• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.2 Gambaran Umum Dinas Pariwisata

Objek wisata Bukit Gundlaaing merupakan salah satu objek wisata alam yang dikelolah oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo.

Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo bertempatkan di Jalan Gundaling No. 1, Berastagi, Kabupaten Karo.

4.1.2.1 Kedudukan, Tugas dan Fungsi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan merupakan unsur pemerintahan bidang pariwisata dan kebudayaan yang menjadai kewenangan daerah. dinas Pariwisata dan Kebudayaan dipimpin oleh Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekertaris Daerah. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mempunyai tugas membantu Bupati melaksanakan urusan pemerintahan bidang pariwisata dan kebudayaan yang menjadi kewenangan daerah dan tugas pembantuan yang diberikan kepada Daerah.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam melaksanakan tugas menyelanggarakan fungsi sebagai berikut :

1. Perumusan Kebijakan sesuai dengan lingkup tugasnya;

2. Pelaksanaan kebijakan sesuai dengan lingkup tugasnya;

3. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan sesuai dengan lingkup tugasnya;

4. Pelaksanaan administrasi dinas sesuai dengan lingkup tugasnya, dan;

5. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh bupati terkait dengan tugas dan fungsinya.

Adapun struktur organisasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo adalah sebagai berikut:

Gambar 4.1

Bagan Organisasi dan Tatakerja

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo

4.2. PEMBAHASAN

4.2.1 Analisis Peran Pemerintah Terhadap Pengembangan Daerah Wisata Bukit Gundaling

4.2.1.1 Peran Pemerintah Kabupaten Karo sebagai Wirausaha di Daerah Wisata Bukit Gundaling

Dalam hal ini Pemerintah daerah Kabupaten Karo bertanggung jawab untuk menjalankan usaha bisnis. Menurut informasi yang ditemukan dilapangan, peran-peran yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah ialah mendorong masyarakat sekitaran Gundaling untuk menjalankan usaha yang dimana usaha tersebut dibantu oleh pihak pemerintah. Pemerintah dalam hal ini memanfaatkan potensi tanah dan bangunan untuk tujuan bisnis yang bertujuan untuk perkembangan daerah pariwisata tersebut. Selain itu, pemerintah juga melakukan penyuluhan-penyuluhan yang bertujuan untuk peningkatan usaha masyarakat.

Berikut hasil wawancara yang kami temukan di lapangan bersama ibu Surbakti mengenai peran pemerintah dalam :

“ Kalau saya sendiri merasakan bantuan pemerintah. Karena tempat saya berjualan ini juga merupakan Bansos (Bantuan Sosial) dari pemerintah. Jadi disini saya sudah berjualan selama 10 tahun dengan mengontrak tanah dari pemilik hak guna usaha, kalau tanah ini sendiri milik pemerintah, tidak dijual belikan tapi kapanpun pemerintah mau pakai, ya kita siap pergi. Standnya sendiri telah disiapkan oleh pemerintah, kami tinggal menata barang dagangan. Kalau saya sendiri, tinggal menata bunga-bunga yang saya jual. Pemerintah juga sering

datang dan menanyai tentang usaha ini. Bagaimana supaya bunga-bunga saya lebih menarik minat para pembeli.

Namun berbeda dengan informasi yang didapatkan dilapangan oleh informan lainnya, yakni Rizal dan Pak Karma.

Berikut hasil wawancara yang kami dapatkan bersama Rizal :

“Saya disini bekerja sebagai photographer,jadi tanah ini sebenarnya dibawah naungan pemerintah yang dikelolaoleh ‘toke’ kami. Jadi kami sebagai photographer hanya bekerja saja, uang semuanya diserahkan pada toke, nanti toke kami yang bagi ke kami. Biasanya seorang toke memiliki 3-5 anggota photographer. Kalau mengenai peran pemerintah, menurut saya kurang dalam hal meningkatkan usaha masyarakat sekitar, pemerintah kurang peduli. Mereka juga jarang melakukan pengecekan ke Bukit Gundaling. Jika kami memberikan masukan kepada pemerintah untuk kepentingan perkembangan usaha, biasanya tidak pernah didengar. Mereka sekedar meng-iyakan, tapi tidak pernah dilaksanakan.”

