• Tidak ada hasil yang ditemukan

Enzim dan lingkungan

1.7. Manfaat enzim dalam makanan ternak

1.7.4. Enzim dan lingkungan

Intensifikasi peternakan terutama perunggasan dan ternak babi yang terjadi dihampir sebagian besar negara menyimpan banyak persoalan lingkungan akibat dari besarnya produksi kotoran. Kotoran yang dibuang merupakan akumulasi dari bahan makanan yang tidak tercerna plus mikroba saluran pencernaan. Produksi faeces dari ternak setiap tahunnya sangat besar. Ini akan berdampak pada masalah lingkungan. Sebagai contoh, produksi daging unggas (ayam dan kalkun) dunia pada tahun 2000 berkisar 38 juta ton pada tahun 1999. Jika konversi ransum unggas berkisar 1.8, maka diperkirakan makanan dibutuhkan sebesar 68 juta ton pertahun. Dengan tingkat kecernaan 80%, maka faeces unggas yang dibuang setiap tahun berkisar 13.6 juta ton. Produksi faeces unggas yang tinggi ini akan berdampak kepada masalah lingkungan.

Beberapa unsur mineral yang ada dalam kotoran ternak telah membuat resah banyak pemerhati lingkungan karena sudah berada pada ambang membebani lingkungan. Mineral posfor misalanya. Tingginya kandungan mineral ini dalam kotoran ternak bisa dipahami karena 60-70% phospor yang dalam bahan makanan berada dalam bentuk phytate yang tidak tercerna oleh unggas. Karena itu, mineral ini tidak akan dimanfaatkan oleh ternak tetapi dibuang dalam kotorannya. Kondisi ini akan mengakibatkan keseimbangan mineral dalam tanah menjadi terganggu. Kontaminasi mineral lain pada air dan tanah yang juga sudah sayup-sayup terdengar adalah mineral Zn dan Cu. Ini diakibatkan karena kedua mineral tersebut digunakan dalam ransum biasanya dalam bentuk ZnO dan CuSO4. Kasus di Kanada dimana di beberapa sumur telah mengandung ZnO pada level yang membahayakan disinyalir sebagian dikontribusi oleh industri peternakan. Kondisi ini akan semakin fatal manakala upaya prefentif tidak lakukan akibat semakin berkembangnya industri peternakan.

Tingginya buangan mineral dalam kotoran, paling tidak disebabkan oleh dua hal. Pertama, kandungan mineral dalam ransum sebagian besar dalam bentuk yang tidak tercerna. Ambil contoh, kandungan Posfor dalam makanan biasanya dalam bentuk phytate yang tidak tercerna. Kedua, penambahan mineral dalam ransum sering tanpa memperhitungkan kandungan mineral dalam bahan makanan. Karena itu dalam banyak kasus, mineral yang diberikan melebihi

dari mineral yang dibutuhkan oleh ternak. Dampaknya, lebih banyak mineral yang dibuang dalam bentuk kotoran.

Menengok dua penyebab dari tingginya kandungan mineral dalam kotoran yang berimplikasi pada beban lingkungan, dibutuhkan upaya untuk mereduksi penggunaan level mineral dalam ransum. Walaupun masih dalam tahap penggodokan, Uni Eropa akan menggelidingkan regulasi tentang pembatasan penggunaan mineral dalam ransum sebagai upaya menyahuti persoalan lingkungan. Pertanyaanya, apakah pengurangan level mineral dalam ransum tidak akan mengurangi performans ayam pedaging ?. Kalau tidak, sampai seberapa besar pengurangan tersebut dapat ditolerir ?

Solusi yang dapat dipertimbangkan kalau kita mau mereduksi mineral ransum tanpa mereduksi performans ternak. Pertama adalah dengan memanfaatkan sumber mineral makanan secara maksimal. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan produk enzim yang mengandung phytase. Enzim ini bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan mineral Posfor untuk ternak. Kegunaan lain adalah kecernaan beberapa mineral lain seperti mg, Ca dan Zn dapat ditingkatkan plus kecernaan protein, peningkatan energy metabolisme dan inositol yang bermanfaat untuk pertumbuhan.

Intisari

Enzim adalah katalisator yang dapat mempercepat terjadi reaksi tetapi dia sendiri tidak bereaksi. Enzim telah digunakan untuk beragam industri, termasuk industri pakan ternak. Penggunaan enzim pada pakan ternak dapat meningkatkan kecernaan pakan, menurunkan viskositas digesta dan pada akhirnya meningkatkan jumlah nutrisi yang dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan produksi. Dengan berkurangnya feces yang dibuang akibat dari penambahan enzim, maka lingkungan menjadi lebih baik.

