• Tidak ada hasil yang ditemukan

Emosi

Dalam dokumen Psikologi Perkembangan (Halaman 94-97)

BAB VI. PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL MASA BAYI

A. Emosi

Emosi (emotions) seperti sedih, gembira, dan takut adalah reaksi subjektif terhadap pengalaman yang diasosiasikan dengan perubahan fisiologis dan tingkah laku. Rasa takut misalnya diiringi dengan detak jantung yang lebih cepat dan sering kali disertai tindakan melindungi diri. Setiap orang ber-beda dalam cara merasakan emosi khusus, tentang kejadian-kejadian khu-sus yang menyebabkannya. Perkembangan emosional merupakan proses yang terjadi secara bertahap. Munculnya emosi yang kompleks merupakan hasil dari perkembangan emosi yang sederhana yang sederhana. Karakter-istik pola reaksi emosional seseorang mulai berkembang pada masa bayi, dan merupakan elemen dasar kepribadian. Emosi berkaitan erat dengan aspek perkembangan. Emosi seperti rasa marah, dan takut, terutama rasa malu, bersalah dan empati dapat memotivasi tingkah laku moral (Eisenberg, 1992). Dibawah ini merupakan tanda emosi pertama yang dimilki bayi, an-tara lain ;

1. Tangisan

Bayi yang baru lahir menunjukkan dengan dengan jelas bila mer-eka sedang, tidak senang’. Menangis merupakan jalan yang sangat kuat dan kadang satu-satunya jalan bayi untuk mengkomunikasikan kebutuhannya. Ada empat pola menangis (dalam Papalia & Martorell, 2014):

78

a. Tangisan lapar (tangisan yang beritme, yang tidak selalu di-hubungkan dengan rasa lapar.

b. Tangisan marah (variasi tangisan beritme, dimana banyak udara dipaksakan melewati pita suara).

c. Tangisan sakit (tangisan tiba-tiba tanpa didahului dengan rintihan, kadang diikuti dengan menahan napas).

d. Tangisan frustasi (dua atau tiga tangis tanpa menanhan napas panjang.

62 Gambar 10 ; Bayi Berkomunikasi dengan Tangisan.

Sumber Internet

2. Senyuman

Senyum kecil paling dini terjadi secara spontan segera setelah lahir, yang ternyata adalah hasil aktivitas sistem saraf subkortikal. Senyum Involuntari ini sering muncul ketika periode tidur. Pada usia 4 bulan bayi dapat tertawa keras ketika dicium perutnya atau digelitik.

Mengidentifikasi emosi bayi sangat menantang karena bayi tidak dapat menyampaikan apa yang mereka rasakan. Emosi Dasar, segera setelah bayi lahir, bayi menunjukkan rasa puas, tertarik dan distres. Tanda –tanda tersebut merupakan respon campuran bersifat refleks dan kebanyakan merupakan respon psikologis terhadap rangsangan sensori atau proses internal. Pada masa kira-kira 6 bulan berikutnya, keadaan emosional ini berubah menjadi emosi sebenarnya: senang, kaget, jijik, marah, takut. Hal ini merupakan reaksi terhadap kejadian yang memiliki makna bagi bayi.

3. Emosi Kesadaran Diri (self conscious emotios)

Emosi ini terkait dengan respon seperti malu, empati dan iri, muncul hanya ketika bayi telah mengembangkan “mawas diri” (self awareness).

79

62 Gambar 10 ; Bayi Berkomunikasi dengan Tangisan.

Sumber Internet

2. Senyuman

Senyum kecil paling dini terjadi secara spontan segera setelah lahir, yang ternyata adalah hasil aktivitas sistem saraf subkortikal. Senyum Involuntari ini sering muncul ketika periode tidur. Pada usia 4 bulan bayi dapat tertawa keras ketika dicium perutnya atau digelitik.

Mengidentifikasi emosi bayi sangat menantang karena bayi tidak dapat menyampaikan apa yang mereka rasakan. Emosi Dasar, segera setelah bayi lahir, bayi menunjukkan rasa puas, tertarik dan distres. Tanda –tanda tersebut merupakan respon campuran bersifat refleks dan kebanyakan merupakan respon psikologis terhadap rangsangan sensori atau proses internal. Pada masa kira-kira 6 bulan berikutnya, keadaan emosional ini berubah menjadi emosi sebenarnya: senang, kaget, jijik, marah, takut. Hal ini merupakan reaksi terhadap kejadian yang memiliki makna bagi bayi.

3. Emosi Kesadaran Diri (self conscious emotios)

Emosi ini terkait dengan respon seperti malu, empati dan iri, muncul hanya ketika bayi telah mengembangkan “mawas diri” (self awareness).

2. Senyuman

Senyum kecil paling dini terjadi secara spontan segera setelah lahir, yang ternyata adalah hasil aktivitas sistem saraf subkortikal. Se-nyum Involuntari ini sering muncul ketika periode tidur. Pada usia 4 bulan bayi dapat tertawa keras ketika dicium perutnya atau digelitik.

