Pengukuran
B. Empat Skala Pengukuran
Menurut Wallace (1990: 58), suatu skala adalah merupakan seperangkat simbol abstrak secara sistematis dapat dikaitkan dengan pengamatan konkrit, yang karenanya langsung
‘mengukur’ hasil pengamatan. Berdasarkan pendekatan kuanti-tatif, Stevens (1946) menggolongkan skala pengukuran menjadi 4, yaitu: (1) skala nominal, (2) skala ordinal, (3) skala interval dan (4) skala rasio.
1. Skala Nominal
Skala ini tidak ditujukan untuk mengukur gejala yang bersifat kontinu, tetapi yang bersifat diskrit. Aspek-aspek dari suatu obyek, orang atau sifat dikelompokkan menjadi beberapa kategori atau klasifikasi. Dalam hal ini klasifikasi dilakukan semata-mata berdasarkan ada tidaknya aspek-aspek atau ciri-ciri tertentu yang sama dari obyek, orang atau sifat yang diselidiki.
Hal ini dilakukan dengan memilah suatu kelas tertentu dalam seperangkat kelas yang saling terpisah. Satu-satunya hubungan yang ada adalah hubungan persamaan. Oleh karena itu apabila kita hanya dapat menentukan apakah aspek-aspek yang relevan untuk penelitian itu sama, maka jenis skala yang tepat untuk itu hanyalah nominal.
Untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok tersebut dapat digunakan dengan angka atau simbol. Penggunaan angka atau simbol tadi merupakan pembuatan skala nominal. Untuk jenis kelamin, misalnya, dapat dikategorikan atas dua, yaitu laki-laki dan wanita dengan menggunakan dua simbol yang berbeda.
Organisasi Peserta Pemilu (OPP) di Indonesia dahulu hanya ada 3, yang terdiri dari PPP, Golkar dan PDI yang dapat dibeda-kan dengan menggunakan 3 simbol yang berbeda: gambar Bintang untuk PPP, gambar Pohon Beringin untuk Golkar dan gambar Kepala Banteng untuk PDI. Atau angka 1 untuk PPP, angka 2 menyatakan Golkar dan angka 3 menyatakan PDI. Penggunaan tanda rambu-rambu lalu lintas, misalnya adalah contoh lain penggunaan simbol dalam pembuatan skala nominal. Angka-angka pada plat mobil, nomor-nomor pada kaus pemain sepak bola, nomor induk mahasiswa, dan lain-lain adalah merupakan contoh penggunaan angka dalam pembuatan skala nominal.
Letak kuantitatif pengukuran nominal terletak pada beberapa frekuensi masing-masing kategori atau klasifikasi.
Dengan demikian, pengukuran adalah sekedar menyatakan jumlah dari gejala yang sedang diteliti.
2. Skala Ordinal
Dalam pengukuran ordinal aspek yang diukur adalah gejala yang bersifat kontinu. Suatu obyek dapat dibedakan menjadi beberapa klasifikasi dengan cara menggolong-golongkan aspek-aspek menurut jenjang tanpa memperhatikan jarak antara golongan yang satu dengan yang lain. Apabila dalam satu klasifikasi masih mungkin dilakukan pembedaan dengan cara membuat “lebih besar atau kurang dari” diantara aspek-aspek klasifikasi tersebut, berarti jenis skala yang tepat adalah ordinal.
Hubungan semacam ini dapat ditandai dengan tanda >, yang dapat dipakai untuk menunjukkan “lebih besar daripada”, “lebih disukai daripada”, “lebih tinggi daripada”, “lebih baik daripada”, dan sebagainya. Sekedar contoh, misalkanlah sepuluh orang mahasiswa mengikuti ujian metode penelitian. Hasil ujian tersebut dinyatakan dengan angka-angka mutlak (sebagai dasar) dan diurutkan mulai dari nilai tertinggi hingga angka yang paling rendah. Pengurutan angka-angka dimaksud termasuk dalam skala pengukuran ordinal, yakni menyatakan jenjang atau rank dari masing-masing peserta ujian. Perhatikanlah Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Nilai Ujian Metode Penelitian
Nama mahasiswa/i Nilai ujian Rank
Aman 65 8
Budogol 67 7
Dimpos 72 6
Dangol 63 9
Else 80 3
Fikar 86 1
Ganda 74 5
Han 76 4
Ingotan 61 10
Jaultop 82 2
Sumber: Data hipotetis.
