Laporan Kepala Balai
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku, merupakan salah satu Unit Pelaksana Tekinis (UPT) lingkup badan litbang pertanian yang ada di Provinsi, yang menyelenggarakan kegiatan pengkajian, penelitian dan diseminasi pada dua belas gugus pulau dengan berbagai komoditas spesifik lokasi. Kegiatan pengkajian, penelitian dan diseminasi dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat melalui Inovasi teknologi. Oleh karena itu program pengkajian, penelitian dan diseminasi di BPTP Maluku harus berorientasi pada komoditas spesifik lokasi dan program-program yang terkait dengan kegiatan strategis mendukung empat target sukses Kementerian Pertanian selama 5 tahun (2010-2014). Keberhasilan dan kekurangan dari setiap kegiatan yang ditampilkan dalam laporan akhir tahunan ini merupakan evaluasi yang diharapkan mempunyai muara terhadap kemajuan ilmu dan pengetahuan teknologi pertanian khususnya di wilayah Provinsi Maluku.
Demikian laporan tahunan ini disampaikan, semoga dapat digunakan sebagai tolak ukur kinerja BPTP Maluku dan untuk melakukan perencanaan program di masa mendatang yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.
Kepala Balai,
Ir. Demas Wamaer, MP NIP. 19630519 199603 1 001
Daftar Isi
Laporan Kepala Balai Daftar Isi
Pendahuluan... 1
Latar Belakang ... 1
1. Kegiatan Kerjasama Dalam Negeri ... 4
2. Program dan Anggaran ... 7
Reformasi Birokrasi ... 11
Ringkasan Kegiatan In House ... 13
Kajian Peningkatan Produktivitas Ternak Kambing di Maluku ... 14
Kajian Perbaiakan uasaha tani perkebuanan Pala (Myristica SPP) rakyat di Maluku, Pengendalian Hama Penyakit utama Tanaman Pala ... 17
Kajian Teknologi penyulingan Minyak Atsiri Pala (Myristica Fragrans Houtt) ... 26
Kajian perbaikan pemeliharaan Itik Petelur pada petani lahan sawah di Maluku ... 28
Pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan Zona Agroekologi, skala 1:50.000 di Kabupaten Maluku Tengah ………... 35
Ringkasan Kegiatan Desiminasi Inovasi Teknologi Pertanian ... 37
Siaran Tv Lokal ... 38
Peningkatan efektivitas komunikasi guna perderasan adopsi inovasi teknologi pertanian... 43
Kegiatan Pameran Inovasi Teknologi Pertanian ... 53
MOU Kerjasama... 57
Ringkasan Kegiatan Pendampingan dan Strategi Nasional ... 59
Pendampingan SL-PTT Padi sawah di Kabupaten Seram Bagian Timur ... 60
Pendampingan SL-PTT Kedelai di Kabupaten Maluku Tengah ... 62
Pelaksana Gugus Tugas Kalender Tanam (KATAM) terpadu di Provinsi Maluku ... 65
Model Pengembangan Pertanian Pedesaan Melalui Inovasi (m-P3MI) di Maluku ... 67
Unit Pengelola Benih Sumber ... 68
Website ... 72
Perpustakaan Digital ... 75
PENDAHULUAN a. Latar Belakang
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku merupakan UPT Pusat yang berada di daerah memiliki tugas pokok melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi, sedangkan tugas dan fungsi (TUSI), didukung oleh Kelompok Fungsional meliputi Kelompok Pengkaji/Kelji (Peneliti, Penyuluh maupun kelompok fungsional lainnya seperti Litkayasa), Pustakawan, Arsiparis dan Pranata Komputer. Sesuai peraturan Menteri Pertanian No. 16/Permentan/OT.140/3/2006 tanggal 1 Maret 2006 menjelaskan bahwa Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat dibidang Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan Litbang Pertanian, dan dalam pelaksanan tugas sehari-hari dikoordinasikan dengan Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.
Visi BPTP Maluku adalah Menjadikan Institusi Pertanian yang Menghasilkan dan mendistribusikan Teknologi Spesifik Lokasi untuk Mewujudkan Pertanian Maju
dan Berkelanjutan di Dua Belas Gugus Pulau di Maluku” dengan Motto
“Manggurebe Maju Membangun Pertanian Kepualaun Berbasis Inovasi ”. Untuk mencapai hal tersebut, maka Misi BPTP Maluku adalah (a) Menghasilkan, mengembangkan dan mendiseminasikan inovasi pertanian spesifik lokasi di dua belas gugus pulau sesuai kebutuhan pengguna, (b) Mengembangkan jejaring kerjasama dengan Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat, Swasta dan Petani dalam rangka pendayagunaan hasil pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian, (c) Mengembangkan kapasitas Balai dalam rangka meningkatkan kemampuan pelayanan yang professional dan mandiri kepada stakeholder serta peningkatan kinerja balai.
Untuk menciptakan manusia aparatur yang memiliki kompetensi diperlukan mutu Profesionalisme, sikap pengabdian dan pengembangan PNS melalui pendidikan dan pelatihan maupun non pendidikan dan pelatihan. Pada bidang keuangan belum dilakukan secara optimal, sehingga perlu dilaksanakan secara efektif, efisien, terukur dan akuntabel, selain itu pengelolaan sarana dan prasarana
telah dilakukan perawatan dan pemeliharaan namun belum optimal dan pengadministrasiannya pun belum dilakukan secara tertib sebingga diperlukan ketersediaan anggaran yang cukup untuk pengelolaan ketiga aspek kegiatan tersebut.
Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, BPTP Maluku memiliki sumberdaya manusia sebanyak 91 orang pegawai negeri Sipil ditambah tenaga kontrak berjumlah 20 orang. BPTP Maluku secara keseluruhan memiliki tanah seluas 419.973 M2, yang tersebar di tiga lokasi yakni perkantoran dan perumahan di Rumah Tiga 8.873 M2, Lab. Diseminasi Waiheru 10.500 M2, KP Makariki 307.000 M2. Selain tanah, sarana dan prasarana lain yang dimiliki BPTP Maluku adalah bangunan gedung (bangunan laboratorium) seluas 748 M2, rumah dinas 57 unit (sebahagian rusak berat), mess 2 unit, serta kendaraan roda 4 dan roda 2 masing-masing 5 unit dan 3 unit.
Untuk menunjang jalannya organisasi maka perlu adanya Rencana Kegiatan Tim Manajemen, yang meliputi aspek manajemen sumber daya manusia, manajemen keuangan, manajemen fasilitas/ Barang Milik negara (BMN) dan manajemen Kerumah Tanggaan, sehingga diharapkan tercapainya sasaran yang sesuai dengan mandat dan fungsi dari BPTP Maluku.
Sumber anggaran Balai berasal dari DIPA yang dialokasikan untuk belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1. berikut ini.
Tabel 1. Anggaran BPTP Maluku selama 3 tahun periode TA 2011-2014
No Jenis Belanja Tahun Anggaran ( x Rp.000) 2011 2012 2013 2014 1 Belanja Pegawai 4.673.684 5.269.300 5.870.865 5.842.702 2 Belanja Barang Operasional 2.888.796 854.851 5.680.734 1.051.034 3 Belanja Barang non
Operasional - - - 4.205.250
4 Belanja Modal 201.300 333.446 7.275.700 562.880
Kasie Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian (KSPP) pada BPTP Maluku mempunyai tugas :
Merencanakan kegiatan diseminasi (RDHP/RODHP/RAB),
Melakukan inventarisasi dan identifikasi kebutuhan teknologi tepat guna spesifik lokasi,
Mempersiapkan dan mengkoordinasikan kegiatan diseminasi di tingkat
lapangan,
Melaksanakan diseminasi hasil penelitian dan pengkajian melalui model peragaan berupa gelar teknologi, demplot, visitor plot/display dan ekpose/pameran,
Melaksanakan diseminasi hasil penelitian dan pengkajian melalui model pengembangan media informasi (cetak/elektronik) berupa leaflet/liptan, brosur, buku, poster, baliho, audio visual (CD/DVD/film), paket siaran radio/televisi, publikasi media massa dan website,
Aktif dalam penyusunan Programa Penyuluhan pertanian tingkat provinsi,
Merencanakan sumberdaya penyuluh dan materi ajar untuk keperluan
sebagai narasumber teknologi pertanian spesifik lokasi dan kelembagaan pendukung agribisnis dalam kegiatan pelatihan, workshop dan studi banding yang diselenggarakan oleh BPP dan Dinas terkait,
Melaksanakan diseminasi hasil penelitian dan pengkajian melalui model pertemuan tatap muka berupa temu informasi, temu aplikasi paket teknologi, temu lapang dan temu usaha.
Dalam rangka peningkatan kapasitas penelitian, maka BPTP berupaya untuk menjalin kerjsama dengan pihak mitra baik dalam maupun luar negeri. Kerjasama diperlukan dalam upaya menumbuhkembangkan jaringan penelitian guna peningkatan kemampuan pemanfaatan serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan kerjasama ini diharapkan dapat saling memanfaatkan potensi yang dimiliki dalam upaya peningkatan efektivitas dan efisiensi penelitian.
