BPPT sebagai Instansi Pembina Jabatan Fungsional Perekayasa dan Teknisi Litkayasa mempunyai tugas pokok yaitu penyusunan program, evaluasi, pengelolaan pendidikan dan pelatihan, pengembangan jabatan fungsional yang berada di bawah pembinaan BPPT, pengelolaan pendidikan dan pelatihan bidang lain yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan fungsi BPPT, serta penyertaan diklat kedinasan dan jabatan fungsional keahlian atau keterampilan.
Center for Education and Training (Pusbindiklat) at Agency for the Assessment dan Application of Technology (BPPT) as a development institution of national engineers and engineer technicians have main tasks are planning programs, evaluation, managing education and trainings, developing any functional official under BPPT, managing other education and trainings program are which associated with implementation main tasks of BPPT.
Maka dalam rangka penguatan SDM BPPT dan pejabat fungsional perekayasa dan teknisi litkayasa nasional, Pusbindiklat BPPT telah melaksanakan kegiatan sebagai
berikut :
In order to strengthen the human resources/employees of BPPT and national engineers as well as engineering technicians become more professional, has already implemented several activities as follows:
1. Pengiriman karyasiswa bergelar (S2 dan S3) dan non gelar ke institusi dalam dan luar negeri
2. Penyertaan Diklat Penjenjangan
1. Dispatch students for master and doctoral degree / non-degree to domestic and overseas institution 2. Dispatch employees to have tiered training
101
3. Pelaksanaan Diklat Fungsional Perekayasa dan Teknisi Litkayasa
4. Pelaksanaan Diklat Teknis
5. Pelaksanaan Penilaian Angka Kredit JFP tingkat pusat
6. Pelaksanaan Forum Perekayasa
7. Pelaksanaan sosialisasi dan bimbingan teknis JFPTL yang dilaksanakan di Kementerian BMKG,
Menaker, Kehutanan, Kesehatan, LAPAN, ESDM,
KKP dan PUPR
8. Penganugerahan Perekayasa Utama Kehormatan 2015 yang diberikan kepada Dr. Jacobus Busono 9. Penyusunan revisi PerMenPAN Jabatan Fungsional
Perekayasa
3. Implement functional training propgram 4. Conduct technical training program
5. Carry out national credit score assestment for engineers
6. Held national engineers forum
7. Provide socialization and technical assistance 8. Organize The Honourary of Principal Engineer
Award
9. Prepare revisian on national engineers regulation (PerMenPAN)
Diharapkan dengan kegiatan tersebut, SDM BPPT dan Pejabat fungsional perekayasa dan teknisi litkayasa akan lebih profesional, akuntabel dan kompeten.
Through those activities, hopefully the employees of BPPT and national engineers as well as engineering are expected to be more professional, accountable and competent.
Sampai dengan tahun 2015 per 31 Juli 2015 jumlah Perekayasa nasional sebanyak 2.332 orang dengan rincian sebagai berikut :
N0 Nama Instansi Pertama Muda Madya Utama Total
1 BPPT 389 283 564 82 1318
2 Non BPPT 232 276 449 57 1,014
TOTAL 621 559 1,013 139 2,332
Adapun Jumlah Teknisi Litkayasa nasional sebanyak 2.705 orang dengan rincian sebagai berikut :
N0 Nama Instansi Pertama Muda Madya Utama Total
1 BPPT 14 108 28 45 195 2 Non BPPT 129 447 646 1,288 2,510 TOTAL 143 555 674 1,333 2,705 Kegiatan Volume Diklat penjenjangan 105 Diklat Fungsional 203 Diklat teknis 131
Beasiswa Dalam Negeri Program s2
12
Beasiswa Program Ristek Dalam Negeri s2 & s3
62
Beasiswa RISET-Pro Luar Negeri S2 dan S328
Beasiswa Luar Negeri Sponsor lainnya S2 dan S3
19
Until July 31th 2015, the total number of national engineeris is 2.332 with the following detail :
The total number of national Engineers Technician is 2.735 with the following details :
Pada tahun 2015, BPPT telah melakukan pembinaan Diklat penjenjangan teknis dengan rincian sebagai
berikut:
In 2015, BPPT has conducted development programs through education and training programs with the following details:
103
mendorong dan memfasilitasi unit kerja dalam rangka
peningkatan jumlah aplikasi Hak Kekayaan Intelektual
BPPT.
Terbitnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/ PMK.02/2015 tentang Imbalan yang berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak Royalti Paten kepada
Inventor diharapkan semakin memotivasi unit kerja, perekayasa, peneliti, dan teknisi litkayasa BPPT dalam
melakukan perekayasaan/penelitian yang berorientasi HKI serta dengan harapan sistem pengelolaan HKI di
BPPT ke depan lebih terintegrasi melalui suatu Sentra
HKI.
Kegiatan terkait HKI meliputi antara lain Sosialisasi, Koordinasi, Konsultasi, dan Fasilitasi HKI; Sosialisasi HKI; Koordinasi HKI; Forum Konsultasi HKI, dan Penyusunan/Penelaahan Draft Paten pada unit kerja
di lingkungan BPPT, termasuk kegiatan Permohonan
HKI hingga diperolehnya Sertifikat HKI yang meliputi Paten, Hak Cipta, Desain Industri, dan Merek.
IPR obligation to encourage and facilitate the work units in order to increase the number of applications of intellectual property rights BPPT.
The issuance of Ministerial Regulation No. 72/PMK. 02/2015 about the benefits derived from the Non Tax Revenue Royalties Patent Inventor is expected to motivate the work units, engineers, researchers and engineering technicians BPPT in doing engineering /research oriented IPR and the hope BPPT IPR management system is olso expected to be a more integrated through a Sentra HKI in the future.
IPR-related activities include, among others, socialization, coordination, consultation, and facilitation of IPR; HKI socialization; Coordination of IPR; Consultation Forum of IPR, and Preparation/ Reviewing Draft Patents on work units in BPPT, consisting activities to obtaining the Certificate Request IPR IPR covering Patents, Copyright, Industrial Design, and Trademark.
Until now, there were 221 (two hundred and twenty- one) application for IPR BPPT consisting of 177 (one hundred and seventy-seven) Patents, 10 (ten) Copyrights, 25 (twenty five) Industrial Designs, and 9 (nine) Brands which are already registered in the office of the Directorate General of Intellectual Property of the Ministry of Law and Human Rights, while the certified amounts to 120 (one hundred and twenty) consists of 89 (ninety nine) Patents (only 61 are still active, Canceled 7 and Clear Demi Law 21, 7 (seven) Copyright, 17 (seventeen) Industrial Design, and 7 (seven) Trademarks.
Hingga saat ini tercatat sebanyak 221 (dua ratus dua puluh satu) permohonan HKI BPPT yang terdiri dari 177 (seratus tujuh puluh tujuh) Paten, 10 (sepuluh) Hak Cipta, 25 (dua puluh lima) Desain Industri, dan 9 (sembilan) Merek yang sudah terdaftar pada Kantor
Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian
Hukum dan HAM R.I., sedangkan yang telah tersertifikasi berjumlah 120 (seratus dua puluh) terdiri dari 89 (sembilan puluh sembilan) Paten (hanya 61 yang masih aktif, Dibatalkan 7 dan Batal Demi Hukum 21, 7 (tujuh) Hak Cipta, 17 (tujuh belas) Desain Industri, dan 7 (tujuh) Merek.
The Indonesia Trade Cooperation Facility-EU (TCF-EU) merupakan program hibah Uni Eropa yang bertujuan untuk memperkuat kapasitas lembaga pemerintah untuk mencapai inisiatif reformasi pada area untuk memperbaiki iklim investasi. TCF dikoordinasikan
oleh Bappenas, bersama dengan lembaga/kementerian lainnya: Kementerian Ristekdikti, BPPT, Perdagangan, Kemenkum & HAM, Kementerian ESDM, Kementerian
Perindustrian, dan BKPM. TCF-EU berlangsung selama
60 bulan, tahun 2012 - 2016 melalui tim asistensi teknis
GOPA.
The Indonesia Trade Cooperation Facility-EU (TCF- EU) is a European Union grant for Indonesia, with the objective to strengthen the capacity of government institutions to pursue reformation initiatives in selected areas related to the improvement of trade and investment climate. TCF is coordinated by BAPPENAS, supported by implementing beneficiaries, such as: Ministry Research, Technology and HE, BPPT, Ministry of Trade, Justice & Human Rights, Energy & Mineral Resources, Industry, Investment Coordinating Board. The implementation of this program is 60 months, from 2012 to 2016, through the technical assistance team of GOPA Consultants.