• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Spektroskopi inframerah

Penggunaan spektroskopi inframerah pada bidang kimia organik hampir

menggunakan daerah 650 – 4000 cm-1. Daerah dengan frekuensi lebih rendah 650

cm-1 disebut inframerah jauh dan daerah dengan frekuensi lebih tinggi dari 4000

cm-1 disebut inframerah dekat. (Sastrohamidjojo, 2001)

Inti-inti atom yang terikat oleh ikatan kovalen mengalami getaran

(vibrasi) atau osilasi (oscillation), dengan cara serupa dengan dua bola yang

terikat oleh suatu pegas. Bila molekul mersap radiasi inframerah, energi yang

diserap menyebabkan kenaikan dalam amplitudo getaran atom-atom yang terikat

itu. Jadi molekul in berada dalam keadaan vibrasi tereksitasi (exicited vibration

state; energi yang terserap ini akan dibuang dalam bentuk panas bila molekul ini

kembali ke keadaan dasar). (Fessenden dan Fessenden, 1986)

Suatu ikatan dalam sebuah molekul dapat menjalani pelbagai macam

osilasi; oleh karena itu suatu ikatan tertentu dapat menyerap energi pada lebih

daripada satu panjang gelombang. Energi pada panjang gelombang ini

menyebabkan kenaikan vibrasi tekuk (bending vibrations). Tipe vibrasi yang

berlain-lainan ini disebut cara fundamental vibrasi (fundamental mode of

vibration). Banyaknya energi yang diabsorpsi oleh suatu ikatan bergantung pada

perubahan dalam momen ikatan seperti vibrasi atom-atom yang saling

berikatan-lebih besar perubahan dalam momen ikatan mengakibatkan absorpsi sejumlah

energi juga lebih besar. Ikatan non-polar tidak mengabsorpsi radiasi infra merah

16

non polar relatif menyebabkan absorpsi lemah. Pada ikatan polar menunjukkan

absorpsi yang kuat. (Fessenden dan Fessenden, 1986).

Serapan-serapan pada spektra IR dapat membrikan informasi mengenai

gugus-gugus suatu senyawa. Gugus ester (R C O

OR') dapat memberikan

serapan pada gugus C=O pada 1735 cm-1 dimana gugus yang terkonjugasi dengan

atom O dan R’ akan memberikan pergeseran serapan ke arah kiri sedangkan

gugus C-O akan memberikan 2 serapan atau lebih, satu lebih kuat dari pada yang

lainnya, pada rentang 1300-1000 cm-1. Regangan C-H memberikan serapan

sekitar 3000 cm-1. Jika gugus tersebut mempunyai sifat aromatik maka absorpsi

CH berada di sebelah kiri 3000 cm-1). Gugus nitro biasanya memberikan serapan

yang kuat pada 1600-1500 cm-1 dan 1390-1300 cm-1. Gugus furan yang

tersubstitusi pada posisi 2 memberikan serapan 100-1072 yang kurang kuat

(middle weak) (Pavia,1995). Serapan medium 815-795 cm-1 memberikan

informasi mengenai kibasan (wag) C-H pada furan yang tersubstitusi pada posisi

2. Gugus aldehid dapat memberikan serapan pada regangan C=O rata-rata pada

1725 cm-1. Sistem konjugasi yang menempel pada aldehid akan menggeser

serapan ke arah kanan. Regangan C-H pada gugus aldehid, terdiri dari

serapan-serapan lemah kira-kira pada 2750 cm-1 dan 2850 cm-1 (Pavia, Lampman, dan

Kriz, 1995)

2. Spektroskopi NMR

Inti-inti atom unsur-unsur dapat dikelompokkan sebagai mempunyai spin

atau tidak mempunyai spin. Suatu inti berspin akan menimbulkan medan magnet

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

yang kecil, yang terperikan oleh suatu momen magnetik nuklir, suatu vektor.

Nuklida-nuklida yang mempunyai spin dapat dimanfaatkan dalam spektroskopi

NMR, mereka menyerap energi tidak pada radiofrekuensi yang sama (Fessenden

dan Fessenden, 1986).

Dalam spektroskopi NMR, suatu medan magnet luar diciptakan oleh

suatu magnet tapalkuda permanen atau suatu elektromagnet. Kuat medan luar ini

dilambangkan dengan Ho ,dan arahnya dinyatakan oleh sebuah anak panah. Bila

molekul yang mengandung atom-atom hidrogen ditaruh dalam medan magnetik

luar, maka momen magnetik (dari) tiap inti hidrogen, atau proton, mengambil

salah satu dari sikap (orientasi) dilihat dari medan magnet luar itu. Kedua orientasi

yang diambil oleh momen magnetik nuklir itu adalah paralel atau antiparalel

terhadap medan luar (Fessenden dan Fessenden, 1986).