1. Kegiatan Kerjasama Dalam Negeri
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku, merupakan kepanjangan tangan dari Badan Litbang Pertanian pusat sesuai peraturan Menteri Pertanian No. 16/Permentan/OT.140/3/2006. Oleh karenanya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku merupakan UPT Pusat yang berada di daerah memiliki tugas pokok melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. yang berada disetiap provinsi di Indonesia. Sebagai lembaga penghasil inovasi teknologi dan kelembagaan yang memiliki peranan penting dalam pembangunan pertanian, BPTP Maluku dituntut untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki melalui pengembangan jejaring kerja sama dengan pemangku kepentingan (stakeholders).
Kerja sama BPTP Maluku mencakup kerjasama dalam negeri (KDN). Kerja sama dalam negeri merupakan kerja sama dengan institusi nasional. Peraturan pemerintah yang mengatur tentang kerja sama diatur dalam Permentan no 06/Permentan/OT.140/2/2012 dan permentas no : 99/permentan/OT.140/10/2013. Prinsip dasar dalam melaksanakan kerja sama penelitian dan pengembangan antara lain :
1. Saling membutuhkan, saling mengisi, saling melengkapi, dan saling memperkuat;
2. Menghindari tumpang tindih kegiatan dan pendanaan; 3. Asas kesetaraan, keadilan dan kebersamaan;
4. Memperhatikan etika profesionalisme dan asas saling membantu dan mendukung.
BPTP Maluku melalui Badan litbang Pertanian melakukan kegiatan kerja sama dengan instansi terkait (stakeholder) di Provinsi Maluku sejak tahun 2013. Penandatanganan Nota kesepahaman Kerjasama (MoU) dilakukan dengan Pimpinan daerah Kabupaten/Kota yakni Bupati Kabupaten Maluku Tengah, Bupati kabupaten Seram Bagian Timur, Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat, Bupati Kabupaten Buru dan bapak Wali Kota Ambon. Sementara dengan Bapak Gubernur Maluku tertunda pelaksanaannya karena, posisi beliau pada saat itu sedang menunggu pergantian
dengan Gubernur yang baru. Penandatangan Nota kesepahaman antar Bupati/wali kota dilaksanakan saat pelaksanaan seminar internasional rempah pada tanggal 19 Agustus 2013.
Sementara dalam pelaksanaannya dalam bentuk program aksi (action plane) dilakukan antara kepala dinas pertanian dari masing-masing kabupaten/kota. Pelaksanaan penandatangan nota kesepahaman dalam bentuk program aksi dilakukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku, tanggal 2 Mei 2014. Pada Tabel 2 dan 3. berikut ini, diperlihatkan kegiatan kerjasama antara Badan Litbang Pertanian dengan pemerintah daerah prov. Maluku dan Kabupaten/Kota di Maluku tahun 2013-2014.
Tabel 2. Nota Kesepahaman antara Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian dengan Kabupaten/Kota di Maluku Tahun 2013.
Nomor Tahun Mitra
Kerjasama Judul Kerjasama
Tanggal Ditanda tangani Tanggal/ Tahun Selesai OUTPUT No.: 520//04/NK/2013 No.: 1820/OT.120/I.12 /8/ 2013 2013 Kabupaten Maluku Tengah Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Mendukung Program Strategis Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah 19-8-2013 19-Agst-2016
1). Tersedia satu dokumen MoU kerjasama dengan Kabupaten Maluku Tengah. 2). Pengembangan teknologi pertanian spesifik lokasi. 3). Keterlibatan Peneliti dan Penyuluh dalam kegiatan pengkajian dan penyuluhan No: 27/BHO-SETDA/IV/2014 No: 1789/OT.120/I.12 /8/ 2014 2013 Kabupateni Seram Bagian Barat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Mendukung Program Strategis Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat 19 Agst '13 31-Dec-16
1). Tersedia satu dokumen MoU kerjasama dengan Kabupaten terkait. 2). Pengembangan teknologi pertanian spesifik lokasi. 3). Keterlibatan Peneliti dan Penyuluh dalam kegiatan pengkajian dan penyuluhan
No.: 521/07/2013 No.: 1823/OT.120/I.12 /8/ 2013 2013 Kabupaten Buru Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Mendukung Program Strategis Pemerintah Kabupaten Buru 19 Agst '13 31-Dec-16
1). Tersedia satu dokumen MoU kerjasama dengan Kabupaten terkait. 2). Pengembangan teknologi pertanian spesifik lokasi. 3). Keterlibatan Peneliti dan Penyuluh dalam kegiatan pengkajian dan penyuluhan
Tabel 3. Rencana Aksi Nota Kesepahaman antara Badan Litbang
Pertanian, Kementerian Pertanian dengan Kepala Dinas Pertanian se Maluku Tahun 2014.
Nomor Tahun Mitra Kerjasama Judul Kerjasama
Tanggal Ditanda tangani Tanggal/ Tahun Selesai Output No. : 520/47/2014 No.: 150/OT.130/I.12.27/ 2014 2014 Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Seram Bagian Barat Pendampingan Penerapan Teknologi Produksi Padi Sawah melalui Kegiatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di Kabupaten Seram Bagian Barat.
2-5-2014 2-5-2015 1). Satu Buah dokumen MoU Rintisan (Action
Plane) antara BPTP
Maluku dengan Dinas Pertanian Kabupaten Setempat. 2). Terjalin hubungan yang lebih erat antara Dinas Pertanian dan BPTP Maluku dalam berbagai kegiatan. 3). Keterlibatan peneliti dan penyuluh dalam berbagai kegiatan diantara Para PIHAK No.: 520/60/4/2014 No.: 150/OT.130/I.12.27/ 2014 2014 Dinas Pertanian Kab. Seram Bagian Timur Pendampingan Penerapan Teknologi Produksi Padi Sawah melalui Kegiatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di Kabupaten Seram Bagian Timur. 2-5-2014 2-5-2015 1) Terlaksana satu buah dokumen MoU Rintisan (action plane) yang ditandatangani oleh BPTP Maluku dengan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten setempat. 2). Koordinasi dan hubungan kerja semakin kuat terlihat dengan banyaknya kegiatan yang dikerjasamakan No.: 820.12/113/2014 No.: 150/OT.130/I.12. 27/2014 2014 Dinas Pertanian Kota Ambon Pendampingan Penerapan Teknologi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kota Ambon.
2-5-2014 2-5-2015 1) Terbentuk satu buah dokumen Nota Kesepahaman action
plane yang
ditandatangani oleh BPTP Maluku dengan Kepala Dinas Pertanian Kota Ambon. 2). Koordinasi dan hubungan kerja semakin kuat terlihat dengan banyaknya kegiatan yang dikerjasamakan. 3) Keterlibatan peneliti dan penyuluh dalam segala kegiatan yang dikerjasamakan.
No.: 521/165/IV/2014 No.: 150/OT.130/I.12.27/ 2014 2014 Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Buru Pendampingan Penerapan Teknologi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan Pnerapan Kalender Tanam (Katam) di Kabupaten Buru.
2-5-2014 2-5-2015 1) Terbentuk satu buah dokumen Nota Kesepahaman action
plane yang
ditandatangani oleh BPTP Maluku dengan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buru. 2). Koordinasi dan hubungan kerja semakin kuat terlihat dengan banyaknya kegiatan yang dikerjasamakan. 3) Keterlibatan peneliti dan penyuluh dalam segala kegiatan yang dikerjasamakan. No : 520/111/2014 No : 150/OT.130/I.12.27/ 2014 2014 Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Maluku Tengah Pendampingan Penerapan Teknologi Produksi Padi Sawah, Jagung dan Kedelai melalui kegiatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di kab. Maluku Tengah.
2-5-2014 2-5-2015 1) Terbentuk satu buah dokumen MoU Rintisan
(action plane) yang
ditandatangani oleh BPTP Maluku dengan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten setempat. 2). Koordinasi dan hubungan kerja semakin erat terlihat dengan banyaknya kegiatan yang dikerjasamakan
2. Program dan Anggaran
Pada bagian program dan anggaran di BPTP Maluku mempunyai tugas :
o Membantu kepala Balai dalam menyusun landasan, arah dan prioritas
program pengkajian sesuai dengan mandat Balai, serta menselaraskannya dengan program nasional/pusat.
o Menselaraskan Keterkaitan antar Balai di lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan antar Sub Program di tingkat BPTP Maluku.
o Mengalokasikan dan menetapkan kebutuhan dana Program Penelitian,
Alokasi biaya, Matriks Program Tahunan, Rencana Desiminasi Hasil Pengkaji (RDHP) untuk kegiatan tahun 2013 dan Rencana Kinerja Tingkat Manajemen (RKTM) dan Rencana Operasional Kegiatan Tingkat Manajemen (ROKTM) yang diusulkan
o Melakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan dan serta pembuatan laporan program penelitian
o Menyiapkan bahan laporan bulanan Semester I dan II.
o Menetapkan urutan prioritas Rencana Diseminasi Hasil Pengkaji (RDHP) sesuai dengan isu dan program penelitian tingkat nasional dan kebutuhan daerah setelah konsultasi dengan Kepala Balai
o Menetapkan sebaran kegiatan dan alokasi dana menurut skala prioritas, ketersediaan dana, pemerataan dan kemampuan tenaga dan sarana masing-masing Sub-Program dan/atau Kelti
o Mengalokasikan anggaran pada masing-masing kegiatan yang diselaraskan
dengan anggaran yang tersedia.
