• Tidak ada hasil yang ditemukan

Emansipasi Perempuan dalam Menuntut Hak a

secara dalam mengakibatkan perasaan terpecah bela (Tong, 2010:146). Terdapat beberapa dampak dari alienasi, salah satunya adalah terlianasi dari diri sendiri karena pekerjaan yang dialami merupakan suatu hal yang tidak menyenangkan dan harus diakhiri secepatnya. Namun, berbagai hal diatas dipatahkan oleh Mary, dimana Mary tidak semerta-merta menerima setiap argument dari Levi. Dalam percakapaj tersebut, Levi juga mengharapkan Mary untuk memfokuskan dirinya dirumah saja untuk mengurus anak-anak, hal ini seolah menekan Mary untuk berfokus mengerjakan rana domestik (bekerja dirumah saja). Tetapi Mary yang pantang menyerah tetap kukuh dengan keputusannya untuk tetap mengikuti program pelatihan tersebut.

2. Emansipasi Perempuan dalam Menuntut Hak a.

58 Denotasi :

Visual : Adegan ini terjadi di ruang siding, dimana Mary mendapat giliran untuk mengikuti persidangan, terkait permohonannya mengikuti perkuliahan di salah satu institusi pendidikan

Durasi : 01:10:37 – 01:13:10

Gambar 5.19

59 kulit putih di negara bagaian Virginia. Medium shot dan Wide shot menjadi pilihan untuk pengambilan gambar. Dalam ruang sidan tersebut, diisi oleh orang kulit putih dan orang kulit hitam yang dipisah tempat duduknya. Audio : Hakim : Hampton High School adalah

sekolah kulit putih, Mrs. Jackson

Mary : ya, yang mulia, saya menyadari itu Hakim : Virginia masih provinsi yang membedakan ras

Mary : yang mulia, jika boleh saya percaya ada keadaan khusus untuk dipertimbangkan

Hakim : apa yang membenarkan wanita kulit hitam datang ke sekolah kulit putih?

Mary : boleh saya mendekat pak? Pak, kalian semua harus paham pentingnya menjadi yang pertama. Tak ada wanita negro di Virginia yang pernah hadir di semua sekolah kulit putih. itu belum pernah terjadi. Dan sebelum Alan Sheperd duduk di atas roket, tidak ada orang Amerika yang pernah menyentuh luar angkasa. Dan saya pak, aku berencana menjadi insinyur di NASA, tapi aku tidak bisa mengikuti pelatihan di sekolah kulit putih itu, dan aku tidak bisa merubah warna kulitku. Jadi, aku tidak punya pihan kecuali menjadi yang pertama

60 Lighting : Pencahayaan dalam scene ini berasal dari

lampu yang ada didalam ruangan persidangan Wardrobe : Mary menggunakan setelah dress berwarna

hijau dengan sebuah tas jinjing berwrna cream, serta menggunakan high heels

Konotasi :

Melalui pemaknaan denotasi diatas, maka diperoleh makna konotasi sebagai berikut. Pertama adalah cara Mary berjalan mengahadap Hakim. Mary, berjalan dengan dengan posisi tegak dengan arah pandangan fokus kedepan, yang mana menurut (Cohen, 2009 : 67) gaya tersebut menunjukan seorang yang percaya diri. Walaupun datang dengan laporan yang dirasa mustahil pada saat itu untuk dikabulkan, dimana pada saat itu Virgini merupakan salah satu state yang masih kental akan pembedaan ras sesuai dengan argument Hakim, Mary tetap percaya diri dan tetap berpegang teguh pada mimpinya untuk menjadi seorang insinyur. Dalam scene ini, ketika Mary hendak menghadap hakim, dirinya menempatkan kedua tangannya kedepan dimana menurut (Pease, 2004 : 96) posisi tersebut menunjukan suatu kenyamanan. Hal ini mengisyaratkan bahwa Mary sangat percaya diri maju kedepan dan tidak merasa terintimidasi berhadapan dengan hakim.

