut oleh Linnas (2011), bahwa WTO mengembangkan indikator untuk pembangunan/pengembangan pariwisata berkelanjutan (Indicators of Sustainable Development for Tourism Destination), yang merupakan bukti komitmennya untuk mendukung Agenda 21. Indikator ini dapat dipakai untuk mengukur tingkat keberlanjutan suatu destinasi wisata, yakni:
1. Kesejahteraan (will being) masyarakat tuan rumah 2. Terlindungnya aset- aset budaya
3. Partisipasi masyarakat 4. Kepuasan wisatawan
5. Jaminan kesehatan dan keselamatan 6. Manfaat ekonomik
7. Perlindungan terhadap aset alami
8. Pengelolaan sumber daya alam yang langka 9. Pembatasan dampak, dan
10. Perencanaan dan pengendalian pembangunan 2.4 Strategi Pengembangan Pariwisata
Kartasasmita (1995) mengungkapkan dalam strategi pengembangan usaha pariwisata yang harus diperhatikan adalah:
a. Peningkatan akses kepada aset produktif, terutama modal b. Peningkatan akses pada pasar
c. Kewirausahaan d. Kelembagaan
2.4.1 Promosi Pariwissata
Menurut Yoeti (1990:141) pada hakekatnya pengertian promosi adalah untuk memberitahukan dan mengingatkan secara lebih khusus. Promosi pariwisata adalah suatu proses untuk menyampaikan informasi kepada target pasar, tentang beberapa hal menyangkut produk, jasa, harga, dan tempat produk dijual dengan cara melakukan langkah persuasif agar target mau melakukan pembelian. Kegiatan promosi adalah salah satu variabel yang ada didalam bauran pemasaran, yang sangat penting untuk dilakukan perusahaan dalam memasarkan produk baik barang maupun jasa, kegiatan promosi tidak hanya mempunyai kegunaan sebagai alat komunikasi antara perusahaan dengankonsumen, namun juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen dalam hal kegiatan pembelian
atau penggunaan barang dari jasa sesuai dengan kebutuhannya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Lupiyoadi (2001:108).
2.4.2 Pengembangan Sarana dan Prasarana a. Sarana wisata
Suwantoro (2004:22) berpendapat bahwa, “sarana wisata merupakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanan wisatanya.”
b. Prasarana wisata
“Prasarana wisata dalah sumber daya alam dan sumber daya buatan manusia yang mutlak dibutuhkan oleh wisatawan dalam perjalanannya di daerah tujuan wisata, seperti jalan, listrik, air, telekomunikasi, terminal, jembatan, dan lain sebagainya” (Suwantoro., 2004:21).
2.5 Tiga Paradigma Utama Dalam Pengembangan Pariwisata
1. Economically viable, yaitu harus mampu meningkatkan pendapatan, memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2. Socially acceptable, yaitu harus mampu mewujudkan keadilan sosial, melestarikan serta memperkokoh jati diri, kemandirian bangsa, memperkaya kepribadian, mempertahankan nilai- nilai agama, serta berfungsi menciptakan ketertiban dan kedamaian dunia (obyek wisata yang potensial, jika dikelola dengan baik maka akan menyedot minat wisatawan mancanegara untuk langsung berkumpul, saling mengenal dan menjalin persahabatan antarnegara).
3. Environmentally sustainable, yaitu harus memperhatikan kelestarian lingkungan dan berkesinambungan. Oleh karena itu pembangunan pariwisata berbasis masyarakat menjadi “azimat” yang harus dipegang oleh para penentu dan pelaksana kebijakan pembangunan pariwisata.
2.6 Pemerintah Dalam Pariwisata 2.6.1 Pemerintah dan Pemerintahan
Pemerintah merupakan sekelompok orang yang secara bersama- sama memikul tanggung jawab teratas untuk menggunakan kekuasaan. Pemerintah dapat diartikan sistem menjalankan wewenang dan kekuasaan mengatur kehidupan sosial, ekonomi, dan politik suatu negara atau bagian- bagiannya.
Pemerintah juga adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang- undang di wilayah tertentu. (KBBI)
Pemerintah dalam arti luas didefenisikan seagai suatu entuk organisasi yang ekerja dengan tugas menjalankan suatu sistem pemerintahan. Eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sedangkan pemerintah dalam arti sempit ialah suatu badan persekumpulan yang memiliki kebijakantersendiri untuk mengelola, mengatur, serta mengatur jalannya suatu sistem pemerintahan.
