BAB IV : ANALISIS DATA
KAJIAN PUSTAKA
A. Emosi dan Remaja
1. Emosi
a. Pengertian dan Teori
Emosi dapat diartikan sebagai keadaan jiwa yang sangat mempengaruhi makhluk hidup, yang ditimbulkan oleh kesadaran atas suatu benda atau peristiwa, yang ditandai dengan perasaan yang mendalam, hasrat untuk bertindak, dan perubahan fisiologis pada fungsi tubuh. Sebagian orang lantas menyadari adanya rangsangan (menakutkan, menyedihkan, melegakan, menjengkelkan) yang memicu situasi psikologis yang dikenal sebagai emosi (takut, sedih, bahagia, marah). Singkatnya, emosi adalah pikiran yang digerakkan. Karena itu, mungkin akan lebih baik menjabarkan emosi sebagai gerakan dalam pikiran (Maurus, 2014: 16).
Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu. Kata “emosi” diturunkan dari kata bahasa Prancis, emotion, dari emouvoir,
kegembiraan dari bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks-) luar dan
movere bergerak (Gemilang, 2013:10).
Emosi yakni, satu reaksi kompleks yang mengait satu tingkat tinggi kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam serta dibarengi dengan perasaan (feeling) yang kuat atau disertai dengan keadaan efektif (Hartati dkk, 2005: 106). Sehubungan dengan pengertian emosi, ada beberapa teori yang menjelaskan tentang emosi di antaranya (Hartati dkk, 2005: 96-98):
1) Teori William James (1842-1910, Amerika Serikat) dan Carl Lange (Denmark)
Menurut pendapat atau teori ini, emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respons terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari luar. Gejala-gejala kejasmanian bukanlah merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu, tetapi malahan emosi yang dialami oleh individu merupakan gejala-gejala kejasmanian. Menurut teori ini orang tidak menangis karena susah, tetapi sebaliknya ia susah karena menangis. Atau, bila seseorang melihat harimau, reaksinya adalah peredaran darah makin cepat karena denyut jantung makin cepat, paru-paru lebih cepat memompa udara, dan sebagainya. Respons-respons tubuh ini kemudian dipersepsikan dan timbullah rasa takut. Jadi, orang itu bukan
berdebar-debar karena takut setelah melihat harimau, melainkan karena ia berdebar-debar maka timbul rasa takut.
Gambar. 1
Teori Emosi James-Lange (Hude, 2006: 56)
Teori dari James Lanse ini lebih menitikberatkan pada hal- hal yang bersifat perifir daripada yang bersifat sentral. Dan teori ini sering pula disebut sebagai peradoks dari James. Sementara itu banyak para ahli mengadakan eksperimen-eksperimen untuk menguji sampai sejauhmana kebenaran dari teori James Lanse ini. Ahli-ahli tersebut antara lain Sherington dan Cannon, yang umumnya menunjukkan bahwa apa yang dikemukakan oleh James tidak tepat.
2) Teori Cannon Bard
Teori emosi yang dikemukakan oleh Cannon, dengan teorinya yang dikenal dengan teori sentral. Menurut teori atau pendapat ini, segala kejasmanian merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu, jadi individu mengalami emosi terlebih
Emotion takes place after Psychological reactions
External Stimulus Stimulus Perceived in Brain Sensory Nerves Emotion Occurs Motor Nerves Body Sensations and Responses 20
dahulu baru kemudian mengalami perubahan-perubahan dalam kejasmaniannya.
Gambar. 2
Teori Emosi Cannon-Bard (Hude, 2006: 58)
3) Teori J. Linchoten
Teori emosi lain adalah teori kepribadian. Menurut pendapat atau teori ini ialah bahwa emosi merupakan suatu aktivitas pribadi, di mana pribadi ini tidak dapat dipisah-pisahkan dalam jasmani dan psikis sebagai dua substansi yang terpisah-pisahkan. Karena itu, emosi meliputi pula perubahan-perubahan kejasmanian. Teori ini dikemukakan oleh J. Linchoten.
4) Teori Wilhem Wundt (1832-1920)
Tokoh empiris lain yang mengemukakan teori emosi adalah Wundt (1832-1920), tetapi berbeda dengan W. James yang menyelidiki mengapa timbul emosi. Menurut W. Wundt ada tiga (3) pasang kutub emosi, yaitu:
Emotion takes place after Psychological reactions
External Stimulus Stimulus Perceived in Brain Motor and Sensory Nerves Emotion Occurs Body Sensations and Responses 21
a) Lust-Unlust (senang-tak senang)
b) Spannung-Losung (tegang-tak tegang)
c) Erregung-Berubigung (semangat-tenang)
Jadi, kalau seseorang melihat harimau, emosinya adalah
unlust, spannung dan erregung (tak senang, tegang dan semangat).
