Kegiatan pendampingan KRPL di 4 (empat) kabupaten/kota diawalai dengan mempelajari laporan perkembangan dari lokasi-lokasi KRPL melalui komunikasi telepon, maupun tatap muka langsung dengan penyuluh pendamping, disamping membaca hasil monitoring dan evaluasi (MONEV) oleh tim Monev BPTP Maluku. Selanjutnya tim pendampingan mempelajari dan menyiapkan kebutuhan dalam bentuk materi tertulus (lifleat,brosur) tentang budidaya sayuran, budidaya tanaman spesifik lokasi/ tanaman rempah dan obat, disamping pencegahan OPT dengan menggunakan pestisida nabati. Untuk memperlancar kerja dilapangan terutama di kelompok RPL, tim pendampingan berkoordinasi dengan pimpinan wilayah setempat yaitu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, Camat setempat, Pimpinan Pertanian Kecamatan, Koordinator Penyuluh Kecamatan, Kepala Desa disamping penyuluh pertanian setempat.
Perkembangan pendampingan m-KRPL pada tahun 2014 meliputi 4 wilayah kabupaten/kota yaitu Kota Ambon, Maluku Tengah, Seram Bagian Barat dan Buru seperti yang sudah diuraikan di table-tabel diatas. Dengan demikian terlihat jelas bahwa dari pendampingan yang sudahdilaksanakan mengacu kepada petunjuk teknis/petunjuk pelaksanaan yang baku dan sudah dilaksanakan sejak kegiatan m-KRPL digulirkan secara nasional yaitu dengan mengikuti langkah kerja mulai dari perencanan,pelaksanaan pendampingan, proses pendampingan, sampai pada evaluasi bersama antara pendamping dengan anggota kelompok m-KRPL dalam bentuk pertemuan yang dilaksanakan dipekarangan anggota kelompok dihadiri oleh instansi terkait pada tingkat kecamatan. Perhitungan skor Pola Pangan Harapan (PPH) juga dilaksanakan oleh tim pendamping dengan mengikuti prosedur yang sudah berlangsung selama pelaksanaan kegiatan m-KRPL denga langkah-langkah antara yaitu skor PPH yang dihitung adalah skor PPH tingkat konsumsi keluarga/ rumah tangga yang didekati dengan Pengeluaran pangan satu hari yang lalu. Yang dimaksudkan keluarga/rumah tangga disini adalah sekelompok orang yang
mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik dan makan bersama dari satu dapur.Untuk menjaring data tingkat konsumsi keluarga/rumah tangga digunakan kuesioner konsumsi Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang digunakan oleh BPS. Demikian pula angka konversi zat gizi mengikuti angka konversi yang digunakan dalam SUSENAS. Dari perhitungan PPH yang diambil dari masing-masing kabupaten/kota terutama pada lokasi m-KRPL pada saat sebelum dan sesudah pendampingan ternyata nilai rata-rata kisarannya ada pada 61,40 – 78,90.