Berikut hasil wawancara yang kami dapatkan bersama Bapak Karma :

“Kalau menurut saya peran pemerintah dalam wirausaha sangat kurang.

Memang pemerintah melakukan sosialisasi tahunan, tapi masyarakat setempat apalagi photographer dan pedagang asongan di sekitar Bukit Gundaling sudah bosan karena isi sosialisasi dan penyuluhannya yang sama tiap tahunnya tapi tidak ada pelaksanaan sama sekali, jadinya malas untuk menghadiri. Bayangkan, tahun terakhir kemarin sosialisasi tersebut hanya diwakili oleh saya sendiri. Apalagi, setiap masyarakat mengeluarkan pendapat berupa ide-ide yang bertujuan untuk pengembangan wirausaha, tidak pernah ditanggapi oleh pemerintah. Hal tersebut

membuat masyarakat setempat yang memiliki usaha di sekitaran Objek Wisata Bukit Gundaling ini kecewa dan memilih untuk tidak hadir dalam sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah. Sebenarnya pemerintah telah menyediakan uang transport sebesar Rp. 50.000,- bagi tiap orang yang menghadiri sosialisasi tersebut, namun tetap saja masyarakat tidak tertarik. Mungkin karena masyarakat juga merasa tidak penting dan lebih baik menjalankan aktifitas pribadi daripada menghadiri sosialisai atau pun penyuluhan-penyuluhan tersebut.

Dari informan-informan tersebut penulis menemukan perbedaan pandangan masyarakat terhadap peranyang dilakukan oleh pemerintah dalam hal Wirausaha untuk pengembangan daerah wisata Bukit Gundaling. Berdasarkan informasi-informasi yang dikumpulkan dilapangan, penulis dapat mengartikan bahwa peran pemerintah dalam hal Wirausaha masih belum merata dan maksimal dirasakan oleh masyarakat sekitaran Objek Wisata Bukit Gundaling. Hal tersebut didukung oleh perbedaan-perbedaan pendapat dimana sebagian informan cukup merasakan peranan pemerintah, sedangkan sebagian informan lain belum merasakan peran pemerintah.

4.2.1.2 Peran Pemerintah Kabupaten Karo sebagai Koordinatordi Daerah Wisata Bukit Gundaling

Sebagai Koordinator, pemerintah Kabupaten Karo khususnya Dinas Pariwisata Kab. Karo berperan untuk menetapkan kebijakan, pengusul strategi- strategi untuk pembangunan daerah wisata. Melalui wawancara yang dilakukan kepada informan kunci, yakni pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Karo, maka didapatilah kebijakan- kebijakan yang telah ditetapkan mengenai daerah Wisata oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Karo yang tertuang dalam Paraturan Daerah Kabupaten

Karo Nomor 05 Tahun 2012 Tentang Retribusi Jasa Usaha (PerDa terlampir pada halaman lampiran.)

Sebagai koordinator, pemerintah juga berperan untuk mengkoordinir (mengawasi, mengatur) jalannya pengelolaan daerah pariwisata yang melibatkan masyarakat sekitar sebagai pelaku usaha.

Berikut hasil wawancara dengan informan utama mengenai peran pemerintah sebagai koordintor.

Pak Karma : “Pemerintah dan masyarakat yang memiliki usaha di atas sini (Bukit Gundaling), kita tidak menjalin kemitraan secara langsung dengan pihak Dinas Pariwisata. Pihak dinas hanya sekedar tahu kalau kita ada usaha disini. Sesekali kepala (Kepada Dinas) datang untuk melihat- lihat ke atas sini (Bukit Gundaling) tapi tidak memberikan solusi untuk permasalahan yang sering kita sampaikan.