Angka nilai-nilai ujian dapat ditentukan ranknya, yaitu nilai paling tinggi merupakan rank pertama, nilai tertinggi kedua
menjadi rank kedua dan seterusnya. Dalam hal ini skala ukuran ordinal adalah rank mahasiswa/i tersebut di atas. Jadi singkatnya, skala ordinal hanya memperlihatkan urutan semata.
Yang termasuk dalam pengukuran ordinal diantaranya adalah pengukuran sikap, kelas sosial dan lain-lain. Skala Likert, Skala Bogardus, Skala Guttman, Skala Summated Rating, Skala Self Rating dan Semantic Differensial adalah contoh penggunaan skala ordinal.
Untuk membedakan pengukuran nominal dengan ordinal, perlu diketahui beberapa ciri skala ordinal seperti:
a. Jarak antara satu point dengan lainnya tidak tetap, jarak antara satu jenjang dengan jenjang lainnya tidak sama dan tidak diketahui besarnya. Dalam Skala Likert, misalnya, terdapat lima pilihan yang bergerak mulai dari “sangat tidak setuju”, “tidak setuju”, “netral”, “setuju” dan “sangat setuju”. Dalam hal ini jarak antara satu point dengan point lainnya tidak diketahui secara pasti dan tidak sama.
b. Tidak mempunyai titik nol mutlak. Artinya tidak ada satu ketegori jawaban yang dapat dinilai sama dengan nol.
Kalaupun digunakan angka-angka, hal itu hanyalah buatan peneliti sendiri. Dalam contoh a di atas, responden yang bersikap “netral”, misalnya, bukan berarti dia tidak mempunyai sikap, sikap dia adalah netral. Kalau dimisalkan yang bersikap “sangat tidak setuju” diberi nilai -10, yang
“tidak setuju” dengan -5, yang “netral” dengan 0, yang
“setuju” dengan +5, dan yang “sangat setuju” dengan +10, itu bukan berarti jarak point yang satu dengan lainnya adalah 5.
c. Tidak dapat ditambahkan, dikurangi, dikalikan atau dibagi.
Hal ini disebabkan jarak yang tidak tetap dan tidak mempunyai nol mutlak.
-10 -5 0 +5 +10
sangat tidak setuju
tidak setuju
Netral setuju sangat setuju
Jika Allang bersikap tidak setuju dan memperoleh nilai -5, misalnya, Balga bersikap netral dan memperoleh nilai 0, Tiur bersikap setuju dan memperoleh nilai +5, ini tidak berarti bahwa sikap Balga adalah sikap Allang ditambah dengan sikap Tiur.
Atau tidak dapat dikatakan bahwa 0 = (-5) + (+5).
Ada kalanya dijumpai penggunaan perlambang matematis berupa: = , > , < , >= , atau <=. Pengukuran ordinal menggolong-golongkan subyeknya menurut jenjang tanpa membuktikan besarnya jarak antara golongan yang satu dengan golongan yang lain. Contoh:
Jou terpandai, Alusi pandai dan Paboa tidak pandai
Dalam contoh ini, jarak kepandaian antara Jou dan Alusi atau antara Alusi dan Paboa tidak dapat diukur secara eksak.
Berbagai variabel yang sering diamati dengan tingkat pengukuran ordinal adalah kelas sosial, rank prestasi, status sosial ekonomi, dan lain-lain.
Skala ini dapat digunakan untuk menghitung jumlah kasus, modus, korelasi, median, dan persentase.
3. Skala Interval
Sebagaimana skala ordinal, skala ini juga digunakan untuk mengukur gejala yang bersifat kontinu. Apabila suatu skala mempunyai segala sifat skala ordinal dan mempunyai jarak secara teratur antara jenjang yang satu dengan yang lainnya, maka skala tersebut adalah skala interval. Apabila klasifikasi yang menyatakan “lebih besar atau kurang dari” dalam skala ordinal masih dapat ditentukan persamaan atau ketidaksamaan dalam perbedaan atau interval di antara aspek-aspek obyek, maka skala yang tepat dalam hal ini adalah “interval”. Contoh pengukuran interval adalah Skala Thurstone.
