• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.4 ELEMEN PEMBENTUK TAMAN

2.4.2 Elemen Keras (Handscape)

Elemen keras adalah elemen taman yang mempunyai sifat keras, tidak hidup, dan hasil buatan manusia. Elemen keras meliputi bentuk permukaan tanah, perkerasan, jalan setapak, dan bangunan taman.

Sebagian besar elemen keras terbuat dari material buatan dan beberapa terbentuk secara alami. Contohnya, bentuk permukaan tanah. Akibat proses alam, permukaan tanah bias berupa dataran rata atau berbukit. Bentuk permukaan tanah ini mempengaruhi keindahan karakter dari keseluruhan ruang luar, mencakup persepsi terhadap suatu ruang, arah pandang, drainase air, iklim, serta organisasi kegunaan ruang.

Seseorang akan merasa lebih nyaman ketika berada di sebuah tanah datar. Selain bersifat menenangkan juga bisa memberi kesan lebih luas. Tanah yang berbukit akan memberi kesan dinamis dan lebih alami. Bagian yang lebih tinggi akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak dibandingkan dengan dataran yang lebih rendah. Air akan mengalir dari dataran yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.

Keseluruhan perbedaan sifat ini akan mempengaruhi fungsi ruang yang kan dibentuk, penentuan sirkulasi, drainase, pemilihan dan penyusunan tanaman yang akan digunakan, serta model taman yang direncanakan. Karena itu, berdasarkan fungsi yang akan diakomodasikan, bentukan tanah dapat dimodifikasi untuk mendapatkan bentuk yang sesuai dengan keinginan kita.

Elemen keras lainnya adalah bangunan taman dan kesesuaiannya dengan lahan taman. Karakter bangunan dan penyusunannya secara tunggal atau berkelompok akan mempengaruhi keadaan lingkungan sekitarnya. Bangunan yang disusun secara berkelompok akan menciptakan ruang dalam berbagai ukuran dan kondisi. Pengembangan ruang tersebut harus dilakukan seirama dengan keadaan bangunan di sekitarnya.

Interior dan eksterior mempunyai hubungan fungsi yang ideal. Karena itu, perencanaan ruang luar dan ruang dalam harus dilakukan secara harmonis dengan fungsi ruangnya serta mempunyai nilai kenyamanan untuk digunakan.

Pemilihan material yang digunakan akan menentukan tercapainya kesan dari keseluruhan taman. Pemilihan material ini akan mempengaruhi model dan penampilan suatu taman. Mengenal kualitas setiap bahan sangat membantu merencanakan sebuah taman sesuai dengan keinginan dan anggarannya.

Umumnya, dikenal beberapa jenis material. Setiap material mempunyai kelebihan dan kekurangan. Berikut uraian beberapa material yang umum digunakan.

1. Kayu

- Bahan yang paling fleksibel digunakan pada berbagai bentuk konstruksi ruang luar, seperti dek atau teras kayu, pagar, dinding pemisah, pergola, dan bangku taman.

- Lebih murah dari batu alamatau batu buatan lainnya. - Memberikan kesan alami.

- Relatif memerlukan perawatan khusus agar tidak mudah diserang rayap.

Gambar 2.2:

Elemen kayu dalam taman

2. Tanah dan Batu Alami

- Tanah digunakan sebagai media tanam.

- Tanah mengandung bahan organik yang diperlukan tanaman untuk tumbuh.

- Batu alami banyak digunakan sebagai ornamen taman yang memberikan kesan alami.

Modul LS-04 : Spesifikasi Pemeliharaan Taman/Lansekap Bab II: Pengenalan Alat dan Bahan

Supervisor Pekerjaan Lansekap/Pertamanan (Landscape Supervisor) II-9

- Batu alami relatif mahal digunakan.

3. Metal dan Plastik

- Metal digunakan di beberapa elemen taman seperti pagar dan bahan penghubung lainnya. Metal yang diperlukan berupa paku dan sekrup yang digunakan untuk menggabungkan kayu dek, pagar pintu, dan gazebo (bangunan yang ada di dalam taman berfungsi sebagai tempat rekreasi atau berkumpul).