Masih dalam scene yang sama, ketika Mary hendak mengatakan maksudnya untuk mengikuti program pelatihan insinyur, dengan kepala terangkat dan mata yang melebar serta dagu yang sedikit terangkat. Menurut (Pease, 2002 : 238) posisi kepala yang diangkat menunjukan superioritas dan tidak takut, dan dagu yang

61 diangkat melambangkan kekuasaan yang agresi. Menurut (Cohen, 2009 : 56) jika dalam suatu percakapan kita cenderung mengalihkan pandangan terhadap lawan bicara hal tersebut sebagai tanda bahwa kita mengalah. Sementara pandangan yang lurus dan fokus menandakan dominasi dan keseriusan, maka secara tidak langsung Mary tidaklah pasrah dengan argument awal hakim, melainkan tetap berusaha mempersuasi sang hakim dan akhirnya berbuah manis.

Pada proses persidangan ini, Mary menggunakan pakaian berwarna hijau. Zammito dalam penelitiannya (Zammito, 2000 : 5) menjelaskan bahwa warna hijau merupakan warna yang melambangkan kesuburan, ketenangan serta keseimbangan, hal ini berbanding lurus dengan pembawaan Mary yang tenang ketika menghadapai hakin dalam persidanagan. Hijau sendiri menurut (Darmaprawira, 2002 : 38-46) suatu ketanangan dan kelembutan, makna hijau ini bebanding lurus dengan pembawaan Mary saat persidangan, dimana Mary tetap menunjukan sikap yang tenang serta lembut dalam menyampaikan pendapat.

Perjuangan yang dilakukan oleh Mary untuk mendapatkan persetujuan mengikuti program pelatihan insinyur menjadi cerminan nyata dari argument feminisme marxis yang mengatakan bahwa “perempuan dapat mencapai kesadaran diri sebagai kelas pekerja dengan bersikeras”. Usaha Mary bukanlah untuk dapat memperoleh persetujuan untuk mengikuti pembelajaran di Hompton High School yang notabennya merupakan sekolah kulit putih. Mary yang juga tidak mendapat persetujuan dari Levi sang suami, dengan berpegang pada optimism dan mimpinya untuk menjadi seorang insinyur wanita kulit hitam pertama.

62 b.

Gambar 5.21

Gambar 5.23 Gambar 5.22

63 Denotasi:

Visual : Percakapana antara Dorothy dan Mrs. Mitchell ini terjadi di west computing group (gedung untuk wanita kulit hitam). Dalam scene ini, Dorothy dan Mrs. Mitchell bercakap dilorong mengenai perekrutan Dorothy untuk menjadi kepada IBM untuk sementara. Dalam scene ini juga, dipilih wide shot dan medium shot untuk teknik pengambilan gambar

Audio : Mrs. Mitchell : kami butuh IBM untuk perluncuran Glenn. Kepala insinyur bilang kau ahli dengan kartu, pemograman dan sebagainya Dorothy : bagaimana dengan gadis-gadis disini?

Durasi : 01:26:20 – 01:28:48

64 Mrs. Mitchell : Komputer dapat menghitung penerbangan orbital bila dibutuhkan. Mereka akan tinggal disini untuk sekarang.

Dorothy : bagaimana setelah “sekarang”? Mrs. Mitchell : setelah peluncuran Glenn, NASA akan menutup computing group

Dorothy : aku tak ingin menerima penempatan ini. Kecuali kubawa mereka bersamaku

Mrs. Mitchell : Permisi?

Dorothy : kami akan membutuhkan banyak tenaga untuk memrogram alat itu. Aku tidak bisa sendiri. Gadis-gadisku siap. Mereka bisa melakukannya

Dalam scene ini, juga terdapat musik hip hop yang beriringan dengan berjalannya Dorothy dan kawan-kawannya ke gedung IBM.

Lighting : Pencahayaan berasal dari lampu yang berada di lorong

Wardrobe : Dorothy menggunakan satu setelan dress berwarna hijau

Konotasi

Melalui pemaknaan denotasi diatas, diperoleh makna konotasi sebagai berikut. Ketika mendengar bahwa hanya dirinya yang direkrut, Dorothy menunjukan ekspresi seperti menurunkan alis secara tiba-tiba, menurut (Cohen, 2009 : 142) ketika seseorang menunrunkan alis

65 secara tiba-tiba maka orang tersebut tidak sependapat dengan lawan bicaranya. Dorothy merasa bahwa tidakhlah adil jika hanya dirinya yang direkrut untuk mengurus IBM, terlebih lagi pada percakapan tersebut, Mrs. Mitchell mengatakan bahwa NASA akan menutup computing group setelah misi peluncuran John Glenn selesai. Hal tersebut membuat Dorothy lebih tidak setuju untuk menerima tawaran tersebut.