Tahun Anggaran 2014 merupakan tahun ke 5 (lima)/terakhir perjalanan rencana strategis BPTP Maluku. Dalam melaksanakan kegiatan yang bersifat spesifik lokasi ada sebanyak 2 (dua) RPTP, terdiri dari : kajian peningkatan produktivitas itik pedaging, dan Kajian perbaikan usaha tani perkebunan pala rakyat di Maluku (PHT dan Pasca panen), 1 (satu) RPTP rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian , pemetaan AEZ skala 1:50.000 dan Pengembangan Sumber Daya Genetik (SDG). 8 RDHP untuk teknologi yang terdiseminasikan ke pengguna, serta kegiatan pendampingan dan program strategis 2 RDHP serta produksi benih 1 RDHP. Kegiatan pengkajian, diseminasi dan manajemen ini didanai oleh APBN sesuai yang tertera dalam Tabel 4. berikut ini.
Tabel 4. Alokasi anggaran berdasarkan kegiatan dalam TA. 2014
No Uraian Kegiatan Pagu DIPA
(000) 11,661,869 I. Belanja Mengikat 6,893,739 1801.994.001 Belanja Pegawai (Pembayaran Gaji dan Tunjangan) 5,842,705
1801.994.002 Penyelenggaraan Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran 1,051,034
II. Belanja Tidak Megikat 4,205,250 1801.003 laporan Pengelolaaan Satker 1,066,436
1801.003.001 Manajemen 1,066,436
1801.003.001.012 Penyusunan Rencana keiatan dan Anggaran 167,962
1801.003.001.013 Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan 74,240
1801.003.001.014 SPI/WBK 14,600
1801.003.001.015 Pengelolaan Website dan Kepustakaan 58,500
1801.003.001.016 Operasional dan Pemeliharaan Laboratorium 7,522
1801.003.001.017 Pemeliharaan Akreditasi Manajemen 29,150
1801.008 Laporan Kerjasama,Pengkajian, Pengembangan dan Pemanfaatan Hasil Litbang
36,680
018 Rintisan Kerjasama dan MoU 36,680
1901.01 Laporan Koordinasi dan Sinkronisasi Kegiatan Satker 106,144
019 Koordinasi dan Sinkronisasi Kegiatan Satker 106,144
1801.013 Teknologi Spesifik Lokasi 773,361
1801.013.001 Kegiatan Pengkajian dan Perekayasaan 773,361
020.A Efektivitas Multi Nutrisi Mineral Organik Sebagai Suplemen pakan dan Antihelmintik Untuk Meningkatkan Produktibitas Kambing
82,623
021.A Pengendalian Hama Penyakit Utama Penggerek Batang dan Penyakit Kanker Batang Pada Pala dan Pengelolaan Pasca Panen Untuk Mengurangi Kandungan Alfatoksin Pada Biji Pala
82,840
021.B Teknologi Penyulingan Minyak Atsiri Dari Biji pala, Buah Pala Muda, Daging Buah Pala, Fuli dan Daun Pala dari beberapa Varietas di Provinsi Maluku
76,432
022.A Pemetaan farming System Zona (1:50.000) di Kabupaten Maluku Tengah 73,920
023 Pengembangan Sumberdaya Genetik 176,330
024.A Kajian Perbaikan Pola Pemeliharaan Itik Lokal Pada Lahan Sawah di Maluku (Lanjutan)
135,000
025 Model Akselerasi Percepatan Pertanian Ramah Lingkungan Lestari (M-AP2RL)
146,216
1801.015 Rekomendasi kebijakan Pembangunan Pertanian 68,712
025 Analisis Kebijakan Pembangunan Pertanian 68,712
1801.016 Penelolaan instalasi Pengkajian 48,920
026 Pengelolaan Kebun Percobaan Makariki 48,920
1801.018 Teknologi Yang Terdesiminasi ke Pengguna 455,974
1801.018.001 Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian dan peningkatan Komunikasi Inovasi Teknologi Penyuluh
027 Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian 455,974
027.A Pameran/Penas/Open House 94,914
027.B Media Cetak 44,000
027.C Siaran Radio/TV Lokal 75,000
027.D Peningkatan Komunikasi dan Koordinasi Akselerasi Inovasi Teknologi Pertanian
242,060
1801.019 laporan Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Inovasi dan Program Strategis Nasional
1,273,791
1801.019.001 Program strategis 1,273,791
028.A Implementasi Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (MP3_MI)
147,520
029.A Pendampingan Kawasan Rumah Pangan Lestari 334,170
029.B Kebun Bibit Inti 50,000
029.C Kebun Bibit desa 160,000
030.A Pendampingan PTT Padi Sawah di 2 Kabupaten 214,484
030.B Pendapingan PTT Jagung di 1 Kabupaten 96,228
030.C Pendampingan PTT Kedelai 82,325
031.A Gugus Tugas Katam Terpadu 73,304
032 Koordinasi Pendampingan PUAP 115,760
1801.025 Produksi Benih 375,232
1801.025.001 Produksi Benih Sumber 375,232
034 Mendukung Diversifikasi Pangan 375,232
III. Belanja Modal 562,880 1801.024 Pengadaan Buku 30,000
1801.024.001.033 Penambahan Buku Koleksi Perpustakaan 30,000
1901.997 Peralatan dan Fasilitas Perkantoran 532,880
035.A Pengadaan Peralatan 91,880
035.B Pengadaan peralatan BPTP Maluku (Poka) 180,000
036.A Pengadaan Meubelair Rumah jabatan Kepala Balai 52,500
036.B Pengadaan meubelair Guest House 64,500
A. Reformasi Birokrasi
1. Peningkatan kapasitas Kelembagaan
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih, BPTP Maluku berkewajiban melaksanakan kebijakan reformasi birokrasi yang telah diimplementasi secara nasional baik dilembaga-lembaga pemerintah maupun institusi pemerintah secara berkelanjutan.
Untuk mendukung reformasi birokrasi tersebut BPTP Maluku wajib menerapkan ISO 9001:2008. Sesuai dengan semangat reformasi dan perubahan birokrasi, BPTP Maluku dituntut untuk memiliki standard performance sesuai standard mutu dalam pelayanan terhadap masyrakat/public dan mempunyai konsistensi dan komitmen terhadap mutu manajemen serta melaksanakan tugas dan fungsi organisasi dengaan baik.
Reformasi birokrasi menuntut adanya perubahan kultur dalam bekerja. Salah satunya berupa disiplin kehadiran dengan mantaati jam kerja. Untuk mendukung hal tersebut, BPTP Maluku telah menerapkan system absensi elektronik untuk meningkatkan disiplin kerja bagi para pegawai. Hasil absensi tersebut secara berkala dilaporkan secara berjenjang ke BBP2TP, Badan Litbang pertanian dan Kementrian pertanian. Selain peningkatan disiplin pegawai, diharapkan setiap aparatur Negara (PNS) dapat memiliki sikap, tindakan dan perilaku yang dapat menginisiasi terciptanya budaya kerja yang efisien, hemat, disiplin tinggi, dan anti KKN sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian no 06/permentan/OT.140/1/2010 tanggal 22 januari 2010.
2. Kondisi dan Kompetensi SDM
Sumberdaya manusia sebagai salah satu input dalam indicator kinerja yang dimiliki BPTP Maluku memegang peranan penting dan strategis dalam mendukung kinerja BPTP Maluku menunju institusi yang akuntabel. Keberhasilan pengembangan SDM pada akhirnya akan meningkatkan kinerja pelaksanaan pengkajian dan diseminasi, serta manajemen institusi.
Keragaan SDM berdasarkan pendidikan, fungsional dan jabatan sebagai berikut :
Keragaan SDM BPTP Maluku berdasarkan fungsional dan jabatannya adalah sebagai berikut : presentase terbesar dari pegawai BPTP Maluku masih didominasi oleh fungsional umum/pegawai penunjang sejumlah 68,5% yang meliputi tenaga administrasi, tenaga ketatausahaan, tenaga keuangan, dan jabatan non fungsional lainnya. Sedangkan jabatan fungsional peneliti 16,9%, fungsional penyuluh 9%, sementara fungsional pustakawan 1%.
Dari keragaan jabatan fungsional dimaksud, diharapkan para pejabat fungsional dapat mengoptimalkan peran dan tupoksi jabatannya masing-masing dalam mendukung visi, misi dan kinerja BPTP Maluku dalam mencapai tujuan organisasinya.
INGKASAN
K
egiatan
In-House
ajian Peningkatan Produktivitas Ternak Kambing di
Maluku
Penanggung jawab kegiatan: Dr. Procula R. Matitaputty, SPt.,MSi
Kambing merupakan ternak ruminansia kecil dengan populasi sebanyak 265.163 ekor (BPS, 2013). Pola pemeliharaan peternak kambing di Maluku masih sangat ekstensif dengan cara melepas ternaknya begitu saja di padang penggembalaan alam tanpa memberikan pakan tambahan. Efek negatif dari pola pemeliharaan yang sangat tergantung pada rumput alam di padang penggembalaan adalah kecukupan nutrisi yang kurang, terutama mineral dan protein, serta infeksi parasit cacing yang tinggi pada ternak.
Kandungan mineral pada hijauan sangat tergantung pada kandungan mineral tanah. Sehingga apaibila tanah kekurangan mineral akan berpengaruh pada kandungan mineral hijauan yang dionsumsi oleh ternak. Hal ini menyebabkan ternak bisa mengalami defisiensi mineral. Defisiensi mineral dapat menyebabkan ternak mengalami penurunan bobot badan, penurunan daya produksi dan reproduksi serta terjadi retensi plasenta, anak yang lahir menjadi lemah dan angka kematian anak yang tinggi (Darmono (2007). Rumput laut dapat dijadikan alternatif untuk pensuplai mineral untuk ternak.