- Pagar yang terbuat dari metal lebih tahan cuaca, tetapi relatif lebih mahal.

- Plastik dapat digunakan untuk perabotan taman, seperti bangku dan meja taman, berbagai macam dan ukuran pot bunga, pipa bawah tanah untuk saluran air, dan pelapis kabel.

- Bahan plastik relatif lebih ringan dan lebih murah, mudah dibersihkan, dan dapat didaur ulang.

Gambar 2.3: Batu Alami.

4. Batu Buatan

- Bahan yang dibuat di pabrik sesuai dengan fungsinya, seperti

conblock, batu bata, dan batu temple.

- Digunakan sebagai bahan finishing dinding taman, jalan setapak, dan ornamen taman lainnya.

BAB II ... 1

PENGENALAN ALAT DAN BAHAN ... 1

2.1 JENIS BAHAN TANAMAN ... 1

2.1.1 Fungsi secara Arsitektural ... 1

2.1.2 Fungsi Estetika ... 2

2.1.3 Fungsi secara Teknik ... 3

2.1.4 Fungsi sebagai Pengendali Iklim ... 3

2.1.5 Faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Memilih Tanaman ... 3

2.2 JENIS ALAT PENANAMAN ... 4

2.3 PUPUK ... 4

2.4 ELEMEN PEMBENTUK TAMAN... 6

2.4.1 Elemen Lunak (Softscape) ... 6

Modul LS-04 : Spesifikasi Pemeliharaan Taman/Lansekap Rangkuman

Supervisor Pekerjaan Lansekap/Pertamanan (Landscape Supervisor) R-1

RANGKUMAN

BAB I TEKNIS PEMELIHARAAN LANSEKAP

Proses pemeliharaan merupakan proses akhir dan pembuatan taman. Tahap ini memiliki peran cukup penting untuk mempertahankan bentuk taman agar tetap indah dan asri. Kegiatan pemeliharaan tidak hanya dilakukan sekali, tetapi harus secara teratur dan berulangulang sesuai dengan kebutuhannya.

Perlu diperhatikan untuk merencanakan kegiatan pemeliharaan.

1. Menetapkan tujuan dan kegiatan pemeliharaan, contohnya untuk menjaga taman tetap bersih dan asri. Tujuan ini akan beragam sesuai dengan tujuan kita merencanakan suatu areal menjadi lebih baik.

2. Merencanakan kegiatan pemeliharaan dengan merinci semua kegiatan pemeliharaan yang akan dilakukan. Jenis kegiatan serta plot waktu yang diberikan tergantung dan model desain tamannya.

3. Melaksanakan rencana kegiatan di atas menjadi suatu tindakan. Untuk menjadikannya sistematis, diperlukan sebuah jadwal pelaksanaan pemeliharaan.

4. Memantau kegiatan pemeliharaan dan merencanakan kembali tatanan yang ada.

Pemeliharaan rutin sangat mempengaruhi kualitas dan kenyamanan sebuah taman. Penggunaan metode pemeliharaan yang benar sangat berpengaruh terhadap hasil keseluruhan. Berikut metode pemeliharaan dan beberapa elemen taman.

Pemeliharaan groundcover meliputi kegiatan sebagai berikut.

1. Penyiraman rutin 1-2 hari sekali, tergantung dan iklim. Pada musim hujan, penyiraman dapat dilakukan sekali seminggu.

2. Pemangkasan hanya dilakukan ketika tanaman sudah terlalu tinggi atau ketika ingin menstimulasi pembungaan dan percabangan baru agar tanaman terlihat agak tebal.

3. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual dan kimia. Sangat baik jika pengendalian gulma secara manual dilakukan secara rutin. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan ketika tanaman berumur 2-3 tahun menggunakan herbisida yang mengandung bahan aktif glifosfat.

4. Penjarangan dilakukan sekali setahun pada musim hujan. Tujuarinya untuk mengendalikan pertumbuhan tanaman dan membersihkan tanah dan bagian tanaman yang sudah mati.

