• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA

C. Sakit Kepala

2. Epidemiologi

Data penelitian retrospektif yang dilakukan di Indonesia menunjukan nyeri kepala ditemukan pada 37-51% anak berusia 7 tahun dan meningkat menjadi 57-82% pada anak berusia 15 tahun. Prevalensi nyeri kepala yang ditemukan pada anak paling tinggi yaitu migrain dan tension-type headache (TTH). Prevalensi migrain pada anak pra-sekolah sebesar 3%, pada anak usia sekolah dasar sebesar 4-11%, dan pada anak sekolah menengah sebesar 8-23% (Berardi, 2006).

Wanita mempunyai peluang tiga kali lebih besar mengalami sakit kepala dibandingkan pria. Dalam kurun waktu satu tahun, prevalensi migrain pada laki- laki dewasa sebesar 6-15% sedangkan pada wanita dewasa sebesar 14-35%.

Insiden migrain pada wanita mengalami pertumbuhan pesat setelah pubertas dan terus berlanjut selama masa dewasa awal. Sekitar 25% wanita mengalami migrain setidaknya sekali setahun pada awal usia pertengahan, sedangan pada pria ditemukan hanya kurang dari 10%. Lebih dari 70% pasien yang mengalami migrain memiliki riwayat penyakit migrain yang diturunkan dari keluarga (Berardi, 2006).

D.Perilaku Kesehatan

Interaksi faktor internal (dari dalam diri manusia) dan faktor eksternal (di luar diri manusia) menghasilkan perilaku kesehatan. Faktor internal dapat berupa keadaan fisik dan psikis, sedangkan faktor eksternal dapat berupa lingkungan sosial, budaya masyarakat, lingkungan fisik, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, maupun masyarakat dikelompokkan menjadi empat yaitu lingkungan yang mencakup lingkungan fisik, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya, perilaku, pelayanan kesehatan, serta keturunan (Notoatmodjo, 2012b).

Perilaku merupakan respon individu yang disebabkan adanya stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi, dan tujuan baik disadari maupun tidak (Wawan dan Dewi, 2011). Stimulus atau rangsangan dapat berupa suara atau bunyi, bahasa lisan maupun gerakan, tindakan, atau simbol-simbol yang dapat dimengerti oleh pihak lain sehingga menghasilkan respon (Notoatmodjo, 2012b).

Hasil hubungan antara stimulus dan respon menghasilkan perilaku. Respon akibat dari stimulus dibedakan menjadi dua menurut Wawan dan Dewi (2011) yaitu sebagai berikut ini.

1. Respondent Respon atau Reflexive Respon

Timbulnya respon responden disebabkan oleh rangsangan- rangsangan tertentu. Rangsangan-rangsangan ini menimbulkan respon yang relatif tetap. Cakupan respon responden berupa respon emosi. Respon emosi ini timbul akibat hal-hal yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan.

2. Operan Respon

Respon yang timbul dan berkembang akibat rangsangan tertentu disebut operan respon. Rangsangan pada operan respon bersifat reinforcing stimuli karena akan memperkuat respon yang telah dilakukan seorang individu

Respon individu akibat adanya stimulus dapat dibedakan menjadi dua bentuk menurut Wawan dan Dewi (2011) yaitu sebagai berikut ini.

1. Bentuk pasif

Respon individu yang bersifat pasif merupakan respon yang terjadi dalam diri manusia (respon internal) dan tidak secara langsung terlihat oleh orang lain. Respon berbentuk pasif dapat berupa berpikir, tanggapan, atau sikap batin dan pengetahuan.

2. Bentuk aktif

Respon individu yang bersifat aktif merupakan respon yang dapat terlihat langsung oleh orang lain

Perilaku kesehatan merupakan respon individu terhadap stimulus yang berhubungan dengan kondisi sakit dan penyakit, sistem layanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Klasifikasi perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok menurut (Notoatmodjo, 2012b) sebagai berikut ini.