Dan kalau seorang mahasiswa lulus ujian, maka emosinya adalah
lust, unlust dan berubigung (senang, tak tegang dan tenang) dan
seterusnya.
b. Emosi dalam Perspektif Islam
Banyak tokoh ilmuwan Islam yang memperbincangkan masalah emosi. Umumnya mereka membahas dalam bentuk derivatifnya sebagai cinta, marah, sedih, berani dan semacamnya. Dalam perspektif Islam, emosi identik dengan nafsu yang dianugerahkan oleh Allah Swt. Nafsu inilah yang akan membawanya menjadi baik atau jelek, budiman atau preman, pemurah atau pemarah, dan sebagainya. Nafsu menurut pandangan Mawardy Labay el-Sulthani dalam bukunya Muallifah (2009: 128-129) yang berjudul: “Psycho Islamic Smart Parenting”, terbagi dalam lima bagian.
Pertama, nafsu rendah yang disebut dengan nafsu hewani,
yaitu nafsu yang dimiliki oleh binatang seperti keinginan untuk makan dan minum, keinginan seks, keinginan mengumpulkan harta benda, kesenangan terhadap binatang dan juga rasa takut.
Kedua, nafsu ammarah yang artinya menarik, membawa,
menghela, mendorong, dan menyuruh pada kejelekan dan kejahatan saja. Nafsu amarah cenderung membawa manusia kepada perbuatan-perbuatan yang negatif dan berlebih-lebihan. Contohnya: makan yang enak sampai kekenyangan, perasaan malas untuk
mengerjakan hal yang positif, ingin kaya dengan menghalalkan segala cara, berhati keras dan sebagainya.
Ketiga, nafsu lawwamah, yaitu nafsu yang selalu mendorong
manusia untuk berbuat baik. Ini merupakan lawan dari nafsu amarah. Apa yang dikerjakan nafsu amarah terus ditentang dan dicela keras oleh nafsu lawwamah, sehingga diri akan tertegun sebentar atau berhenti sama sekali dari perbuatan yang dianjurkan amarahnya.
Keempat, nafsu musawwilah, yakni merupakan nafsu
provokator, ahli memperkosa dan ahli memukau. Di dalam istilah
perang, dia diberi julukan dengan “koloni kelima”, ia berkedudukan
di kementrian peperangan atau propoganda. Karena disebut koloni kelima, di pihak lawan ia perlu mendapat perhatian yang serius.
Kelima, nafsu muthmainnah, artinya kondisi jiwa yang
seimbang atau tenang seperti permukaan danau kecil yang ditiup angin, akan jadi tenang, teduh, walaupun sesekali terlihat riak kecil. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Hartati dkk (2005: 108) hanya menentukan kepribadian muthmainnah dan ammarah saja, karena kedua kepribadian tersebut ibarat dua kutub utara dan selatan yang saling berlawanan serta bersifat relatif permanen. Secara jelas beliau mempertentangkan kedua kepribadian tersebut.
