Gambar 5.28
72 Denotasi
Visual : Scene ini menunjukan kedatangan para astronot yang akan terlibat dalam misis peluncuran NASA untuk pertama kalinya. Dalam scene ini terlihat salah satu astronot yaitu
Durasi : 00:37:38 – 00:39:21
Gambar 5.30
73 Jhon Glenn menyalami Dorothy Kathrine dan Mary. Teknik pengambilan gambar dalam scene ini adalah wside shot dan medium shot.
Audio : Glenn : gadis-gadis, aku tidak mau pergi tanpa menyapa. Apa yang kalian lakukan untuk NASA
Kathrine : menghitung lintasamu pak, peluncuran dan pendaratan.
Glenn : aku takkan kemana-mana tanpa angka Kathrine : ya pak
Mary : Mary Jackson Mr. Glenn, Teknik mesin, dan saya bangga bekerja sama denganmu. Glenn : Terima kasih Mary.
Lighting : Pencahayaan dalam adegan ini merupakan natural light yang berasal dari cahaya matahari. Wardrobe : dalam scene ini Dorothy terlihat mengenakan pakaian berwarna ungu, Kathrine menggunakan pakaian berarna abu-abu dan Mary menggunakan pakaian berwarna tosca (hijau kebiruan).
Konotasi :
Pada penyambutan astronot yang dilakukan disalah satu lapangan lapang milik NASA, terlihat adanya pemisahan antara ras kulit putih dengan karyawan keturunan African – American. Dalam
74 scene ini juga Dorothy, Kathrine dan Mary terlihat memandangi para astronot dari jauh, hingga akhirnya dihampiri oleh John Glenn. Saat bersalaman dengan Dorothy, terlihat genggaman yang cukup kuat diberikan oleh Glenn. Jika diperhatikan, Dorothy memberikan genggaman yang sama seperti Glenn. Caudillio seorang psikolog yang pernah menenliti tantang jabat tangan berpendapat bahwa perempuan yang memberikan genggaman cukup kuat pada lawan biacaranya saat berjabat tangan, merupakan sosok perempuan yang supel, terbuka dan cerdas (Cohen, 2009 : 75). Cara jabat tangan yang dilakukan Dorothy, dipercaya oleh Caudillo merupakan isyarat menyanggah bahwa dirinya lemah, dan tidak layak dipercaya.
Saat Glenn berpindah untuk berjabat tangan dengan Kathrine, Kathrine terlihat berdiri dengan posisi badan tegak dengan kepala terangkat serta memajukan dagu, yang mana menurut (Pease, 2004 : 239) bahasa tubuh yang dilakukan oleh Kathrine menunjuka kepercayaan diri dan dominasi terhadap lawan bicara. Cara Kathrine menjawab Glenn pun menunjukan kepercayaan diri, terlebih lagi saat Kathrine mengatakan bahwa dirinya lah yang akan menghitung koordinta peluncuran dan pendaratan yang akan dilakukan oleh Glenn. Gaya serupa juga ditunjukan oleh Mary saat hendak berbicara dengan Glenn.
Berbeda dengan Dorothy dan Kathrine, saat hendak bersalaman dengan Glenn, mary menggengam erat tangan Glenn yang diklasifikasikan oleh (Pease, 2004 : 55-56) sebagai jabat tangan Penjepit. Pease mengasumsikan makna dari jenis jabat tangan ini adalah dominasi dan kendali terhadap percakapan. Mary bercakap dengan Glenn terlihat percaya diri dan bangga menceritakan tugas
75 yang dilakukannya pada Glenn sebagai seorang teknisi mesin yang bertugas untuk mendesain kapsul yang akan digunakan oleh Glenn. Dari ekspresi dan bahasa tubuh yang ditunjukan oleh Dorothy, Kathrine dan Mary mengisyaratkan bahwa walaupun mereka adalah wanita keturunan afro, ketiganya memiliki tugas yang penting dalam misi peluncuran luar angkasa NASA yang pertama ini.
