• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.4 Emisi Karbon Potensial

5.4.2 Sumber Emisi dan Besar Emisi Karbon Potensial Akibat Kegiatan Pemanenan Kayu

Emisi karbon potensial akibat kegiatan pemanenan kayu bersumber dari kegiatan penebangan dan penyaradan kayu. Emisi karbon potensial akibat kegiatan penebangan berasal dari jumlah karbon yang hilang dari kegiatan penebangan pohon dan jumlah karbon yang hilang dari pohon yang mengalami kerusakan akibat kegiatan penebangan tersebut sedangkan emisi karbon potensial akibat kegiatan penyaradan berasal dari jumlah karbon yang hilang dari pohon yang mengalami kerusakan akibat kegiatan penyaradan.

5.4.2.1 Emisi Karbon Potensial Akibat Penebangan

Kegiatan penebangan pohon merupakan salah satu sumber terjadinya emisi karbon potensial dalam kegiatan pemanenan kayu di hutan alam tropis. Kegiatan penebangan pohon yang telah dilakukan menyebabkan terjadinya pengurangan simpanan karbon di dalam hutan, dimana pengurangan simpanan karbon tersebut berpotensi menimbulkan emisi karbon. Besarnya emisi karbon potensial akibat kegiatan penebangan dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18 Emisi karbon potensial akibat penebangan

Plot Intensitas Penebangan Biomassa Karbon

(phn/ha) (ton/ha) (ton C/ha)

A 13 34,61 17,30 B 18 60,30 30,15 C 10 32,81 16,41 D 13 81,18 40,59 E 10 28,18 14,09 F 12 45,68 22,84 G 8 20,89 10,44 H 9 82,12 41,06 I 16 128,04 64,02 J 8 38,98 19,49 Rata-rata 11,70 55,28 27,64 Std. Error 1,07 10,50 5,25

Dari Tabel 18 diketahui bahwa pohon yang paling banyak ditebang berada pada plot B sebanyak 18 pohon sedangkan yang paling sedikit berada pada plot G dan plot J sebanyak 8 pohon. Emisi karbon potensial terbesar berada pada plot I sebesar 64,02 ton C/ha dan terendah pada plot G sebesar 10,44 ton C/ha, dimana besarnya dipengaruhi oleh jumlah pohon yang ditebang pada plot tersebut. Emisi karbon potensial yang diakibatkan oleh kegiatan penebangan pohon adalah sebesar 27,64 ton C/ha. Hasil penelitian Aryono (2010) di Kalimantan Tengah menyebutkan bahwa kegiatan penebangan pohon pada tegakan rapat mengakibatkan pengurangan simpanan karbon sebesar 53,42 ton C/ha dan pada tegakan rawang pengurangan simpanan karbon sebesar 26,16 ton C/ha.

Selain dipengaruhi oleh intensitas penebangan, besarnya emisi karbon potensial juga dipengaruhi oleh ukuran diameter pohon yang ditebang. Meskipun intensitas penebangan pada plot B lebih besar dari pada plot I namun emisi karbon potensial yang terjadi pada plot I lebih besar, hal ini disebabkan karena pohon-pohon yang ditebang pada plot I memiliki diameter yang lebih besar dibandingkan pada plot B. Emisi karbon potensial yang berasal dari pohon yang dipanen tidak seluruhnya akan menjadi emisi karbon karena pohon yang dipanen tersebut masih akan dimanfaatkan lagi menjadi produk-produk olahan kayu sehingga tidak seluruhnya akan menjadi emisi, namun yang berpotensi untuk menjadi emisi karbon adalah limbah dari proses pengolahan kayu tersebut menjadi produk.

5.4.2.2 Emisi Karbon Potensial dari Kerusakan Pohon Akibat Penebangan Dalam kegiatan penebangan, emisi karbon potensial tidak hanya berasal dari pohon yang ditebang saja namun juga berasal dari pohon yang mengalami kerusakan akibat kegiatan penebangan pohon tersebut. Tingkat kerusakan yang terjadi diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu kerusakan ringan, kerusakan sedang dan kerusakan berat, namun perhitungan emisi karbon potensial hanya dilakukan untuk kategori pohon yang mengalami tingkat kerusakan berat saja karena nantinya pohon tersebut akan mati dan berpotensi menimbulkan emisi karbon, sedangkan untuk kategori pohon yang mengalami kerusakan ringan dan sedang tidak diperhitungkan karena pohon tersebut masih dapat hidup dan masih mampu menyerap ataupun menyimpan karbon sehingga tidak berpotensi menimbulkan emisi karbon. Besarnya emisi karbon potensial dari pohon yang rusak akibat kegiatan penebangan dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19 Emisi karbon potensial pohon yang rusak akibat penebangan

Plot Kerusakan Biomassa Karbon

(phn/ha) (ton/ha) (ton C/ha)