Kalaupun ada buat keputusan, mereka (pihak Dinas Pariwisata) tidak pernah menanyakan pendapat kita yang dilapangan ini.”

Bu Surbakti : “Kalau ingin berjualan disini bebas saja, hanya perlu menaati peraturan- perutaran yang ada saja. Bayar cukai, uang sampah, dan wajib menjaga kebersihan tempat jualan masing- masing, jangan kotor.”

Dari hasil wawancara dengan informan- informan tersebut, penulis mendapati adanya perbedaan perlakuan oleh pemerintah kepada para informan yang adalah masyarakat sekitar sebagai pelaku usaha. Sebagai koordinator, pemerintah hanya mengkoordinir pelaku usaha di sekitaran pasar buah saja, yakni dengan menetapkan peraturan- peraturan lisan yang harus dilakukan jika ingin berjualan di pasar buah. Berbanding terbalik dengan kondisi di Bukit Gundaling, pemerintah tidak menjalankan perannya sebagai koordinator dengan baik,

sepertiyang disampaikan informan bahwa pemerintah tidak pernah melibatkan mereka dalam mengambil kebijakan untuk kepentingan daerah wisata tersebut.

4.2.1.3Peran Pemerintah Kabupaten Karo sebagai Stimulatordi Daerah Wisata Bukit Gundaling

Pemerintah sebagai stimulator berperan untuk memberikan motivasi/

stimulasi agar adanya penciptaan/ pengembangan dengan menarik perusahaan/

pelaku usaha ke daerah wisata untuk melakukan usaha melalui tindakan- tindakan khusus seperti menyediakan fasilitas untuk promosi.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama, yakni masyarakat sebagai pelaku usaha di daerah wisata Bukit Gundaling.

Pak Karma: Pemerintah ya tidak memberikan apa-apalah buat kita disini. Palingan tahun baru kemarin kasih cat untuk kita cat patung- patung disini, itupun baru sekali ini. Kalau dulu- dulu gak pernah bantu apa- apa. Kalau promosi dari pihak dinas sih gak ada. Ya kita- kita sendiri ini yang buat di media sosial.

Bu Surbakti: Adalah bantuan promosi dari pemerintah. Kalau biasanya kan tiap tahun kita ada pesta buah, nah itu kan dari pemerintah ada buat spanduk, baliho, di sosial media juga. Itukan membantu juga buat kita yang berjualan di pasar buah ini.

Dari hasil wawancara di atas penulis masih menemukan adanya perbedaan pendapat antara informan utama yng berada di Bukit Gundaling dan di daerah sekitarnya (Pasar Buah). Pemerintah dalam hal ini yakni Dinas Pariwisata Kabupaten Karo masih lebih memperhatikan para pelaku usaha yng berada di pasar buah daripada yang ada di Bukit Gundaling. Acara tahunan yang diadakan di tanah Karo juga masih berpusat di sekitaran pasar buah, belum ada yang

berpusat di bukit gundaling. Dalam hal ini, peran pemerintah sebagai stimulator dirasa belum maksimal, melihat belum adanya dampak nyata yang dirasakan para pelaku usaha di Bukit Gundaling.

4.2.1.4 Peran Pemerintah Kabupaten Karo sebagai Fasilitatordi Daerah Wisata Bukit Gundaling

Sebagai fasilitator pemerintah berperan untuk menyediakan fasilitas di daerah wisata serta mempercepat pembangunan melalui perbaikan lingkungan perilaku di daerahnya. Peran ini dapat meliputi pengefisienan proses pembangunan, perbaikan prosedur perencanaan dan penetapan peraturan.

Berikut merupakan hasil wawancara dengan informan utama mengenai peran pemerintah sebagai fasilitator:

Pak Karma: Kalau fasilitas yang disediakan oleh pemerintah ya sebatas pendopo, dan toilet. Ini baru diperbaiki di atas sini, dulu pendopo disini gak dirawat.

Selebihnya ya kita buat sendiri. Seperti tenda- tenda untuk berjualan, properti- properti/ hiasan- hiasan untuk spot foto disini ya dari kita semua.