Evaluasi

1. Apa yang dimaksud dengan enzim? 2. Jelaskan beberpa fungsi enzim ?

3. Sebutkan jenis jenis enzim eksogenous yang sering dipake dalam pakan ternak? 4. Bagaimana mekanisme kerja enzim ?

Daftar Pustaka

Adler-Nielsen, J. Protease (1993). Protease. Dalam Buku:Enzymes in Food processing. Edisi ketiga. Editor: Nagodawithana, T. dan Reed, G. Academic Press New York.

Acamovic, T. (2001). Commercial application of enzyme technology for poultry production.

World's Poultry Science Journal, 57: 225-242.

Bigels R. (1993). Carbohydrase. Dalam Buku:Enzymes in Food processing. Edisi ketiga. Editor: Nagodawithana, T. dan Reed, G. Academic Press New York.

Bohager, T. (2006). Enzymes: What the experts know, One wold Press, USA.

Brown, R.J. (1993). Dairy products. Dalam Buku:Enzymes in Food processing. Edisi ketiga. Editor: Nagodawithana, T. dan Reed, G. Academic Press New York.

Cantarow, A. dan Schepartz, B. (1954). Biochemistry. W.B. Saunders Company. USA.

Choct, M. 1996. The role of feed enzymes in animal nutrition towards 2000. Proceedings of the XX World's Poultry Congress, 2: 125-133.

Choct, M. (1997). Feed non-Starch polysaccharides: chemical structures and nutritional significance. Feed Milling International, June, pp: 13-26.

Classen, H. L. and Bedford, M. R. (1999). The use of enzymes to improve the nutritive value of poultry diets. In: Recent Developments in Poultry Nutrition 2.Nottingham University Press, United Kingdom, pp. 285-308.

Daskiran, M. and Teeter, R. G. (2001). Effect of endo-ß-D-mannanase (Hemicell@) supplementation on growth performance of two week -old broilers fed diets varying in betha mannan content. Animal Science Research Report.

Daskiran, M. and Teeter, R. G. (2001). Effect of endo-ß-D-mannanase (Hemicell@) supplementation on growth performance of two week -old broilers fed diets varying in betha mannan content. Animal Science Research Report.

Dingle, J. G. (1995). The use of enzymes for better performance of poultry. Queensland Poultry

Science Symposium, 4 (14): 1-10. The University of Queensland, Gatton.

Dowman, M. G. (1993). Modification to the neutral detergent cellulase digestibility method for the prediction of the metabolizable energy of compound feedstuffs containing palm kernel meal. Journal of the Science Food and Agriculture, 61:327 – 331.

Esteve-Garcia, E., Brufau, J., Perez-Venrell, A.M., Miquel, A. Dan Duven, K. (1997). Bioefficacy of enzyme preparations containing beta glucanase and xylanase activities in broiler diets based on barley or wheat, in combination with flavomycin. Poultry Science, 76:1728-1737.

Farrell, D. J. and Martin, E. (1993). Feed enzymes in poultry nutrition: Recent findings. Recent

Advances in Animal Nutrition in Australia, The University of New England, Armidale,

Australia, pp: 266-276.

Filler, K. (2000). Production of enzymes for the feed industry using solid state fermentation. Dalam buku : Biotechnology in the feed industry, Proccedings of Alltech’s 16th. Editors: T.P. Lyons dan K.A. Jackues. Nottingham Press, Inggris.

Jackson, M. E., Fodge, D. W. and Hsiao, H. Y. (1999). Effects of ß-mannanase in corn soybean meal diets on laying hen performance. Poultry Science, 7: 1737-1741.

Kaichang, L., Azadi, P., Collins, R., Tolan, J., Kim, J. S. and Eriksson, K. E. L. (2000). Relationships between activities of xylanases and xylan structures. Enzyme and Microbial Technology, 27: 89-94.

Kies, A. K., Van Hemert, K. H. F. and Sauer, W. C. (2001). Effect of phytase on protein and amino acid digestibility and energy utilisation. World's Poultry Science Journal, 57: 109-126.

Knusen, K.E.B. (1997). Carbohydrate and lignin contents of plant materials used in animal feeding, Animal Feed Science Technology, 67: 319-338.