Dari pola pendampingan yang dilaksanakan oleh tim pendamping BPTP Maluku telah memberikan dorongan sekaligus membangun partisipasi anggota kelompok pada kawasan tersebut secara visual data dan faktanya seperti di bawah ini :
1. Pendampingan m-KRPL Kota Ambon :
1.1. KRPL Dususn Kamiri – Desa Hatiwe Besar
Pendampingan KRPL di Kota Ambon dilaksanakan pada kelompok RPL tahun 2013 yaitu di Dusun Kemeri Desa Hatiwe Besar denga jumlah kelompok sebanyak 20 kepala keluarga/keluarga yang sebagaian besar adalah ibu rumah tangga. Kegiatan pendampingan ini dilaksanakan pada bulan Mey 2014. Inti pendampingan adalah membantu kelompok KRPL setempat untuk melakukan evaluasi terhadap kegiatan KRPL tahun 2013, merencanakan, melaksanakan kembali kegiatan KRPL tahun 2014 dengan tetap mempedomani petunjuk teknis pengembangan KRPL dalam rangka meningkatkan fungsi pekarang menjadi lebih produktif, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, sebagai ketahan pangan keluargadan dapat dipasarkan jika ada kelebihan produk saat panen. Berdasarkan fakta lapangan bahwa kegiatan KRPL di dusun kamiri-Hatiwe besar kota ambon sampai awal tahun 2014 perkembangannya menurun. Penyebap utamanya adalah kesibukan ibu-ibu mengurus rumah tangga termasuk mencari nafkah diluar rumah sehingga waktunya tersita karena kesibukan tersebut. Kegiatan tanam-menanan di KRPL membutuhkan waktu ekstra untuk
mengolah tanah (bedengan,polybag), menyemai benih/bibit, menanam,
Oleh karena ada peran ganda mencari nafkah dengan membantu suami berjualan dipasar, maka perhatian untuk menata pekarangan dengan tanaman bergizi ; sayuran, buah dll jelas terganggu. Oleh karena itu ada kegiatan pendampingan KRPL di dusun kamiri-hatiwe besar dititikberatkan pada upaya menyakinkan ibu-ibu dalam kelompok untuk menata kembali usaha pekarangannya. Tim pendamping juga memperbaiki KBD dengan memperbaiki pompa air untuk mempermudah penyiraman tanaman, memberikan pupuk organic/pupuk kandang. Pembenahan terhadap KBD adalah menjadi perhatian Karena melalui KBD anggota kelompok dapat memanfaatkan bibit/benih tanam yang sudah disemai sehingga kebutuhan anggota kelompok KRPL dapat dihitung secara efisien karena benih/bibit tanaman dalam bentuk sayuran adalah benih hibrida yang harganya juga sering berfluktuatif.
1.2. Kegiatan pendampingan m-KRPL di Desa Hunuth – Kota Ambon
Kegiatan pendampingan m-KRPL di Desa Hunuth-Kota Ambon sejatinya sudah memasuki tahun ke 3 (2012-2014). Kegitan pendampingan di tahun 2014 sebenarnya adalah melanjutkan kegiatan sebelumnya yang perkembangannya sangat baik pada akhir tahun 2012-2013 (pernah dikunjungi Menteri Pertanian), namun memasuki tahun 2014 terjadi stagnasi karena kondisi musim kemarau dan kesulitan air. Pendampingan m-KRPL di desa Hunuth yang dilaksanakan oleh tim pendamping oleh BPTP Maluku kembali mendorong/memotivasi anggota kelompok untuk bergiat kembali dan sampai dengan Desember 2014 kelompok m-KRPL tersebut kembali berkembang. Kondisi psikolog anggota kelompok m-KRPL di desa ini tidak berbeda jauh dengan desa yang lain, disamping ada dinamika yang terus berkembang tetapi tingkat kecurigaan anggota kelompok satu terhadap yang lain tetap ada. Untuk mengatasi hal tersebut pada saat pendampingan dilakukan diskusi kelompok sehingga hal-hal yang terjadi diantara sesama anggota kelompok dapat mencair dan kembali dinamis.
1.3. Kegiatan pendampingan m-KRPL di Desa Hukurila – Kota Ambon
Kegiatan pendampingan m-KRPL di Desa Hukurila – Kota Ambon sejatinya sudah memasuki tahun ke 2 (2014). Kegiatan pendampingan ditahun 2014 sebenarnya adalah untuk melanjutkan kegiatan tahun sebelumnya yang perkembangannya cukup stabil tetapi untuk kekompakan kelompok dalam bekerjasama masih belum baik. Hal ini terlihat dari pengelolaan KBD yang belum maksimal dalam arti bahwa pengelolaan KBD hanya diserahkan untuk 2-3 anggota kelompok. Disamping itu ada unsur kecurigaan anggota terhadap ketua kelompok KRPL setempat. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut, maka dalam pendampingan telah dilakukan diskusi bersama dimana ada keterbukaan dalam kelompok dan ganjalan tersebut sedikit demi sedikitmencair dan sesame anggota dapat melakukan kesepakatan bersama untuk bekerja sama meningkatkan usaha pekarangannya. Hal penting juga yang perlu diantisipasi adalah masalah air yang dibutuhkan untuk menyiram tanaman, karena kondisi desa yang berbukit sehingga mereka kesulitan air. Oleh karena itu pada saat pendampingan telah dilakukan pembenahan terhadap instalasi air dengan didukung partisipasi anggota kelompok KRPL Desa tersebut.