Mengidentifikasi emosi bayi sangat menantang karena bayi tidak dapat menyampaikan apa yang mereka rasakan. Emosi Dasar, segera setelah bayi lahir, bayi menunjukkan rasa puas, tertarik dan distres. Tanda –tanda tersebut merupakan respon campuran bersi-fat refleks dan kebanyakan merupakan respon psikologis terhadap rangsangan sensori atau proses internal. Pada masa kira-kira 6 bulan berikutnya, keadaan emosional ini berubah menjadi emosi sebena-rnya: senang, kaget, jijik, marah, takut. Hal ini merupakan reaksi ter-hadap kejadian yang memiliki makna bagi bayi.

3. Emosi Kesadaran Diri (self conscious emotios)

Emosi ini terkait dengan respon seperti malu, empati dan iri, muncul hanya ketika bayi telah mengembangkan “mawas diri”

(self awareness). Kesadaran diri pada bayi muncul antara usia 15-24 bulan. Menurut Piaget bayi sudah dapat membuat representasi mental tentang dirinya juga tentang orang dan objek lain. Mawas diri dibutuhkan sebelum anak dapat menyadari bahwa ia menjadi pusat perhatian. Mengidentifikasi yang dirasa oleh “diri” atau berharap mereka memiliki yang dimiliki orang lain. Pada usia 3 tahun, ketika memiliki mawas diri dan sekumpulan pengetahuan tentang standar, aturan, dan tujuan yang diterima oleh masyarakat mereka, anak dapat mengevaluasi pikiran, rencana,keinginan, dan tingkah laku mereka sendiri terhadap apa yang dianggap pantas secara sosial. Baru pada saat itu mereka dapat mendemonstrasikan” emosi evaluasi diri” (self evaluative emotions) berupa rasa bangga, bersalah, dan malu (Lewis, 2007).

80 4. Empati (emphaty)

Empati merupakan kemampuan untuk ”menempatkan diri sendiri diposisi orang lain” dan merasakan apa yang dirasakan orang tersebut, atau diharapkan merasakan dalam situasi tertentu. Empati muncul pada tahun kedua. Seperti perasaan bersalah, rasa empati berkembang seiring berjalannya usia (Eseinberg, 1992). Empati ber-beda dengan simpati, dimana hanya melibatkan rasa sedih atau rasa khawatir atas kondisi buruk yang dialami orang lain. baik empati maupun simpati sepertinya melahirkan tingkah laku sosial, seperti memberikan kembali mainan. Empati tergantung pada koginsi sosial (social cognition).

5. Tempramen

Tempramen terkadang didefinisikan sebagai karakteristik seseorang secara biologis untuk mendekati dan bereaksi terhadap orang dan situasi. Temperamen diartikan sebagai bagaimana ses-eorang bertingkah laku: bukan apa yang orang lakukan, tapi bagaima-na mereka melakukannya . Seorang abagaima-nak mungkin tidak akan bert-ingkah laku yang sama diberbagai situasi. Temperamen bukan saja memengaruhi bagaimana pendekatan dan reaksi anak terhadap du-nia luar, tapi bagaimana mereka mengatur fungsi mental, emosional dan perilaku mereka sendiri (Zenter & Bates 2008).

Temperamen memiliki dimensi emosional, tetapi berbeda dengan emosi seperti takut, tertarik, bosan, yang mungkin datang dan per-gi, tempramen relatif konsisten dan menetap. Perbedaan individual dalam tempramen diduga berasal dari bangunan biologis dasar se-seorang, membentuk inti dari kepribadian. Dibawah ini merupakan tabel pengelompokan temperamen anak yang disusun oleh Thomas

& Chess ( dalam Papalia & Martorell 2014).

64 dari bangunan biologis dasar seseorang, membentuk inti dari kepribadian.

Dibawah ini merupakan tabel pengelompokan temperamen anak yang disusun oleh Thomas & Chess ( dalam Papalia & Martorell 2014).

Tabel 8; Pola Tempramental

Sumber; Papalia dkk 2011

Anak “Mudah”

(easy children) Anak “Sulit”

(difficult children) Anak “Lambat- Dipancing”

(slow to warm up) - Memiliki mood yang

intensitasnya halus sampai sedang

- Memberikan respons yang baik terhadap hal baru dan perubahan.cepat mengembangkan jadwal tidur dan makan teratur

- Menerima makan baru

dengan mudah, tersenyum kepada orang

asing. Mudah beradaptasi terhadap situasi baru.

Biasanya menerima frustasi dengan sedikit rewel. Mudah beradaptasi pada rutinitas dan auran permainan baru.

- Menunjukkan mood yang intens dan sering negatif. Sering menangis juga tertawa keras

- Tidak memberikan respon baik terhadap hal-hal baru dan perubahan. Tidur makan tidak teratur

- Lambat menerima makanan baru. Curiga terhadap orang asing. Lambat beradaptasi dengan situasi baru. Bereaksi terhadap frustasi dengan rewel. Lambat beradaptasi dengan rutinitas.

- Bereaksi halus, baik positif maupun baik negatif.

- Lambat memberikan respon terhadap hal baru dan perubahan. Tidur dan makan lbih rutin daripada anak ‘sulit”lebih tidak rutin dibandingkan anak” mudah”

- Menunjukan respons inisial negatif terhadap stimuli baru (temuan kali pertama dengan orang, tempat dan situasi baru).

- Secara bertahap menyukai situasi baru, setelah pemaparan yang berulang dan tidak memaksa.

Dalam dokumen Psikologi Perkembangan (Halaman 94-97)