Pemilihan warna baju yang dikenakan oleh ketiganya pula memiliki makna. Dorothy yang menggunakan setelan dress berwarna merah keunguan melambangkan dirinya sebagai sosok yang mulia, penuh kebangaan dan mengesankan. Kathrine dengan setelan warna abu-abunya melambangkan kesopanan, ketenangan, sederhana, sabar dan rendah hati. Sedangkan Mary dengan warna hijau kebiruan menunjukan bahwa dirinya penuh dengan kepercayaan (Darmaprawira, 2002 : 37-38). John Gage sendiri dalam bukunya berjudul color and meaning, menjelaskan bahwa warna merah keunguan yang digunakan oleh Dorothy melambangkan seorang yang sosialis dan netral. Kemudian warna abu-abu melambangkan ketenangan dan netral, sementara warna baju Mary melambangkan kelembutan dan juga ketenangan (Gage, 1999 : 31).
b.
76 Denotasi :
Visual : Pada scene ini, Dorothy Kathrine dan Mary yang mobilnya sedang mogok dijalan, dihampiri oleh polisi yang sedang bertugas kala itu. Dalam percakapan tersebut, sang polisi menanyakan tujuan dari ketiganya dan apa yang menghambat mereka
Audio : Polisi : mobil kalian mogok ditempat yang tidak tepat
Mary : bukan kami yang memilik tempat pak, tempat yang memilih kami
Durasi : 00:04:13 – 00:07:01
77 Polisi : kau tidak menghormatiku? Kalian punya tanda pengenal?
Kathrine : ya pak, kami Cuma mau berangkat kerja, di Lengley, NASA
Dorothy : Kami melakukan perhitungan, mengirim roket ke luar angkasa.
Polisi : kalian bertiga? Mary : Ya pak.
Lighting : cahaya berasal dari natural light yaitu sinar matahari
Wardrobe : Mary menggunakan outer berwarna hitam, Kathrine menggunakan setelan dress dengan campuran warna merah dan abu-abu. Sedangkan Dorothy menggunakan pakaian berwarna biru navy dengan sedikit campuran warna pink.
Konotasi :
Ketika polisi menanyakan tanda pengenal, Kathrine sontak memberikan tanda pengenalnya kemudian langsung berargumen bahwa mereka bertiga merupaka karyawan NASA untuk misi peluncuran luar angkasa. Kathrine memberikan tanda pengenal tersebut dengan pandangan fokus kedepan dan kepala yang terangkat, dimana menandakan kepercayaan diri (Pease, 2004 : 239) Dengan argumennya tersebut, Kathrine mengisyaratkan bahwa mereka
78 bukannlah perempuan kulit hitam biasa, melainkan perempuan-perempuan pintar yang mampu berkerja di NASA. Dalam percakapan yng terjadi di jalan raya tersebut, sang polisi membaca tanda pengenal yang diberikan oleh Kathrine dan tidak menyangka bahwa ketiga perempuan kulit hitam yang sedang berbicara dengannya adalah karyawan NASA. Sontak sang polisi mengatakan bahwa dirinya masih belum percaya kenapa NASA mempekerjakan perempuan. Argumen polisi tersebut langsung dipotong oleh Dorothy yang mengatakan bahwa ada banyak perempuan yang bekerja di NASA dan mengmabil bagian dalam misi peluncuran laur angkasa ini. Pada percakapan ini terlihat alis Dorothy yang seketika turun, yang berarti dirinya ingin menunjukan dominasi. Terlihat juga walaupun memberikan senyuman kepada sang polisi, terlihat tatap tajam Dorothy yang menunjukan ketidak sepahaman dengan argumen sang polisi yang terkesan meremehkan mereka. menurut (Pease, 2004 : 186) tatapan serupa seringkali disebut pandangan kekuasaan. Pandangan tersebut dilakukan untuk orang yang ingin kita intimidasi atau orang yang tidak mau berhenti bicara.