2. m-KRPL Kab Seram Bagian Barat
Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) merupakan salah satu wilayah administrasi yang termasuk dalam wilayah Pemerintahan Provinsi Maluku. Piru sebagai ibukota kabupaten SBB berjarak sekitar 86,2 Km dari Kota Ambon dapat ditempuh sekitar 3 jam dengan menggunakan kapal feri dan angkutan darat. Kab SBB dibagi dalam 5 Kecamatan Yaitu Kecamatan Huamual Belakang, Kecamatan Seram Barat, Kecamatan Kairatu, Kecamatan Kairatu Barat, Kecamatan Taniwel. Aksesibilitas di Kairatu barat cukup baik, sarana transportasi dari dan ke ibukota kabupaten maupun antar kecamatan dan antar desa sangat lancer setiap hari, baik angkutan roda empat maupun roda dua. Kegiatan pendampingan m-KRPL di Seram Bagian Barat (SBB) tepatnya di Desa Waisamu dan Desa Lohiatala Kecamatan Kairatu Barat. Lokasi tersebut merupakan lokasi kegiatan tahun 2013 dan dipilih untuk didampingi lagi karena kegiatannya masih baik dan masuk dalam kriteria
hijau. Kegiatan pendampingan di SBB baru dilakukan setelah pemeriksaan Irjen bulan Agustus 2014.
3. m-KRPL Kab Pulau Buru
Kegiatan m-KRPL di Kab P. Buru sejak tahun 2013 telah dilaksanakan di 2 (dua) lokasi/kawasan/desa yaitu desa Namlea dan desa Waplau. Dari beberapa indicator untuk melihat keberhasilan pengembangan KRPL, maka sejauh ini KRPL di Kab Buru belummemperlihatkan adanya dukungan yang signifikan dalam pengembangan pertanian di wilayah tersebut. Oleh karena itu dalam tahun 2014, kelompok KRPL yang ada di pulau buru didampingi atau didekati dengan metode
penyuluhan yang dapat menggunggah, memotivasi lagi anggota KRPL di Namatek –
Namlea maupun Waplau supaya dapat berkembang secara baik. Dan pada bulan September-Desember 2014 kegiatan pendampingan dilakukan untuk meningkatkan fungsi pekarangan.
4. m-KRPL Kab Maluku Tengah
Kabupaten Maluku Tengah merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Maluku yang terdiri dari 17 Kecamatan, 6 Kelurahan, 171 Desa. Kab Maluku Tengah letaknya diapit oleh Kab Seram Bagian Barat dan Kab Seram Bagian Timur.
Pendampingan m-KRPL di kabupaten Maluku Tengah tahun 2014 dilakukan di Desa Haruru kecamatan Amahai. Jumlah kepala keluarga 1.163 jumlah jiwa. Mata pencarian pada umumnya nelayan dan petani, sedangkan Desa Haruru berbatasan dengan sebelah utara desa waipo, sebelah timur dengan kelurahan letwaru.