Tabel. 2
Nafsu muthmainnah dan ammarah (Hartati dkk, 2005: 107)
No Kepribadian Muthmainnah Kepribadian Ammarah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Hamiyah (memiliki harga diri) Tawadhu’ (merendahkan diri) Jud (dermawan)
Mahabat (kewibawaan) Syiyanat (memelihara diri) Syaja’at (berani)
Huzn (prihatin) Iqtishad (ekonomis) Ihtiraz (waspada) Farasat (firasat)
Neshihat (memberi peringatan) Hidayat (memberi hadiyah) Shabr (sabar)
Afw (pemaaf)
Ma’rifah wa’ilm (mengetahui dan berilmu)
Siqqat (dapat dipercaya) Raja’ (pengharapan)
Jufa’ (menjatuhkan harga diri) Mahaat (menghinakan diri) Sarf (menghamburkan harta) Kibr (kesombongan)
Takabbur (menyombongkan diri) Nejad (jar’at)
Jubn (penakut) Syukh (pelit)
Suw al zhan (buruk sangka) Zhan (menduga)
Ghibat (menunjukkan keburukan) Riswah (menyogok)
Qaswah (keras hati) Zull (hina)
Bahl wa ghafl (bodoh dan lupa) Ghurur (penipu)
Tamanny (angan-angan)
18 19 20 21 22 23 24 25 26 Tahaddus
(menceritakan nikmat Allah) Riqqah al-qalb (hati lembut) Mawjadat (iri hati atas kebaikan) Munafasat
(berlomba demi kebaikan) Hubb fi Allah (mencintai Allah) Tawakkal (menyerahkan diri setelah berusaha)
Ihtiyat (hati-hati) Ilham min malaki (inspirasi dari malaikat) Mubadarah
(cekatan dalam bekerja)
Fakhar
(membangga-banggakan harta) Jaza’ (penuh keluh kesah) Hiqd (iri hati atas keburukan) Hasad (dengki)
Hubb ma’a Allah
(mencintai karena yang lain) ‘Ajz (lemah hati)
Was-was (ragu-ragu) Ilham min syaithan (inspirasi dari setan)
‘Ajlat (terburu-buru dalam bekerja)
Dalam perspektif Islam, kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi disebut kecerdasan emosi. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam bahwa Allah Swt memerintahkan untuk menguasai emosi- emosi kita, mengendalikannya, dan mengontrolnya. Seperti dalam firman Allah Swt:
Artinya: Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam
kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Al-Hadiid 57: 22-23).
Seseorang yang memiliki kecerdasan pada dimensi emosional akan mampu menguasai situasi yang penuh dengan tantangan, yang biasanya dapat menimbulkan ketegangan dan kecemasan, sehingga akan lebih
tangguh dalam menghadapi persoalan hidup, juga akan berhasil mengendalikan reaksi dan perilakunya, serta mampu menghadapi kegagalan dengan baik. Pengendalian emosi dan tidak adanya tindakan agresi terhadap orang lain yang disebabkan oleh emosi yang berlebihan serta selalu tenang akan menciptakan harmonisasi dalam berinteraksi dan juga mendorong untuk introspeksi diri (Muallifah, 2009: 131), seperti dalam firman Allah Swt:
Artinya: Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba- tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-
olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Q.S. Fushilat 41: 34).
c. Ekspresi Emosi Manusia
Kemunculan emosi seseorang bisa dikenali dari ekspresi yang ditampilkan seketika itu, baik dari perubahan wajah, nada suara, atau tingkah lakunya. Ekspresi emosi tersebut muncul secara spontan dan seringkali sulit dikontrol atau ditutup-tutupi. Banyak orang secara spontan berteriak histeris lantaran terkejut, sementara yang lain memegang dada, atau tampak lemas dengan raut muka pucat. Ada orang-orang tertentu yang bergetar anggota badannya (tremor) ketika marah, sementara yang lain dengan mata melotot, wajah memerah, menjadi gagap seketika, atau ekspresi lain dalam bentuk tingkah laku seperti menggebrak meja, membenturkan kepala, menggigit ujung jemarinya (Hude, 2006: 46-47). Hal ini seperti dalam firman Allah Swt:
Artinya: Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada Kitab- Kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata
“Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka
menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena
kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.
(Ali Imran 3: 119).
Adapun gambaran-gambaran umum dari ekspresi wajah seseorang ketika mengalami emosi:
Tabel. 3
Ekspresi Wajah pada Enam Jenis Emosi (Hude, 2006: 49-50)
Jenis Emosi Perubahan pada Alis-Dahi Perubahan pada Mata-Kelopak Mata Perubahan pada Wajah Bagian Bawah
Kaget Kelopak mata naik, ada kerutan panjang di dahi
Mata terbuka lebar de-ngan bola mata melihat ke atas dan sering sampai bawah
selaput pelangi, ditandai dengan melebarnya kulit kelopak mata bagian