Ada beberapa ciri pengukuran interval, yaitu:
a. Skala interval mempunyai syarat “persamaan”, syarat
“urutan” dan syarat “unit ukuran yang tepat”. Contoh
adalah alat pengukur suhu badan dengan thermometer Celsius, Fahrenheit atau Reaumur.
b. Tidak mempunyai titik nol mutlak. Untuk pengukuran dan titik nol mutlak ditetapkan oleh pembuat. Contoh thermometer Celsius, titik beku dan titik didih air adalah 0 dan 100 dan bagi Fahrenheit adalah 32 dan 212. Apabila temperatur adalah 0oC, itu tidak berarti bahwa tidak ada panas. Kita tidak dapat menyatakan bahwa 50oC berarti lima kali lebih panas dari 10oC.
c. Tidak dapat ditambah atau dikurangi, dikali atau dibagi. Hal ini disebabkan pengukuran ini tidak mempunyai titik nol mutlak sekalipun jarak antara dua point adalah sama. Kita tidak dapat mengatakan bahwa temperatur di kota A = 40oC sama dengan temperatur kota B yang panasnya 23OC ditambah dengan temperatur kota C yang panasnya 17oC.
Atau kita tidak dapat mengatakan bahwa Anta yang mempunyai IQ 60 adalah separuh dari Ente yang mempunyai IQ 120.
4. Skala Rasio
Apabila dalam keseluruhan determinasi ketiga skala di atas masih dapat ditentukan persamaan atau ketidaksamaan dalam rasio aspek-aspek obyek, maka skala yang tepat dalam hal ini adalah “rasio” atau nisbah. Skala pengukuran nisbah (ratio) memiliki syarat sebagai berikut:
a. Mempunyai jarak yang tepat antara skala ukurnya. Contoh adalah skala ukur dalam timbangan, ukuran panjang, ukuran luas.
b. Mempunyai titik nol mutlak yang ditetapkan secara obyektif. Contoh, apabila si A tidak mempunyai kerbau, itu berarti si A mempunyai 0 kerbau.
c. Oleh karena skala ini mempunyai nol mutlak, sehingga dapat dilakukan penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Skala rasio sering terjadi, misalnya, kalau dalam suatu penelitian hasilnya dinyatakan dalam persentase. Contoh, jika A mempunyai penghasilan bulanan sebesar Rp.350.000, B dengan Rp.175.000, dan C dengan
Rp.175.000, dapat kita katakan bahwa penghasilan A sama dengan penghasilan B ditambah penghasilan C, atau besar penghasilan B adalah penghasilan A dikurangi penghasilan C, atau penghasilan A adalah dua kali penghasilan B atau C. Dapat juga dikatakan bahwa penghasilan B atau C adalah separuh dari penghasilan A.
Dilihat dari tingkatannya, maka skala nisbah dan skala interval dipandang lebih tinggi dari skala ordinal atau nominal.
Makin tinggi tingkat pengukuran, makin banyak informasi yang dapat diperoleh peneliti. Salah satu alasan yang membedakan setiap tingkatan pengukuran adalah bahwa data yang “tingkat-annya lebih tinggi” (jadi tingkat pengukuran rasio dan interval) mempunyai alat analisis yang lebih banyak, terutama dalam operasi matematis. Semua tingkat pengukuran di atas penting artinya bagi ilmuwan sosial.
Penggunaan metode matematik dan statistik merupakan beberapa faktor penting untuk membedakan kategori variabel agar dapat menegaskan sifat angka yang dimiliki oleh kategori variabel.
Tabel 2. Sifat-Sifat Angka Berdasarkan Tingkat Pengukuran Sifat-sifat
Angka
Tingkat Pengukuran
Nominal Ordinal Interval Rasio
Unik Ya Ya Ya Ya
Urutan Tidak Ya Ya Ya
Jarak antar titik diketahui
Tidak Tidak Ya Ya
Titik nol Tidak Tidak Tidak Ya
Ada empat sifat angka yang dimiliki variabel, yaitu unik (tidak dapat dipisah-pisah), urutan, jarak antara kategori, dan titik nol yang dapat digunakan untuk menyusun
pernyataan-pernyataan seimbang. Berdasarkan sifat yang dimiliki oleh kategori, variabel-variabel tersebut dibedakan atas variabel tingkat nominal, variabel tingkat ordinal, variabel tingkat interval dan variabel tingkat nisbah (ratio). Tabel 2 di atas menunjukkan sifat-sifat tersebut.
Dalam susunan hirarki, tingkat pengukuran tersebut adalah sebagai berikut:
Rasio (Paling tinggi)
Interval Ordinal
Nominal (Paling Rendah)
Perbedaan tersebut memudahkan membedakan data yang akan dianalisis, menentukan pemakaian prosedur dan teknik statistik tertentu yang sesuai dengan persyaratan ilmiah. Peneliti mengikuti aturan tersebut dengan cara memilih teknik analisis yang tepat sesuai dengan data yang dimilikinya.