Pada saat mengembalikan surat perekrutan kepada Mrs. Mitchell, Dorothy terlihat berdiri tegak dengan membusungkan dadanya. Pada posisi tubuh seperti ini Dorothy secara tidak langusung mengkomunikasikan bahwa dirinya percaya diri menghadapi Mrs. Mitchell. Kemudian dengan membusungkan dada mengisyaratkan dominasi dan memegang kendali (Cohen, 2009 : 113). Setelah berhasil memperjuangkan hak perempuan kulit hitam yang lain, Dorothy dan rekan-rekannya pun terlihat berjalan menuju ke gedung IBM. Pada adegan ini terlihat berjalan dengan posisi badan tegak, membusungkan dada dengan pandangan fokus kedepan. Dengan posisi tersebut Dorothy dan rekan-rekannya mengisyaratkan kepercayaan diri dimana mereka mampu untuk melakukan pekerjaan sekelas pemograman IBM yang bahkan tidak bisa dipecahkan oleh para insinyur laki-laki yang bertugas di IBM. Dalam scene tersebut, terlihat Dorothy mengenakan setelah dress berwarna hijau, (Zammito, 2000 : 5) menjelaskan bahwa warna hijau merupakan warna yang melambangkan kesuburan, ketenangan serta keseimbangan.

Marxis percaya bahwa budaya patriarki yang meneglompokan laki-laki di rana publik dan perempuan di rana domestik akan menciptakan sistem kelas yang membuat perempuan akan selalu menjadi subordinat laki-laki. Namun usaha yang dilakukan oleh

66 Dorothy untuk mendapatkan posisi di NASA mendobrak paham dimana perempuan harusnya hanya berada di rana domestik. Melalui usaha Dorothy, membuktikan bahwa perempuan juga bisa mengerjakan hal yang ada di rana public. Bahkan, dalam scene tersebut memperlihatkan bahwa para wanita kulit hitam lah yang lebih mampu memrogram dan menjalankan IBM dari pada insinyur – insinyur laki-laki lainnya.

a.

Gambar 5.25

67 Denotasi :

Visual : Scene ini menunjuka Kathrine yang basah kuyup karena hujan saat dirinya pergi ke toilet. Al pun mempermasalahkan durasi Kathrine yang hampir 1 jam hanya untuk pergi ke toilet. Kathrine yang ditekan oleh Al akhirnya meluapkan semua emosi dan kekesalannya. Scene ini diambil menggunakan wide shot dan medium shot. Audio : Kathrine : ke toilet pak

Al : toilet! Toilet terkutuk. 40 menit per hari? Apa yang kau lakukan disana? Kita sangat

Durasi : 01:01:35 – 01:05:25

68 kehabisan waktu disini. Aku sangat mengandalkanmu

Kathrine : taka da toilet untukku disini. Al : apa maksudmu taka da toilet untukmu disini?

Kathrine : taka da toilet disini untukku. Tak ada toilet kulit hitam disini, atau gedung lain diluar west campus, yang mana hampir 1 km. kau tahu itu? Aku harus berjalan ke timbuku hanya untuk menyamankan diriku! Dan aku tak boleh naik sepeda. Bayangkan itu Mr. Harisson? Seragamku, rok dibawah lutut, hak sepatu dan kalung mutiara, well aku tidak punya mutiara. Tuhan tahu kau tidak membayar cukup untuk kulit hitam membeli mutiara! Dan aku bekerja siang dan malam seperti anjing siang dan malam, tak bisa minum kopi dari termos yang kalian tidak ingin aku menyentuhnya! Jadi maaf, jika aku harus ke toilet 40 menit beberapa kali dalam sehari

Lighting : pencahayaan dalam adegen ini berasal dari lampu yang berada didalam ruangan dan juga lampu dari meja masing-masing karyawan. Wardrobe : Katrine menggunakan naju berwarna

69 Konotasi

Melalui pemaknaan denotasi diatas, dapat diperoleh makna konotasi sebagai berikut. Pada awal scene ini, Kathrine terlihat basah kuyup karena terkena hujan saat perjalan pergi ke toilet. Dalam scene ini tergambar dengan jelas bagaimana bentuk diskriminasi yang dialami oleh peremopuan keturunan Afrika-Amerika yang tidak disediakan toilet di gedung institusi ternama sekelas NASA. Hal ini mengharuskan Kathrine menempuh jarak sekitar 1 km untuk mendapatkan fasilitas toilet.