Argumen dari polisi tersebut yang menyepelekan perempuan, merupakan hasil dari kapitalisme yang beranggapan bahwa laki-laki lah yang bertugas untuk mengambil rana publik (bekerja dll.) sementara perempuan hanya bertugas dalam rana domestik (mengurus rumah, anak dll). Namun dengan sikap tegas Dorothy tersebut, seakan mengisyaratkan bahwa perempuan juga mampu untuk bergerak bebas, mendobrak paham tersebut sehinggan mampu mengambil bagian dalam rana public, dan tidak berkutat hanya pada rana domestik.
79 4. Emansipasi Perempuan dalam Pembuktian kualitas diri
a.
Gambar 5.34
Gambar 5.35
80 Denotasi :
Visual : paul menyuruh Kathrine memeriksa hasil kalkulasinya, tetapi beberapa bagian dicoret olehnya dengan alasan data tersebut bersifat rahasia dan Kathrine tidak boleh mengetahuinya. Scene ini berlatar belakang di rangan space task group. Wide shot dan medium shot menjadi pilihan untuk cara pengambilan gambar dalam scene ini.
Audio : Paul : Mr. Harisson ingin kau mengkonfirmasi peluncuran dan pendaratan untuk tes redstone Kathrine : Aku tidak bisa mengerjakan apa tidak bisa kulihat Mr. Stafford. Ini tidak terbaca
Durasi : 00:39:48 – 00:40:46
81 Paul : angka itu sudah dikonfirmasi oleh dua insinyur dibagian ini, termasuk saya sendiri. Ini hanya pemeriksaan foramalitas
Lighting : pencahayaan dalam scene ini berasal dari lampu ruangan
Wardrobe : Kathrine menggunaakan setelan dress campuran warna merah dan abu – abu
Konotasi :
Kathrine yang sementara mengerjakan perhitungan di mejanya, didatangi Paul untuk menyuruh Kathrine memeriksa hasil kalkukasinya mengenai koordinat peluncuran dan pendaratan. Namun, sembari memberikan tumpukan kertas hasil kalkulasi tersebut, Kathrine melihat terdapat beberapa bagian yang dicoret. Paul pun berdalih bahwa itu merupakan data rahasia dan Kathrine tidak perlu mengetahuinya, lagi pula yang dilakukan oleh Kathrine hanya mengecek secara formalitas. Perlakuan Paul tersebut terkesan meremehkan Kathrine. Kathrine pun terlihat menurunkan alisnya secara tiba-tiba, dimana menurut (Cohen, 2009 : 142) orang yang menurunkan alisnya secara tiba-tiba mengartikan bahwa orang tersebut tidak sependapat bahkan tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya.
Tak ingin dipandang sebelah mata, Kathrine pun dengan segala akalnya menganalisis angka-angka yang tidak tercoret di kertas tersebut. Sembari menganalisa, Kathrine berjalan kearah papan tulis untuk mengerjakan hasil analisisnya tersebut. Dengan posisi badan tegak, berjalan lurus dengan pandangan fokus kedepan, Kathrine mengisyaratkan bahwa dia percaya diri dan mampu (Cohen, 2009 : 66)
82 mengerjakan perhitungan yang diberikan Paul walaupun dengan data yang tidak lengkap. Hasil kalkulasi Kathrine mengundang banyak pertanyaan, tak ayal Kathrine pun dipanggil menghadap ke ruangan Al. Walapun terkesan diintrogasi, Katrine tetap menunjukan kualitas dirinya dilihat dari cara dia membawa diri. Kathrine terlihat tetap tenang, fokus dan mengendalikan emosinya dengan tidak banyak bergerak. Menurut (Pease, 2004 : 365) sikap tersebut dimiliki oleh orang-orang yang memiliki kualitas diri yang tinggi serta mempunyai kekuasaan atas apa yang dikerjakannya.