Bu Surbakti: Fasilitas yang disediakan pemerintah, ada tiang- tiang untuk meletakkan bunga- bunga kita disini. Ini stand kita jualan kan dari Bansos juga.

Jadi tempatnya lebih rapi. Dulu disini juga kotor karena kotoran kuda, nah jadi belakangan ini, dari pihak pemerintah juga bantu kita dengan memberi pempres kuda, supaya kotorannya jangan berserakan. Buat kuda yang berkeliaran tanpa pempres akan ada sanksinya.

Melalui wawancara dengan informan utama mengenai peran pemerintah sebagai fasilitator juga dinilai penulis kurang maksimal. Hal ini dikarenakan daerah wisata bukit Gundaling di dalam peraturan PerDa merupakan daerah wisata yang

dibawah pengelolaan Dinas Pariwisata, namun melihat di lapangan, justru masyarakat sendiri yang menyediakan lebih banyak fasilitas untuk pengunjung, dan pihak pemerintah terkesan kurang peduli.

4.2.2 Analisis Peran Masyarakat Terhadap Pengembangan Daerah Wisata Bukit Gundaling

4.2.2.1 Peran Masyarakat Sekitar Gundaling dalam Partisipasi Buah Pikirandi Daerah Wisata Bukit Gundaling

Partisipasi Buah Pikiranadalah jenis partisipasi yang diberikan seperti menyumbangkan buah pikiran, pengalaman, pengetahuan dalam pertemuan rapat.

Dalam hal ini, masyarakat sekitar Gundaling yang menjadi narasumber penelitian menceritakan partisipasi buah pikiran yang dilakukan masyarakat sekitar terhadap pengembangan daerah wisata Bukit Gundaling.

Sesuai data yang dikumpulkan oleh peneliti melalui berbagai wawancara dan observasi langsung yang dilakukan, peneliti menemukan bahwa masyarakat sekitar telah ikut berpartisipasi dalam hal buah pikiran yang tujuannya untuk mengembangkan daerah wisata Bukit Gundaling. Masyarakat sekitar selalu memberikan gagasan-gagasan demi meningkatkan keindahan Bukit Gundaling.

Namun menurut masyarakat pemerintah seringkali mengabaikan gagasan-gagasan yang telah diberikan oleh masyarakat.

Berikut ialah wawancara penulis dengan masyarakat sekitar Objek Wisata Bukit Gundaling :

Bang Rizal :Pernah kita sampaikan keluhan-keluhan gitu. Ya tapi itu tadi, gak pernah ada tanggapan ataupun tindak lanjut dari pihak dinasnya.

Pak Karma :Pernah pastinya menyampaikan keluhan- keluhan, setiap kali mereka meninjau ke sini atau cuma lihat-lihat aja sering kita sampaikan ide- ide atau keluhan. Tapi tidak begitu ditanggapi atau dijalankan ide-ide dari kita. Hanya ya didengar aja gitu.

Melalui informasi yang penulis dapatkan dilapangan, maka dapat dikatakan bahwa masyarakat sekitar Objek Wisata Bukit Gundaling telah berpartisipasi dalam memberikan buah pikiran yang bertujuan untuk mengembangkan Objek Wisata Bukit Gundaling, namun penulis menemukan bahwa kurangnya kerjasama pemerintah dalam hal menanggapi keluhan-keluhan serta ide-ide yang disampaikan masyarakat kepada pemerintah. Hal tersebut juga membuat masyarakat kecewa dan memiliki pandangan negatif terhadap pemerintah dalam hal pengembangan daerah wisata Bukit Gundaling.

4.2.2.2 Peran Masyarakat Sekitar Gundaling dalam Partisipasi Tenaga di Daerah Wisata Bukit Gundaling

Partisipasi tenaga, adalah jenis partisipasi yang diberikan masyarakat sekitar Objek Wisata Gundaling dalam berbagai kegiatan, seperti untuk perbaikan atau pembangunan Objek wisata, pertolongan untuk orang lain, partisipasi spontan atas dasar sukarela.