Dalam scene ini, Al mempermasalahkan durasi Kathrine untuk pergi ke toilet. Ketika Al menanyakan alasan Kathrine membutuhkan waktu 40 menit setiap pergi ke toilet, Kathrine awalnya menjawab dengan halus bahwa tidak ada toilet untuknya disini. Namun, emosi Kathrine meluap ketika Al bertanya apa maksudnya tidak ada toilet untuknya. Dengan nada tinggi Kathrine menjawab bahwa tidak terdapat toilet khusus kulit hitam untuknya disini. Pada saat Kathrine membalas argument Al, terlihat kelopak mata menegang, mata terlihat menatap seperti menembus dan keras (Ekman & Friesen, 2009 : 135) ekspresi tersebut merupak ekspresi yang umum digunakan untuk mengisyaratkan kemarahan. Dalam scene ini Kathrine tidak ingin diam saja mengalami penindasan, Kathrine pun mengutarakan semua keluh kesah yang dirasakannya termasuk diskriminasi yang dialaminya seperti pemisahan teko dan termos minum dengna karyawan kulit putih lainnya.

Kathrine juga menyampaikan keluh kesahnya perihal upah yang diberikan oleh NASA untuk mereka, hal ini tergambar pada dialog yang disampaikan Kathrine “Seragamku, rok dibawah lutut, hak

70 sepatu dan kalung mutiara, well aku tidak punya mutiara. Tuhan tahu kau tidak membayar cukup untuk kulit hitam membeli mutiara! Dan aku bekerja seperti anjing siang dan malam”. Masalah mengenai upah, pernah dijelaskan oleh para feminis marxis dalam (Walby, 1990 : 49), dalam penjelasan tersebut para feminis marxis berpendapat bahwa perempuan dipandanga sebagai buruh rendahan, yang apabila ekspolitasinya diperbersar, maka akan semakin menguntungkan para majikan. Namun, Kathrine sendiri mencoba untuk mendobrak masalah tersebut, dimana dirinya tidak berdiam diri saja melainkan berupaya menyampaikannya lewat argument pada Al.

Cara penyampaian argument yang dilakukan oleh Kathrine juga dapat menjadi perhatian. Dalam adegen tersebut, Kathrine menyampaikan argumennya dengan lantang bahkan berteriak. Jane Sanders pernah mengemukakan hasil penelitiannya (Sanders, 2006 : 51) dimana masyarakat akan merasa wajar jika laki-laki menunjukan kemarahan dan agresi, namun sebaliknya, masyarakat tidak bisa menerima bila wanita menunjukan kemarahan dan agresi. Masyarakat berpendapat bahwa jika dalam dunia kerja apabila pria mengutarakan emosinya dalam bentuk teriak, maka dikatakan bahwa pria tersebut sedang mengendalikan emosinya. Tetapi berbeda apabila yang melakukannya adalah perempuan. Masyarakat berpendapat bahwa jika perempuan marah dan berteriak, maka perempuan tersebut kehilangan kendali atas emosinya. Jane pun menyampaikan kritikannya terhadap anggapan masyarakat tersebut. Jane menuliskan bahwa “Pikirkanlah, perilaku yang sama tetapi persepsi yang benar-benar berbeda hanya karena perbedaan gender”. Menyambung dari anggapan masyarakat yang beranggapan bahwa perempuan yang marah adalah perempuan yang kehilangan kendali atas emosinya. Anggapan tersebut berbanding

71 terbalik dengan apa yang dilakukan Kathrine, dimana setelah dia menyampaikan keluh kesahnya, Kathrine kemudian terlihat mernarik nafas dalam-dalam dan kembali berargumen dengan halus, bahkan menyampaikan “jadi, mohon maaf jika saya pergi ke toilet selama 40 menit beberapa kali dalam sehari”.

3. Emansipasi Perempuan dalam Mengangkat Martabat

Dokumen terkait