Leeson, S., Caston, L., Kiaei, M. M. and Jones, R. (2000). Comercial enzymes and their influence on broilers fed wheat and barley. Journal Applied Poultry Research, 9: 242-251. Lyons, T. P. (2002). Navigating from niche markets to mainstream: A feed industry kakumei. In

Proceedings of Alltech's 16 th Annual Asia - Pasific Lecture Tour.Altech.

Lyons, T. P. (2006). The road a head. In Proceedings of Alltech's 20 th Annual Asia - Pasific

Lecture Tour.Altech.

Newman, R. K. and Newman, C. W. (1987). ß-glucanase effect on the performance of broiler chicks fed covered and hull-less barley isotypes having normal and waxy starch. Nutrition Reports International, 36: 693-699.

Nokes, S.E. (1999). Enzyme production using surface culture fermentation. Dalam buku : Biotechnology in the feed industry, Proccedings of Alltech’s 16th. Editors: T.P. Lyons dan K.A. Jackues. Nottingham Press, Inggris.

NRC. (1994). Nutrient requirements of Poultry. National Academic Press, Washington DC. Parkin. K.L. (1993). General characteristics of enzyme. Dalam Buku:Enzymes in Food

processing. Edisi ketiga. Editor: Nagodawithana, T. dan Reed, G. Academic Press New York.

Pluske, J. R., Moughan, P. J., Thomas, D. V., Kumar, A. and Dingle, J. G. (1997). Releasing energy from rice bran, copra meal and canola in diets using exogenous enzymes. In: 13th Annual symposium Alltech, pp. 81-94.

Simons, C. M., Versteegh, H. A. J., Joengbloed, A. W., Kemme, P. A., Slump, K. D. B., Wolters, M. G. E., Beudeker, R. F. and Verschoor, G. J. (1990). Improvement of phosphorous availability by microbial phytase in broilers and pigs. British Journal of Nutrition, 64: 525-540.

Steenfeldt, S. and Pettersson, D. (2001). Improvements in nutrient digestibility and performance of broiler chickens fed a wheat- and rye-based diet supplemented with enzymes. Journal of Animal and Feed Science, 10: 143-157.

Sproessler, B.G. (1993). Milling and baking. Dalam Buku:Enzymes in Food processing. Edisi ketiga. Editor: Nagodawithana, T. dan Reed, G. Academic Press New York.

Sundu, B. (2006). Utilization of Palm kernel and copra meal by poultry. University of Queensland. Australia.

Sundu, B., Kumar, A. dan Dingle, J. (2006). Response of Broiler Chicks Fed Increasing levels of Copra Meal and Enzymes. International Journal of Poultry Science, 5: 13-18.

Sundu, B., Kumar, A. And Dingle, J. (2008). The effect of crumbled copra meal and enzyme supplementation on broiler growth and gastrointestinal development. International Journal of Poultry Science, 7: 511-515

Sundu, B., S. Bahry and H.B Damry, (2012). Effect of mannanases predigested palm kernel meal in the diets on nutrient digestibilities and broiler performance. The 2nd International seminar on Animal Industry, Agricultural University, Bogor Indonesia.

Sundu, B., Kumar, A. And Dingle, J. (2005). Responce of birds fed increasing levels of palm kernel meal supplemented with different enzymes. Proc. Australian Poultry Science Symposium, 17: 227-228

Sundu, B., Kumar, A. And Dingle, J. (2005). Growth pattern of broilers fed a physically or enzymatically treated copra meal diet. Proc. Australian Poultry Science Symposium, 17: 291-294

Sundu, B., Kumar, A. And Dingle, J. (2004). The effects of levels of copra meal and enzymes on bird performance. Proc. Australian Poultry Science symposium, 16:52-54.

Sundu, B. And Dingle, J. (2003). Use of enzymes to improve the nutritive value of palm kernel meal and copra meal. Queensland Poultry Science symposium, 11:1-15.

Sundu, B., Kumar, A. And Dingle, J. (2005). The effect of particle size of pelleted copra meal in broiler diets with or without enzymes. Recent Advances in Animal Nutrition in Australia, 15: 16A

Sundu, B., Kumar, A. And Dingle, J. (2006). Performance of broilers fed the palm kernel meal diet supplemented with different enzyme products. International seminar on tropical animal production. Pp: 389-395.

Villettaz, J.C. (1993). Wine. Dalam Buku:Enzymes in Food processing. Edisi ketiga. Editor: Nagodawithana, T. dan Reed, G. Academic Press New York.

Dokumen terkait