Menurut informasi yang telah didapatkan berdasarkan informasi dan observasi langsung yang peneliti lakukan, masyarakat sekitar Objek Wisata Bukit Gundaling seringkali melakukan kegiatan bersih-bersih disekitar Objek Wisata Bukit Gundaling. Apalagi masyarakat yangmemiliki usaha di sekitar Objek Wisata Bukit Gundaling. Bahkan, dalam menata taman yang berada di Objek Wisata Bukit Gundaling, seringkali dilakukan masyarakat.

Berikut hasil wawancara yang ditemukan peneliti di lapangan :

Ibu Surbakti : Kita disini bersih- bersih, setiap sampah yang di depan toko kita ya harus kita bersihkan sendiri.

Pak Karma :Selain bersih- bersih tiap sore disini, kita juga buat bibit- bibit tanaman disini, ngecat patung- patung disini juga kita.

Bang Rizal : Setiap sore kita selalu bersih- bersih di bukit Gundaling.

Melalui hasil wawancara, penulis dapat menyimpulkan bahwa peran masyarakat sekitar Objek Wisata Bukit Gundaling dalam partisipasi tenaga bisa dilihat dari partisipasi masyarakat sekitar dalam mengorbankan tenaganya dalam hal melakukan kegiatan bersih-bersih sekitaran Objek Wisata Bukit Gundaling.

Untuk memperindah Objek Wisata Bukit Gundaling, masyarakat juga bahkan sering melakukan penataan taman dan menambah properti-properti bersama-sama dengan masyarakat sekitar.

4.2.2.3 Peran Masyarakat Sekitar Gundaling dalam Partisipasi Harta Benda di Daerah Wisata Bukit Gundaling

Partisipasi harta benda merupakan partisipasi yang diberikan oleh seorang dalam suatu kegiatan untuk perbaikan/ pembangunan objek/ daerah wisata, pertolongan bagi orang lain dan sebagainya.

Dalam hal ini, penulis menemukan informasi dilapangan mengenai partisipasi-partisipasi harta benda yang diberikan masyarakat sekitar Objek Wisata Bukit Gundaling berupa keikhlasan masyarakat dalam menyumbangkan benda untuk mempercantik Objek Wisata Bukit Gundaling yangmana secara otomatis akan menambah minat wisatawan untuk berkunjung ke Objek Wisata

tersebut. Hal tersebut dilakukan masyarakat karena masyarakat juga merasa bahwa perhatian pemerintah terhadap perkembangan Objek Wisata Bukit Gundaling masih sangat kurang.

Dalam hal partisipasi harta benda, bahkan sesuatu yang ingin disumbangkan masyarakat terkadang tidak diberi izin oleh pemerintah untuk dibuat di Objek Wisata tersebut. Namun, karena masyarakat menganggap pemerintah memang kurang peduli, masyarakat terkadang tetap memasang properti-properti untuk memperindah Objek Wisata Bukit Gundaling tanpa persetujuan pemerintah setempat yang mana biayanya ditangggung sendiri oleh masyarakat sekitar.

Berikut hasil wawancara yang penulis dapatkan dilapangan :

Ibu Surbakti :Kalau ada pesta budaya, ya kita para penjual bunga disini nyumbangi bunga kita sebagai hiasan, pajangan buat pemerintah pakai secara cuma- cuma.

Pak Karma :Tanaman- tanaman disini, dari bibit sampai ke hiasan yang ada di sini itu semua dari kita.

4.2.2.4 Peran Masyarakat Sekitar Gundaling dalam Partisipasi Keterampilan dan Kemampuan di Daerah Wisata Bukit Gundaling

Merupakan keterampilan dan kemampuan yang diberikan orang untuk mendorong aneka ragam bentuk usaha dan industri.