Adegan tersebut memberikan gambaran secara nyata, mengenai argumen yang diberikan oleh Juliet Mitchell tentang pandangannya mengenai feminism marxis yang terdapat dalam (Tong, 1998, 176). Mitchell berpendapat bahwa perempuan sebenarnya memounyai kualifikasi psikoligis, fisik serta kualitas diri mumpuni untuk mendapatkan pekerjaan yang prestisius, tetapi “majikan” tetap mengurung perempuan dalam pekerjaan-pekerjaan rendah. Penggambaran tersebut dapat dilihat ketika kathrine yang mempunyai kualitas yang bagus, tetapi hanya diberikan tugas untuk mengtitung ulang yang bahkan dikatakan Paul hanya “formalitas”.
b.
83
Gambar 5.39
Gambar 5.40
84 Denotasi :
Visual : Al didesak untuk segera memberika koordinat peluncuran da pendaratan yang pasti untuk misi terkhir friendship 7 yang akan dilakukan oleh Jhon Glenn. Alhasil Al pun memberikan kepercayaan kepada Kathrine untuk menghitung kalkulasi secara langsung didepan para petinggi NASA. Dalam scene ini, digunakan 3 jenis pengambilan gambar, yaitu over shoulder shoot, wide shot dan close up
Audio : dalam scene ini terdengar suara orang sedang berdiskusi dan sedikit suara musik yang mengiring Kathrine mengitung kalkulasi didepan.
Durasi : 01:23:58 – 01:26:15
85 Lighting : cahay dalam adegan ini berasal dari lampu ruangan dan sedikit cahaya matahari yang masuk melalui jendela
Wardrobe : Kathrine menggunakan setelah dress berwarna abu-abu dengan kacamata
Konotasi:
Saat ditanyakan perihal koordinat pasti untuk misi Jhon Glenn, Al pun memberikan kepercayaan kepada Kathrine untuk menghitungnya secara langsung. Pada scene ini, terlihat Al memberikan kapur kepada Kathrine, pertanda Kathrine lah yang mampu untuk menghitung titik koordinat yang pasti. Menyambut kepercayaan Al tersebut, Kathrine menunjukan sebuah senyuman dengan bibir sedikit terbuka, (Cohen, 2009 : 152) memaparkan bahwa pada pemilihan presiden AS sekitar tahun 2002, Gorge W Bush menujukan lebih banyak senyuman dengan bibir setengah terbuka, yang berarti orang tersebut merupakan orang yang tulus dan lebih layak dipercaya. Ditunjuknya Kathrine untuk mengerjakan kalkulasi tersebut, mengisyaratkan bahwa Kathrine merupakan seorang perempuan yang berkualitas dan memiliki kepintaran yang mumpuni. Ketika hendak berjalan kearah papan tulis, Kathrine memperlihatkan posisi tubuh tegas, pandangan fokus kedepan dan sesekali melihat situasi. Bahasa tubuh tersebut dipercayan oleh (Cohen, 2009 : 66) sebagai bahasa tubuh yang mengindikasikan kepercayaan diri dan dominasi. Ketika mengerjakan kalkulasi didepan, Kathrine terlihat hanya menunjukan 2 kali kedipan mata, dimana batas minimal orang mengedipkan mata adalah 8-15 kali permenit. Berdasarkan pada penelitiannya Borg menemukan bahwa orang yang
86 berkedip diatas 15 kali permenit menunjukan bahwa dirinya berada diposisi tidak nyaman dan terintimidasi. Namun, Kathrine yang berkedip hanya 2 kali mengisyratkan bahwa dirinya tidak merasa terintimidasi melainkan percaya diri menunjukan hasil kalkulasinya. Bahasa tubuh yang menunjukan tidak adanya rasa inditimidasi adalah ketika Kathrine berdiri didepan dengan kedua tangan dilipat (posisi resleting rusak) (Pease, 2004 : 96).