1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (Health Maintanance)

Perilaku atau upaya yang dilakukan seseorang untuk menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha melakukan penyembuhan apabila mengalami sakit. Aspek dalam perilaku pemeliharaan kesehatan terdiri dari tiga hal yaitu sebagai berikut ini.

a. Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit apabila mengalami sakit serta upaya pemulihan kesehatan ketika telah sembuh dari sakit.

b. Perilaku peningkatan kesehatan yang dilakukan saat individu dalam keadaan sehat.

c. Perilaku mengkonsumsi makanan dan minuman yang berguna untuk memelihara serta meningkatkan kesehatan seseorang ataupun dapat menimbulkan penyakit

2. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan atau perilaku pencarian pengobatan (Health Seeking Behaviour)

Perilaku yang menyangkut upaya atau tindakan seorang individu ketika mengalami penyakit atau kecelakaan yang diawali dari pengobatan sendiri maupun mencari fasilitas pelayanan kesehatan.

3. Perilaku kesehatan lingkungan

Perilaku seorang individu sebagai respon terhadap lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budaya agar tidak mempengaruhi kesehatannya.

Proses terbentuknya suatu perilaku meliputi lima tahapan menurut Wawan dan Dewi (2011) yaitu sebagai berikut ini.

1. Kesadaran (awareness) merupakan tahapan seorang individu menyadari atau mengetahui terlebih dahulu terhadap suatu stimulus.

2. Rasa tertarik (interest) merupakan tahapan seorang individu mulai menaruh perhatian dan tertarik pada suatu stimulus.

3. Evaluasi (pertimbangan) merupakan tahapan seorang individu mempertimbangkan baik buruknya tindakan terhadap stimulus bagi dirinya.

4. Mencoba (trial) merupakan tahapan seorang individu mulai mencoba perilaku baru.

5. Adopsi (adoption) merupakan tahapan seorang individu mulai mengadopsi atau melakukan perilaku.

Karakteristik sosio-demografi merupakan suatu ciri yang menggambarkan perbedaan masyarakat. Sosio-demografi dalam kesehatan masyarakat dapat memberikan efek seseorang dalam pemilihan terapi atau pengobatan yang tepat untuk jenis penyakit yang diderita. Adanya karakteristik sosio-demografi dapat juga mempengaruhi perilaku dan outcome kesehatan masyarakat (Gibney et al, 2008).

Perilaku tidak selalu mengikuti urutan tertentu sehingga terbentuknya perilaku positif tidak selalu dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap positif. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku dengan kekhasan dan keunikannya dipengaruhi oleh banyak variabel contohnya faktor sosio-demografi dan ekonomi yang dimiliki setiap individu yang dapat dijadikan sebagai acuan program-program kesehatan masyarakat (Maulana, 2007).

E. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari keinginan untuk tahu dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan ini terjadi melalui pancaindra manusia meliputi indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan manusia sebagian besar diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2012b).

Pengetahuan atau aspek kognitif memiliki dampak yang sangat penting dalam membentuk tindakan manusia. Enam tingkatan pengetahuan menurut Notoatmodjo (2012b) dalam aspek kognitif meliputi :

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk dalam hal mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dan rangsangan yang telah diterima sebelumnya. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

2. Memahami (comprehension)

Kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi secara benar dapat diartikan memahami.

3. Aplikasi (aplication)

Kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari untuk situasi atau kondisi sebenarnya merupakan bentuk dari aplikasi.

4. Analisis (analysis)

Analisis merupakan kemampuan menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen yang masih berada di dalam satu struktur organisasi dan memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya. 5. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan menyusun formulasi baru yang berasal dari formulasi yang telah ada sebelumnya.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan suatu kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek yang berdasarkan pada suatu kriteria yang telah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada sebelumnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi aspek pengetahuan menurut Wawan dan Dewi (2011) dibagi menjadi dua bagian yaitu sebagai berikut ini.