Dalam hal ini, berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti, peneliti menemukan bahwa masyarakat sekitaran Objek Wisata Gundaling memiliki usaha-usaha yang beragam mulai dari pedagang asongan, pedagang makanan, minuman, pedagang aksesoris khas berastagi, pedagang bunga, sewa tikar, bahkan

fotografer yang menyediakan jasa poteret di sekitaran Objek Wisata Bukit Gundaling. Barang-barang yang ditawarkan oleh masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang juga merupakan barang-barang yang unik dan beragam sehingga banyak menarik minat wisatawan untuk membeli produk yang mereka tawarkan.

Maka berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis, dapat disimpulkan bahwa masyarakat sekitar Objek Wisata Gundaling telah berpartisipasi dalam mengembangkan Objek wisata Gundaling melalui partisipasi Keterampilan dan Kemampuan.

4.2.2.5 Peran Masyarakat Sekitar Gundaling dalam Partisipasi Sosial di Daerah Wisata Bukit Gundaling

Partisipasi sosial merupakan yang diberikan sebagai tanda keguyuban, seperti turut arisan, kooperasi, melayat (dalam peristiwa kematian), tabungan dan sebagainya.

Informasi yang didapatkan oleh penulis di lapangan, masyarakat sekitar merupakan masyarakat yang memiliki rasa persaudaraan yang kuat, sehingga satu sama lain saling peduli dan memiliki rasa memiliki yang tinggi. Masyarakat sekitaran Objek Wisata Gundaling memiliki kelompok-kelompok sosial seperti arisan-arisan dan koperasi. Kelompok-kelompok sosial tersebut secara tidak langsung memperkuat rasa solidaritas mereka.

Partisipasi sosial di daerah Wisata Objek Wisata Gundaling oleh masyarakat sekitaryang berdampak langsung biasanya berupa kerjasama dalam hal kebersihan dan keindahan Objek Wisata Bukit Gundaling. Biasanya jika ada anggota kelompok yang mengalami dukacita ataupun kemalangan, kelompok

masyarakat berempati baik dari segi moral dan materi. Hal-hal tersebut dapat mempererat hubungan antar tiap kelompok

Berikut hasil wawancara yang penulis dapatkan dilapangan :

Ibu Surbakti : Kalau komunitas khusus usaha, tidak ada. Yang ada STM (Serikat tolong- meolong), disini namanya STM Pajak Buah. Kita disini juga ada arisan.

Pak Karma :Kalau kita ada iuran per minggunya, untuk kebutuhan kita-kita disini.

Macam ini kan udah ada dana sekian juta, nah kawan- kawan minta dibuat jaket biar ada seragam kita pake semua. Dari fotographer, asongan, penjual aksesoris, sama cetak foto.

Bang Rizal : Kalau kita ada teman yang nikah atau meninggal ya kita datang rame- rame, kasih sumbangan juga.

Berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan oleh penulis, penulis dapat menyimpulkan bahwa masyarakat di sekitar Objek wisata Gundaling telah melakukan partisipasi sosial dalam menunjang perkembangan Objek Wisata Bukit Gundaling. Masyarakat sekitar juga memiliki kelompok-kelompok sosial yang seringkali ikut serta menunjang perkembangan Objek Wisata Bukit Gundaling.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari proses wawancara dan pengumpulan data yang telah dilakukan, maka dalam hal ini penulis dapat menarik kesimpulan mengenai penelitian “Analisis Peranan Pemerintah Dan Masyarakat Terhadap Pengembangan Daerah Wisata Bukit Gundaling Berastagi Kabupaten Karo”, adalah sebagai berikut:

1. Peran Pemerintah terhadap Pengembangan Daerah Wisata Gundaling berdasarkan peranannya sebagai;

1. Wirausaha

Peran pemerintah sebagai wirausaha dalam pengembangan daerah wisata Bukit Gundaling yakni dengan bertanggung jawab untuk menjalankan usaha bsnis maupun mendorong untuk berjalannya usaha bisnis di daerah wisata Bukit Gundaling Kabupaten Karo. Dalam hal ini pemerintah telah menjalankan perannya yakni memberikan tanah sebagai lahan usaha dengan kontrak hak guna usaha kepada para pengusaha bunga dan buah di pasar buah. Sedangkan untuk usaha di Bukit Gundaling sendiri, peran pemerintah sebagai wirausaha tidak begitu dirasakan oleh pemilik usaha di sana.

