• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Epidemiologi Karies Gigi

Kesehatan gigi merupakan salah satu komponen penting dalam kesehatan tubuh secara keseluruhan, oleh karena itu perawatan gigi sangat penting untuk mempertahankan gigi selama mungkin. Berdasarkan survei kesehatan gigi yang dilakukan oleh Direktorat Kesehatan Gigi Departemen Kesehatan RI pada tahun 1994, ternyata jumlah masyarakat yang berkunjung maupun pasien yang dirujuk ke rumah sakit karena menderita penyakit gigi dan mulut akibat karies gigi menduduki jumlah terbesar yaitu 53,05%.28 Karies merupakan penyakit yang paling sering dijumpai di rongga mulut, di Indonesia lebih dari 90% penduduknya menderita karies.15

Karies gigi merupakan salah satu jenis penyakit yang dapat menyerang gigi yang mempunyai sifat progresif, yaitu bila tidak dirawat/diobati akan makin parah dan bersifat irreversible yaitu jaringan yang rusak tidak dapat utuh kembali.26

Status karies gigi menurut karakteristik penduduk Indonesia (Profil Kesehatan gigi dan Mulut tahun 1999):

a. Prevalensi menurut jenis kelamin : Laki-laki (90,05%) dan perempuan (91,67%)

b. Prevalensi menurut daerah : Urban (91,06%) dan rural (90,84%)

c. Prevalensi menurut pulau : Jawa & Bali (86,59%), Sumatera (94,41%), Kalimantan (94,885), Sulawesi (99,28%)

d. Prevalensi menurut umur : 12 tahun (76,62%), 15 tahun (89,38%), 18 tahun (83,50%), 35-44 tahun (94,56%) dan 65 tahun keatas (98,57%) 29

Semakin berkembang peradaban manusia maka semakin meningkat pula kejadian karies gigi. Hal ini dipengaruhi oleh pola makan yang banyak mengkonsumsi makanan kariogenik (makanan bersoda, biskuit, permen, cokelat) dan gula, jika semakin dekat manusia hidup dengan alam maka semakin sedikit pula dijumpai karies pada giginya.3

Menurut penelitian Natamiharja tahun 1998 yang dikutip oleh Rusiawati (2002) pada anak usia 6-13 tahun di 2 SD di Medan terdapat anak dengan karies pada molar pertama 49,69% dan molar kedua 42,92% sedangkan murid bebas karies 7,39%.10

Hasil penelitian Situmorang (2004) di dua kecamatan Kota Medan menyatakan bahwa status kesehatan gigi dan mulut penduduk masih buruk. Hal ini dapat dilihat dari tingginya prevalensi karies gigi dengan DMF-T; 80,83% responden mempunyai gigi dengan lesi karies; 50,83% responden gigi dicabut dan hanya 21,11% gigi di tambal.30

Berdasarkan penelitian Al-Malik (2006) di Saudi Arabia, dari 300 sampel anak-anak dengan usia 6-7 tahun terdapat 288 anak (96%) terkena karies gigi, dan hanya 12 orang (4%) yang tidak terkena karies gigi. Dari 288 sampel yang terkena karies tersebut terdapat 146 (50,7%) laki-laki dan 142(49,3%) perempuan.31

Berdasarkan Profil Kesehatan RI tahun 2004, terdapat 37.285 kasus pencabutan gigi dan 10.718 kasus penambalan, pada tahun 2006 (Profil Kesehatan RI tahun 2006) mengalami penurunan yaitu 6.864 kasus pencabutan gigi sedangkan penumpatan hanya 2.271 kasus. Namun hal ini tidak secara langsung menjelaskan bahwa terjadi penurunan karies gigi.32,33

Penyakit gigi dan mulut dimana karies gigi termasuk didalamnya menempati peringkat ke empat penyakit termahal dalam hal pengobatan (The World Oral Health, 2003).34

2.5.2. Determinan (Faktor-faktor yang Mempengaruhi) a. Umur

Sepanjang hidup dikenal 3 fase umur dilihat dari sudut gigi geligi: a.1. Periode gigi susu ( 0-5 tahun), sekitar 10% anak usia 2 tahun telah terserang

karies 35

a.2. Periode gigi campuran (6-14 tahun), pada periode ini molar 1 paling sering terkena karies. 35

a.3. Periode gigi permanen (>14 tahun). Permukaan oklusal molar 2 dan premolar yang baru saja erupsi mudah terserang karies karena morfologinya yang memudahkan retensi plak. 35 Umur antara 40-50 terjadi retraksi atau menurunnya gusi sehingga sisa-sisa makanan sering lebih sukar dibersihkan.