A 12 6,68 3,34 B 22 15,31 7,66 C 10 6,37 3,19 D 18 8,85 4,43 E 8 5,35 2,67 F 14 9,45 4,72 G 11 4,54 2,27 H 16 16,59 8,29 I 21 18,59 9,29 J 10 5,96 2,98 Rata-rata 14,20 9,77 4,88 Std. Error 1,54 1,63 0,81

Pada Tabel 19 terlihat bahwa kerusakan terbesar akibat kegiatan penebangan berada pada plot B sebanyak 22 pohon/ha dan terendah pada plot E sebanyak 8 pohon/ha. Emisi karbon potensial yang berasal dari pohon yang mengalami kerusakan akibat kegiatan penebangan adalah sebesar 4,88 ton C/ha. Emisi karbon potensial terbesar berada pada plot I sebesar 9,29 ton C/ha yang disebabkan oleh banyaknya pohon yang mengalami kerusakan berat pada plot tersebut sedangkan emisi karbon potensial terendah berada pada plot G sebesar

2,27 ton C/ha. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ricardo (2008) di Papua Barat yang menyatakan jumlah karbon yang hilang pada tegakan tinggal yang rusak akibat penebangan dengan menggunakan teknik CL (Conventional Logging) sebesar 33,40 ton C/ha sedangkan dengan menggunakan teknik RIL (Reduced Impact Logging) sebesar 27,94 ton C/ha, adapun hasil penelitian Feldpausch et al. (2005) menyebutkan jumlah karbon yang hilang pada tegakan tinggal yang rusak akibat penebangan adalah 3,20 ton C/ha. Perbedaan hasil ini disebabkan karena besar nya intensitas penebangan yang dilakukan berbeda-beda dan disebabkan juga oleh perbedaan jumlah pohon yang mengalami kerusakan akibat kegiatan penebangan tersebut.

5.4.2.3 Emisi Karbon Potensial dari Kerusakan Pohon Akibat Penyaradan Sama seperti emisi karbon potensial pohon yang rusak akibat kegiatan penebangan, perhitungan emisi karbon potensial pohon yang rusak akibat kegiatan penyaradan juga berasal dari pohon yang mengalami tingkat kerusakan berat saja. Emisi karbon potensial dari pohon yang rusak akibat kegiatan penyaradan dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20 Emisi karbon potensial pohon yang rusak akibat penyaradan

Plot Kerusakan Biomassa Karbon

(phn/ha) (ton/ha) (ton C/ha)

A 6 2,90 1,45 B 10 4,56 2,28 C 6 3,35 1,68 D 11 6,92 3,46 E 6 3,69 1,84 F 6 2,95 1,48 G 5 1,86 0,93 H 7 3,33 1,66 I 11 4,35 2,17 J 4 6,22 3,11 Rata-rata 7,20 4,01 2,01 Std. Error 0,80 0,49 0,25

Pada Tabel 20 terlihat bahwa kerusakan terbesar akibat kegiatan penyaradan berada pada plot D dan plot I sebanyak 11 pohon/ha dan terendah pada plot J sebanyak 4 pohon/ha. Emisi karbon potensial yang berasal dari pohon

79,61 27,64 6,89 114,14 0 20 40 60 80 100 120

Sebelum Pemanenan Pasca Pemanenan

Kar b o n ( to n C /h a) Kondisi Tegakan Potensi Awal Rusak Dipanen Sisa

yang mengalami kerusakan akibat kegiatan penyaradan adalah 2,01 ton C/ha. Emisi karbon potensial terbesar berada pada plot D sebesar 3,46 ton C/ha dan terendah berada pada plot G sebesar 0,93 ton C/ha. Hasil penelitian Feldpausch

et al. (2005) di Amazonia Selatan menyebutkan bahwa jumlah karbon yang hilang pada tegakan tinggal yang rusak akibat penyaradan sebesar 0,60 ton C/ha. Emisi karbon potensial yang berasal dari pohon yang mengalami kerusakan akibat kegiatan penebangan dan penyaradan kayu ini memiliki kemungkinan yang besar untuk menjadi emisi karbon nantinya setelah melalui tahapan dekomposisi.

Emisi karbon potensial dari pohon yang rusak akibat kegiatan penyaradan secara keseluruhan nilainya lebih rendah bila dibandingkan dengan emisi karbon potensial dari pohon yang rusak akibat kegiatan penebangan. Hal ini disebabkan karena perbedaan jumlah pohon yang mengalami kerusakan akibat dari dua kegiatan tersebut. Jumlah pohon yang mengalami kerusakan akibat kegiatan penyaradan lebih sedikit dari pada jumlah pohon yang mengalami kerusakan akibat kegiatan penebangan, sehingga emisi karbon potensial nya pun menjadi lebih rendah.

Dokumen terkait