Bila gabungan khusus antara kuat medan magnet luar dan radio

frekuensi, menyebabkan suatu proton berpindah dari keadaan paralel ke keadaan

antiparalel, maka dikatan proton itu dalam resonansi. Istilah resonansi magnetik

nukir berarti “inti-inti dalam resonansi dalam medan magnet” (Fessenden dan

Fessenden, 1986).

Medan magnet yang sebenarnya dialami oleh sebuah proton dalam

sebuah molekul tertentu adalah gabungan dua medan: (1) medan magnet luar (Ho)

yang dipasang dan (2) medan magnet molekul imbasan (induced), suatu medan

magnet kecil yang terimbas dalam molekul itu oleh Ho. Medan magnet yang

dialami oleh sebuah proton juga diubah oleh keadaan-keadaan spin (dari)

18

aneka ragam kombinasi antara Ho dan radiofrekuensi, karena proton-proton ini

ada dalam lingkungan molekular (dan magnetik) yang berlain-lainan. Karena

berbeda-beda dalam penyerapan energi oleh proton-proton, maka dapat diperoleh

suatu spektrum dari perbagai macam proton Proton yang lebih mudah terbalik

akan menyerap energi pada Ho lebih rendah; proton-proton ini akan menimbulkan

peak bawah-medan (downfield;lebih ke kiri). Proton yang sukar membalik akan

menyerap energi pada Ho tinggi dan menimbulkan peak yang atas medan (upfield;

lebih ke kanan) (Fessenden dan Fessenden, 1986).

Dalam suatu spektrum NMR, posisi serapan oleh sebuah proton

tergantung pada kuat netto medan magnet lokal yang mengitarinya. Medan lokal

ini merupakan hasil medan terapan Ho dan medan molekul terimbas yang

mengitari proton itu dan berlawanan dengan medan terapan. Jika medan imbasan

sekitar sebuah proton itu relatif kuat maka medan itu melawan Ho dengan leibh

kuat dan diperluas medan terapan yang lebih besar untuk membawa proton itu

agar beresonansi. Dalam hal ini, proton itu dikatakan terperisai (shielded) dan

absorpsinya terletak di atas medan dalam spektrum itu. Atau sebalilknya jika

medan imbasan di sekitar sebuah proton itu relatif lemah, maka medan yang

dipakai juga lemah dan membawa proton ini ke dalam resonansi. Proton itu

dikatakan tak terperisai (deshielded) dan absorbsinya muncul di atas medan

(Fessenden dan Fessenden, 1986).

Terperisai dan tak terperisai adalah istilah relatif. Untuk memperoleh

pengukuran yang kuantitatif diperlukan suatu titik rujukan (referensi). Senyawa

yang dipilih untuk titik rujukan adalah tetrametilsilana (TMS) yang

proton-PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

protonnya menyerap pada ujung kanan dalam spektrum H1-NMR. Geseran kimia

dilaporkan dalam nilai δ, yang dinyatakan sebagai bagian tiap juta (ppm) dari radiofrekuensi yang digunakan. Pada 60 MHz, 1,0 ppm ialah 60 Hz; jadi suatu

nilai δ sebesar 1,0 ppm berarti 60 Hz bawah-medan dari posisi absorpsi TMS yang dipasang pada 0 ppm.(Fessenden dan Fessenden, 1986)

Sebuah proton yang tidak memiliki proton tetangga yang secara

magnetik tak-ekuivalen dengannya, akan menunjukkan sebuah peak tunggal, yang

disebut singlet, dalam spektra H1-NMR. Sebuah proton yang memiliki satu proton

tetangga yang tak-ekuivalen dengannya, akan memberikan suatu isyarat yang

terbelah menjadi satu peak rangkap, atau doblet. Jika sebuah proton (Ha)

mempunyai tetangga berupa dua proton yang ekuivalen satu sama lain, tetapi

tidak ekuivalen dengan dirinya, maka isyarat NMR Ha adalah suatu triplet (2 + 1

=3). Jika kedua proton itu yang ditandai dengan Hb, ekuivalen, maka keduanya

memberikan sinyal yang terpisah oleh Ha menjadi suatu doblet (Fessenden dan

Fessenden, 1986).

Geseran kimia untuk senyawa 5-nitro-2-furfuraldiasetat ialah 7,71

(singlet, 1H, C-H); 7,30 (doblet, 2H, H-C4 furan); 6,74 (doblet, 2H, H-C3 furan);

2,18 (singlet, 6H, CH3) (Tehrani, Zarghi, dan Fathali, 2003)

Dokumen terkait