1. Faktor internal a. Pendidikan

Pendidikan diperlukan untuk memperoleh informasi berupa hal- hal yang menunjang kesehatan untuk meningkatkan kesehatan. Pendidikan dapat mempengaruhi perilaku seorang individu akan pola hidup terutama dalam memotivasi pengambilan sikap untuk memperoleh kondisi sehat.

b. Pekerjaan

Pekerjaan diartikan sebagai kegiatan mencari nafkah yang dilakukan seorang individu untuk menunjang kehidupannya. Seorang ibu yang bekerja akan mempengaruhi kehidupan keluarganya.

c. Umur

Tingkat kematangan seorang individu dalam berfikir dan bekerja sebanding dengan pertambahan usia. Semakin tingginya umur seorang individu, semakin meningkat pula kemampuan seseorang untuk memutuskan perilaku yang akan dilakukannya

2. Faktor ekternal a. Faktor lingkungan

Lingkungan merupakan kondisi di sekitar manusia yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku seorang individu.

b. Sosial budaya

Sistem sosial budaya yang berlaku di masyarakat dapat mempengaruhi sikap individu dalam menerima informasi.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan melalui pernyataan mengenai isi materi yang akan diteliti. Pernyataan dalam pengukuran pengetahuan harus memperhatikan tahapan pengetahuan yang akan diukur. Kata-kata kerja yang dapat digunakan dalam mengkaji aspek pengetahuan meliputi tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi (Budiman dan Riyanto, 2013).

Pengukuran terhadap tingkat pengetahuan menurut Arikunto (2006) dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu.

1. Tingkat pengetahuan tergolong tinggi jika responden mampu menjawab pernyataan dengan benar antara 76-100%.

2. Tingkat pengetahuan tergolong sedang jika responden mampu menjawab pernyataan dengan benar antara 56-75%.

3. Tingkat pengetahuan tergolong rendah jika responden hanya mampu menjawab pernyataan dengan benar kurang dari 56%

F. Sikap (attitude)

Sikap merupakan respon tertutup seorang individu terhadap stimulus. Sikap belum merupakan suatu tindakan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu. Berikut ini merupakan diagram proses terbentuknya sikap :

Gambar 1. Diagram proses terbentuknya sikap (Notoatmodjo, 2012b) Sikap memiliki tiga komponen pokok meliputi kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu obyek, kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu obyek, dan kecenderungan untuk bertindak. Ketiga komponen ini akan membentuk sikap yang utuh (total attitude). Pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memiliki peranan penting dalam penentuan sikap yang utuh (Notoatmodjo, 2012b).

Struktur sikap terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang menurut Wawan dan Dewi (2011) yaitu sebagai berikut ini.

1. Komponen kognitif merupakan representasi kepercayaan individu terhadap suatu hal tertentu berupa masalah isu atau problem yang kontroversial.

2. Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional ini merupakan aspek penting dalam

komponen sikap dan bertahan paling lama terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin mengubah sikap seorang individu.

3. Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang

Sama halnya dengan aspek pengetahuan, aspek sikap juga memiliki tahapan tertentu menurut Notoatmodjo (2012b) sebagai berikut ini.

1. Menerima (receiving)

Menerima dapat diartikan seorang individu mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan.

2. Merespon (responding)

Merespon dapat diartikan seorang individu dapat memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan.

3. Menghargai (valuing)

Sikap menghargai dapat ditunjukan dengan mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.

4. Bertanggung jawab (responsible)

Tahapan tertinggi dari suatu sikap yaitu ketika seorang individu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilih serta menerima segala risiko yang akan diterimanya akibat sikap yang dilakukan

Faktor-faktor yang mempengaruhi aspek sikap terbagi menjadi enam menurut Wawan dan Dewi (2011) yaitu sebagai berikut ini.

1. Pengalaman pribadi merupakan dasar pembentukan sikap karena sifatnya yang kuat dalam meninggalkan kesan.

2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting menimbulkan kecenderungan seorang individu untuk patuh dan searah dengan sikap orang yang dianggap penting.

3. Pengaruh kebudayaan tanpa disadari telah menanamkan dan mengarahkan sikap seorang individu terhadap berbagi masalah.

4. Media massa berupa surat kabar, radio dan televisi seharusnya menyampaikan pesan yang bersifat obyektif, namun adanya pengaruh dari penulis mempengaruhi sikap seorang individu.

5. Lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan sistem kepercayaan yang nantinya akan mempengaruhi aspek sikap seorang individu.