Kualitas diri yang dimiliki orang Kathrine semakin memathkan anggapan bahwa perempuan hanya bisa bergerak dan mengusai rana domestik. Kathrine mendobrak anggapan tersebut dan menunjukan bahwa perempuan juga pantas untuk masuk ke rana publik dengan kualitas diri yang dimilikinya. Kathrine yang sebelumya tidak diijinkan Paul untuk masuk dan membiarkan Paul yang mempresentasikan hasil kerjanya, memberikan gambaran jelas adanya alienasi yang merupakan salah satu konsep penting dari feminism marxis mengenai kelas dan kesadaran kelas. Dari adegan tersebut secara tidak langsung tergambar salah satu alienasi yang dikemukakan oleh Marxis, yaitu manusia teralienasi dari produk kerja mereka. Ini berarti pekerja tidak diberikan hak untuk mengutarakan pendapat, serta hasil pekerjaan mereka juga direbut. Tetapi, hal tersebut dibantah oleh Kathrine yang bersikeras untuk masuk dan mempresentasikan sendiri hasil dari kalkulasinya.
Mitos Perempuan
1. Sejalan dengan mitos yang berkembang di daerah barat khususnya Amerika, konsep patriarki memang sangat erat kala itu. Ditambah dengan diskriminasi yang di alami oleh wanita-wanita kulit hitam
87 pada jaman tersebut. Budaya patriarki yang berkembang kala itu, tidak semata-mata membuat perempuan untuk tunduk dan tidak bertindak. Hal ini tergambar dari salah seorang wanita kulit hitam yang menempuh kuliah di Willey Collage, yaitu Henrietta Bell Wells. Henrietta merupakan perempuan pertama yang menjadi anggota dari salah satu tim debat Willey Collage yang berhasil mengalahkan tim debat nomor 1 di Amerika kala itu, yaitu tim debat dari Harvard. Henrietta berhasil menjadi salah satu speaker yang mendampingi James Farmer Jr. untuk membawa argument mengenai diskriminasi ras kulit hitam di Amerika saat itu, walaupun awalnya sempat diremehkan karena dirinya adalah perempuan .20
Femisine Marxis berpendapat dalam (Danadharta, 2019 : 2) bahwa kekuatan dari ekonomi kapital mendorong terciptanya sistem operasi pada kelompok-kelompok subordinat. Pemikiran Feminisme Marxis juga beranggapan bahwa perempuan
20 https://www.nytimes.com/2008/03/12/us/12wells.html
88 ditempatkan pada posisi kedua, dikarenakan sistem kapitalis yang selalu memposisikan laki-laki di posisi puncak dan secara tidak langsung mendorong perempuan untuk kembali pada rana domestik, yaitu bekerja dirumah. Hal serupa juga tergambar dalam scene ini, ketika Mrs. Mitchell menegaskan bahwa perempuan tidak mendapat izin untuk mengikuti program pelatihan Insinyur. Namun, tak sampai disitu saja, anggapan diatas, secara tidak langsung didobrak oleh Mary, yang menolak adanya pembedaan tersebut, dan bersikeran untuk mengikuti program pelatihan tersebut.
2. Mitos yang berkembang di Amerika mengenai diskriminasi kulit hitam tergambar jelas dalam film The Great debaters. Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini menggambarkan bagaiman anggapan orang Amerika kala itu yang mengucilkan orang-orang kulit hitam ketika hendak menerima tantangan dari tim debat Harvard yang kala itu merupakan tim debat yang tak terkalahkan. Anggapn tersebut yang menggambarkan bahwa orang kulit hitam memiliki kualitas dibawah orang kulit putih dipatahkan oleh kathrine saat dirinya berhasil mengkalkulasi koordinat pasti yang akan digunakan dalam misi Jhon Glenn. Kathrine berhasil memcahkan kalkulasi tersebut yang bahka seorang insinyur sekelas Paul Stafford belum bisa memecahkannya.