atas dan bawah
Mulut terbuka, tidak ada peregangan dan tegangan pada sudut bibir, tetapi bibir terbuka; pembukaan
mulut mungkin bervariasi Takut Alis menaik dan
tertarik tertarik secara bersamaan, cenderung datar bukan lengkung, terjadi kerutan pendek mendatar dan tegak
Mata terbuka, terjadi ketegangan di kelopak mata bagian bawah, menaik lebih tinggi daripada saat
kaget, kelopak mungkin naik tetapi tidak sampai selaput
pelangi
Sudut mulut tertarik ke belakang, tetapi
tidak naik/turun; bibir meregang; mulut mungkin
terbuka
Marah Alis tertarik ke ba- wah dan ke dalam;
kelihatan menon- jol ke depan; ada kerutan kuat tegak;
kadang lengkung
Bola mata hampir tidak kelihatan,
kelopak atas menurun, tegang dan
perse-gi, kelopak atas juga tegang dan
naik, mungkin
Kedua bibir terkatup rapat atau mungkin
terbuka dengan menyering-ai, gigi mungkin kelihatan
pada dahi tepat di atas mata
membentuk busur di bawah mata, seperti memicingkan mata Jijik Alis turun tetapi
tidak bersamaan, mungkin terjadi lipatan pada dahi
dan hidung, kerutan tegak dan mendatar di tengah
dan samping hidung
Bagian bawah kelopak mata ke depan dan naik, tetapi tidak tegang
Bibir atas terlipat dan pipi naik; mulut terbuka dengan bibir atas naik dan bibir
bawah ke depan, atau tertutup dengan
bibir atas tertekan oleh bibir bawah
yang naik; lidah mungkin kelihatan di
dekat bibir, atau tertutup dengan bagian luar sedikit
tertarik ke bawah Sedih Alis tertarik
bersamaan, sudut dalam naik dan sudut luar turun atau sejajar, atau
alis tertarik ke bawah di tengah dan sedikit naik ke
sudut dalam: muncul lengkungan mendatar atau ke samping pada dahi
dan kerutan tegak di tengah, atau
menunjukkan segumpal kon- traksi otot di atas
alis
Mata menatap dengan kelopak atas
menurun dan kelopak bawah mengendur, atau kelopak atas tertarik
ke atas di sudut dalam, turun di sudut
luar dengan atau tanpa tegangan pada kelopak bawah, mata
mungkin melihat ke bawah atau berkaca-
kaca
Mulut mungkin terbuka dengan sedikit teregang, bibir bergetar, atau
tertutup dengan sudut luar tertarik
sedikit ke bawah
Gembira Tidak ada perubahan yang berarti pada alis
dan dahi
Mata mungkin netral, atau kelopak
bahwa terdorong oleh muka bawah,
kelopak bawah membentuk kantong
dan menyebabkan mata menyempit: dengan bagian akhir
membentuk ‘kaki gagak’ mencapai sudut luar mata menuju batas rambut
Sudut bibir luar naik, biasanya tertarik ke belakang; mungkin terjadi lipatan pada bibir atas, bibir mungkin terbuka dan
gigi kelihatan
1) Ekspresi Emosi Positif
Emosi positif adalah emosi yang menyenangkan dan diinginkan oleh setiap orang. Tapi, emosi positif apa yang difavoritkan kebanyakan orang ialah emosi senang. Menurut Al-
Qur’an, kesenangan bukanlah satu-satunya harapan tertinggi manusia, tapi juga ketakutan yang menyenangkan, seperti emosi taqwa kepada Allah. Takut dalam pengertian ini bukanlah takut cemas (anxiety), tetapi takut yang dapat memelihara (wiqayah)
manusia dari semua tindakan yang tak patut. Dalam hal ini, Al-
Qur’an tidak henti-hentinya memotivasi manusia agar memperoleh dan mengembangkan emosi positif (Hude, 2006: 233).
2) Ekspresi Emosi Negatif
Emosi negatif sejatinya tak pernah dikehendaki oleh manusia, sehingga selalu diusahakan untuk dihindari, kendati tak mudah diwujudkan. Kesulitan dalam hal ini amat terkait dengan realitas kehidupan yang dapat diatur sesuai dengan kehendak kita. Tidak seorangpun sanggup mengarahkan kehidupannya untuk kesenangan belaka, karena kesedihan, ketakutan, kekesalan, dan kekecewaan datang tanpa diundang. Demikian pula sebaliknya, tidak ada orang yang tenggelam dalam lubang kesedihan terus- menerus, kecuali ia sendiri yang menghendaki demikian (Hude, 2006: 241).
d. Gejala-gejala Emosi
Seseorang yang mengalami emosi sering tidak lagi memperlihatkan keadaan sekitarnya. Suatu keaktifan tidak dikerjakan oleh individu dalam keadaan normal, kemungkinan akan dikerjakan pada saat individu dalam keadaan emosi. Dengan demikian, emosi dipandang sebagai perasaan yang gradual lebih besar kekuatannya. Adapun gejala- gejala ketika seseorang sedang mengalami emosi, yaitu (Gemilang, 2013: 12-13):
1) Depresi, Kecemasan, Takut dan Kemarahan
Seseorang mengalami emosi tertentu, seperti depresi, kecemasan, dan kemarahan yang terlalu sering atau terlalu kuat.