Selain mineral, protein merupakan zat gizi penting yang sangat dibutuhkan oleh ternak kambing untuk pertumbuhan. Tanaman kelor merupakan tanaman legum yang mengandung protein tinggi sehingga bisa mensuplai kebutuhan protein bagi ternak kambing. Selain itu tanaman kelor juga mengandung senyawa alkaloid yang berfungsi sebagai anti cacing (anthelminthik). Menurut beberapa peneliti tanaman kelor mengandung protein sekitar 28.25% (Zakaria et, al. 2012) dan mengandung senyawa athelmintik yang berfungsi sebagai pencegah cacing (Khodijhah. 2010) ). Tanaman kelor yang diberikan dalam bentuk suplemen dapat meningkatkan bobot badan kambing 107 g/e/hari (Marhaniyanto, 2012).
Perpaduan antara rumput laut sebagai sumber mineral organik dan kelor sebagai sumber protein dan antelmintik dalam bentuk suplemen diharapkan dapat mengatasi kekuranan mineral. Protein dan infeksi cacing sehingga bisa
meningkatkan produktivitas ternak kambing. Penelitian ini bertujuan untuk Menghasilkan produk suplemen herbal multi nutrisi mineral organik (HMNMO) dan mengetahui efektivitas herbal multinutrisi mineral organic terhadap pertambahan bobot badan ternak kambing.
HNMNMO dibuat ada 2 terdiri dari HMNMO-I (sumber mineral berasal dari top mix) dan HMNMO-II (sumber mineral rumput laut). Bahan penyususn HMNMO adalah kelor, dedak, tapioka, semen, garam, gula aren dan sumber mineral: rumput laut/top mix. Pengujian efektifitas HMNMO dilakukan secara in vitro dan in vivo.
Pengujian in vitro menggunakan Rancangan Acak lengkap dengan perlakuan terdiri dari: 1). 100% hijuan (kontrol), 2). 25% HMNMO-I, 3). 50% HMNMO-I, 4) 25% HMNMO-II dan 50% HMNMO-II. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diamati adalah kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO) dan konsentrasi NH3. Data dianalisis menggunakan analisis sisik
ragam (ANOVA) dan jika terjadi perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil..
Pengujian in vivo menggunakan 8 ekor ternak kambing unsex. perlakuan terdiri dari pemberian HMNMO-II (yang mengandung rumput laut) pada 4 ekor kambing dan pola petani juga menggunakan 4 ekor kambing. Parameter yang diamati adalah : konsumsi BK, pertambahan bobot badan, Kecernaan bahan kering, kecernaan protein kasar, kecernaan serat kasar dan kecernan abu, dan kecernaan bahan organik. analisis data menggunakan uji T.
Hasil analisa proksimat HMNMO-I dan HMNMO-II untuk kandungan protein, SK dan lemak tidak terlalu berbeda, perbedaan yang besar hanya pada kandungan
abu yaitu masing-masing 12,89 dan 26,33%. Hasil pengujian KCBK, KCBO dan NH3
pada uji in vitro disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Tingkat kecernaan Bahan Kering (KCBK), KCBO dan NH3 secara in vitro
Hijauan Biasa HMNMO-1 25% HMNMO-1 50% HMNMO-2 25% HMNMO-2 50% KCBK (%) 74.7 76.8 82.3 77.78 82.24 KCBO (%) 72.83 74.5 80.4 76.76 81.37 NH3 (mM) 16.17 4.03 10.89 21.77 24.80
Hasil pengujian in vivo menunjukan bahwa terdapat perbedaan antara ternak kambing yang diberi HMNMO-II dan pola petani terhadap semua parameter yang diamati (Tabel. 2).
Tabel 2. Pengaruh pemberian HMNMO-II dan tanpa HMNMO (pola petani) pada ternak kambing
Parameter Pemberian HMNMO-II Tanpa HMNMO (pola
petani)
Rataan Konsumsi BK
hijauan (gram/hari)
424.65 528.94
Rataan konsumsi HMNMO (gram/hari) 108.31 - Total konsumsi BK (gram/hari) 532.96 528.94 Konsumsi PK (gram/hari) 85.68 68.13 PBB (g/e/h) 21.11 -18.35 KCBK (%) 79.37 56.42 KCPK (%) 82.10 68.13 KCSK (%) 76.12 71.62
ajian Perbaikan Usahatani Perkebunan Pala
(
Myristica spp
) Rakyat Di Maluku Pengendalian
Hama Penyakit Utama Tanaman Pala
Penanggung jawab Kegiatan: Ir. Marietje Pesireron, MP.
Hasil pengkajian identifikasi awal pertanaman pala di Desa Pulau Ay, Kecamatan Banda Naira, Kabupaten Maluku Tengah terindikasi adanya keberadaan hama penggerek batang (Batocera hercules). Hama ini termasuk dalam ordo Coleoptera dan family Cerambycidae yang merupakan hama penting dan hama utama yang menyerang tanaman pala. Gejala serangan hama ini terlihat lubang pada batang tanaman pala dimana larva membuat lubang gerekan dan masuk menggerek ke dalam batang tanaman, ranting/cabang terlihat kering, dan pada serangan berat dapat menimbulkan kematian tanaman pala. Imago atau kumbang serangga hama ini yang ditemukan dilokasi pengkajian melalui pengamatan langsung sekitar 10 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi tanaman pala dilokasi pengkajian perlu dilakukan tindakan pengendalian.
Kondisi tanaman pada umumnya berumur diatas 25 – 150 tahun, sebagian besar bekas peninggalan perkebunan bangsa Belanda (Ondernaming) dan masih berproduksi. Rata-rata 3000 - 5000 buah pohon.
a. Hasil Identifikasi Serangan Hama dan penyakit Utama
Hasil identifikasi di lapangan menunjukkan bahwa dari setiap 1 hektar terdapat kurang lebih 3 sampai 10 pohon pala yang terserang hama penggerek batang dengan jumlah lubang > 3 lubang per pohon yang masih mengeluarkan cairan dan penyakit kanker batang dengan presentase serangan sekitar 30 - 50 %, pada umumnya terjadi serangan pada pohon yang sama namun masih bisa
menghasilkan buah sedang sekitar 3 – 5 pohon pala mengalami kekeringan dan mati
akibat serangan hama penggerek batang dan penyakit kanker batang dengan intensitas serangan 100 %. Serangan Batocera hercules juga telah dilaporkan oleh Munaan (1991) di daerah Sulawesi Utara dengan intensitas serangan 17 - 24% dan dapat menurunkan produksi pala sampai 24% (Harni, 2011).
Gambar 1. Ulat penggerek batang yang di temukan di lobang gerekan pada tanaman yang sudah mati akibat serangan dan dilakukan eradikasi dan dibakar.
b. Tindakan Pengendalian Hama dan penyakit Utama
Tindakan eradikasi dengan cara menebang dan membakar pohon pala yang terserang sehingga kering dan mati, agar tidak terjadi eksploitasi hama dan penyakit ke pohon pala yang sehat. Tanaman yang terserang yang masih hidup dilakukan aplikasi perlakuan sesuai dengan Komponen PHT yang di kaji adalah beberapa kombinasi teknologi pengendalian yang menjadi paket pengendalian yaitu :
1. (P0) Kontrol (pola petani tanpa pengendalian).
2. (P1) Sanitasi + Furadan 3 G (100 g/pohon) yang diberikan secara larikan dalam bentuk lingkaran dengan jarak 30 Cm dari pohon
3. (P2) Sanitasi + Beauvaria basiana spp (20 g /pohon) diberikan dengan cara masukan ke dalam lubang gerekan dan ditutup dengan parafin
4. (P3) Sanitasi + Arang tempurung (50 g/pohon) di masukkan ke dalam lubang gerekan dan ditutp dengan parafin + GH 10 cc/5 liter Air di semprot pada lingkaran tajuk terluar dari pohon pala
5. (P4) Sanitasi + Arang tempurung (50 g/pohon) diberikan dengan cara masukan ke dalam lubang gerekan dan ditutup dengan parafin + M2C 10 g/5 liter air di semprot pada lingkaran tajuk terluar dari pohon pala
Petani kooperator yang terlibat terdiri dari 4 orang yaitu Bapak Henson Banufinit, Bpk Saman, Bapak Timmerman, Bapak Piritsz.
Hasil pengamatan di lapangan sebelum aplikasi perlakuan tahap I menunjukkan serangan hama penggerek batang yang disebabkan oleh hama
Batocera hercules pada tanaman pala merupakan serangan primer kemudian diikuti serangan sekunder penyakit kanker batang pala. Hal ini terlihat gejala batang berlubang, hampir selalu diikuti penyakit kanker. Diduga hama dan penyakit muncul akibat stimulus pembusukan batang hasil gerekan hama. Presentasi serangan
mencapai 20 – 50% dari setiap 1 hektar terdapat kurang lebih 3 sampai 10 pohon
pala yang terserang hama penggerek batang dengan jumlah rata lubang gerekan 3 lubang per pohon dengan tinggi dari permukaan tanah rata-rata 1 – 2,5 meter. Kegiatan pengendalian dilakukan untuk setiap blok perlakuan terdiri dari 10 pohon tanaman pala yang dulang 4 kali sehingga total 120, yang tersebar dihamparan perkebunan pala sekitar 25 hektar, dari total luasan perkebunan pala hasil peninggalan Belanda (Onderneming) yang ada sekitar 38 hektar. Tanaman yang masih menghasilkan dan tanaman yang baru dilakukan peremajaan. Tanaman yang terserang yang masih hidup dilakukan aplikasi perlakuan tahap kedua sesuai dengan petunjuk.