3. Salah satu mitos yang berkembang di Amerika pada era masih kentalnya diksriminasi terhadap orang kulit hitam, dimana wanita kulit hitam kala itu dilarang untuk mengekpersikan emosinya ditempat kerja 21. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Victoria
21 http://inthesetimes.com/article/21775/black-women-anger-chronic-stress-rage-repression-discrimination-racism
89 Brescoll dan Eric Uhlmann mengenai emosi dan status pekerjaa, menemukan fakta bahwa laki-laki yang mengeskpresikan kemarahannya dianggap lebih berkompeten dari pada perempuan yang mengekspresikan kemarahannya (Brescoll & Uhlmann, 2008 : 270). Namun, mitos tersebut juga dipatahkan oleh Kathrine ketika dirinya hendak meluapkan kekesalannya terhadap Al dan semua karyawan di space task group terkait tekanan pekerjaan yang diberikannya, tidak sebanding dengan perlakuannya yang diberikan kepadanya.
4. Diskriminasi perempuan kulit hitam juga menjadi salah satu mitos yang begitu kental di Amerika. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh LeanIn.Org berkerja sama dengan McKinsey & Company. Didapati bahwa perempuan kulit hitam memiliki presentasi terkecil untuk memperoleh jabatan di tempat kerja
90 Berbanding lurus dengan fenomena yang dialami oleh seorang perempuan Amerika keturunan afro bernama Yolanda Spivey. Dilansir dari youtube channel David Pakman Show22, yang menceritakan mengenai seorang gadis Amerika keturunan afro bernama Yolanda Spivey yang tidak pernah mendapat panggilan kerja selama 3 tahun melamar pekerjaan karena dirinya adalah keturunan afro. Tetapi berbanding terbalik ketika dirinya mendaftarkan diri dengan identitas palsu bahwa dirinya merupakan orang kulit putih. Namun, anggapan tersebut dibantah oleh Kathrine, Dorothy dan Mary. Dengan pembuktian kualitas diri yang dimiliki Dorothy berhasil mendapat jabatan sebagai Supervisior utama pada bagian pemrograman IBM, Kathrine menjadi salah satu matematikawan yang mendapat tempat di space task group untuk menghitung setiap kalkulasi koordinat untuk setiap misi peluncuran luar angkasa NASA, dan Mary yang menjadi Insinyur wanita pertama dibagian teknik mesin.
5. Beradasarkan penelitian yang dilakukan oleh catalyst.org, mendapati bahwa dominasi laki-laki masih terjadi hingga saat ini bahkan ditempat kerja sekalipun, dimana perempuan akan selalu dipandang sebagai seorang yang harusnya bekerja rumahan 23. Hal tersebut membuat wanita sudah untuk berkembang, karena menurut (Vaughn, 1986 : 2) mengemukakan bahwa soerang ibu rumah tangga cenderung mendapatkan feedback yang relative kecil mengenai kemampuan nya. Dalam sebuah talkshow yang diadakan di stasiun tv CNBC Amerika, pernah mengangkat tema mengenai “Men’s guide for woman in workplace” seorang editor dan juga penulis wanita asli Amerika Joanne Lipman mengemukakan bahwa dirinya menemukan fenomena
22 https://www.youtube.com/watch?v=ApV0hszT-yo