4

b. Jenis Kelamin36

Dari pengamatan yang dilakukan oleh Joshi (2005) di India dari total populasi 150 orang diperoleh kejadian karies lebih tinggi pada pria yaitu 80% sedangkan wanita 73%. Hal ini terjadi dikarenakan wanita lebih memiliki keinginan untuk menjaga kebersihannya.

c. Ras

Pengaruh ras terhadap terjadinya karies gigi amat sulit ditentukan, tetapi keadaan tulang rahang sesuatu ras bangsa dapat berhubungan dengan persentase karies yang semakin meningkat atau menurun. 4

Misalnya pada ras tertentu dengan rahang yang sempit, sehingga gigi- gigi pada rahang sering tumbuh tidak teratur, tentu dengan keadaan gigi yang tidak teratur ini akan mempersukar pembersihan gigi, dan ini akan meningkatkan persentase karies pada ras tersebut. 4,37

d. Keturunan4

Dari suatu penelitian terhadap 12 pasang orang tua dengan keadaan gigi yang baik, terlihat bahwa anak-anak dari 11 pasang orang tua memiliki keadaan gigi yang cukup baik.

Di samping itu dari 46 pasang orang tua dengan persentase karies yang tinggi, hanya 1 (satu) pasang yang memiliki anak dengan gigi yang baik 5 (lima) pasang dengan persentase karies sedang, sedangkan 40 pasang lagi dengan persentase karies yang tinggi.

e. Sosial Ekonomi20

Karies dijumpai lebih rendah pada kelompok sosial ekonomi tinggi dan sebaliknya. Hal ini dikaitkan dengan lebih besarnya minat hidup sehat pada kelompok sosial ekonomi tinggi. Ada dua faktor sosial ekonomi yaitu pekerjaan dan pendidikan. Menurut Tirthankar (2002), pendidikan adalah faktor kedua terbesar dari faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi status kesehatan.

Dalam penelitiannya, Paulander, Axelsson dan Lindhe (2003) melaporkan jumlah gigi yang tinggal di rongga mulut di usia 35 tahun sebesar 26,6% pada pendidikan tinggi dan pendidikan rendah sebesar 25,8%.

Hasil penelitian Sondang dan Tetti (2004) pada sekelompok ibu-ibu rumah tangga berusia 20-45 tahun membuktikan bahwa kelompok pendidikan tinggi mempunyai skor DMF-T lebih rendah daripada kelompok pendidikan

rendah, selain itu, skor filling lebih banyak dijumpai pada kelompok pendidikan tinggi sedangkan skor decayed dan missing lebih banyak pada kelompok pendidikan rendah.

f. Pengalaman Karies20

Pengalaman karies ternyata memiliki hubungan terhadap perkembangan karies dimasa mendatang. Sensitivitas parameter ini hampir 60% . Prevalensi karies pada gigi susu dapat memprediksi karies pada gigi permanennya.

g. Oral higiene20

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu komponen dalam pembentukan karies adalah plak. Insiden karies dapat dikurangi dengan melakukan penyingkiran plak secara mekanis dari permukaan gigi.

h. Makanan4

Makanan sangat bepengaruh terhadap gigi dan mulut, pengaruh ini dapat dibagi menjadi 2 :

h.1. Isi dari makanan yang menghasilkan energi. Misalnya karbohidrat yang banyak mengandung sukrosa memegang peranan penting dalam terbentuknya karies.

h.2. Fungsi mekanis dari makanan yang dimakan ada 2, yang pertama adalah makanan-makanan yang bersifat membersihkan gigi, dengan perkataan lain dapat menjadi gosok gigi alami sehingga mengurangi kerusakan gigi. Makanan yang bersifat membersihkan ini adalah apel, jambu air, bengkuang dan lain sebagainya, dan yang kedua adalah makanan-makanan yang lunak dan melekat pada gigi amat merusak gigi seperti: permen, cokelat, biskuit dan lain sebagainya.

i. Penggunaan Fluor20

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dr. Trendly Dean dilaporkan bahwa ada hubungan timbal balik antara konsentrasi fluor dalam air minum dengan prevalensi karies. Penelitian epidemiologis Dean ditandai dengan perlindungan terhadap karies secara optimum dan terjadinya mottled enamel yang minimal apabila konsentrasi fluor kurang dari 1 ppm.

Dokumen terkait