2. Koordinator

Sebagai koordinator, pemerintah telah menetapkan kebijakan- kebijakan serta pengusulan strategi- strategi untuk pembangunan daerah wisata, yang

telah tertuang di dalam Peraturan Daerah Kabupaten Karo Nomor 05 Tahun 2012 Tentang Retribusi Jasa Usaha. Dalam perannya sebagai koordinator yang juga berperan untuk mengawasi dan mengatur jalannya usaha di daerah wisata Bukit Gundaling dengan melibatkan masyarakat setempat sebagai pelaku usaha, dirasakan oleh para pelaku usaha kurang berjalan dengan baik. ada ketimpangan perlakuan antara pelaku usaha di sekitaran pasar buah dan di bukit Gundaling sendiri, dimana di pasar buah pemerintah masih mengawasi dan mengkoordinir pelaku usaha dengan adanya aturan- aturan lisan yang diberikan. Namun pada pelaku usaha di bukit Gundaling, tidak adanya keterlibatan masyarakat dalam hal pengambilan kebijakan dan strategi usaha, sehingga masyarakat yang juga sebagai pelaku usaha sering merasa diberatkan jika ada kebijakan atau peraturan yang dibuat pemerintah setempat yang dirasa malah mempersulit mereka.

3. Stimulator

Sebagai stimulator, peran pemerintah terhadap pengembangan daerah wisata bukit gundaling yakni dengan tetap mengadaka festival tahunan tiap tahunnya yang diadakan di... dengan begitu akan banyak pengunjung yang datang berkunjung ke tanah karo khususnya daerah kota berastagi yang juga berdampak bagi peningkatan pengnjung ke bukit gundaling.

Pemerintah juga kerap kali melakukan promosi melalui radio dan pemasangan pamflet serta iklan berupa cuplikan yang tersebar di sosial media mengenai festival tahunan ini. Kendati demikian, para pelaku usaha di daerah bukit gundaling juga kurang merasa puas, dikarenakan mereka

tidak secara khusus dipromosikan, karena acara tahunan tersebut lebih berpusat di pasar buah, daerah bawah. Bahkan penyuluhan tentang sadar wisata pun kurang berdampak untuk memotivasi para pelaku usaha, karena tidak adanya bukti nyata atau tindakan langsung sebagi perwujudan dari penyuluhan tersebut dari pihak pemerintah itu sendiri.

4. Fasilitator

Sebagai fasilitator, pemerintah telah menyediakan lahan usaha berupa tanah dan juga beberapa stand melalui dana BanSos (Bantuan Sosial) kepada pelaku usaha di ppasar buah. Sedangkan untuk daerah wisata bukit gundaling sendiri, akhir- akhir ini pemerintah telah memperbaiki beberapa fasilitas yang telah rusah, seperti pondok- pondok tempat istirahat, toilet, maupun penataan lahan parkir. Usaha pemerintah untuk pengembangan daerah wisata tak berhenti sampai disitu, bukit gundaling yang dahulu

Sebagai fasilitator, pemerintah telah menyediakan lahan usaha berupa tanah dan juga beberapa stand melalui dana BanSos (Bantuan Sosial) kepada pelaku usaha di ppasar buah. Sedangkan untuk daerah wisata bukit gundaling sendiri, akhir- akhir ini pemerintah telah memperbaiki beberapa fasilitas yang telah rusah, seperti pondok- pondok tempat istirahat, toilet, maupun penataan lahan parkir. Usaha pemerintah untuk pengembangan daerah wisata tak berhenti sampai disitu, bukit gundaling yang dahulu

Dokumen terkait