6. Faktor emosional terkadang dapat mendasari suatu bentuk dari aspek sikap.

Salah satu skala yang dapat digunakan untuk mengukur aspek sikap yaitu skala Likert. Skala Likert mengandung dua kelompok pernyataan yaitu pernyataan favorable dan unfavorable. Setiap item favorable dalam skala Likert memiliki nilai 4 (Sangat Setuju), 3 (Setuju), 2 (Tidak Setuju), dan 1 (Sangat Tidak Setuju), sedangkan nilai untuk pernyataan unfavorable merupakan kebalikan dari nilai favorable. Skala Likert dapat juga digunakan untuk pengukuran presepsi dan pendapat seorang individu akan suatu kejadian tertentu (Budiman dan Riyanto, 2013).

G. Tindakan

Suatu sikap belum tentu akan terwujud dalam suatu tindakan. Tindakan akan terwujud apabila terdapat faktor pendukung atau kondisi yang mendukung. Tahapan terbentuknya tindakan terbagi menjadi tiga menurut Notoatmodjo (2012b) yaitu sebagai berikut ini.

1. Respon terpimpin (guided response) merupakan tindakan yang dilakukan dengan urutan yang benar dan sesuai.

2. Mekanisme (mechanism) merupakan tahapan kedua seorang individu telah mampu melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau telah menjadi suatu kebiasaan.

3. Adopsi (adoption) merupakan tindakan yang sudah berkembang baik. Artinya tindakan sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

Salah satu cara mengukur aspek tindakan dapat menggunakan skala Likert seperti halnya dalam pengukuran aspek sikap (Budiman dan Riyanto, 2013).

H. Keputusan pembelian

Minat beli merupakan keputusan dalam menggunakan daya gunanya untuk membeli, keputusan untuk membeli diambil oleh pembeli dan merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan. Kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian disebut juga

minat beli. Ketika konsumen akan membeli produk tertentu, konsumen akan melakukan perencanaan, mengambil tindakan relevan berupa usul, rekomendasi, melakukan pemilihan, dan pada akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan pembelian (Handoko dan Dharmmesta, 2011).

Tahapan-tahapan dalam proses pengambilan keputusan pembelian meliputi lima tahapan menurut Kotler (2004) sebagai berikut ini.

1. Pengenalan kebutuhan

Proses pembelian diawali ketika pembeli mengenal suatu kebutuhan misalnya kebutuhan memperbaiki kondisi kesehatan yang dialaminya. Hadirnya kebutuhan tersebut dapat disebabkan oleh faktor internal atau eksternal yang akan menimbulkan suatu dorongan dan motivasi untuk memenuhinya.

2. Pencarian informasi

Ketika seorang konsumen telah menyadari kebutuhan yang diperlukannya, konsumen akan berusaha mencari dan mendapatkan lebih banyak informasi. Sumber informasi tersebut dapat berupa sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga, atau kenalan), sumber komersial (iklan, tenaga penjual, pedagang), sumber pengalaman (pemeriksaan, penggunaan produk), dan sumber produk (media massa).

3. Penilaian alternatif

Tindakan memproses informasi mengenai produk tertentu dan membuat pertimbangan merupakan salah satu bentuk dari penilaian alternatif. Komponen kognitif dan afektif konsumen digunakan dalam

tahapan ini. Komponen kognitif meliputi tingkat pengetahuan, kepercayaan, dan keyakinan terhadap produk. Komponen afektif melibatkan tingkat emosional konsumen terhadap produk.

4. Keputusan membeli

Hasil dari proses penilaian merupakan suatu keputusan pembelian. Konsumen akan cenderung membeli produk yang memiliki nilai positif. 5. Perilaku pasca beli

Tahapan terakhir dari proses pengambilan keputusan pembelian akan menghasilkan rasa puas ataupun rasa tidak puas dari penggunaan produk yang telah dipilihnya. Perilaku pasca pembelian ini dapat berupa perilaku untuk menggunakan produk yang sama atau pindah ke produk yang lain.

Beragam faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam menentukan keputusan pembelian suatu produk menurut Kotler dan Armstrong (2006) yaitu sebagai berikut ini.