2) Sulit Menununjukkan Rasa Sayang
Seseorang mengalami emosi tertentu terlalu jarang atau terlalu lemah. Mereka merasa tidak mampu menunjukkan rasa sayang, kepercayaan, marah atau penolakan.
3) Sulit Berhubungan dengan Orang Lain
Misalnya pacar membuat merasa bersalah, teman-teman mengecewakan, pasangan menimbulkan rasa takut dan lainnya. 4) Komplikasi Konflik Emosi
Seseorang merasa mengalami beberapa konflik karena dua atau lebih emosi. Misalnya antara marah dan takut, antara benci dan cinta, dan lainnya.
e. Cara Mengendalikan Emosi
Ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk dapat mengendalikan emosi, akan tetapi banyak yang merasa kesulitan. W.T. Grant Consortium dalam bukunya Goleman (1996: 426) yang bejudul: “Emotional Intelligence”, unsur-unsur aktif program pencegahan yang meliputi keterampilan emosional:
1) Mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan 2) Mengungkapkan perasaan
3) Menilai intensitas perasaan 4) Mengelola perasaan
5) Menunda pemuasan
6) Mengendalikan dorongan hati 7) Mengurangi stres
8) Mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan.
Unsur-unsur utama pada program yang efektif dalam mengendalikan emosi secara ringkas adalah sebagai berikut (Gemilang, 2013: 24-27): 1) Melawan Pikiran Negatif
Pemicu emosi biasanya berasal dari pikiran, baik itu pikiran negatif yang muncul dari intepretasi input-input atau stimulasi dari lingkungan eksternal maupun pola-pola pemikiran internal yang tidak disadari. Misalnya, seseorang bisa marah atau merasa ketakutan karena merespon ancaman dari orang lain.
2) Mengubah Kata Negatif Menjadi Positif
Riset terbaru menggunakan scanner MRI di otak menunjukkan bahwa penampakan kata-kata negatif seperti kata
‘tidak’ misalnya, membuat diri memproduksi hormon dan neurotransmitters yang bisa memicu stres, mengacaukan beragam
fungsi komunikasi, bahkan bisa merusak akal sehat. Pemikiran yang menggunakan kalimat-kalimat negatif biasanya membawa kekhawatiran atau penyesalan.
3) Menerima Pikiran Negatif, Bertindak Positif
Pikiran dan perasaan tidak perlu dilawan atau ditindaklanjuti dengan segera, tapi cukup diamati dan diterima. Emosi negatif adalah sesuatu yang wajar untuk didapati dan senormal emosi yang positif. Pikiran-pikiran yang muncul tidak perlu langsung ditanggapi atau dievaluasi secara berlebihan. Tidak usah juga dihindari atau dipendam. Amarah yang terpendam bisa meledak suatu saat atau malah menjadi penyakit batin maupun fisik yang menggerogoti diri dari dalam.
4) Memaksimalkan Ajaran Agama
Kuatkan kepercayaan serta praktekkan ritual-ritual yang mengembangkan emosi positif seperti banyak-banyak bersyukur
dan berdo’a, bermeditasi atau berdzikir dalam agama Islam,
memberi atau bersedekah dan menolong orang lain, berpuasa serta pergi ke tempat ibadah umum seperti masjid, wihara, pura atau gereja sesuai keyakinan masing-masing.
5) Meditasi dan Berpikir Reflektif
Kuatkan kontak dengan kekinian, bernafas dalam-dalam dengan perlahan dan rasakan setiap sensasi diri dengan keterbukaan serta penerimaan. Menerima dan merasakan apapun yang ada saat
ini. Jangan terikat dengan pikiran manapun di masa lalu, masa sekarang, dan yang di masa depan seperti penyesalan, amarah, dan kecemasan.
6) Menemukan Nilai-nilai Kehidupan
Bertindak dengan prinsip-prinsip sejati tersebut. Kita berkomitmen untuk berperilaku sesuai prinsip berdasarkan nilai yang abadi, bukan bertindak karena perasaan yang bersifat sementara. Misalnya dengan tetap berpegang teguh pada kejujuran, integritas, siap bertanggung jawab, adil dan seterusnya.
2. Remaja
a. Definisi dan Pengertian
Seringkali dengan mudah seseorang mendefinisikan remaja sebagai periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa, atau masa usia belasan tahun, atau jika seseorang menunjukkan tingkah laku tertentu seperti susah diatur, mudah terangsang perasaannya dan sebagainya. Tetapi mendefinisikan remaja ternyata tidak semudah itu (Sarwono, 1997: 2).