Gambar 2. Hama Batocera hercules betina dan jantan yang ditemukan di tanaman pala
Penerapan beberapa paket teknologi PHT hama penggerek batang (B.
hercules) pada tanaman pala di Kecamatan Banda Naira, Kabupaten Maluku Tengah merupakan kegiatan tahun pertama (TA. 2014) dan mendapat apresiasi dari petani. Petani tanaman pala mendapat pengetahuan tentang populasi hama penggerek batang ini Tim pengkaji peneliti dan teknisi BPTP Maluku memberikan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan hama B. Hercules. Pengenalan serangga hama seperti biologi (telur, larva, pupa, dan imago/kumbang) serta ekologi (berhubungan dengan perilaku, cara hidup, habitat, dan proses perkembangbiakan) dapat
membantu petani pala dalam mengatasi hama ini secara langsung agar sumber-sumber perkembangbiakan hama ini dapat di kurangi.
Sanitasi merupakan tindakan pengendalian membersihkan dan memusnakan tempat-tempat yang dianggap tempat sarang serangga hama berupa pohon atau kayu bekas lubang gerekan agar telur, larva, pupa, dan imago/kumbang tidak berkembang.
Tabel 1. Hasil pengamatan rerata tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah ranting/cabang tanaman pala yang terserang hama penggerek batang (Batocera hercules) sebelum dan sesudah aplikasi perlakuan di desa Pulau Ay, Kecamatan Banda Naira, Kab. Maluku Tengah
Perlakuan
Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan
Tinggi Tanaman (m) Lingkar Batang (cm) Jumlah Pucuk Ranting/Cabang (tengah ke atas) yang Terserang Jumlah Ranting/Cabang (tengah ke bawah) yang Terserang Jumlah Pucuk Ranting/Cabang (tengah ke atas) yang Terserang Jumlah Ranting/ Cabang (tengah ke bawah)yang Terserang Sanitasi + Pestisida (Furadan 3-G) 16.37 37.10 2.03 a 2.45 b 2 b 2 b Sanitasi + Bioinsektisida (Beauveria bassiana) 14.23 28.14 2.50 b 2.13 a 1 a 0.5 a Sanitasi + Arang Tempurung +Pupuk Organik Cair (GH) 16.12 24.25 2.18 a 2.55 b 2 b 2 b Sanitasi + Arang Tempurung + Pupuk Organik Bubuk (M2C) 16.69 28.92 2.33 ab 2.20 a 2 b 2 b Kontrol 15.1 30.43 5.2 c 5.1 2 c 6.3 c 6 c
Parameter pengamatan tinggi tanaman, lingkar batang dan jumlah pucuk atau ranting yang terserang sangat berpengaruh terhadap persentase tingkat serangan (Tabel 1). Hasil pengkajian paket teknologi PHT memberikan pengaruh terhadap perkembangan komponen vegetative maupun generatif tanaman pala dimana persentase serangan mengalami penurunan setelah dilakukan perlakuan pengendalian dibandingkan dengan kontrol. Presentase tingkat serangan hama pada tanaman di blok perlakuan sebelum aplikasi perlakuan menunjukkan bahwa, P1
lebih rendah yaitu 20,32% namun, tidak berbeda nyata dengan persaentase tingkat serangan pada P3 sedangkan berbeda nyata dengan P2, P4 dan P0. Persentase tingkat serangan hama pada tanaman sesudah perlakuan menunjukkan bahwa tingkat serangan terrendah yaitu pada P2 15,3% tidak berbeda nyata dengan P2 dan P3 namun berbeda nyata dengan P4 dan P0 (Tabel 2).
Tabel 2. Hasil pengamatan rerata jumlah pohon terserang, jumlah lubang gerekan, tinggi lubang gerekan, persentase serangan, intensitas serangan hama penggerek batang (Batocera hercules) sebelum dan sesudah aplikasi perlakuan pada tanaman pala di desa Pulau Ay, kecamatan Banda naira, Kab.Maluku tengah
Perlakuan
Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan Jumlah Pohon terserang Jumlah Lubang Gerekan Rata-rata Tinggi Lubang gerekan (cm) Persentase Serangan (%) Intensitas serangan Persentase Serangan (%) Intensitas Serangan (%) Sanitasi +Pestisida (Furadan 3-G) 2 3 174.59 20,32 a 18.12 a 15,24 a 16.4 a Sanitasi+ oinsektisida (Beauveria bassiana) 3 3 193.90 30,71 b 20.2 b 20.4 b 15.3 a Sanitasi + Arang Tempurung + Pupuk Organik Cair (GH) 2 3 220.33 20,26 a 19 a 18.5 a 17.10 ab Sanitasi+Arang Tempurung + Pupuk Organik Bubuk (M2C) 3 3 143.76 30,42 b 28.6 c 25.2 c 25.6 b Kontrol 5 6.3 191.48 52.41c 47.1 d 55,4 d 48.5 c
Pengaruh aplikasi perlakuan terhadap Persentase serangan hama penggerek batang sesudah aplikasi perlakuan menunjukkan bahwa, dari ke empat perlakuan yang sangat efektif yaitu Sanitasi + Bioinsektisida (Beauveria bassiana) dimana sebelum perlakuan sebesar 30,71% sesudah perlakuan mengalami penurunan sebesar 10,3 % menjadi 20,4% dan intensitas serangan mengalami penurunan sebesar 4,9%; kemudian diikuti perlakuan Sanitasi + Arang Tempurung + Pupuk Organik Bubuk (M2C) sebelum perlakuan sebesar 30,42% sesudah perlakuan mengalami penurunan sebesar 5,2% menjadi 25,2%, dimana intensitas serangan juga mengalami penurunan sebesar 3%. Sedangkan perlakuan sanitasi + Pestisida (Furadan 3-G) persentase serangan sebelum perlakuan sebesar 20,32% sesudah
perlakuan mengalami penurunan sebesar 5% menjadi 15,24% dan intensitas serangannya mengalami penurunan sekitar 1,7%; Sanitasi+Arang Tempurung + Pupuk Organik Cair (GH) sebelum perlakuan sebesar 20,26% sesudah perlakuan mengalami penurunan sebesar 1,76% menjadi 18,5%, sedangkan intensitas serangan mengalami penurunan sebesar 1,9%. Kontrol terjadi peningkatan persentase serangan sebesar 2,99% dari 52,41% menjadi 55,4% dan intensitas serangan juga mengalami peningkatan 1,4% (Tabel 2).
Jamur B. bassiana adalah jamur entomopatogen yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai mikoinsektisida atau bioinsektisida (Dunn dan Mechalas, 1963; Feron, 1978; Vales dan Benavides, 1990). Produksi spora untuk skala industri besar menggunakan medium cair yang dapat menghasilkan miselium atau blastospora dalam waktu singkat dan tidak memerlukan banyak tenaga.
Gambar 3. Penggunaan jamur Beauveria bassiana
dan
Imago yang terinveksi Beauveria bassianaJamur patogen ini bersifat polifag yang menyerang lebih dari 20 jenis serangga yang umumnya dari ordo Lepidoptera dan Coleoptera. Serangga yang terinfeksi B bassiana menunjukkan tanda-tanda gerakannya lambat, kemudian menjadi diam dan akhirnya mati. Tubuh serangga menjadi mengeras (mengalami mumifikasi) dan terlihat warna putih pada permukaannya. Warna putih tersebut merupakan hifa jamur dan konidianya (Vales dan Benavides, 1990). Pengembangan
B. bassiana untuk pengendalian hama mempunyai potensi dan prospek baik. Patogen ini bersifat spesifik inang dan lokasi sehingga tidak berbahaya bagi manusia, musuh alami maupun lingkungan. Kemampuan produksi spora yang berbeda tersebut dapat terjadi karena mempunyai materi genetik yang berbeda
sehingga mempunyai tanggapan terhadap lingkungan berbeda pula atau mempunyai pertumbuhan dan sporulasi yang berbeda.
Penyakit kanker batang merupakan penyakit yang biasa menyerang tanaman pala yang sudah berumur > 30 tahun. Gejala awal berupa bercak-bercak kecil pada cabang, batang kemudian melebar dan basah karena mengeluarkan blendok. Apabila terjadi serangan berat dapat menyebabkan daun rontok,ranting kering dan
akhirnya mati. Penyakit kanker batang diduga disebabkan oleh jamur Pytophthora
palmivara.
