• Tidak ada hasil yang ditemukan

Emisi abu hasil pembakaran batubara

Dalam dokumen SABAM PARSAORAN SITUMORANG (Halaman 76-81)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2.3 Emisi abu hasil pembakaran batubara

Proses pembakaran batubara akan menghasilkan limbah padat berupa abu (abu dasar/botom ash dan abu terbang/fly ash), ampas (slag) dan pirit (pyrities). Banyaknya ampas yang dihasilkan dapat mencapai 5,07 ton/jam. Ampas dipindahkan dari bawah tungku pembakar kemudian dihancurkan menjadi butiran-butiran yang lebih kecil. Setelah melalui beberapa proses ampas diangkut dengan truk ke tempat pembuangan abu (PT Indonesia Power 2007).

Kandungan abu hasil pembakaran batubara sekitar 10% dari volume batubara yang terpisah menjadi abu dasar (20%) dan abu terbang (80%) yang akan keluar melalui cerobong asap. Alat pengendali lingkungan PLTU Suralaya terkait abu tersebut berupa cerobong asap setinggi 200 meter (Unit 1-4) dan 275 meter (Unit 5-7) dan diameter 6,5 meter. Cerobong dipasang Electrostatic Precipitator (EP) yang berfungsi untuk menyaring/menahan abu hasil pembakaran batubara sebelum diemisikan ke udara terbuka (ambien) dengan efisiensi 99,5% (PT Indonesia Power 2007).

Bila diketahui diameter cerobong asap 6,5 m, kecepatan udara di dalam cerobong 20 m/s maka laju alir udara (Q) adalah 663,4 m3/s. Kandungan abu terbang sebesar 8%, maka laju emisi gas buangan dari cerobong asap:

= × ... (13) = 8 × 10 × 255

= 20.499 = 2585,5

= ( ) ... (14) = , , = 3,8973 = 3897,3

Jika efisiensi electrostatic precipitator sebesar 99,5% maka abu/debu yang diemisikan ke udara terbuka sebesar 19,4865 mg/m3 tiap jam (sedangkan PLTU beroperasi 24 jam per hari). Nilai emisi tersebut berada di bawah baku mutu emisi yang diizinkan sebesar 150 mg/m3 (SK Men LH No.13/95). Gas SO2, NO2

dan debu yang teremisi dari cerobong asap akan menyebar di atmosfer (udara ambien) tergantung dari arah dan kecepatan angin, stabilitas atmosfer, tinggi cerobong dan tinggi kepulan asap (plume rise) (PT Indonesia Power 2007).

4.3 Kualitas Perairan Pesisir Pulau Panjang dan Teluk Lada, Banten 4.3.1 Salinitas, pH, suhu, DO dan TSS

Kegiatan riset yang dilakukan pada bulan Juni-Juli 2010 menunjukkan bahwa parameter perairan seperti salinitas, pH, suhu dan padatan tersuspensi total (TSS)

umumnya berada dalam kondisi alami untuk perairan pesisir di Indonesia. Pengukuran di perairan Pulau Panjang dilakukan pada jam 11-13 WIB sedangkan lokasi pembanding pada jam 15 WIB. Kedalaman perairan lokasi studi yaitu 10 meter pada Stasiun 1, 12 meter pada Stasiun 2, 7 meter pada Stasiun 3 dan 3 meter pada Stasiun pembanding. Nilai kualitas perairan dapat dilihat pada Gambar 17 sampai 21 dan Lampiran 19.

Gambar 17 menyajikan nilai kadar garam atau salinitas pada tiap stasiun pengamatan. Salinitas perairan Pulau Panjang, Banten relatif konstan dengan kisaran 30,2‰–30,7‰ (rata-rata 30,4‰) sedangkan lokasi pembanding 27‰. Lokasi pengamatan berada di pesisir laut sehingga memiliki kisaran salinitas air laut (>17‰). Lokasi stasiun pembanding berdekatan dengan sungai yang bermuara (Sungai Ci Jedang) sehingga menurunkan nilai salintias karena masukkan air tawar.

S ta s iu n S t. 1 S t. 2 S t. 3 S t. k o n t r o l Salini tas ( o / oo ) 0 .0 5 .0 1 0 . 0 1 5 . 0 2 0 . 0 2 5 . 0 3 0 . 0 3 5 . 0 3 0 .2 3 0 .3 3 0 .7 2 7 .0

Gambar 17. Nilai salinitas (‰) pada stasiun pengamatan, Juni-Juli 2010 Gambar 18 menyajikan nilai derajat keasaman (pH) di lokasi studi. pH perairan Pulau Panjang, Banten dan pembanding adalah bersifat alkali (basa) berkisar antara 7,56-8,33 (rata-rata 8,01) dan 7,91 di lokasi pembanding. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7-8,5 (Effendi, 2007). pH sangat mempengaruhi kelarutan ion logam maupun zat radioaktif dalam perairan, dimana kelarutannya akan tinggi pada pH rendah. Perairan yang bersifat basa dan netral cenderung memiliki produktifitas lebih tinggi daripada yang bersifat asam. Penurunan nilai pH dapat disebabkan oleh penambahan pengotoran perairan yang terus-menerus baik yang berasal dari limbah domestik dan industri.