Pemerintah mempunyai otoritas dalam peraturan, menyediakan dan peruntukan berbagai infrastruktur yang terkait dengan kebutuhan pariwisata.
Pemerintah juga bertanggung jawab dalam menentukan arah kebijakan, yang menjadi panduan bagi stokeholder lain yang memainkan peran masing- masing dalam pariwisata. Dalam menjalankan perannya pemerintah perlu menyusun rencana yang jelas. Tidak kalah penting adalah konsistensi antara rencana dengan implementasi.
Pemerintahan sendiri lebih menunjuk kepada bidang dan fungsi.
Pemerintahan adalah proses atau cara pemerintah memegang wewenang ekonomi, politik, administrasi guna mengelola urusan- urusan negara untuk kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah ialah semua akrivitas, fungsi, tugas, dan kewajiban yang dijalanakan oleh lembaga untuk mencapai tujuan negara. Sedangkan pemerintahan dalam arti luas adalah semua aktivitas yang terorganisir yang bersumber pada kedaulatan dan kemerdekaan, berlandaskan pada dasar negara, rakyat atau penduduk, dan wilayah itu demi tercapainya tujuan negara. Pemerintahan juga dapat didefenisikan dari segi struktural fungsional sebagai sebuah sistem struktur dan organisasi dari berbagai macam fungsi yang dilaksanakan atas dasar tertentu untu mencapai tujuan negara. (Haryanto, 1997:2-3)
2.6.2 Lembaga Pemerintah (Lembaga- Lembaga Tinggi Negara)
Dalam menjalankan pemerintahan, pemerintah terbagi ke dalam beberapa tingkatan kekuasaan, yang dibagi di dalam lembaga negara atau lembaga pemerintah, sebagai berikut: (Indra, 19987)
1. Lembaga Eksekutif
Kekuasaan eksekutif atau sering pula disebut dengan Kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia (dalam arti sempit diatur dalam UUD 1945 pada BAB III Pasal 4 sampai dengan Pasal 15).
Pemerintahan Republik Indonesia dijalankan oleh pemerintah RI, yang meliputi:
1) Presiden, selaku Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan;
2) Wakil Presiden;
3) Kabinet (para Menteri);
4) Jaksa Agung;
5) Sekertaris Negara;
6) Gubernur Bank Indonesia;
7) Dewan- dewan Nasional dan Lembaga- lembaga non Departemen (yang dipimpin oleh Ketua, dibentuk dengan Undang- undang atau Keppres).
2. Lembaga Legislatif
Dijalankan oleh DPR bersama- sama dengan presiden. Kerjasama antara presiden dan DPR tampak dalam hal pembuatan Undang- Undang (UU).
3. Lembaga Yudikatif
Dijalankan oleh Mahkama Agung (MA). Kedudukan badan ini bebas dari campur tangan kekuasaan pemerintah, namun tidak berdiri di atas pemerintah.
Selain menjalankan kekuasaaan kehakiman, Mahkama Agung (MA) berwenang utnuk memberikan nasihat hukum kepada presiden selaku kepala negara dalam hal pemberian dan penolakan grasi.
Pembagian lembaga- lembaga pemerintah menurut UUD Tahun 145 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 2.3
Lembaga- lembaga dalam sistem ketatanegaraan menurut UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Sumber : Google
2.6.3 Pemerintah Pusat
Pemerintah pusat adalah penyelenggara pemerintahan Negara Republik Indonesia, yakni Presiden dengan dibantu seorang Wakil Presiden dan oleh menteri- menteri negara. Dengan kata lain, pemerintahan pusat adalah pemerintahan secara nasional yang berkedudukan di ibu kota Negara Republik Indonesia.
Kewenangan Pemerintah Pusat
Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat luas. Urusan yang berkaitan dengan pemerintahan juga beraneka ragam. Oleh karena itu, urusan- urusan yang bermacam- macam tersebut tidak semuanya harus diselesaikan oleh
pemerintah pusat. UUD 1945 menyatakan bahwa pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten) diberi kewenangan untuk menjalankan pemerintahan sendiri dengan otonomi seluas- luasnya (Bab VI) pasal 18 ayat 5 UUD 1945 hasil amandemen.
Otonomi artinya kekuasaan untuk mengatur daerahnya sendiri.
Urusan pemerintahan yang dimiliki pemerintah pusat terdiri atas urusan
Urusan pemerintahan yang dimiliki pemerintah pusat terdiri atas urusan