Hasil pengkajian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah pohon yang terserang 3 pohon per blok dan jumlah spot serangan penyakit 5 -6 bagian. Persentase tingkat serangan penyakit kanker pada tanaman pala pada blok perlakuan sebelum aplikasi paling rendah tingkat serangannya yaitu pada blok perlakuan pertama (30,1%) tidak berbeda nyata dengan blok pelakuan yang lain. Namun aplikasi perlakuan yang paling efektif yaitu blok ketiga dimana jumlah spot penyakit kanker mengalami penurunan setelah aplikasi perlakuan dilakukan dari 5 menjadi 2 ini ditandai dengan kondisi luka pada batang dan cabang tanaman pala menjadi kering tidak lagi basah dan mengeluarkan cairan, sehingga di indikasi sudah sembuh. Porsentase tingkat serangan mengalami penurunan sebesar 6,4% menjadi 24%. Kemudian diikuti Perlakuan keempat dimana jumlah spot serangan menurun dari 5 menjadi 3 bagian dengan porsentase serangan sebelum aplikasi 30,4 mengalami penurunan 5,9% menjadi 24,5% dan sangat berbeda nyata dengan perlakuan yang lain akibat menggunakan arang aktif tempurung kelapa yang dihaluskan. Sedangkan kontrol jumlah spot serangan menjadi melebar bahkan bertambah dari 5 menjadi 6 porsentase tingkat serangan sebelum 30,7% mengalami peningkatan 11,7% mengadi 42,4% (tabel 3).
Gambar 4. Kondisi tanaman yang terserang penyakit kanker batang
Selanjutnya hasil uji coba dari BBP2TP ( Balai Besar Perbenihan dan Proteksi tanaman Perkebunan) Ambon, dengan menggunakan arang aktif tempurung kelapa untuk pengendalian penyakit kanker batang membuktikan bahwa dapat menekan cairan yang keluar bahkan menyembuhkan tanaman yang terserang penyakit kanker batang. Hal ini disebabkan karena arang aktif tempurung kelapa mampu menyerap dan mengikat cairan yang keluar dari tanaman akibat luka dimana cairan tersebut akan terikat masuk kedalam rongga aktif, sehingga membuat cairan tersebut terserap dan tanaman dapat berproduksi kembali. Arang aktif tempurung kelapa banyak mengandung fenol dan formaldehid yang berfungsi sebagai anti bakteri dan anti cendawan sekaligus sebagai bahan pengawet penganti formalin dan koagulen latek sehingga dinilai sangat berpotensi sebagai pestisida nabati yang tidak dapat membahayakan manusia dan lingkungan. (Warto,2010 diakses di website : Ditjenbun.pertanian.go.id).
Pada umumnya pengendalian hama dan penyakit utama tanaman pala dengan pestisida hayati maupun nabati sangat efektif dan ramah terhadap lingkungan. Sedangkan pengendalian dengan pestisida kimiawi yaitu dengan penggunaan carbofuran (furadan 3-G) untuk hama penggerek batang cukup efektif yaitu dapat menurunkan persentase tingkat serangan sebesar 5% dari 20,32% sebelum aplikasi perlakuan setelak aplikasi perlakuan menjadi 15,24% dengan intensitas serangan dari 18,12% mengalami penurunan hanya sebesar 1,72% menjadi 16,4% (Tabel 2).
Tabel 3. Hasil pengamatan rerata jumlah pohon terserang, jumlah spot penyakit kanker batang, dan persentase serangan penyakit kanker batang (Phytopthora palmifora) sebelum dan sesudah aplikasi perlakuan pada tanaman pala di desa Pulau Ay, kecamatan Banda naira, Kab.Maluku Tengah
Perlakuan
Sebelum perlakuan Sesudah perlakuan Jumlah pohon terserang Jumlah spot penyakit kanker Persentase Serangan (%) Jumlah spot penyakit kanker Persentase Serangan (%) Sanitasi +Pestisida (Furadan 3-G) 3 6 c 30,1 a 4 c 27,2 c Sanitasi + Bioinsektisida (Beauveria bassiana) 3 5 a 30,4 a 3 b 25,6 b Sanitasi + Arang Tempurung + Pupuk Organik Cair (GH) 3 5 a 30,4 a 2 a 24 a Sanitasi+Arang Tempurung + Pupuk Organik Bubuk (M2C) 3 5 a 30,4 a 3 b 24,5 a Kontrol 3 5 a 30,7 a 6 d 42.4 d
Sebaliknya untuk mengendalikan penyakit kanker batang kurang efektif sebab dengan aplikasi furadan 3-G porsentase tingkat serangan penyakit hanya mengalami penurunan sebesar 2,9% dan jumlah spot berkurang 6 menjadi 4 bagian dan ini sangat beresiko terhadap keslamatan manusia dan lingkungan karena cara aplikasinya ada yang dimasukan ke dalam lubang gerekan dan luka akibat penyakit kanker kemudian ditutup dengan parafin dan sebagian di taburi secara melingkar di permukaan tanah sehingga perlu perhatian serius dan kontrol setiap saat karena jika petani atau anak-anak yang memanjat buah dan tidak sengaja mengambil parafin untuk dijadikan mainan dapat mengakibatkan keracunan secara fatal (Tabel 3).
Penggunaan insektisida kimia sebagai pembasmi serangga dapat digunakan dengan memperhatikan dampak negatif penggunaan insektisida kimia terhadap kelestarian alam seperti matinya organisme bukan sasaran, tumbuhnya hama resisten, serta penumpukan residu insektisida pada hasil tanaman dan dalam tanah (Tarumingkeng, 1992). Resistensi dan resurjensi timbul akibat aplikasi insektisida kimia yang tidak bijaksana, sehingga penggunaannya harus tepat sasaran.
ajian Teknologi Penyulingan Minyak Atsiri Pala
(
Myristica fragrans
Houtt)
Penanggung jawab Kegiatan: Ir Saleh Malawat
Provinsi Maluku merupakan salah satu daerah penghasil pala. Tanaman pala berkembang cukup baik dan tersebar di semua wilayah di Maluku, sebagian besar merupakan perkebunan rakyat. Maluku sebagai salah satu daerah sentra penghasil pala umumnya memperdagangkan pala dalam bentuk biji dan fuli. Sedangkan daun pala yang juga mengandung minyak atsiri hanya berupa limbah. Untuk buah pala muda masyarakat belum terbiasa untuk mengolahnya menjadi minyak pala. Hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi penggetahuan tentang teknologi pengolahan minyak atsiri pala. Untuk itu pengolahan minyak atsiri pala dari bagian-bagian (organ) pala yaitu fuli, biji tua, buah muda dan daun perlu dikaji untuk mendapatkan teknologi pengolahan yang mudah dan layak diterima secara ekonomis menguntungkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan minimal satu paket rekomendasi hasil penyulingan minyak atsiri yang terkandung dalam fuli, biji tua, buah muda dan daun pala dari varietas pala banda di Provinsi Maluku. Pengkajian ini terdiri atas dua perlakuan yaitu perlakuan pertama cara penyulingan (A) dimana A1= penyulingan kukus, A2 = penyulingan uap. Perlakuan kedua bagian (organ) dari pala (B), dimana B1 = fuli kering, B2=biji tua, B3 = buah pala muda, B4 = daun pala. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan perlakuan 2 x 4 x 3 ulangan = 24 kombinasi perlakuan dan dilanjutkan dengan uji BNJ. Parameter yang diamati meliputi : warna, bau, berat jenis, indeks bias, putaran optik, kelarutan dalam etanol, sisa penguapan, Myristisin, dan Sabinen.
Hasil pengamatan terhadap uji fisik parameter warna menunjukan bahwa semua perlakuan memberikan warna berwarna kuning pucat. Untuk parameter bau menunjukan bahwa semua perlakuan memberikan bau khas pala. Hasil pengujian berat jenis dengan viknometer terhadap minyak pala menunjukan bahwa perlakuan fuli penyulingan kukus (A1B1) memberikan nilai tertinggi 0,898. Hasil pengujian indeks bias dengan refraktometer terhadap minyak pala menunjukan bahwa perlakuan daun
pala penyulingan kukus (A1B4) dan daun pala penyulingan uap (A2B4) memberikan nilai tertingi yaitu 1,484.
Gambar 1. Bahan Baku dan Alat Penyulingan Pala
Hasil pengujian putaran optik dengan polarimeter terhadap minyak pala menunjukan bahwa perlakuan buah muda penyulingan uap (A2B3) memberikan niali tertinggi nilai +12,95. Hasil pengujian sisa penguapan terhadap minyak pala menunjukan bahwa perlakuan biji pala tua penyulingan uap (A2B2) dan perlakuan daun pala penyulingan uap (A2B4) memberikan nilai terbaik yaitu 0,46. Hasil pengujian kelarutan dalam etanol terhadap minyak pala menunjukan bahwa semua perlakuan memberikan nilai kelarutan 1:1 larut, kecuali perlakuan A1B2 dan perlakuan A2B1 kelarutan dalam etanol 1:2 larut. Hasil pengamatan terhadap kandungan Myristisin
dengan metode kromatografi gas (GC) terhadap minyak pala menunjukan bahwa perlakuan buah pala muda penyulingan uap (A2B3) memberikan nilai tertinggi yaitu
11,12. Hasil pengamatan terhadap kandungan Sabinen dengan metode kromatografi
gas (GC) terhadap minyak pala menunjukan bahwa perlakuan buah pala muda penyulingan uap (A2B3) memberikan nilai tertinggi yaitu 21,54. Hasil pengujian terhadap rendemen minyak perlakuan buah muda penyulingan uap (A2B3) memberikan rendemen tertinggi yaitu sebesar 10,7%. Untuk analisis finasial nilai B/C perlakuan buah muda penyulingan uap (A2B3) memberikan nilai B/C tertinggi yaitu sebesar 1,63 dengan nilai tambah per satuan sebesar Rp. 37.115,-.
ajian Perbaikan Pemeliharaan Itik Petelur Pada
Petani Lahan Sawah di Maluku
Penanggung Jawab Kegiatan: Dr. Procula R. Matitaputty, SPt., MSi
Kemampuan produksi itik sangat bervariasi dan masih rendah, diduga akibat mutu bibit dan pemberian pakan yang belum sesuai dengan kebutuhan itik. Upaya meningkatkan produktivitas itik lokal dapat dilakukan melalui perbaikan genetis dan perbaikan lingkungan (perbaikan pakan) dan pemeliharaan. Perbaikan genetis membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang sangat besar. Perbaikan lingkungan seperti halnya perbaikan pakan lebih mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Sistem pemeliharaan intensif memerlukan penyediaan faktor-faktor produksi yang berkualitas terutama temak bibit dan pakan untuk mencapai kelayakan ekonomi. Tujuan dari kegiatan ini adalah menghasilkan formula ransum itik Petelur berbahan baku local pada itik petelur local dan melihat performa dan produksi telur yang dihasilkan. Keluaran yang diinginkan adalah tersedia satu paket formula ransum berbahan baku lokal yang dapat diaplikasi oleh peternak itik dan tersedia paket data performa dan produksi telur itik petelur local.