Masa remaja adalah masa peralihan yang ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menuju dewasa. Dapat dikatakan, bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai masa dewasa (Sopiatin dan Sahrani, 2011: 110).
Bagaimanapun cara seseorang memandang remaja dan dari segi apapun dapat dinilai, namun suatu hal dapat disimpulkan bahwa
“Remaja” adalah masa peralihan dari “anak” menjelang “dewasa”. Semakin maju suatu masyarakat semakin banyak syarat yang diperlukan untuk menjadi dewasa, semakin panjang masa yang diperlukan untuk mempersiapkan diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan dan semakin banyak pula masalah yang dihadapi oleh remaja itu, karena sukarnya memenuhi syarat-syarat tersebut (Daradjat, 1976: 11). Usia remaja yang hampir disepakati oleh banyak ahli jiwa ialah antara 13 dan 21 tahun.
b. Kategori dan Problematika Remaja
Setiap manusia hidup di dunia ini pasti memiliki problem, baik yang berkategori ringan, sedang, maupun berat. Begitu juga dengan remaja dalam kehidupan sehari-hari, sering dihadapkan pada problem atau masalah-masalah tersebut. Menurut pendapat Sahilun A. Nasir dalam bukunya Sopiatin dan Sahrani (2011: 121) yang berjudul: “Psikologi
Belajar dalam Perspektif Islam”, bahwa problem remaja itu di antaranya:
1) Problem agama dan akhlak remaja 2) Problem seks remaja
3) Problem perkembangan pribadi dan sosial; dan 4) Kenakalan remaja.
Secara singkat dapat dikategorikan beberapa problematika (masalah) yang biasa dihadapi oleh para remaja di antaranya (Daradjat, 1976: 11- 13):
1) Pertumbuhan Jasmani Cepat
Biasanya pertumbuhan jasmani cepat terjadi antara umur 13- 16 tahun, yang dikenal dengan remaja pertama (carly adolescence). Dalam usia ini remaja mengalami berbagai kesukaran karena perubahan jasmani yang sangat menyolok dan tidak berjalan seimbang. Remaja waktu itu mengalami ketidakserasian diri dan berkurang keharmonisan gerak, sehingga kadang-kadang mereka sedih, kesal dan lesu.
Pertumbuhan jasmani mencakup pula pertumbuhan organ dan kelenjar seks, sehingga mereka merasakan pula dorongan- dorongan seksuil yang belum pernah mereka kenal sebelum itu, yang membawa akibat kepada pergaulan.
2) Pertumbuhan Emosi
Sebenarnya yang terjadi adalah kegoncangan emosi. Pada masa adolesen pertama, kegoncangan itu disebabkan oleh tidak mampu dan tidak mengertinya akan perubahan cepat yang sedang dilaluinya, di samping kekurangan pengertian orang tua dan masyarakat sekitar akan kesukaran yang dialami oleh remaja, waktu itu. Bahkan kadang-kadang perlakuan yang mereka terima dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, menambah goncangan emosi yang sedang tidak stabil itu.
3) Pertumbuhan Mental
Menurut Alfred Binet seorang Psikolog Perancis yang terkenal dengan metal-test nya, bahwa kemampuan untuk mengerti hal-hal yang abstrak baru sempurna pada umur -12 tahun. Sedangkan kesangggupan untuk mengambil kesimpulan yang abstrak dari fakta yang ada kira-kira mulai pada umur 14 tahun. Karena itu, tampak pada usia 14 tahun ke atas, remaja seringkali menolak hal-hal yang kurang masuk akalnya, dan kadangkala menyebabkan mereka menolak apa yang dulu diterimanya. Dari sini timbullah pula persoalan dengan orang tua atau orang dewasa lainnya yang merasa seolah-olah remaja menjadi suka membantah atau mengeritik mereka.
4) Pertumbuhan Pribadi dan Sosial
Masalah pribadi dan sosial itulah yang paling akhir bertumbuhnya dan dapat dianggap sebagai persoalan terakhir yang dihadapi remaja menjelang masuk kepada usia dewasa. Setelah pertumbuhan jasmani cepat berakhir, tampaklah bahwa remaja telah seperti orang dewasa jasmaninya, baik yang laki-laki maupun perempuan.
Akan tetapi, dari sosial dan penghargaan serta kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat biasanya belum sempurna, terutama dalam masyarakat yang maju. Dalam banyak