5. Pemupukan dilakukan 2-4 kali setahun. Pupuk yang digunakan adalah pupuk yang kandungan unsur haranya seimbang. Pupuk tersebut diberikan di sekeliling tanaman.

6. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan secara insidental, tergantung dan tingkat penyerangannya.

7. Penggemburan tanah hanya dilakukan jika tanah telah padat.

Pemupukan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

1. Broadcast (tebar langsung), uinumnya dilakukan pada tanaman rumput atau tanaman semak kecil.

2. Deep aplication (dibenamkan) melalui dua cara yaitu trencthg(sistem pant di sepanjang lingkar tajuk) dan hole (sistem lubang). Cara hole lebih efektif daripada frencing. Kedalaman lubang pupuk diusahakan tidak terjangkau rumput.

3. Liquid (cair), zat dicairkan terlebih dahulu dan disemprotkan ke tanaman.

Penggunaan pestisida harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1. Memilih pestisida yang tepat untuk menyesuaikan dengan organisme pengganggu (hama, penyakit, dan gulma). Pestisida terdiri dan insektisida (untuk membasmi serangga), fungisida (untuk membasmi jamur), herbisida (untuk membasmi gulma atau tumbuhan pengganggu), serta nematisida (untuk membasmi nematoda atau sebangsa siput).

2. Memilih pestisida yang mudah terurai yaitu mengandung DT 50

(decomposition time 50) yang kecil. Informasi ini bisa dilihat pada label

kemasan. Jika tidak ada, perlu ditanyakan ke lembaga yang bersangkutan atau ke produsennya.

3. Mengatur cara aplikasi pestisida yaitu dengan mempertimbangkan waktu dan dosis yang digunakan. Pestisida harus diaplikasikan pada waktu yang tepat dan tidak berlebihan. Penyemprotan sebaiknya tidak dilakukan menjelang turun hujan karena bahan aktifnya akan tercuci oleh air hujan. Dosis yang

Modul LS-04 : Spesifikasi Pemeliharaan Taman/Lansekap Rangkuman

Supervisor Pekerjaan Lansekap/Pertamanan (Landscape Supervisor) R-3

dosis rendah. Dosis yang berlebihan menyebabkan hama dan penyakit tahan terhadap bahan aktif yang terkandung dalam pestisida tersebut. Arah semprotan diusahakan berlawanan dengan arah angin agar angin tidak membawa uap ke arah penyemprot. Pada saat menyemprot, pekerja harus menggunakan pelindung diir, seperti masker, kacamata, dan sarung tangan. 4. Memilih alat dan teknik aplikasi yang tepat.

5. Menyimpan pestisida di tempat yang aman serta jauh dan jangkauan anak-anak, hewan peliharaan, makanan dan minuman, serta sumber api.

BAB II PENGENALAN ALAT DAN BAHAN

Untuk memilih taman yang akan digunakan, diperlukan satu ketrampilan dan pengetahuan mengenai jenis dan fungsi berbagai tanaman. Kita kesulitan menerapkan prinsip-prinsip desain sebelumnya jika tidak mengenal bentuk, tinggi, warna, serta sifat tanaman itu. Contohnya, ada jenis tanaman yang tahan terhadap sinar matahari, tetapi ada juga yang tidak tahan terhadap sinar matahari. Berikut ini dijabarkan cara memilih tanaman yang tepat, dari penjabaran fungsi, jenis, dan sifat tanaman. Secara garis besar, ada empat kriteria dari fungsi sebuah tanaman, yaitu :

 Fungsi secara Arsitektural  Fungsi Estetika

 Fungsi secara Teknik

 Fungsi sebagai Pengendali Iklim

Pada umumnya, pemupukan dilakukan dengan aturan seperti berikut.

1. Pohon : pupuk kandang atau kompos diberikan sebanyak satu kaleng (kira-kira 20 liter) setiap 3—4 bulan. Pupuk NPK (15-15- 15) diberikan setiap tiga bulan sebanyak 25—50 gram per pohon. Pupuk diternpatkan di sekeliling batang pohon.