Perlakuan yang dilakukan dalam kaijian ini ada 2, yakni pola petani dan pola perbaikan. Pada pola petani, ternak itik sebanyak 50 ekor ditempatkan pada10 petakan, masing-masing petak terdiri atas 5 ekor itik. pakan diberikan sesuai dengan kondisi yang setiap harinya diberikan oleh petani, sementara pola perbaikan, jumlah itik yang digunakan sebanyak 50 ekor dan ditempatkan sama dengan yang dilakukan pada pola petani, hanya saja yang membedakannya adalah perlakuan pakan, yang diberikan disusun sesuai dengan rekomendasi tim pengkaji. Bahan pakan tim pengkaji terdiri atas : dedak padi 35%, jagung giling 35%, ela sagu 15%, tepung ikan 11%, rumput laut 5%. Sementara pola petani hanya memberikan dedak padi, hijau kangkung dan gabah padi tanpa batas. Dengan memperhatikan bobot badan dan umur pertama bertelur, bobot telur, indeks telur, produksi telur dan analisis kandungan iodium telur, serta analisis kandungan gizi pakan.
Hasil kajian penggunaan bahan lokal sebagai penyusun pakan itik petelur setelah dianalisis berdasarkan jenis bahan hasilnya dapat dilihat pada Tabel. dibawah ini.
Tabel 1. Hasil analisis pakan kajian (buatan sendiri) dan beberapa bahan penyusun pakan itik petelur
N o Jenis Bahan Air g/100g Protein g/100g Lemak g/100g Energi Kcal/kg Serat Kasar g/100g Abu g/100g Ca g/100g P g/100g Fe Mg/ kg Zn Mg/ kg 1 Pakan kajian 11,01 15,72 4,57 3817 8,70 8,80 0,46 0,63 * * 2 Ela sagu 11,60 1,99 0,49 3258 7,44 7,16 0,33 <0,01 * * 3 Rumput Laut 17,86 2,52 0,62 1709 5,77 47,26 0,26 0,05 148 64 4 Tp Ikan 5,48 76,72 3,69 4567 0,09 14,06 2,30 2,15 * * 5 Dedak padi 7,69 7,60 7,25 * * 12,99 * * * * Sumber : BPTP Maluku
Menurut Hardjosworo et al, (2001) menyatakan bahwa produksi telur itik dapat tinggi apabila : 1) itik-itik dalam kelompok tersebut unggul; 2) itik-itik mulai bertelurnya relatif serempak; 3) manajemen terhadap itik sesuai dengan yang dibutuhkan ternak itik. Saat itik memasuki masa produksi atau layer yang harus ciptakan adalah agar kondisi ternak harus dalam keadaan tetap stabil. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :
1. Ketenangan dan kenyamanan kandang dan lingkungan sekitarnya. 2. Kesehatan dan kebersihan kandang.
3. Ketepatan pemberian ransum. Artinya pemberian ransum harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan itik baik nutrisi maupun jumlahnya.
Beberapa upaya untuk meningkatkan produktivitas itik petelur, dengan memperhatikan :
1. Umur masak kelamin berdasarkan ciri-ciri itik 2. Bobot badan pertama bertelur
3. Produksi telur harian (duck day) 4. Bobot telur pertama
Tabel 2. Bobot pertama bertelur, bobot telur, umur pertama bertelur itik local selama kajian.
Uraian Betina
Bobot badan pertama bertelur (g) 1. Pola petani
2. Pola perbaikan
1459,45 1403,17 Bobot Telur pertama (g)
1. Pola petani 2. Pola perbaikan
42,00 44,57 Umur pertama bertelur
1. Pola petani 2. Pola perbaikan
6,3 bulan 6,1 bulan Sumber : BPTP Maluku
Produksi telur merupakan salah satu sifat penting yang bernilai ekonomis dari performan unggas petelur. Informasi tentang kemampuan produksi itik lokal diperlukan untuk peningkatan produktivitas ternak itik kedepan. Gambar 1. memperlihatkan data produksi telur itik yang dilakukan melalui pola perbaikan dan pola petani. Data total produksi telur itik selama kegiatan pengkajian untuk pola perbaikan sebanyak 3692 butir sedangkan untuk pola petani sekitar 946 butir. Pada pola perbaikan, untuk produksi telur masih jauh dari apa yang kita harapkan, kedepannya harus memperbaiki kualitas bibit itik lokal yang ada di Maluku, agar supaya peningkatan produksi telur lebih tinggi lagi. Masalah kualitas pakan rasanya sudah dapat memenuhi kebutuhan itik yang ada dengan bahan baku lokal yang tersedia cukup banyak, hanya tinggal bagaimana menyeleksi itik-itik yang ada untuk dapat dijadikan sebagi bibit unggul petelur.
Nilai indeks sebutir telur menandakan bahwa telur tersebut oval, lonjong atau bulat (Suherlan, 2003). Menurut Sigandono (1991) menyatakan bahwa indeks telur itik yang normal adalah berkisar antara 63,3 sampai 81,7%.
Tabel 3. Indeks telur itik lokal, selama kajian.
Uraian Panjang (mm) Lebar (mm) Index (%)
Pola perbaikan 57,53 44,03 76,66
Pola petani 57,23 44,36 77,51
Hasil analisis kandungan gizi telur itik yang di pelihara melalui pola perbaikan dan pola petani menunjukkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4. Hasil analisis kandungan gizi telur selama kajian
Jenis /
Kode Air Protein Lemak GE SK Abu Ca P Kolesterol Contoh g/100g g/100g g/100g kcal/kg g/100g g/100g g/100g g/100g g/100g
Telur Itik*)
74,44 11,40 11,33 1888 0,14 1,30 0,07 0,16 160
Telur Itik**) 75,06 12,70 9,72 1649 0,87 0,87 0,05 0,16 199
Keterangan : *) Pola Petani; **) Pola Perbaikan
Gambar 1. Grafik produksi telur itik selama 9 bulan
Kegiatan penyuluhan dan pelatihan berupa materi tentang bagaimana caranya memelihara itik dengan sistem pemeliharaan intensif, bagaimana caranya membuat ransum itik berbahan baku lokal, bagaimana caranya pengelolaan hasil panen berupa telur yang dibuat menjadi telur asin dengan berbagai rasa dan penyuluhan tentang penyakit itik yang sering dijumpai peternak itik. Penyuluhan dan pelatihan mendapat respons yang sangat baik dari peserta, dengan mengikuti kegiatan sampai selesai dan tertarik untuk beternak itik selain usaha tani hortikultura (sayuran dan buah), atau ternak sapi dan ayam buras saja.
0 200 400 600 800 1000 Pola Perbaikan Pola Petani
engelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman
di Maluku
Penanggung jawab Kegiatan: Dr Ir Janes B. Alfons MS
Inventarisasi SDG di Maluku dilaksanakan dengan pendekatan Gugus Pulau. Mengingat provinsi Maluku terdapat 12 Gugus Pulau meliputi 11 Kabupaten/Kota dan terbatasnya dana, maka inventarisasi tahun 2014 yang terfokus pada empat Gugus Pulau yaitu Gugus Pulau I (kabupaten Buru Selatan), Gugus Pulau II (kabupaten Seram Bagian Barat), Gugus Pulau V (kabupaten Maluku Tengah Bagian Selatan) dan Gugus Pulau VII (kota Ambon)
Jenis tanaman yang menjadi fokus inventarisasi adalah tanaman pangan potensial potensial (padi gogo, hotong, kacang-kacangan, cocoyams, sukun), hortikultura buah spesifik (pisang tongkat langit, gandaria, lacing, salak, durian spesifik), dan perkebunan spesifik (cengkeh, pala, kelapa, kakao).
P
Keragaman sumberdaya genetik tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan dibedakan atas lahan pekarangan dan luar lahan pekarangan (tegalan/kebun). Pemisahan ini disebabkan karena perbedaan komoditas dan intensitas penangan antara kedua lokasi ini oleh para petani.
Hasil indentifikasi sumberdaya genetik pada empat Gugus Pulau (Gugus Pulau I, Gugus Pulau II, Gugus Pulau V, Gugus Pulau VII), terdapat sebanyak 78 spesies tanaman dengan 347 aksesi yang tersebar di seluruh wilayah penelitian (4 kabupaten) meliputi 7 spesies dan 25 aksesi tanaman pangan, 13spesies dan 76 aksesi tanaman perkebunan, serta 58spesies dan 246 aksesi tanaman hortikultura.