1. Faktor Budaya

Faktor budaya memiliki pengaruh yang luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Beberapa peran faktor budaya yaitu :

a. Budaya mempengaruhi perilaku konsumen tercermin dalam cara hidup, kebiasaan, dan tradisi dalam permintaan terhadap bermacam- macam barang dan jasa di pasar.

b. Sub-budaya atau kebudayaan khusus pada satu golongan masyarakat tentunya akan berbeda dengan golongan masyarakat lain. Sub-

kebudayaan ini meliputi kelompok kebangsaan, kelompok keagamaan, kelompok rasional, dan wilayah geografis.

c. Kelas sosial dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu golongan atas (pengusaha-pengusaha kaya, pejabat-pejabat tinggi), golongan menengah (karyawan institusi pemerintah, pengusaha golongan menengah), dan golongan bawah (buruh pabrik, pegawai rendah, dan pedagang kecil)

2. Faktor Sosial

a) Kelompok referensi merupakan kelompok yang memberikan pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seorang individu.

b) Keluarga merupakan kelompok paling kecil dalam struktur kehidupan masyarakat karena keluarga dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku pembeli. Anggota keluarga dapat berfungsi dalam memberikan inisiatif memutuskan suatu produk.

c) Peran dan status akan mempengaruhi perilaku pembelian karena suatu produk dapat menjadi simbol dari status.

d) Faktor pribadi terdiri dari usia dan tahap daur hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri, gaya hidup, serta faktor psikologis yang meliputi motivasi, presepsi, belajar, keyakinan dan sikap. Selera konsumen dipengaruhi usia dan tahapan daur hidupnya karena hal tersebut mempengaruhi seorang individu dalam memutuskan pembelian berdasarkan pertimbangan penggunaan

produk yang sesuai dengan usianya. Pekerjaan seseorang akan mengarah kepada kebutuhan dan keinginan tertentu terhadap barang dan jasa. Kondisi ekonomi seperti pendapatan, tabungan, dan kekayaan akan berpengaruh terhadap barang atau jasa yang akan dibeli oleh seorang individu. Kepribadian dan konsep diri setiap individu tentunya sangat berbeda, hal ini akan berdampak terhadap pandangan individu dalam menilai setiap kebutuhan dalam hidupnya. Gaya hidup berfungsi menggambarkan pola interaksi dan reaksi seorang individu akan suatu produk yang akan dibelinya. Faktor psikologis akan mendorong individu dalam memilih dan mengartikan kebutuhan dan keinginan individu yang berakhir pada kepuasan yang akan dinikmati individu tersebut.

I. Landasan Teori

Perilaku merupakan respon individu yang disebabkan adanya stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati serta interaksi faktor internal (dari dalam diri manusia) dan faktor eksternal (di luar diri manusia). Proses terbentuknya suatu perilaku meliputi lima tahapan yaitu kesadaran (awareness), rasa tertarik (interest), evaluasi (pertimbangan), mencoba (trial), dan adopsi (adoption). Kelima tahapan ini dipengaruhi tiga aspek perilaku yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan (Notoatmodjo, 2012b; Wawan dan Dewi, 2011).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang diperoleh setelah melakukan pengindraan terhadap suatu obyek yang dapat digunakan dalam menentukan sikap dalam merespon positif maupun negatif kepada suatu obyek

tertentu. Pada akhirnya penentuan sikap ini akan menghasilkan suatu tindakan atau perilaku tertentu. (Gibney et al, 2008; Notoatmodjo, 2012b; Wawan dan Dewi, 2011).

Salah satu stimulus yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan yaitu iklan obat sakit kepala. Iklan berfungsi sebagai alat penyampaian pesan (informasi), sarana penambah pengetahuan, komunikasi persuasif yang bertujuan mempengaruhi sikap dan perilaku penerima iklan, maupun sebagai sarana hiburan. Stimulus dari iklan pada akhirnya akan berujung pada keputusan pembelian yang dilakukan konsumen (Notoatmodjo, 2012b; Liliweri, 2013). Iklan obat sakit kepala di televisi yang merupakan suatu stimulus dapat mempengaruhi aspek pengetahuan dan sikap mengenai iklan obat sakit kepala di televise dari ibu rumah tangga, hal ini tentunya mungkin berpengaruh terhadap tindakan penggunaan obat sakit kepala di kalangan ibu rumah tangga tersebut.

J. Hipotesis

Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap mengenai iklan obat sakit kepala di televisi terhadap tindakan penggunaan obat sakit kepala di kalangan ibu rumah tangga di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Yogyakarta pada Tahun 2014.

Dokumen terkait