Salinitas alami air laut >17‰ (Valikangas in Nontji 1987)

St. 4 (pembanding)

S t a s i u n S t . 1 S t . 2 S t . 3 S t . k o n t r o l pH 0 . 0 0 2 . 0 0 4 . 0 0 6 . 0 0 8 . 0 0 1 0 . 0 0 8 . 1 5 8 . 3 3 7 . 5 6 7 . 9 1

Gambar 18. Nilai pH pada stasiun pengamatan, Juni-Juli 2010

Gambar 19 menyajikan nilai suhu (oC) pada lokasi pengamatan. Suhu perairan Pulau Panjang, Banten berkisar antara 29,5 oC-30,1 oC (rata-rata 29,8 oC) dan 31oC di lokasi pembanding. Suhu perairan wilayah Indonesia dikategorikan pada perairan relatif hangat karena terkait dengan kondisi geografis yang berada di daerah tropis. Suhu air permukaan di perairan Indonesia berkisar antara 28-31

o

C (Nontji, 1987). Berdasarkan uraian di atas, hasil pengamatan suhu di lokasi pengamatan masih dalam kondisi normal. Peningkatan suhu perairan cenderung menaikkan akumulasi dan toksisitas dari logam berat dan zat radioaktif, hal ini terjadi akibat meningkatnya laju metabolisme dari organisme akuatik.

Stasiun St. 1 St. 2 St. 3 St. kontrol S uhu ( oC) 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0 30.1 29.8 29.5 31.0

Gambar 19. Nilai suhu perairan (oC) pada stasiun pengamatan, Juni-Juli 2010 Baku mutu 7-8,5 (Kepmen LH No. 51 Th. 2004) St. 4 (pembanding) St. 4 (pembanding)

Alami atau berkisar 28-31oC (Nontji 1987)

1 2 3 4 (pembanding) D O ( m g /l) 0 1 2 3 4 5 6 Stasiun 2,23 1,68 0,72

Kadar oksigen terlarut (DO) perairan Pulau Panjang berkisar antara 0,72 mg/l-2,23 mg/l. Dengan DO terendah pada Stasiun 3 dan tertinggi pada Stasiun 1 (Gambar 20). Kadar DO minimum peruntukan kehidupan organisme akuatik 5,0-9,0 mg/l (Kanada, 1992 in Effendi, 2007). Pada Stasiun 1, 2 dan 3 kadar oksigen terlarutnya kurang dari 5 mg/l, namun ikan masih dapat bertahan hidup dengan kisaran oksigen terlarut 1,0 mg/l-5,0 mg/l walaupun ada potensi terganggu pertumbuhannya.

Gambar 20. Nilai DO (mg/l) perairan pada stasiun pengamatan, Juni-Juli 2010

Total Suspended Solid (TSS) di perairan Pulau Panjang berkisar antara 15,2 mg/l-17,2 mg/l (rata-rata 16,2 mg/l) dan pada lokasi pembanding 19,7 mg/l (Gambar 21). Dari nilai tersebut dapat disebutkan bahwa perairan tersebut masih layak untuk kehidupan organisme akuatik. Kadar TSS peruntukkan kehidupan organisme akuatik adalah 25 mg/l (European Community, 1992 in Effendi, 2007). Faktor kedalaman ikut mempengaruhi proses resuspensi, dimana pada perairan dangkal memungkinkan terjadinya resuspensi yang lebih tinggi karena pengaruh pengadukan arus. Resuspensi mengakibatkan bertambahnya kandungan TSS di kolom perairan. Selain itu, lokasi yang lebih dekat dengan daratan di wilayah pesisir juga pada umunya memiliki kandungan TSS yang tinggi. Pada stasiun yang lebih dangkal memiliki nilai TSS yang tinggi (stasiun pembanding). Stasiun 3 di perairan Pulau Panjang, Banten memiliki nilai TSS tertinggi diduga karena

Baku Mutu ≥5 mg/l

lokasi berada pada daerah yang memiliki gelombang yang relatif lebih tinggi dan kedalaman yang lebih dangkal. Kondisi pasut ikut mempengaruhi nilai TSS. Kondisi perairan dalam keadaan pasang menyebabkan massa air di daerah pesisir diencerkan oleh massa air laut yang datang, sehingga konsentrasi TSS yang terukur lebih kecil.

Zat padat tersuspensi mempengaruhi keberadaan radionuklida alam dalam kolom perairan, dimana semakin banyak zat padat tersuspensi maka semakin luas permukaan partikel dalam mengadsorbsi ion-ion radionuklida alam dalam kolom perairan sehingga konsentrasi radionuklida primordial terlarut dalam air laut berkurang. Radionuklida yang teradsorpsi zat padat tersuspensi tersebut kemudian dideposisikan ke sedimen perairan sehingga konsentrasinya meningkat di sedimen. S ta s iu n 1 2 3 4 (p e m b a n d in g ) T SS (m g /l) 0 2 0 8 0 1 6 ,2 1 5 ,2 1 7 ,2 1 9 ,7

Gambar 21. Nilai TSS (mg/l) pada stasiun pengamatan, Juni-Juli 2010

Dalam dokumen SABAM PARSAORAN SITUMORANG (Halaman 76-81)

Dokumen terkait