Karakterisasi Sumber Daya Genetik tanaman spesifik di Maluku yang telah dilakukan meliputi: (a) sembilan spesies dan 24 aksesi tanaman hortikultura buah spesifik; (b) tiga spesies dan tiga aksesi tanaman perkebunan spesifik; dan (c) dua spesies dan dua aksesi tanaman pangan potensial.
Kegiatan inventarisasi sumber daya genetik dan konservasi ex-situ tanaman spesifik memberi manfaat yaitu terkoleksi dan terpelihara sumber daya genetik tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan sepesifik secara berkelanjutan. Konservasi ex-situ telah dilakukan terhadap tanaman hasil inventarisasi dan eksplorasi (2013 dan 2014) maupun tanaman koleksi di KP Makariki meliputi; (1) tanaman pangan potensial yaituubi kayu (17 aksesi); jagung (14 aksesi), talas (tiga aksesi), keladi (satu aksesi), dan kentang gantung (satu aksesi); (2) tanaman hortikultura buah yaitu; pisang (14 aksesi), durian (tiga aksesi), dan salak (dua aksesi), dan (3) tanaman perkebunan spesifik yaitu;cengkeh (tiga aksesi), pala (empat aksesi) dan kelapa (empat aksesi).
Sumber daya genetik di kota Ambon memiliki keragaman lebih tinggi dibandingkan dengan tiga kabupaten lainnya (Seram Bagian Barat, Buru Selatan dan Maluku Tengah) dengan nilai H (Shanon Indeks) tertinggi 3,19 (lahan pekarangan) dan 2,80 (luar lahan pekarangan/tegalan). Sedangkan kemiripan spesies antara empat kabupaten (empat Gugus Pulau) sangat rendah dengan nilai SC (Sorensen Coeffien) < 1 baik di lahan pekarangan (0,13 – 0,36) maupun di luar lahan pekarangan/tegalan (0,16 – 0,40).
Komisi Daerah (KOMDA) SDG telah terbentuk dengan diterbitkanya SK Gubernur No:………. dengan komposisi terdiri atas; (I) Pelindung/Penasehat, (II) Pengarah, dan (III) Pelaksana Harian (Pengurus Inti dilengkapi oleh 5 Kelompok Kerja Bidang SDG).
ewilayahan Komoditas Pertanian Berdasarkan Zona
Agroekologi, Skala 1:50.000 Di Kabupaten Maluku Tengah
Provinsi Maluku
Penanggung jawab Kegiatan: Edwen D. Waas SP
Pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan zona agroekologi, skala 1:50.000, di Kabupaten Maluku Tengah, dimaksudkan untuk mendapatkan data dan informasi sumberdaya lahan. Data dan informasi sumberdaya lahan yang dihasilkan melalui identifikasi dan evaluasi sumberdaya lahan. Data dan informasi sumberdaya lahan menghasilkan kesesuaian lahan komoditas unggulan dan arah pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan ZAE. Penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian skala 1:50.000, dilakukan melalui beberapa tahapan metodologi, yaitu: inventarisasi sumberdaya lahan, evaluasi kesesuaian lahan, dan pewilayahan komoditas. Semua data diolah dalam format data base, baik data tabular maupun spasial.
Dari hasil kajian evaluasi kesesuaian menunjukan bahwa di Kabupaten Maluku Tengah lahan yang tergolong sesuai (S) untuk pengembangan komoditas pertanian seluas 424.536 ha (48,87%), dan tidak sesuai (N) seluas 444.236 ha (51,13%). Lahan yang tidak sesuai tersebut mempunyai kendala berupa: lereng terjal (>40%), kedalaman tanah dangkal (<25%), bahaya toksisitas (xc), darinase tanah sangat buruk/lahan tergenang (oa), tekstur tanah pasir (rc). Lahan sesuai untuk pengembangan padi sawah , seluas 131.574 ha (14,77%), untuk komoditas jagung seluas 179.202 ha (20,63%), untuk komoditas kedelai seluas 137.18 ha (15,79%), untuk komoditas kelapa sawit 229.817 ha (26,45%), untuk komoditas kakao seluas (424.537 ha (48.87%), untuk komoditas kopi seluas 41.080 ha (47,89%), untuk komoditas jeruk seluas 175.508 ha (20,20%), untuk komoditas pisang seluas 165.176 ha (19,01%), Pewilayahan komoditas pertanian di Kabupaten Maluku Tengah dikelompokan menjadi 9 sistem pertanian dan 31 satuan pewilayahan komoditas. Sistem budidaya pertanian lahan basah mencakup dengan luas 37.104 ha (4,27%), termasuk dalam zona IV dengan kelerengan <3% dengan komoditas padi sawah, jagung, kedelai, jeruk dan pisang. Sistem pertanian lahan kering, termasuk dalam zona IV, III, dan II, seluas 150.073 ha (17,27). Komoditas
pertartanian yang disarankan berupa komoditas tanaman pangan, tanaman tahunan/perkebunan, dan hortikultura. Pembudidayaan komoditas dapat secara tumpangsari atau monokultur. Lahan yang diperuntukan sebagai kawasan konservasi berupa hutan lahan basah seluas 10.018 ha (1,15%) dan hutan lahan kering seluas 51.112 ha (5,88%) serta berstatus kawasan hutan seluas 616.071 ha (70,91%).
INGKASAN
D
iseminasi
I
novasi
T
eknologi
P
ertanian
iaran TV lokal
Penanggung Jawab Kegiatan: Ir Hamid Mahu
Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan banyak inovasi teknologi meliputi teknologi budidaya dan pasca panen berbagai komoditas unggulan nasional dan daerah serta inovasi kelembagaan. Namun hingga saat ini masih sedikit yang diadopsi oleh pengguna teknologi.
Siaran televisi merupakan suatu metode penyuluhan yang berfungsi untuk mempengaruhi indra penglihatan dan pendengaran. Metode ini dianggap efisien digunakan pada daerah-daerah kepulauan seperti Provinsi Maluku, karena mampu menjangkau sasaran dalam jumlah banyak. Keberhasilan metoda ini akan sangat tergantung bagaimana naskah disusun dan dikombinasikan dengan gambar visual yang tepat. Tujuannya agar pesan yang disampaikan mudah diterima dan dicerna oleh pemirsa yang menyaksikan siaran tersebut.
Telah dilakukan shoting terhadap tiga kegiatan utama dan telah disiarkan melalui televisi Republik Indonesia stasiun Maluku pada bulan Agustus dan Nopember dengan durasi penyiaran selama 30 menit.
Penyiaran inovasi berbuah produktivitas dengan tema utama peran BPTP Maluku dalam meningkatkan produktivitas tanaman padi di Maluku
Penyiaran terhadap kegiatan pendampingan SL-PTT dan UPBS diharapkan memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan produktivitas padi. Namun hingga saat ini perannya belum begitu nampak. Salah satu penyebabnya adalah diseminasi terhadap program ini belum mampu menjangkau masyarakat dalam cakupan jumlah dan luasan wilayah yang memadai.
Kegiatan pendampingan SL-PTT padi dan UPBS oleh BPTP Maluku meliputi : 1. Display beberapa varietas unggul baru Badan Litbang Pertanian seperti
Inpari 23, 24, 25, dan 26. Dalam pelaksanaannya diterapkan melalui pendekatan PTT seperti, sistem tanam jajar legowo 2 :1 dan 4:1, pemupukan spesifik lokasi berdasarkan status hara tanah menggunakan
perangkat uji tanah sawah (PUTS), pengendalian hama dan penyakit terpadu dan sebaginya.
2. Pelatihan PTT padi terhadap petani
3. Mencetak media penyuluhanm seperti liflet, brosur dan folder untuk selanjutnya didistribusikan ke petani dan Balai Penyuluhan Pertanian 4. Memproduksi benih sumber bersertifikat beberapa varietas unggul padi
sawah seperti, Inpari 21, 23, 24, 27, 28, Ciherang, Mekongga, Cigeulis dan padi gogo seperti Limboto, Inpago, Situ Patenggang dan Batu Tegi melalui penerapan manajemen mutu produksi benih padi.
5. Melakukan temu lapang dalam rangka panen perdana padi gogo di
Kabupaten Maluku. Kegiatan ini merupakan wahana berbagi informasi tentang inovasi teknologi pengembangan produksi padi, potensi pengembangan, akses sarana produksi dan permodalan, dan informasi pemasaran serta pemecahan permasalahan yang dihadapi petani dalam pengembangan padi gogo.
Informasi-informasi di atas terangkum dengan rinci dalam siaran televisi yang disiarkan oleh TVRI stasiun Ambon dan TVRI nasional dalam acara Indonesia Membangun pada tanggal 26 Agustus 2014
Penyiaran Open House dalam Rangka HUT Badan Litbang Pertanian ke-40
Open house bulan bakti agroinovasi dilaksanakan oleh semua unit pelaksana teknis Badan Litbang Pertanian untuk menyambut ulang tahunnya yang ke-40 pada tahun 2014.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku telah melaksanakan kegiatan
open house pada tanggal 8 – 9 Oktober 2014 dengan tema :
“Peran Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi dalam Pengembangan Bioindustri Berkelanjutan yang Ramah Lingkungan”.
Dalam open house dipromosikan berbagai hasil penelitian/pengkajian melalui berbagai bentuk kegiatan antara lain :