91 bahwa laki-laki lebih sering mendominasi dalam ranah publik (pekerjaan) dibandingkan perempuan. Joanne mengumukakan fakta bahwa dalam sebuah rapat laki-laki cenderung lebih banyak mendominasi diandingkan perempuan, kemudian dalam ranah pekerjaan laki-laki lebih banyak menanyakan perihal kenaikan jabatan dibandingkan perempuan, yang mana perempuan menanyakan masalah tersebut 30% lebih sedikit dari pada laki-laki24. Hal ini tergambar dalam scene dimana Jim menggap remeh jika Kathrine bekerja sebagai seorang yang menghitung kalkulasi koordinat di NASA. Namun Kathrine tidak diam, dimana dirinya membalas segala argument Jim tersebut dengan segala pencapaian yang diraihnya yang membuat Jim tercengang dan tak mampu berkata-kata. Melalui scene ini Kathrine mendobrak persepsi orang bahwa wanita mampu untu mengambil bagian dalam rana publik dan tidak hanya diam di rana domestik. Gambaran yang sama juga terlihat dalam adegan Kathrine yang bersikeras untuk masuk keruang rapat namun tidak diperbolehkan Paul dengan dalih perempuan tidak berhak untuk memasuk ruang rapat tersebut. Namun, dengan percaya diri Kathrine menampis argument Paul tersebut dan berargumen bahwa dirinya yang mampu untuk mempresentasikan hasil kalkulasinya sendiri. Kemudian perlawanan terhadap anggapan tersebut juga tergambar pada adegan Dorothy, Kathrine dan Mary yang memaparkan tugas mereka kepada John Glenn yang secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa mereka bertiga merupakan perempuan yang memiliki pekerjaan yang berpengaruh di NASA. Pada scene mobil Dorothy yang mogok juga terlihat Mary yang mendobrak dominasi polisi yang terlihat menyepelekan mereka.
92 6. Negara seperti Amerika sendiri masih kental mengenai diskriminasi gender. Dilansir dari penelitian yang dilakukan oleh thealtantic.com, setiap perkerjaan maupun tanggung jawab yang dilakukan oleh perempuan dan cenderung diremehkan dan menganggap bahwa laki-laki dapat melakukan hal serupa yang lebih baik 25. Fenomena yang sama juga dikemukakan oleh Sheryl Sunberg, seorang perempuan asli Amerika yang juga berprofesi sebagai facebook chief operating officer mengemukakan temuan serta data mengenai ketimpangan yang pernah dialaminya dalam acara CBS This Morning. Sheryl mengemukakan fakta yang pernah dialaminya, dimana sebagian besar laki-laki tidak mau terlibat atau bekerja sama secara langsung dengan perempuan, bahkan 60% manajer laki-laki tidak mau terlibat komunikasi secara langsung dengan karyawan perempuannya26. Monnique Morris seorang penulis asli Amerika dan juga merupakan wanita kulit hitam, menjelaskan bahwa perempuan terkhususnya kulit hitam sering diremehkan bahkan sering tidak diterima dilingkungan sekolah.27 Schotten dalam jurnalnya mengenai “Men, Masculinity, and Male Domination” mengemukakan bahwa setiap perempuan (imigran & kulit hitam) selalu menempati posisi terendah disetiap sektor pekerjaan (Schotten, 2005: 226). Hal serupa berbanding lurus dengan apa yang tergambar pada scene ketika Mary tidak diperbolehkan untuk mengikuti program pelatihan insinyur karena program tersebut hanya bisa diikuti oleh laki-laki yang memiliki kualifikasi tertentu. Tetapi hal tersebut berbanding terbalik dengan sikap Mary yang tidak menerima peraturan tersebut dan tetap kukuh untuk mengikuti program tersebut
25 https://www.theatlantic.com/sexes/archive/2013/03/the-problem-with-mostly-male-and-mostly-female-workplaces/274208/
26 https://www.youtube.com/watch?v=FZTIIEdhcwo
93 karena merasa dirinya mampu dan pantas disandingkan dengan insiyur laki-laki lainnya di NASA.
7. Mitos lainnya yang berkembang dan erat terdengar di Amerika adalah, pembedaan fasilitas dan layanan public antara orang keturunan afro dan orang kulit putih. Hal ini menyebabkan orang ketururan afro