Karekteristik kelompok m-KRPL desa haruru adalah ibu rumah tangga yang setiap harinya sibuk dengan urusan rumah tangga dan yang tergabung dalam tim penggerak PKK di kelurahan/desa tersebut. Kegiatan m-KRPL yang melibatkan ibu-ibu tersebut dengan memanfaatkan lahan pekarangan mereka untuk penanaman sayuran baik di polybag maupun dengan membuat bedengan kecil. Pemanfaatan lahan pekaran merupakan salah satu factor untuk mencukupi kebutuhan gizi dan meningkatkan ketahanan pangan keluarga. Petani kooperator di Kelurahan Lasane maupun Desa Haruru berjumlah 20 orang untuk masing-masing keluranan dan desa
pengelompokan lahan pekarang dikelompokan menjadi 3 yaitu pekarangan sangat sempit, pekarangan sempit dan pekarangan sedang. Dengan demikian yang berpekarangan sangat sempit (tanpa halaman) model budidayanya menggunakan rak vertikultur, pot/polybag, pekarangan sempit model budidayanya menggunakan rak vertikultur, pot/polybag, dan tanam langsung, sedangkan pekaran sedang model budidayanya dengan pot/polybag, tanam langsung, bedengan dan multistrata.
Setelah kurang lebih 3 tahun (2011-2013) kegiatan pendampingan m-KRPL di kabupaten Maluku Tengah dilaksanakan ternyata ada penurunan partisipasi anggota tergadap kekompakan kelompok m-KRPL, itu berdampak pada dinamika kelompok yang tidak berkembang. Hasil penilaian melalui Monev maupun kunjungan langsung dari tim Pembina m-KRPL di BPTP Maluku menunjukan bahwa ada kelompok yang perlu dibina dan adalagi yang tidak bisa dibina dalam pendampingan. Kelompok m-KRPL yang masih bisa dibina adalah kelompok m-m-KRPL Desa Haruru. Kegiatan pendampingan m-KRPL di Desa Haruru Kabupaten Maluku Tengah tahun 2014 berlangsung bulan September-desember 2014.
Dari kegiatan pendampingan yang telah dilaksanakan oleh BPTP Maluku tahun 2014 dapat disimpulkan sekaligus disarankan beberapa hal :
1. Keterlambatan kegitan pendampingan m-KRPL 2014 akibat dari perubahan
anggaran/revisi anggaran secara berturut-turut pada bulan Mey dan Juni dan bersamaan dengan itu ada pemeriksaan irjen Kemtan dan melalui laporan pemeriksaan itu disarankan untuk melakukan pendampingan m-KRPL hanya di 8 lokasi/kawasan dari 16 lokasi hasil pemetaan yang masih layak untuk didampingi terutama didaerah perbatasan misalnya, Kabupaten Kep.Aru, P. Kisar, Maluku tenggara barat, Maluku Tenggara, Kota Tual, Kota Bula.
2. Akibat dari jumlah lokasi pendampingan yang diturunkan dari 16 kawasan menjadi 8 lokasi m-KRPL, maka ada 8 (delapan) lokasi yang sedianya didampingi menjadi tidak terdampingi dan otomatis kegitan m-KRPL dikawasan tersebut terdeklarasi dan akan tamat riwayatnya. Disis lain BPTP Maluku telah menandatangani MOU dengan beberapa Kabupaten/Kota sehingga kalau ada
kegiatan diseminasi seperti m-KRPL dihentikan sangat berpengaruh terhadap relasi yang sudah terbangun.
3. Dari pendampingan m-KRPL yang sudah dilaksankan tahun 2014 ini ternyata ada perubahan dengan peningkatan kualitas pekarangan dengan menanam berbagai jenis sayuran, tanaman obat dan rempah dan akses ke pasar semakin terbuka.
4. Pemanfaatan hasil pekarangan dalam bentuk sayuran, tanaman rempah untuk
kebutuhan makan setiap hari terpenuhi dan selebihnya dijual ke pasar untuk memenuhi kebutuhan yang lain.
5. Untuk pendampingan m-KRPL tahun 2015 disarankan untuk lebih focus pada membangun dinamika partisipasi anggota kelompok m-KRPL dalam upaya meningkatkan kualitas produksi pekarangan.
6. KBI sebaiknya dipindahkan ke Kebun Percobaan/KP Makariki supaya fungsinya
bisa berjalan karena didukung oleh tenaga teknisi yang ada walaupun harus ditingkatkan kemampuannya melalui kursus pada waktu mendatang.