2. Semak dan penutup tanah: pupuk organik (pupuk kandang atau kompos) diberikan setiap tiga bulan sebanyak 2,5—5 kg per rn2 Pupuk NPK (15-15-15) diberikan setiap tiga bulan sebanyak kirakira 10 gram per m2.

Sebuah taman yang baik terlihat dari kesesuaian elemen yang dipakai dengan fungsi ruangnya. Salah satu kuncinya adalah memilih jenis konstruksi dan material yang digunakan sesuai dengan kegunaannya. Umumnya, para perencana taman mengategorikannya menjadi dua, yaitu :

 Elemen Lunak (Softscape)  Elemen Keras (Handscape)

Modul LS-04 : Spesifikasi Pemeliharaan Taman/Lansekap Daftar Pustaka

Supervisor Pekerjaan Lansekap/Pertamanan (Landscape Supervisor) DP-1

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Daftar Nama Tanaman, Air Mancur Indonesia.

Baiston, M., The Well-Furnished Garden (Barcelona : Mitchell Beazley, 1986).

Ball, L., Better Horn es and Garden . Step by Step Garden Basic, Australia: Meredith Books, 2000

Black and Decker, Designing Your Outdoor Rooms, Minnesota, USA: Creative Publishing Inc.

Booth, N.K., LARCH2O4-Notebook, The Ohio State University, Department of Landscape Architecture, USA, 1979

Booth, N.K., Basic Elem ens ofLandscapeArchitecturaJDesi-n, Waveland Press. Inc., 1983

Carpenter, P.L. et al., Plants in the Landscape (San Francisco W.H. Freeman and Co., 1975).

D.G Hessayon, TheLawn Expert, The Great Britain: Transword Publisher, 1994

Editors of Sunset Book and Magazine, Landscaping for Western Living (Menlo Park, California: Lane Magazine & Book Company, 1965).

_________________________________, Ideas for Landscaping (Menlo

Park, California: Lane Magazine & Book Company, 1973).

_________________________________, Garden and Patio Building Book (Menlo Park, California : Lane Magazine & Book

Company, 1977).

_________________________________, Introduction to Basic Gardening (Menlo Park, California : Lane Magazine & Book

Company, 1981).

_________________________________, Landscaping, Illustrated Complete Guide to Ideas, Planning and How to Do It (Menlo

Gita, “Pengetahuan Dasar Seni Desain Interior”, Majalah Rumah dan

Penghuni, Vol.2, hal 12—25, 1983.

Hakim, R., Unsur Perancangan dalam Arsitektur Lansekap (Jakarta : Bina Aksara, 1987).

Harjadi, S.S., Pengantar Agronorni Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996

Hans C.W. and Dines, N.T., Time Saver Standards for Landscape

Achitecture, Mc. Graw-Hill Book Company, 1988

Macmillan, H.F., Tropical Planting and Gardening (London Macmillan and Co. Ltd., 1956).

Purwoko, T. dan Bedjo, Petunjuk Praktek Batu dan Beton (Jakarta : Ditdikmenjur, Depdikbud RI, 1980).

Rachman, Z., “Proses Berpikir Lengkap Merencana dan Melaksana dalam Arsitektur Lansekap”, Makalah Diskusi dalam Festival Tanaman VI, Himagron-IPB (Bogor : 1984).

Reid, G.W., From Concept to Form in Lan dscape Desin, USA: Van Nostrand Reinhold, 1993

Seike-Kudo, Engel, A Japanese Touch for Your Garden, Tokyo: Kodausha International, 1992

Sulistyantara, B., “Tanaman untuk Taman Rumah”, Bahan Kursus Taman Rumah , LPPM-IPB (Bogor : 1989).

Sulistyantara, B., Taman Rumah Tinggal, Jakarta: Penebar Swadaya, 2000

Sulistyantara, B., “Taman Rumah Tinggal”, Jakarta : PT. Penebar Swadaya, Informasi Dunia Pertanian, Cetakan XII, 2004.

Stevens, D., Desiqning Your Ideal Garden, London: Frances Lincon United, 1994

Soepardi, G., Sifat dan Jenis Tanah, Fakultas Pertanian, Jurusan Tanah, Institut Pertanian Bogor, 1985

Dokumen terkait